Selasa, 10 Januari 2012

Guru Agung


Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Matius 7:28-29


Matius 5-7 lebih merupakan khotbah daripada ceramah: sebab ide-idenya dipaparkan jelas dan disertai penerapan – pasal 7 khususnya adalah suatu penerapan.

            Kita dapat belajar banyak sekali dari Yesus, sang guru agung. Terkadang Ia membuat pernyataan yang tidak mereka lihat maksudnya; pernyataan yang tidak berkait jelas dengan yang sebelum dan sesudahnya; yang ketika didengar pertama terkesan tidak berhubungan atau membingungkan. Ini disebabkan Ia ingin pendengar-Nya berpikir tentang yang Ia katakan, merentangkan pemikiran mereka, berpikir lebih dalam. Ia tahu bahwa usaha mental mereka kelak akan bermanfaat.

            Terkadang ia mengutarakan sesuatu yang mengejutkan atau paradoks; atau Ia bertanya atau bercerita.

            Ia memperlihatkan kesanggupan analitis dalam menyusun argumen atau memberikan landasan berpikir. Ia juga memperlihatkan ketajaman imajinasi. Ia dapat melihat dan mengkomunikasikan gambaran yang datang seolah mengukir dalam pada pendengar-Nya, menyentuh emosi mereka dan melibatkan mereka dalam situasi sebagaimana yang tidak dapat dihasilkan hanya melalui pemikiran analitis. Yesus luar biasa dalam tiga aspek komunikasi yang efektif; Ia seratus persen analitis dalam kebenaran dan seratus persen imajinatif sepanjang waktu.

            Jadi, Ia memiliki banyak sekali cara untuk membuat orang mendengarkan dan berpikir. Kita yang ingin menjadi komunikator yang baik untuk Kekristenan tidak akan menemukan model lebih baik daripada Kristus sendiri.


Bagaimanakah kesanggupan Anda berkomunikasi? Apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi kelemahan itu?

Tuhan, ajarku menjadi komunikator yang baik entah dalam berkhotbah, mengajar, atau hanya mengobrol dengan orang lain.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I Packer

Senin, 09 Januari 2012

Waskita Publishing mulai beroperasi sejak bulan Mei tahun 2010.
Istilah Waskita yang berarti jeli, cerdas, diambil sebagai nama penerbit ini dengan harapan bahwa kami sungguh menghasilkan produk-produk yang mengandung sifat ketajaman kebenaran tentang Kerajaan Allah.
Didirikan dengan visi / misi yang sama dengan motto kami:
Menghasilkan MEDIA SARAT NILAI KERAJAAN.
Waskita Publishing bersifat tidak saja antar / lintas tetapi bermaksud menjadi perjumpaan berbagai denominasi, tradisi di dalam kalangan Kekristenan sehingga Kerajaan Allah boleh termanifestasi ke dalam dan keluar.
Logo Waskita Publishing: tangan-tangan yang mewakili pribadi, persekutuan, lembaga, gereja, denominasi merupakan instrumen Kerajaan Allah untuk menerima dan memancarkan berkat dan nilai Kerajaan ke sekitar.

Dibebaskan dari Dosa tetapi masih Orang Berdosa

Siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Roma 6:7


Sebagian orang salah mengerti tentang ajaran Paulus di paruh pertama Roma 6. Mereka berpikir ia sedang menegaskan bahwa karya pembaruan Allah, termasuk kesatuan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, menghasilkan kesempurnaan tanpa dosa. Tetapi dari dua pasal berikutnya, jelas bahwa bukan ini maksud Paulus. Garis pemikirannya adalah begini: Tidak mungkin orang beriman hidup terus dalam dosa (yaitu di bawah pemerintahan dosa, terus berdosa seperti yang dulu mereka lakukan); dosa yang tadinya berkuasa atas mereka telah berakhir kuasanya. Dulu berada di bawah kuasa dosa adalah wajar bagi mereka – bahkan mereka tidak bisa melakukan hal lain selain dari itu – tetapi kini adalah wajar untuk mereka hidup bagi Allah, berusaha menaati dan menyenangkan Dia. Inilah ungkapan wajar dari sifat mereka yang telah diperbarui.

            Itu berarti bahwa jika seorang Kristen kembali ke kebiasaan dosa lama, ia sedang menyangkali sifat barunya sendiri dan akan membuat dirinya susah dalam dua hal. Pertama, ia akan merasa bersalah sebab ia tahu ia telah tidak menaati Allah. Kedua, ia akan tidak bahagia sebab ia melakukan kekejaman terhadap sifat barunya sendiri. Ia merasa sengsara dan mendirikan rintangan antara dirinya dan Allah.

            Apa yang harus ia lakukan? Pertama sekali, ia harus merendahkan dirinya, sujud di hadapan Tuhan, dan mengakui bahwa ia telah bertindak bodoh. Ia harus bertobat – yaitu bukan sekadar merasa menyesal tetapi “dengan cepat balik arah” ke arah berlawanan. Dan ia harus mencari dan menerima pengampunan (1Yoh. 1:9).


Adakah masalah berkelanjutan dalam hidupku di mana aku harus merendahkan diri ke hadapan Allah, bertobat, dan meminta ampun dalam iman?

