Selasa, 07 November 2017

Sabar Menantikan Allah

Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil. Tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu. Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu. Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun. Setelah itu tertidur pulalah ia dan bermimpi kedua kalinya: Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi. Lalu terjagalah Firaun. Agaknya ia bermimpi! Pada waktu pagi gelisahlah hatinya, lalu disuruhnyalah memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir. Firaun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya. Lalu berkatalah kepala juru minuman kepada Firaun: "Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu. Waktu itu tuanku Firaun murka kepada pegawai-pegawainya, dan menahan aku dalam rumah pengawal istana, beserta dengan kepala juru roti. Pada satu malam juga kami bermimpi, aku dan kepala juru roti itu; masing-masing mempunyai mimpi dengan artinya sendiri. Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani, hamba kepala pengawal istana itu; kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing. Dan seperti yang diartikannya itu kepada kami, demikianlah pula terjadi: aku dikembalikan ke dalam pangkatku, dan kepala juru roti itu digantung." Kemudian Firaun menyuruh memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari tutupan; ia bercukur dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Firaun. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya." Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Dalam mimpiku itu, aku berdiri di tepi sungai Nil; lalu tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang gemuk badannya dan indah bentuknya, dan makan rumput yang di tepi sungai itu. Tetapi kemudian tampaklah juga keluar tujuh ekor lembu yang lain, kulit pemalut tulang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya; tidak pernah kulihat yang seburuk itu di seluruh tanah Mesir. Lembu yang kurus dan buruk itu memakan ketujuh ekor lembu gemuk yang mula-mula. Lembu-lembu ini masuk ke dalam perutnya, tetapi walaupun telah masuk ke dalam perutnya, tidaklah kelihatan sedikitpun tandanya: bangunnya tetap sama buruknya seperti semula. Lalu terjagalah aku. Selanjutnya dalam mimpiku itu kulihat timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang berisi dan baik. Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir yang kering, kurus dan layu oleh angin timur. Bulir yang kurus itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi. Telah kuceritakan hal ini kepada semua ahli, tetapi seorangpun tidak ada yang dapat menerangkannya kepadaku." Lalu kata Yusuf kepada Firaun: "Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama. Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan. Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya. Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini. Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu. Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya. Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu." -- Kejadian 41:1-36

Zaman modern dengan kemajuan iptek menyebabkan kesabaran sebagai kebajikan utama diabaikan bahkan direndahkan. Iptek mempercepat dan mempersingkat proses. Maka kita menjadi orang-orang yang tidak sabar, tidak tekun, tidak tahan menanti. Padahal tanpa kesabaran, ketekunan, ketahanan, tidak mungkin orang menempuh pengalaman, satu-satunya cara untuk mematangkan kepribadian!
Yusuf masih harus menunggu lagi dua tahun sebelum kesempatan untuknya melangkah ke panggung kepemimpinan dunia terbuka. Apa yang menyebabkan ia sanggup menanti? Kita tidak sanggup menanti karena kita ingin beralih dari pemeran sejarah menjadi pengendali segala sesuatu. Tetapi Yusuf tidak demikian. Ia tahu bahwa tugas dan kewajibannya hanyalah menjalankan kehendak Allah. Allah yang mengendalikan sejarah dan mengatur kehidupannya. Maka dengan sabar dan taat ia menanti sampai Allah bekerja memfokuskan providensia-Nya ke penggenapan berikut dalam hidup Yusuf. Menanti menunjukkan sikap iman dan hormat kepada Allah. 
Allah membuat Firaun bermimpi sampai dua kali. Dan Allah juga yang membuat dampak mimpi itu sedemikian serius, sampai Firaun gelisah dan mencari artinya (8). Allah juga yang membuat juru minuman teringat dan mengakui kelalaian untuk menceritakan tentang Yusuf kepada Firaun. Menyadari bahwa Allah sedang beroperasi, Yusuf menampik pujian bahwa ia memiliki kesanggupan mengartikan mimpi. Yusuf memberikan segala pujian ke sumbernya yang layak: Allah! Mimpi Firaun sampai dua kali berisikan simbol yang menyangkut peristiwa yang akan melanda dunia. Kemakmuran sedemikian melimpah sampai tujuh tahun (tujuh adalah lambang kesempurnaan), disusul oleh malapetaka kekeringan dan kemiskinan alam sampai menelan sempurna semua kemakmuran yang telah dialami sebelumnya. Tidak hanya memberikan arti mimpi, Yusuf juga memberikan nasihat penataan ekonomi yang menunjang logistik kerajaan Mesir untuk menyikapi peristiwa alami global tersebut.
Menanti bukan masa yang sia-sia membuang waktu. Apabila kita menanti-nantikan Tuhan dalam masa menanti kita, kita sesungguhnya sedang membuka diri selebar-lebarnya bagi karya dan operasi Allah di dalam dan melalui kita untuk maksud dan misi-Nya yang global!

Sabtu, 04 November 2017

Penjara Persiapan Memimpin Dunia

Sesudah semuanya itu terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu, maka murkalah Firaun kepada kedua pegawai istananya, kepala juru minuman dan kepala juru roti itu. Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung. Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlah mereka ditahan beberapa waktu lamanya. Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya--baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu--masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri. Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?" Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya." Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku." Kemudian juru minuman itu menceritakan mimpinya kepada Yusuf, katanya: "Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku. Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum. Dan di tanganku ada piala Firaun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Firaun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Firaun." Kata Yusuf kepadanya: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya. Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini." Setelah dilihat oleh kepala juru roti, betapa baik arti mimpi itu, berkatalah ia kepadanya: "Akupun bermimpi juga. Tampak aku menjunjung tiga bakul berisi penganan. Dalam bakul atas ada berbagai-bagai makanan untuk Firaun, buatan juru roti, tetapi burung-burung memakannya dari dalam bakul yang di atas kepalaku." Yusuf menjawab: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau, tinggi ke atas, dan menggantung engkau pada sebuah tiang, dan burung-burung akan memakan dagingmu dari tubuhmu." Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya: kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. -- Kejadian 40:1-23

Siapa duga mimpi-mimpi Yusuf sedang mulai berproses menjadi realitas melalui mimpi-mimpi orang lain? Dan, siapa bisa menerka bahwa justru di saat memikul “nasib” sedemikian gelap itulah terang penyataan Allah mendatangi Yusuf dan menyiapkannya ke babakan lanjut dengan peran lebih besar?
Akibat memelihara integritas dan kehormatan, Yusuf dilempar ke penjara. Statusnya pun berubah dari budak menjadi penjahat terpenjara. Karena tuduhannya tidak main-main, upaya memerkosa istri pejabat tinggi, maka pastilah keadaan Yusuf menjadi teramat gelap. Ia tidak lagi memiliki harapan untuk berjumpa keluarganya, apalagi memimpikan agar mimpi masa remajanya terjelma. Entah, dalam kebudayaan Mesir zaman itu akan bagaimana nasib pelaku kejahatan yang dituduhkan kepada Yusuf. Apa yang untuk kebanyakan kita membuat berputus asa dan meratapi nasib, sama sekali tidak membuat keelokan sikap Yusuf yang penuh perhatian, berinisiatif, dan selalu siap menjadi berkat bagi orang lain surut darinya.
Bahkan dalam penjara pun Allah hadir dan secara bebas melakukan tindakan yang mewujudkan rencana-Nya bagi orang pilihan-Nya. Pertama, Ia bekerja dalam sikap dan perhatian Yusuf. Yusuf tidak menjadi bersayang diri, lalu bermuram durja. Ia bergaul selayaknya dan dalam sikap itu ia tanggap melihat (7) gelagat yang tampak pada wajah dua orang pejabat istana yang dipenjarakan oleh Firaun. Inisiatif aktif kita menggunakan anugerah umum Allah dengan baik, merupakan celah bagi terbukanya kesempatan untuk bekerjasama dengan kemungkinan dari Allah yang datang secara super-natural! Kedua, Allah bekerja melalui mimpi kedua pejabat negara itu. Allah juga memberikan hikmat sehingga Yusuf dapat mengartikan kedua mimpi itu dengan tepat. Keterlibatan ilahi berlangsung terus baik secara tidak langsung maupun langsung. Namun, Yusuf masih harus menunggu dulu dengan proses lain yang akan Allah kerjakan dalam diri orang nomor satu Mesir, sebelum akhirnya Yusuf siap untuk didudukkan ke takhta yang memengaruhi dunia saat itu.
Tanpa mengalami kesusahan bagaimana mungkin memiliki kepekaan terhadap orang yang sedang susah. Tanpa menanggung ketidakadilan bagaimana mungkin kepekaan akan keadilan boleh menajam? Tanpa menanggapi mimpi orang lain bagaimana mungkin berantisipasi pada mimpi dari Allah untuknya sendiri?

