Jumat, 17 November 2017

Tindkan Penyelamatan

Di seluruh negeri itu tidak ada makanan, sebab kelaparan itu sangat hebat, sehingga seisi tanah Mesir dan tanah Kanaan lemah lesu karena kelaparan itu. Maka Yusuf mengumpulkan segala uang yang terdapat di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, yakni uang pembayar gandum yang dibeli mereka; dan Yusuf membawa uang itu ke dalam istana Firaun. Setelah habis uang di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, datanglah semua orang Mesir menghadap Yusuf serta berkata: "Berilah makanan kepada kami! Mengapa kami harus mati di depanmu? Sebab tidak ada lagi uang." Jawab Yusuf: "Jika tidak ada lagi uang, berilah ternakmu, maka aku akan memberi makanan kepadamu sebagai ganti ternakmu itu." Lalu mereka membawa ternaknya kepada Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba dan kumpulan lembu sapi dan keledainya, jadi disediakannyalah bagi mereka makanan ganti segala ternaknya pada tahun itu. Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya, pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya: "Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku, bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami. Mengapa kami harus mati di depan matamu, baik kami maupun tanah kami? Belilah kami dan tanah kami sebagai ganti makanan, maka kami dengan tanah kami akan menjadi hamba kepada Firaun. Berikanlah benih, supaya kami hidup dan jangan mati, dan supaya tanah itu jangan menjadi tandus." Lalu Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Firaun, sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya, karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Firaun. Dan tentang rakyat itu, diperhambakannyalah mereka di daerah Mesir dari ujung yang satu sampai ujung yang lain. Hanya tanah para imam tidak dibelinya, sebab para imam mendapat tunjangan tetap dari Firaun, dan mereka hidup dari tunjangan itu; itulah sebabnya mereka tidak menjual tanahnya. Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu: "Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Firaun; inilah benih bagimu, supaya kamu dapat menabur di tanah itu. Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu." Lalu berkatalah mereka: "Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun." Yusuf membuat hal itu menjadi suatu ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari hasilnya menjadi milik Firaun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Firaun.  -- Kejadian 47:1-26

Apa sajakah peran yang dijalankan seorang yang menjadi alat penyelamatan, sehingga keselamatan boleh dicicipi orang banyak?
Pada waktu menafsirkan mimpi Firaun Yusuf sudah memberikan petunjuk agar hasil dalam tujuh tahun kelimpahan tidak dihabiskan tetapi disimpan untuk persiapan menghadapi tujuh tahun bencana kekeringan. Sebagai wakil Firaun Yusuf telah melaksanakan petunjuk ilahi tersebut sehingga perbendaharaan kerajaan Mesir tidak sampai terguncang oleh krisis itu. Sayang rakyat Mesir tidak mengikuti petunjuk dan teladan Yusuf. Akibatnya secara bertahap tetapi pasti semua mereka mengalami pukulan dahsyat kelaparan.
Rakyat Mesir yang mengabaikan petunjuk dan teladan Yusuf harus membayar harga sangat mahal. Tak satu pun dapat luput dari malapetaka itu. Semua mengalami kekeringan, kemiskinan, dan kelaparan. Yusuf kini memegang kunci keselamatan. Orang harus datang kepadanya, menuruti semua ketetapannya agar dapat diluputkan dari bencana itu. Mereka mendapatkan makanan yang menyambung hidup mereka dari Yusuf dengan jalan menukar dengan semua yang mereka miliki. Pertama dengan uang, sesudah uang habis dengan ternak, lalu sesudah tidak ada lagi ternak akhirnya dengan tanah mereka. Sampai akhirnya seluruh rakyat dan segenap tanah Mesir menjadi milik Firaun; nota bene semua kini di bawah kekuasaan Yusuf!
Apakah tindakan Yusuf ini bukan suatu pemerasan kejam berselubungkan tindakan penyelamatan? Sesungguhnya uang, ternak, dan tanah yang mereka berikan sudah tidak ada nilainya. Uang tak dapat dipakai membeli apa pun saat itu. Ternak bukan lagi komoditi tetapi beban yang malah mengancam hidup pemiliknya. Tanah pun tidak lagi berguna karena tak lagi bisa menghasilkan apa pun. Dengan kata lain, mereka menukar dan membayar penyelamatan yang Yusuf berikan kepada mereka itu dengan segala sesuatu yang sama sekali tidak lagi berguna atau bernilai!
Bukankah penyelamatan oleh Yusuf ini juga mencerminkan penyelamatan yang kita peroleh dari Yesus? Ia memberikan segala-galanya yang kita perlu untuk keselamatan kita. Kita hanya menukar dengan mempercayakan seluruh hidup kita yang telah gagal dan hancur ini ke bawah kemilikan dan pengaturan-Nya.

Kamis, 16 November 2017

Kemuliaan Yusuf

Kemudian pergilah Yusuf memberitahukan kepada Firaun: "Ayahku dan saudara-saudaraku beserta kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah datang dari tanah Kanaan, dan sekarang mereka ada di tanah Gosyen." Dari antara saudara-saudaranya itu dibawanya lima orang menghadap Firaun. Firaun bertanya kepada saudara-saudara Yusuf itu: "Apakah pekerjaanmu?" Jawab mereka kepada Firaun: "Hamba-hambamu ini gembala domba, baik kami maupun nenek moyang kami." Lagi kata mereka kepada Firaun: "Kami datang untuk tinggal di negeri ini sebagai orang asing, sebab tidak ada lagi padang rumput untuk kumpulan ternak hamba-hambamu ini, karena hebat kelaparan itu di tanah Kanaan; maka sekarang, izinkanlah hamba-hambamu ini menetap di tanah Gosyen." Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Ayahmu dan saudara-saudaramu telah datang kepadamu. Tanah Mesir ini terbuka untukmu. Tunjukkanlah kepada ayahmu dan kepada saudara-saudaramu tempat menetap di tempat yang terbaik dari negeri ini, biarlah mereka diam di tanah Gosyen. Dan jika engkau tahu di antara mereka orang-orang yang tangkas, tempatkanlah mereka menjadi pengawas ternakku." Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun. Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: "Sudah berapa tahun umurmu?" Jawab Yakub kepada Firaun: "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing." Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun. Yusuf menunjukkan kepada ayahnya dan saudara-saudaranya tempat untuk menetap dan memberikan kepada mereka tanah milik di tanah Mesir, di tempat yang terbaik di negeri itu, di tanah Rameses, seperti yang diperintahkan Firaun. Dan Yusuf memelihara ayahnya, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya dengan makanan, menurut jumlah anak-anak mereka.  -- Kejadian 47:1-12