Berdoalah untuk diri Anda atau orang lain yang mengalami kesusahan seperti yang dipaparkan di atas.
Dikutip dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I. Packer

Minggu, 08 Januari 2012

Mati dan Hidup Rohani

Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?
Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?
Roma 6:1-2


Bagaimana mungkin pegawai tetap bekerja dalam perusahaan yang telah ditutup? Bagaimana bisa seorang istri terus hidup bersama suami yang sudah meninggal? Sama seperti itu, bagaimana mungkin kita, yang hubungannya dengan dosa telah diputuskan, masih terus hidup dan berbuat seperti sebelumnya? Tidak mungkin. Kita telah mati untuk dosa dan itu membuat mustahil bagi kita untuk lanjut di dalamnya.

            Paulus menggali lebih jauh: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:3-4). Baptisan (melintas di bawah air dan bangkit kembali) melambangkan akhir dari kehidupan lama dan awal dari kehidupan baru. Kita tidak dapat berdosa terus seperti sebelumnya, sebab kita telah dibaptis ke dalam kematian Kristus. “Kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya” (Rm. 6:5) dan bahwa “manusia lama kita telah turut disalibkan” (6:6).  Akibatnya, pribadi saya yang lama, yang dikuasai oleh prinsip dosa, sudah meLupakan masa lalu.

            Keluar dari kematian rohani ini datang kebangkitan; kita dibangkitkan bersama Kristus ke suatu kehidupan baru. Jatidiri pribadi kita berlanjut: Saya masih saya dan Anda masih Anda. Tetapi semburan dasar dari kecenderungan dan sifat kita telah berubah: sikap kita jadi berbeda; telah terjadi perubahan hati yang dibuat oleh Allah, sehingga kini sifat alami kita ialah hidup untuk Allah.

Baca Roma 6:1-14 dan ucapkan dengan kata-kata Anda sendiri jawab Paulus kepada beberapa pertanyaannya.

Tuhan, tolong aku menyerap ajaran ini dalam hidup dan pikiranku agar menjadi pengalamanku selain pengetahuanku.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I Packer

Sabtu, 07 Januari 2012

Kelancangan

Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku!
Mazmur 19:13


“Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit” (Kej. 11:4). Perkataan itu bukan menyingkapkan pencapaian mereka tetapi maksud tersembunyi, yaitu sikap “kami dapat melakukan apa saja” sampai Allah memukul mereka dengan kekacauan linguistik. Orang Yunani menyebut sikap itu hubris, manusia meninggikan dirinya; Agustinus menyebut itu kesombongan (Latin: superbia), yaitu dorongan untuk melebihi apa saja, termasuk Allah sekali pun.

            Sebagai seorang penulis, sebagian tugas saya ialah memeriksa dunia keilmuan, untuk menemukan apa yang berguna untuk diketahui oleh pemikiran awam. Jika saya ambil jalan gampang, melupakan penelitian saya, dan bergantung pada keahlian bahasa untuk menutupi fakta bahwa saya tidak memiliki bahan untuk disampaikan, saya mengkhianati pelayanan saya dan menunjukkan sikap lancang dan sok.

            Mungkin Allah memanggil Anda untuk berkhotbah atau berceramah dan memberikan Anda karunia “ngobrol.” Ingatlah bahwa Anda bisa tergoda untuk lancang dan sombong, mengandalkan kompetensi Anda saja. Sebagian pengkhotbah merasa sekali mereka telah menguasai teknik bicara di hadapan umum, mereka dapat melakukan itu tanpa harus membuat persiapan dan tentu itu mengakibatkan apa yang mereka sampaikan makin hari makin tidak berisi. Barangkali orang lain mengatakan bahwa ia seorang pembicara berkarisma dan spontanitas penyampaiannya menghidupkan suasana sampai ia menyimpulkan tidak perlu lagi melakukan PR mereka. Tetapi apa yang kita sampaikan kepada umat Allah dalam nama Allah, kita sampaikan kepada Allah sendiri. Maka kita perlu dibebaskan dari kelancangan dan ilusi serta memberikan yang terbaik bagi-Nya (Ul. 17:1).


Apakah sikapku selalu berusaha menyiapkan yang terbaik karena melihat apa yang kubuat intinya ditujukan kepada Allah sendiri?

Bapa, sadarkan aku jika aku merasa sangat bijak dan cekatan melakukan apa saja.
Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr James I Packer

Jumat, 06 Januari 2012

Suam

Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
Wahyu 3:15
 

Dari tujuh gereja (1:4-3:22) hanya satu yang Juruselamat senang (gereja di Filadelfia). Gereja di Efesus dikecam karena telah meninggalkan kasih mula-mula, gereja di Sardis karena mati, gereja di Laodikea karena puas dan menipu diri. “engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang… Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (3:17, 19). Sukar untuk meragukan bahwa seperti itu jugalah pikiran Yesus tentang banyak gereja masa kini.

            Teologi alkitabiah tidak mengenal keadaan tengah antara kemajuan rohani di bawah berkat Allah dan kemunduran rohani di bawah ketidaksenangan ilahi, untuk gereja atau orang Kristen. Akar kemunduran rohani selalu adalah berbagai bentuk ketidaksetiaan, dan buahnya selalu adalah hajaran dari Allah yang rencana-Nya yang penuh anugerah dan pemberdayaan adikodrati-Nya telah diringankan dan tidak dihormati.

