Jumat, 23 Februari 2018

Serahkan Segala Khawatir

 Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapSat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. -- Matius 6:25-32
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. -- 1 Petrus 5:7

Segala bentuk kejahatan harus dibuang (psl 2), segala kekhawatiran harus diserahkan kepada Tuhan. Kita tidak boleh kompromi dengan dosa, kita tidak boleh juga membiarkan kekhawatiran apa pun menggerogoti kepenuhan kesukaan dan vitalitas hidup kerohanian kita. Mengapa kita khawatir? Mengapa soal kesehatan, keamanan, kenyamanan hidup, jaminan finansial, pekerjaan, keluarga, pelayanan dan banyak lagi aspek lain kehidupan ini sering membuat kita khawatir? Ada dua sebab saling berkait. Sebab utamanya adalah ada kesan atau konsep keliru tentang Allah dan keterlibatan-Nya dengan bumi ini. Allah yang jauh, yang tidak peduli, yang hanya memerhatikan perkara-perkara semesta-dahsyat-kekal tetapi tidak yang remeh-temeh bumiah. Kedua kita yang terbatas dan lemah ini tidak sungguh menyadari itu dan selalu ingin mengendali kehidupan berjalan sesuai keinginan kita. Ketika ketidakpastian hidup menyeruak timbullah kekhawatiran -- mulai dari perasaan, ke pertimbangan lalu berikutnya ke keyakinan yang menjadi goyah. 
Maka dengan menasihati orang percaya untuk menyerahkan segala kekhawatiran, nas ini hendak mengubah kesan dan pandangan kita tentang Allah -- Ia Bapa, Ia bahkan memerhatikan burung, rumput, mengendalikan hujan, angin, dan kita lebih berharga dari semua itu bagi-Nya (Matius 10), Ia seperti ibu yang tidak mungkin melupakan anaknya (Yes. 49) Ia peduli, Ia memerhatikan kita, Ia memelihara kita. Maka segala kekhawatiran -- segala bentuk, aspek mana pun dalam kehidupan dan alasan apa pun dari kekhawatiran kita -- harus diserahkan, dilepas dari kendali kita sendiri yang lemah dan tidak sempurna, kepada kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya yang kekal. Amin.

Kamis, 22 Februari 2018

Celemek Rendah Hati

Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.-- Markus 10:43-45
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba -- Filipi 2:5-7
Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. -- 1 Petrus 5:5-6

Tidak tampak dalam terjemahan Alkitab Indonesia bahwa kata kerja yang Petrus pakai menggunakan gambaran kain celemek yang biasa dipakai para budak ketika melayani -- kamu semua "ikatkan celemek budak kerendahhatian" -- kira-kira demikian tejemahan harfiahnya. Hal yang Petrus anjurkan ini (juga Paulus) berasal bukan saja dari ucapan Yesus di Markus 10 tetapi juga dari pelayanan kerendahhatian Yesus kepada para murid yang berpuncak di peristiwa pencucian kaki -- Yesus melepas jubah-Nya, melilitkan [celemek] di pinggang-Nya, dst... (Yohanes 13).
Rendah hati adalah pra-muka dari pelayanan, pelayanan sejati adalah wajah dari kerendahhatian; Rendah hati membuat orang siap melayani, melayani adakah tolok uji adanya kerendahatian. Jika orang rendah hati maka ia akan berhenti memikirkan keutamaan, kehebatan, kelebihan dirinya dan sebaliknya mengutamakan, memikirkan, meninggikan orang lain. 
Di dunia Yunani rendah hati tidak dianggap sebagai kebajikan -- sampai kini pun bahkan dalam kehidupan orang Kristen dan kegerejaan -- yang dihitung besar, agung, penting bukan sifat rendah hati. Nas ini menyadarkan kita bahwa pemandangan Tuhan atas kita, penilaian Tuhan atas sikap dan perbuatan kita jauh lebih penting daripada yang dipandang penting pada pemandangan manusia. Kita harus menemukan kemuliaan di dalam kerendahan, baik itu berlaku pada diri kita juga berlaku pada pelayanan kita. Kita perlu mendidik sistem nilai kita untuk rela melakukan bentuk-bentuk pelayanan yang tidak terlihat, tidak langsung berhubungan dekat dengan mimbar atau panggung atau sorot lampu dan applaus orang banyak sebab kita sedang menerapkan jejak sang Hamba Sejati yang Sengsara dan Merendah Diri. Amin.

Rabu, 21 Februari 2018

Meneladan sang Gembala Agung

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. -- Yohanes 21:17

Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. -- 1 Petrus 5:1-4


Bapa, pada minggu sengsara ini, tolong kami melihat kepada Yesus, -- seluruh hidup-Nya, pelayanan, derita, kematian, kebangkitan dan kini Ia dalam kemuliaan-Nya, supaya dengan melihat Dia kami diubahkan secara mendalam, sebagaimana Engkau telah mengubahkan Petrus. 
Tolong kami menjadi pribadi yang berdoa dan melayani seturut panggilan-Mu kepada masing-masing kami dengan kasih yang tulus, dengan sukarela dan bukan dengan paksa, dengan pengabdian kepada-Mu tanpa mencari keuntungan atau mencuri kemuliaan unruk diri kami sendiri, sehingga kehidupan dan pelayanan kami secara utuh boleh meneladani Yesus Kristus Gembala Agung dan menjadi teladan seorang kepada yang lain. Tolong kami oleh kuat kuasa Roh Kudus menolak semua sikap dan tindakan penolakan yang tidak sesuai dengan penyambutan kasih kudus-Mu yang memulihkan dari antara kami dalam gereja-Mu. juga dalam lingkup lingkungan hidup kami masing-masing. Amin. 