Sejak awal kehidupan Yusuf kita sudah melihat tumbuhnya kemuliaan dengan segar. Kini ketika ia mengurusi kediaman keluarga asalnya, satu persatu kemuliaan dirinya terpampang indah. Sukar dapat kita bayangkan bahwa seorang dari keluarga kaum gembala, melalui tempaan berat menjadi budak dan tahanan penjara, sanggup memperlihatkan kemuliaan seperti ini:
Pertama, ia melaporkan kedatangan keluarga asalnya itu kepada Firaun. Yusuf orang kepercayaan Firaun, tetapi ia adalah bawahan Firaun. Ia meminta izin untuk keluarga asalnya tinggal di Mesir. Kedua, Yusuf memperkenalkan para saudaranya kepada Firaun. Tindakannya ini telah melampaui kebaikan dan kasihnya yang telah mengampuni mereka. Kini kepada penguasa dunia, Yusuf memperkenalkan dan mengakui mereka sebagai saudaranya. Tidak ada sedikit pun dendam atau luka dalam hati Yusuf. Seperti halnya Kristus telah membenarkan kita yang berdosa di hadapan Bapa, demikian Yusuf memperlakukan mereka sebagai saudaranya. Tanpa embel-embel keterangan buruk masa lalu mereka. Karena sikapnya ini, saudaranya mendapatkan pekerjaan tetap menjadi gembala ternak Firaun.
Ketiga, sesudah memperoleh pernyataan Firaun yang mempersilakan mereka tinggal di tanah Gosyen, Yusuf membawa Yakub, ayahnya. Luar biasa tindakan Yusuf! Firaun ia perlakukan sebagai rajanya, sebagai penguasa dunia waktu itu. Kini ia memperlakukan Yakub ayahnya sebagai wali yang melaluinya berkat-berkat Allah dialirkan. Ia meminta agar Yakub memberkati Firaun. Firaun adalah raja dunia, tetapi Yakub adalah orang pilihan Allah yang melaluinya berkat-berkat Allah mengalir dan mewujud untuk dunia ini. Yusuf menempatkan kuasa dunia di bawah kuasa ilahi. Pernyataan Yakub untuk Firaun mengandung nubuat penting bagi Firaun juga bagi kita. Ia menyebut perjalanan hidupnya sebagai “hari-hari,” menegaskan tentang kesementaraan hidup ini. Hidup di dunia ini untuknya adalah “pengembaraan” sebab semua kita seharusnya fokus kepada sasaran hidup berjumpa Pencipta dan Penyelamat kita kelak. Ia menyebut bahwa dibanding para bapa leluhur lain, hidupnya penuh penderitaan. Namun, babakan akhir hidupnya berubah total. Ia menikmati kebahagiaan karena putranya, Yusuf telah menjadi alat penyelamat dari Allah. 

Rabu, 15 November 2017

Peneguhan dari Allah

Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya. Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: "Yakub, Yakub!" Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu firman-Nya: "Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti." Lalu berangkatlah Yakub dari Bersyeba, dan anak-anak Israel membawa Yakub, ayah mereka, beserta anak dan isteri mereka, dan mereka menaiki kereta yang dikirim Firaun untuk menjemputnya. Mereka membawa juga ternaknya dan harta bendanya, yang telah diperoleh mereka di tanah Kanaan, lalu tibalah mereka di Mesir, yakni Yakub dan seluruh keturunannya bersama-sama dengan dia. Anak-anak dan cucu-cucunya laki-laki dan perempuan, seluruh keturunannya dibawanyalah ke Mesir. Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben. Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi. Anak-anak Simeon ialah Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin dan Zohar serta Saul, anak seorang perempuan Kanaan. Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari. Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul. Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron. Anak-anak Zebulon ialah Sered, Elon dan Yahleel. Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di Padan-Aram anak-anak lelaki serta Dina juga, anaknya yang perempuan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga jiwa. Anak-anak Gad ialah Zifyon, Hagi, Syuni, Ezbon, Eri, Arodi dan Areli. Anak-anak Asyer ialah Yimna, Yiswa, Yiswi dan Beria; Serah ialah saudara perempuan mereka; dan anak-anak Beria ialah Heber dan Malkiel. Itulah keturunan Zilpa, yakni hamba perempuan yang telah diberikan Laban kepada Lea, anaknya perempuan, dan yang melahirkan anak-anak bagi Yakub; seluruhnya enam belas jiwa. Anak-anak Rahel, isteri Yakub, ialah Yusuf dan Benyamin. Bagi Yusuf lahir Manasye dan Efraim di tanah Mesir, yang dilahirkan baginya oleh Asnat, anak perempuan Potifera, imam di On. Anak-anak Benyamin ialah Bela, Bekher, Asybel, Gera, Naaman, Ehi, Rosh, Mupim, Hupim dan Ared. Itulah keturunan Rahel, yang telah lahir bagi Yakub, seluruhnya berjumlah empat belas jiwa. Anak Dan ialah Husim. Anak-anak Naftali ialah Yahzeel, Guni, Yezer dan Syilem. Itulah keturunan Bilha, yakni hamba perempuan yang diberikan Laban kepada Rahel, anaknya yang perempuan dan yang melahirkan anak-anak itu bagi Yakub--seluruhnya berjumlah tujuh jiwa. Semua orang yang tiba di Mesir bersama-sama dengan Yakub, yakni anak-anak kandungnya, dengan tidak terhitung isteri anak-anaknya, seluruhnya berjumlah enam puluh enam jiwa. Anak-anak Yusuf yang lahir baginya di Mesir ada dua orang. Jadi keluarga Yakub yang tiba di Mesir, seluruhnya berjumlah tujuh puluh jiwa. Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen. Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya. Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup." Kemudian berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya dan kepada keluarga ayahnya itu: "Aku mau menghadap Firaun dan memberitahukan kepadanya: Saudara-saudaraku dan keluarga ayahku, yang tinggal di tanah Kanaan, telah datang kepadaku; orang-orang itu gembala kambing domba, sebab mereka itu pemelihara ternak, dan kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah dibawa mereka. Apabila Firaun memanggil kamu dan bertanya: Apakah pekerjaanmu? jawablah: Hamba-hambamu ini pemelihara ternak, sejak dari kecil sampai sekarang, baik kami maupun nenek moyang kami--dengan maksud supaya kamu boleh diam di tanah Gosyen." --Sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir.  -- Kejadian 46:1-34

Dapat kita mengerti bagaimana perasaan hati Yakub ketika mendengar berita bahwa Yusuf masih hidup bahkan menjadi orang kedua Mesir. Hati yang sedemikian mencintai anaknya telah tercabik dan membeku oleh kedukaan. Lebih-lebih dalam adat kebiasaan keluarga pilihan Allah itu ada tradisi penguburan yang layak bagi kaumnya yang meninggal. Yusuf yang dikabarkan mati karena diterkam binatang buas, tidak saja mati sia-sia, tetapi juga tidak beroleh kehormatan dalam upacara penguburan yang layak. Maka ketika Yakub mendengar berita itu, mulanya hati yang telah hancur berkeping-keping itu tidak mampu lagi merespons berita sukacita itu. Selain diyakinkan oleh berbagai pernyataan kemuliaan Mesir yang Yusuf kirim kepadanya, Yakub kini mendapatkan peneguhan dari Allah. Jika dulu ia seorang yang proaktif dalam ambisinya sendiri, kini ia menjadi seorang yang bertindak responsif hanya kepada firman pimpinan Allah.
Allah tidak hanya memberikan janji, tetapi menegaskan jatidiri-Nya sebagai Allah bapaknya. Selain meneguhkan bahwa kepergian ke Mesir memang kehendak Allah, Allah memberikan janji penyertaan-Nya. Ia akan menjadikan keluarga  Yakub menjadi bangsa yang besar, sesuai perjanjian-Nya kepada Abraham. Ia menjanjikan juga bahwa Yusuf sendiri yang akan mendampingi ia saat kematiannya dan memberikan penghormatan layak saat itu. Lalu berangkatlah ia dan seisi keluarganya. Saat keberangkatan itu narasi mencatat secara detail bagaimana keluarga Yakub memang telah beranak-cucu menjadi suatu umat, yaitu bani Israel (8). Semuanya enam puluh enam jiwa, ditambah keluarga Yusuf menjadi tujuh puluh jiwa (27). Nama Yehuda disebut lagi, ia ditetapkan Yakub menjadi pemimpin (18).
Tangisan Yusuf kembali terjadi – keenam kalinya dalam semua penuturan proses rekonsiliasi dan perjumpaan kembali Yusuf dengan keluarga asalnya. Sekali ini Yusuf menangis lama di bahu ayahnya (29). Semua duka dan kegelapan dalam hati Yakub selama ini terhapus ketika ia menyatakan bahwa dirinya siap untuk meninggal (30). Sesudah luapan isi hati terungkap penuh, Yusuf segera mengambil keputusan untuk melapor kepada Firaun. Peristiwa ini menjadi pengantar dari kisah Keluaran ketika tindakan besar Allah lainnya berlaku atas umat pilihan-Nya.

