Sabtu, 21 Oktober 2017

Perubahan Ajaib

Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: "Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?" Jawab Yakub: "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. Berkatalah Esau: "Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?" Jawabnya: "Untuk mendapat kasih tuanku." Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." Tetapi kata Yakub: "Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya." Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya. Kata Esau: "Baiklah kita berangkat berjalan terus; aku akan menyertai engkau." Tetapi Yakub berkata kepadanya: "Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati. Biarlah kiranya tuanku berjalan lebih dahulu dari hambamu ini dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir." Lalu kata Esau: "Kalau begitu, baiklah kutinggalkan padamu beberapa orang dari pengiringku." Tetapi Yakub berkata: "Tidak usah demikian! Biarlah aku mendapat kasih tuanku saja." Jadi pulanglah Esau pada hari itu berjalan ke Seir. Tetapi Yakub berangkat ke Sukot, lalu mendirikan rumah, dan untuk ternaknya dibuatnya gubuk-gubuk. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Sukot. Dalam perjalanannya dari Padan-Aram sampailah Yakub dengan selamat ke Sikhem, di tanah Kanaan, lalu ia berkemah di sebelah timur kota itu. Kemudian dibelinyalah dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem, sebidang tanah, tempat ia memasang kemahnya, dengan harga seratus kesita. Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: "Allah Israel ialah Allah" (El-Elohe-Israel)   -- Kejadian 33"1-20

Yakub yang telah dimenangkan Allah dalam pergumulan dengan-Nya kini dengan berani dan penuh tanggungjawab mengepalai rombongan keluarga besarnya. Ia bukan bersembunyi tetapi tampil paling depan. Ketika rombongan Yakub berpapasan dengan rombongan Esau yang membawa pasukan perang, terjadilah rentetan keajaiban. Yang tadinya ditakuti Yakub tidak terjadi. Pasukan Esau tidak membantai rombongan Yakub, Esau pun tidak membalas dendamnya puluhan tahun. Yakub tujuh kali sujud sampai akhirnya tiba ke dekat Esau, menyebut dirinya “hambamu" (5) dan memanggil Esau “tuanku" (8). Perubahan ajaib dan adegan mengharukan pun terjadi. Esau berlari, memeluk, mencium Yakub, dan dalam pelukan persaudaraan yang dipulihkan mereka bertangis-tangisan (4).
Dulu perebutan warisan membuat mereka bermusuhan, kini dalam pemulihan Esau menolak pemberian Yakub. Dengan menyebut Yakub sebagai “adikku,” ia menampik pemberian itu karena ia “memiliki banyak.” Esau berubah, ia tidak lagi merasa sebagai orang yang pernah dirugikan. Yakub pun menegaskan kenyataan berkat Allah dalam hidupnya. Apabila Esau memiliki banyak harta, Yakub mengklaim dengan penuh syukur bahwa ia kini “mempunyai segala-galanya” (11). Yang Yakub maksudkan tentu bukan harta melainkan hidup yang diubahkan, disertai, dipimpin, diberkati Allah. Termasuk bahwa kini ia melihat wajah Esau seolah melihat wajah Allah sendiri, yaitu bahwa keajaiban anugerah Allah di dalam wajah dan sikap Esau yang bersedia menerimanya kembali sebagai “adik” (9-10).
Sesudah rekonsiliasi tersebut, lalu kedua bersaudara itu dan rombongan mereka pun berpisah baik-baik. Karena kedatangan Yakub adalah dalam rangka memenuhi panggilan ilahi, maka ia memang tidak mungkin berjalan bersama dengan kakaknya yang menjalani panggilan dirinya sendiri. Anugerah Allah telah memungkinkan rentetan perubahan ajaib terjadi. Dan di penutup episode ini perubahan paling ajaib terjadi dalam pengakuan Yakub: El adalah Allah Israel, Allah dirinya pribadi, bukan hanya Allah kakek dan bapaknya! Allah dirinya yang telah diubah jadi Israel!
Jika kita pasrah kooperatif dengan karya transformasi Allah, Ia membuat rentetan hal mustahil terjadi dalam berbagai segi kehidupan dan relasi kita!

Jumat, 20 Oktober 2017

Berdoa sampai Kalah

Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya. -- Kejadian 32:22-32

Ini sungguh episode genting mendebarkan dalam kehidupan Yakub! Akhirnya Yakub sadar bukan ternak, hamba-hambanya, atau istri dan anaknya yang dapat melindungi dia dari Esau atau yang dapat dijadikan persembunyian dari konsekuensi masalah lamanya. Ia sendiri harus bergumul dengan Allah menyelesaikan semua dengan-Nya!
Seseorang bergulat dengan Yakub semalaman sampai fajar menyingsing. Tidak dikatakan siapa orang ini, namun ada beberapa petunjuk untuk kita simpulkan. Sesudah bergulat tanpa bisa dihentikan, orang itu membuat Yakub menyadari kebutuhan dirinya terdalam. Selama ini ia mengandalkan kesanggupannya sendiri -- ya otak, ya otot. Kini di puncak pergulatan itu orang misterius tersebut memukul pangkal paha Yakub -- tempat tulang punggung bertumpu, penyangga kekuatan Yakub -- sampai ia terpelecok, pincang dan sejak itu kesadaran secara fisik bahwa dirinya lemah dan perlu bersandar pada "sesuatu" yang lain harus melekat sepanjang sisa umurnya. 
Orang itu memiliki kuasa sehingga berhak menanyakan dan mengubah nama Yakub. Yakub -- perenggut, penipu, pengandal diri sendiri -- diubah menjadi Israel -- pangerannya Allah, di dalam dan oleh Allah. Luar biasanya “Nama:-Nya sendiri tetap rahasia. Ia yang berhak memberi atau mengubah nama, sementara Yakub tidak dalam posisi untuk mengetahui “Nama” pihak yang berkuasa mengubah 
Jika orang misterius itu adalah Allah, bagaimana mungkin Yakub kuat semalaman bergulat melawan-Nya? Jika Ia Allah yang berdaulat mengubah nama Yakub menjadi Israel, bagaimana mungkin Yakub sanggup “memaksa-Nya” untuk memberkati? Dari semua pertimbangan ini jelas bahwa ini bukan suatu pergulatan jasmani tetapi suatu pergulatan rohani seperti yang terjadi dalam doa. Hosea 12:4-5 menegaskan bahwa “Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: - yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya.” Ia meminta berkat. Yakub diubah dari mengandalkan kekuatan otot dan akalnya sendiri menjadi seorang yang bersandar pada Allah dan dalam kebersandaran itu ia menerima anugerah dan berkat. Jika ia yang fana dan penuh dosa sanggup bergulat dengan Allah, tentu karena secara misterius Allah yang sama yang melawannya itu juga yang membantunya bertahan dalam pergumulan itu. Kini ia tidak lagi mengandaikan keahlian manusia berdosa dengan mengatur tipu daya. Ia memohon Allah sendiri memberkatinya. Dalam pergumulan doa yang serius dan membuat otot dan akalnya takluk itulah, ia akhirnya sanggup memahami hakikat berkat dalam hidupnya. Dan saat itulah ia diubah Allah menjadi Israel.
Tidak ada yang lebih mengubah kita dari jasmani-duniawi menjadi rohani-surgawi ketimbang bergumul dengan Allah sampai kita menyadari ketidaklayakan serta ketidakberdayaankita dan Ia menjadi segalanya bagi kita.