Selasa, 20 Februari 2018

Nyaris Selamat

Kalau orang benar menerima balasan di atas bumi, lebih-lebih orang fasik dan orang berdosa!  -- Amsal 11:31
Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia. -- 1 Petrus 4:17-19

Kiranya Roh Tuhan mengukirkan kesadaran yang hidup di benak kita terdalam beberapa hal tentang keselamatan, berikut ini. Pertama, keselamatan mustahil tanpa penghakiman bagi orang percaya. Kita semua tahu terutama dari paparan rasul Paulus bahwa keselamatan dimungkinkan melalui penghakiman yang ditanggung oleh Yesus Kristus. Kita yang percaya kepada-Nya diluputkan dari hukuman kekal namun harus melalui penghakiman di kekinian kita, yaitu penghakiman dalam artian penderitaan karena iman. Paparan Petrus sebelum ini menegaskan keniscayaan penderitaan untuk pemurnian. Mengapa? Sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun dapat berhadap-hadap wajah dengan Allah yang Mahakudus. Maka keselamatan bukan semata keluputan dari akibat dosa tetapi juga proses pelepasan dari berbagai kecemaran-kelemahan-penyimpangan-kejahatan dosa dalam berbagai bentuknya terutama yang sangat mengakar dalam hati dan karakter kita, seperti keras hati, bandel, standar ganda, munafik, sombong, serakah, licik, egois, malas, dlsb. Karena itu Petrus mengingatkan bahwa tidak menjalani pemurnian ini dengan benar (dampak dari penderitaan yang bersifat menghakimi sifat-sifat dosa), tanpa di pihak kita ada usaha kerja mewujudkan keselamatan (ingat ujaran Paulus tentang orang percaya mengerjakan keluar buah keselamatan karena anugerah bekerja di dalam kita -- surat Filipi) jelas tidak mungkin terjadi keselamatan sejati. Itu sebab ia memakai ungkapan bahwa bahkan orang percaya pun hampir tidak selamat.
Kedua, penghakiman atau pemurnian yang dijalani secara aktif oleh orang percaya menjadi semacam pengukuhan untuk terjadinya penghakiman kekal orang tidak percaya. Kebenaran ini banyak implikasinya. Ini boleh menjadi penghiburan dan penguatan agar orang percaya bertahan menanggung berbagai penderitaan karena kebenaran yang dipraktikkan. Ini juga boleh menjadi prinsip bahwa tidak perlu orang yang menanggung penderitaan karena kebenaran membalas jahat dengan jahat, sebab kelak Allah yang adil pasti akan menghakimi mereka yang kini menjadi agen penyebab penderitaan orang percaya. Sebaliknya, balasan orang percaya sewajarnya adalah yang sesuai hasil pemurnian yang ia terima yaitu kejahatan dibalas dengan kebaikan, doa agar pihak jahat itu diberkati dengan lawatan Tuhan. 
Oleh pertolongan Roh Kudus kiranya kita disanggupkan mengerjakan keselamatan kita kini, menyambut proses pemunian yang Ia izinkan, menjadi kesaksian tentang kebenaran Yesus Kristus yang sekaligus menunjuk kepada penghakiman yang adil kelak. Amin.

Sabtu, 17 Februari 2018

Menjalani Api Ujian Iman

Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. -- 1 Petrus 4:12-16
Bergembiralah akan hal itu (baca ayat 3-5 tentang apa aja yang dimaksud dengan "itu"), sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. -- 1 Petrus 1:6-7


1. Apa dasar Petrus menyebut para penerima suratnya ini "saudara-saudara yang kekasih"? Apa penegasan yang ingin Petrus sampaikan dengan sebutan itu khususnya bagi mereka yang sedang mengalami berbagai ujian iman yang berat? Bagaimana kita masa kini harusnya menanggung penderitaan karena iman pada sesama orang percaya di berbagai tempat masa kini?
2. Dua nas di atas memakai gambaran api yang menyala-nyala. Bagaimana itu melukiskan hal yang sedang dialami dan yang akan dihasilkan melalui semua hal berat yang sedang dialami oleh mereka?
3. Telusuri dengan teliti apa saja alasan untuk orang yang sedang mengalami ujian iman berat itu supaya dapat "bergembira dan bersukacita"? Perhatikan empat kata yang melimpah-luap dengan kondisi hati penuh kesukaan: (Contohnya 1:8 ESV: rejoice with joy that is inexpressible and filled with glory,) Perhatikan juga bahwa kesanggupan untuk bergembira dengan penuh sukacita yang tak terkatakan dan agung itu disebabkan oleh fokus pada apa yang terjadi dalam kekekalan pada orang yang bertahan uji.
4. Apa lagi alasan untuk berbahagia dalam penderitaan? Bagaimana kita memastikan bahwa suatu pengalaman penderitaan adalah karena iman dalam Kristus dan bukan karena berbagai kesalahan, dosa atau kekonyolan sikap / tindakan kita sendiri?
5. Selama di dunia ini mungkinkah orang Kristen yang sungguh menghidupi dan menyaksikan imannya secara aktif tidak mengalami berbagai reaksi tidak enak bahkan memberatkan? Tepatkah menjadikan ada tidaknya kesukaran hidup karena iman sebagai semacam tolok ukur sungguh setiakah kita kepada Yesus Kristus?

Jumat, 16 Februari 2018

Bicara berbagi Firman

Yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin. -- 1 Petrus 4:8-11

Inti dari bagian firman ini adalah memberikan prinsip tentang pelaksanaan berbagai karunia rohani dalam kehidupan gereja. Kasih merupakan sumber atau dasarnya -- keutamaan kasih dalam segala sesuatu. Peran masing-masing orang percaya adalah mempraktikkan karunia khas yang ia terima dari Roh Kudus seorang kepada yang lain. Bila prinsip ini sungguh dilaksanakan maka kuat kuasa Allah akan dialami nyata dan gereja akan bertumbuh sesuai maksud Allah untuknya serta akhirnya Allah dimuliakan.
Penting untuk kita perhatikan bahwa salah satu bentuk pelayanan yang Petrus soroti di sini adalah "berbicara." Secara luas itu bisa berarti bicara pada umumnya, secara lebih khusus bicara dalam konteks pelayanan seperti menghibur, menguatkan, mengkonsel, dan yang lebih dekat dengan topik karunia-karunia nas ini adalah penyampaian firman atau khotbah. Supaya terjadi dampak yang sungguh membangun, memurnikan sesama orang percaya dan memuliakan Allah, apa pun bentuk dan konteks bicara kita -- bicara biasa, bicara dalam berbagai bentuk pelayanan, dan khususnya bicara menyampaikan arti dan makna firman agar kekayaan hikmat-kebenaran-kekuatan ilahi di dalamnya menjadi firman kekinian yang membumi -- orang itu harus menyadari panggilan utamanya yaitu sebagai orang yang menyampaikan firman Allah. Panggilan pengkhotbah adalah pewarta, pembuka, pemapar firman... bukan mengubah peran menjadi motivator, pelawak, entertainer..., apalagi dengan / sampai menambah, mengurangi, memelintir, mengaburkan, mengubah firman sampai pendengar bukan berfokus pada Allah dan isi hatinya tetapi pada yang menyimpang dari itu.
Marilah kita setia dalam membaca merenungkan firman dalam waktu yang signifikan agar bicara keseharian, pelayanan dan pewartaan kita sungguh adalah berbagi kepenuhan hikmat dan kebenaran Allah. Amin.