Jumat, 03 November 2017

Budak, namun Merdeka dan Berpengaruh

Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar, dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: "Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras. Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar." Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang. Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: "Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku. Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar." Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil. -- Kejadian 39:1-23

Apakah rahasianya sehingga Yusuf yang sesungguhnya adalah “kurban” kejahatan para saudaranya sanggup bertindak sebagai orang yang sepenuhnya merdeka malah memengaruhi orang lain?
Pasal ini membawa kita kembali dari intermeso kisah Yehuda. Kisah Yehuda itu sesungguhnya bukan hanya sisipan melainkan prolog dari kisah peran Yehuda kelak dalam babakan lanjut kisah Yusuf. Kini tokoh utama kembali disoroti oleh pasal ini. Yusuf yang dijual sebagai budak oleh pedagang ke keluarga Potifar, pembesar Mesir itu ternyata menunjukkan bahwa ia bukan budak tetapi orang merdeka sejati. Pertama dengan membuktikan bahwa dirinya tidak menyesali hidup, menyalahkan orang, menyimpan kepahitan. Semua luka-luka batin itu tidak terlihat atau tidak ia izinkan memberi pengaruh negatif kepadanya. Sebab, sebagai manusia darah-daging dan bukan urat kawat, otot baja, hati berlian, seperti yang akan kita lihat kelak, pastilah dalam kesusahan ini ia pernah meneteskan air mata. Namun, menurut catatan narasi semua kesusahan itu seolah tak berbekas. Yusuf terus menerus menunjukkan kerajinan, kesetiaan, keberhasilan, tanggungjawab, dan membawa pengauh berkat.
Orang yang mendaki makin tinggi akan menghadapi terpaan angin dan beratnya sudut pendakian semakin besar. Namun, kesusahan makin besar justru menjadi penempaan diri yang makin memperteguh kualitas diri. Demikianlah yang terjadi pada Yusuf. Diam-diam sikap, tindak tanduk sampai bentuk tubuhnya yang elok, mendapatkan tatapan mata istri Potifar. Istri pejabat yang kesepian ini akhirnya mengatur bujuk dan jerat agar Yusuf masuk ke dalam pelukannya dan memuaskan hasratnya di tempat tidur. Ternyata si budak elok ini adalah seorang merdeka yang pertimbangannya elok juga. Tegas ia menyatakan bahwa ia tidak berani melanggar kepercayaan dan hak tuannya, dan tidak bersedia melakukan kejahatan yang besar di mata Allah (9). Bujukan demi bujukan, godaan demi godaan dihindarinya. Dan ketika perangkap siap menjepit, ia melarikan diri dari pencobaan itu!
Hidup merdeka dan benar mengundang akibat buruk lebih besar! Namun, ini membuat Yusuf masuk ke kesempatan baru untuk kemuliaan lebih besar lagi!

Kamis, 02 November 2017

Amazing Grace

Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira. Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu ialah Syua. Lalu Yehuda kawin dengan perempuan itu dan menghampirinya. Perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Er. Sesudah itu perempuan itu mengandung lagi, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Onan. Kemudian perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki sekali lagi, dan menamai anak itu Syela. Yehuda sedang berada di Kezib, ketika anak itu dilahirkan. Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang isteri, yang bernama Tamar. Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia. Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: "Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu." Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga. Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: "Tinggallah sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar," sebab pikirnya: "Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu." Maka pergilah Tamar dan tinggal di rumah ayahnya. Setelah beberapa lama matilah anak Syua, isteri Yehuda. Habis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu. Ketika dikabarkan kepada Tamar: "Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya," maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya. Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya. Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: "Marilah, aku mau menghampiri engkau," sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: "Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?" Jawabnya: "Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku." Kata perempuan itu: "Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku." Tanyanya: "Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab perempuan itu: "Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu." Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya. Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya. 
Gen 38:20  Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi. Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: "Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?" Jawab mereka: "Tidak ada di sini perempuan jalang." Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: "Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini." Lalu berkatalah Yehuda: "Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu." Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: "Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu." Lalu kata Yehuda: "Bawalah perempuan itu, supaya dibakar." Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan: "Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung." Juga dikatakannya: "Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan tongkat ini?" Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: "Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku." Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu. Pada waktu perempuan itu hendak bersalin, nyatalah ada anak kembar dalam kandungannya. Dan ketika ia bersalin, seorang dari anak itu mengeluarkan tangannya, lalu dipegang oleh bidan, diikatnya dengan benang kirmizi serta berkata: "Inilah yang lebih dahulu keluar." Ketika anak itu menarik tangannya kembali, keluarlah saudaranya laki-laki, dan bidan itu berkata: "Alangkah kuatnya engkau menembus ke luar," maka anak itu dinamai Peres. Sesudah itu keluarlah saudaranya laki-laki yang tangannya telah berikat benang kirmizi itu, lalu kepadanya diberi nama Zerah. -- Kejadian 38:1-30

Kita terguncang membaca betapa kacaunya hidup moral Yehuda dan keluarganya. Bahkan dalam keluarga Yakub sendiri sebagai Israel pilihan Allah, ada empat anak yang melakukan dosa dan noda serius: dosa inses (Ruben, Yehuda), dan pembunuhan keji (Simeon, Lewi). Kita takjub bahwa Allah bekerja mendatangkan keselamatan melalui riwayat dosa separah ini!
Yehuda sembrono, tidak peduli tradisi keluarga pilihan yang seharusnya terhormat. Kakek dan ayahnya kawin melalui proses penjodohan dan prinsip kekerabatan, Yehuda keluar dari jalur. Ia bergaul ke kalangan luar yaitu kaum Adulam dan begitu “melihat” Syua orang Kanaan (2), langsung tertarik, kawin, dapat tiga anak: Er, Onan dan Syela. Seperti perkawinannya yang sangat dini dan tanpa prinsip, ia mengawinkan Er terlalu cepat juga. Tamar dipilihnya dari orang Kanaan. Tanpa penjelasan, bagian ini mengatakan bahwa Er jahat di mata Tuhan sehingga Tuhan “membunuh dia” (7). Dalam tradisi orang Ibrani adik yang meninggal harus memperistri janda kakaknya untuk menghasilkan turunan atas nama almarhum. Tetapi Onan melakukan cara persetubuhan yang tidak memenuhi aturan tersebut. Perbuatan Onan itu pun jahat di mata Tuhan, sehingga ia dibunuh Tuhan juga (10).
Terjadilah aib. Tamar mungkin sadar bahwa Yehuda tidak akan memberikan Syela, maka dengan caranya sendiri menyaru menjadi pelacur. Yehuda mencari pelacur sesudah ia selesai berkabung sesudah istrinya meninggal (12). Perbuatan Tamar tidak terpuji, tetapi ia mungkin sangat berhasrat memperoleh keturunan dari garis Yehuda/Israel pengemban perjanjian Allah. Tamar hamil, Yehuda menyuruh orang supaya dibakar sebab secara status ia seharusnya istri Syela. Ketika benda-benda jaminan Yehuda diperlihatkan, Yehuda langsung mengakui bahwa ia yang salah menahan Syela, ia yang membuahi Tamar, ia bertanggungjawab. Keinsyafannya diperlihatkan dengan tidak melanjutkan hubungan inses dengan Tamar (26).
Perjanjian Allah ditujukan untuk menyelamatkan manusia yang sesat dan gelap. Peres, hasil inses Yehuda dengan perempuan kafir yang menyaru jadi pelacur inilah, kakek buyut Daud, kakek moyang Yesus Kristus Juruselamat kita yang anugerah-Nya ajaib itu! Sang Mesias ternyata bukan saja hadir untuk yang kacau balau, tetapi lebih radikal lagi di dalam dan melalui yang kacau balau. 

