Jumat, 06 Oktober 2017

Lalu-Lintas Bumi-Surga Lancar

Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu. Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik (harfiah: naik turun) di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya (harfiah: di atasnya, yaitu di ujung atas tangga itu) dan berfirman: "Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu." Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya." Ia takut dan berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga." Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu."  -- Kejadian 28:10-22

Esau mengandalkan otot, Yakub mengandalkan otak, keduanya berusaha mengendalikan hidup dengan mengandalkan kebolehan diri sendiri. Kini Yakub harus pasrah pada Allah. Ia harus meninggalkan segala jaminan hidup. Berkat Tuhan ada padanya, namun masa kini dan kelak hidup Yakub belum jelas. Ancaman luapan kegeraman Esau di belakang, semua pencapaian orangtuanya harus ia tinggalkan, di depan tidak pasti apakah akan merupakan saat dan tempat yang ceria atau sebaliknya. Ia kini benar-benar harus bergantung pada sang Pemberi berkat, bukan lagi pada master mind lihai dalam keluarganya, bukan juga pada otak kecilnyam sendiri.
Inilah pengalaman anugerah. Dalam kondisi jiwa dan badan penuh tekanan, jalan yang berat, ia menemukan batu untuk menaruh kepalanya. Semua kenyamanan tempat tidur dan rumah yang aman, jauh dari dia. Yakub sedang melarikan diri, tidak pernah ia “mimpi” akan bermimpi tentang pintu surga yang membuka untuknya. Ia bermimpi. Batu penyangga kepala dalam ketidurannya menjadi pintu gerbang surga yang terbuka baginya. Anugerah Allah, para pesuruh-Nya dan Tuhan Allah di ketinggian kemuliaan-Nya menyapa Yakub. Allah kini menyuarakan lagi berkat perjanjian-Nya kepada Yakub secara langsung. Yakub yang merebut berkat kesulungan dengan jalan menipu, kini bukan saja melihat penampakan mulia, tetapi juga mendengar langsung perjanjian Allah kepada Abraham benar-benar ditujukan kepada dirinya, juga janji penyertaan, keamanan dari Allah untuknya.
Anugerah menjumpai, bukan direnggut oleh upaya manusia. Anugerah memroses, memurnikan, untuk akhirnya menghasilkan suatu karya yang cemerlang dalam kehidupan. Mulai dari nubuat, hasrat benar tetapi cara salah tipu daya, namun kini masuk dalam pemrosesan anugerah, Yakub kini menjalani pemurnian dalam kesehariannya. Saat itu ia hanya mampu mengakui Allah dengan syarat (20) tetapi kelak, oleh anugerah ia akan benar-benar menjadikan Allah, Allahnya pribadi. Milikilah kepekaan akan anugerah yang membuka komunikasi dan relasi terbuka surga dan bumi, Allah dan Anda itu dalam keseharian Anda juga! 

Kamis, 05 Oktober 2017

Mantap dalam Berkat

Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: "Janganlah mengambil isteri dari perempuan Kanaan. Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang isteri dari anak-anak Laban, saudara ibumu. Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa. Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham." :Demikianlah Ishak melepas Yakub, lalu berangkatlah Yakub ke Padan-Aram, kepada Laban anak Betuel, orang Aram itu, saudara Ribka ibu Yakub dan Esau. Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil isteri dari situ--pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: "Janganlah ambil isteri dari antara perempuan Kanaan" -- dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram, maka Esaupun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya. Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot. --- Kejadian 28:1-9

Ishak akhirnya menyadari bahwa insiden perebutan berkat oleh Yakub dari Esau melalui penipuan itu memang selayaknya terjadi. Bukan saja hal itu sesuai dengan nubuatan ilahi sewaktu kedua bersaudara itu masih janin dalam kandungan Ribka, juga karena ungkapan keseharian mereka menunjukkan yang mana yang memberi nilai sepadan bagi hal-hal spiritual yang mana yang hanya berorientasi pada hal-hal karnal (kedagingan). Maka Ishak kini mengulang lagi -- meneguhkan berkat Allah Mahakuasa (El Shadai) untuk Abraham untuk diteruskan kepada Yakub. Segala sesuatu yang terkandung dalam berkat Abraham itu -- keturunan, bangsa-bangsa, tanah, dst. -- diwariskannya kepada Yakub. Kini ia menggunakan istilah "kumpulan" (qahal) yang kelak dipakai untuk kumpulan umat Allah dan yang dalam PB merujuk kepada gereja sebagai ekklesia. Maka dapat disimpulkan bahwa berkat Abraham ini merupakan garis pewujudan rencana Tuhan untuk mengumpulkan orang-orang yang diselamatkan menjadi umat milik-Nya sendiri. 
Mendengar perintah Ishak untuk Yakub tidak mengambil istri dari penduduk setempat, Esau menyadari bahwa orangtuanya tidak berkenan pada pernikahan dia dengan istri-istrinya. Sayangnya kembali kita saksikan menumpulnya pertimbangan Esau. Ia lalu menyimpulkan bahwa Ishak lebih menyukai pernikahan dia dengan kaum kerabatnya, maka dinikahinyalah anak Ismael sebagai istri ketiga. Ini berarti ia tidak menangkap makna pesan itu adalah agar garis keturunan Abraham sungguh beranak-cucu di antara kaum yang dipanggil Allah -- padahal Ismael jelas telah ditolak dari berbagian dalam garis berkat Abraham itu. Sekali lagi Esau memperlihatkan kedangkalan pertimbangannya dan ketumpulan spiritualitasnya. 
Sebagai orang yang menyadari ada di dalam Berkat Allah, kita patut memantapkan kelayakan kita dalam wujud pertimbangan dan tindakan keseharian kita. "Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung." (2 Petrus 1:10)

Rabu, 04 Oktober 2017

Menuai Hasil Pilihan Buruk

Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu. Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: "Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku." Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: "Siapakah engkau ini?" Sahutnya: "Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau." Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: "Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati." Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Jawab ayahnya: "Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu." Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?" Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: "Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?" Kata Esau kepada ayahnya: "Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Dan dengan suara keras menangislah Esau. Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: "Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: "Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh." Ketika diberitahukan perkataan Esau, anak sulungnya itu kepada Ribka, maka disuruhnyalah memanggil Yakub, anak bungsunya, lalu berkata kepadanya: "Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau. Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran, dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya; kemudian aku akan menyuruh orang menjemput engkau dari situ. Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?" Kemudian Ribka berkata kepada Ishak: "Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?"  -- Kejadian 27:30-46

