Selasa, 05 September 2017

Konflik ke-2 tentang Hagar-Ismael

Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu." Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir. -- Kejadian 21:9-21


Silakan Anda membaca nas ini dari beberapa angle / sudut pandang berbeda:
1. Bagaimana kesan Anda tentang Sarah dari sikapnya mendesak Abraham mengusir Hagar dan Ismael? Apa penyebab Sarah bersikap demikian -- adakah kekhawatiran, ketidaksukaan, kemarahan? (Perhatikan Ismael "main dengan Ishak" bisa juga diterjemahkan "menertawakan/mengejek" Ishak).
2. Ketika Sarah diberitahu akhirnya akan mengandung, Ismael sudah berusia 14 tahun. Bayangkan hubungan batin Abraham dan Ismael dan mengapa sampai ia menjadi kesal terjadinya kasus ini? Apa kesan Anda tentang sikap Abraham -- sewaktu mendengar permintaan Sarah dan waktu menerima keputusan Allah?
3. Mengapa waktu insiden pertama Hagar diusir lalu Allah memerintahkannya balik kepada Sarah sedangkan kini Allah memutuskan agar Hagar dan Ismael pergi dari Abaham dan Sarah? Pertimbangkan dari sisi usia Ismael, dari isi ucapan Allah, dan dari penggunaan kata Allah bukan TUHAN dalam nas ini. Seperti apakah Allah dalam kesan Anda dari nas ini? Apakah sikap Allah di sini memengaruhi keputusan keseharian kita ketika menghadapi berbagai konflik yang bisa memengaruhi penggenapan rencana-Nya dalam hidup kita? Sifat-sifat Allah mana saja dalam peristiwa ini tampak beroperasi?

Jasmani-Rohani Penting

Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. -- Kejadian 21:4
Supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu... Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.


TUHAN menggenapi semua dan setiap panggilan serta janji-janji-Nya kepada Abraham -- sebagaimana yang Ia katakan-janjikan-firmankan dan pada waktu yang Ia tetapkan. Kini giliran Abraham melakukan tanggungjawabnya untuk melakukan apa yang TUHAN perintahkan yaitu menyunat anak lelaki pada usia delapan hari. Kendati tindakan mengerat daging kulup itu melibatkan penumpahan darah, dan sebagai bapa harus dilakukannya kepada bayi baru berusia delapan hari, tetap perintah TUHAN harus ia taati. Sebab itu menjadi tanda lahiriah dari realitas relasional yang ada antara Ishak dan TUHAN seterusnya sebagai penerus perjanjian. Maka untuk umat TUHAN PL sunat berlanjut dengan pendidikan rohani yang dilakukan oleh para orangtua kepada anak-anak mereka sampai mereka mencapai usia akil balik -- mendidik mereka tentang mengasihi TUHAN Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dengan cara-cara edukasi yang kreatif yang kasat mata sekaligus terukir dalam hati.
Dalam kenyataan dulu sampai kini mudah sekali menceraikan sisi tampak/lahiriah dari sisi tidak tampak/batiniah. Jika perangkap untuk umat Israel adalah lahiriah tanpa realitas rohani, perangkap untuk kebanyakan kita adalah "yang penting hati" lalu mengabaikan yang jasmani/tampak/lahiriah. Sebagaimana tubuh dan roh tidak dapat dipisah tanpa mengakibatkan kematian, demikian juga harus kita ingat bahwa hubungan kita dengan TUHAN harus merupakan realitas tampak/tak tampak, jasmani/rohani -- mulai sejak kelahiran baru dikerjakan TUHAN di dalam kita seterusnya secara berkelanjutan. 


Tidak saja sakramen penting bagi kerohanian kita, hendaknya seluruh keseharian tampak kita dihayati sebagai bersifat sakramental.

