Jumat, 02 September 2011

Kebesaran Allah



Aku melihat Tuhan… tinggi dan menjulang,… Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
Yesaya 6:1-2
 

Kebenaran kedua tentang Allah, dan aspek kedua dari kekudusan-Nya, ialah kebesaran-Nya. Visi ini melihat Allah “tinggi dan menjulang,” dengan serafim bersayap enam melayang-layang menyembah di hadapan-Nya. Setiap deskripsi itu mengandung pelajaran untuk kita.

            Kita mulai dengan dua sayap yang dipakai untuk menutup wajah para malaikat, sebagai gestur yang mengungkapkan pembatasan diri yang penuh hormat dalam hadirat Allah: yaitu sikap untuk berpada diri dan tidak mengintai ke hal yang tidak Allah bukakan tetapi hidup hanya dengan apa yang telah ia katakan. Ketakjuban termasuk ketidaksediaan untuk tidak mengambil satu langkah pun melampaui apa yang Alkitab katakan. Ketika kita mencapai batas luar dari apa yang Alkitab katakan, tiba saatnya untuk kita berhenti berargumen dan mulai menyembah.

            Sepasang sayap dipakai menutupi kaki para malaikat mengungkapkan sikap pengosongan diri di hadirat Allah. Sikap itu juga satu aspek penyembahan sejati. Para penyembah sejati ingin menghapus diri mereka dari pemandangan, tidak menarik perhatian ke diri mereka, supaya segenap pikiran dan hati, mulai dari mereka, dapat berkonsentrasi tanpa gangguan pada Allah saja.

            Unsur ketiga dalam postur malaikat ialah masing-masing terbang atas dua sayap mereka bagaikan burung, siap untuk pergi untuk Allah, untuk menjalani kehendak-Nya – begitu perintah-Nya diberikan. Kesiagaan itu pun termasuk unsur penyembahan sejati: kita mengakui kebesaran Allah dengan menempatkan diri kita melayani Dia.


Tidak hormat, penonjolan diri, dan tidak bertindak sering kali merusak penyembahan. Apakah penyembahanku bercela karena hal-hal itu?

Tuhan, aku ingin melupakan diri sendiri, berkonsentrasi pada-Mu, dan menyembah Dikau.

Kamis, 01 September 2011

Allah Tuhan



Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta.

Yesaya 6:1


Bacalah Yesaya 6 seluruhnya. Hari ini dan empat hari berikut kita akan mempelajari kebenaran yang Yesaya bukakan bagi kita tentang Allah. Kekudusan yang menjadi perbedaan khas antara Allah dan manusia, adalah simpulan tepat tentang semua kebenaran ini.

Pertama, Allah adalah Tuhan, Yesaya melihat simbol visual ketuhanan-Nya: Allah duduk di takhta. Pasti suatu takhta yang besar sebab menurut Yesaya, ujung jubah-Nya memenuhi Bait,” ruang kudus Bait itu berukuran sekitar 18 kali 12 meter dengan tinggi 13.5 meter.

Visi Allah sebagai Raja, entah dilihat secara visual atau hanya dengan mata pikiran, sering berulang dalam Alkitab. Mazmur-mazmur mencanangkan bahwa Allah memerintah. Yohanes melihat“sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang” (Why. 4:2). Mikha melihat “Tuhan sedang duduk di atas takhta-Nya” (1Rj. 22:19) dan karenanya tidak takut ketika ia melihat raja Ahab dan Yosafat duduk di takhta mereka di gerbang Samaria(1Rj. 22:10). Visi Allah di takhta menjadi jelas bagi Mikha yang sedang dalam tugas.

Visi penyelenggaraan Allah yang berdaulat akan luar biasa memberikan kekuatan. Mengetahui bahwa tak ada hal dalam dunia Allah yang terjadi lepas dari kehendak Allah akan menggentarkan orang fasik, tetapi hal itu justru memantapkan orang kudus, karena memberikan keyakinan bahwa Allah membuat segala sesuatu berlangsung dan segala peristiwa yang terjadi dengan makna, entah kita mengertinya atau tidak ketika hal itu terjadi. Petrus berbicara tentang salib menyatakan bahwa para pendengarnya telah bersalah membunuh Kristus dan harus bertobat, tetapi ia tegas menyatakan bahwa hal itu tidak terjadi di luar kehendak Allah (Kis. 2:23). Mengetahui bahwa Allah bertakhta menopang kita yang mengalami tekanan dan menghadapi kebingungan, kepedihan, permusuhan, dan kejadian-kejadian yang terkesan tidak bermakna.


Sebelum Anda berdoa, entah sendiri atau bersama orang lain, fokuslah pada beberapa ayat yang menegaskan Allah sebagai Tuhan dan Raja.

Berdoalah dengan mengingat bahwa Anda datang kepada raja dan boleh membawa “permohonan besar.”

Rabu, 31 Agustus 2011

Jangan Takut Berpikir

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan… segenap akal budimu.
Matius 22:37


Ketika Kristus memanggil kita, sebagai bagian dari hukum pertama, untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi kita, Ia meminta kita benar-benar menggunakan pikiran kita. Maksudnya bukan saja kita perlu belajar doktrin dalam kevakuman, tetapi menerapkan doktrin ke fakta-fakta dunia Allah sebagaimana yang kita kenal supaya kita boleh menafsirkannya dengan tepat dan dalam segala mampu membedakan apa pikiran dan kehendak Allah.

            Orang Kristen dilarang tidak tertarik pada dunia. Iman alkitabiah diberikan kepada kita bukan sekadar untuk mendapatkan jaminan masuk surga tetapi juga untuk menyediakan kita prinsip untuk hidup kreatif dan imajinatif di sini dan kini. Kita harus memakai pikiran yang Ia karuniakan kepada kita dengan menerapkan kebenaran yang Ia nyatakan ke seluruh hidup, dalam rangka agar semuanya boleh dikuduskan.