Perebutan berkat kesulungan antara Yakub dan Esau ini ternyata bukan sekadar kompetisi antara otak dan otot, melainkan melibatkan banyak unsur lainnya yang bersama jalin menjalin menjadi suatu kisah yang rumit. Pertama sejak awal kita memerhatikan perlakuan Ishak dan Ribka terhadap dua putra kembarnya ini kita merasakan ada sesuatu yang salah, yang tidak berfungsi baik dalam pasangan itu. Yaitu, Ishak menganak-emaskan Esau, sedangkan Ribka menganak-emaskan Yakub. Seharusnya favoritisme semacam ini tidak boleh terjadi jika keluarga ingin berfungsi harmonis. Kedua ada kesan janggal tentang begitu mudahnya Ishak ditipu oleh Yakub. Bagaimana mungkin Ishak tidak dapat membedakan suara Yakub dari Esau, bulu domba di lengan dan leher Yakub dari bulu lebat badan Esau, daging binatang peliharaan dari daging binatang buruan, masakan istri dari masakan Esau... jadi cukup kuat alasan menduga bahwa ketika memberkati Yakub dengan hak kesulungan sesungguhnya Ishak sangat beralasan untuk ragu namun tetap memberikan berkat itu karena ada dorongan lain yang tidak dicantumkan secara eksplisit dalam nas ini. Ketiga ketika akhirnya Ishak "sadar" bahwa ia tertipu berkat yang telah ia berikan secara menyeluruh kepada Yakub tidak sedikit pun ia kurangi, sesuaikan atau sedikitnya marah terhadap Yakub. Malah "berkat" yang ia berikan kepada Esau di ayat 39 adalah peny esuaian kutuk dengan menegaskan pemisahan diri Esaudari berkat yang telah diberikan kepada Yakub di ayat 28. Yakub akan diam di tanah-tanah gemuk, Esau akan jauh dari tanah-tanah gemuk. Dan sejarah membukakan bahwa seterusnya sampai ke zaman Saul, Daud, Salomo, Yoram, Amaziah... Edom kendati melawan (hidup dari pedang) senantiasa menggenapi nubuatan di kelahiran Esau dan berkat kutuk Ishak kepada Esau, yaitu harus tinggal di tempat-tempat yang tidak menghasilkan dan tunduk ke bawah pengaruh umat Yakub.
Tentang semua kerumitan ini PB memberikan penegasan tentang pilihan Tuhan dan tentang konsekuensi pilihan karnal dan spiritual. Keduanya harus kita endapkan benar dalam spiritualitas keseharian kita.

Selasa, 03 Oktober 2017

Meraih Berkat dengan Tipu Daya

Ketika Esau telah berumur empat puluh tahun, ia mengambil Yudit, anak Beeri orang Het, dan Basmat, anak Elon orang Het, menjadi isterinya. Kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan bagi Ribka. Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." Sahut Esau: "Ya, bapa." Berkatalah Ishak: "Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati." Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya, berkatalah Ribka kepada Yakub, anaknya: "Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau, kakakmu: Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak, supaya kumakan, dan supaya aku memberkati engkau di hadapan TUHAN, sebelum aku mati. Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu. Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang digemarinya. Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati." Lalu kata Yakub kepada Ribka, ibunya: "Tetapi Esau, kakakku, adalah seorang yang berbulu badannya, sedang aku ini kulitku licin. Mungkin ayahku akan meraba aku; maka nanti ia akan menyangka bahwa aku mau memperolok-olokkan dia; dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku dan bukan berkat." Tetapi ibunya berkata kepadanya: "Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku, pergilah ambil kambing-kambing itu." Lalu ia pergi mengambil kambing-kambing itu dan membawanya kepada ibunya; sesudah itu ibunya mengolah makanan yang enak, seperti yang digemari ayahnya. Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya. Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu. Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya. Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: "Bapa!" Sahut ayahnya: "Ya, anakku; siapakah engkau?" Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: "Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!" Jawabnya: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan." Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau." Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia, tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya!" Lalu berkatalah Ishak: "Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau." Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum. Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: "Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku." Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia." -- Kejadian 26:34-27:29

Kita pasti kagum dengan para rasul bukan? Kita juga pasti kagum tentang para tokoh besar seperti Soekarno, Lincoln, John Sung, Einstein, Pascal, dlsb. Namun kita tahu kita tidak bisa mengidolakan manusia mana pun. Sebab mereka terbatas, dan ketika kita menelaah kehidupan mereka lebih dalam kita akan menemukan banyak cacat dan kegagalan. Tokoh sebaik apa pun pasti ada celanya. Orang seburuk apa pun tetap ada sisi baiknya. Hanya Tuhan yang boleh kita puji dan andalkan tanpa pamrih!
Esau telah menjual hak kesulungannya. Yakub dengan semangkuk sup kacang merah berhasil mendapatkan janji Esau untuk memberi hak itu. Namun sejauh ini kita tidak mendapatkan info lebih jauh bagaimana dampak konkrit peristiwa tersebut. Ketika momen berkat-berkat lazim diucapkan oleh para ayah yang akan meninggal, barulah dampak kejadian itu siap untuk dipanen. Sebenarnya dari Allah sudah keluar nubuat bahwa yang akan menerima berkat bukan Esau melainkan Yakub. Sayang bahwa Ishak tidak sungguh menyadari kesungguhan nubuat tersebut. sampai terjadilah peristiwa tragis ini, yaitu bahwa berkat diperoleh oleh Yakub dengan cara tidak terpuji. Bahkan lebih menyedihkan lagi, keluarga bapa leluhur ini terancam pecah, antara Ishak dengan favoritnya Esau yang keduanya tertipu oleh Ribka dan favoritnya Yakub. Kehendak ilahi telah digenapi, sayang melalui ulah manusia yang tidak elegan. Esau yang sembrono memang harus menuai akibat buruk, namun haruskah berkat itu direbut melalui cara penipuan?
Akhirnya berkat yang Allah berikan kepada Abraham, lalu dari Abraham turun ke Ishak, kini diucapkan ulang oleh Ishak kepada Yakub. Tidak satu pun dari tiga para bapa leluhur itu yang sejatinya layak menerima berkat perjanjian Allah yang dahsyat itu. Masing-masing memiliki banyak kekurangan, kegagalan dan kecacatan. Namun anugerah adalah anugerah, yaitu tindakan pilihan dan kebaikan Allah semata karena kasih-Nya dan itu mewujud pada kecenderungan sifat dan kelakuan pihak penerimanya. Kisah Esau membuat kita belajar agar tidak memusatkan perhatian hanya pada yang sementara. Kisah Yakub membuat kita bersyukur bahwa yang harus dipuji-puja ialah Allah, dan hati-hati tentang sisi gelap kita. Kisah mereka adalah kisah kita juga. Mari izinkan anugerah-Nya memperbarui kita tanpa henti!