Penggenapan Janji Allah

TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya. Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. Berkatalah Sara: "Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku." Lagi katanya: "Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya." -- Kejadian 21:1-7
Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. -- Ibrani 11:11-12



Penggenapan aspek kedua dari panggilan-janji TUHAN kepada Abraham-Sarah terjadi dua puluh lima tahun sesudahnya. Secara di luar nalar tentang kapasitas manusiawi, ketika Abraham terutama Sarah secara biologis sudah mustahil menghasilkan keturunan, justru -- "seperti yang difirmankan-Nya," "seperti yang dijanjikan-Nya," "dalam masa tuanya," "pada waktu yang ditetapkan TUHAN," -- dalam situasi telah mati pucuk atau semua jalan sudah buntu itulah Ishak dimungkinkan TUHAN lahir bagi mereka. Luar biasa! Sungguh sebuah penantian iman yang lama dan bukan tanpa kelak-kelok jatuh-bangun kelemahan-keraguan-ikhtiar keliru manusiawi mereka akhirnya karena kesetiaan mereka yang terus menerus ditopang oleh penguatan kesetiaan TUHAN, iman mereka menerima janji TUHAN! Iman menyambut kejutan dahsyat dari TUHAN: "Allah membuat mereka tertawa." Peristiwa itu juga menjadi alasan semua orang ikut tertawa bersama mereka. Yang tidak sanggup dinalar siapa pun bahwa dalam usia harusnya mereka menggendong buyut, Sarah akhirnya menyusui anak kandungannya dari benih Abraham, anak perjanjian.

Di dalam Yesus Kristus sang Penggenap Perjanjian kita yang percaya kepada-Nya sesungguhnya dijamin mengalami penggenapan semua janji-janji penyelamatan TUHAN yang dibuahi di dalam kehidupan dan karya-karya Yesus Kristus. Berbagai hal yang kita harap dan doakan dalam iman -- pengudusan, kasih yang lebih bulat hati, hidup yang bermakna, kesehatan-kesembuhan, rejeki, hubungan-hubungan yang harmonis, dlsb. -- pada dasarnya sudah-sedang-akan terwujud di dalam Yesus Kristus. Marilah seperti Abraham-Sarah kita setia berpegang pada janji-janji TUHAN, kepada firman-Nya, dan pada mo-edah / kairos / ketetapan waktu TUHAN. 

Kamis, 31 Agustus 2017

Terang atas Gelap Budaya

Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing. Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya: "Dia saudaraku," maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: "Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami." Adapun Abimelekh belum menghampiri Sara. Berkatalah ia: "Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tak bersalah? Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci." Lalu berfirmanlah Allah kepadanya dalam mimpi: "Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka Akupun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia. Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau." Keesokan harinya pagi-pagi Abimelekh memanggil semua hambanya dan memberitahukan seluruh peristiwa itu kepada mereka, lalu sangat takutlah orang-orang itu. -- Kejadian 20:1-8

Abimelekh mengambil Sarah untuk menambah koleksi haremnya, entah karena Sara luar biasa cantik atau karena Abraham termasyhur sebagai pedagang besar berpengaruh sehingga Abimimelekh ingin bersekutu dengan Abraham. Bahwa para raja dan orang kaya memperlakukan perempuan sebagai milik untuk pemuasan nafsu dan pamer kekuasaan adalah hal biasa dalam kebudayaan masa itu. Maka ketika ditegur Allah Abimelekh bisa mengklaim bahwa ia melakukan itu dengan "hati tulus dan tangan suci." Memang ia belum sempat menjamah Sara karena telah sempat dihajar Allah dengan penyakit dan dalam kenyataan bahwa secara budaya perbuatan mengambil perempuan menjadi koleksi milik orang berkuasa adalah lazim membuat dia tidak menganggap itu salah. Tetapi di hadapan Allah -- perhatikan nas ini tidak menyebut Dia sebagai TUHAN perjanjian tetapi sebagai Allah penguasa langit dan bumi dan segenap isinya -- perbuatan lazim dalam budaya itu tetap adalah perbuatan dosa bukan saja terhadap manusia tetapi bahkan terhadap Allah sendiri. Allah mencegah Abimelekh melakukan dosa lebih jauh sampai merusakkan rencana-Nya untuk Abraham dan bangsa-bangsa dengan menjatuhkan penyakit ke atasnya, menegurnya dalam mimpi dan memerintahkannya mengembalikan Sara serta memohon nabi Abraham mendoakannya agar sembuh. Meski budaya dan hati telah demikian digelapkan oleh dosa namun masih tetap ada terang yang memungkinkan Abimelekh mengenali Allah sebagai "adonai" / Tuhan. Karena itu apa yang "benar" secara budaya itu tetap salah di hadapan Allah dan harus diluruskan. 

Karya Tuhan dalam umat-Nya adalah juga koreksi Allah atas dosa bagaikan terang merebak ke dalam wilayah budaya yang masih dalam gelap.