            Tanda-tanda kemunduran termasuk sangat mentolerir sikap setengah hati, kegagalan moral, dan kompromi; pengharapan rendah akan kekudusan dalam diri sendiri dan orang lain; kesediaan untuk tetap menjadi Kristen kerdil; apatis tentang kemajuan kepentingan Allah dan kemuliaan-Nya; dan kepuasan akan apa adanya sesuatu. Charles Finney pernah berkata, “Orang Kristen yang tidak dibangunkan harus lebih disalahkan ketimbang orang berdosa yang tidak diubahkan.”


Anda setuju dengan Charles Finney?

Tuhan yang baik, luputkan aku dari keras hati dan dari merendahkan firman dan perintah-Mu.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr James I Packer

Kamis, 05 Januari 2012

Berpikir dan Hormat di hadapan Allah

Janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.
Pengkhotbah 5:2

Pengkhotbah memperingatkan kita tentang sikap sembrono tidak hormat yang banyak ia lihat di dunia ini (5:1-7). Melihat ke dunia Allah yang telah jatuh ke dalam dosa ini, dan melihat begitu banyak kesusahan di dalamnya dapat membawa kepada kepahitan dan akibatnya sikap tidak hormat. Jadi, “Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat” (1).

Satu tanda orang bodoh ialah bicara tanpa berpikir dalam atau tidak sungguh memaksudkannya demikian; lalu ia lupa apa yang telah ia janjikan dan melanggar perkataannya sendiri. “Tepatilah nazarmu” (4) adalah aturan yang berlaku dalam bisnis dan dalam relasi kita dengan Allah. Dalam bisnis, orang mengecewakan sahabatnya, atasannya, dan rekan bisnisnya serta karenanya mungkin kehilangan promosinya jika mereka tidak melakukan apa yang mereka janjikan. Allah akan dikecewakan juga, jika kita “bernazar” kepada-Nya lalu mengatakan bahwa itu keliru. “Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya” (5).

Pengkhotbah melanjutkan: “Sebagaimana mimpi banyak, demikian juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah” (7). Kata takut menunjuk kepada sejenis hormat yang membuat Anda berhati-hati dengan perkataan Anda, karena tahu bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang Anda ucapkan.

Alangkah beda hidup doa kita jika kita sungguh berpikir apa yang akan kita katakan kepada Allah!

Apakah Anda tipe penyimpan atau pencurah kata-kata di hadapan Allah dan sesama?

Bapa, Anak, Roh Kudus, tolong aku untuk tidak menjadikan kebebasan dan spontanitas menjadi tergelincir ke sikap tidak hormat dan dangkal, atau menjadikan pola dan keteraturan menjadi kaku dan berkarat sehingga alur berubah menjadi kubur.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr James I Packer

Rabu, 04 Januari 2012

Ilusi

Kebenaran akan memerdekakan kamu.
Yohanes 8:32


Orang Kristen perlu dibebaskan dari ilusi berikut. Pertama, kita tidak boleh berharap untuk selalu melihat apa yang Allah akan lakukan. Yang benar ialah kebanyakan kita harus hidup dengan kebingungan dan berkata, “Allah melakukan (atau mengizinkan) hal yang tak kumengerti ini; Ia telah menetapkan ini dan menolak itu, dan memiliki maksud baik dengannya; jika saya setia kepada-Nya pada saat-saat kebingungan ini dan terluka karenanya, maka saya boleh berharap melihat maknanya, secara manusiawi juga ilahi – kemudian hari.” Tugas kita adalah untuk setia.

            Kedua, kita tidak boleh berharap akan selalu mengetahui sumber terbaik yang tersedia. Memang kita mencarinya, tetapi sewaktu-waktu kita akan keliru, dan dari kekeliruan itu akan keluar hikmat yang tanpa kekeliruan itu tak akan mungkin kita dapatkan. Orang yang tak pernah berbuat kesalahan tak pernah mencapai apa-apa. Allah mengajar kita dengan membiarkan kita membuat kesalahan dan kemudian menolong kita memperbaikinya dan menyesuaikan diri.

            Ilusi ketiga ialah anggapan bahwa kita akan selalu dilindungi dari “lemparan batu dan anak panah” yang datang dari masa depan tak menentu. Kita akan mengalami hal yang terkesan tidak adil yang memaksa kita berseru kepada Allah dari kedalaman hati kita, seperti yang dibuat para pemazmur. Melalui pengalaman seperti itu pengetahuan terdalam dari Allah akan datang sehingga Allah dapat menyiapkan kita untuk kegunaan terbesar.

            Kita tidak selalu mengetahui apa yang Allah lakukan; kita tidak selalu tahu hal terbaik apa harus kita jalani; kita tidak selalu akan dilindungi dari masalah. Ini adalah kebenaran menakjubkan yang tidak selalu menyenangkan, tetapi dengannya kita dimaksudkan untuk dibebaskan, agar menerima diri apa adanya, memercayai Allah dengan penuh sukacita meski hidup terkadang membingungkan, ada kekeliruan, dan masalah.

Apakah aku juga memegang ilusi seperti itu?