Kamis, 19 Oktober 2017

Upaya Rekonsiliasi

Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat-malaikat Allah dengan dia. Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah ia: "Ini bala tentara Allah." Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim. Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom. Ia memerintahkan kepada mereka: "Beginilah kamu katakan kepada tuanku, kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai orang asing dan diam di situ selama ini. Aku telah mempunyai lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat kasihmu." Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan berkata: "Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan iapun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang." Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. Sebab pikirnya: "Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput." Kemudian berkatalah Yakub: "Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu-- sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan. Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya. Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung." Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau, kakaknya, yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan, tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan. Diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga, tiap-tiap kumpulan tersendiri, dan ia berkata kepada mereka: "Berjalanlah kamu lebih dahulu dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan yang satu dengan kumpulan yang lain." Diperintahkannyalah kepada yang paling di muka: "Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan ke manakah engkau pergi? dan milik siapakah ternak yang di depanmu itu? -- jawablah: milik hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub sendiripun ada di belakang kami." Begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring kumpulan hewan itu, katanya: "Seperti perkataanku tadilah kamu katakan kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia; dan kamu harus mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami." Sebab pikir Yakub: "Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin ia akan menerima aku dengan baik." Jadi persembahan itu diantarkan lebih dahulu, tetapi ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya. -- Kejadian 32:1-21

Yakub pulang ke kampung halamannya, Kanaan perjanjian Allah kepada kakek dan bapaknya, yang juga tanah warisnya. Perjalanan pulang yang seharusnya membangkitkan kesukaan besar, namun tidak demikian bagi Yakub. Ini bukan perjalanan mudah baginya, sebab perjalanan itu juga merupakan perjalanan balik menghadapi masalah yang pernah ia timbulkan terhadap Esau. Benar ia mendapatkan warisan, namun dengan meninggalkan luka pada pihak lain. Kini ia harus menghadapi segala konsekuensi penipuan yang ia lakukan terhadap kakaknya itu.
Sebelum “sambutan” kakaknya yang membuat Yakub gentar dan cemas, ia disambut sepasukan malaikat di Mahanaim (1-2). Ini tentu memberikan penghiburan dan penguatan sangat berarti bagi Yakub. Tidakkah berarti pasukan Allah terus mengitari Yakub dari Betel-Haran-dan kini sampai ke Mahanaim juga? Mahanaim berarti dua kemah, sebab di samping kemah Yakub ada kemah lain yaitu kemah pasukan malaikat yang menjumpai dia. Ini pasti memberanikan dia dan rombongannya mendekat ke tempat Esau di Seir, Edom. Kalau dulu ia melarikan diri kini ia mencari Esau. Satu lagi perubahan besar terjadi dalam sikap Yakub. 
Sebelum memasuki Kanaan tanah perjanjian yang sudah menjadi hak warisnya, ia harus lebih dulu mengupayakan rekonsiliasi dengan orang yang pernah ia tipu. Yakub mengirim utusan dengan salam dan kabar darinya untuk Esau. Ia membahasakan diri merendah sebagai “hamba” Esau. Ia membawa banyak kekayaan melalui perjuangan berat, bukan melalui penipuan (4, 5). Pesan tersebut menyiratkan bahwa ia telah berubah, bukan lagi Yakub yang dulu. Ia siap berdamai dalam posisi sebagai hamba. Sayang pesan Yakub disambut dengan berita bahwa Esau dengan pasukan perangnya mendatangi Yakub. 
Apa daya Yakub? Ia berdoa. Ia kini mengakui bahwa ia pulang karena menaati firman Allah. Ia berterima kasih untuk segala berkat-Nya. Ia masih menyebut Allah sebagai Allah kakek dan ayahnya, belum Allah pribadinya namun ungkapan TUHAN sebagai yang hidup dan yang sumber perjanjian pertama kali keluar dari bibir Yakub. Kepada YHWH ini Ia mengakui ketidaklayakannya beroleh semua berkat-Nya. Ia mengakui juga ketakutannya kepada Esau, dan memohon agar diluputkan (9-12). 
Sesudah berdoa ia mengatur untuk mengirimkan iring-iringan pemberian untuk Esau, sejumlah 580 ekor ternak. Dengan 580 ekor ternak itu Yakub berharap dapat mendamaikan Esau yang telah dirugikannya. Masih terlihat pola pikir "tukar-guling" dalam diri Yakub -- dulu ia merebut hak kesulungan dengan semangkuk sup kacang merah dan semangkuk sup kambing piaraan, kini ia seolah ingin membayar utang moralnya kepada Esau dengan 580 ternak tersebut. Ia masih berpikir rekonsiliasi bisa dicapainya dengan tebusan hasil strategi trik otak lihainya sendiri.
Adakah pihak di masa lalu kita yang kita perlu berdamai? Sudahkah anugerah dari Yesus mendamaikan kita dengan masa lalu kita? Sungguhkah kita bergantung penuh pada nilai tebusan dalam darah Yesus sebagai daya pendamai semua ketidakberesan hidup kita? 

Rabu, 18 Oktober 2017

Pengakuan dan Perjanjian


Lalu Laban menjawab Yakub: "Perempuan-perempuan ini anakku dan anak-anak lelaki ini cucuku dan ternak ini ternakku, bahkan segala yang kaulihat di sini adalah milikku; jadi apakah yang dapat kuperbuat sekarang kepada anak-anakku ini atau kepada anak-anak yang dilahirkan mereka? Maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Kemudian Yakub mengambil sebuah batu dan didirikannya menjadi tugu. Selanjutnya berkatalah Yakub kepada sanak saudaranya: "Kumpulkanlah batu." Maka mereka mengambil batu dan membuat timbunan, lalu makanlah mereka di sana di dekat timbunan itu. Laban menamai timbunan batu itu Yegar-Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed. Lalu kata Laban: "Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed, dan juga Mizpa, sebab katanya: "TUHAN kiranya berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan. Jika engkau mengaibkan anak-anakku, dan jika engkau mengambil isteri lain di samping anak-anakku itu, ingatlah, walaupun tidak ada orang dekat kita, Allah juga yang menjadi saksi antara aku dan engkau." Selanjutnya kata Laban kepada Yakub: "Inilah timbunan batu, dan inilah tugu yang kudirikan antara aku dan engkau-- timbunan batu dan tugu inilah menjadi kesaksian, bahwa aku tidak akan melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkaupun tidak akan melewati timbunan batu dan tugu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat. Allah Abraham dan Allah Nahor, Allah ayah mereka, kiranya menjadi hakim antara kita." Lalu Yakub bersumpah demi Yang Disegani oleh Ishak, ayahnya. Dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan di gunung itu. Ia mengundang makan sanak saudaranya, lalu mereka makan serta bermalam di gunung itu. Keesokan harinya pagi-pagi Laban mencium cucu-cucunya dan anak-anaknya serta memberkati mereka, kemudian pulanglah Laban kembali ke tempat tinggalnya. -- Kejadian 31:43-55


Jika dalam relasi sosial Anda – semisal dalam hubungan dengan ipar atau mertua, bawahan dan atasan,– terjadi ketidaksetaraan, apa yang Anda lakukan? 
Selama ini Yakub telah diperlakukan oleh Laban, mertuanya sendiri secara tidak manusiawi. Jangankan setara! Puncak dari sikap dan perlakuan tidak manusiawi itu ialah ketika ia berhasil mengejar Yakub, lalu menekannya dengan berbagai perkataan tajam. Namun oleh pembelaan Allah dan pengungkapan fakta dari Yakub, Laban terpaksa berubah sikap dan perlakuan. Tentu saja bukan perubahan menyeluruh dan mendasar. Ia masih melontarkan perkataan manis yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Sebab, meski kini ia memanggil dengan mesra mereka sebagai anak-anak dan cucu-cucunya, namun sebenarnya ia hanya menjadikan mereka perantara untuk memeras tenaga Yakub. Tetapi paling tidak dengan mengusulkan agar ia dan Yakub mengadakan perjanjian, tampak jelas bagaimana Laban terpaksa memperlakukan Yakub secara berbeda. Dari budak dan pencuri, kini sebagai manusia setara yang memiliki hak dan mampu  
Sesuai adat kebiasaan waktu itu, pihak-pihak yang mengikat perjanjian membuat upacara perjanjian dengan memotong kurban. Timbunan batu tempat menaruh kurban perjanjian itu mereka namai Timbunan Kesaksian dalam bahasa mereka masing-masing, dan oleh Yakub disebut juga sebagai Menara Pengawas (Mizpa). Laban yang memaparkan isi perjanjian itu. Pertama, agar Yakub setia dalam ikatan nikah dengan anak-anak Laban. Kedua, agar mereka menghormati batas-batas wilayah kewenangan mereka. Isi perjanjian ini menunjukkan Laban mengakui Yakub sebagai seorang yang setara dengannya, terhormat dan sanggup untuk dipercaya.
Agar dihormati dan diperlakukan setara, kita tak perlu bersikap licik atau bertindak keras. Bersikap dan bertindaklah sebagai orang yang memang terhormat dan terpercaya, oleh anugerah-Nya. Dengan sendirinya kelak, sikap dan tindakan kita pasti akan membuahkan hasil. Orang lain selicik sejahat apa pun, akhirnya harus mengakui bahwa kita memang ada dalam anugerah dan berkat-Nya. 