            Memang kita harus menjaga jarak dari dunia dalam arti kita tidak boleh menganggap dunia ini rumah kita atau menganggapnya sebagai ganjaran kita sejati. Sikap memandang dunia ini sebagai pilihan kedua disebabkan orang Kristen berkata “bagiku hidup adalah Kristus” (Fil. 1:21). Tetapi setara dengan itu, kita tidak boleh membelakangi dunia dan hilang interes kepadanya. Allah memerhatikan dunia, kita pun harus.

            Ini akan berarti kita sedia untuk memikirkan tentang masalah-masalah mendesak masa kini – relasi antar ras, relasi kerja, relasi dengan penganut agama lain, kemiskinan, pencemaran, human-trafficking, berbagai wabah penyakit. Juga ketika kita berusaha memenangkan orang lain kepada Kristus kita harus menghadapi kesulitan hidup yang mereka alami. Kesaksian Kristen bukan sekadar melemparkan ayat-ayat Alkitab, tetapi duduk berdampingan dengan orang lain yang ingin kita bantu dan memikirkan bersamanya bagaimana memecahkan masalah mereka.


Siapkah aku memakai akal budiku secara demikian?
Tuhan, jadikanku tidak takut berpikir, peduli, dan terlibat.

Dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu oleh J. I. Packer

Selasa, 30 Agustus 2011

Jangan Khawatir tentang Apa pun


Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
Matius 6:25


Bacalah kembali ucapan Yesus tentang kekhawatiran ini (Matius 6:24-35) dan catat alasan yang ia berikan agar kita tidak khawatir dan mengapa tidak perlu khawatir.

            Kekhawatiran menghancurkan kepekaan tentang proporsi. Ketika kita khawatir tentang makanan dan pakaian, kita tidak dapat menghargainya sebagai pemberian agung Allah yaitu hidup ini.

            Kekhawatiran menghancurkan persepsi rohani. Ketika kita diserap olehnya, kita tidak bisa peka akan nilai yang Allah berikan kepada kita. Jika Ia memerhatikan burung, tidak dapatkah kita menaruh percaya pada Bapa surgawi kita untuk menyediakan kebutuhan kita?

            Berikutnya pertimbangan akal sehat. Anda tak dapat mengubah situasi (Siapa dapat memperpanjang usia sejengkal saja dengan berkhawatir?) (27); jadi apa gunanya khawatir?

            Akhirnya – dan ini jepitannya – selain tak mencapai apa pun, khawatir pun tidak perlu. Allah yang sama yang memakaikan bunga dan rumput dengan keindahan pasti akan juga memberi pakaian, makanan dan minuman yang diperlukan oleh anak-anak-Nya.

            Yesus menyebut para murid “orang yang beriman kecil,” ini menunjukkan bahwa khawatir keluar dari kurang / tidak percaya. Jika kita sungguh percaya janji Allah dan relasi-Nya kepada kita sebagai Bapa yang mengasihi, murah hati, perhatian, kita tidak mungkin penuh dengan kekhawatiran. Sebaliknya kita akan mencari dulu Kerajaan-Nya (hidup keselamatan, ketaatan, dan persekutuan) dan kebenaran-Nya (kehendak-Nya dalam keseharian kita). Dengan begitu kita akan menjalani realitas hidup dalam kesukaan iman akan pemeliharaan-Nya yang sempurna dan mencakup seisi dunia ini.


Apa yang Anda khawatirkan kini?

Serahkan tiap kekhawatiran kepada Allah dengan menyebutnya atau dengan tindakan simbolik lainnya.

Dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu karangan Dr. James I. Packer

Senin, 29 Agustus 2011

Terlibat dalam Dunia


Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.
Kejadian 1:28
 

Suatu aliran filsafat tertentu beranggapan bahwa dunia materi ini jahat dan tak bernilai. Karena itu kita harus mengurangi berurusan dengannya. Spiritualitas sejati berarti hidup menjauh dari dunia sebisa mungkin; kekudusan dipahami sebagai menahan diri dari lalu lintas tidak perlu dengan hal-hal ciptaan. Tidak ada yang penting untuk dipelajari dari realitas di bawah ini (dunia), dan semakin kita tidak tertarik kepadanya, semakin sehat jiwa kita.

            Spiritualitas seperti itu bukan spiritualitas Kristen, namun masih saja hal itu menyelinap ke dalam gereja Kristen. Sebagian orang memupuk ide bahwa pemikiran konstruktif tentang isi dan masalah dunia bukan urusan Kristen; atau mereka menjaga agar iman Kristen mereka terpisah dari studi sekular di ruang berbeda dalam akal mereka, sebab mereka tidak melihat kemungkinan keduanya saling memperkaya. Memang harus diakui orang Kristen semacam itu memiliki semangat berkobar, tetapi jangan kaget bila mereka menyerang orang Kristen lain sebagai setengah hidup dan tidak bertumbuh.

            Ide filsafat Manichean itu jelas salah total. Allah tidak ingin orang Kristen sampai kehilangan ketertarikan kepada dunia. Ia menciptakan manusia untuk memerintah tatanan ciptaan; kita harus memerintah dunia dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah; dengan demikian kita boleh dan harus mempelajari isi dan masalah dunia ini. Ini termasuk panggilan kita baik sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen.



Tidakkah penting (khususnya untuk generasi muda) mempelajari bagaimana pendekatan Alkitab tentang sejarah, ilmu alam, filsafat, psikologi, dan studi “sekular” lainnya?

Doakan anak muda yang Anda kenal yang merasa terbagi dua tentang isu tadi, agar mereka berhasil mengembangkan pola pandang kehidupan yang Kristiani.