Kamis, 15 Februari 2018

Penatalayan yang Benar

-- 1 Petrus 4:9-11

Tentu saja berbagai tindakan kebaikan yang dianjurkan di sini susah, berat, bahkan menuntut kita harus mengorbankan kenyamanan dan kemilikan sendiri. Maka wajar bila kita enggan melakukan hal seperti memberikan tumpangan, memberikan dukungan finansial, menyampaikan nasihat atau teguran atau penghiburan dengan sukacita. Lebih sering kita melakukan hal-hal yang berat dan menuntut pemberian diri itu dengan bersungut-sungut. Untuk mengubah sikap salah itu, kita perlu sadar bahwa sumber dari semua anjuran moral, sosial, ekonomi dalam Alkitab bukan diletakkan pada diri kita sendiri melainkan pada semua yang telah disiapkan, dilakukan, dimungkinkan dan masih terus menerus disediakan oleh Allah Tritunggal -- keputusan Bapa, pengorbanan Yesus Kristus dan pemurnian serta penyediaan karunia-karunia Roh Kudus. 

Sepanjang hidup kita dan setiap kesempatan terbuka untuk kita berbagi kebaikan dengan orang lain kita perlu ingat bahwa sesungguhnya Allah sendiri melalui kita tengah memanifestasikan pemeliharaan, persediaan, penyelenggaraan Dia atas umat-Nya melalui kita satu sama lain. Kita seharusnya tersanjung boleh saling menjadi perpanjangan sifat dan tindakan Allah sendiri. Kita sedang mewujudnyatakan jatidiri spiritual kita sebagai bait rohani di dunia ini. Lebih lagi, Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu tanpa melengkapi kita dengan semua persediaan dan karunia yang perlu untuk pelayanan tesebut. Kita hanyalah penatalayan -- bukan pemilik sejati -- dari berbagai karunia rohani, jasmani, harta yang Tuhan karuniakan kepada kita. Kita seharusnya mengelola berbagai karunia seperti penatalayan talenta yang baik dalam banyak perumpamaan yang Yesus ajarkan tentang bagaimana penatalayanan karunia dan harta berdampak langsung pada evaluasi kekal Allah kelak atas setiap kita. 

Semua dan setiap bentuk kebaikan dan layanan kita hendaknya bersumber dari kekuatan Allah dan demi kemuliaan-Nya menjadi makin nyata. Di luar dari sumber, tujuan dan motivasi ini kebaikan bahkan pengorbanan apa pun tidak bernilai di mata Allah.

Rabu, 14 Februari 2018

Keutamaan Kasih

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.-- Amsal 10:12
Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." -- Markus 12:29-31

Yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. -- 1 Petrus 4:8

Dalam hubungan kita dengan Tuhan kasih adalah yang utama, dalam hubungan kita dengan sesama pun kasih adalah yang utama. Maksud dari yang utama di sini adalah yang mendahului segala sesuatu, yang mendasari atau menjadi sumber bagi ketaatan, kesalehan, pelayanan dan hubungan kita, dan karena itu yang membuat hal-hal itu bernilai sejati dan kekal. 
Kasih bukan membuat kita kompromi dengan dosa dan kesalahan melainkan kasih akan menyanggupkan sikap dan penilaian kita terhadap orang yang melakukan dosa tidak dengan cara yang menghakimi dan menolak melainkan meng-indah-kan dan menyambut. Semua kita mengerti dari pengalaman bahwa adanya kasih terhadap seseorang membuat kita cenderung tidak menganggap besar kesalahan orang itu. Kasih membuat kita ber-kasih-an, tidak menjadikan kesalahan dan ketidaksempurnaan orang itu sebagai yang melebihi kasih karunia Allah untuknya atau membatalkan keistimewaan dirinya. Karena itu kita seakan menjadikan diri tidak peka tentang kesalahan orang tetapi peka akan dorongan kasih yang menyambut dan memulihkan.
Kasih kepada orang lain hanya dimungkinkan jika kita sendiri sungguh sudah dan sedang terus dipenuhi serta sungguh menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dicurahkan oleh Roh ke dalam hati kita. Jadi -- tersirat dalam semua perintah kasih dalam Alkitab -- adalah keharusan kita sungguh masuk ke dalam dinamika kasih Allah Tritunggal.
Marilah kita memiliki hubungan kasih yang mesra dengan Tuhan Allah supaya dalam hubungan-hubungan kegerejaan dan kemasyarakatan kita pun ada kekuatan kasih yang menutupi kelemahan dan dosa orang lain, bahkan sampai berbagi realitas penutupan dosa paling sejati yang hanya terdapat di dalam korban penebusan oleh Yesus Kristus Juruselamat kita. Amin.