Selasa, 17 Oktober 2017

Allah -- Ada dan Melihat

Ketika pada hari ketiga dikabarkan kepada Laban, bahwa Yakub telah lari, dibawanyalah sanak saudaranya bersama-sama, dikejarnya Yakub tujuh hari perjalanan jauhnya, lalu ia dapat menyusulnya di pegunungan Gilead. Pada waktu malam datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfirman kepadanya: "Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun." Ketika Laban sampai kepada Yakub, --Yakub telah memasang kemahnya di pegunungan, juga Laban dengan sanak saudaranya telah memasang kemahnya di pegunungan Gilead-- berkatalah Laban kepada Yakub: "Apakah yang kauperbuat ini, maka engkau mengakali aku dan mengangkut anak-anakku perempuan sebagai orang tawanan? Mengapa engkau lari diam-diam dan mengakali aku? Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku, supaya aku menghantarkan engkau dengan sukacita dan nyanyian dengan rebana dan kecapi? Lagipula engkau tidak memberikan aku kesempatan untuk mencium cucu-cucuku laki-laki dan anak-anakku perempuan. Memang bodoh perbuatanmu itu. Aku ini berkuasa untuk berbuat jahat kepadamu, tetapi Allah ayahmu telah berfirman kepadaku tadi malam: Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah katapun. Maka sekarang, kalau memang engkau harus pergi, semata-mata karena sangat rindu ke rumah ayahmu, mengapa engkau mencuri dewa-dewaku?" Lalu Yakub menjawab Laban: "Aku takut, karena pikirku, jangan-jangan engkau merampas anak-anakmu itu dari padaku. Tetapi pada siapa engkau menemui dewa-dewamu itu, janganlah ia hidup lagi. Periksalah di depan saudara-saudara kita segala barang yang ada padaku dan ambillah barangmu." Sebab Yakub tidak tahu, bahwa Rahel yang mencuri terafim itu. Lalu masuklah Laban ke dalam kemah Yakub dan ke dalam kemah Lea dan ke dalam kemah kedua budak perempuan itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya. Setelah keluar dari kemah Lea, ia masuk ke dalam kemah Rahel. Tetapi Rahel telah mengambil terafim itu dan memasukkannya ke dalam pelana untanya, dan duduk di atasnya. Laban menggeledah seluruh kemah itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya. Lalu kata Rahel kepada ayahnya: "Janganlah bapa marah, karena aku tidak dapat bangun berdiri di depanmu, sebab aku sedang haid." Dan Laban mencari dengan teliti, tetapi ia tidak menemui terafim itu. Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: "Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu? Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua. Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku. Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam." -- Kejadian 31:22-42

Bagaimanakah harus kita hadapi tuduhan dan tekanan dari pihak orang yang membuat banyak masalah agar kita tidak terprovokasi? Sejauh mana kita patut memaparkan kebenaran kita kepada orang yang telah banyak berbuat salah kepada kita?Allah sendiri membela Yakub, Ia menampakkan diri kepada Laban. Laban diperingatkan keras agar tidak bersikap macam-macam dan mengucapkan perkataan yang tidak pantas kepada Yakub. Bisa kita simpulkan bahwa pastilah Laban tipe orang yang keras dan berkata seenak perut sendiri. Bahkan sesudah mendapatkan peringatan itu pun, semua tuduhan yang ia lancarkan kepada Yakub masih terasa sangat menekan. Melalui peristiwa ini Yakub mengalami keberpihakan Allah kepada pihak yang tertindas, termasuk dirinya. Juga karena Ia punya rencana agung melaluinya, dan ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya.
Ada tiga tuduhan Laban kepada Yakub. Pertama, Yakub melarikan diri. Kedua, Yakub membawa pergi kawanannya tanpa izin. Tersirat di sini bahwa Yakub dianggap melarikan istri-istrinya juga harta yang masih dianggap sebagai milik Laban. Ketiga, Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan ini tidak benar, terkecuali yang ketiga namun yang mencuri bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya. Maka, tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Ia memang harus mewujudkan tekadnya sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas. Itu sebab Yakub merancang kepergian diam-diam. 
Menghadapi tuduhan semena-mena ini, Yakub yang sebetulnya berwatak lembut dan sudah sangat berubah karena pembentukan ilahi, membela diri dengan nada marah. Ada tempat untuk membela diri, ada alasan juga untuk marah karena alasan yang benar. Maka secara terus terang Yakub menelanjangi kekejaman dan ketidakadilan yang telah Laban buat terhadapnya. Yang indah di bagian akhir pembelaannya ini, secara tersamar Yakub mengakui acanya campur tangan Allah membela dan memelihara dirinya. 
Ketidakadilan yang harus Yakub (kita) tanggung, perlu disikapi dalam keyakinan bahwa Allah tidak absen (ada -- hayah) dan melihat (ra-ah), bersama dan membela demi keberlanjutan karya-Nya di dalam kita.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Mengakui Keterlibatan Tuhan

Kedengaranlah kepada Yakub anak-anak Laban berkata demikian: "Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya." Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: "Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau." Sesudah itu Yakub menyuruh memanggil Rahel dan Lea untuk datang ke padang, ke tempat kambing dombanya, lalu ia berkata kepada mereka: "Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku. Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu. Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku. Apabila ia berkata: yang berbintik-bintiklah akan menjadi upahmu, maka segala kambing domba itu beroleh anak yang berbintik-bintik; dan apabila ia berkata: yang bercoreng-corenglah akan menjadi upahmu, maka segala kambing domba itu beroleh anak yang bercoreng-coreng. Demikianlah Allah mengambil ternak ayahmu dan memberikannya kepadaku. Pada suatu kali pada masa kambing domba itu suka berkelamin, maka aku bermimpi dan melihat, bahwa jantan-jantan yang menjantani kambing domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang. Dan Malaikat Allah berfirman kepadaku dalam mimpi itu: Yakub! Jawabku: Ya Tuhan! Lalu Ia berfirman: Angkatlah mukamu dan lihatlah, bahwa segala jantan yang menjantani kambing domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang, sebab telah Kulihat semua yang dilakukan oleh Laban itu kepadamu. Akulah Allah yang di Betel itu, di mana engkau mengurapi tugu, dan di mana engkau bernazar kepada-Ku; maka sekarang, bersiaplah engkau, pergilah dari negeri ini dan pulanglah ke negeri sanak saudaramu." Lalu Rahel dan Lea menjawab Yakub, katanya: "Bukankah tidak ada lagi bagian atau warisan kami dalam rumah ayah kami? Bukankah kami ini dianggapnya sebagai orang asing, karena ia telah menjual kami? Juga bagian kami telah dihabiskannya sama sekali. Tetapi segala kekayaan, yang telah diambil Allah dari ayah kami, adalah milik kami dan anak-anak kami; maka sekarang, perbuatlah segala yang difirmankan Allah kepadamu." Lalu bersiaplah Yakub, dinaikkannya anak-anaknya dan isteri-isterinya ke atas unta, digiringnya seluruh ternaknya dan segala apa yang telah diperolehnya, yakni ternak kepunyaannya, yang telah diperolehnya di Padan-Aram, dengan maksud pergi kepada Ishak, ayahnya, ke tanah Kanaan. Adapun Laban telah pergi menggunting bulu domba-dombanya. Ketika itulah Rahel mencuri terafim ayahnya. Dan Yakub mengakali Laban, orang Aram itu, dengan tidak memberitahukan kepadanya, bahwa ia mau lari. Demikianlah ia lari dengan segala harta miliknya. Ia berangkat, menyeberangi sungai Efrat dan berjalan menuju pegunungan Gilead. -- Kejadian 31:1-21