Minggu, 28 Agustus 2011

Menginginkan Kemuliaan Allah

Aku menghormati Bapa-Ku… Aku tidak mencari hormat bagi-Ku.
Yohanes 8:49-50
Kesalehan (keilahian) adalah kualitas hidup yang ada dalam mereka yang memuliakan Allah. Orang yang saleh tidak keberatan dikatakan bahwa panggilan tertinggi hidup mereka ialah menjadi alat kemuliaan Allah. Mereka justru menganggap itu sebagai sumber kepuasan dan kepenuhan hidup. Ambisi mereka ialah mengikuti rumusan hidup agung yang Paulus simpulkan tentang Kekristenan: “Muliakanlah Allah dalam tubuhmu,” “entah kamu makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 6:20; 10:31). Pengharapannya yang terbesar adalah meninggikan Allah dengan segenap keberadaan dan dalam semua tindakan mereka.
Seperti Allah sendiri, orang yang saleh sangat cemburuan dan ingin hanya Allah, Allah saja yang dihormati. Kecemburuan semacam itu adalah bagian dari kenyataan bahwa gambar Allah dalam mereka telah mengalami pembaruan. Kini ada doksologi tertulis dalam hati mereka, dan diri mereka tidak pernah sepenuh seperti ketika mereka memuji Allah tentang hal-hal mulia yang Ia telah lakukan dan memohon agar dapat lebih memuliakan Allah seterusnya.
Kita boleh berkata bahwa melalui doa mereka, mereka dikenal – oleh Allah, jika bukan juga oleh manusia. Doa di tempat tersembunyi adalah sumber kehidupan orang saleh. Dan bila kita bicara tentang doa, kita bukan merujuk ke formalitas santun, hati-hati, terpola, penuh pertimbangan diri yang terkadang dianggap sebagai doa yang sejati. Orang saleh tidak berdoa sambil bersandiwara, sebab hatinya ada di dalam doa. Doa baginya adalah pekerjaan utamanya. Dan beban doanya selalu sama, pengungkapan hasrat terkuat dan terpastinya: bahwa Allah dipermuliakan.
Lihat mazmur 21:13(14); 57:5(6); Yoh. 12:28; Matius 6:9.
Jadikan ayat-ayat itu dasar doa dan penyembahan Anda.

Dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr. James I. Packer

Sabtu, 27 Agustus 2011

Percayai Allah ketika takut

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu
Mazmur 56:3


Ada berbagai bentuk ketakutan. Ada ketakutan akan konsekuensi masa lalu. Ada ketakutan akan ketidaktahuan tentang masa depan. Ada ketakutan tentang relasi yang kita terlibat di dalamnya dan terhadap orang yang dengannya kita berelasi. Dan ada orang yang takut konsekuensi dari mengikut Allah. Mereka menyadar bahwa Allah memanggil mereka dan panggilan-Nya menuntut mereka meninggalkan jalan yang telah mereka hidupi. Mereka tahu bahwa mereka akan kehilangan sesuatu, paling tidak dalam artian manusiawi, dan mereka tidak yakin bisa menanggung itu.

            Yang perlu diketahui oleh orang yang takut ialah kesanggupan Allah untuk menopang, menolong, menguatkan mereka untuk pelayanan-Nya, memikul mereka melalui berbagai tekanan, ketegangan, penderitaan, dan mengubah kerugian material menjadi keuntungan spiritual.

            Paulus mengkhotbahkan kesanggupan Allah dari salib. “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32).

            Fakta bahwa Ia telah memberikan karunia terbesar di salib, yaitu Anak-Nya sendiri untuk mati bagi kita, menjamin bahwa Ia akan memberi “segala sesuatu” – apa saja yang kita butuhkan dan semuanya yang dapat Ia rancang demi memberi kita kebahagiaan tertinggi.


Orang yang paling takut biasanya orang yang paling imajinatif. Apakah Anda sudah meminta Allah menjadi Tuhan atas imajinasi Anda dan memulihkannya, agar berfungsi sehat dan kreatif?

Tuhan, aku memiliki masalah ketakutan ini… bagaimanakah aku dapat memercayai-Mu ketika aku takut? Mustahil bagi manusia, namun tidak mustahil bagi-Mu.

Jumat, 26 Agustus 2011

Menyukakan Roh Allah

Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah.
Efesus 4:30
 

Hendaklah kamu penuh dengan Roh,
Efesus 5:18
 

Firman ini menegaskan bahwa Roh Kudus adalah pribadi dan bahwa sifat-Nya adalah kudus. Seperti halnya dengan pribadi Allah Bapa dan Putra, perilaku tertentu menyukakan Dia, perilaku lain mendukakan-Nya. Yang termasuk hal kedua itu ialah kepahitan, kemarahan, kejengkelan, pertengkaran, fitnah, kebencian, dan mencuri (Efs. 4:28-31), bahkan semua pelanggaran hukum moral lainnya. Kristen yang jatuh ke dalam dosa-dosa ini mengacaukan rencana-Nya dan merusakkan karya-Nya yang membuat kita menjadi serupa Kristus. Pengetahuan bahwa kita adalah rumah Roh Allah dan bahwa “tamu yang penuh anugerah dan selalu sedia ini” bekerja keras dalam hati kita untuk menguduskan kita, harusnya menimbulkan rasa hormat yang takjub dan cepat membuat kita malu dan meninggalkan segala kekurangan moral kita (1Kor. 6:19; Fil. 2:12).