Selasa, 14 November 2017

Akulah Yusuf... yang kamu jual...

Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini." Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu. Di sanalah aku memelihara engkau--sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi--supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari." Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf. Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia. Ketika dalam istana Firaun terdengar kabar, bahwa saudara-saudara Yusuf datang, hal itu diterima dengan baik oleh Firaun dan pegawai-pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Katakanlah kepada saudara-saudaramu Buatlah begini: muatilah binatang-binatangmu dan pergilah ke tanah Kanaan, jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini. Selanjutnya engkau mendapat perintah mengatakan kepada mereka: Buatlah begini: bawalah kereta dari tanah Mesir untuk anak-anakmu dan isteri-isterimu, jemputlah ayahmu dari sana dan datanglah ke mari. Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barang-barangmu, sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini adalah milikmu." Demikianlah dilakukan oleh anak-anak Israel itu. Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Firaun; juga diberikan kepada mereka bekal di jalan. Kepada mereka masing-masing diberikannya sepotong pesalin dan kepada Benyamin diberikannya tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin. Di samping itu kepada ayahnya dikirimkannya sepuluh ekor keledai jantan, dimuati dengan apa yang paling baik di Mesir, lagipula sepuluh ekor keledai betina, dimuati dengan gandum dan roti dan makanan untuk ayahnya dalam perjalanan. Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka: "Janganlah berbantah-bantah di jalan." Demikianlah mereka pergi dari tanah Mesir dan sampai di tanah Kanaan, kepada Yakub, ayah mereka. Mereka menceritakan kepadanya: "Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka. Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segala perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk menjemputnya, maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu. Kata Yakub: "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati."  -- Kejadian  45:1-28

Ketika semua hal yang ingin ia pastikan telah terpampang di depan matanya, ketika semua hal yang ia harapkan nyata beroperasi dalam sikap dan tindakan para saudaranya, Yusuf pun tidak sanggup lagi menahan luapan kenyataan dirinya terdalam. Ia menyuruh semua orang yang hadir untuk keluar dari ruangan itu agar ia dan para saudaranya dapat bersama tanpa kehadiran pihak lain. Lalu menangislah Yusuf sekeras-kerasnya sampai suaranya terdengar oleh seisi istana Firaun. Pasal ini tiga kali mencatat tangisan Yusuf. Sementara ia menjalani penderitaan bertubi-tubi, tidak pernah narasi tentangnya mencatat sedikit pun entah ia berkeluh kesah atau menangis. Ketika saat-saat perjumpaan dan pemulihan sedang bergulir, barulah tangisannya dicatat sampai kelak (ps. 50) total tujuh kali -- sempurna. Tangisannya ini pun bukan tangisan sesal, tetapi tangisan kasih sayang dan haru karena perjumpaan tersebut.
Yusuf tidak membiarkan para saudaranya larut dalam ketakutan dan kegentaran. Segera ia menyatakan dirinya dengan nama aslinya, Yusuf, bukan dengan nama Mesirnya (Zafnat Paaneah – 41:45). Yusuf segera mengundang mereka mendekat dan mengutarakan hal yang sangat mengejutkan. Pernyataannya bahwa ia adalah Yusuf sudah luar biasa mengejutkan dan menimbulkan kegentaran. Di luar dugaan mereka bahwa si pemimpi yang telah mereka lenyapkan itu, ternyata adalah orang yang mereka sujud kepadanya berulang kali. Tetapi lebih mengejutkan lagi, bahkan juga untuk kita adalah pernyataan Yusuf bahwa kejahatan mereka yang membuat Yusuf terjual, menjadi budak, terpenjara, dst. itu adalah tindakan Allah mengirimnya untuk menyelamatkan keluarga dan dunia.
Seluruh perjalanan hidup dan sikap Yusuf indah mencerminkan hidup dan sikap Tuhan Yesus. Bukan saja sepanjang hidupnya tak pernah ada catatan noda dan salah Yusuf, seperti sempurnanya hidup Yesus Kristus (Ibr. 4:15, 1Ptr. 2:22). Dalam adegan ini kita saksikan betapa mirip sikap Yesus memanggil orang berdosa datang mendekat, seperti bapa kepada anak yang hilang merangkul dan menangis bersama dalam kasih dan suka, sikap dan tindakan Yusuf. Namun, lebih ajaib menggentarkan hati kita ialah bagaimana kejahatan diubah oleh ketaatan dan kasih sempurna menjadi alat pewujudan kebaikan dan penyelamatan ilahi! 

Sabtu, 11 November 2017

Kasih, Menguji dan Menghajar

Sesudah itu diperintahkannyalah kepada kepala rumahnya: "Isilah karung orang-orang itu dengan gandum, seberapa yang dapat dibawa mereka, dan letakkanlah uang masing-masing di dalam mulut karungnya. Dan pialaku, piala perak itu, taruhlah di dalam mulut karung anak yang bungsu serta uang pembayar gandumnya juga." Maka diperbuatnyalah seperti yang dikatakan Yusuf. Ketika paginya hari terang tanah, orang melepas mereka beserta keledai mereka. Tetapi baru saja mereka keluar dari kota itu, belum lagi jauh jaraknya, berkatalah Yusuf kepada kepala rumahnya: "Bersiaplah, kejarlah orang-orang itu, dan apabila engkau sampai kepada mereka, katakanlah kepada mereka: Mengapa kamu membalas yang baik dengan yang jahat? Bukankah ini piala yang dipakai tuanku untuk minum dan yang biasa dipakainya untuk menelaah? Kamu berbuat jahat dengan melakukan yang demikian." Ketika sampai kepada mereka, diberitakannyalah kepada mereka perkataan Yusuf itu. Jawab mereka kepadanya: "Mengapa tuanku mengatakan perkataan yang demikian? Jauhlah dari pada hamba-hambamu ini untuk berbuat begitu! Bukankah uang yang kami dapati di dalam mulut karung kami telah kami bawa kembali kepadamu dari tanah Kanaan? Masakan kami mencuri emas atau perak dari rumah tuanmu? Pada siapa dari hamba-hambamu ini kedapatan piala itu, biarlah ia mati, juga kami ini akan menjadi budak tuanku." Sesudah itu berkatalah ia: "Ya, usulmu itu baik; tetapi pada siapa kedapatan piala itu, hanya dialah yang akan menjadi budakku dan kamu yang lain itu akan bebas dari salah." Lalu segeralah mereka masing-masing menurunkan karungnya ke tanah dan masing-masing membuka karungnya. Dan kepala rumah itu memeriksanya dengan teliti; ia mulai dengan yang sulung sampai kepada yang bungsu; maka kedapatanlah piala itu dalam karung Benyamin. Lalu mereka mengoyakkan jubahnya dan masing-masing memuati keledainya, dan mereka kembali ke kota. Ketika Yehuda dan saudara-saudaranya sampai ke dalam rumah Yusuf, Yusuf masih ada di situ, sujudlah mereka sampai ke tanah di depannya. Berkatalah Yusuf kepada mereka: "Perbuatan apakah yang kamu lakukan ini? Tidakkah kamu tahu, bahwa seorang yang seperti aku ini pasti dapat menelaah?" Sesudah itu berkatalah Yehuda: "Apakah yang akan kami katakan kepada tuanku, apakah yang akan kami jawab, dan dengan apakah kami akan membenarkan diri kami? Allah telah memperlihatkan kesalahan hamba-hambamu ini. Maka kami ini, budak tuankulah kami, baik kami maupun orang pada siapa kedapatan piala itu." Tetapi jawabnya: "Jauhlah dari padaku untuk berbuat demikian! Pada siapa kedapatan piala itu, dialah yang akan menjadi budakku, tetapi kamu ini, pergilah kembali dengan selamat kepada ayahmu." Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: "Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri. Tuanku telah bertanya kepada hamba-hambanya ini: Masih adakah ayah atau saudara kamu? Dan kami menjawab tuanku: Kami masih mempunyai ayah yang tua dan masih ada anaknya yang muda, yang lahir pada masa tuanya; kakaknya telah mati, hanya dia sendirilah yang tinggal dari mereka yang seibu, sebab itu ayahnya sangat mengasihi dia. Lalu tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Bawalah dia ke mari kepadaku, supaya mataku memandang dia. Tetapi jawab kami kepada tuanku: Anak itu tidak dapat meninggalkan ayahnya, sebab jika ia meninggalkan ayahnya, tentulah ayah ini mati. Kemudian tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Jika adikmu yang bungsu itu tidak datang ke mari bersama-sama dengan kamu, kamu tidak boleh melihat mukaku lagi. Setelah kami kembali kepada hambamu, ayahku, maka kami memberitahukan kepadanya perkataan tuanku itu. Kemudian ayah kami berkata: Kembalilah kamu membeli sedikit bahan makanan bagi kita. Tetapi jawab kami: Kami tidak dapat pergi ke sana. Jika adik kami yang bungsu bersama-sama dengan kami, barulah kami akan pergi ke sana, sebab kami tidak boleh melihat muka orang itu, apabila adik kami yang bungsu tidak bersama-sama dengan kami. Kemudian berkatalah hambamu, ayahku, kepada kami: Kamu tahu, bahwa isteriku telah melahirkan dua orang anak bagiku; yang seorang telah pergi dari padaku, dan aku telah berkata: Tentulah ia diterkam oleh binatang buas, dan sampai sekarang aku tidak melihat dia kembali. Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka. Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita. Tetapi hambamu ini telah menanggung anak itu terhadap ayahku dengan perkataan: Jika aku tidak membawanya kembali kepada bapa, maka akulah yang berdosa kepada bapa untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, baiklah hambamu ini tinggal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu, dan biarlah anak itu pulang bersama-sama dengan saudara-saudaranya. Sebab masakan aku pulang kepada ayahku, apabila anak itu tidak bersama-sama dengan aku? Aku tidak akan sanggup melihat nasib celaka yang akan menimpa ayahku." -- Kejadian 44:1-34