Jika kita Yakub, empat belas tahun masa sulit, kerja keras tanpa upah, akan berpikir bagaimana tentang Allah? Percayakah bahwa segala yang terjadi di masa itu pun penyertaan Allah? Masihkah kita akan menilai panggilan-Nya dengan positif?
Setelah empat belas tahun masa Yakub menjadi pekerja keras berintegritas, barulah dibukakan bahwa selama itu Allah sendiri terus menerus menyertai dia. Keberuntungan Laban pun sebenarnya adalah bukti penyertaan dan berkat Allah pada Yakub. Penyertaan dan berkat Allah paling berharga adalah berbagai pelajaran yang Yakub terima yang memroses karakter dan tindak tanduknya. Sungguh penyertaan dan berkat terbesar yang Allah karuniakan kepada umatNya adalah ketika Ia memecah, memahat, mengukir, menggosok kita, dari batu-batu rongsokan menjadi batu-batu berharga yang mulia.
Ada saat Allah menyertai dan bekerja diam-diam seperti yang Yakub alami empat belas tahun itu. Ada juga saat Allah membuat penyertaan-Nya yang sama itu menjadi sangat nyata. Yaitu, ketika Ia sepuluh kali mementahkan upaya Laban untuk tidak berbagi anak ternak kepada Yakub. Jelas bahwa “trik” janggal yang terpikir oleh Yakub sesungguhnya adalah campur tangan Tuhan. Di bolak-balik bagaimana pun oleh Laban, tetap saja berkat Allah jatuh ke Yakub. Dari kejadian ini terlihat kontrasnya orang duniawi yang terbelenggu harta, dari orang yang mengandalkan Tuhan.
Puncak episode ini, Allah berfirman, menjelaskan apa yang telah Ia lakukan kepada Yakub; mengokohkan panggilan dan berkat-Nya kepada Yakub sebagai penerus kakek dan ayahnya. Sangat mengharukan ketika Allah menegaskan bahwa Ia adalah Allah yang menyatakan diri kepada Yakub di Betel. Saat itu, Yakub belum membuat pengakuan bahwa Allah kakek dan ayahnya, adalah juga Allahnya pribadi. Betapa sabar Allah kepada Yakub. Empat belas tahun Ia mengikuti Yakub terus membentuk, memberkati, namun sampai detik genting ini pun belum juga keluar pengakuan Yakub bahwa Ia adalah Allahnya pribadi. 
Berkat dalam segala bentuknya pada hakikatnya adalah relasi bukan sekadar berkat moral atau materiil. Allah mengejar Yakub dan menunggu terus sampai pengakuan itu lahir, sampai relasi itu disadari dan diakui sedang terjalin!

Jumat, 13 Oktober 2017

Berubah dan Bertumbuh

Setelah Rahel melahirkan Yusuf, berkatalah Yakub kepada Laban: "Izinkanlah aku pergi, supaya aku pulang ke tempat kelahiranku dan ke negeriku. Berikanlah isteri-isteriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu, supaya aku pulang, sebab engkau tahu, betapa keras aku bekerja padamu." Tetapi Laban berkata kepadanya: "Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau." Lagi katanya: "Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya." Sahut Yakub kepadanya: "Engkau sendiri tahu, bagaimana aku bekerja padamu, dan bagaimana keadaan ternakmu dalam penjagaanku, sebab harta milikmu tidak begitu banyak sebelum aku datang, tetapi sekarang telah berkembang dengan sangat, dan TUHAN telah memberkati engkau sejak aku berada di sini; jadi, bilakah dapat aku bekerja untuk rumah tanggaku sendiri?" Kata Laban: "Apakah yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab Yakub: "Tidak usah kauberikan apa-apa kepadaku; aku mau lagi menggembalakan kambing dombamu dan menjaganya, asal engkau mengizinkan hal ini kepadaku: Hari ini aku akan lewat dari tengah-tengah segala kambing dombamu dan akan mengasingkan dari situ setiap binatang yang berbintik-bintik dan berbelang-belang; segala domba yang hitam dan segala kambing yang berbelang-belang dan berbintik-bintik, itulah upahku. Dan kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku: Segala yang tidak berbintik-bintik atau berbelang-belang di antara kambing-kambing dan yang tidak hitam di antara domba-domba, anggaplah itu tercuri olehku." Kemudian kata Laban: "Baik, jadilah seperti perkataanmu itu." Lalu diasingkannyalah pada hari itu kambing-kambing jantan yang bercoreng-coreng dan berbelang-belang dan segala kambing yang berbintik-bintik dan berbelang-belang, segala yang ada warna putih pada badannya, serta segala yang hitam di antara domba-domba, dan diserahkannyalah semuanya itu kepada anak-anaknya untuk dijaga. Kemudian Laban menentukan jarak tiga hari perjalanan jauhnya antara dia dan Yakub, maka tetaplah Yakub menggembalakan kambing domba yang tinggal itu. Lalu Yakub mengambil dahan hijau dari pohon hawar, pohon badam dan pohon berangan, dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga berbelang-belang, sampai yang putihnya kelihatan. Ia meletakkan dahan-dahan yang dikupasnya itu dalam palungan, dalam tempat minum, ke mana kambing domba itu datang minum, sehingga tepat di depan kambing domba itu. Adapun kambing domba itu suka berkelamin pada waktu datang minum. Jika kambing domba itu berkelamin dekat dahan-dahan itu, maka anaknya bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang. Kemudian Yakub memisahkan domba-domba itu, dihadapkannya kepala-kepala kambing domba itu kepada yang bercoreng-coreng dan kepada segala yang hitam di antara kambing domba Laban. Demikianlah ia beroleh kumpulan-kumpulan hewan baginya sendiri, dan tidak ditempatkannya pada kambing domba Laban. Dan setiap kali, apabila berkelamin kambing domba yang kuat, maka Yakub meletakkan dahan-dahan itu ke dalam palungan di depan mata kambing domba itu, supaya berkelamin dekat dahan-dahan itu. Tetapi apabila datang kambing domba yang lemah, ia tidak meletakkan dahan-dahan itu ke dalamnya. Jadi hewan yang lemah untuk Laban dan yang kuat untuk Yakub. Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai. -- Kejadian 30:25-43