Tuhan, rasanya sukar bercerai dari ilusi kami; awalnya akan membuat kami merasa tidak aman. Tolong kami melalui “goncangan” ini agar kami berpijak di dasar lebih kokoh seterusnya.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I Packer

Selasa, 03 Januari 2012

Materialisme

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi.
Matius 6:19
 
Yesus mengkonfrontasi para murid-Nya dengan pilihan antara menyimpan harta di bumi dan menyimpan harta di surga (Mat. 6:19-24). Keinginan mengumpulkan harta adalah manusiawi dan alami, karena itu Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Kumpulkanlah bagimu harta di surga,” bukan di bumi. Mengapa jangan mengumpulkan harta di bumi?

            Pertama, mengumpulkan harta di bumi adalah kebodohan sebab dalam jangka panjang harta itu akan merosot nilainya. Anda tak dapat menyimpannya (ngengat dan karat merusaknya), juga tak dapat membawanya (ingat orang kaya yang bodoh, Luk. 12:16-21). Harta di bumi tak dapat memuaskan atau menyukakan kita. Bila seseorang bertanya ke seorang yang luar biasa kaya apakah hartanya membawa kesukaan, ia pasti menjawab, “Tidak, sama sekali tidak.”

            Kedua, menyimpan harta di bumi berbahaya sebab harta menghancurkan kepekaan rohani. Jika mata Anda dipenuhi dengan terang dan bekerja baik, tubuh Anda dapat bergerak dengan mudah dan aman. Jika Anda tidak dapat melihat dengan baik, tubuh Anda akan kurang leluasa dan nyaman. Serupa dengan itu, jika hati Anda dikuasai oleh apa yang dunia dan hidup ini tawarkan, Anda tidak akan dapat melihat isu-isu rohani dengan jelas, dan ketika Anda membaca Alkitab makna penuhnya akan luput dari Anda.

            Ketiga, mengumpulkan harta di bumi berarti mengundang bencana sebab tak seorang pun dapat melayani dua tuan. Bahkan agen rahasia ganda pun intinya bekerja untuk satu negara atau organisasi dengan cara yang tidak ia berikan untuk pihak lain. Kita tidak dapat melayani Allah dan harta. Dan jika sampai Allah mengatakan bahwa orang tidak melayani Dia, itu sungguh suatu bencana.


Mengapa keserakahan adalah penyembahan berhala (Kol. 3:5)?

Bukalah hati Anda kepada Allah dan silakan Ia menilai bagaimana Anda telah memperlakukan harta dan semua yang Anda miliki dalam hadirat-Nya?
Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I Packer

Minggu, 01 Januari 2012

Tubuh Baru

Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan… Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah.
1 Korintus 15:42, 44


Dalam kebangkitan tubuh, Allah menyempurnakan penebusan mereka bukan dengan memperbaiki tubuh lama secara tambal sulam tetapi dengan tubuh baru untuk manusia baru. Melalui kelahiran baru dan pengudusan Allah telah memperbarui mereka secara batin; kini mereka menerima tubuh yang sesuai. Tubuh baru berkaitan dengan yang lama, tetapi berbeda darinya, sama seperti tumbuhan berkaitan namun berbeda dari benih asalnya (1Kor. 15:35-44). Tubuh saya kini – “si bodoh” menurut cara Francis Assisi menyebutnya – adalah seperti kendaraan tua; yang terpaksa harus saya rawat dan pakai, seringkali tidak terlalu memuaskan bahkan sering membuat saya menjadi frustrasi. Tetapi tubuh baru saya kelak akan seperti sebuah Rolls Royce, dan kelak pelayanan saya tidak akan lagi terganggu.

            Pasti, seperti halnya saya, Anda pun mengasihi tubuh Anda sebab ia adalah bagian diri Anda dan Anda menjadi kesal ketika ia membatasi Anda. Tetapi baik kita ketahui bahwa maksud Allah memberikan kita kini kerangka jasmani kelas-dua adalah untuk menyiapkan kita bagi tubuh yang lebih baik kelak. C. S. Lewis berkata, Anda seumpama diberikan kuda lemah untuk belajar menunggang kuda dan hanya sesudah Anda siap baru Anda diizinkan menunggang kuda yang gesit. Ketika saya mengingat tentang orang Kristen yang secara jasmani lemah, saya dapat menangis dengan sukacita karena memikirkan tentang tubuh kebangkitan yang Allah sediakan bagi mereka – dan bagi semua orang Kristen – pada hari kebangkitan.


Apa yang Anda ketahui tentang tubuh kita kini?

Berdoalah untuk mereka yang terus menerus bergumul dengan tubuh mereka yang membatasi mereka dari keinginan melakukan sesuatu untuk Allah. Mungkin Allah akan memberi Anda iman untuk mendoakan agar mereka mencicipi tubuh kebangkitan mereka kelak, di sini dan kini?

Dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I Packer

Kebebasan di bawah Yesus

Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan.
Lukas 4:18
 

Dengan mengabaikan gairah para pejuang yang ingin bebas dari Roma, Kristus menyatakan bahwa Ia datang untuk membebaskan para budak dosa dan Iblis, untuk menggulingkan “si kuat” penguasa dunia ini, dan membebaskan para tawanannya. Pengusiran setan dan penyembuhan adalah bagian dari karya perebutan kuasa ini.