Tindakan Yusuf terhadap para saudaranya menunjukkan sifat kasih sejati. Kasih sejati tidak menyimpan kesalahan orang. Kasih sejati tidak juga mengobral pengampunan tanpa menginginkan agar pihak yang bersalah menyadari kesalahan, mengakui, berubah (bertobat) untuk akhirnya menghargai pengampunan yang diberikan. Hal-hal inilah yang terlihat dalam sifat kasih Yusuf melalui berbagai tindakannya.
Ia memerintahkan para pegawainya diam-diam menaruh uang pembayaran mereka. Tindakan ini sama seperti di kunjungan pertama mereka. Ini sebenarnya sikap dan tindakan kebaikan Yusuf, namun kasih yang dilimpahkan kepada orang bersalah justru menimbulkan kegentaran. Langsung mereka menafsirkan itu sebagai teguran Allah (42:28; lih. Rm. 12:19-21). Kasih dan kebaikan dapat menggoncang dan membangkitkan rasa bersalah dan insyaf pada orang yang berbuat salah. Sebaliknya pembalasan tidak dapat menghasilkan dampak pertobatan.
Bukan saja uang mereka dikembalikan, tetapi Yusuf mengatur agar piala minumannya disembunyikan dalam karung gandum Benyamin. Kemudian para pegawainya mengejar dan menuduh bahwa mereka telah membalas kebaikan dengan kejahatan. Ia tidak sedang membuat perangkap dan tuduhan palsu untuk membalas kejahatan yang telah ia tanggung dulu. Sebab bila demikian tentu piala itu bukan ditaruh di karung Benyamin tetapi di karung saudaranya yang lain. Dengan ditaruhnya piala itu di karung Benyamin, maka terbukalah kondisi hati para saudaranya di hadapan Yusuf. Benyamin yang jelas dimanja oleh Yakub sebagai pengganti Yusuf, tidak menerima sikap perlakuan iri atau benci seperti sikap mereka dulu kepada Yusuf. Sebaliknya kini mereka bukan saja gigih mempertahankan integritas mereka, tetapi juga membela Benyamin.
Yehuda kini kembali tampil. Ia mengakui bahwa Allah sudah membongkar kesalahan mereka. Karena jelas Benyamin tidak mencuri, maka secara tidak langsung ini adalah pengakuan tentang dosa mereka dulu terhadap Yusuf (16b). Ia juga benar-benar melaksanakan janjinya kepada Yakub untuk menjamin Benyamin, dengan menawarkan diri menjadi ganti Benyamin untuk dihukum oleh Yusuf. Yusuf kini menemukan adanya kesadaran, tanggungjawab, kesatuan pada para saudaranya!

Jumat, 10 November 2017

Menyiapkan Penggenapan Mimpi Lanjutan

Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu. Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis dimakan, berkatalah ayah mereka: "Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita." Lalu Yehuda menjawabnya: "Orang itu telah memperingatkan kami dengan sungguh-sungguh: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu. Jika engkau mau membiarkan adik kami pergi bersama-sama dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan makanan bagimu. Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada kami: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu." Lalu berkatalah Israel: "Mengapa kamu mendatangkan malapetaka kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada adikmu seorang?" Jawab mereka: "Orang itu telah menanyai kami dengan seksama tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita: Masih hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya. Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata: Bawalah ke mari adikmu itu." Lalu berkatalah Yehuda kepada Israel, ayahnya: "Biarkanlah anak itu pergi bersama-sama dengan aku; maka kami akan bersiap dan pergi, supaya kita tetap hidup dan jangan mati, baik kami maupun engkau dan anak-anak kami. Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari padaku; jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya. Jika kita tidak berlambat-lambat, maka tentulah kami sekarang sudah dua kali pulang." Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: "Jika demikian, perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam. Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: uang yang telah dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu bawa kembali; mungkin itu suatu kekhilafan. Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula kepada orang itu. Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!" Lalu orang-orang itu mengambil persembahan itu dan mengambil uang dua kali lipat banyaknya, beserta Benyamin juga; mereka bersiap dan pergi ke Mesir. Kemudian berdirilah mereka di depan Yusuf. Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: "Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini." Orang itu melakukan seperti yang dikatakan Yusuf dan dibawanyalah orang-orang itu ke dalam rumah Yusuf. Lalu ketakutanlah orang-orang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: "Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini, ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, supaya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambil." Karena itu mereka mendekati kepala rumah Yusuf itu, dan berkata kepadanya di depan pintu rumah: "Mohon bicara tuan! Kami dahulu datang ke mari untuk membeli bahan makanan, tetapi ketika kami sampai ke tempat bermalam dan membuka karung kami, tampaklah uang kami masing-masing dengan tidak kurang jumlahnya ada di dalam mulut karung. Tetapi sekarang kami membawanya kembali. Uang lain kami bawa juga ke mari untuk membeli bahan makanan; kami tidak tahu siapa yang menaruh uang kami itu ke dalam karung kami." Tetapi jawabnya: "Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima." Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka. Setelah orang itu membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannyalah air, supaya mereka membasuh kaki; juga keledai mereka diberinya makan. Sesudah itu mereka menyiapkan persembahannya menantikan Yusuf datang pada waktu tengah hari, sebab mereka telah mendengar, bahwa mereka akan makan di situ. Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada mereka itu kepada Yusuf di dalam rumah, lalu sujud kepadanya sampai ke tanah. Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: "Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?" Jawab mereka: "Hambamu, ayah kami, ada selamat; ia masih hidup." Sesudah itu berlututlah mereka dan sujud. Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: "Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?" Lagi katanya: "Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!" Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ. Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: "Hidangkanlah makanan." Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir. Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehingga mereka berpandang-pandangan dengan heran. Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia. -- Kejadian 43:1-34