Sabtu, 30 September 2017

Dampak Sosial-Ekonomi-Ekologis dari Syalom

Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya. Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah. Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: "Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami." Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: "Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini." Dari situ ia pergi ke Bersyeba. Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN."Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air." Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.  -- Kejadian 26:12-33

Usaha bercocok-tanam dan beternak yang Ishak lakukan diberkati Tuhan. Hasilnya luar biasa, hasil pertaniannya seratus kali lipat, peternakannya pun pasti berlipat kali ganda juga. Kisah yang sama kita saksikan berlaku sepanjang kehidupan para bapa leluhur, dari Abraham, kini ke Ishak, kelak Yakub, lalu umat Israel. Mereka tentu berhasil karena kerja keras otak dan keringat terjalin dalam aliran anugerah Allah. Mereka diberkati melimpah namun bukan seperti laut mati yang menyedot aliran berkat namun lupa mengalirkan ke sekitar. Ketika kehadiran Allah memberkati energi umat-Nya, berbagai potensi alam ikut dikembang-suburkan. Orang-orang yang bernaung atau bersentuhan dengan orang yang diberkati Allah, pasti juga mencicipi kelimpahan kasih Allah dan kemurahan umat-Nya.
Pewujudan surga di bumi ini belum tuntas, maka dunia ini bukan surga. Tuhan mengajar melalui berbagai kejadian agar hal ini tidak kita lupakan. Ketika kemakmuran Ishak makin bertambah-tambah, penduduk pribumi bereaksi. Mereka merasa terancam. Ini bisa dimengerti. Sumber tanah dan air sumur mereka bisa terbatasi oleh kemakmuran yang Ishak alami. Belum lagi bila hasil tanah dan ternak Ishak jauh lebih baik dari yang mereka dapatkan. Akhirnya Ishak diusir secara halus. Anak Tuhan yang sungguh mengandalkan Allah tidak bereaksi dalam kepahitan terhadap himpitan sosial. Ia mengalah, bukan kalah. Ia berserah, tetapi tidak menyerah. Dalam iman dan harap ia berikhtiar terus dan berhasil menghidupkan kembali sumber-sumber tertimbun. Sumur di Esek dan Sitna digugat lagi, ia mengalah dan berikhtiar terus sampai Rehobot dan Bersyeba menjadi miliknya. Bahkan, Abimelekh akhirnya datang dan mengakui bahwa memang Ishak ada dalam naungan berkat ilahi.

Jumat, 29 September 2017

Lepas dari Dosa turun-temurun

Maka timbullah kelaparan di negeri itu. --Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Jadi tinggallah Ishak di Gerar. Ketika orang-orang di tempat itu bertanya tentang isterinya, berkatalah ia: "Dia saudaraku," sebab ia takut mengatakan: "Ia isteriku," karena pikirnya: "Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka, sebab elok parasnya." Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, isterinya. Lalu Abimelekh memanggil Ishak dan berkata: "Sesungguhnya dia isterimu, masakan engkau berkata: Dia saudaraku?" Jawab Ishak kepadanya: "Karena pikirku: Jangan-jangan aku mati karena dia." Tetapi Abimelekh berkata: "Apakah juga yang telah kauperbuat ini terhadap kami? Mudah sekali terjadi, salah seorang dari bangsa ini tidur dengan isterimu, sehingga dengan demikian engkau mendatangkan kesalahan atas kami." Lalu Abimelekh memberi perintah kepada seluruh bangsa itu: "Siapa yang mengganggu orang ini atau isterinya, pastilah ia akan dihukum mati." -- Kejadian 26:1-11

Mengapa berbagai peristiwa sama bisa berulang baik dalam perjalanan kehidupan pribadi, keluarga, bahkan sejarah bangsa dan dunia? Bagaimana kita dapat dibebaskan dari "kutuk" harus menjalani kembali hal-hal buruk yang sama yang berlangsung dalam garis keluarga kita?
Dalam nas ini ada dua hal buruk yang berulang kembali dalam riwayat tiga bapak leluhur orang beriman -- kekeringan dengan dampak kelaparan, dan kebiasaan berdusta untuk menyelesaikan masalah. Kekeringan disebabkan oleh siklus alam dan kelaparan yang mengikutinya disebabkan oleh sistem cadangan nasional yang mungkin zaman itu belum diatur atau dikelola dengan baik. Jika kita membandingkan kisah Abraham, Ishak dan Yakub yang sama-sama mengalami masalah krisis pangan, kita melihat beda cara mereka menyelesaikan masalah, beda cara TUHAN menyatakan providensia-Nya kepada mereka. Abraham dan kemudian Yakub melalui Yusuf mendapatkan solusi dari kelaparan dengan pergi ke Mesir -- kendati Abraham bukan sepenuhnya karena providensia Allah melainkan inisiatif pribadi yang kemudian menimbulkan masalah dalam kehidupan keluarganya, sementara Yakub mendapatkan providensia ilahi itu melalui providensia ilahi lebih luas atas kehidupan pribadi putranya Yusuf. Kini untuk Ishak dengan jelas TUHAN melarang dia pergi ke Mesir dan menjanjikan bahwa di tempat ia tinggal sebagai orang asing itulah TUHAN akan memelihara dan menjadikan kehidupannya berlimpah berkat. Sekali lagi TUHAN menegaskan bahwa Ishak mendapat berkat supaya menjadi berkat untuk orang-orang lain.
Hal beroleh berkat untuk memberkati ini jika tidak dilaksanakan oleh siapa pun di dunia ini sedikit banyak menjadi sebab bagi terjadinya banyak ketimpangan sosial-ekonomi, kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan kematian pada orang lain. Dengan tidak bersedia mengelola potensi bumi dan kapasitas diri untuk menjadi berkat bagi orang lain manusia itu telah berubah dari gambar Allah menjadi MONSTER bagi sesamanya. Jalan keluar dari petaka kemiskinan ialah orang harus mempraktikkan prinsip ini: bersyukur sambil mengaku TUHAN sebagai sumber dan pemilik akhir segala sesuatu, berbagi dengan kesadaran kita adalah wakil TUHAN untuk memerhatikan orang lain dan untuk mengakui kesegambaran sesama kita dengan Allah juga.
Abraham dua kali berbohong tentang jatidiri Sarah, Ishak mengulang lagi dusta dalam peristiwa yang hampir persis sama, Yakub berdusta ketika mendapatkan berkat kesulungan dari Ishak  Dosa keturunankah ini? Semacam kutuk generasionalkah? Atau pembelajaran melalui contoh dan peniruan? Bisa jadi masing-masing pendapat itu ada benarnya dan malah mungkin sekali ketiga teori itu memang sah sebagai penjelasan atas kerusakan manusia dari sudut pandang berbeda-beda. Dalam providensia TUHAN juga kini entah bagaimana momen bermesraan Ishak dan Ribka terlihat oleh Abimelekh dan itu menyebabkan mereka harus berhenti bermain sandiwara tentang siapa dan bagaimana sebenarnya hubungan antara keduanya.