Rabu, 01 November 2017

Kejahatan vs Mimpi Ilahi

Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Sahut Yusuf: "Ya bapa." Kata Israel kepadanya: "Pergilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku." Lalu Yakub menyuruh dia dari lembah Hebron, dan Yusufpun sampailah ke Sikhem. Ketika Yusuf berjalan ke sana ke mari di padang, bertemulah ia dengan seorang laki-laki, yang bertanya kepadanya: "Apakah yang kaucari?" Sahutnya: "Aku mencari saudara-saudaraku. Tolonglah katakan kepadaku di mana mereka menggembalakan kambing domba?"Lalu kata orang itu: "Mereka telah berangkat dari sini, sebab telah kudengar mereka berkata: Marilah kita pergi ke Dotan." Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan. Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!" Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" --maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya. Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. Ketika Ruben kembali ke sumur itu, ternyata Yusuf tidak ada lagi di dalamnya. Lalu dikoyakkannyalah bajunya, dan kembalilah ia kepada saudara-saudaranya, katanya: "Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?" Kemudian mereka mengambil jubah Yusuf, dan menyembelih seekor kambing, lalu mencelupkan jubah itu ke dalam darahnya. Jubah maha indah itu mereka suruh antarkan kepada ayah mereka dengan pesan: "Ini kami dapati. Silakanlah bapa periksa apakah jubah ini milik anak bapa atau tidak?" Ketika Yakub memeriksa jubah itu, ia berkata: "Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam." Dan Yakub mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: "Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!" Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya. Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja. -- Kejadian 37:12-36

Orang-orang jahat tidak mungkin sepenuhnya sehati, sebab melibatkan banyak sikap egois dengan pertimbangan dan kepentingan berbeda. Sebaliknya kebaikan Allah justru seringkali bertindak mengherankan. Ia dapat membangkitkan orang menjadi alat-Nya dari kalangan yang tidak kita duga akan melakukan kehendak Allah. Allah sanggup menggerakkan hati nurani orang jahat untuk bertindak sedikit lebih baik. Bahkan, hikmat Allah sanggup ada bersama tindak kejahatan demi mengerjakan kebaikan dan mewujudkan rencana mulia-Nya!
Yusuf yang diejek “si pemimpi” ternyata bukan anak manja, ia juga penurut, dan penuh kasih. Ketika ayahnya menyuruhnya pergi mencari para saudaranya, dengan cepat ia menaati. “Ya bapa,” satu-satunya komentar Yusuf dalam pasal ini, ungkapan sikap hormat dan taat yang tercermin seterusnya dalam episode lanjut hidupnya. Bahkan ketika ia tidak dapat menjumpai saudaranya di Sikhem, ia rela pergi lebih jauh lagi sampai ke Dotan. Perjalanan melelahkan dan penuh bahaya ia tempuh, bukan saja karena ketaatan kepada ayahnya tetapi juga karena seperti ayahnya ia pun mengasihi para saudaranya.
Kita biasa menggolongkan iri, curang, gosip, serakah sebagai dosa kecil bahkan manusiawi. Tidak sejahat, seserius, sebahaya membunuh atau merampok, misalnya. Betapa menyesatkan pemikiran itu! Kisah ini gamblang memaparkan bahwa iri adalah bapa dari benci, dan kakek dari rencana pembunuhan. “Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” (20). Ucapan ini menyiratkan bahwa ujung dari kejahatan ialah sikap dan tindakan ingin membuyarkan rencana ilahi!
Akan sanggupkah kejahatan membuyarkan rencana ilahi? Entah karena motivasi apa, muncullah dua “penyelamat” dari antara sesaudara yang telah menjadi sekomplotan penjahat ini. Ruben mengusulkan agar Yusuf tidak dibunuh tetapi dibuang ke sumur kering (21-22), dan Yehuda kemudian mengusulkan bahwa menjual Yusuf lebih untung daripada membunuhnya (26-27). Si pemimpi pun terluput dari pembunuhan, mimpi ilahi bergulir menuju kegenapannya!

Selasa, 31 Oktober 2017

Dibenci Saudara, Dikasihi Allah

Adapun Yakub, ia diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan. Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun--jadi masih muda--biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya. Karena katanya kepada mereka: "Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu." Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?" Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu. Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku." Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?" Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya. -- Kejdian 37:1-11

Mulai pasal ini fokus kisah bergeser bukan lagi pada Yakub tetapi pada salah seorang anaknya yang kelak akan menjadi orang penting. Meskipun Yusuf bukan anak pertama, namun pasal ini menarik perhatian kita kepadanya: “Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf…” (2. Lihat juga 33:2 dimana Yusuf satu-satunya yang namanya disebut ketika rombongan Yakub menemui Esau). Kasih Yakub yang lebih besar kepada Rahel membuatnya mengasihi Yusuf lebih daripada kepada anaknya yang lain. Apalagi Yusuf lahir sesudah lama Rahel tidak dapat memberikan anak kepada Yakub. Maka perhatian dan pemberian istimewa Yakub curahkan kepada Yusuf. Hal itu membangkitkan masalah dalam keutuhan keluarga itu. Semua saudaranya iri dan membenci Yusuf karena pengistimewaan yang diterimanya. 
Jika orang lain dalam posisi Yusuf, pastilah ia telah menjadi anak manja dan masa dewasanya sangat mungkin menjadi orang yang tak pernah dewasa. Tetapi tidak demikian dengan Yusuf. Ada dua hal menarik yang bagian ini paparkan tentang Yusuf. Pertama, ia menunjukkan kerajinan dan tanggungjawab. Rupanya Yakub yang mengistimewakan dan memberi sayang lebih, tidak mengecualikan Yusuf dari kewajiban untuk bekerja. Ini suatu faktor yang menyelamatkan Yusuf dari kemanjaan. Kedua, Yusuf  bukan saja diistimewakan oleh Yakub, ia juga diistimewakan oleh Allah. Dua kali Allah secara istimewa memberi Yusuf penyataan tentang hal yang akan terjadi di masa depannya dan masa depan keluarga bahkan dunia. Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Bukan juga bunga emosi hasil pengistimewaan ayahnya yang kemudian terbawa ke dalam bawah sadar atau angan-angannya. Di luar kendali dan ambisinya pribadi, Yusuf mendapatkan perkenan Allah.
Sikap iri para saudaranya bukan sekadar reaksi buruk yang harus Yusuf tanggung. Dalam bingkai lebih besar, suasana ini mewakili banyak situasi sulit lain sepanjang hidupnya yang menjadi latar dimana rajutan perkenan dan rencana Allah diwujudkan untuk Yusuf. Ia dibentuk istimewa dalam konteks sult menjadi alat bagi rencana besar istimewa Allah untuk umat perjanjian-Nya. 
Kasih yang besar, disiplin yang tegas, realitas hidup yang keras boleh menjadi alat Allah menyiapkan instrumen anugerah yang mulia untuk memberkati banyak orang,