Selasa, 13 Februari 2018

Doa yang Berarti

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. -- Matius  26:41
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.T etapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.  -- 1 Petrus 4:7-9

Mengapa orang percaya perlu tumbuh dalam kehidupan doa? Apa sesungguhnya doa itu? Apa motivasi dan tujuan doa? Apa sangkut paut doa dengan fananya kehidupan masing-masing kita dan dengan kedatangan Yesus Kristus kedua kali? Bagaimana hubungan persekutuan doa dengan Tuhan dan persekutuan kita dengan sesama orang percaya?
Doa sangat penting dan vital sampai banyak diumpamakan dengan bernafas. Kita dapat hidup cukup lama tanpa makan, tetapi tidak mungkin bisa hidup tanpa nafas berkepanjangan. Karena itu mati disebut menghembuskan nafas terakhir. Paparan lebih tepat tentang doa adalah percakapan dalam hubungan yang intens dengan Tuhan. Kita semua tahu bahwa orang yang tanpa hubungan tidak mungkin memiliki kejiwaan yang waras. Lebih dari itu tanpa hubungan dengan Tuhan yang dirawat dengan baik tidak mungkin orang Kristen memiliki spiritualitas yang bertumbuh sehat memengaruhi segala aspek kehidupannya. Jadi doa lebih penting dan vital ketimbang bernafas. 
Dalam beberapa ayat ini Petrus sangat mungkin mengingat pengalaman dia dengan dua murid inti lain di Getsemani ketika Yesus Kristus bergumul dalam doa ternyata mereka sendiri tertidur. Kita tahu kelanjutan kisah itu, karena tidak berjaga-jaga bersama Yesus dalam doa sementara Yesus dengan bulat tekad menuju salib mereka sendiri menonton dari jauh dan kemudian lari menyembunyikan diri. Tanpa doa yang di melaluinya kita sungguh masuk ke dalam pikiran-kehendak-tindakan Tuhan, menyerah penuh kepada kasih dan rencana-rencana kekal-Nya, mengakui kefanaan dan kecacatan kita sambil mengingini-mengambil sumber daya kekal-Nya, kita tidak mungkin memiliki kehidupan yang bernilai kekal dan beda dari dunia yang bakal binasa ini. Apabila kehidupan doa kita senin-kamis dan tipis bagaimana mungkin kita boleh bertumbuh dalam pengenalan kita akan Tuhan? Apabila kita tidak dengan sadar melatih sikap mental waspada dan mengatur waktu cukup untuk bercengkerama dengan Tuhan bagaimana mungkin kita boleh berjaga-jaga dan merindu kedatangan-Nya kembali? Apabila doa-doa kita tidak lebih dari hanya meminta kebutuhan dan keinginan fana serta ego sentris seperti para penyembah berhala bagaimana mungkin sifat, rencana dan tindakan Allah boleh mewujud nyata dalam berbagai aspek keseharian kita? Apabila kita tidak pernah berdoa lebih dari sekitar kepentingan diri sendiri bagaimana kita boleh memiliki kehidupan persekutuan dan pelayanan gerejawi yang berarti?
Mari kita mantapkan motivasi doa kita -- yaitu, Tuhan menginginkan waktu dan hati kita untuk mengungkapkan kasih-Nya, rencana-Nya dan kuat-kuasa-Nya ke dalam kita. Mari dalam kesadaran mendalam kita bangun disiplin memiliki jam doa berarti (bukan detik atau menit doa kilat) dimana tidak saja kita bersyukur, mengakui dosa, menyatakan penyerahan dan kasih kita kepada Tuhan, tetapi juga kita beri kesempatan untuk Tuhan bicara dan melayani kita. 

Sabtu, 10 Februari 2018

Hidup Serius dan Santai

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. -- Pengkhotbah 7:2
Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. -- 1 Petrus 4:6-7

Ada dua AKHIR yang diajukan Petrus dalam nas ini yang perlu disadari benar oleh orang percaya supaya menghasilkan pola pikir yang terkendali (beberapa terjemahan Inggris: sober-minded, sound mind, serious) dan pola hidup waspada. Pertama adalah pastinya tiap orang akan mati, kedua adalah pastinya waktu akan berakhir dan tiap orang harus menghadap takhta pengadilan Tuhan. Kesadaran akan dua hal ini, ditambah berbagai kebenaran lain yang telah ia paparkan sepanjang suratnya ini sebelumnya, yaitu bahwa kita sudah dipercik darah Kristus, dilahirkan baru oleh kebangkitan Kristus, dimurnikan oleh Roh Kudus, sedang dibentuk untuk menjadi bagian dalam pembangunan bait rohani, mengikuti model hidup utama, Gembala Agung, yang kita kuduskan dalam hati -- ini semua mengisi sikap dan pola hidup untuk kesaksian kata dan karya serta berperilaku kudus. 
Penginjilan kepada orang mati di sini pasti bukan berarti penginjilan di kuburan atau di upacara kematian atau kepada arwah-arwah. Melainkan, maksudnya adalah penginjilan telah disampaikan kepada orang yang kini sudah mati sehingga ada kepastian bahwa sementara menanti berakhirnya waktu, mereka hidup (selamat) dalam roh. Kiranya kini pun dengan dua kesadaran ini kita memiliki dorongan kuat penuh kasih untuk bersaksi kepada orang-orang sekitar lingkar pergaulan kita sehari-hari.
Nasihat untuk pola dan perilaku hidup serius, waspada, tidak terlena oleh pola tingkah kedagingan dan keduniawian ini khususnya makin relevan perlu kita perhatikan di zaman kini yang sangat mementingkan kenikmatan mata, lidah-perut, telinga, berbagai bentuk jaminan, hiburan, dlsb. Kita tidak boleh hidup seolah hanya waktu ini saja yang kita miliki lalu dengan tanpa pengharapan akan masa depan kekal atau kesadaran akan adanya pengadilan dengan dampak kekal kelak, kita berlomba-lomba menguras sambil melampiaskan segala yang berhubungan dengan kenikmatan badani-waktuwi-duniawi semata. Pengikut Kristus menerima semua karunia badani-bumiah ini dengan syukur dan dalam kendali Roh Tuhan atas seluruh keinginan kita sehingga boleh memiliki pola hidup yang benar-kudus-mulia di hadapan Tuhan dan manusia. Amin.