Salah untuk Kedua Kalinya

Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya: "Perbuatan apakah yang kaulakukan ini terhadap kami, dan kesalahan apakah yang kulakukan terhadap engkau, sehingga engkau mendatangkan dosa besar atas diriku dan kerajaanku? Engkau telah berbuat hal-hal yang tidak patut kepadaku." Lagi kata Abimelekh kepada Abraham: "Apakah maksudmu, maka engkau melakukan hal ini?" Lalu Abraham berkata: "Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku. Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku." Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, isteri Abraham, juga dikembalikannya kepadanya. Dan Abimelekh berkata: "Negeriku ini terbuka untuk engkau; menetaplah, di mana engkau suka." Lalu katanya kepada Sara: "Telah kuberikan kepada saudaramu seribu syikal perak, itulah bukti kesucianmu bagi semua orang yang bersama-sama dengan engkau. Maka dalam segala hal engkau dibenarkan." Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak. Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu. -- Kejadian 20:9-18

Peristiwa ini terjadi sekitar 24 tahun sesudah peristiwa mirip ketka Sarai diambil oleh Firaun karena Abraham hanya mengakui dia sebagai saudari namun bukan istrinya. Mengapa terjadi pengulangan salah yang sama? Dari jawaban Abraham kepada teguran Abimelekh jelas bahwa sejak awal ia sudah meminta Sarah hanya menceritakan sebagian dari hubungan mereka, yaitu sebagai saudari tetapi tidak sebagai istri. Ada beberapa pengandaian Abraham di balik setengah kejujuran itu. Pertama, ia mengandaikan bahwa bangsa itu tidak takut akan Allah. Dan, kedua karena itu pasti bangsa yang tidak takut akan Allah itu akan merampas Sarah darinya dan membunuh Abraham. Kedua pengandaian itu tidak sepenuhnya benar. Orang yang tidak takut akan Allah belum tentu pasti melakukan segala macam kejahatan. Mereka masih memiliki beberapa pertimbangan moral sendiri dari terang penyataan dan anugerah umum Allah seperti akal budi, rasa bersalah, dlsb. Kedua, andai mereka memang ingin bermaksud jahat, seharusnya Abraham lebih percaya pada perlindungan TUHAN ketimbang percaya kekuatan ancaman dari pihak jahat atau percaya perlindungan akal bulus diri sendiri. Abraham ditegur oleh Abimelekh yang secara tidak langsung adalah teguran TUHAN sendiri kepadanya. Seharusnya, andai ia jujur, andai ia tidak menggeneralisir pengandaiannya tentang orang di luar perjanjian TUHAN, andai ia sungguh percaya akan kesetiaan penyertaan TUHAN atasnya, seharusnya ia menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan bukan mendatangkan dosa kepada bangsa itu.

O TUHAN, kami akui masih banyak pengandaian, pertimbangan dan keputusan kami yang tidak sepenuhnya sesuai dengan firman-firman-Mu. Tolong kami untuk tidak tanggung-tanggung dalam percaya dan taat kami kepada-Mu agar kami sungguh boleh menjadi berkat bagi zaman kami kini. 

Nabi untuk Zaman Kekinian

Jadi sekarang, kembalikanlah isteri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau." -- Kejadian 20:7
Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. -- 1 Korintus 14:4