Hidup Yakub berat, tetapi melalui itu ia diubah. Dari pribadi yang menggunakan tipu daya untuk mendapatkan keinginan ia menjadi pekerja keras yang rela berkorban. Empat belas tahun bekerja mati-matian tanpa upah karena ia telah berjanji untuk mengabdi demi mendapatkan istrinya. Selama itu ia telah berhasil memperkaya Laban. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus kali lipat jumlah ternak Laban berkembang selama empat belas tahun itu. Tidak ada catatan bahwa Yakub mengeluh, atau tergoda untuk mengganggu pertambahan ternak-ternak Laban. Empat belas tahun diceritakan seolah sekejap dan tanpa ada aksi negatif pada Yakub. Pengabdian yang berat dan tidak adil, ditanggungnya dengan tekun karena memenuhi janji.
Di akhir masa pengabdian itu, Yakub memohon pergi ke tanah asalnya. Banyak orang yang sesudah beberapa tahun pergi ke perantauan lupa tanah asal leluhurnya. Apalagi bila alasannya merantau adalah untuk menghindari kemalangan atau ada sesuatu yang ia takuti seperti kasus Yakub ini. Atau, apabila di perantauan ia telah mendapatkan peruntungan dan masa depan membuka menjanjikan. Namun Yakub tidak demikian. Tanah kelahirannya adalah tanah yang Allah janjikan. Janji Allah yang telah diwarisinya, tidak menjadi pupus selama masa yang lama itu. Bukan saja karakternya mengalami pemurnian, panggilan ilahi itu pun semakin mengakar. Ini mendorong ia kembali ke sasaran yang telah Allah tetapkan untuknya.
Yakub kini mengupayakan kemandiriannya dari Laban dan perolehan ternak dengan cara yang benar -- memohon dan bernegosiasi. Permintaan Yakub seumpama orang mempertaruhkan nasib pada kebetulan. Apakah batang-batang kayu dengan banyak spot terkupas yang ia taruh di tempat minum ternak di masa mereka kawin menyebabkan ternak melahirkan anak-anak berbintik-bintik? Permintaannya bukan nasib-nasiban. “Trik” yang ia buat pun bukan tindakan magis atau tipuan. Jawabnya hanya satu, ia meminta sesuatu yang dipasrahkannya penuh pada penyelenggaraan ilahi. 
Allah yang sumber berkat dan yang mempunyai rencana besar, memakai tindakan dari common sense atau kepercayaan tradisional itu menjadi kenyataan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Harap tidak Sia-sia

Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya. Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berkatalah ia: "Allah telah menghapuskan aibku." Maka ia menamai anak itu Yusuf, sambil berkata: "Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku." -- Kejadian 30:22-24

Apabila empat anak pertama Yakub dari Lea berlangsung dalam empat tahun dan masing-masing dua anak dari dua pembantu Rahel dan Lea terjadi dalam waktu beririsan sekitar dua-tiga tahun serta anak kelima Lea terjadi berikutnya, maka dapat diasumsikan sekitar tujuh tahun Rahel harus sengsara dan sadar penuh bahwa kapasitas jasmaninya tidak dapat diandalkan. Bahkan suplemen buah kesuburan yang didapatnya dari Lea dengan barter hubungan seksnya dengan Yakub pun ternyata tidak membuahkan hasil. Tujuh tahun sengsara, aib, berupaya dengan berbagai cara ini membuat ia akhirnya menaruh harapan terakhir dan tertinggi kepada Allah -- panggilan untuk sang sesembahan universal, Pencipta langit dan bumi. Dan yang dipanggil, diandalkan, diharapkan itu bukan Allah yang jauh tidak peduli tetapi TUHAN Perjanjian -- diri-Nya sendiri sumber bagi diri-Nya dan energi hidup-Nya sekaligus sumber bagi segala yang ada dan yang menopang keberlanjutan -- ternyata Ia ingat akan Rahel, penderitaan dan doa harapannya. Ketika Allah memberdayakan kapasitas jasmani Rahel, kandungan itu menjadi hidup sebagaimana mestinya, Rahel mengandung dan Yusuf lahir. Penamaan Yusuf -- artinya, Ia akan menambahkan -- menunjukkan bertambahnya juga pengharapan Rahel. Kelak dalam kehidupan Yusuf kita juga menyaksikan bagaimana kesengsaraan dalam harap dan iman yang bertumbuh menambah-tumbuhkan karakter orang dan kapasitas dirinya ke tingkat kemuliaan sepadan.

Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. -- Roma 5:2-5

Rabu, 11 Oktober 2017

Berkat dan Keluarga Disfungsi

Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul. Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: "Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku." Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku." Maka ia menamai anak itu Simeon. Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi. Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi. Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati." Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: "Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?" Kata Rahel: "Ini Bilha, budakku perempuan, hampirilah dia, supaya ia melahirkan anak di pangkuanku, dan supaya oleh dia akupun mempunyai keturunan." Maka diberikannyalah Bilha, budaknya itu, kepada Yakub menjadi isterinya dan Yakub menghampiri budak itu. Bilha mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki bagi Yakub. Berkatalah Rahel: "Allah telah memberikan keadilan kepadaku, juga telah didengarkan-Nya permohonanku dan diberikan-Nya kepadaku seorang anak laki-laki." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Dan. Mengandung pulalah Bilha, budak perempuan Rahel, lalu melahirkan anak laki-laki yang kedua bagi Yakub. Berkatalah Rahel: "Aku telah sangat hebat bergulat dengan kakakku, dan akupun menang." Maka ia menamai anak itu Naftali. Ketika dilihat Lea, bahwa ia tidak melahirkan lagi, diambilnyalah Zilpa, budaknya perempuan, dan diberikannya kepada Yakub menjadi isterinya. Dan Zilpa, budak perempuan Lea, melahirkan seorang anak laki-laki bagi Yakub. Berkatalah Lea: "Mujur telah datang." Maka ia menamai anak itu Gad. Dan Zilpa, budak perempuan Lea, melahirkan anak laki-laki yang kedua bagi Yakub. Berkatalah Lea: "Aku ini berbahagia! Tentulah perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia." Maka ia menamai anak itu Asyer. Ketika Ruben pada musim menuai gandum pergi berjalan-jalan, didapatinyalah di padang buah dudaim, lalu dibawanya kepada Lea, ibunya. Kata Rahel kepada Lea: "Berilah aku beberapa buah dudaim yang didapat oleh anakmu itu." Jawab Lea kepadanya: "Apakah belum cukup bagimu mengambil suamiku? Sekarang pula mau mengambil lagi buah dudaim anakku?" Kata Rahel: "Kalau begitu biarlah ia tidur dengan engkau pada malam ini sebagai ganti buah dudaim anakmu itu." Ketika Yakub pada waktu petang datang dari padang, pergilah Lea mendapatkannya, sambil berkata: "Engkau harus singgah kepadaku malam ini, sebab memang engkau telah kusewa dengan buah dudaim anakku." Sebab itu tidurlah Yakub dengan Lea pada malam itu. Lalu Allah mendengarkan permohonan Lea. Lea mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang kelima bagi Yakub. Lalu kata Lea: "Allah telah memberi upahku, karena aku telah memberi budakku perempuan kepada suamiku." Maka ia menamai anak itu Isakhar. Kemudian Lea mengandung pula dan melahirkan anak laki-laki yang keenam bagi Yakub. Berkatalah Lea: "Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku; sekali ini suamiku akan tinggal bersama-sama dengan aku, karena aku telah melahirkan enam orang anak laki-laki baginya." Maka ia menamai anak itu Zebulon. Sesudah itu ia melahirkan seorang anak perempuan dan menamai anak itu Dina. Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya. Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berkatalah ia: "Allah telah menghapuskan aibku." Maka ia menamai anak itu Yusuf, sambil berkata: "Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku." -- Kejadian 29:31-30:24