Jumat, 09 Februari 2018

Waktu dan Penghakiman

Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.  -- 1 Petrus 1:16-17
Waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang. Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu. Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. -- 1 Petrus 4:2-5

Para pengikut Kristus menyadari dua hal tentang hidup ini -- bahwa waktu yang kita jalani kini sementara saja, bahwa kelak semua yang hidup dan yang mati akan mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan penghakiman Allah. Ini menjadi alasan teologis kuat sampai menjelma ke dalam kesadaran spiritual yang mendasari tiap pertimbangan, keputusan dan perilaku moral-sosial-ekonomi orang percaya sehingga sewajarnya menghasilkan pola kehidupan yang benar, kudus dan memuliakan Allah. Orang percaya menilai perbuatan lama dalam masa kehidupan lama sebagai sesuatu yang -- ironisnya -- cukup -- enough is enough -- tidak boleh lagi dilanjutkan! Sesudah bertobat dan percaya kehidupan waktuwi ini harus dikerahkan, diisi, diberdaya oleh sasaran kekal -- dan semoga bukan saja secara kualitas tetapi juga kuantitas masih lebih banyak waktu kita kini untuk mengerjakan keluar kebenaran dan kekudusan dan kemuliaan ketimbang waktu "cukup" hidup lama kita.
Hidup yang benar, kudus dan mulia juga akan berfungsi sebagai pelengkap dalam tindakan penghakiman Allah kini dan kelak atas orang-orang yang tidak mengenal Dia, tidak melakukan kehendak-Nya. Paling tidak kini perilaku beda orang percaya menjadi usikan, gangguan pada hati nurani orang yang tidak melakukan kebenaran. Dan apabila orang percaya diejek, dihina, difitnah, bukankah itu pun semacam penghakiman yang terjadi pada mereka, yaitu hati nurani yang terusik itu mengalami pengerasan. Dan kelak andai sesudah kesaksian hidup dan kesaksian kata orang percaya tetap yang bersangkutan hidup tanpa Kristus, mereka harus memberi pertanggungjawaban di hadapan pengadilan Allah.
Kiranya kita izinkan Roh mengakarkan firman tentang kesementaraan hidup dan penghakiman kelak dengan konsekuensi kekal sampai tumbuh berbuah dalam perilaku moral-sosial-ekonomi keseharian kita. Amin. 

Kamis, 08 Februari 2018

Asketisisme, Perlukah?

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? -- 1 Korintus 3:16

Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. -- 1 Petrus 2:11
Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang. -- 1 Petus 4:1-3

Seiring nuansa keprajuritan kita dapatkan juga kesan anjuran bernuansa asketik dalam nasihat Petrus ini. Asketisisme dan mistisisme bukan hal asing dalam sepanjang sejarah Kekristenan -- banyak para bapak gereja abad-abad awal yang mempraktikkan itu. Di dasar asketisisme ada pemahaman bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuh jasmani dan lingkungan bumiah kita adalah jahat, dosa dan tidak bernilai. Ideal Kristen menurut asketisisme adalah bertarak yaitu menolak, menyangkal diri dari berbagai keinginan jasmani -- seperti tidak menikah atau berhubungan seks, sering berpuasa dalam jangka yang lama, dsb. demi supaya yang bersangkutan boleh memupuk hubungan dan pengalaman mistik dengan Allah.
Pada zaman surat ini ditulis kota-kota dagang di Asia Kecil dimana para perantau dan musafir Kristen ini tinggal telah juga menjadi tempat berlangsungnya kebudayaan lepas kendali -- pesta pora pelampiasan berbagai hasrat kedagingan bercampur dengan penyembahan berhala. Berbagai penyembahan berhala sejak zaman sebelum penulisan surat ini bahkan sampai kini memang terlihat, misalnya dalam penyembahan lingga dan yoni, memasukkan pelampiasan macam-macam hawa nafsu ke dalam ritual mereka. Maka tidak heran bila reaksi sebagian orang Kristen menjadi berlebihan sampai menganggap semua yang berhubungan dengan tubuh adalah jahat dan dosa.
Petrus tidak mengajarkan asketisisme keliru demikian demi terjadinya pengalaman mistik tertentu. Ia juga tidak mengidentikkan semua keinginan tubuh dengan dosa dan jahat. Yang ia tentang adalah pola hidup pemuasan kejasmanian yang dilakukan oleh orang yang tidak mengalami pembaruan dan pengudusan dalam Yesus Kristus. Ia menjadikan pola hidup Yesus Kristus yang menderita karena kebenaran, demi hidup kudus dan mulia sebagai model untuk pengendalian diri yang kristiani. Semua hal yang berhubungan dengan tubuh dan bumi ini adalah karunia baik Tuhan dan dapat dialami dengan syukur dalam kendali Tuhan supaya boleh dinikmati secara kudus dan mulia. 
Dalam era globalisasi masa kini hampir tidak ada tempat yang bisa luput dari penyebaran informasi dan pengaruh daya tarik gaya hidup lepas kendali dan berbagai budaya pelampiasan nafsu. Dalam arti yang benar nasihat Petrus untuk asketisik dan mistik yaitu menjaga agar tubuh, hidup, hubungan, keluarga, pekerjaan, kegerajaan kita tetap kudus, benar, mulia, menjadi sangat relevan untuk diperhatikan. Dalam ucapan Yesus Kristus sendiri, hendaknya kita ingat bahwa Ia tidak mengangkat kita keluar dari dunia ini langsung masuk surga,tetapi menempatkan kita dalam dunia di dalam pemeliharaan-Nya untuk kita hidup kudus memuliakan Allah. Mari kita saling mengingatkan dan mendukung untuk mengembangkan asketisisme dan mistisisme yang benar.