Istilah "nabi" untuk pertama kalinya disebutkan dalam Kitab Kejadian. Apabila syarat nabi adalah bergaul akrab dengan Allah, mendengarkan sabda-Nya dan dengan setia menyampaikan itu kepada generasi yang bersangkutan, maka Henokh, Nuh dan Ayub pantas disebut sebagai nabi juga. Namun demikian dalam catatan Kejadian ini Abraham adalah orang pertama yang disebut Allah sebagai nabi. Sebelum ini Abraham telah banyak menerima firman dari Allah, antara lain mengenai penghukuman atas Sodom dan Gomora. Uniknya dalam nas ini kenabian digabung dengan keimamatan karena menekankan peran doa Abraham untuk Abimelekh yang akan menyebabkan Abimelekh diampuni dan disembuhkan. 
Di antara para pemimpin Kristen masa kini ada banyak perdebatan tentang masih adakah jabatan nabi atau masih perlukah fungsi kenabian apabila kita kini sudah memiliki Kitab Suci yang adalah kanon untuk iman dan perilaku kita. Jelas dalam artian yang sempit nabi PL dan rasul PB sebagai penerima wahyu tentang rencana penyelamatan Allah dalam Kristus adalah bagaikan fondasi yang tidak terus menerus berlangsung. Posisi foundasional itu sudah selesai. Namun dalam artian luas seperti yang Abaham tunjukkan kini yaitu orang-orang yang dalam hubungan dekat dengan Tuhan memiliki penangkapan yang peka dan benar akan isi hati Allah tentang berbagai situasi dan kondisi kekinian lalu menyampaikan itu -- baik dalam artian untuk konteks komunal maupun personal -- dengan ujian bahwa hal yang disampaikan itu tidak menyimpang dari kebenaran Alkitab, maka fungsi kenabian itu tentu masih ada dan sangat diperlukan dari zaman ke zaman. Buktinya adalah begitu banyaknya rujukan tentang nabi dan petunjuk mengenai bagaimana mereka harus bernubuat di surat-surat para rasul. Lagipula mengingat di dalam dan karena Kristus semua orang percaya adalah imam-nabi-raja, maka saling berbagi wawasan, pengajaran, penguatan, petunjuk ilahi, nasihat, doa berwawasan dlsb. adalah hal yang wajar bahkan harus ada dalam kehidupan tubuh Kristus. 
Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. - -1 Tesalonika 5:19-20

Hati-hati Pengandaian Sendiri

Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya: "Perbuatan apakah yang kaulakukan ini terhadap kami, dan kesalahan apakah yang kulakukan terhadap engkau, sehingga engkau mendatangkan dosa besar atas diriku dan kerajaanku? Engkau telah berbuat hal-hal yang tidak patut kepadaku." Lagi kata Abimelekh kepada Abraham: "Apakah maksudmu, maka engkau melakukan hal ini?" Lalu Abraham berkata: "Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku. Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku. Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di tiap-tiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku." Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, isteri Abraham, juga dikembalikannya kepadanya. Dan Abimelekh berkata: "Negeriku ini terbuka untuk engkau; menetaplah, di mana engkau suka." Lalu katanya kepada Sara: "Telah kuberikan kepada saudaramu seribu syikal perak, itulah bukti kesucianmu bagi semua orang yang bersama-sama dengan engkau. Maka dalam segala hal engkau dibenarkan." Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan isterinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak. Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, isteri Abraham itu. -- Kejadian 20:9-18


Peristiwa ini terjadi sekitar 24 tahun sesudah peristiwa mirip ketika Sarai diambil oleh Firaun karena Abraham hanya mengakui dia sebagai saudari namun bukan istrinya. Mengapa terjadi pengulangan salah yang sama? Dari jawaban Abraham kepada teguran Abimelekh jelas bahwa sejak awal ia sudah meminta Sarah hanya menceritakan sebagian dari hubungan mereka, yaitu sebagai saudari tetapi tidak sebagai istri. Ada beberapa pengandaian Abraham di balik setengah kejujuran itu. Pertama, ia mengandaikan bahwa bangsa itu tidak takut akan Allah. Dan, kedua karena itu pasti bangsa yang tidak takut akan Allah itu akan merampas Sarah darinya dan membunuh Abraham. Kedua pengandaian itu tidak sepenuhnya benar. Orang yang tidak takut akan Allah belum tentu pasti melakukan segala macam kejahatan. Mereka masih memiliki beberapa pertimbangan moral sendiri dari terang penyataan dan anugerah umum Allah seperti akal budi, rasa bersalah, dlsb. Kedua, andai mereka memang ingin bermaksud jahat, seharusnya Abraham lebih percaya pada perlindungan TUHAN ketimbang percaya kekuatan ancaman dari pihak jahat atau percaya perlindungan akal bulus diri sendiri. Abraham ditegur oleh Abimelekh yang secara tidak langsung adalah teguran TUHAN sendiri kepadanya. Seharusnya, andai ia jujur, andai ia tidak menggeneralisir pengandaiannya tentang orang di luar perjanjian TUHAN, andai ia sungguh percaya akan kesetiaan penyertaan TUHAN atasnya, seharusnya ia menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan bukan mendatangkan dosa kepada bangsa itu.

O TUHAN, kami akui masih banyak pengandaian, pertimbangan dan keputusan kami yang tidak sepenuhnya sesuai dengan firman-firman-Mu. Tolong kami untuk tidak tanggung-tanggung dalam percaya dan taat kami kepada-Mu agar kami sungguh boleh menjadi berkat bagi zaman kami kini. 