            Paulus memperluas pemikiran bahwa Kristus membebaskan para orang percaya di sini dan kini dari pengaruh-pengaruh merusak yang tadinya membelenggu mereka: dari dosa; dari kuasa kegelapan; dari takhayul poli-teis; dari Hukum Taurat sebagai sistem keselamatan; dan dari beban upacara Yudaisme. Kepada semua tadi, kebebasan dari kerusakan jasmani dan kematian akan ditambahkan pada waktunya.

            Kebebasan yang komprehensif ini adalah pemberian Kristus, yang dengan kreatif diberikan kepada orang percaya melalui Roh yang mendiami mereka. Itu adalah kebebasan kerajaan yang diterima oleh para anak angkat Allah. 

            Penerimaan karunia kebebasan dari Kristus adalah penerimaan secara bebas bahwa orang Kristen adalah pelayan Allah, Kristus, kebenaran, dan semua manusia demi injil dan sang Juruselamat. Hukum kebebasan adalah hukum kasih. Kebebasan Kristen justru adalah kebebasan untuk mengasihi dan melayani, karenanya jika dijadikan alasan untuk kesempatan tidak mengasihi atau tidak peduli, kebebasan telah disalahgunakan.


Apakah aku / gerejaku membawa dampak pembebasan bagi mereka yang ada dalam belenggu tertentu?

Tuhan, tunjukkanku aku perlu memberitakan pembebasan dalam Nama-Mu kepada seseorang.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Sabtu, 31 Desember 2011

Pahala

Datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."
Kejadian 15:1


Apakah janji pahala dari Allah suatu motivasi, suatu dorongan untuk membuat pilihan benar? Terus terang, tidak. Pahala Kristen bukan sesuatu yang didapat secara langsung; ia bukan bayaran setimpal dari pelayanan yang diberi; ia adalah pemberian Bapa dari kemurahan anugerah-Nya kepada anak-anak-Nya, jauh melampaui apa yang mereka layak terima (Mat. 20:1-16).

            Juga janji pahala bukan sesuatu yang ditambahkan kepada tindakan yang diberikan pahala itu, melainkan tindakan itu sendiri – persekutuan dengan Allah dalam penyembahan dan pelayanan – dalam puncak kepenuhannya adalah pahala.  Janji pahala dari Allah boleh menjadi penguatan besar tetapi motifnya haruslah kasih kepada Allah dan sesama.

            C. S. Lewis membandingkan posisi kita sementara kita bergerak maju dalam kehidupan Kristen seperti murid yang belajar bahasa Yunani. Kenikmatan membaca Aeschylus dan Sophocles yang kelak diterima sebagai puncak dari semua jerih payah mempelajari tata bahasa, demikian juga kenikmatan akan Allah sebagai hasil dari kemuridan yang dihidupi kini. Tetapi pada awalnya murid itu sama sekali tidak dapat membayangkan kenikmatan itu. Sambil kemampuan Yunaninya membaik, tumbuh juga kenikmatan membaca sastra Yunani, dan ia mulai sanggup menginginkan pahala yang menantikannya. Kapasitas untuk menginginkan itu sendiri adalah pahala dalam bentuk awal. Kenikmatannya belajar Yunani kini mendorongnya bekerja makin keras dan makin asyik dengan bahasa itu.


Jika ada kewajiban lain daripada kasih dalam sikapku kepada Allah, aku mungkin belum menangkap kasih-Nya yang menakjubkan dan berkorban untukku.

Tuhan, sementara aku membaca, merenung, dan berdoa, tolongku menyelami makna kasih-Mu yang agung untukku.
Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Jumat, 30 Desember 2011

Keselamatan

Rock of Salvation by Thomas Kinkade
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
2 Korintus 5:21


Jika kita Kristen, kita telah diselamatkan sebab karunia pembenaran Allah telah menyelamatkan kita dari hukuman dosa; kita sedang diselamatkan sebab tiap hari kita dipelihara dari kuasa dosa; dan kita akan sepenuhnya selamat ketika kita bebas dari kehadiran dosa dan dari semua jejak dosa pada kedatangan Kristus. Inilah tiga aspek keselamatan, yang dialami melalui tiga cara berikut.

            Pertama, kurban kematian Kristus yang melaluinya Allah membuat penyediaan keselamatan. Ia menjadikan diri-Nya tebusan bagi banyak orang, mencurahkan darah-Nya seperti domba tak bercela (Mt. 20:28; 1Ptr. 1:9; Ibr. 9:22).

            Kedua, iman, lepas dari perbuatan, adalah cara kita menerima keselamatan. Iman adalah langkah jiwa dalam percaya dan komitmen kepada obyek dengan tiga aspek: Allah dari Alkitab; Kristus dari Allah, yang juga adalah Kristus dari Alkitab; dan ajaran serta janji dari Allah, yang adalah ajaran dan janji dalam Alkitab. Iman menerima kebenaran Alkitab dan memercayai pribadi – atau tepatnya ketiga pribadi Allah. Pertobatan yang berarti memalingkan akal budi seseorang, adalah sisi negatif dari iman. Pertobatan berkata “Tidak” kepada jalan-jalan  fasik agar seterusnya berkata “Ya” kepada Kristus.