Kamis, 28 September 2017

Ke-Daging-an vs Ke-Roh-anian

Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub. Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu. -- Kejadian 25:27-34



Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. -- Ibrani 12:16



Sejak dari kandungan Ribka dua saudara kembar ini sudah saling bergelut. Doa Ribka menunjukkan ia sangat kesakitan dan ia pergi memohon kepada TUHAN -- tentu maksud tersiratnya bukan memohon petunjuk tetapi memohon dilepaskan dari penderitaan itu. Anehnya yang ia terima dari TUHAN adalah nubuatan tentang akan munculnya dua bangsa yang saling berlawanan. Anehnya lagi bukan anak yang sulung akan menjadi bangsa yang unggul melainkan anak yang kedua. Ini terbukti ketika keduanya lahir sebab si pegulat yaitu anak yang kedua keluar sambil memegangi kaki anak pertama. Nubuat tersebut terasa sangat bertolak belakang dengan kenyataan sebab Esau justru yang tampil lebih perkasa dengan naluri liarnya yang menyukai alam ketimbang Yakub yang anak mama. Namun di balik dua ungkapan orientasi hidup berbeda itu terlihat semakin jelas bahwa yang sulung justru lebih memikirkan hal-hal yang sensual dan sementara sedangkan yang adik justru yang lebih memikirkan hal-hal yang spiritual dan jauh ke masa depan. Penggenapan awal nubuatan TUHAN terjadi ketika Esau pulang dari berburu dalam keadaan lelah dan lapar meminta diberikan sup kacang merah. Kesempatan itu dipakai dengan liciknya oleh Yakub yang meminta agar pemuas lapar Esau itu dibarter dengan berkat kesulungan, dan itu dilakukan dengan bersumpah. Dengan ringannya Esau membiarkan berkat kesulungan yang adalah haknya itu lepas darinya karena hanya melihat kefanaan dirinya dan tidak memiliki penilaian sepadan akan arti hak itu.

Kisah Esau dan Yakub ini oleh Perjanjian Baru dilihat dari dua perspektif yang berbeda dan harus diterima bersamaan sebagai kebenaran-kebenaran paradoksal yang melampaui kesanggupan logika kita menampungnya. Di satu pihak ada ketetapan TUHAN atas Yakub dan Esau; pilihan itu dalam Roma 9 dijelaskan sebagai pilihan kedaulatan TUHAN yang juga adalah pilihan anugerah dan rahmat. Yakub yang nomor dua yang secara kasat mata bukan calon tepat untuk menjadi penyandang janji Abraham justru dipilih TUHAN -- inilah anugerah dan rahmat. Pilihan itu dalam Ibrani 12:16 dilihat sebagai peringatan tentang kewajiban kita menghargai hal-hal kekal dan konsekuensi dari setiap dan semua pilihan sementara kita pada perjalanan hidup selanjutnya menuju kekekalan. Maka peristiwa ini hendaknya membuat kita meninggikan anugerah, rahmat, hkmat, kedaulatan dalam pilihan TUHAN dan dengan berhati-hati memilih dan menjalani hidup ini dengan penuh kesadaran akan konsekuensi kekalnya. 

Rabu, 27 September 2017

Rencana-Doa-Wujud

Inilah riwayat keturunan Ishak, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak. Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi isterinya. Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: "Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?" Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. Firman TUHAN kepadanya: "Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda." Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir. -- Kejadian 25:19-26

"Inilah riwayat" -- yang ke sembilan sejak riwayat Adam-Hawa dalam catatan riwayat-riwayat di Kitab Kejadian, atau yang kedua dari tiga generasi penyandang janji berkat Allah untuk dunia yaitu Abraham-Ishak-Yakub. Sepanjang kehidupan Ishak sampai ia meninggal di usia 180 tahun (akhir psl. 35) kita temukan kehidupan Ishak yang intinya pasif -- lahir dari usia ayah-ibu 100 dan 90 tahun, masa kecil ia dilindungi dari peghinaan oleh Ismael, usia muda dengan pasif ia tunduk pasrah untuk dikorbankan, kini mulai dari nas ini berbagai catatan tentangnya yang sedikit lebih aktif, dan di babakan terakhir kehidupannya yang menanggung derita akibat pertikaian di antara kedua anaknya. 
Di bagian yang aktif ini pun sebagian besar kisah Ishak mirip kisah Abraham. Ishak yang terkesan pasif dan tak banyak bicara ini baru menikah sesudah usianya benar-benar matang, empat puluh tahun. Itupun bukan hasil “buruannya” sendiri, melainkan karena pengaturan Abraham. Temperamen berbeda-beda tidak menyebabkan rencana dan karya Allah terbatasi. Rencana kekal Allah berkenan menjelma baik melalui Abraham yang merespons Allah dalam keaktifannya, maupun dalam Ishak melalui respons kepasrahannya . Meski cukup tajam perbedaan antara Ishak dan Abraham dalam hal sifat, namun dalam mendapatkan penggenapan janji Allah keduanya memiliki pengalaman yang sama. Sekitar duapuluh tahun Ishak harus harap-harap cemas tentang kapan ia sungguh dapat menghasilkan penggenap berikut dari janji yang telah Allah berikan kepada ayahnya. Sebab janji Allah bahwa dari keturunan Abraham dan Sarah akan keluar bangsa yang besar yang melaluinya bangsa-bangsa di bumi ini diberkati, kini tergantung pada apakah Ishak akan mendapat anak atau tidak.
Ternyata kapasitas manusiawi Ribka untuk menjadi mata rantai berikut penggenapan janji Allah itu bermasalah. Firman ini mengatakan Ishak mandul! Apakah karena kelemahan kapasitas manusia, janji Allah akan batal dan rencana-Nya akan buyar? Bagaimanakah operasi ilahi mewujudkan rencana kekal itu tersalurkan agar yang tidak berdaya dan tidak layak akhirnya sanggup menjadi wadah pewujudan karya kekal Allah? Jalan keluar bagi situasi muskil ini, jawab bagi pertanyaan teologis genting ini, sederhana saja: DOA! Doalah jembatan penghubung antara realitas ilahi dan realitas manusiawi. Doalah saluran yang mempertemukan yang tak layak dan tak mampu dengan Yang mulia dan dahsyat! 

Selasa, 26 September 2017

Bernas Makna dan Kesaksian

Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. Yoksan memperanakkan Syeba dan Dedan. Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum. Anak-anak Midian ialah Efa, Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura. Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka--masih pada waktu ia hidup--meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur. Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre, yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara isterinya. Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu; dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi. Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu. Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma. Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya. Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka. -- Kejadian 25:1-18

Meski Abaham adalah pola dan teladan tentang banyak hal, namun kehidupan pernikahannya jauh dari ideal. Sesudah hampir saja penggenapan janji Allah gagal karena ia mengambil Hagar sebagai alternatif mengatasi kemandulan Sarah, ia memperistri lagi Ketura. Dari Ketura lahir enam orang anak, sedangkan Ismael anaknya dari Hagar menghasilkan dua belas orang yang kelak menjadi para pemimpin suku. Asyur dan Midian dari Ketura, dan Kedar dari Ismaelnya Hagar, kelak akan sering kita jumpai lagi sebagai bangsa-bangsa yang banyak menimbulkan masalah pada Israel. Buah dari kekeliruan bapak orang beriman harus terus dicicipi pahitnya oleh umat piihan Allah. Ini penting untuk kita simak!
Meski banyak kekurangan dan kegagalan, Abraham mengakhiri hidupnya dengan kemuliaan. Pertama, untuk mengamankan warisan bagi Ishak anaknya yang adalah perjanjian Allah, Abraham mengambil inisiatif. Ia memberi dulu mana bagian untuk Ishak, baru pemberian untuk anak-anaknya yang lain yang tidak termasuk perjanjian Allah. Kedua, Abraham mengakhiri hidup secara menakjubkan, pada usia 175 tahun, 100 tahun sesudah ia menaati Allah untuk pergi lalu mendiami tanah Kanaan. Komentar firman tentangnya, “telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur.” Ia mati bukan karena sakit melainkan dalam bahasa aslinya, karena “menyerahkan nyawanya.” Sesudah menghidupi tahun-tahun yang penuh arti, puas, bernas, dan dalam kelimpahan hidup itu ia pergi menemui yang Empunya hidup.
Meski arti hidup tidak tergantung pada panjangnya usia, namun alangkah indah boleh memiliki hidup yang bernas penuh kesaksian dalam usia yang panjang!