            Untuk menjauhkan kita dari mendukakan Roh, Alkitab mendorong kita ke sisi lawannya yang positif – yaitu, dipenuhi dengan Roh. Kata yang dipakai menyiratkan suatu kewajiban terus menerus. “Dipenuhi” mengandung arti sepenuhnya memikirkan dan dikendalikan oleh realitas yang diberitahukan oleh Roh, dan hal ideal dalam hidup yang Ia tunjukkan kepada kita. Dari sumber mana kita boleh mencari kepuasan hidup? Tidak dari pemuasan nafsu serupa orang mabuk oleh alkohol (cara pemuasan yang duniawi), tetapi dari memusatkan perhatian sepenuhnya dengan perhatian Roh sendiri. Maka kita akan memiliki sesuatu yang akan membuat kita bernyanyi, sebab Roh yang disukakan akan menopang kita dengan sukacita yang tak pernah dikenal oleh orang duniawi (Efs. 5:18-20).


Apakah orang Kristen gereja Anda dicirikan oleh kesukaan? Bisa saja mengklaim kesukaan batin, namun tak seorang pun memercayai itu jika wajah kita tegang, keras, dan tidak puas.

Tuhan, dagingku lemah tetapi rohku ingin Roh-Mu memenuhi setiap bagian keberadaanku.

Dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu -oleh Dr. James I. Packer

Kamis, 25 Agustus 2011

Kepuasan melalui Melayani

Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Yohanes 4:34

Yesus adalah teladan dalam semua segi kehidupan; juga menyangkut motivasi dan sikap Ia merupakan pengukur tentang apa arti menjadi manusia sejati. Jika manusia gagal mengasihi Allah dan sesama sebagaimana yang Allah maksudkan bagi kita, kita menjadi kurang manusiawi. Hanya jika kita menetapkan hati untuk meniru teladan Kristus, barulah kita memenuhi dan mengembangkan – sebagai lawan dari melanggar dan merusak – sifat manusiawi kita, yang memang telah banyak dirusak oleh hadirnya dosa. Dan hanya dengan cara ini kita dapat menemukan kesukaan sejati, yang secara integral selalu terikat dengan perasaan bahwa hidup kita berarti serta terpenuhi. Ketika Yesus berkata bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menggenapi pekerjaan-Nya, ia sedang menyaksikan tentang kesukaan yang Ia dapatkan di dalam pelayanan Bapa-Nya – yaitu pelayanan yang memenuhi sifat-Nya sebagai Anak, dan juga setara dengan itu memenuhi sifat-Nya sebagai manusia.
Untuk kita, sebagaimana untuk Yesus, realisasi penuh dari semua potensi khas manusiawi kita (suatu realisasi yang sekaligus merupakan inti kebebasan dan puncak kesukaan) ditemui bukan dalam kehendak diri, tetapi dalam pelayanan kepada Allah (yang untuk kita berarti melayani Anak dan Bapa, dan orang lain demi Tuhan). Jalan lain mungkin sesaat memberikan pemenuhan diri tetapi tidak memberikan kebebasan atau kesukaan; dan pemekaran pengalaman kita yang dihasilkan oleh jalan lain itu tak bernilai dibandingkan dengan pengerdilan kemanusiaan sejati kita.
Dapatkah saya menggemakan ucapan Yesus ini?
Tuhan, luaskan pengalamanku akan Engkau supaya aku boleh bertumbuh dalam kemanusiaan sejati.

Rabu, 24 Agustus 2011

Sudahkah Menomorsatukan yang Utama?


Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Matius 6:33


Yesus mengajar para murid-Nya untuk tidak khawatir atau berpikir berlebihan tentang harta benda (Mat. 6:25-34). Bukan berarti kita boleh malas; sebab dalam firman yang lain kita diminta untuk bekerja keras, jujur dan mencukupi keluarga kita (2Tes. 3:10; Efs. 4:28; 1Tim. 5:8). Tetapi memang hal-hal itu tidak boleh menempati prioritas melebihi relasi kita dengan Allah.

            Marta tidak melihat prioritas ini. Ketika Yesus dan para murid datang berkunjung, ia ingin memberi kesan baik, memasakkan mereka makanan enak. Itu tidak salah, tetapi ia terpaksa menunda prioritas utamanya. Ketika ia kesal karena Yesus tidak menyuruh Maria untuk membantu, Yesus menjawab bahwa meski Marta sudah bersusah payah tentang penyambutan itu, Maria memilih hal yang harus dipertamakan.

            Mudah sekali terjebak ke dalam kesibukan keseharian dan berkata kepada diri sendiri bahwa semua itu lebih penting daripada persekutuan dengan Allah. Sebenarnya, tak satu pun lebih penting. William Temple berkata bahwa kita cenderung menganggap kelakuan lebih penting dan doa adalah penunjang untuk kita bertindak benar, padahal yang benar ialah doa adalah yang paling penting dan kelakuan kita adalah petunjuk tentang kualitas doa kita. Kita harus menomorsatukan yang nomor satu, sambil percaya bahwa Allah memperhatikan kebutuhan kita, dan menolak kekhawatiran untuk mengemuka dalam hidup kita, sambil usaha untuk mengenal dan menyukakan Allah menjadi perhatian pertama kita.


Hal yang sungguh sangat ku inginkan dalam diriku dan mereka yang kukasihi ialah… (selesaikan kalimat ini),

Minta Allah menolong Anda memilih/menjalani prioritas hidup yang benar.