            Ketiga, kelahiran baru oleh Roh adalah cara Allah memberikan keselamatan. Seperti Yesus berkata kepada Nikodemus, orang tidak dapat melihat atau masuk ke dalam kerajaan Allah (kenyataan keselamatan) tanpa dilahirkan kembali (Yoh. 3:3-5). Artinya manusia dalam dosa tidak memiliki kuasa untuk berpaling kepada Allah dan beriman kecuali Roh Kudus bekerja dalam hati (Yoh. 6:44; Rm. 8:7-8; 1Kor. 2:14).

Lihat lagi ayat-ayat di atas dan ucapkan syukur kepada Allah untuk apa yang telah Ia lakukan bagi Anda.

Berdoalah agar Ia akan melakukan yang sama kepada orang yang Anda kenal.
Dikutip dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Kamis, 29 Desember 2011

Anugerah


Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.
Efesus 2:8


Anugerah dalam Perjanjian Baru, adalah tindakan kasih Allah kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerima kasih. Allah mengerakkan surga dan bumi untuk menyelamatkan orang berdosa yang tak dapat menggerakkan jari-jarinya untuk menyelamatkan diri sendiri. Allah mengirim Anak-Nya untuk turun ke dalam kerajaan maut di salib-Nya supaya kita yang bersalah boleh didamaikan dengan Allah dan diterima dalam surga.

            Anugerah mencakup baik kehendak maupun perbuatan. Yang pertama adalah rencana kekal Allah untuk menyelamatkan; yang kedua adalah pekerjaan baik Allah dalam Anda (Fil. 1:6) yang memanggil masuk ke dalam persekutuan yang hidup dengan Kristus, membangkitkan dari kematian ke dalam hidup, memeteraikan sebagai milik-Nya oleh karunia Roh-Nya, mengubah menjadi gambar Kristus, dan kelak akan membangkitkan tubuh mereka ke dalam kemuliaan.

            Para teolog Protestan biasa mengatakan bahwa anugerah adalah sikap kasih Allah yang dibedakan dari karya kasih-Nya, tetapi pembedaan ini tidak alkitabiah. Sebagai contoh Paulus menulis: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1Kor. 15:10) jelas menekankan karya kasih Allah dalam Paulus, yang melaluinya Ia menjadikan Paulus pertama menjadi orang Kristen lalu menjadi pelayan-Nya.

            Apakah tujuan anugerah? Untuk memulihkan relasi kita dengan Allah dan memimpin kita ke latihan mengasihi, memercayai, bersukacita, berharap, dan menaati Allah.

Apa sajakah “karya baik Allah” dalam Anda? Apakah dasar Alkitab untuk penjelasan itu?

Pujilah Allah atas semua aspek anugerah-Nya terhadap Anda.
Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr. James I. Packer

Rabu, 28 Desember 2011

Karunia-karunia

Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan… Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun.
1 Korintus 1:5, 7


Kita benar ketika mengatakan bahwa karunia-karunia rohani datang dari Roh (1Kor. 12:4-31). Namun kita selalu cenderung menganggapnya sebagai bakat (kesanggupan alami) atau suatu kesanggupan baru bersifat adikodrati (berbicara dalam lidah, menyembuhkan, menerima pesan langsung dari Allah untuk orang lain, atau lainnya). Kita belum terbiasa mendefinisikan karunia-karunia dalam rangka Kristus, sang kepala tubuh, dan karya-Nya kini dari surga. Dalam hal ini kita tidak alkitabiah.

            Paulus menjelaskan bahwa karunia rohani diberikan dalam Kristus, adalah pengayaan dari Kristus. 1 Korintus 12 mengandaikan perspektif yang berporoskan Kristus yang dijelaskan dalam 1 Korintus 1:4-7. Penting sekali kita melihat kebenaran ini, atau kita akan mengacaukan antara talenta alami dengan karunia rohani.

            Dalam Perjanjian Baru baik Paulus maupun rasul lain tidak memberikan definisi tentang karunia rohani. Penegasan Paulus bahwa penggunaan karunia membangun (1Kor. 14.3-5, 12, 17, 26; Efs. 4:12) memperlihatkan apa sesungguhnya suatu karunia rohani. Untuk Paulus, hanya melalui Kristus, di dalam Kristus, dan dengan belajar tentang serta merespon kepada Kristus, orang dapat dibangunkan. Maka karunia-karunia rohani harus didefinisikan dalam rangka Kristus sebagai kuasa yang dinyatakan untuk mengungkapkan, merayakan, menyingkapkan, dan mengkomunikasikan Kristus dengan berbagai cara, entah melalui perkataan atau perbuatan.


Apakah aku/gerejaku perlu diingatkan tentang kebenaran ini?