Sabtu, 23 September 2017

Ia menanti-kita dinanti-Nya

Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb. Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang. Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu: "Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?" Jawab hamba itu: "Dialah tuanku itu." Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal. -- Kejadian 24:62-67

Firman yang memastikan kelahiran Ishak (18:14) juga memastikan dikandungnya Yesus oleh Roh Kudus dalam kandungan Maria (Lukas 1:37). Seperti domba bisu yang hanya menurut untuk dijadikan korban persembahan, demikian yang kita saksikan baik dengan Ishak maupun dengan Yesus -- bedanya hanya satu yaitu Yesus sungguh disalibkan, mati, dikuburkan dan hidup kembali bukan dengan disediakannya korban pengganti melainkan Allah sumber hidup membangkitkan Dia kembali. Kini Ishak digambarkan sedang menyendiri melayangkan pandang dan melihat ke kejauhan -- dalam sikap antisipatif, penuh ekspektasi -- dan di horizon pemandangannya terlihatlah rombongan yang memboyong Ribka datang mendekat. Ribka segera menyiapkan diri sesuai adat masa itu mengenakan penutup wajah. Demikianlah di depan para saksi Ishak menjadikan Ribka istrinya. Akan demikian juga gambaran sangat sederhananya dari yang akan terjadi kelak ketika Gereja yang Kudus dan Am bertemu dengan Yesus Kristus Raja segala raja dan bersatu untuk selama-lamanya. Sementara ini -- Ia sedang menatap di horizon-Nya penuh antisipasi dan ekspektasi -- dan kita serta semua yang menaruh harap-iman-kasih kita kepada-Nya berjalan dalam pengudusan-pemuliaan yang bertambah-tambah ke momen perjumpaan mulia itu.
Hendaknya kita makin menyadari Ia menanti-nantikan kita, dan kita semakin mengoperasikan anugerah-Nya berjuang untuk menjadi layak bagi-Nya. Amin -- Maranatha! Haleluyah!

Jumat, 22 September 2017

Providensia Allah

Lalu Laban dan Betuel menjawab: "Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya. Lihat, Ribka ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi isteri anak tuanmu, seperti yang difirmankan TUHAN." Ketika hamba Abraham itu mendengar perkataan mereka, sujudlah ia sampai ke tanah menyembah TUHAN. Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah. Sesudah itu makan dan minumlah mereka, ia dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia, dan mereka bermalam di situ. Paginya sesudah mereka bangun, berkatalah hamba itu: "Lepaslah aku pulang kepada tuanku." Tetapi saudara Ribka berkata, serta ibunya juga: "Biarkanlah anak gadis itu tinggal pada kami barang sepuluh hari lagi, kemudian bolehlah engkau pergi." Tetapi jawabnya kepada mereka: "Janganlah tahan aku, sedang TUHAN telah membuat perjalananku berhasil; lepaslah aku, supaya aku pulang kepada tuanku." Kata mereka: "Baiklah kita panggil anak gadis itu dan menanyakan kepadanya sendiri." Lalu mereka memanggil Ribka dan berkata kepadanya: "Maukah engkau pergi beserta orang ini?" Jawabnya: "Mau." Maka Ribka, saudara mereka itu, dan inang pengasuhnya beserta hamba Abraham dan orang-orangnya dibiarkan mereka pergi. Dan mereka memberkati Ribka, kata mereka kepadanya: "Saudara kami, moga-moga engkau menjadi beribu-ribu laksa, dan moga-moga keturunanmu menduduki kota-kota musuhnya." Lalu berkemaslah Ribka beserta hamba-hambanya perempuan, dan mereka naik unta mengikuti orang itu. Demikianlah hamba itu membawa Ribka lalu berjalan pulang. -- Kejadian 24:40-61


Kisah penemuan Ribka untuk menjadi pendamping Ishak sang pewaris panggilan TUHAN Allah untuk memberkati bangsa-bangsa dunia ini adalah yang terpanjang dalam catatan Kejadian. Di dalamnya, doa Eliezer kepada TUHAN Allah dan kesaksian Eliezer mengulangi isi doanya dan bagaimana TUHAN Allah memimpin dan membuat misinya berhasil adalah bagian terpanjang dalam peikop ini. Meski kepentingan kisah ini ada pada Ishak dan Ribka, sambil melibatkan banyak pemeran lain, namun Nama TUHAN Allah berulang kali mendominasi perikop ini -- ini menunjukkan pesan teologis penting yang boleh kita tarik dari dalamnya, yaitu bahwa di dalam urusan pernikahan dan juga urusan keseharian lainnya sekaligus terjadi jalin-menjalin menyatu dengan kelanjutan penggenapan janji dan rencana Allah -- maka menyatu pula upaya dan doa manusia dengan providensia TUHAN Allah. Penyediaan atau penyelenggaraan atau pengaturan ilahi tidak diwujudkan oleh TUHAN dan dialami oleh manusia sebagai suatu kekuatan yang memaksa dan mengharuskan tetapi sebagai dorongan-tarikan yang mewujud wajar dan menyatu dalam berbagai peristiwa yang sepenuhnya melibatkan pertimbangan, perasaan, kemauan, doa dan tindakan konkrit manusia. Providensia Allah menjadi sekaligus ilahi dan manusiawi. Dalam kisah ini Eliezer yang kerap disebut "mak comblang" menjadi agen providensia Allah itu beroperasi. Ketika nyata bahwa misinya akan berhasil ia pun tidak ingin berlama-lama lagi memboyong calon pengantin perempuan itu untuk segera berjumpa dengan calon pengantin laki-lakinya yaitu Ishak.
Ada satu lagi kisah pernikahan agung yang sedang berproses dalam penyiapan yaitu pengantin laki-laki yang telah berkorban untuk beroleh pengantin perempuan yang kudus -- dalam perspektif Eliezer dan Kitab Wahyu seruan kita wajarnya adalah "Maranatha" segeralah jadi!