Bagaimana cara Allah memimpin agar rencana-Nya untuk setiap umat-Nya berproses makin lama makin nyata?
Kita kagum akan kedahsyatan kuasa, kasih dan hikmat Allah. Ia mengatur kejadian berskala global seperti gejala alam, kondisi musim, faktor ekonomi, dan kenyataan dunia politik, berjalan serasi dengan operasi-Nya di dalam pribadi-pribadi yang di dalamnya  sedang Ia wujudkan rencana kekal-Nya. Kekeringan berlanjut, persediaan makanan keluarga Yakub tidak lagi memadai, memaksa Yakub mengutus anak-anaknya kembali mencari makanan di Mesir. Kebutuhan perut yang biasanya membuat orang berpikir gelap, di antara umat Allah justru memaksa akal budi bekerja, perasaan enggan teratasi, bahkan tanggungjawab muncul makin jelas. 
Yakub yang enggan mengirim Benyamin, akhirnya rela juga. Oleh kondisi sukar itu Yakub terpaksa bersedia mengorbankan Benyamin demi kelangsungan hidup seisi keluarga besarnya (14). Kesediaan itu didorong oleh Yehuda. Dalam pasal 38 kita melihat titik terang perubahan terjadi dalam kehidupan kacau Yehuda. Kini tiga pernyataan penting yang menunjukkan perubahan lanjut keluar dari Yehuda. Pertama, ia mendorong Yakub tidak lagi menunda kepergian mereka (8, 10). Kedua, ia menjamin keselamatan Benyamin. Dan, ketiga, ia menanggung dosa apabila kelak Benyamin tidak dibawa pulang kepada Yakub (9). Diaturlah soal pengembalian uang dan tambahannya, pemberian berbagai bentuk hadiah untuk raja kedua Mesir itu.Yakub kemudian melepas mereka sambil memanjatkan doa.
Yusuf kembali memainkan peran secara sangat canggih. Bayangkan sandiwaranya selama cukup waktu terhadap Simeon. Kini ia mulai dengan menyapa mereka dan menanyakan kepastian bahwa Benyamin adalah adik yang pernah mereka ceritakan sebelumnya. Lalu karena terharu, ia menyingkir dari mereka dan menangis untuk kedua kalinya (30). Yusuf mengatur agar diadakan pesta makan bersama. Pengaturan tempat duduk membuat mereka terheran-heran sebab diurut menurut kronologi kelahiran mereka. Yang seharusnya membuat mereka tidak habis pikir ialah bahwa Benyamin diberikan hidangan lima kali lipat lebih dari mereka. Dalam kasih yang besar dan dan hikmat ilahi yang dalam Yusuf sedang memroses pewujudan mimpinya agar terjadi dalam bentuk pemulihan.

Kamis, 09 November 2017

Penggenapan Mimpi 1

Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: "Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?" Lagi katanya: "Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati." Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudara-saudaranya, sebab pikirnya: "Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti." Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: "Dari mana kamu?" Jawab mereka: "Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan." Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka. Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: "Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga." Tetapi jawab mereka: "Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hamba-hambamu ini datang. Kami ini sekalian anak dari satu ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai." Tetapi ia berkata kepada mereka: "Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga." Lalu jawab mereka: "Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi." Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai. Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari. Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai." Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya. Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: "Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati." Demikianlah diperbuat mereka. Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita." Lalu Ruben menjawab mereka: "Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita." Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka. Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka. Demikianlah dilakukan orang kepada mereka itu. Sesudah itu merekapun memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ. Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi makan keledainya di tempat bermalam, dilihatnyalah uangnya ada di dalam mulut karungnya. Katanya kepada saudara-saudaranya: "Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam karungku!" Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: "Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!" Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan, mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya: "Orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, telah menegor kami dengan membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu. Tetapi kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai. Kami dua belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan. Lalu kata orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu dan pergilah; lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu, maka aku akan tahu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri ini dengan bebas." Ketika mereka mengosongkan karungnya, tampaklah ada pundi-pundi uang masing-masing dalam karungnya; dan ketika mereka beserta ayah mereka melihat pundi-pundi uang itu, ketakutanlah mereka. Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: "Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyaminpun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!" Lalu berkatalah Ruben kepada ayahnya: "Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka dia akan kubawa kembali kepadamu." Tetapi jawabnya: "Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita." -- Kejadian 42:1-43

Jika kondisi hidup berat telah berubah, ketika dari orang yang tanpa daya kita telah menjadi orang sangat berkuasa, biasanya apa yang kita lakukan? Ketika kita sempat berjumpa lagi dengan para penyebab kesusahan hidup kita, apa yang kita ingat?
Seiring dengan perubahan kondisi yang terjadi dalam hidup Yusuf, terjadi juga perubahan kondisi alam yang berdampak langsung ke kehidupan dunia luas waktu itu. Sedemikian dahsyat pukulan ekonomi yang diakibatkan oleh bencana kekeringan  sehingga seluruh kemakmuran yang terjadi sebelumnya hilang tanpa bekas. Persis seperti yang dinyatakan Allah dalam mimpi Firaun! Kengerian itu sampai membuat anak-anak Yakub tak tahu harus berbuat apa kecuali “berpandang-pandangan saja” (1). Semua wilayah yang mengalami musibah kekeringan terkena pukulan fatal secara ekonomi dan logistik, kecuali Mesir yang melalui kepemimpinan Yusuf telah mengadakan sistem penangkal.
Yakub memerintahkan sepuluh anaknya pergi ke Mesir mencari makanan. Yusuf segera mengenali mereka sebab bahasa dan kebiasaan mereka tentu tak asing baginya. Yusuf tidak mereka kenali sebab ia kini penguasa Mesir. Terjadilah adegan seperti mimpi Yusuf dulu, meski belum lengkap sebab baru sepuluh yang datang dan sujud kepadanya. Ingatan Yusuf langsung muncul. Bukan kejahatan para saudaranya terhadapnya. Bukan kesusahan yang bertubi-tubi harus ia tanggung karena mereka, tetapi mimpinya dulu! (9). Visi dan panggilan ilahi sangat berakar mengalahkan segala penderitaan dan kesakitan yang harus dilalui demi pencapaian visi ilahi itu!
Sikap dan tindakan lain yang keluar dari Yusuf ialah silih ganti peragaan kewibawaan, kebijaksanaan, kematangan memberlakukan kasih pengampunan dengan membangkitkan rasa bersalah para saudaranya, dan dengan daya berperan yang luar biasa canggih. Dengan gertakannya ia berhasil mengorek keadaan Yakub dan adiknya. Dengan ancamannya ia berhasil mengangkat rasa bersalah para saudaranya ke permukaan kesadaran mereka. Dengan tekanannya ia berhasil membuat rasa memiliki dan bersatu mereka sebagai keluarga terungkap. Semua itu lahir bukan dari benci tetapi dari kasih yang membuat air mata Yusuf yang sekian lama tertahan tak diungkap dalam narasinya, kini berderai tak terbendung lagi.