Sabtu, 28 Oktober 2017

Hambatan Menyingkir Sendiri

Inilah keturunan Esau, yaitu Edom. Esau mengambil perempuan-perempuan Kanaan menjadi isterinya, yakni Ada, anak Elon orang Het, dan Oholibama, anak Ana anak Zibeon orang Hewi, dan Basmat, anak Ismael, adik Nebayot. Ada melahirkan Elifas bagi Esau, dan Basmat melahirkan Rehuel, dan Oholibama melahirkan Yeush, Yaelam dan Korah. Itulah anak-anak Esau, yang lahir baginya di tanah Kanaan. Esau membawa isteri-isterinya, anak-anaknya lelaki dan perempuan dan semua orang yang ada di rumahnya, ternaknya, segala hewannya dan segala harta bendanya yang telah diperolehnya di tanah Kanaan, lalu pergilah ia ke negeri lain dan ia meninggalkan Yakub, adiknya itu. Sebab harta milik mereka terlalu banyak, sehingga mereka tidak dapat tinggal bersama-sama, dan negeri penumpangan mereka tidak dapat memuat mereka karena banyaknya ternak mereka itu. Maka menetaplah Esau di pegunungan Seir; Esau itulah Edom. Inilah keturunan Esau, bapa orang Edom, di pegunungan Seir. Nama anak-anaknya ialah: Elifas, anak Ada isteri Esau; Rehuel, anak Basmat isteri Esau. Anak-anak Elifas ialah Teman, Omar, Zefo, Gaetam dan Kenas. Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau. Inilah anak-anak Rehuel: Nahat, Zerah, Syama dan Miza. Itulah cucu-cucu Basmat isteri Esau. Inilah anak-anak Oholibama, isteri Esau itu, anak Ana anak Zibeon; ia melahirkan bagi Esau: Yeush, Yaelam dan Korah. Inilah kepala-kepala kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung Esau, ialah kepala kaum Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum Zefo, kepala kaum Kenas, kepala kaum Korah, kepala kaum Gaetam dan kepala kaum Amalek; itulah kepala-kepala kaum Elifas di tanah Edom; itulah keturunan Ada. Inilah keturunan Rehuel anak Esau: kepala kaum Nahat, kepala kaum Zerah, kepala kaum Syama dan kepala kaum Miza; itulah kepala-kepala kaum Rehuel di tanah Edom; itulah keturunan Basmat isteri Esau. Inilah keturunan Oholibama isteri Esau: kepala kaum Yeush, kepala kaum Yaelam, kepala kaum Korah; itulah kepala-kepala kaum Oholibama, isteri Esau, anak Ana. Itulah bani Esau, yakni Edom, dan itulah kepala-kepala kaum mereka.... -- baca Kejadian 36:1-43

Bagaimanakah kesan kita tentang kekuasaan yang dimiliki orang dan kelompok yang memusuhi rencana Allah serta menimbulkan ancaman kepada umat-Nya? Kita sering takut, bukan? Kita berpikir bahwa hal-hal baik yang sedang Allah kerjakan melalui kita dapat dibuyarkan oleh mereka yang melawan Allah. Kita merasa kecil dibandingkan mereka yang berkuasa dalam dunia ini.
Hanya satu pasal diberikan untuk mencatat tentang Esau dan keturunannya. Sementara untuk Yakub dan keturunannya entah berapa banyak pasal dipakai untuk mencatat mereka. Benar menurut catatan penulis Kejadian, anak dan keturunan Esau disebut para kepala kaum, suatu sebutan atau gelar yang menyiratkan kuasa dan kemuliaan. Seperti halnya Esau, kemungkinan besar mereka adalah orang-orang perkasa, para prajurit yang sanggup membuat gentar lawan mereka. Sedangkan anak-anak Yakub hanyalah para gembala biasa. Namun tetap hanya nama dan gelar saja dari anak Esau yang disebutkan, tetapi tidak ada kisah atau riwayat mereka yang berharga untuk dicatat dan diingat di mata Allah!
Esau pun dicatat dengan panggilan yang terkait peristiwa dimana ia menjual hak kesulungannya. Ia adalah Edom. Edom dulu yang telah menolak berkat Allah, adalah Edom yang kelak menjadi bangsa yang selalu menentang Israel dan berusaha menghambat kemajuan penggenapan rencana Allah untuk Israel. Tidak ada silsilah jelas diberikan untuk mereka. Begitulah cara Alkitab memandang dan menilai pihak-pihak yang tidak di pihak Allah dan yang kekuatannya dipakai untuk menolak rencana-Nya. Begitu jugalah harusnya kita memperhitungkan bahaya yang senantiasa mengancam umat Allah. Kita tidak boleh menganggap remeh ancaman yang ada, namun kita harus menilai dan menyikapi dalam perspektif iman.
Allah telah memberikan Kanaan untuk kaum Israel, umat perjanjian-Nya. Serasi rencana Allah itu, Esau dengan segenap kaum keturunannya yang perkasa dan berkuasa itu memutuskan sendiri untuk diam di Seir, bukan di Kanaan (6, 7)! Mereka tidak ambil bagian dalam rencana Allah, itu sebabnya mereka harus menyingkir dan tidak boleh menjadi penghambat bagi kemajuan rencana Allah!

Jumat, 27 Oktober 2017

Riwayat Yakub-Israel

Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel. Ketika mereka tidak berapa jauh lagi dari Efrata, bersalinlah Rahel, dan bersalinnya itu sangat sukar. Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: "Janganlah takut, sekali inipun anak laki-laki yang kaudapat." Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas--sebab ia mati kemudian--diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. Yakub mendirikan tugu di atas kuburnya; itulah tugu kubur Rahel sampai sekarang. Sesudah itu berangkatlah Israel, lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder. Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel. Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya. Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon. Anak-anak Rahel ialah Yusuf dan Benyamin. Dan anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel ialah Dan serta Naftali. Dan anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea ialah Gad dan Asyer. Itulah anak-anak lelaki Yakub, yang dilahirkan baginya di Padan-Aram. Lalu sampailah Yakub kepada Ishak, ayahnya, di Mamre dekat Kiryat-Arba--itulah Hebron--tempat Abraham dan Ishak tinggal sebagai orang asing. Adapun umur Ishak seratus delapan puluh tahun. Lalu meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan Yakub, anak-anaknya itu, menguburkan dia. -- Kejadian 35:16-29

Perikop ini mengisahkan kematian Rahel-kelahiran Benyamin, inses Ruben dengan Bilha, pencatatan keturunan Yakub dan kematian Ishak dalam usia suntuk 180 tahun yang dikubur oleh Esau dan Yakub. Sepertinya ini hanya catatan biasa saja yang lazim juga terjadi dalam kisah-kisah keturunan siapa pun di dunia ini. Namun, ini adalah penerusan dari pencatatan generasi-generasi sejak Adam oleh kitab Kejadian. Tanpa harus memaksakan makna ada beberapa hal menarik bisa kita renungkan lebih jauh. Pertama, anak terakhir Yakub lahir melalui penderitaan Rahel. Sebelum meninggal Rahel memberi nama Ben-oni -- anak penderitaan tetapi oleh Yakub diubah menjadi Benjamin. Ada yang menduga arti Benjamin adalah "son of good fortune,", ada juga dugaan "son of good fight."  Meski tidak jelas pastinya apa pengubahan nama menjadi Benyamin ini seakan cerminan dari pengubahan Yakub menjadi Israel  Kedua, sisipan catatan tentang inses Ruben menjadi sebab mengapa "berkat" Yakub atasnya adalah seperti tertera di 49:3-4. Ketiga, Ishak meninggal dalam usia sangat tua. Esau dan Yakub menguburkan Ishak menandakan bahwa perdamaian kedua saudara kembar ini berlangsung seterusnya. Ini semua menjadi bingkai bagi kisah selanjutnya bakal umat Allah yaitu Israel yang terdiri dari dua belas anak lelaki Yakub, dua belas suku Israel. Di dalam keturunan Israel yang sarat suka-duka, kemajuan-kemunduran, inilah Tuhan akan mewujudkan sejarah kselamatan dunia selanjutnya. 