Kamis, 21 September 2017

Hangat & Rohani Polesan

Berlarilah gadis itu pergi menceritakan kejadian itu ke rumah ibunya. Ribka mempunyai saudara laki-laki, namanya Laban. Laban berlari ke luar mendapatkan orang itu, ke mata air tadi, sesudah dilihatnya anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, dan sesudah didengarnya perkataan Ribka, saudaranya, yang bunyinya: "Begitulah dikatakan orang itu kepadaku." Ia mendapatkan orang itu, yang masih berdiri di samping unta-untanya di dekat mata air itu, dan berkata: "Marilah engkau yang diberkati TUHAN, mengapa engkau berdiri di luar, padahal telah kusediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu." Masuklah orang itu ke dalam rumah. Ditanggalkanlah pelana unta-unta, diberikan jerami dan makanan kepada unta-unta itu, lalu dibawa air pembasuh kaki untuk orang itu dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia. Tetapi ketika dihidangkan makanan di depannya, berkatalah orang itu: "Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini." Jawab Laban: "Silakan!" Lalu berkatalah ia: "Aku ini hamba Abraham. TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. Dan Sara, isteri tuanku itu, sesudah tua, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu telah diberikan tuanku segala harta miliknya. Tuanku itu telah mengambil sumpahku: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan, yang negerinya kudiami ini, tetapi engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang isteri bagi anakku.... -- Baca: Kejadian 24:28-49

Laban tiba-tiba menjadi penuh perhatian -- menyambut, mengatur pesta dan penginapan bagi Eliezer -- mengapa? Nas ini membukakan sekilas karkter Laban yang berorientasi kepada harta dan memanfaatkan orang demi harta: "Sesudah dilihatnya anting-anting dan gelang" pemberian Eliezer yang dipakai Ribka! Dengan cepat pula ia menyesuaikan diri -- tiba-tiba ia menyebut Allah sebagai TUHAN. Sungguhkah Laban penuh perhatian terhadap orang asing? Sungguhkah ia mengenal Allah sebagai TUHAN dan memiliki hubungan yang intim dengan-Nya sebagaimana dikatakan firman tentang Abraham: beriman, berjalan di hadapan-Nya? Kalau hanya di sini mungkin kita akan cepat menyimpulkan Laban sangat bermurahhati, suka menyambut dan memberi tumpangan, serta seorang yang  spiritual. Ternyata petunjuk singkat tentang melihat benda-benda berkilauan sekitar 250-500 gram beratnya itu, didukung oleh pasal-pasal berikut ketika ia memperbudak Yakub yang menginginkan Rahel dan bukan Lea menjadi istrinya, ditambah peristiwa tentang Rahel membawa berhala terafim kepunyaannya -- tahulah kita sifat asli Laban sesungguhnya. 
Kita perlu menguji apakah sikap dan tindakan sosial kita serta bahasa spiritual kita memang asli atau hanya polesan atas hati yang selalu haus akan harta? Bukan saja orang lain bisa bersosial-spiritual palsu, kita yang mengaku orang percaya pun bisa sama duniawinya, idem rakus dan serakahnya seperti orang yang mengilahkan benda. 

Rabu, 20 September 2017

Doa: Manusiawi dan Ilahi

Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya dan pergi dengan membawa berbagai-bagai barang berharga kepunyaan tuannya; demikianlah ia berangkat menuju Aram-Mesopotamia ke kota Nahor. Di sana disuruhnyalah unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air. Lalu berkatalah ia: "TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum--dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu." Sebelum ia selesai berkata, maka datanglah Ribka, yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, isteri Nahor, saudara Abraham; buyungnya dibawanya di atas bahunya. Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik. Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: "Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu." Jawabnya: "Minumlah, tuan," maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: "Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum." Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu. Dan orang itu mengamat-amatinya dengan berdiam diri untuk mengetahui apakah TUHAN membuat perjalanannya berhasil atau tidak. Setelah unta-unta itu puas minum, maka orang itu mengambil anting-anting emas yang setengah syikal beratnya, dan sepasang gelang tangan yang sepuluh syikal emas beratnya, serta berkata: "Anak siapakah engkau? Baiklah katakan kepadaku! Adakah di rumah ayahmu tempat bermalam bagi kami?"Lalu jawabnya kepadanya: "Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor." Lagi kata gadis itu: "Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalampun ada." Lalu berlututlah orang itu dan sujud menyembah TUHAN, serta berkata: "Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan TUHAN telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!"  -- Kejadian 24:10-27

Eliezer menjadi perpanjangan upaya Abraham sekaligus rencana TUHAN Allah untuk pergi menemukan calon istri Ishak yang di dalamnya tahap lanjut penggenapan pewujudan perjanjian TUHAN Allah. Kepercayaan itu ia terima dengan penuh tanggungjawab, ia pergi dengan bekal semacam mas kawin dan dalam doa yang diungkapkannya sesampainya ia di wilayah kota Nahor. Penting kita perhatikan beberapa hal dalam upaya penuh doa-nya ini. Pertama, ia pergi ke sumur yang memungkinkan ia bertemu dengan banyak gadis dalam tugas mereka mengambil air -- sumur adalah sumber alam penopang kehidupan, sumur adalah tempat paling tepat waktu itu untuk bertemu dengan para gadis dan dari sikap serta cara kerjanya dapat terlihat sifat dan sikap mereka. Kedua, ia berdoa kepada TUHAN Allah Abraham yang telah memanggil, berjanji, menggenapi rencana-rencana-Nya kepada Abraham, membuat tujuannya berhasil. Doa untuknya berarti: 1) Tuhan bekeja di dalam upayanya dan membuat itu berhasil, 2) Tuhan mewujudkan apa yang menjadi ketetapan-Nya bagi Ishak, dan 3) Tuhan menyatakan sifat-Nya yang kasih-setia baik kepada Abraham dan juga kepada Ishak melalui penyertaan-Nya dalam tugas Eiliezer ini. Ketiga, ia menjabarkan beberapa hal agar terjadi  -- gadis yang murah hati, cekatan dan peduli, cantik -- dengan kata lain yang berkarakter dan berpenampilan serasi menjadi pasangan sepadan pemuda yang di dalamnya rencana TUHAN Allah akan dikerja-wujudkan. Ternyata belum usai doanya Eliezer telah menerima jawaban TUHAN. Ribka datang, menunjukkan semua sikap dan tindakan sebagaimana pertimbangan Eliezer yang matang dalam perspektif hikmat kebudayaan waktu itu. 
Doa sendiri seumpama sumur yang tak henti-hentinya menyediakan penyegaran, penopangan, pembasuhan, pelepasan dahaga bagi kelanjutan kita menjalani rencana Allah. Di dalam doa dimungkinkan secara misterius-ajaib jalin-menjalin riil antara ketetapan dan pengerjaan ilahi dengan upaya pertimbangan hikmat manusiawi yang dikuduskan. 