Selasa, 23 Agustus 2011

Sukacita melalui Mengasihi Diri Sendiri

Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata.
Pengkhotbah 11:7


Rahasia ketiga untuk sukacita ialah mengasihi diri sendiri, dalam arti mengizinkan Anda menikmati hal-hal yang dapat dinikmati dalam hidup ini (11:7-10). Dalam ayat-ayat ini penulis memberi petunjuk tentang bagaimana kita dapat bahagia dengan bagian hidup kita tiap hari, meski terjadi ketegangan dan kepedihan. Kita perlu mempraktikkan penikmatan dan entusias tentang kegembiraan dalam keseharian. Lebih baik bersemangat daripada tidak. Di bagian awal Pengkhotbah, penulisnya memodelkan seseorang yang telah melakukan dan mencoba segala sesuatu, lalu berkata bahwa ia membenci hidupnya sebab tidak satu pencapaian pun telah memberinya kepuasan dan ia merasa tertipu. Tetapi orang yang berpikiran benar, demikian kini Pengkhotbah melanjutkan, tidak membenci hidup. Ia ingat bahwa “terang itu menyenangkan, dan melihat matahari itu baik bagi mata” (7-8).

            Ketika penulis berkata, “Segala sesuatu sia-sia,” maksudnya ialah bahwa hidup mungkin tidak akan seperti yang Anda harapkan atau memberi yang Anda inginkan. Namun demikian kita dapat dan harus bersukacita sementara kita menghidupi kehidupan pemberian Allah ini. Sebab hidup baik adanya. Ada warna, terang, kehangatan, dan keindahan dalam dunia Allah dan orang-orang yang melakukan hal-hal baik; hidup membawa banyak saat kegembiraan jika kita cermat.

            Hidup Kristen yang berhikmat akan entusias, menanti dengan realistis bahwa akan ada banyak hal yang salah dan terasa menyimpang, namun pada saat sama dengan sepenuh hati menikmati semua kegembiraan yang Allah berikan tiap-tiap hari. Nasihat yang baik untuk kita semua, tetapi penulis khusus menerapkan itu kepada orang muda (9-10).


Setujukah Anda, Anda harus mengasihi diri sendiri? Mengapa? Dan bagaimana?

Tuhan, bukakan dan bangkitkan segenap kepekaan, hati, akal budiku untuk mencerap dan merespons segala sesuatu dan semua orang yang mencerminkan secara unik kasih, kebenaran, atau kreatifitas-Mu.

Dikutip dri Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr. James I. Packer

Senin, 22 Agustus 2011

Kesukaan melalui Mengasihi Sesama


Lemparkanlah rotimu ke air… Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang.

Pengkhotbah 11:1-2



Rahasia kedua untuk bersukacita ialah mengasihi sesama (11:1-6). Ayat kunci di atas menggambarkan tangan terbuka yang murah hati yang melihat kebutuhan di sekitar dan menerima risiko untuk berusaha memenuhinya. Anda melempar roti ke air. Anda memberikan kepada orang yang dengan perhitungan manusia tidak mungkin mengembalikan. Ingat perumpamaan talenta tentang orang yang begitu takutnya kehilangan apa yang ia punya, hanya mengubur talentanya? Ketika tuannya pulang, ia tidak dipuji seperti yang ia harapkan, tetapi dikecam keras dan dinilai telah tidak setia. Dengan tidak berbuat apa-apa supaya tidak menanggung risiko apa pun, orang itu tidak mencapai apa-apa; dan Tuhan tidak memberi perhatian apa pun kepada murid yang tak berbuat apa-apa.

            Harus ada luapan gairah yang riil, kesediaan nyata untuk mengambil risiko, sampai kita bekerja dan menolong serta melayani orang lain. Orang Kristen sejati akan kedapatan selalu melakukan hal-hal yang terkesan tidak bijak demi melayani orang lain. Orang yang bijak-duniawi akan berkata: “Anda buat itu, Anda pasti bangkrut. Anda buat itu, lalu apa jadinya keluarga Anda? Atau reputasi Anda” Tetapi komentar begitu bukan semangat hati-lapang, tangan-terbuka, kemurah-hatian yang berani memikul risiko yang Tuhan inginkan dari kita (Luk. 6:30). Kita tidak boleh bertanya apakah ada cukup cadangan makanan di lemari es kita untuk menjamin tindakan kita menolong orang lapar. Kita harus melakukan itu karena ada orang yang membutuhkan, bahkan jika untuk itu kita sendiri harus jadi lapar, sebab itulah sikap yang harus ada dalam kita: semangat untuk bersedia memperluas jangkauan diri kita bahkan sampai berlebihan untuk memenuhi kebutuhan sesama kita. Orang Kristen perdana memiliki semangat itu (Kis. 2:44-45; 4:34-35). Kita harus memilikinya juga.



Bakarlah jembatan di belakang Anda agar tidak ada kemungkinan lain selain maju. Lakukan itu agar Anda dapat memiliki semangat kasih yang berisiko, nekat, dan aktif.

Tuhan, tolongku untuk bebas, terbuka tangan, murah hati, dan bebas mengasihi seamaku.

Dikutip dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr. James I. Packer

Minggu, 21 Agustus 2011

Kesukaan melalui Mengasihi Allah

Ingatlah… Penciptamu pada masa mudamu,
Pengkhotbah 12:1


Anda seperti juga semua orang lain pasti ingin memiliki sukacita dalam hidup, bukan? Pengkhotbah 12 memberikan petunjuk. Ia memberi tiga rahasia sukacita yang kelak lebih penuh dinyatakan lagi dalam Perjanjian Baru. Untuk bersukacita, Anda harus mengasihi diri sendiri, sesama, dan Allah. Kita tidak dapat mengasihi sesama sebagaimana mestinya kecuali Anda telah belajar mengasihi diri sendiri; mengasihi diri dengan tepat hanya bisa terjadi jika Anda telah belajar mengasihi Allah; dan tidak mungkin mengasihi Allah kecuali Allah lebih dulu mengasihi dan menaruh penilaian-Nya atas Anda sebagai orang yang telah Ia ciptakan dan tebus dan jadikan anggota keluarga-Nya.