Sekilas membaca nas ini langsung akal sehat kita dapat menyimpulkan betapa karut-marutnya pernikahan bigami bahkan kuartogami Yakub! Cemburu, perebutan kesempatan berhubungan seks, pembantu diperalat untuk mendapatkan keturunan, barter hubungan seks dengan buah penyubur -- itulah fakta buruk kehidupan pernikahan Yakub. Berlebihankah jika dikatakan bahwa kondisi buruk ini juga semacam hajaran lain dari Tuhan untuk Yakub? Di dalam keluarga disfungsi ini pasti juga terlibat berbagai trik tipu antara Rahel dan Lea yang juga melibatkan Bilha dan Zilpa. Dan kelak terjadi lagi keturunan mereka menipu Yakub tentang Yusuf. Penipu harus menelan pil pahit tipuan orang lain terhadapnya. 
Penting untuk kita meneliti bagaimana sikap dan tindakan TUHAN dalam drama rumah tangga Yakub ini. Perhatikan bagaimana TUHAN lebih dulu memberkati kandungan Lea yang tidak dicintai Yakub karena tidak wajah dan sorot matanya yang tidak berseri. Bahkan dari Lea inilah keluar dua orang yang akan sangat berperan dalam pewujudan janji keselamatan TUHAN yaitu Lewi dan Yehuda. Keimamatan Lewi dan Yehuda yang kelak darinya lahir sang singa Yehuda Juruselamat dunia ternyata adalah benih Yakub dan Lea pihak yang kurang dikasihi, yang menderita. 
Perhatikan juga bahwa TUHAN yang memihak orang yang ditindas juga menghasilkan orang yang sungguh mengakui keutamaan TUHAN dalam kehidupannya. Pengakuan: "TUHAN memerhatikan... TUHAN mendengar... dan aku akan bersyukur kepada TUHAN" ke luar dari mulut Lea. Simak bahwa hanya di perikop menyangkut Lea ini penyebutan TUHAN -- nama perjanjian -- dicatat, sedangkan di nas menyangkut Rahel hanya sebutan umum "Allah" -- pencipta langit dan bumi -- yang dicatat. Yakub boleh memiliki apresiasi rohani menginginkan berkat kesulungan tetapi menilai dan melihat hati Lea ia belum sanggup sebab tersamarkan oleh kecantikan lahiriah Rahel semata. 
Sungguh sarat pelajaran yang dapat kita timba dari nas ini. Kiranya Roh Kudus memberi kita hikmat dan kuat untuk menghindari yang kurang baik dan mengembangkan yang baik-baik dalam kehidupan kita. Amin.

Selasa, 10 Oktober 2017

Hajaran TUHAN

Laban mempunyai dua anak perempuan; yang lebih tua namanya Lea dan yang lebih muda namanya Rahel. Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya. Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu." Sahut Laban: "Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu dari pada kepada orang lain; maka tinggallah padaku." Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban: "Berikanlah kepadaku bakal isteriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia." Lalu Laban mengundang semua orang di tempat itu, dan mengadakan perjamuan. Tetapi pada waktu malam diambilnyalah Lea, anaknya, lalu dibawanya kepada Yakub. Maka Yakubpun menghampiri dia. Lagipula Laban memberikan Zilpa, budaknya perempuan, kepada Lea, anaknya itu, menjadi budaknya. Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: "Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?" Jawab Laban: "Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya. Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lainpun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi." Maka Yakub berbuat demikian; ia menggenapi ketujuh hari perkawinannya dengan Lea, kemudian Laban memberikan kepadanya Rahel, anaknya itu, menjadi isterinya. Lagipula Laban memberikan Bilha, budaknya perempuan, kepada Rahel, anaknya itu, menjadi budaknya. Yakub menghampiri Rahel juga, malah ia lebih cinta kepada Rahel dari pada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi. -- Kejadian 29:16:30

Yakub bukan hanya menjalani hasrat dan pertimbangannya sendiri, ia juga sedang diproses oleh TUHAN. Ia melarikan diri dari Esau tetapi ia justru dikejar-dihadang dan dijumpai TUHAN ketika tiba di Betel. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Yakub khususnya sejak peristiwa perjumpaan di Betel itu tepat dilihat dalam perspektif operasi anugerah mewujudkan rencana TUHAN dalam kehidupan seorang yang di dalamnya bercampur baik dan buruk, rohani dan bumiah, menghargai berkat ilahi tetapi bercampur dengan tipu daya. Kendati penipuan yang ia lakukan tidak ditegur secara terus terang dalam Alkitab, kini kita melihat bahwa anugerah memroses dia. Di satu pihak kekuatan anugerah TUHAN membuat ia secara luar biasa dapat melakukan hal-hal yang berat dan lama dalam catatan yang singkat saja: satu ayat untuk perjalanan jauh dari Bersyeba ke Betel, masing-masing 1 ayat juga untuk dua tahap 7 tahun kerjanya demi mendapatkan Lea dan kemudian Rahel (ay. 20, 28). Ini bukan pencapaian karena kuat cintanya kepada Rahel. Pimpinan, penguatan, berkat dari TUHAN membuat semua perjuangan berat ini tertanggungkan. Di pihak lain anugerah TUHAN tidak membiarkan begitu saja Yakub tumbuh dalam rencana TUHAN sambil bercampur dengan berbagai sifat buruk yang mengakar dalam dirinya. Bukan dengan teguran TUHAN mengubahkan Yakub, tetapi dengan membawa Yakub memasuki pengalaman-pengalaman yang bersifat hajaran dan pembalasan. Ia beroleh berkat dengan menipu, kini ia hidup di bawah perlindungan penipu ulung yang menyebabkan Yakub terlibat dalam kerja bakti karena hasratnya ingin memperistri Rahel. 
Berkat pelajaran yang kita dapat melalui pelajaran Yakub: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Menjauh dari Sasaran?

Kemudian berangkatlah Yakub dari situ dan pergi ke negeri Bani Timur. Ketika ia memandang sekelilingnya, dilihatnya ada sebuah sumur di padang, dan ada tiga kumpulan kambing domba berbaring di dekatnya, sebab dari sumur itulah orang memberi minum kumpulan-kumpulan kambing domba itu. Adapun batu penutup sumur itu besar; dan apabila segala kumpulan kambing domba itu digiring berkumpul ke sana, maka gembala-gembala menggulingkan batu itu dari mulut sumur, lalu kambing domba itu diberi minum; kemudian dikembalikanlah batu itu lagi ke mulut sumur itu. Bertanyalah Yakub kepada mereka: "Saudara-saudara, dari manakah kamu ini?" Jawab mereka: "Kami ini dari Haran." Lagi katanya kepada mereka: "Kenalkah kamu Laban, cucu Nahor?" Jawab mereka: "Kami kenal." Selanjutnya katanya kepada mereka: "Selamatkah ia?" Jawab mereka: "Selamat! Tetapi lihat, itu datang anaknya perempuan, Rahel, dengan kambing dombanya." Lalu kata Yakub: "Hari masih siang, belum waktunya untuk mengumpulkan ternak; berilah minum kambing dombamu itu, kemudian pergilah menggembalakannya lagi." Tetapi jawab mereka: "Kami tidak dapat melakukan itu selama segala kumpulan binatang itu belum berkumpul; barulah batu itu digulingkan dari mulut sumur dan kami memberi minum kambing domba kami." Selagi ia berkata-kata dengan mereka, datanglah Rahel dengan kambing domba ayahnya, sebab dialah yang menggembalakannya. Ketika Yakub melihat Rahel, anak Laban saudara ibunya, serta kambing domba Laban, ia datang mendekat, lalu menggulingkan batu itu dari mulut sumur, dan memberi minum kambing domba itu. Kemudian Yakub mencium Rahel serta menangis dengan suara keras. Lalu Yakub menceritakan kepada Rahel, bahwa ia sanak saudara ayah Rahel, dan anak Ribka. Maka berlarilah Rahel menceritakannya kepada ayahnya. Segera sesudah Laban mendengar kabar tentang Yakub, anak saudaranya itu, berlarilah ia menyongsong dia, lalu mendekap dan mencium dia, kemudian membawanya ke rumahnya. Maka Yakub menceritakan segala hal ihwalnya kepada Laban. Kata Laban kepadanya: "Sesungguhnya engkau sedarah sedaging dengan aku (harfiah: tulangku dan dagingku) ." Maka tinggallah Yakub padanya genap sebulan lamanya. -- Kejadian 29:1-14