Rabu, 08 November 2017

Penuh Roh Allah

Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu." Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: "Hormat!" Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir." Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu." Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi. -- Kejdian 41:37-57

Faktor apakah yang intinya menjadi penentu layak tidaknya seseorang memasuki peran penting untuk hidupnya? Apakah yang menjadi pendorong semua pihak akhirnya mengakui bahwa seseorang memang tepat mengemban peran ilahi lebih besar?
Firaun mengakui dua hal tentang Yusuf. Pertama, kesanggupannya mengartikan mimpi Firaun. Kedua, nasihat bijaknya agar Firaun mengangkat seseorang untuk menjalankan berbagai kebijakan ekonomi dan logistik. Akal budi dan kebijaksanaan! Tentu dua faktor penting ini sangat memengaruhi pertimbangan Firaun untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa yang diusulkan Yusuf sendiri itu. Sepanjang sejarah dunia kita melihat bagaimana peradaban manusia boleh mengalami peningkatan yang sangat berarti karena kemajuan yang diakibatkan oleh pendidikan yang baik. Namun kepandaian dan pengetahuan tidak identik dengan akal budi dan kebijaksanaan. Dan, kita tahu juga bahwa pendidikan tidak otomatis menjamin orang pandai identik dengan orang berhikmat. 
Ada faktor penentu di balik kedua hal itu yang akhirnya membuat Firaun mantap untuk mengangkat Yusuf menjadi orang kedua sesudahnya ialah: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (38). Ini pertama kali dalam Kejadian ada ungkapan seperti ini tentang seseorang dan kedua kali sesudah catatan tentang kegiatan Roh dalam penciptaan. Sungguh mencengangkan bahwa dari bibir mulut seorang yang kafir boleh keluar pengakuan sedemikian tentang orang kepunyaan Allah. Karya dan kehadiran Roh Allah sedemikian cemerlang sampai orang yang menyaksikannya dapat dengan tepat menyimpulkan dari mana sumber semua itu. Roh Allah beroperasi dalam Yusuf memberi mimpi, kerajinan, tanggungjawab, kesalehan, kesanggupan bergaul yang menjadi berkat, hikmat spiritual dan kepemimpinan yang merakyat.
Alangkah beda kriteria orang zaman ini tentang bagaimana orang dapat mendaki jenjang pengaruh dan kepemimpinan. Kebanyakan perebutan kuasa adalah dengan menggunakan daya tarik uang, atraksi artis, kepandaian melobby, memanipulasi massa. Tidak heran bila kepemimpinan dunia makin terpuruk saja! Jika di kalangan umat Tuhan pun meniru strategi dunia, gereja akan ikut hancur bersama kehancuran dunia! Kuasa sebesar dan semulia yang harus diembankan ke bahu pemimpin hanya sanggup dan layak dipikul mereka yang telah ditempa dan dikuasai oleh Roh Allah!
 

Selasa, 07 November 2017

Sabar Menantikan Allah

Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil. Tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu. Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu. Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun. Setelah itu tertidur pulalah ia dan bermimpi kedua kalinya: Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi. Lalu terjagalah Firaun. Agaknya ia bermimpi! Pada waktu pagi gelisahlah hatinya, lalu disuruhnyalah memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir. Firaun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya. Lalu berkatalah kepala juru minuman kepada Firaun: "Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu. Waktu itu tuanku Firaun murka kepada pegawai-pegawainya, dan menahan aku dalam rumah pengawal istana, beserta dengan kepala juru roti. Pada satu malam juga kami bermimpi, aku dan kepala juru roti itu; masing-masing mempunyai mimpi dengan artinya sendiri. Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani, hamba kepala pengawal istana itu; kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing. Dan seperti yang diartikannya itu kepada kami, demikianlah pula terjadi: aku dikembalikan ke dalam pangkatku, dan kepala juru roti itu digantung." Kemudian Firaun menyuruh memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari tutupan; ia bercukur dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Firaun. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya." Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Dalam mimpiku itu, aku berdiri di tepi sungai Nil; lalu tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang gemuk badannya dan indah bentuknya, dan makan rumput yang di tepi sungai itu. Tetapi kemudian tampaklah juga keluar tujuh ekor lembu yang lain, kulit pemalut tulang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya; tidak pernah kulihat yang seburuk itu di seluruh tanah Mesir. Lembu yang kurus dan buruk itu memakan ketujuh ekor lembu gemuk yang mula-mula. Lembu-lembu ini masuk ke dalam perutnya, tetapi walaupun telah masuk ke dalam perutnya, tidaklah kelihatan sedikitpun tandanya: bangunnya tetap sama buruknya seperti semula. Lalu terjagalah aku. Selanjutnya dalam mimpiku itu kulihat timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang berisi dan baik. Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir yang kering, kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi. Telah kuceritakan hal ini kepada semua ahli, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat menerangkannya kepadaku." Lalu kata Yusuf kepada Firaun: "Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama. Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan. Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini. Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu. Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya. Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu." -- Kejadian 41:1-36

Zaman modern dengan kemajuan iptek menyebabkan kesabaran sebagai kebajikan utama diabaikan bahkan direndahkan. Iptek mempercepat dan mempersingkat proses. Maka kita menjadi orang-orang yang tidak sabar, tidak tekun, tidak tahan menanti. Padahal tanpa kesabaran, ketekunan, ketahanan, tidak mungkin orang menempuh pengalaman, satu-satunya cara untuk mematangkan kepribadian!
Yusuf masih harus menunggu lagi dua tahun sebelum kesempatan untuknya melangkah ke panggung kepemimpinan dunia terbuka. Apa yang menyebabkan ia sanggup menanti? Kita tidak sanggup menanti karena kita ingin beralih dari pemeran sejarah menjadi pengendali segala sesuatu. Tetapi Yusuf tidak demikian. Ia tahu bahwa tugas dan kewajibannya hanyalah menjalankan kehendak Allah. Allah yang mengendalikan sejarah dan mengatur kehidupannya. Maka dengan sabar dan taat ia menanti sampai Allah bekerja memfokuskan providensia-Nya ke penggenapan berikut dalam hidup Yusuf. Menanti menunjukkan sikap iman dan hormat kepada Allah. 
Allah membuat Firaun bermimpi sampai dua kali. Dan Allah juga yang membuat dampak mimpi itu sedemikian serius, sampai Firaun gelisah dan mencari artinya (8). Allah juga yang membuat juru minuman teringat dan mengakui kelalaian untuk menceritakan tentang Yusuf kepada Firaun. Menyadari bahwa Allah sedang beroperasi, Yusuf menampik pujian bahwa ia memiliki kesanggupan mengartikan mimpi. Yusuf memberikan segala pujian ke sumbernya yang layak: Allah! Mimpi Firaun sampai dua kali berisikan simbol yang menyangkut peristiwa yang akan melanda dunia. Kemakmuran sedemikian melimpah sampai tujuh tahun (tujuh adalah lambang kesempurnaan), disusul oleh malapetaka kekeringan dan kemiskinan alam sampai menelan sempurna semua kemakmuran yang telah dialami sebelumnya. Tidak hanya memberikan arti mimpi, Yusuf juga memberikan nasihat penataan ekonomi yang menunjang logistik kerajaan Mesir untuk menyikapi peristiwa alami global tersebut.
Menanti bukan masa yang sia-sia membuang waktu. Apabila kita menanti-nantikan Tuhan dalam masa menanti kita, kita sesungguhnya sedang membuka diri selebar-lebarnya bagi karya dan operasi Allah di dalam dan melalui kita untuk maksud dan misi-Nya yang global!