            Jadi rahasia pertama sukacita ialah mengasihi Allah. Hal itulah yang ditegaskan Pengkhotbah ketika mengatakan, “Ingatlah Penciptamu pada masa mudamu.” Dengan kata lain: Sekarang ini, semasa Anda memiliki tenaga dan kekuatan, bersungguhlah melayani Allah yang telah melakukan dan memberi begitu banyak untuk memberkati Anda. Ada perubahan hidup yang terjadi sesudah orang lanjut usia, tetapi alangkah sedih bila seseorang harus menjalani masa tua dalam penyesalan bahwa ia tidak mengasihi Tuhan lebih awal supaya dapat melayani Dia dengan energi kemudaannya. Dalam Perjanjian Lama dan Baru, melayani Allah adalah bagian dari kasih kepada-Nya – takut kepada-Nya: “Takutlah kepada Allah dan peganglah perintah-perintah-Nya” (13). Takut yang dimaksud tidak ada hubungan dengan ketakutan. Takut adalah ungkapan kasih yang memuja, menyembah, dan takjub, karena mengingat kebesaran Allah dan kekecilan diri kita.

            Umat Israel Perjanjian Lama mengasihi Tuhan sebab Ia mengasihi mereka dan melepaskan mereka dari tawanan di Mesir. Orang Kristen mengasihi Tuhan sebab Ia mengasihi mereka dan membebaskan mereka dari tawanan dosa dan dari keabadian tanpa Allah yang tanpa Dia semua kita menuju ke akhir celaka itu.


Apakah hidupku kurang sukacita? Seberapa besar kasihku kepada Allah?

Tuhan, tunjukkanku hari lepas hari apa arti mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mrk. 12:30).

Dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr. James I. Packer

Sabtu, 20 Agustus 2011

Berbagai Bentuk Inspirasi

Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. 1 Korintus 2:13


Inspirasi mengambil banyak bentuk psikologis. Di sini seperti juga dalam hal lain Allah memperlihatkan diri-Nya sebagai Allah atas keragaman. Bentuk dasar proses ini ialah inspirasi dualistik, di mana sepanjang proses tersebut sang penerima penyataan tetap sadar tentang perbedaan dirinya dan Allah. Inspirasi yang menghasilkan ujaran profetis Perjanjian lama, hukum Musa, dan visi apokaliptik dari Daniel dan Yohanes dalam Wahyu) tergolong jenis ini.

            Inspirasi lirik adalah inspirasi di mana tindakan menginspirasi dari Allah menyatu dengan, berkonsentrasi, meningkat, dan membentuk proses mental sang penulis puisi. Ini menghasilkan mazmur-mazmur, drama bersifat lirik dari kitab Ayub, Kidung Agung, dan banyak doa-doa agung yang tersebar dalam kitab-kitab sejarah.

            Dalam inspirasi organis, tindakan Allah menginspirasi bersatu dengan proses mental – seperti meneliti, menganalisis, merenung, menfafsir, menerapkan – seperti dari seorang guru, yang berusaha untuk menyuling dan meneruskan pengetahuan fakta dan berpikir benar tentang fakta-fakta itu. Jenis inspirasi ini menghasilkan buku-buku sejarah dalam kedua Perjanjian, surat rasul, Amsal, dan Pengkhotbah.

            Kita tidak dapat mencegah orang yang sama untuk menjadi penerima berbagai bentuk inspirasi ilahi berbeda dalam saat berbeda, dan tampaknya jelas bahwa semua ketiga hal tadi bergabung dalam derajat tertinggi dalam inspirasi Yesus sendiri.

   
Mengapa penting mengerti berbagai bentuk inspirasi?

Terima kasih Tuhan, bahwa Engkau memakai orang-orang yang unik dengan karunia pemberian Allah untuk mereka masing-masing menjadi agen penerima inspirasi ilahi Alkitab, Firman-Mu tertulis.

Dikutip dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu karangan Dr. James I. Packer

Jumat, 19 Agustus 2011

Penyataan Allah Kumulatif Adanya

Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
Matius 16:17


Karena Perjanjian baru lebih maju daripada Perjanjian Lama, bolehkah kita mengatakan bahwa penyataan bersifat “progresif”? Bergantung pada apa yang kita maksud dengan kata itu. Jika yang kita maksudkan ialah bahwa ujaran Perjanjian Lama Allah, secara keseluruhan dalam satu atau lain cara menunjuk ke kedatangan Anak-Nya, istilah itu dapat diterima. Tetapi banyak teolog liberal menggunakan “progresif” untuk mengungkapkan ide bahwa sejarah penyataan sesungguhnya adalah sejarah bagaimana pemikiran Israel tentang Allah berevolusi dari sesuatu yang primitif (ide tentang allah peperangan) menjadi lebih baik (Pencipta yang moral) sampai ke konsepsi bahwa Allah yang diajarkan Yesus adalah Bapa yang mengasihi; dan mereka membuat ide ini sedemikian rupa sampai menyiratkan bahwa orang Kristen tidak perlu memerhatikan lagi Perjanjian Lama, sebab semua ide yang dapat dipelajari tentang Allah telah tertampung lengkap dalam Perjanjian Baru, dan ide lainnya salah.

            Tetapi jelas itu tidak benar. Allah memang telah mengembangkan pengetahuan manusia tentang diri-Nya melalui proses penyataan, tetapi ide bahwa yang dinyatakan kemudian menentang dan membatalkan yang dinyatakan sebelumnya adalah salah. Demikian juga dampak pandangan itu yang membuat orang mengabaikan Perjanjian Lama. Penyataan Perjanjian Baru selalu bertumpu atas landasan Pesrjanjian Lama, dan mencabut fondasi sesudah struktur bangunan berdiri berarti menumbangkan struktur bangunan itu sendiri. Orang yang mengabaikan Perjanjian Lama tidak akan mendapat banyak dari Perjanjian Baru.