Yakub melarikan diri dari Besyeba ke Betel kini tiba di Haran tempat asal kerabat ayah dan kakeknya. Apabila kita melihat ke peta perjalanan para bapak leluhur Israel, kita tahu bahwa letak Ur, tempat asal Abraham adalah sekitar 1000 km sebelah selatan-tenggara Haran, sedangkan Haran terletak sekitar 700 km lebih di utara-timurlaut Bersyeba. Bersyeba-Betel sekitar 90 km jauhnya. Kita tahu bahwa Bersyeba dan Betel sudah sangat dekat dengan tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, yaitu Kanaan. Kini dalam pelariannya dari Esau, akibat caranya merebut hak / berkat kesulungan dengan tipuan, Yakub harus menjauh lagi dari tujuan pencapaian yaitu tanah perjanjian. Jarak sekita 80 km dari Bersyeba ke Betel ditempuhnya dalam sehari. Apabila kita andaikan kecepatan dan daya tahannya berjalan menuju ke Haran menurun, mungkin ia tiba di Haran dalam waktu sekitar dua minggu. Sesudah menempuh perjalanan berat dan melelahkan itu, ia mendapatkan sumur bertutup batu yang hanya dibuka sesudah komunitas penggembala berkumpul semua dan memberi minum semua kawanan ternak mereka secara bergiliran. Begitu Rahel anak Laban tiba, Yakub langsung mencium, menceritakan dirinya sambil menangis.  Mendengar cerita Rahel tentang pertemuannya dengan Yakub, Laban berlari menyongsong dan mengakui Yakub dengan ungkapan yang mengulang ungkapan Adam tentang Hawa: "tulangku dan dagingku," menegaskan keterhisaban dan kemilikan yang sangat kental.

Perjalanan menuju dan memasuki tanah perjanjian dari TUHAN ternyata tidak berlangsung cepat, lurus, mulus tetapi berlika-liku bahkan maju mundur dan maju lagi. TUHAN tidak bekerja dalam cara yang menjadikan manusia robot, melainkan dalam cara yang rumit namun indah dalam interaksi nyata dengan sikap dan tindakan manusia dalam segala kelemahan, kerentanan, dan kegagalannya. Jika kita kini serasa menyimpang atau menjauh dari sasaran ilahi, jangan berhenti dalam kecewa dan putus asa. Terus saja pegang janji-janji dan target ilahi itu menjadi magnet dan pemberdaya langkah kita berikutnya.

Jumat, 06 Oktober 2017

Lalu-Lintas Bumi-Surga Lancar

Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik (harfiah: naik turun) di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya (harfiah: di atasnya, yaitu di ujung atas tangga itu) dan berfirman: "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu." Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya." Ia takut dan berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga." Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."  -- Kejadian 28:10-22

Esau mengandalkan otot, Yakub mengandalkan otak, keduanya berusaha mengendalikan hidup dengan mengandalkan kebolehan diri sendiri. Kini Yakub harus pasrah pada Allah. Ia harus meninggalkan segala jaminan hidup. Berkat Tuhan ada padanya, namun masa kini dan kelak hidup Yakub belum jelas. Ancaman luapan kegeraman Esau di belakang, semua pencapaian orangtuanya harus ia tinggalkan, di depan tidak pasti apakah akan merupakan saat dan tempat yang ceria atau sebaliknya. Ia kini benar-benar harus bergantung pada sang Pemberi berkat, bukan lagi pada master mind lihai dalam keluarganya, bukan juga pada otak kecilnyam sendiri.
Inilah pengalaman anugerah. Dalam kondisi jiwa dan badan penuh tekanan, jalan yang berat, ia menemukan batu untuk menaruh kepalanya. Semua kenyamanan tempat tidur dan rumah yang aman, jauh dari dia. Yakub sedang melarikan diri, tidak pernah ia “mimpi” akan bermimpi tentang pintu surga yang membuka untuknya. Ia bermimpi. Batu penyangga kepala dalam ketidurannya menjadi pintu gerbang surga yang terbuka baginya. Anugerah Allah, para pesuruh-Nya dan Tuhan Allah di ketinggian kemuliaan-Nya menyapa Yakub. Allah kini menyuarakan lagi berkat perjanjian-Nya kepada Yakub secara langsung. Yakub yang merebut berkat kesulungan dengan jalan menipu, kini bukan saja melihat penampakan mulia, tetapi juga mendengar langsung perjanjian Allah kepada Abraham benar-benar ditujukan kepada dirinya, juga janji penyertaan, keamanan dari Allah untuknya.
Anugerah menjumpai, bukan direnggut oleh upaya manusia. Anugerah memroses, memurnikan, untuk akhirnya menghasilkan suatu karya yang cemerlang dalam kehidupan. Mulai dari nubuat, hasrat benar tetapi cara salah tipu daya, namun kini masuk dalam pemrosesan anugerah, Yakub kini menjalani pemurnian dalam kesehariannya. Saat itu ia hanya mampu mengakui Allah dengan syarat (20) tetapi kelak, oleh anugerah ia akan benar-benar menjadikan Allah, Allahnya pribadi. Milikilah kepekaan akan anugerah yang membuka komunikasi dan relasi terbuka surga dan bumi, Allah dan Anda itu dalam keseharian Anda juga! 

Kamis, 05 Oktober 2017

Mantap dalam Berkat

Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: "Janganlah mengambil isteri dari perempuan Kanaan. Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang isteri dari anak-anak Laban, saudara ibumu. Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa. Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham." :Demikianlah Ishak melepas Yakub, lalu berangkatlah Yakub ke Padan-Aram, kepada Laban anak Betuel, orang Aram itu, saudara Ribka ibu Yakub dan Esau. Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil isteri dari situ--pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: "Janganlah ambil isteri dari antara perempuan Kanaan" -- dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram, maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya. Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot. --- Kejadian 28:1-9

Ishak akhirnya menyadari bahwa insiden perebutan berkat oleh Yakub dari Esau melalui penipuan itu memang selayaknya terjadi. Bukan saja hal itu sesuai dengan nubuatan ilahi sewaktu kedua bersaudara itu masih janin dalam kandungan Ribka, juga karena ungkapan keseharian mereka menunjukkan yang mana yang memberi nilai sepadan bagi hal-hal spiritual yang mana yang hanya berorientasi pada hal-hal karnal (kedagingan). Maka Ishak kini mengulang lagi -- meneguhkan berkat Allah Mahakuasa (El Shadai) untuk Abraham untuk diteruskan kepada Yakub. Segala sesuatu yang terkandung dalam berkat Abraham itu -- keturunan, bangsa-bangsa, tanah, dst. -- diwariskannya kepada Yakub. Kini ia menggunakan istilah "kumpulan" (qahal) yang kelak dipakai untuk kumpulan umat Allah dan yang dalam PB merujuk kepada gereja sebagai ekklesia. Maka dapat disimpulkan bahwa berkat Abraham ini merupakan garis pewujudan rencana Tuhan untuk mengumpulkan orang-orang yang diselamatkan menjadi umat milik-Nya sendiri. 
Mendengar perintah Ishak untuk Yakub tidak mengambil istri dari penduduk setempat, Esau menyadari bahwa orangtuanya tidak berkenan pada pernikahan dia dengan istri-istrinya. Sayangnya kembali kita saksikan menumpulnya pertimbangan Esau. Ia lalu menyimpulkan bahwa Ishak lebih menyukai pernikahan dia dengan kaum kerabatnya, maka dinikahinyalah anak Ismael sebagai istri ketiga. Ini berarti ia tidak menangkap makna pesan itu adalah agar garis keturunan Abraham sungguh beranak-cucu di antara kaum yang dipanggil Allah -- padahal Ismael jelas telah ditolak dari berbagian dalam garis berkat Abraham itu. Sekali lagi Esau memperlihatkan kedangkalan pertimbangannya dan ketumpulan spiritualitasnya. 
Sebagai orang yang menyadari ada di dalam Berkat Allah, kita patut memantapkan kelayakan kita dalam wujud pertimbangan dan tindakan keseharian kita. "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung." (2 Petrus 1:10)