Rabu, 07 Februari 2018

Menjadi Prajurit Kristus

Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. -- 1 Petrus 1:13
Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu -- 1 Petrus 3:15
Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa --, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. -- 1 Petrus 4:1-2

Perhatikan nuansa keprajuritan dalam ungkapan yang Petrus utarakan dalam suratnya ini: siapkan, waspadalah, siap sedia pada segala waktu, persenjatai diri! Hidup orang percaya, menjadi pengikut Kristus berarti menjalani kehidupan peperangan rohani. Kita harus membangun sikap mental berjaga-jaga, siap siaga, waspada. Kita harus melatih seluruh keberadaan kita dari dasar kemanusiaan kita terdalam sampai ke bagaimana kita memperlakukan dan berkelakuan secara badani sebagaimana yang wajar dijalani oleh para prajurit dulu maupun kini. Kita bukan sedang tamasya di dunia ini; dunia ini bukan taman bermain atau tempat untuk kita sekadar mengalir mengekor arus zaman. Kita adalah prajurit Kristus yang sedang dilatih oleh Roh Allah untuk menundukkan berbagai kelemahan dalam diri sendiri dan menaklukkan pola hidup kegelapan di dunia sekeliling kita. 
Apabila di pasal-pasal sebelum ini tekanan Petrus pada karya penebusan Yesus Kristus untuk orang percaya -- percikan darah-Nya, kebangkitan-Nya yang memasukkan kita ke dalam pengharapan yang hidup, persembahan hidup-Nya yang menjadi tolok ukur bagi kita untuk dipakai menjadi batu-batu hidup bagi Bait rohani -- maka mulai di akhir pasal 3 dan nas ini Yesus Kristus sebagai hamba yang menderita menjadi model untuk kita tiru dan berlakukan dalam keprajuritan kita. Bukan maksud Petrus bahwa kita harus mencari-cari penderitaan seperti orang masokhis. Tetapi penderitaan karena ingin melakukan kehendak Allah, penderitaan yang seperti Yesus bahkan sampai harus ditanggung dalam sepanjang hidup-Nya dan berpuncak di kematian-Nya, ini harus menjadi persenjataan hidup orang percaya. Artinya, kerelaan, tekad, komitmen untuk taat kepada kehendak Allah bahkan sampai harus merugi, menderita, kehilangan sesuatu yang berharga secara duniawi, menanggung ketidaknyamanan badani, dlsb. perlu kita kenakan, ingat, sadari, tanamkan, jadikan perisai-senjata sepanjang hidup ini di sini dan kini sampai kita kelak masuk kemuliaan-Nya dalam keadaan layak bertemu Panglima Agung kita Yesus Kristus. Amin.

Selasa, 06 Februari 2018

Air Bah dan Air Baptisan

Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. -- Roma 6:3-4

Delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan--maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah--oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya. -- 1 Petrus 3:20-22

Air bah Nuh adalah kiasan (harfiah: antitipon -- dalam beberapa versi Inggris: persamaan, kemiripan, perlambangan) dari baptisan Kristen, Bagaimana kiasan atau persamaan itu? Apabila Paulus menekankan aspek mati bersama Kristus dari kehidupan lama dan bangkit bersama Kristus dalam kehidupan yang baru, Petrus menekankan aspek pengudusan hati nurani sambil menegaskan bahwa baptisan bukan terutama mengurus kotoran jasmani. Kita perlu menghubungkan pemahaman Petrus ini dengan uraiannya di awal surat ini -- 1:2-3 -- dimana ia menyebut tentang percikan darah Kristus dan kelahiran baru oleh kebangkitan Kristus. Lalu di dalam nas ini Petrus melengkapi pemahaman tentang baptisan dengan juga memasukkan kenaikan Yesus Kristus ke sorga dan semua makhluk surgawi, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.
Baptisan -- bagaimana pun cara baptisan itu dilayankan dalam berbagai tradisi gereja berbeda -- pada intinya adalah orang percaya masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan Yesus Kristus yang menyelamatkan -- kehidupan-kematian-kebangkitan-kenaikan-Nya sehingga kita boleh diluputkan dari murka Allah, diberikan hari nurani yang tidak lagi dicemari dosa, dibebaskan dari segala kuat-kuasa yang sedang bekerja menggelapkan orang yang tidak percaya, diberdaya oleh kuat kuasa kebangkitan Yesus Kristus oleh pemberdayaan Roh Kudus. Kebenaran ini yang diwartakan dan dilayankan dalam sakramen baptisan, dihayati sepanjang hidup orang percaya selanjutnya. Marilah kita hidup sebagai orang yang sudah mandi berpakaiankan perbuatan kudus yang mencerminkan kemuliaan Allah.

Sabtu, 03 Februari 2018

Hanya Satu Kesempatan

Di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.  Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan--maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah--oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.   -- 1 Petrus 3:19-20

Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi -- Ibrani 9:27

Berdasarkan nas Ibrani yang jelas menyatakan bahwa semua manusia satu kali harus mati dan sesudah itu diadili di pengadilan Allah, maka kita tidak boleh menyimpulkan bahwa ada kesempatan kedua sesudah mati untuk bertobat atau dimurnikan atau menerima Injil. Itu sebabnya di nas selanjutnya Petrus menegaskan bahwa keselamatan diterima dalam kehidupan kini dengan jalan baptisan yaitu masuk ke dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit.
Jadi apa sesungguhnya yang dikatakan Petrus ini? Perhatikan 1) manusia Yesus Kristus mati (ay 18), 2) tetapi di dalam Roh Ia dibangkitkan -- kemarin sudah kita tinjau bahwa ada kegiatan Tritunggal di sini membangkitkan manusia Yesus Kristus sampai memiliki tubuh kemuliaan, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus membangkitkan manusia Yesus Kristus yang mati itu, 3) dalam Roh yang membangkitkan manusia Yesus Kristus itu, Ia (yang hidup yang kemudian bangkit yaitu Pribadi kedua Tritunggal) mewartakan injil, 4) Ia mewartakan Injil kepada roh-roh zaman Nuh, yaitu ketika Allah menanti dengan sabar semasa Nuh membangun bahteranya. Dari poin terakhir ini kita beroleh petunjuk bahwa di dalam dan melalui khotbah-khotbah Nuh selama 120 tahun membangun bahteranya, sesungguhnya Roh (Pribadi kedua Tritunggal pra-inkarnasi) yang kelak berinkarnasi menjadi manusia Yesus itulah yang berkhotbah dan bersabar. Ini terjadi di zaman Nuh, bukan secara khusus Ia menginjil kepada manusia zaman Nuh dalam alam maut -- sebab, jika demikian bagaimana dengan manusia-manusia era di luar era Nuh?
Kendati ada banyak terjemahan untuk nas ini dan banyak tafsiran tentang nas ini, yang paling konsisten dengan dorongan untuk kita sekarang ini bertobat dan percaya, sekarang ini bersaksi dalam perbuatan dan perkataan adalah paparan di atas. Maka, mari pastikan kita sungguh sudah masuk ke dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit itu, dan mari berikan tangan-kaki-mulut-otak-otot-dompet-hati kita untuk Dia melayankan Injil kepada sesama kita.