Sabtu, 04 November 2017

Penjara Persiapan Memimpin Dunia

Sesudah semuanya itu terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu, maka murkalah Firaun kepada kedua pegawai istananya, kepala juru minuman dan kepala juru roti itu. Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung. Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlah mereka ditahan beberapa waktu lamanya. Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya--baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu--masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri. Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?" Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya." Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku." Kemudian juru minuman itu menceritakan mimpinya kepada Yusuf, katanya: "Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku. Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum. Dan di tanganku ada piala Firaun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Firaun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Firaun." Kata Yusuf kepadanya: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya. Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini." Setelah dilihat oleh kepala juru roti, betapa baik arti mimpi itu, berkatalah ia kepadanya: "Akupun bermimpi juga. Tampak aku menjunjung tiga bakul berisi penganan. Dalam bakul atas ada berbagai-bagai makanan untuk Firaun, buatan juru roti, tetapi burung-burung memakannya dari dalam bakul yang di atas kepalaku." Yusuf menjawab: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau, tinggi ke atas, dan menggantung engkau pada sebuah tiang, dan burung-burung akan memakan dagingmu dari tubuhmu." Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya: kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. -- Kejadian 40:1-23

Siapa duga mimpi-mimpi Yusuf sedang mulai berproses menjadi realitas melalui mimpi-mimpi orang lain? Dan, siapa bisa menerka bahwa justru di saat memikul “nasib” sedemikian gelap itulah terang penyataan Allah mendatangi Yusuf dan menyiapkannya ke babakan lanjut dengan peran lebih besar?
Akibat memelihara integritas dan kehormatan, Yusuf dilempar ke penjara. Statusnya pun berubah dari budak menjadi penjahat terpenjara. Karena tuduhannya tidak main-main, upaya memerkosa istri pejabat tinggi, maka pastilah keadaan Yusuf menjadi teramat gelap. Ia tidak lagi memiliki harapan untuk berjumpa keluarganya, apalagi memimpikan agar mimpi masa remajanya terjelma. Entah, dalam kebudayaan Mesir zaman itu akan bagaimana nasib pelaku kejahatan yang dituduhkan kepada Yusuf. Apa yang untuk kebanyakan kita membuat berputus asa dan meratapi nasib, sama sekali tidak membuat keelokan sikap Yusuf yang penuh perhatian, berinisiatif, dan selalu siap menjadi berkat bagi orang lain surut darinya.
Bahkan dalam penjara pun Allah hadir dan secara bebas melakukan tindakan yang mewujudkan rencana-Nya bagi orang pilihan-Nya. Pertama, Ia bekerja dalam sikap dan perhatian Yusuf. Yusuf tidak menjadi bersayang diri, lalu bermuram durja. Ia bergaul selayaknya dan dalam sikap itu ia tanggap melihat (7) gelagat yang tampak pada wajah dua orang pejabat istana yang dipenjarakan oleh Firaun. Inisiatif aktif kita menggunakan anugerah umum Allah dengan baik, merupakan celah bagi terbukanya kesempatan untuk bekerjasama dengan kemungkinan dari Allah yang datang secara super-natural! Kedua, Allah bekerja melalui mimpi kedua pejabat negara itu. Allah juga memberikan hikmat sehingga Yusuf dapat mengartikan kedua mimpi itu dengan tepat. Keterlibatan ilahi berlangsung terus baik secara tidak langsung maupun langsung. Namun, Yusuf masih harus menunggu dulu dengan proses lain yang akan Allah kerjakan dalam diri orang nomor satu Mesir, sebelum akhirnya Yusuf siap untuk didudukkan ke takhta yang memengaruhi dunia saat itu.
Tanpa mengalami kesusahan bagaimana mungkin memiliki kepekaan terhadap orang yang sedang susah. Tanpa menanggung ketidakadilan bagaimana mungkin kepekaan akan keadilan boleh menajam? Tanpa menanggapi mimpi orang lain bagaimana mungkin berantisipasi pada mimpi dari Allah untuknya sendiri?

Jumat, 03 November 2017

Budak, namun Merdeka dan Berpengaruh

Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar, dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: "Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras. Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar." Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang. Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: "Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku. Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar." Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil. -- Kejadian 39:1-23

Apakah rahasianya sehingga Yusuf yang sesungguhnya adalah “kurban” kejahatan para saudaranya sanggup bertindak sebagai orang yang sepenuhnya merdeka malah memengaruhi orang lain?
Pasal ini membawa kita kembali dari intermeso kisah Yehuda. Kisah Yehuda itu sesungguhnya bukan hanya sisipan melainkan prolog dari kisah peran Yehuda kelak dalam babakan lanjut kisah Yusuf. Kini tokoh utama kembali disoroti oleh pasal ini. Yusuf yang dijual sebagai budak oleh pedagang ke keluarga Potifar, pembesar Mesir itu ternyata menunjukkan bahwa ia bukan budak tetapi orang merdeka sejati. Pertama dengan membuktikan bahwa dirinya tidak menyesali hidup, menyalahkan orang, menyimpan kepahitan. Semua luka-luka batin itu tidak terlihat atau tidak ia izinkan memberi pengaruh negatif kepadanya. Sebab, sebagai manusia darah-daging dan bukan urat kawat, otot baja, hati berlian, seperti yang akan kita lihat kelak, pastilah dalam kesusahan ini ia pernah meneteskan air mata. Namun, menurut catatan narasi semua kesusahan itu seolah tak berbekas. Yusuf terus menerus menunjukkan kerajinan, kesetiaan, keberhasilan, tanggungjawab, dan membawa pengauh berkat.
Orang yang mendaki makin tinggi akan menghadapi terpaan angin dan beratnya sudut pendakian semakin besar. Namun, kesusahan makin besar justru menjadi penempaan diri yang makin memperteguh kualitas diri. Demikianlah yang terjadi pada Yusuf. Diam-diam sikap, tindak tanduk sampai bentuk tubuhnya yang elok, mendapatkan tatapan mata istri Potifar. Istri pejabat yang kesepian ini akhirnya mengatur bujuk dan jerat agar Yusuf masuk ke dalam pelukannya dan memuaskan hasratnya di tempat tidur. Ternyata si budak elok ini adalah seorang merdeka yang pertimbangannya elok juga. Tegas ia menyatakan bahwa ia tidak berani melanggar kepercayaan dan hak tuannya, dan tidak bersedia melakukan kejahatan yang besar di mata Allah (9). Bujukan demi bujukan, godaan demi godaan dihindarinya. Dan ketika perangkap siap menjepit, ia melarikan diri dari pencobaan itu!
Hidup merdeka dan benar mengundang akibat buruk lebih besar! Namun, ini membuat Yusuf masuk ke kesempatan baru untuk kemuliaan lebih besar lagi!

Kamis, 02 November 2017

Amazing Grace

Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira. Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu ialah Syua. Lalu Yehuda kawin dengan perempuan itu dan menghampirinya. Perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Er. Sesudah itu perempuan itu mengandung lagi, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Onan. Kemudian perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki sekali lagi, dan menamai anak itu Syela. Yehuda sedang berada di Kezib, ketika anak itu dilahirkan. Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang isteri, yang bernama Tamar. Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia. Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: "Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu." Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga. Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: "Tinggallah sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar," sebab pikirnya: "Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu." Maka pergilah Tamar dan tinggal di rumah ayahnya. Setelah beberapa lama matilah anak Syua, isteri Yehuda. Habis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu. Ketika dikabarkan kepada Tamar: "Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya," maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya. Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya. Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: "Marilah, aku mau menghampiri engkau," sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: "Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?" Jawabnya: "Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku." Kata perempuan itu: "Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku." Tanyanya: "Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab perempuan itu: "Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu." Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya. Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya. 
Gen 38:20  Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi. Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: "Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?" Jawab mereka: "Tidak ada di sini perempuan jalang." Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: "Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini." Lalu berkatalah Yehuda: "Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu." Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: "Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu." Lalu kata Yehuda: "Bawalah perempuan itu, supaya dibakar." Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan: "Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung." Juga dikatakannya: "Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan tongkat ini?" Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: "Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku." Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu. Pada waktu perempuan itu hendak bersalin, nyatalah ada anak kembar dalam kandungannya. Dan ketika ia bersalin, seorang dari anak itu mengeluarkan tangannya, lalu dipegang oleh bidan, diikatnya dengan benang kirmizi serta berkata: "Inilah yang lebih dahulu keluar." Ketika anak itu menarik tangannya kembali, keluarlah saudaranya laki-laki, dan bidan itu berkata: "Alangkah kuatnya engkau menembus ke luar," maka anak itu dinamai Peres. Sesudah itu keluarlah saudaranya laki-laki yang tangannya telah berikat benang kirmizi itu, lalu kepadanya diberi nama Zerah. -- Kejadian 38:1-30