Rabu, 25 Oktober 2017

Kembali ke Betel

Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar. Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di tanah Kanaan--yaitu Betel--,ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia. Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya. Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar, yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan. Setelah Yakub datang dari Padan-Aram, maka Allah menampakkan diri pula kepadanya dan memberkati dia. Firman Allah kepadanya: "Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu." Maka Allah menamai dia Israel. Lagi firman Allah kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu. Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu." Lalu naiklah Allah meninggalkan Yakub dari tempat Ia berfirman kepadanya. Kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni tugu batu; ia mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya. Yakub menamai tempat di mana Allah telah berfirman kepadanya "Betel". -- Kejadian 35:1-15


Sesudah sekian lama dipimpin Allah, diberkati dengan melimpah, menerima berbagai penggenapan janji-Nya dengan setia, hal apa lagi yang Allah ingin agar terjadi dalam diri umat-Nya?
Allah ingin agar Yakub menggenapi janjinya. Sewaktu ia melarikan diri dari Esau, sesudah penglihatan dalam mimpinya di Betel tentang anak tangga yang para malaikat turun naik melaluinya, Yakub memohon sambil berjanji: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (28:20-22). Allah telah menjawab semua permohonan itu, kini saat untuk Yakub menggenapi janjinya kepada Allah. Maka kini Allah memerintahkan Yakub untuk membangun mezbah bagi-Nya di Betel.
Yakub bukan saja lupa menggenapi janjinya, ia juga tidak memupuk ibadah sepenuh hati hanya kepada Allah saja di antara keluarganya. Mungkin karena pengaruh istrinya, anak-anaknya ternyata masih memiliki ilah lain dan perhiasan yang mengandung sesembahan yang salah. Pada waktu itulah baru secara menyeluruh kaum keluarga Yakub mentahirkan diri untuk menyembah Allah saja. Penggenapan janji dan pentahiran diri ini langsung diikuti oleh peristiwa penting lain di Padan Aram. Allah menegaskan ulang penggantian nama Yakub menjadi Israel. Allah juga menegaskan ulang janji-Nya kepada Yakub. Suatu tindakan yang mirip dengan rangkaian peneguhan janji Allah kepada Abraham. 
Baik dalam susah maupun dalam suka Allah segalanya bagi kita -- maka dalam segala keadaan kita patut dengan sadar mencari, mengutamakan dan mengandalkan Tuhan saja. Terpujilah Ia yang ajaib sabar, setia serta limpah anugerah-Nya! 

Selasa, 24 Oktober 2017

Menghapus Noda dengan Noda?

Pada suatu kali pergilah Dina, anak perempuan Lea yang dilahirkannya bagi Yakub, mengunjungi perempuan-perempuan di negeri itu. Ketika itu terlihatlah ia oleh Sikhem, anak Hemor, orang Hewi, raja negeri itu, lalu Dina itu dilarikannya dan diperkosanya. Tetapi terikatlah hatinya kepada Dina, anak Yakub; ia cinta kepada gadis itu, lalu menenangkan hati gadis itu. Sebab itu berkatalah Sikhem kepada Hemor, ayahnya: "Ambillah bagiku gadis ini untuk menjadi isteriku." Kedengaranlah kepada Yakub, bahwa Sikhem mencemari Dina. Tetapi anak-anaknya ada di padang menjaga ternaknya, jadi Yakub mendiamkan soal itu sampai mereka pulang. Lalu Hemor ayah Sikhem, pergi mendapatkan Yakub untuk berbicara dengan dia. Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan. Berbicaralah Hemor kepada mereka itu: "Hati Sikhem anakku mengingini anakmu; kiranya kamu memberikan dia kepadanya menjadi isterinya dan biarlah kita ambil-mengambil: berikanlah gadis-gadis kamu kepada kami dan ambillah gadis-gadis kami. Tinggallah pada kami: negeri ini terbuka untuk kamu; tinggallah di sini, jalanilah negeri ini dengan bebas, dan menetaplah di sini." Lalu Sikhem berkata kepada ayah anak itu dan kepada kakak-kakaknya: "Biarlah kiranya aku mendapat kasihmu, aku akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta; walaupun kamu bebankan kepadaku uang jujuran dan uang mahar seberapa banyakpun, aku akan memberikan apa yang kamu minta; tetapi berilah gadis itu kepadaku menjadi isteriku." Lalu anak-anak Yakub menjawab Sikhem dan Hemor, ayahnya, dengan tipu muslihat. Karena Sikhem telah mencemari Dina, adik mereka itu, berkatalah mereka kepada kedua orang itu: "Kami tidak dapat berbuat demikian, memberikan adik kami kepada seorang laki-laki yang tidak bersunat, sebab hal itu aib bagi kami. Hanyalah dengan syarat ini kami dapat menyetujui permintaanmu: kamu harus sama seperti kami, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat, barulah kami akan memberikan gadis-gadis kami kepada kamu dan mengambil gadis-gadis kamu; maka kami akan tinggal padamu, dan kita akan menjadi satu bangsa. Tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan kami dan kamu tidak disunat, maka kami akan mengambil kembali anak itu, lalu pergi." Lalu Hemor dan Sikhem, anak Hemor, menyetujui usul mereka. Dan orang muda itu tidak bertangguh melakukannya, sebab ia suka kepada anak Yakub, lagipula ia seorang yang paling dihormati di antara seluruh kaum keluarganya. Lalu pergilah Hemor dan Sikhem, anaknya itu, ke pintu gerbang kota mereka dan mereka berbicara kepada penduduk kota itu:.. Maka usul Hemor dan Sikhem, anaknya itu, didengarkan oleh semua orang yang datang berkumpul di pintu gerbang kota itu, lalu disunatlah setiap laki-laki, yakni setiap orang dewasa di kota itu. Pada hari ketiga, ketika mereka sedang menderita kesakitan, datanglah dua orang anak Yakub, yaitu Simeon dan Lewi, kakak-kakak Dina, setelah masing-masing mengambil pedangnya, menyerang kota itu dengan tidak takut-takut serta membunuh setiap laki-laki. Juga Hemor dan Sikhem, anaknya, dibunuh mereka dengan mata pedang, dan mereka mengambil Dina dari rumah Sikhem, lalu pergi. Kemudian datanglah anak-anak Yakub merampasi orang-orang yang terbunuh itu, lalu menjarah kota itu, karena adik mereka telah dicemari. Kambing dombanya dan lembu sapinya, keledainya dan segala yang di dalam dan di luar kota itu dibawa mereka; segala kekayaannya, semua anaknya dan perempuannya ditawan dan dijarah mereka, juga seluruhnya yang ada di rumah-rumah. Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: "Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku." Tetapi jawab mereka: "Mengapa adik kita diperlakukannya sebagai seorang perempuan sundal!" -- kejadian 34:1-31