Jumat, 02 Februari 2018

Misteri Kematian-Kebangkitan Yesus Kristus

Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. -- Roma 1:3-4

Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia (harfiah: sarx = daging), tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, -- 1 Petrus 3:18b-19a

Dalam nas singkat padat ini kita mendapatkan misteri Injil Yesus Kristus yang menjadi dasar kokoh teguh dan pasti akan pengharapan warisan kekal semua orang yang percaya kepada-Nya. 
Pertama Ia adalah daging -- maksudnya Ia telah menjadi manusia sepenuhnya. Dalam bagian sebelum ini Petrus telah membentangkan berbagai pengalaman manusiawi yang Yesus Kristus alami -- dalam semua hal itu Ia sepenuhnya manusia sejati namun tidak berdosa. Bahkan Ia juga mengalami kematian manusia - itulah maksud Petrus mengatakan bahwa dalam keadaan sebagai daging (sarx -- menunjuk ke kemanusiaan sejati Yesus Kristus) Ia telah mengalami kematian seperti halnya semua manusia yang sudah dan akan mati kelak juga.
Kedua Ia telah dibangkitkan menurut Roh. Di sini kita melihat misteri Yesus Kristus yang adalah manusia sejati dan Allah sejati. Kita tahu bahwa dalam sepanjang kehidupan-Nya Ia dipimpin, diurapi, diberdaya oleh Roh Kudus. Nyata misalnya dari kisah pencobaan dan dari khotbah perdana-Nya bahwa Roh Tuhan ada di atas-Nya. Namun "menurut Roh" di sini lebih menunjuk kepada sifat Keallahan Yesus Kristus sebagai Pribadi kedua Allah Tritunggal yang telah menjelma menjadi manusia, yang pergi menginjili roh-roh zaman Nuh, dan yang membangkitkan kembali Yesus Kristus (harfiah: membuat hidup kembali manusia Yesus). Namun dari berbagai penunjukan nas Perjanjian Baru lainnya kita juga diajarkan bahwa Allah (Bapa) membangkitkan Yesus dari kematian, Roh kekudusan membangkitkan Yesus, dan Roh Yesus sendiri membangkitkan manusia Yesus dari kematian. Misteri kematian-kebangkitan Yesus ialah bahwa sebagai manusia Ia mati sementara Allah meninggalkan Dia yang menanggung dosa manusia tebusan-Nya, namun sesudah tiga hari tiga malam dalam kubur Ketiga Pribadi Allah Tritunggal -- Bapa-Anak-Roh membangkitkan manusia Yesus dengan tubuh kemuliaan dan dalam tubuh kemuliaan itu Ia naik ke surga sebagai Allah sejati dan Manusia sejati yang dimuliakan.
Inilah pangkal atau sumber atau dasar bagi keselamatan mulia yang begitu pasti yaitu  pengharapan akan warisan kekal orang percaya, warisan yang tidak akan binasa-cemar-layu ketika untuk kita juga diciptakan tubuh kebangkitan yang sama dengan Gembala Agung kita. Mari miliki penglihatan jelas tentang kebenaran ini sepanjang kehidupan kita sampai memengaruhi seluruh aspek kemanusiaan kita.

Rabu, 31 Januari 2018

Menjadi "logos" dari sang LOGOS

Tetapi di dalam hatimu, hendaklah kalian memberikan kepada Kristus penghormatan yang khusus yang sesuai dengan kedudukan-Nya sebagai Tuhan. Dan hendaklah kalian selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang kalian miliki. Tetapi lakukanlah itu dengan lemah lembut dan hormat. Dan hendaklah hati nuranimu murni, supaya kalau kalian difitnah karena kalian hidup dengan baik sebagai pengikut Kristus, maka orang yang memfitnah itu akan menjadi malu sendiri. -- 1 Petrus 3:15-16 (BIS)

Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? -- Roma 10:14

Kesempatan untuk menjelaskan tentang pengharapan kekal dalam Yesus Kristus (kesaksian dalam kata) akan terbuka sebagai akibat  wajar dari kesaksian hidup yang sungguh mempertuhankan Yesus Kristus dalam hidup nyata. Sebaliknya, jika kita tidak berinteraksi secara riil dalam berbagai lingkar pergaulan keseharian, jika kita tidak mengizinkan Kristus menyatakan kekudusan, anugerah, kebenaran-Nya menghasilkan perilaku yang berbeda dari orang yang tidak dalam Tuhan, jika sifat, sikap dan tindakan kita dalam keluarga, pertetanggaan, pekerjaan, sama saja dengan mereka yang beroperasi menurut naluri manusia berdosa, bagaimana mungkin akan terjadi pertanyaan tentang pengharapan kekal kita?
Kesaksian hidup dan kesaksian kata tidak dapat dipisahkan sebab keduanya berjalan seiring saling bergantung dan berakibat satu sama lain. Tergesa mengupayakan kesaksian kata tanpa latar kesaksian hidup yang mendukung justru bisa berakibat kesan buruk tentang Injil. Hanya bersikap dan berperilaku baik tanpa kesiapan untuk menjelaskan alasannya dan menunjuk kepada Yesus Kristus sumbernya justru bisa membuat kesan bahwa kita orang yang tidak biasa alias hebat. Mempertuhankan Yesus Kristus dalam hati dan hidup nyata berarti membuahkan kesaksian hidup dan hidup yang menyaksikan Injil -- hidup yang adalah misi, misi sepenuh hidup. 
Marilah kita selalu berkomitmen agar sikap dan perilaku kita ke luar selalu serasi dengan pembaruan hati akibat Yesus Kristus bertakhta di dalam hati. Marilah kita meminta keberanian dari Roh untuk memperluas jaringan perjumpaan sosial kita sambil peka akan kesempatan menyaksikan pengharapan kekal dalam Yesus Kristus begitu keinginan tahu itu muncul di pihak mereka. Marilah sesuai nas ini kita sadari bahwa perbuatan dan perkataan kita adalah logos dari sang logos. 