Tuhan Yesus, tolongku / kami untuk memahami karunia-karunia rohani yang telah Kau berikan untuk memperlihatkan sesuatu tentang diri-Mu.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Selasa, 27 Desember 2011

Kebutuhan

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
Filipi 4:19


Bagaimanakah Allah akan menyediakan semua kebutuhan orang Kristen Filipi? Sebagiannya, paling tidak, oleh karya Kristus melalui Roh yang mengaktualkan karunia kemurahan seperti orang Samaria yang baik di antara orang Filipi sendiri. Ketika orang Kristen berbicara satu kepada lain dalam Nama Kristus dan mempraktikkan kepedulian Kristen, secara pribadi Kristus memberkati melalui mereka (2Tes. 3:6; Mrk. 9:41). Seperti ucapan Kristus bahwa “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40), demikian juga dalam kategori itu kita bisa berkata bahwa ketika orang Kristen lain membagikan pengertian, penguatan, dan kelegaan dalam bentuk apa pun kepada kita, Kristus sendirilah yang melayani, memberikan kita berbagai manfaat tadi melalui mereka (2Kor. 13:3; Rm. 15:18).

            Dari surga Kristus memakai orang-orang Kristen menjadi mulut, tangan, kaki, bahkan senyum-Nya; melalui kita, umat-Nyalah, Ia berbicara dan bertindak, menjumpai, mengasihi, dan menyelamatkan di sini dan kini dalam dunia ini. Ini merupakan sebagian arti dari gambaran Paulus tentang gereja sebagai tubuh Kristus di mana semua orang Kristen adalah anggotanya – anggota tubuh atau organ yang bertindak menurut gerakan Kristus sang kepala tubuh.

Ucapan ini kiranya meluputkan kita dari kemalasan atau kekalutan: “Allah tidak memiliki tangan kecuali tangan kita” dan “…ribuan orang menuruti perintah-Nya melintas daratan dan lautan tanpa istirahat” (Milton).

Tuhan, aku serahkan diriku dan potensiku ke dalam tangan-Mu hari ini dengan segala kesempatan di dalamnya.

Dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Minggu, 25 Desember 2011

Berakar dalam Yesus

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
Kolose 2:6
 

Apa maksud Paulus dengan kecukupan Kristus dalam Kolose 2:6-19? Ayat kuncinya adalah 6-8, yang juga menyimpulkan pesan Kolose. Biarlah Yesus Kristus menjadi segalanya bagi Anda. Tinggallah dalam Dia, akui Ia sebagai dasar untuk keberakaran hidup Anda dan jadikan Ia yang membangun Anda dalam gereja. Ialah yang secara tetap membuat Anda berterima kasih kepada Allah karena kekayaan yang Ia berikan.

            Arahan Paulus berasal dari doktrin tentang siapa Kristus dan apa karya-Nya, serta keutamaan-Nya. Dalam Kristus Allah memperbarui hati kita (sunat hati dan dikubur dalam baptisan). Sesudah menemukan kita dalam kematian, Ia memberikan hidup dalam Kristus melalui iman (bangkit dalam baptisan dan diampuni). Melalui salib Ia membatalkan hukuman kematian kita yang merupakan tuntutan dari Hukum yang dilanggar dan melucuti semua kuat-kuasa kejahatan kosmis. Bagi mereka yang memiliki mata untuk melihat, salib Kristus (yang terlihat seperti kekalahan memalukan) sebenarnya adalah langkah kemenangan-Nya di mana Ia menawan para musuh-Nya, seperti ketika jenderal Roma menang perang.

            Inti yang Paulus katakan ialah tak seorang pun memerlukan lebih dari yang Kristus berikan. Orang Kristen yang berpaling ke ritualisme Yudais, penyembahan malaikat, dan dunia penuh penglihatan, bukan untung tetapi rugi. Hanya Kristus yang membuat gereja yaitu tubuh-Nya hidup dan tumbuh secara rohani. Kristen harus memegang erat kepada Kepala dan tidak mencari pengayaan rohani dari sumber lain. Selain tidak ada pada sumber lain, bertindak demikian akan membuat orang kehilangan kontak dengan Kristus. Teguran Paulus ini relevan kini atas daya tarik berbagai macam kepercayaan new-age movement, takhayul timur, dan sebagainya.

Setujukah Anda bahwa tak seorang pun butuh lebih dari yang Kristus berikan?

Tuhan, jangan biarkan kami mencoba menambahkan kecukupan-Mu.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Sabtu, 24 Desember 2011

Lawatan yang Menentukan


Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita… penuh kasih karunia dan kebenaran.
Yohanes 1:14


Pengakuan Kristen yang mengejutkan ialah bahwa Yesus dari Nazaret adalah Allah menjadi manusia; Ia adalah pribadi kedua dalam Allah yang menjadi “manusia (Adam) kedua” (1Kor. 15:47), wakil kedua dari seluruh umat manusia, yang menentukan destini manusia; dan ia mengambil kemanusiaan tanpa kehilangan keallahan-Nya, sehingga Yesus dari Nazaret adalah sejatinya dan sepenuhnya Allah dan manusia.

            Dalam iman Kristen terdapat beberapa misteri ini – pluralitas pribadi dalam keesaan Allah, dan keesaan Allah dan kemanusiaan dalam pribadi Yesus. Di sinilah, dalam peristiwa yang terjadi pada kelahiran Yesus, terletak kedalaman tak terselami dari keajaiban penyataan dalam iman Kristen. Allah menjadi manusia, Anak Allah menjadi seorang Yahudi; Yang Mahakuasa tampil di bumi sebagai bayi manusia tak berdaya, tak sanggup berbuat apa pun kecuali berbaring, menatap, menggeliat, bersuara, menanti diberi makan, dipopoki dan diajar seperti semua bayi manusia lainnya. Dalam semua itu tidak ada ilusi atau penipuan: Anak Allah menjadi seorang bayi adalah suatu realitas. Semakin Anda merenungkannya, semakin Anda terkejut dibuatnya. Dalam fiksi tak pernah ada hal sefantastis kebenaran tentang inkarnasi ini.