Dalam perjalanan hidup bahkan di antara orang terhormat pun, bisa terjadi noda. Bila itu terjadi, bagaimanakah jalan penyelesaian terbaik? Noda yang sangat menggoncangkan kehidupan keluarga Yakub terjadi karena Dina putri Yakub satu-satunya diperkosa oleh Sikhem, anak Hemor raja orang Hewi. Seharusnya sebagai pendatang, tidak pada tempatnya Dina yang baru berusia sekitar 15-16 tahun itu berjalan-jalan untuk melihat (dan dilihat) orang yang belum dikenal. Prinsip pergaulan seharusnya ditanamkan dengan baik oleh ayah dan ibunya, tetapi rupanya hal ini tidak dilakukan baik oleh Yakub maupun oleh Lea. Maka tiba-tiba saja terjadilah musibah itu. Sikhem melarikan Dina dan memperkosanya. Meski Sikhem telah berbuat salah, namun ia jatuh cinta kepada Dina dan meminta secara bertanggungjawab untuk boleh mengawini Dina.
Yakub tidak menunjukkan sikap atau mengambil tindakan apa pun. Ia hanya mendiamkan perkara itu sampai anak-anaknya pulang. Reaksi anak-anaknya yang melihat keluarga telah ternoda oleh pemerkosaan terhadap Dina, bercampur antara sakit hati dan marah (7). Niat baik Sikhem dan lamaran yang diajukan ayahnya tidak dapat menghapuskan sakit hati anak-anak Yakub. Sakit hati dan kemarahan tidak pernah menghasilkan pertimbangan yang didasari oleh kebajikan dan kebijakan. Sebaliknya dari merespons dengan tepat, mereka melakukan rencana jahat. Mereka berpura-pura menerima permintaan tersebut tetapi mengajukan prasyarat religius. Sikhem, Hemor dan semua laki-laki orang Hewi harus disunat. Suatu permintaan yang terkesan benar karena mengatasnamakan aturan agama, namun sayang berisikan tipu muslihat keji.
Sesudah sunat masal dan ketika semua laki-laki orang Hewi sedang kesakitan, secara keji Simeon dan Lewi menyerang mereka. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Orang-orang yang sedang dalam kesakitan sesudah disunat pasti menjadi korban mudah bagi kekejaman Simeon dan Lewi. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menjarah dan menawan anak serta perempuan orang Hewi. 
Noda seharusnya dihindari oleh perilaku saleh. Tetapi ketika noda terjadi, ia harus diatasi dengan motif dan tindakan kebenaran, bukan amarah, sakit hati dan memperalat aturan kesalehan!

Sabtu, 21 Oktober 2017

Perubahan Ajaib

Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: "Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?" Jawab Yakub: "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. Berkatalah Esau: "Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?" Jawabnya: "Untuk mendapat kasih tuanku." Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." Tetapi kata Yakub: "Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya." Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya. Kata Esau: "Baiklah kita berangkat berjalan terus; aku akan menyertai engkau." Tetapi Yakub berkata kepadanya: "Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati. Biarlah kiranya tuanku berjalan lebih dahulu dari hambamu ini dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir." Lalu kata Esau: "Kalau begitu, baiklah kutinggalkan padamu beberapa orang dari pengiringku." Tetapi Yakub berkata: "Tidak usah demikian! Biarlah aku mendapat kasih tuanku saja." Jadi pulanglah Esau pada hari itu berjalan ke Seir. Tetapi Yakub berangkat ke Sukot, lalu mendirikan rumah, dan untuk ternaknya dibuatnya gubuk-gubuk. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Sukot. Dalam perjalanannya dari Padan-Aram sampailah Yakub dengan selamat ke Sikhem, di tanah Kanaan, lalu ia berkemah di sebelah timur kota itu. Kemudian dibelinyalah dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem, sebidang tanah, tempat ia memasang kemahnya, dengan harga seratus kesita. Ia mendirikan mezbah di situ dan dinamainya itu: "Allah Israel ialah Allah" (El-Elohe-Israel)   -- Kejadian 33"1-20

Yakub yang telah dimenangkan Allah dalam pergumulan dengan-Nya kini dengan berani dan penuh tanggungjawab mengepalai rombongan keluarga besarnya. Ia bukan bersembunyi tetapi tampil paling depan. Ketika rombongan Yakub berpapasan dengan rombongan Esau yang membawa pasukan perang, terjadilah rentetan keajaiban. Yang tadinya ditakuti Yakub tidak terjadi. Pasukan Esau tidak membantai rombongan Yakub, Esau pun tidak membalas dendamnya puluhan tahun. Yakub tujuh kali sujud sampai akhirnya tiba ke dekat Esau, menyebut dirinya “hambamu" (5) dan memanggil Esau “tuanku" (8). Perubahan ajaib dan adegan mengharukan pun terjadi. Esau berlari, memeluk, mencium Yakub, dan dalam pelukan persaudaraan yang dipulihkan mereka bertangis-tangisan (4).
Dulu perebutan warisan membuat mereka bermusuhan, kini dalam pemulihan Esau menolak pemberian Yakub. Dengan menyebut Yakub sebagai “adikku,” ia menampik pemberian itu karena ia “memiliki banyak.” Esau berubah, ia tidak lagi merasa sebagai orang yang pernah dirugikan. Yakub pun menegaskan kenyataan berkat Allah dalam hidupnya. Apabila Esau memiliki banyak harta, Yakub mengklaim dengan penuh syukur bahwa ia kini “mempunyai segala-galanya” (11). Yang Yakub maksudkan tentu bukan harta melainkan hidup yang diubahkan, disertai, dipimpin, diberkati Allah. Termasuk bahwa kini ia melihat wajah Esau seolah melihat wajah Allah sendiri, yaitu bahwa keajaiban anugerah Allah di dalam wajah dan sikap Esau yang bersedia menerimanya kembali sebagai “adik” (9-10).
Sesudah rekonsiliasi tersebut, lalu kedua bersaudara itu dan rombongan mereka pun berpisah baik-baik. Karena kedatangan Yakub adalah dalam rangka memenuhi panggilan ilahi, maka ia memang tidak mungkin berjalan bersama dengan kakaknya yang menjalani panggilan dirinya sendiri. Anugerah Allah telah memungkinkan rentetan perubahan ajaib terjadi. Dan di penutup episode ini perubahan paling ajaib terjadi dalam pengakuan Yakub: El adalah Allah Israel, Allah dirinya pribadi, bukan hanya Allah kakek dan bapaknya! Allah dirinya yang telah diubah jadi Israel!
Jika kita pasrah kooperatif dengan karya transformasi Allah, Ia membuat rentetan hal mustahil terjadi dalam berbagai segi kehidupan dan relasi kita!

Jumat, 20 Oktober 2017

Berdoa sampai Kalah

Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua isterinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya. -- Kejadian 32:22-32

Ini sungguh episode genting mendebarkan dalam kehidupan Yakub! Akhirnya Yakub sadar bukan ternak, hamba-hambanya, atau istri dan anaknya yang dapat melindungi dia dari Esau atau yang dapat dijadikan persembunyian dari konsekuensi masalah lamanya. Ia sendiri harus bergumul dengan Allah menyelesaikan semua dengan-Nya!
Seseorang bergulat dengan Yakub semalaman sampai fajar menyingsing. Tidak dikatakan siapa orang ini, namun ada beberapa petunjuk untuk kita simpulkan. Sesudah bergulat tanpa bisa dihentikan, orang itu membuat Yakub menyadari kebutuhan dirinya terdalam. Selama ini ia mengandalkan kesanggupannya sendiri -- ya otak, ya otot. Kini di puncak pergulatan itu orang misterius tersebut memukul pangkal paha Yakub -- tempat tulang punggung bertumpu, penyangga kekuatan Yakub -- sampai ia terpelecok, pincang dan sejak itu kesadaran secara fisik bahwa dirinya lemah dan perlu bersandar pada "sesuatu" yang lain harus melekat sepanjang sisa umurnya. 
Orang itu memiliki kuasa sehingga berhak menanyakan dan mengubah nama Yakub. Yakub -- perenggut, penipu, pengandal diri sendiri -- diubah menjadi Israel -- pangerannya Allah, di dalam dan oleh Allah. Luar biasanya “Nama:-Nya sendiri tetap rahasia. Ia yang berhak memberi atau mengubah nama, sementara Yakub tidak dalam posisi untuk mengetahui “Nama” pihak yang berkuasa mengubah 
Jika orang misterius itu adalah Allah, bagaimana mungkin Yakub kuat semalaman bergulat melawan-Nya? Jika Ia Allah yang berdaulat mengubah nama Yakub menjadi Israel, bagaimana mungkin Yakub sanggup “memaksa-Nya” untuk memberkati? Dari semua pertimbangan ini jelas bahwa ini bukan suatu pergulatan jasmani tetapi suatu pergulatan rohani seperti yang terjadi dalam doa. Hosea 12:4-5 menegaskan bahwa “Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: - yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya.” Ia meminta berkat. Yakub diubah dari mengandalkan kekuatan otot dan akalnya sendiri menjadi seorang yang bersandar pada Allah dan dalam kebersandaran itu ia menerima anugerah dan berkat. Jika ia yang fana dan penuh dosa sanggup bergulat dengan Allah, tentu karena secara misterius Allah yang sama yang melawannya itu juga yang membantunya bertahan dalam pergumulan itu. Kini ia tidak lagi mengandaikan keahlian manusia berdosa dengan mengatur tipu daya. Ia memohon Allah sendiri memberkatinya. Dalam pergumulan doa yang serius dan membuat otot dan akalnya takluk itulah, ia akhirnya sanggup memahami hakikat berkat dalam hidupnya. Dan saat itulah ia diubah Allah menjadi Israel.
Tidak ada yang lebih mengubah kita dari jasmani-duniawi menjadi rohani-surgawi ketimbang bergumul dengan Allah sampai kita menyadari ketidaklayakan serta ketidakberdayaankita dan Ia menjadi segalanya bagi kita.