Kita terguncang membaca betapa kacaunya hidup moral Yehuda dan keluarganya. Bahkan dalam keluarga Yakub sendiri sebagai Israel pilihan Allah, ada empat anak yang melakukan dosa dan noda serius: dosa inses (Ruben, Yehuda), dan pembunuhan keji (Simeon, Lewi). Kita takjub bahwa Allah bekerja mendatangkan keselamatan melalui riwayat dosa separah ini!
Yehuda sembrono, tidak peduli tradisi keluarga pilihan yang seharusnya terhormat. Kakek dan ayahnya kawin melalui proses penjodohan dan prinsip kekerabatan, Yehuda keluar dari jalur. Ia bergaul ke kalangan luar yaitu kaum Adulam dan begitu “melihat” Syua orang Kanaan (2), langsung tertarik, kawin, dapat tiga anak: Er, Onan dan Syela. Seperti perkawinannya yang sangat dini dan tanpa prinsip, ia mengawinkan Er terlalu cepat juga. Tamar dipilihnya dari orang Kanaan. Tanpa penjelasan, bagian ini mengatakan bahwa Er jahat di mata Tuhan sehingga Tuhan “membunuh dia” (7). Dalam tradisi orang Ibrani adik yang meninggal harus memperistri janda kakaknya untuk menghasilkan turunan atas nama almarhum. Tetapi Onan melakukan cara persetubuhan yang tidak memenuhi aturan tersebut. Perbuatan Onan itu pun jahat di mata Tuhan, sehingga ia dibunuh Tuhan juga (10).
Terjadilah aib. Tamar mungkin sadar bahwa Yehuda tidak akan memberikan Syela, maka dengan caranya sendiri menyaru menjadi pelacur. Yehuda mencari pelacur sesudah ia selesai berkabung sesudah istrinya meninggal (12). Perbuatan Tamar tidak terpuji, tetapi ia mungkin sangat berhasrat memperoleh keturunan dari garis Yehuda/Israel pengemban perjanjian Allah. Tamar hamil, Yehuda menyuruh orang supaya dibakar sebab secara status ia seharusnya istri Syela. Ketika benda-benda jaminan Yehuda diperlihatkan, Yehuda langsung mengakui bahwa ia yang salah menahan Syela, ia yang membuahi Tamar, ia bertanggungjawab. Keinsyafannya diperlihatkan dengan tidak melanjutkan hubungan inses dengan Tamar (26).
Perjanjian Allah ditujukan untuk menyelamatkan manusia yang sesat dan gelap. Peres, hasil inses Yehuda dengan perempuan kafir yang menyaru jadi pelacur inilah, kakek buyut Daud, kakek moyang Yesus Kristus Juruselamat kita yang anugerah-Nya ajaib itu! Sang Mesias ternyata bukan saja hadir untuk yang kacau balau, tetapi lebih radikal lagi di dalam dan melalui yang kacau balau. 

Rabu, 01 November 2017

Kejahatan vs Mimpi Ilahi

Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Sahut Yusuf: "Ya bapa." Kata Israel kepadanya: "Pergilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku." Lalu Yakub menyuruh dia dari lembah Hebron, dan Yusufpun sampailah ke Sikhem. Ketika Yusuf berjalan ke sana ke mari di padang, bertemulah ia dengan seorang laki-laki, yang bertanya kepadanya: "Apakah yang kaucari?" Sahutnya: "Aku mencari saudara-saudaraku. Tolonglah katakan kepadaku di mana mereka menggembalakan kambing domba?"Lalu kata orang itu: "Mereka telah berangkat dari sini, sebab telah kudengar mereka berkata: Marilah kita pergi ke Dotan." Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan. Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!" Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" --maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya. Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. Ketika Ruben kembali ke sumur itu, ternyata Yusuf tidak ada lagi di dalamnya. Lalu dikoyakkannyalah bajunya, dan kembalilah ia kepada saudara-saudaranya, katanya: "Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?" Kemudian mereka mengambil jubah Yusuf, dan menyembelih seekor kambing, lalu mencelupkan jubah itu ke dalam darahnya. Jubah maha indah itu mereka suruh antarkan kepada ayah mereka dengan pesan: "Ini kami dapati. Silakanlah bapa periksa apakah jubah ini milik anak bapa atau tidak?" Ketika Yakub memeriksa jubah itu, ia berkata: "Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam." Dan Yakub mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: "Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!" Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya. Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja. -- Kejadian 37:12-36

Orang-orang jahat tidak mungkin sepenuhnya sehati, sebab melibatkan banyak sikap egois dengan pertimbangan dan kepentingan berbeda. Sebaliknya kebaikan Allah justru seringkali bertindak mengherankan. Ia dapat membangkitkan orang menjadi alat-Nya dari kalangan yang tidak kita duga akan melakukan kehendak Allah. Allah sanggup menggerakkan hati nurani orang jahat untuk bertindak sedikit lebih baik. Bahkan, hikmat Allah sanggup ada bersama tindak kejahatan demi mengerjakan kebaikan dan mewujudkan rencana mulia-Nya!
Yusuf yang diejek “si pemimpi” ternyata bukan anak manja, ia juga penurut, dan penuh kasih. Ketika ayahnya menyuruhnya pergi mencari para saudaranya, dengan cepat ia menaati. “Ya bapa,” satu-satunya komentar Yusuf dalam pasal ini, ungkapan sikap hormat dan taat yang tercermin seterusnya dalam episode lanjut hidupnya. Bahkan ketika ia tidak dapat menjumpai saudaranya di Sikhem, ia rela pergi lebih jauh lagi sampai ke Dotan. Perjalanan melelahkan dan penuh bahaya ia tempuh, bukan saja karena ketaatan kepada ayahnya tetapi juga karena seperti ayahnya ia pun mengasihi para saudaranya.
Kita biasa menggolongkan iri, curang, gosip, serakah sebagai dosa kecil bahkan manusiawi. Tidak sejahat, seserius, sebahaya membunuh atau merampok, misalnya. Betapa menyesatkan pemikiran itu! Kisah ini gamblang memaparkan bahwa iri adalah bapa dari benci, dan kakek dari rencana pembunuhan. “Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” (20). Ucapan ini menyiratkan bahwa ujung dari kejahatan ialah sikap dan tindakan ingin membuyarkan rencana ilahi!
Akan sanggupkah kejahatan membuyarkan rencana ilahi? Entah karena motivasi apa, muncullah dua “penyelamat” dari antara sesaudara yang telah menjadi sekomplotan penjahat ini. Ruben mengusulkan agar Yusuf tidak dibunuh tetapi dibuang ke sumur kering (21-22), dan Yehuda kemudian mengusulkan bahwa menjual Yusuf lebih untung daripada membunuhnya (26-27). Si pemimpi pun terluput dari pembunuhan, mimpi ilahi bergulir menuju kegenapannya!