            Penyataan yang kemudian, jauh dari menentang apa yang telah datang sebelumnya, justru mengandaikan dan membangun di atasnya. Ide ini paling baik diungkapkan dengan menyebut penyataan sebagai kumulatif daripada progresif.


Dapatkah para orangtua belajar sesuatu dari penyataan Allah yang kumulatif kepada umat-Nya tentang cara mendidik anak?

Tuhan, tolong aku memelihara gambaran benar tentang Engkau dari penyataan-Mu.

Kamis, 18 Agustus 2011

Penyataan - Kata dan Aksi

Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang Israel.
Mazmur 103:7


Ide bahwa hakikat penyataan bersifat komunikasi lisan tidak menyiratkan bahwa Allah adalah rabi di awang-awang yang pekerjaannya tidak lain dari duduk dan bicara. Yang sungguh tersirat adalah tidak ada peristiwa sejarah yang dalam dirinya dapat membuat Allah dikenal oleh semua orang kecuali Allah sendiri menyingkapkan artinya dan tempatnya dalam rencana-Nya. Peristiwa-peristiwa dalam penyelenggaraan ilahi boleh berfungsi mengingatkan kita secara kurang jelas bahwa Allah sedang bekerja, tetapi kaitannya (jika ada) dengan maksud penyelamatan-Nya tidak dapat diketahui sampai Ia sendiri memberitahukannya kepada kita. Tidak ada peristiwa apa pun yang sanggup menafsirkan dirinya sendiri.

            Contohnya, Keluaran hanya satu dari banyak perpindahan suku dalam sejarah. Kalvari hanya salah satu dari sekian banyak penghukuman mati oleh orang Romawi. Siapa dapat menduga tentang arti penyelamatan yang unik dari peristiwa- peristiwa ini jika Allah tidak memberitahukannya kepada kita?

            Dalam arti tertentu semua sejarah adalah kisahnya Allah, tetapi tidak satu pun yang menyatakan Dia kecuali Ia sendiri bicara kepada kita tentang itu. Penyataan Allah bukan melalui perbuatan tanpa perkataan (drama bisu) juga bukan seperti perkataan saja tanpa perbuatan. Allah bicara kepada kita melalui perbuatan atau, lebih alkitabiah, melalui perkataan yang diteguhkan dan digenapi oleh perbuatan. Fakta yang harus kita hadapi ialah bahwa jika tidak ada penyataan lisan, maka sama sekali tidak ada penyataan, tidak juga dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret.


Bagaimanakah Anda mengerti Mazmur 39:1-4 dalam terang yang dikatakan di atas? Apakah penyataan umum dan khusus adalah sejajar dengan anugerah umum dan khusus?

Tuhan, terima kasih atas perbuatan-Mu dalam hidupku dan perkataan-Mu yang Kau berikan untuk menolongku memiliki pandangan benar tentang perbuatan-Mu.

Rabu, 17 Agustus 2011

Penyataan - Lisan dan Pribadi


Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
Ibrani 13:7-8

Menerima penyataan Allah bukan semata soal duduk dan belajar doktrin. Tidak ada teolog modern yang dapat menegaskan hal itu lebih tegas daripada penulis Ibrani pasal 11 bahwa iman bukan ortodoksi belaka tetapi menaruh percaya secara eksistensial kepada Allah yang hidup. Bahkan, sebagaimana Ibrani 11:7-8, 11, 13 perlihatkan, percaya demikian hanya mungkin atas dasar komunikasi lisan dari Allah – yaitu perintah dan janji ilahi – yang dikenali sebagai datang dari Allah.

            Kepercayaan bahwa penyataan berhakikatkan komunikasi lisan dari surga tidak menentang identifikasi Perjanjian Baru tentang Yesus sebagai Firman Allah (Yoh. 1:1-14) yang menyatakan Bapa (Yoh. 1:18; 14:9). Bila ada yang mengeluarkan pendapat berbeda (memang ada yang berpendapat begitu) berarti berpendapat bahwa karena “Flying Scotsman” adalah nama lokomotif, nama itu tidak bisa juga menjadi nama sebuah kereta api. “Firman” (logos) menekankan ungkapan pemikiran dalam berpikir dan berbicara. Anak Allah disebut Firman karena dalam Dia pikiran, sifat, dan rencana Allah terungkap penuh. Penyataan Allah disebut juga Firman sebab ia merupakan ungkapan lisan berbentuk pemikiran yang mengandung Allah sebagai subyek dan sumbernya. Kata lisan memberi kesaksian kepada Firman pribadi dan memampukan kita untuk mengenal Firman pribadi sebagaimana adanya Ia, yang tidak mungkin terjadi dengan cara lain.

            Meskipun Ibrani mulai dengan memuliakan Anak Allah sebagai gambaran sempurna dari Bapa-Nya, tiga kali dari empat ungkapan “firman Allah” dipakai bukan untuk menekankan Kristus tetapi pesan ilahi tentang Dia (Ibr. 1:3; 4:12; 6:5; 13:7).


Pelajari semua rujukan kepada Firman Allah dalam surat Ibrani.
Bapa, atas semua arti Firman Allah – aku berterima kasih dengan segenap hatiku.

Selasa, 16 Agustus 2011

Tugas Nabi


Kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan… Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
Yeremia 1:7, 9.
 

Sifat tugas nabi dikristalkan dalam perkataan kepada Yeremia. Menaruh perkataan ke mulut seseorang lain berarti meminta ia memberitahu kepadanya apa tepatnya yang harus ia katakan. Itulah yang Allah buat dengan para nabi. Seperti yang berulang kali mereka katakan kepada kita, Firman Tuhan datang kepada mereka dan memberitahukan mereka apa yang harus mereka katakan kepada orang lain dalam Nama Allah.