Selasa, 30 Januari 2018

Kuduskan Kristus dalam Hati

TUHAN semesta alam (YHWH Zebaoth), Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.  -- Yesaya 8:13
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, -- Matius 6:9
Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, -- 1 Petus 3:15

Semua perintah di ayat-ayat sebelum ini -- supaya kita hidup kudus, membuang semua bentuk kejahatan dan dosa, menjadi batu-batu hidup untuk pembangunan Bait rohani, untuk rela menanggung penderitaan demi kebenaran, untuk menjadi keluarga yang setara saling menghormati -- boleh disimpulkan bersumber dari nas penting ini: Kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan di dalam pusat kehidupan kita. Juga bila kita dengan cepat membaca ke ayat-ayat sesudah ini dapat disimpulkan bahwa nas inilah kuncinya, sumbernya, dasar penopangnya -- bagi daya untuk dapat mempertanggungjawabkan Injil kepada dunia sekitar, untuk kehidupan yang siaga bagi kedatangan kembali sang Gembala Agung, dst.
Jelas bukan karena Yesus Kristus kurang kudus maka kita perlu menguduskan Dia. Maksudnya ialah bahwa sebagaimana disiratkan Petrus bahwa Yesus Kristus setingkat dengan YHWH, dengan Abba Bapa-Nya -- semua sifat, sikap sosial dan pelayanan, perilaku pribadi dan umum -- seluruhnya tanpa terkecuali menyinarkan kekudusan, kemuliaan, keindahan tak terperikan -- maka orang percaya perlu mengingat, mengakui, menjunjung seluruh kepenuhan kekudusan Yesus Kristus itu di dalam pusat kehidupan kita terdalam, yaitu hati yang dengan sendirinya meliputi pikiran, perasaan, pertimbangan moral, kemauan, imajinasi, memori, dan hasrat.
Dengan kata lain jika kita kurang mencerminkan kehendak Tuhan dalam aspek moral, spiritual, filial, sosial, ekonomi, eklesiastikal (kehidupan kegerejaan) kita, satu hal yang perlu dikoreksi adalah apakah Yesus Kristus sungguh kita tinggikan layak sesuai kepenuhan kekudusan-Nya dalam aspek-aspek itu. Tetapi, bagaimana mungkin kita menguduskan Yesus Kristus dalam hati jika kita tidak rindu berjumpa dan mengenal Dia dalam pembacaan Injil-injil secara teratur, apabila kita malas merenungkan firman-firman penyataan diri Bapa-Nya melalui Roh-Nya dalam seluruh Alkitab, apabila kita lebih gemar mendengar lelucon dan penyemangat para motivator ketimbang khotbah yang sungguh memproklamasikan seluruh kepenuhan hikmat ilahi? Kita juga perlu kritis terhadap pola ibadah dan lagu-lagu penyembahan yang menjadikan Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus menjadi sedemikian dangkal dan kerdil dan lebih menyerupai berhala-berhala yang orang dunia buat demi memuaskan keinginan diri sendiri. Kita perlu sekali membuka diri penuh kepada pertolongan Roh Kudus agar Tuhan Yesus Kristus bukan sekadar informasi yang kita ketahui di kepala, tetapi sungguh kita kenal, percaya, berharap dan kasihi dengan segenap hati, akal budi, perasaan, kemauan -- otak, jantung, hati, otot sampai tercermin ke bagian-bagian kehidupan yang Petrus nasihati di pasal-pasal sebelum dan sesudah nas ini.

Sabtu, 27 Januari 2018

Baik dan Bahagia

Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. -- 1 Petrus 3:13-14
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. -- Matius 5:8-12

Perbuatan baik wajar merupakan tabiat kedua orang percaya. Naluri pertama kita manusia adalah jahat balas jahat, baik balas baik, tetapi dengan kita diperbarui oleh Yesus Kristus dan Roh Kudus menyucikan kita terus kita dimungkinkan untuk memiliki tabiat kedua yang melampaui naluri manusiawi, yaitu sifat dan perilaku Kristus sendiri. Logisnya orang yang rajin berbuat baik pasti mendapatkan kesan, sambutan dan respons baik juga. Masalahnya banyak orang Kristen masa kini hanya baik untuk kalangan sendiri karena membangun ghetto -- ghetto kegiatan gerejawi yang berjibun banyaknya sampai tidak ada waktu lagi untuk bermasyarakat. Firman ini menantang kita untuk keluar dari sarang aman, dari tempurung nyaman, dan ke luar berbagi hidup baik dalam dunia.
Namun memang bisa terjadi paradoks. Baik ditanggapi jahat, jujur justru dibenci, suci malah dianggap banci, berbagi hidup malah didemo -- dengan akibat berbagai penderitaan harus ditanggung oleh orang Kristen yang aktif berbuat baik. Sambil mengingat ayat sebelum ini bahwa ada MATA, TELINGA Tuhan bagi orang percaya dan ada WAJAH Tuhan yang melawan orang fasik, Petrus menambahkan dua hal lagi. Pertama, sepertinya ia mengingat Ucapan Bahagia Tuhan Yesus seperti kutipan di atas. Inilah bahagia jenis kedua yang tidak dialami dunia ini. Maka untuk orang percaya ada tabiat kedua, ada juga bahagia jenis kedua yang hanya dialami oleh orang yang sungguh hidup berkenan di hadapan Allah dan manusia. Kedua, orang percaya tidak perlu takut akan apa yang ditakuti orang yang tidak dalam naungan Tuhan -- takut nasib buruk, takut diguna-gunai, takut pailit, takut mati mendadak, takut ditipu orang, dan banyak lagi kecemasan-ketakutan orang yang tidak di dalam pemeliharaan Tuhan. Sebab kita hidup di bawah kepak sayap kasih-setia Allah. Puji Tuhan. Amin.