            Ini menjadi batu sandungan dalam Kekristenan. Di sini orang Yahudi, Muslim, Unitarian, Saksi Yehuwa dan lainnya mendapat kesulitan. Dari ketidakberimanan atau kepercayaan yang tidak memadai tentang inkarnasi muncul kesulitan di pokok-pokok lain (seperti kelahiran dari perawan, mukjizat, penyelamatan, dan kebangkitan). Tetapi sekali inkarnasi diterima sebagai realitas, semua kesulitan tadi lenyap.


Sediakah aku menempatkan diri ke dalam posisi rentan karena kasih kepada Allah/sesama?

Tuhan, aku takjub atas kesediaan-Mu menjadi bayi yang rentan, tak berdaya, bergantung demi kepentingan kami.
Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr James I Packer

Jumat, 23 Desember 2011

Allah yang Ajaib


Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: "Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?"
Hakim-hakim 13:18


Jawab malaikat Tuhan tentang nama-Nya, dari satu sisi agak samar; dari sisi lain itu undangan untuk merenung, berpikir, dan menyembah. Manoah benar ketika berkata bahwa mereka telah melihat Allah (13;23), Allah sendiri bertindak seolah malaikat utusan-Nya.

            Ketika kita berpikir tentang Allah sebagai Allah yang melakukan hal-hal ajaib, kita ingat bagaimana Ia mencipta dunia dengan memanggilnya dari ketiadaan, dan Yesus mengubah air menjadi air anggur, memberi makan empat ribu dan lima ribu orang, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati. Pastilah, Allah adalah Allah atas mukjizat. Dalam Alkitab mukjizat-mukjizat mengitari saat-saat agung penyataan untuk menarik perhatian manusia tentang apa yang sedang terjadi.

            Dalam kisah Manoah, istrinya, dan malaikat Tuhan (Hkm. 13), keajaiban kasih Allah tampil dalam banyak cara. Israel telah berdosa, Allah dalam penghukuman-Nya membuang mereka ke dalam tawanan, dan kini Allah mengambil inisiatif dan mulai bertindak untuk keselamatan dan pemulihan mereka.

            Bagaimana Ia melakukan itu? Ia datang ke seorang perempuan mandul dan memberitahu bahwa ia akan mendapat seorang anak yang khusus yang akan membebaskan umat-Nya. Dan kemudian itu terjadi! Bayang-bayang Yesuskah? Ya – secara harfiah! Di sini kita tidak saja memiliki suatu keajaiban kuasa Allah, tetapi juga kemurahan, kesetiaan, dan kasih-Nya.

Penguatan: Semua hal yang telah Allah janjikan kepada Anda, akan ia lakukan.

Tuhan, aku percaya janji-Mu… dan menaruh percaya dalam kuasa, kasih, dan kesetiaan-Mu.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Rabu, 21 Desember 2011

Allah yang Berotoritas

Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
Hakim-hakim 13:3-4


Malaikat Tuhan memberitahu istri Manoah bahwa ia akan mendapat seorang putra yang akan hidup sebagai seorang nazir. Ia akan dibaktikan khusus untuk Allah dan menjalani berbagai aturan yang menjadi tanda fakta itu: menjauhi minuman keras dan tidak boleh cukur. Selain itu, istri Manoah pun harus menjauhi minuman keras dan makanan yang tidak halal. Hanya sekali itu dalam Alkitab seorang calon ibu diberi petunjuk sejelas itu. Istri Manoah bisa saja bertanya mengapa ia diberi larangan itu. Jika ia lakukan itu, jawabnya adalah, “Karena Aku berkata demikian.”

            Allah membuat aturan. Ia tidak harus menjelaskan alasannya. Tugas kita adalah menaati. Allah tidak memberitahu istri Manoah mengapa Ia memberi petunjuk tertentu seperti juga Ia tidak menjelaskan kepada Gideon mengapa ia harus mengurangi pasukannya sampai hanya sekelompok kecil. Kita bisa menduga-duga, tetapi akhirnya kita hanya berpegang pada prinsip bahwa Allah anugerah berhak membuat aturan.

            Andai kita berkata, “Tetapi Allah, masakan Engkau ingin aku melakukan itu – tidak beralasan,” kita mungkin tidak akan menerima jawaban kecuali gema perkataan Allah dalam hati nurani kita. Seringkali kesombongan membuat kita menanyakan alasan dan membuat kita enggan. Adam dan Hawa mempertanyakan alasan perintah Allah dan akhirnya tidak taat. Iblis yang mencobai mereka, akan mencobai kita juga dengan cara yang sama. Istri Manoah tidak menanyakan penjelasan, ia taat saja, dan ia menerima berkat yang telah Allah rencanakan bagi mereka.


Andai aku yang diminta Maria (Yoh. 2:5), apa reaksiku?

Tuhan, tolongku memercayai kasih-Mu bahkan ketika Engkau tidak memberiku alasan apa pun.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu karangan Dr. James I Packer