Selasa, 19 September 2017

Menyiapkan Pernikahan Generasi Berikut

Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal. Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: "Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku." Lalu berkatalah hambanya itu kepadanya: "Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar?" Tetapi Abraham berkata kepadanya: "Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana. TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini--Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku. Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana." Lalu hamba itu meletakkan tangannya di bawah pangkal paha Abraham, tuannya, dan bersumpah kepadanya tentang hal itu.  -- Kejadian 24:1-9



Pemilihan calon pasangan hidup, perjodohan, pernikahan bukan sekadar keharusan biologis-psikologis-sosial melainkan jauh lebih mendasar di dalamnya adalah soal pembentukan ikatan perjanjian yang di dalamnya rencana ilahi boleh berproses dan mewujud. Apabila dalam catatan sebelum ini tidak pernah disebutkan orangtua mengatur perjodohan anak mereka -- meski kemungkinan adat kebiasaan itu memang ada di zaman itu sebagaimana yang masih cukup berlaku di timur sampai kini, secara khusus nas ini mencatat Abraham menyiapkan pencarian calon teman hidup Ishak karena janji TUHAN Allah tentang keturunan yang berlimpah dan memberkati bangsa-bangsa itu kini jatuh kepada Ishak. Untuk itu Abraham menugasi hambanya yang paling tua yaitu yang diberi kuasa untuk menjadi pengatur seluruh kepunyaan Abraham untuk pergi ke tanah asal Abaham. Pertama dengan pergi ke tanah asalnya berarti Abraham mengharapkan calon istri Ishak itu berasal dari garis keturunan Sem, dan ini ditegaskan dengan tekanan "bukan dari Kanaan" -- intinya di sini mengupayakan pasangan hidup yang tidak melenceng dari pengenalan . penyembahan kepada TUHAN Allah pencipta langit dan bumi. Kedua, Eliezer harus membawa calon istri Ishak dan bukan sebaliknya menyebabkan Ishak kembali ke tanah asal ayahnya -- intinya di sini mendapatkan pasangan hidup yang bersedia menjalani panggilan TUHAN untuk membentuk keluarga yang menghasilkan keturunan yang di dalam dan melaluinya berkat-berkat Allah memancar sebagai penggenapan rencana-Nya.


Masa kini generasi muda kita kebanyakan menemukan pasangan hidup melalui kontak-kontak mereka sendiri dalam pergaulan di sekitar kegiatan keseharian -- pendidikan, pekerjaan, kegiatan pelayanan, bahkan belakangan ini melalui media sosial. Kemungkinan untuk terjadinya perjodohan yang tidak sepadan karena tidak seiman dan tidak sungguh menjalani panggilan ilahi yang sama makin besar masa kini. Karena itu orangtua, pembina rohani, keluarga, gereja perlu sedini mungkin mengemban teladan Abraham memberikan pendidikan rohani tentang prinsip pencarian teman hidup dan penetapan calon istri/suami yang berfokus pada menyembah TUHAN Allah yang benar dan mengikuti panggilan-Nya dalam hidup.

Sabtu, 16 September 2017

Tidak memumpungi

Kemudian bangunlah Abraham lalu sujud kepada bani Het, penduduk negeri itu, serta berkata kepada mereka: "Jika kamu setuju, bahwa aku mengantarkan dan menguburkan isteriku yang mati itu, maka dengarkanlah aku dan tolonglah mintakan dengan sangat kepada Efron bin Zohar, supaya ia memberikan kepadaku gua Makhpela miliknya itu, yang terletak di ujung ladangnya; baiklah itu diberikannya kepadaku dengan harga penuh untuk menjadi kuburan milikku di tengah-tengah kamu." Pada waktu itu Efron hadir di tengah-tengah bani Het. Maka jawab Efron, orang Het itu, kepada Abraham dengan didengar oleh bani Het, oleh semua orang yang datang di pintu gerbang kota: "Tidak, tuanku, dengarkanlah aku; ladang itu kuberikan kepadamu dan gua yang di sanapun kuberikan kepadamu; di depan mata orang-orang sebangsaku kuberikan itu kepadamu; kuburkanlah isterimu yang mati itu." Lalu sujudlah Abraham di depan penduduk negeri itu serta berkata kepada Efron dengan didengar oleh mereka: "Sesungguhnya, jika engkau suka, dengarkanlah aku: aku membayar harga ladang itu; terimalah itu dari padaku, supaya aku dapat menguburkan isteriku yang mati itu di sana." Jawab Efron kepada Abraham: "Tuanku, dengarkanlah aku: sebidang tanah dengan harga empat ratus syikal perak, apa artinya itu bagi kita? Kuburkan sajalah isterimu yang mati itu." Lalu Abraham menerima usul Efron, maka ditimbangnyalah perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya dengan didengar oleh bani Het itu, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar. Demikianlah ladang Efron, yang letaknya di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta segala pohon di ladang itu, bahkan di seluruh tanah itu sampai ke tepi-tepinya, diserahkan kepada Abraham menjadi tanah belian, di depan mata bani Het itu, di depan semua orang yang datang di pintu gerbang kota. Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan. Demikianlah dari pihak bani Het ladang dengan gua yang ada di sana diserahkan kepada Abraham menjadi kuburan miliknya. -- Kejadian 23:7-20

Sesuai adat zaman itu Abraham dan para tokoh bani Het membahas tentang tanah untuk menguburkan Sarah itu di pintu gerbang kota. Karena hormat mereka kepada Abraham mereka rela memberikan begitu saja tanah pilihan yang Abraham inginkan yaitu tanah ladang milik Efron yang rupanya adalah pemimpin kota Kiryat-Arba itu sendiri. Tetapi Abraham tidak memanfaatkan itu sehingga ia memaksa untuk membayar harga yang diminta. Akhirnya Efron menyebutkan harga empat ratus syikal perak. Dengan menimbang perak seberat 400 syikal dan membayarkan itu kepada Efron, Efron lalu memberikan ladangnya di Makhpela beserta segala pohon di ladang itu dan gua tempat Abraham menguburkan Sarah. Peristiwa itu disaksikan oleh semua orang yang datang di pintu gerbang. 
Inilah sikap dan perilaku raja semestinya, sejatinya -- sebagai orang yang diberkati-memberkati oleh Tuhan Abraham tidak mumpung dan memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Sebagai pemercaya anak-anak Abraham hendaknya sikap ini ada pada kita juga.