Rabu, 04 Oktober 2017

Menuai Hasil Pilihan Buruk

Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu. Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: "Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku." Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: "Siapakah engkau ini?" Sahutnya: "Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau." Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: "Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati." Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Jawab ayahnya: "Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu." Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?" Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: "Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?" Kata Esau kepada ayahnya: "Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Dan dengan suara keras menangislah Esau. Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: "Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: "Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh." Ketika diberitahukan perkataan Esau, anak sulungnya itu kepada Ribka, maka disuruhnyalah memanggil Yakub, anak bungsunya, lalu berkata kepadanya: "Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau. Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran, dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya; kemudian aku akan menyuruh orang menjemput engkau dari situ. Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?" Kemudian Ribka berkata kepada Ishak: "Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?"  -- Kejadian 27:30-46

Perebutan berkat kesulungan antara Yakub dan Esau ini ternyata bukan sekadar kompetisi antara otak dan otot, melainkan melibatkan banyak unsur lainnya yang bersama jalin menjalin menjadi suatu kisah yang rumit. Pertama sejak awal kita memerhatikan perlakuan Ishak dan Ribka terhadap dua putra kembarnya ini kita merasakan ada sesuatu yang salah, yang tidak berfungsi baik dalam pasangan itu. Yaitu, Ishak menganak-emaskan Esau, sedangkan Ribka menganak-emaskan Yakub. Seharusnya favoritisme semacam ini tidak boleh terjadi jika keluarga ingin berfungsi harmonis. Kedua ada kesan janggal tentang begitu mudahnya Ishak ditipu oleh Yakub. Bagaimana mungkin Ishak tidak dapat membedakan suara Yakub dari Esau, bulu domba di lengan dan leher Yakub dari bulu lebat badan Esau, daging binatang peliharaan dari daging binatang buruan, masakan istri dari masakan Esau... jadi cukup kuat alasan menduga bahwa ketika memberkati Yakub dengan hak kesulungan sesungguhnya Ishak sangat beralasan untuk ragu namun tetap memberikan berkat itu karena ada dorongan lain yang tidak dicantumkan secara eksplisit dalam nas ini. Ketiga ketika akhirnya Ishak "sadar" bahwa ia tertipu berkat yang telah ia berikan secara menyeluruh kepada Yakub tidak sedikit pun ia kurangi, sesuaikan atau sedikitnya marah terhadap Yakub. Malah "berkat" yang ia berikan kepada Esau di ayat 39 adalah peny esuaian kutuk dengan menegaskan pemisahan diri Esaudari berkat yang telah diberikan kepada Yakub di ayat 28. Yakub akan diam di tanah-tanah gemuk, Esau akan jauh dari tanah-tanah gemuk. Dan sejarah membukakan bahwa seterusnya sampai ke zaman Saul, Daud, Salomo, Yoram, Amaziah... Edom kendati melawan (hidup dari pedang) senantiasa menggenapi nubuatan di kelahiran Esau dan berkat kutuk Ishak kepada Esau, yaitu harus tinggal di tempat-tempat yang tidak menghasilkan dan tunduk ke bawah pengaruh umat Yakub.
Tentang semua kerumitan ini PB memberikan penegasan tentang pilihan Tuhan dan tentang konsekuensi pilihan karnal dan spiritual. Keduanya harus kita endapkan benar dalam spiritualitas keseharian kita.

Selasa, 03 Oktober 2017

Meraih Berkat dengan Tipu Daya

Ketika Esau telah berumur empat puluh tahun, ia mengambil Yudit, anak Beeri orang Het, dan Basmat, anak Elon orang Het, menjadi isterinya. Kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan bagi Ribka. Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." Sahut Esau: "Ya, bapa." Berkatalah Ishak: "Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati." Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya, berkatalah Ribka kepada Yakub, anaknya: "Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau, kakakmu: Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak, supaya kumakan, dan supaya aku memberkati engkau di hadapan TUHAN, sebelum aku mati. Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu. Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang digemarinya. Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati." Lalu kata Yakub kepada Ribka, ibunya: "Tetapi Esau, kakakku, adalah seorang yang berbulu badannya, sedang aku ini kulitku licin. Mungkin ayahku akan meraba aku; maka nanti ia akan menyangka bahwa aku mau memperolok-olokkan dia; dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku dan bukan berkat." Tetapi ibunya berkata kepadanya: "Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku, pergilah ambil kambing-kambing itu." Lalu ia pergi mengambil kambing-kambing itu dan membawanya kepada ibunya; sesudah itu ibunya mengolah makanan yang enak, seperti yang digemari ayahnya. Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya. Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu. Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya. Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: "Bapa!" Sahut ayahnya: "Ya, anakku; siapakah engkau?" Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: "Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!" Jawabnya: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan." Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau." Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia, tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya!" Lalu berkatalah Ishak: "Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau." Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum. Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: "Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku." Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia." -- Kejadian 26:34-27:29

Kita pasti kagum dengan para rasul bukan? Kita juga pasti kagum tentang para tokoh besar seperti Soekarno, Lincoln, John Sung, Einstein, Pascal, dlsb. Namun kita tahu kita tidak bisa mengidolakan manusia mana pun. Sebab mereka terbatas, dan ketika kita menelaah kehidupan mereka lebih dalam kita akan menemukan banyak cacat dan kegagalan. Tokoh sebaik apa pun pasti ada celanya. Orang seburuk apa pun tetap ada sisi baiknya. Hanya Tuhan yang boleh kita puji dan andalkan tanpa pamrih!
Esau telah menjual hak kesulungannya. Yakub dengan semangkuk sup kacang merah berhasil mendapatkan janji Esau untuk memberi hak itu. Namun sejauh ini kita tidak mendapatkan info lebih jauh bagaimana dampak konkrit peristiwa tersebut. Ketika momen berkat-berkat lazim diucapkan oleh para ayah yang akan meninggal, barulah dampak kejadian itu siap untuk dipanen. Sebenarnya dari Allah sudah keluar nubuat bahwa yang akan menerima berkat bukan Esau melainkan Yakub. Sayang bahwa Ishak tidak sungguh menyadari kesungguhan nubuat tersebut. sampai terjadilah peristiwa tragis ini, yaitu bahwa berkat diperoleh oleh Yakub dengan cara tidak terpuji. Bahkan lebih menyedihkan lagi, keluarga bapa leluhur ini terancam pecah, antara Ishak dengan favoritnya Esau yang keduanya tertipu oleh Ribka dan favoritnya Yakub. Kehendak ilahi telah digenapi, sayang melalui ulah manusia yang tidak elegan. Esau yang sembrono memang harus menuai akibat buruk, namun haruskah berkat itu direbut melalui cara penipuan?
Akhirnya berkat yang Allah berikan kepada Abraham, lalu dari Abraham turun ke Ishak, kini diucapkan ulang oleh Ishak kepada Yakub. Tidak satu pun dari tiga para bapa leluhur itu yang sejatinya layak menerima berkat perjanjian Allah yang dahsyat itu. Masing-masing memiliki banyak kekurangan, kegagalan dan kecacatan. Namun anugerah adalah anugerah, yaitu tindakan pilihan dan kebaikan Allah semata karena kasih-Nya dan itu mewujud pada kecenderungan sifat dan kelakuan pihak penerimanya. Kisah Esau membuat kita belajar agar tidak memusatkan perhatian hanya pada yang sementara. Kisah Yakub membuat kita bersyukur bahwa yang harus dipuji-puja ialah Allah, dan hati-hati tentang sisi gelap kita. Kisah mereka adalah kisah kita juga. Mari izinkan anugerah-Nya memperbarui kita tanpa henti!