Kamis, 19 Oktober 2017

Upaya Rekonsiliasi

Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat-malaikat Allah dengan dia. Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah ia: "Ini bala tentara Allah." Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim. Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom. Ia memerintahkan kepada mereka: "Beginilah kamu katakan kepada tuanku, kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai orang asing dan diam di situ selama ini. Aku telah mempunyai lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat kasihmu." Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan berkata: "Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan iapun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang." Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. Sebab pikirnya: "Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput." Kemudian berkatalah Yakub: "Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu-- sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan. Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya. Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung." Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau, kakaknya, yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan, tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan. Diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga, tiap-tiap kumpulan tersendiri, dan ia berkata kepada mereka: "Berjalanlah kamu lebih dahulu dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan yang satu dengan kumpulan yang lain." Diperintahkannyalah kepada yang paling di muka: "Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan ke manakah engkau pergi? dan milik siapakah ternak yang di depanmu itu? -- jawablah: milik hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub sendiripun ada di belakang kami." Begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring kumpulan hewan itu, katanya: "Seperti perkataanku tadilah kamu katakan kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia; dan kamu harus mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami." Sebab pikir Yakub: "Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin ia akan menerima aku dengan baik." Jadi persembahan itu diantarkan lebih dahulu, tetapi ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya. -- Kejadian 32:1-21

Yakub pulang ke kampung halamannya, Kanaan perjanjian Allah kepada kakek dan bapaknya, yang juga tanah warisnya. Perjalanan pulang yang seharusnya membangkitkan kesukaan besar, namun tidak demikian bagi Yakub. Ini bukan perjalanan mudah baginya, sebab perjalanan itu juga merupakan perjalanan balik menghadapi masalah yang pernah ia timbulkan terhadap Esau. Benar ia mendapatkan warisan, namun dengan meninggalkan luka pada pihak lain. Kini ia harus menghadapi segala konsekuensi penipuan yang ia lakukan terhadap kakaknya itu.
Sebelum “sambutan” kakaknya yang membuat Yakub gentar dan cemas, ia disambut sepasukan malaikat di Mahanaim (1-2). Ini tentu memberikan penghiburan dan penguatan sangat berarti bagi Yakub. Tidakkah berarti pasukan Allah terus mengitari Yakub dari Betel-Haran-dan kini sampai ke Mahanaim juga? Mahanaim berarti dua kemah, sebab di samping kemah Yakub ada kemah lain yaitu kemah pasukan malaikat yang menjumpai dia. Ini pasti memberanikan dia dan rombongannya mendekat ke tempat Esau di Seir, Edom. Kalau dulu ia melarikan diri kini ia mencari Esau. Satu lagi perubahan besar terjadi dalam sikap Yakub. 
Sebelum memasuki Kanaan tanah perjanjian yang sudah menjadi hak warisnya, ia harus lebih dulu mengupayakan rekonsiliasi dengan orang yang pernah ia tipu. Yakub mengirim utusan dengan salam dan kabar darinya untuk Esau. Ia membahasakan diri merendah sebagai “hamba” Esau. Ia membawa banyak kekayaan melalui perjuangan berat, bukan melalui penipuan (4, 5). Pesan tersebut menyiratkan bahwa ia telah berubah, bukan lagi Yakub yang dulu. Ia siap berdamai dalam posisi sebagai hamba. Sayang pesan Yakub disambut dengan berita bahwa Esau dengan pasukan perangnya mendatangi Yakub. 
Apa daya Yakub? Ia berdoa. Ia kini mengakui bahwa ia pulang karena menaati firman Allah. Ia berterima kasih untuk segala berkat-Nya. Ia masih menyebut Allah sebagai Allah kakek dan ayahnya, belum Allah pribadinya namun ungkapan TUHAN sebagai yang hidup dan yang sumber perjanjian pertama kali keluar dari bibir Yakub. Kepada YHWH ini Ia mengakui ketidaklayakannya beroleh semua berkat-Nya. Ia mengakui juga ketakutannya kepada Esau, dan memohon agar diluputkan (9-12). 
Sesudah berdoa ia mengatur untuk mengirimkan iring-iringan pemberian untuk Esau, sejumlah 580 ekor ternak. Dengan 580 ekor ternak itu Yakub berharap dapat mendamaikan Esau yang telah dirugikannya. Masih terlihat pola pikir "tukar-guling" dalam diri Yakub -- dulu ia merebut hak kesulungan dengan semangkuk sup kacang merah dan semangkuk sup kambing piaraan, kini ia seolah ingin membayar utang moralnya kepada Esau dengan 580 ternak tersebut. Ia masih berpikir rekonsiliasi bisa dicapainya dengan tebusan hasil strategi trik otak lihainya sendiri.
Adakah pihak di masa lalu kita yang kita perlu berdamai? Sudahkah anugerah dari Yesus mendamaikan kita dengan masa lalu kita? Sungguhkah kita bergantung penuh pada nilai tebusan dalam darah Yesus sebagai daya pendamai semua ketidakberesan hidup kita? 

Rabu, 18 Oktober 2017

Pengakuan dan Perjanjian


Lalu Laban menjawab Yakub: "Perempuan-perempuan ini anakku dan anak-anak lelaki ini cucuku dan ternak ini ternakku, bahkan segala yang kaulihat di sini adalah milikku; jadi apakah yang dapat kuperbuat sekarang kepada anak-anakku ini atau kepada anak-anak yang dilahirkan mereka? Maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Kemudian Yakub mengambil sebuah batu dan didirikannya menjadi tugu. Selanjutnya berkatalah Yakub kepada sanak saudaranya: "Kumpulkanlah batu." Maka mereka mengambil batu dan membuat timbunan, lalu makanlah mereka di sana di dekat timbunan itu. Laban menamai timbunan batu itu Yegar-Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed. Lalu kata Laban: "Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau." Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed, dan juga Mizpa, sebab katanya: "TUHAN kiranya berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan. Jika engkau mengaibkan anak-anakku, dan jika engkau mengambil isteri lain di samping anak-anakku itu, ingatlah, walaupun tidak ada orang dekat kita, Allah juga yang menjadi saksi antara aku dan engkau." Selanjutnya kata Laban kepada Yakub: "Inilah timbunan batu, dan inilah tugu yang kudirikan antara aku dan engkau-- timbunan batu dan tugu inilah menjadi kesaksian, bahwa aku tidak akan melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkaupun tidak akan melewati timbunan batu dan tugu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat. Allah Abraham dan Allah Nahor, Allah ayah mereka, kiranya menjadi hakim antara kita." Lalu Yakub bersumpah demi Yang Disegani oleh Ishak, ayahnya. Dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan di gunung itu. Ia mengundang makan sanak saudaranya, lalu mereka makan serta bermalam di gunung itu. Keesokan harinya pagi-pagi Laban mencium cucu-cucunya dan anak-anaknya serta memberkati mereka, kemudian pulanglah Laban kembali ke tempat tinggalnya. -- Kejadian 31:43-55