            Amos memaparkan para nabi sebagai para pengantara penyataan dalam dua ayat berturutan (Am. 3:7, 8). “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?” Di sana para nabi adalah para pelihat dan pendengar, penerima penyataan. Lalu Amos berkata,  “Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Di sana para nabi adalah pembicara dan pembawa pesan, yang didesak untuk mendeklarasikan rahasia yang Allah telah singkapkan kepadanya.

            Karena itu, pada intinya, para nabi adalah para pewarta awal dari Firman Allah, para agen manusia yang membuat pernyataannya didengar publik dan menyiarkannya kembali kepada umat yang kepadanya ia diutus. Tetapi karena rahasia Allah sering melibatkan juga rencana rahasia-Nya, termasuk artinya untuk tindakan di masa kini, para pewarta awal Firman Allah itu sering terkesan sebagai para peramal hal-hal yang akan datang. Begitulah ide bahwa para nabi adalah peramal bertemu.


Kenalkah Anda nabi modern – orang yang mengaplikasikan Firman Allah dalam Nama Allah kepada Anda dan orang lain? Apakah Anda berdoa agar para pengkhotbah masa kini boleh berperan nabi dalam arti tadi?

Berdoalah untuk para nabi yang terasing, dan tawar hati, yang Anda kenal.

Perkataan Profetis


Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa… Beginilah firman TUHAN.
Amos 1:1, 3


Tanda istimewa nubuat Perjanjian Lama ialah formula “Beginilah firman TUHAN” yang selalu mendahului pengucapannya. Formula itu memproklamirkan sumber dan otoritas pesan para nabi: ia memberitahukan dunia bahwa perkataan mereka harus didengar dan diterima sebagai pencanangan kerajaan dari Allah, dan bukan sekadar produk manusia saleh. Pesan profetis cocoknya dibandingkan bukan dengan editorial Kompas tetapi dengan pernyataan-pernyataan dari pihak istana.

            Lazimnya para nabi bicara atas nama pribadi Allah: “Aku” dalam ujaran mereka lebih sering daripada menyebut Yahweh sendiri. Psikologi dari inspirasi profetis, melibatkan faktor-faktor suara, visi, intuisi, dan perenungan, jelas misterius bagi kita yang tidak ikut mengalaminya. Tetapi kedua Perjanjian memberitahu kita bahwa inspirasi profetis, betapa pun misteriusnya, merupakan fakta yang terjadi berulang kali mulai dari Musa seterusnya dan inspirasi ini memiliki dampak definit dan khas. Inspirasi profetis lebih dari sekadar wawasan alami, bahkan lebih dari pencerahan rohani; inspirasi profetis adalah suatu proses unik di mana pewarta manusia ditarik ke dalam pengidentifikasian sedemikian sempurna dengan pesan yang telah Allah berikan kepadanya untuk disampaikan sampai yang ia katakan dapat dan harus diperlakukan sebagai sepenuhnya ilahi.

            Meskipun kuasa pemikiran dan keahlian nabi sendiri sepenuhnya dipakai dalam menyelami penyingkapan diri Allah dan dalam menyiapkan penyingkapan itu untuk publikasi (lisan atau tulisan), produk yang dihasilkan itu secara seragam dan tanpa salah adalah “Firman dari TUHAN.”


Dapatkah para pengkhotbah, penyuluh, dlsb. masa kini belajar sesuatu tentang metode, ketrampilan para nabi Perjanjian Lama?

Tuhan, tolong aku mengidentifikasi diri dengan pesan yang Engkau ingin aku sampaikan ke orang lain.

Minggu, 14 Agustus 2011

Hidup dalam Mazmur


Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab Engkau melapangkan hatiku.
Mazmur 119:32
 

Perlu sekitar dua puluh tahun untuk saya dapat mengerti mazmur-mazmur – sebagian karena di awal perjalanan Kristen saya, saya terlalu menekankan pentingnya pengertian benar. Dan tentu saja Mazmur-mazmur tidak berisikan analisis pengertian.

            Mazmur-mazmur berlompatan dari satu topik ke topik lain; sifatnya meditatif dan ungkapan seruan. Formatnya biasanya tidak mengikuti garis argumen ekspositori (seperti yang Paulus lakukan, misalnya). Ketika kita menyembah, kita tidak memusingkan argumen ekspositori. Dan ciri ini membuat saya sukar menempatkan diri pada gelombang yang sama.

            Kesulitan lain untuk saya ialah Mazmur begitu sederhana dan sangat menggebu-gebu. Kebanyakan kebudayaan kita, baik Kristen maupun sekular, mengkondisikan kita untuk tidak membolehkan ungkapan diri tanpa batas di hadapan Allah seperti yang Mazmur modelkan. Dan selama orang menganggap pemazmur semacam orang yang kurang beradab sebab mereka mengungkap diri mereka sedemikian penuh hati dan bahkan dengan kuat, ia akan merasa sukar menempatkan diri dalam Mazmur. Itu masalah saya dulu.

            Saya bersyukur bahwa sesudah beberapa waktu saya makin merasa serasi dengan Mazmur dan saya yakin memang seharusnya begitu. Hidup dalam mazmur menolong jiwa kecil berubah menjadi besar, dan hal itu harus semua kita dambakan.


Sebagai bagian dari saat teduh Anda dengan Allah, nyanyikan satu-dua mazmur yang telah dijadikan nyanyian; banyak lagu mazmur yang baik sekali untuk menyiapkan kita memasuki penyembahan.

Tuhan, besarkan pengertianku melalui bagian Firman-Mu ini.

Dikutip dari Buku: Bapa Surgawi Mengasihimu - karngan Dr. James I. Packer