Jumat, 15 September 2017

Kedukaan dan Kesaksian

Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara. Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het: "Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu; berikanlah kiranya kuburan milik kepadaku di tanah kamu ini, supaya kiranya aku dapat (mengantarkan dan -- tidak ada di naskah aslinya) menguburkan isteriku yang mati itu." Bani Het menjawab Abraham: "Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja agung di tengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu."  -- Kejadian 23:1-6


Sarah mati dalam usia sangat lanjut -- 127 tahun, satu-satunya perempuan yang usianya disebut dalam Alkitab -- 37 tahun sesudah ia memperanakkan Ishak. Abraham sungguh kehilangan Sarah teman perjanjian-rekan pewaris kehidupan sampai kedukaannya disebut sebagai "meratapi dan menangisi" kematian Sarah. Meratapi, menangisi dan kemudian menguburkan adalah sikap wajar mengungkapkan kasih dan hormat pihak yang berduka kepada pihak yang meninggal. Karena itu sesudah selesai mengungkapkan kedukaannya Abraham pergi ke pintu gerbang kota Kiryat-Arba (kota Arba -- karena dibangun oleh Arba -- Yoshua 14:15) yang kemudian pada zaman penaklukan Kanaan disebut kota Hebron. Abraham kendati kaya raya adalah orang asing dan pendatang maka ia tidak memiliki hak kepemilikan atas tanah untuk dipakai menguburkan Sarah. Maka di balik peristiwa kedukaan ini muncullah dialog menarik tentang siapa Abraham dalam anggapan penduduk setempat. Secara status Abraham hanya orang asing dan pendatang persis pengakuannya ketika memohon agar boleh membeli tanah untuk kuburan itu, tetapi secara penilaian faktual para penduduk setempat ia adalah "tuanku," "raja agung" di tengah-tengah mereka. Tentu dengan kilas balik kita paham kesan itu terjadi karena kisah-kisah yang mereka dengar -- perjumpaan Abraham dengan Firaun, dengan Abimelekh, kemenangan Abraham mengalahkan raja-raja sekutu, doanya untuk Sodom-Gomora -- intinya seluruh narasi Abraham menimbulkan kesan tentang pengaruh kerajaan dalam dirinya ke sekitarnya.

Dalam konteks kehidupan seutuhnya kedukaan sekalipun menjadi kesempatan untuk menyaksikan kemuliaan yang didapat dari berjalan di hadapan TUHAN.

Kamis, 14 September 2017

Silsilah dan Rencana Ilahi

anak juga, yakni Tebah, Gaham, Tahash dan Maakha.  -- Kejadian 22:20-24


Dari pembacaan Kejadian 11 kita mendapatkan dua hal: - silsilah dari keturunan Nuh dengan sorotan khusus pada silsilah Sem yang darinya lahir antara lain Terah dan kemudian Abraham, dan - Terah memprakarsai migrasi dari Ur ke Kanaan dan kelak di dalam kehidupan Abrahamlah panggilan Allah untuk pergi meninggalkan Ur ke negeri yang akan Ia nyatakan itu diteguhkan. Kisah Abraham bukan hanya urusan pribadinya -- meski melalui perenungan sejak pasal 12 sampai ayat-ayat sebelum ini begitu banyak hal prinsipil tentang hubungan dengan TUHAN boleh kita gali darinya. Kini kita melihat persiapan kepada keturunan Abraham yang akan memberkati bangsa-bangsa seisi bumi -- yaitu dari Milka (istri saudara Abraham, Nahor) yang adalah keponakan Abraham lahir salah seorangnya adalah Betuel yang menurunkan Ribka dan Laban. Ribka kelak akan menjadi menantu Abraham dan bersama Ishak akan melahirkan Esau dan Yakub, dan seperti halnya Nahor mendapatkan dua belas anak, Yakub pun kelak akan memiliki dua belas anak. Bedanya Nahor mendapatkan anak sebanyak itu dari Milka dan Reuma gundiknya, sedangkan Yakub dari Lea dan Rahel dan masing-masing gundik mereka. 
Satu hal lagi yang penting untuk kita simak adalah penyebutan Milka dan Ribka dalam silsilah yang menjadi bagian dari pewujudan rencana Allah menjadikan Abraham berkat bagi dunia. Di luar kelaziman budaya timur (tengah juga) yang patriarkal -- pencatatan Kejadian sejak awal telah mengangkat Hawa, kemudian Sarah dan kini Milka serta Ribka. Ini secara tidak langsung menegaskan julukan indah tentang perempuan dalam Alkitab -- bukan kelas dua, bukan sarana memperpanjang keturunan -- tetapi: rekan seperjanjian. Konsep rekan seperjanjian ini sesungguhnya jauh melebihi konsep emansipasi atau liberasi dlsb. yang banyak dijuangkan dalam zaman modern. Pasangan yang sepadan -- lelaki dan perempuan yang berekanan dalam perjanjian -- adalah yang di dalam dan melaluinya rencana Allah untuk dunia ini diwujudkan. 

Rabu, 13 September 2017

Bukan hanya Konsep

Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."  -- Kejadian 22:10-12
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? -- Roma 8:32
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. -- Roma 12:1-2

Apabila kita merenungkan nas ini bukan dari keterpakuan doktriner tetapi dari pendekatan naratif-dramatis sambil melibatkan emosi dan imajinasi di samping pertimbangan rasional kita, kita akan mengalami ketakjuban baru tentang para tokoh di dalamnya juga tentang arti peristiwa ini bagi masing-masing mereka dan maknanya bagi kita masa kini. Sudah kita lihat bagaimana Abraham tumbuh dalam iman dan pengenalannya akan Tuhan. Abraham juga tumbuh dalam hubungannya dengan Ishak dan dalam bagaimana ia harusnya menempatkan Ishak dalam hatinya. Ketika ia bersedia menyerahkan Ishak secara total untuk diambil oleh Tuhan, saat itu gentar-taat-kasihnya kepada Tuhan menjadi utuh-bulat dalam dirinya dan menjadi konkret-nyata untuk TUHAN juga. Justru di saat itu ia mengalami bahwa TUHAN adalah kudus dan setia dan rahimi, juga saat itulah ia menerima kembali anak yang dikorbankannya itu dalam penilaian dan arti dan hubungan yang baru. 
Lebih indah dari semua ini adalah -- tanpa Abraham menyadarinya sendiri waktu itu -- ia telah melakukan bayang-bayang samar dari yang terjadi sungguhan dan tanpa ada penggantian seperti yang ia dan Ishak alami, yaitu ketika Bapa menyerahkan Anak tunggal-Nya yang kekasih demi menggantikan kita dari kutuk dosa. Bahkan sesudah Bapa dan Anak itu rela melakukan pengorbanan sedemikian besar, itu menjadi dasar bagi kita mengalami terus limpah karunia-karunia-Nya yang kudus, indah, ajaib membangun dan membentuk dan "mengilahi"-kan kita. Masakan kita yang sudah melihat drama lanjutan di Kalvari ini tidak harusnya melebihi Abraham yang belum melihat pengorbanan Bapa-Anak itu?
Hanya ketika semua yang berharga bagi kita tidak kita biarkan melekat membelit hati tetapi kita serahkan penuh ke dalam pengendalian Tuhan, barulah kita dapat menerima balik arti dan nilai dari hal berharga yang kita lepaskan itu dan kita sungguh terbuka untuk menerima pusaka ilahi yang Ia karuniakan bagi kita dari surga. Maka jangan berat melepas untuk Tuhan semua yang melekat di hati -- manusia, harta, karier, posisi, cita-cita. Amin.