Jika dalam relasi sosial Anda – semisal dalam hubungan dengan ipar atau mertua, bawahan dan atasan,– terjadi ketidaksetaraan, apa yang Anda lakukan? 
Selama ini Yakub telah diperlakukan oleh Laban, mertuanya sendiri secara tidak manusiawi. Jangankan setara! Puncak dari sikap dan perlakuan tidak manusiawi itu ialah ketika ia berhasil mengejar Yakub, lalu menekannya dengan berbagai perkataan tajam. Namun oleh pembelaan Allah dan pengungkapan fakta dari Yakub, Laban terpaksa berubah sikap dan perlakuan. Tentu saja bukan perubahan menyeluruh dan mendasar. Ia masih melontarkan perkataan manis yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan bahkan kepada anak-anaknya sendiri. Sebab, meski kini ia memanggil dengan mesra mereka sebagai anak-anak dan cucu-cucunya, namun sebenarnya ia hanya menjadikan mereka perantara untuk memeras tenaga Yakub. Tetapi paling tidak dengan mengusulkan agar ia dan Yakub mengadakan perjanjian, tampak jelas bagaimana Laban terpaksa memperlakukan Yakub secara berbeda. Dari budak dan pencuri, kini sebagai manusia setara yang memiliki hak dan mampu  
Sesuai adat kebiasaan waktu itu, pihak-pihak yang mengikat perjanjian membuat upacara perjanjian dengan memotong kurban. Timbunan batu tempat menaruh kurban perjanjian itu mereka namai Timbunan Kesaksian dalam bahasa mereka masing-masing, dan oleh Yakub disebut juga sebagai Menara Pengawas (Mizpa). Laban yang memaparkan isi perjanjian itu. Pertama, agar Yakub setia dalam ikatan nikah dengan anak-anak Laban. Kedua, agar mereka menghormati batas-batas wilayah kewenangan mereka. Isi perjanjian ini menunjukkan Laban mengakui Yakub sebagai seorang yang setara dengannya, terhormat dan sanggup untuk dipercaya.
Agar dihormati dan diperlakukan setara, kita tak perlu bersikap licik atau bertindak keras. Bersikap dan bertindaklah sebagai orang yang memang terhormat dan terpercaya, oleh anugerah-Nya. Dengan sendirinya kelak, sikap dan tindakan kita pasti akan membuahkan hasil. Orang lain selicik sejahat apa pun, akhirnya harus mengakui bahwa kita memang ada dalam anugerah dan berkat-Nya. 

Selasa, 17 Oktober 2017

Allah -- Ada dan Melihat

Ketika pada hari ketiga dikabarkan kepada Laban, bahwa Yakub telah lari, dibawanyalah sanak saudaranya bersama-sama, dikejarnya Yakub tujuh hari perjalanan jauhnya, lalu ia dapat menyusulnya di pegunungan Gilead. Pada waktu malam datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfirman kepadanya: "Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun." Ketika Laban sampai kepada Yakub, --Yakub telah memasang kemahnya di pegunungan, juga Laban dengan sanak saudaranya telah memasang kemahnya di pegunungan Gilead-- berkatalah Laban kepada Yakub: "Apakah yang kauperbuat ini, maka engkau mengakali aku dan mengangkut anak-anakku perempuan sebagai orang tawanan? Mengapa engkau lari diam-diam dan mengakali aku? Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku, supaya aku menghantarkan engkau dengan sukacita dan nyanyian dengan rebana dan kecapi? Lagipula engkau tidak memberikan aku kesempatan untuk mencium cucu-cucuku laki-laki dan anak-anakku perempuan. Memang bodoh perbuatanmu itu. Aku ini berkuasa untuk berbuat jahat kepadamu, tetapi Allah ayahmu telah berfirman kepadaku tadi malam: Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah katapun. Maka sekarang, kalau memang engkau harus pergi, semata-mata karena sangat rindu ke rumah ayahmu, mengapa engkau mencuri dewa-dewaku?" Lalu Yakub menjawab Laban: "Aku takut, karena pikirku, jangan-jangan engkau merampas anak-anakmu itu dari padaku. Tetapi pada siapa engkau menemui dewa-dewamu itu, janganlah ia hidup lagi. Periksalah di depan saudara-saudara kita segala barang yang ada padaku dan ambillah barangmu." Sebab Yakub tidak tahu, bahwa Rahel yang mencuri terafim itu. Lalu masuklah Laban ke dalam kemah Yakub dan ke dalam kemah Lea dan ke dalam kemah kedua budak perempuan itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya. Setelah keluar dari kemah Lea, ia masuk ke dalam kemah Rahel. Tetapi Rahel telah mengambil terafim itu dan memasukkannya ke dalam pelana untanya, dan duduk di atasnya. Laban menggeledah seluruh kemah itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya. Lalu kata Rahel kepada ayahnya: "Janganlah bapa marah, karena aku tidak dapat bangun berdiri di depanmu, sebab aku sedang haid." Dan Laban mencari dengan teliti, tetapi ia tidak menemui terafim itu. Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: "Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu? Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua. Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku. Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam." -- Kejadian 31:22-42

Bagaimanakah harus kita hadapi tuduhan dan tekanan dari pihak orang yang membuat banyak masalah agar kita tidak terprovokasi? Sejauh mana kita patut memaparkan kebenaran kita kepada orang yang telah banyak berbuat salah kepada kita?Allah sendiri membela Yakub, Ia menampakkan diri kepada Laban. Laban diperingatkan keras agar tidak bersikap macam-macam dan mengucapkan perkataan yang tidak pantas kepada Yakub. Bisa kita simpulkan bahwa pastilah Laban tipe orang yang keras dan berkata seenak perut sendiri. Bahkan sesudah mendapatkan peringatan itu pun, semua tuduhan yang ia lancarkan kepada Yakub masih terasa sangat menekan. Melalui peristiwa ini Yakub mengalami keberpihakan Allah kepada pihak yang tertindas, termasuk dirinya. Juga karena Ia punya rencana agung melaluinya, dan ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya.
Ada tiga tuduhan Laban kepada Yakub. Pertama, Yakub melarikan diri. Kedua, Yakub membawa pergi kawanannya tanpa izin. Tersirat di sini bahwa Yakub dianggap melarikan istri-istrinya juga harta yang masih dianggap sebagai milik Laban. Ketiga, Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan ini tidak benar, terkecuali yang ketiga namun yang mencuri bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya. Maka, tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Ia memang harus mewujudkan tekadnya sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas. Itu sebab Yakub merancang kepergian diam-diam. 
Menghadapi tuduhan semena-mena ini, Yakub yang sebetulnya berwatak lembut dan sudah sangat berubah karena pembentukan ilahi, membela diri dengan nada marah. Ada tempat untuk membela diri, ada alasan juga untuk marah karena alasan yang benar. Maka secara terus terang Yakub menelanjangi kekejaman dan ketidakadilan yang telah Laban buat terhadapnya. Yang indah di bagian akhir pembelaannya ini, secara tersamar Yakub mengakui acanya campur tangan Allah membela dan memelihara dirinya. 
Ketidakadilan yang harus Yakub (kita) tanggung, perlu disikapi dalam keyakinan bahwa Allah tidak absen (ada -- hayah) dan melihat (ra-ah), bersama dan membela demi keberlanjutan karya-Nya di dalam kita.