Sabtu, 26 Agustus 2017

Disiplin Bersyafaat

Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu, dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan. Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu. -- Kejadian 19:27-29
Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.  - Wahyu 8:4

Abraham kembali ke tempat ketika ia bersyafaat untuk pembatalan atau penundaan hukuman TUHAN atas Sodom-Gomora. Kini dari tempat yang sama ia menyaksikan bahwa hukuman Tuhan tetap dilaksanakan, Sodom-Gomora dan kota-kota sekitarnya, seluruh penduduknya dengan semua kemakmuran di dalamnya ditunggang-balikkan oleh murka Allah. Di kejauhan tampak olehnya asap api naik dari kota-kota itu seperti dari dapur peleburan. Meski dengan berani, gigih, peduli ia telah bersyafaat untuk keselamatan 50, 45, 40, dst. sampai ke 10 orang benar demi perpanjangan kesempatan dari Tuhan, ternyata hanya tiga dari empat yang diluputkan dan kota-kota itu tidak memenuhi syarat untuk menerima kemurahan-keadilan Tuhan yang memperpanjang kesempatan mereka untuk ada dan bertobat. 
Dalam tradisi umat PL dan PB orang percaya mengenal disiplin doa syafaat. Pensyafaat seperti halnya Abraham menempatkan diri dalam posisi di antara Allah dan manusia, manusia dan Allah. Pada intinya pensyafaat adalah mediator dan mediator sejati tidak condong ke pihak manusia dengan mengabaikan sifat-sifat Tuhan. Abraham bukan meminta keselamatan kota yang jahat melainkan agar orang benar yang ada di dalam kota jahat itu tidak dibinasakan oleh murka Allah bersama orang jahat. Orang percaya masa kini mengemban kehormatan sebagai mediator di bawah sang Mediator Agung dengan jalan bersaksi dan berdoa syafaat. Kita menyaksikan injil Yesus Kristus supaya orang jahat insyaf, meninggalkan kejahatan dan menyambut serta masuk ke dalam hidup dan karya keselamatan Yesus Kristus. Kita bersyafaat agar Tuhan dalam anugerah-Nya memberikan kesempatan-kesempatan baru untuk terjadinya penyelamatan namun tidak dengan mengkompromikan kesucian dan keadilan Tuhan. Syafaat juga tidak mengabaikan penderitaan orang benar dan seru-tangis pihak yang tertindas agar Tuhan memerhatikan, bertindak setimpal dan adil. 

Bersaksi dan bersyafaat mungkin adalah dua disiplin spiritualitas yang banyak diabaikan atau disalahlakukan oleh orang percaya masa kini. Mari bercermin pada Abraham dan Yesus Kristus sang Mediator Agung kita kembangkan hidup bersaksi dan besyafaat yang memperjuangkan pertobatan-keselamatan manusia dan kemurahan-keadilan Tuhan terjadi di kota-kota kita.

Jumat, 25 Agustus 2017

Materi tidak Kekal

Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu. Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita." Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: "Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita." Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang. Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang. -- Kejadian 19:29-38

Dahsyatnya pemusnahan Sodom-Gomora mungkin membuat kedua putri Lot berpikir Tuhan telah memunahkan seluruh umat manusia dari muka bumi. Atau jika bukan demikian mungkin mereka menganggap kaum lelaki lain dari daerah lain tidak sudi mengambil mereka menjadi istri sebab mereka luput dari kota-kota yang dikutuk Tuhan. Ini alasan masuk akal di balik upaya memalukan mereka untuk membuat Lot menjadi mabuk lalu dalam keadaan tahu-tidak tahu meniduri mereka dan menghasilkan keturunan. Sebagaimana sebelum ini mereka dibiarkan memiliki calon suami orang asal Sodom-Gomora yang tidak kenalTuhan pertimbangan mereka itu semakin menunjukkan kecemaran pola nilai Sodom-Gomora yang mengakar dalam Lot dan anak-anaknya. Nama-nama yang diberikan semakin menunjukkan kekacauan pemikiran mereka. Moab berarti "dari si bapa," dan Ben-Ami berarti "anak kerabatku." Kemudian hari TUHAN melarang Israel memerangi bani Moabdan Amon karena mereka keturunan Lot (Ulangan 2:9, 19) tetapi terjadi juga perang karena kedua bani itu yang memusuhi Israel.
Narasi Lot berhenti sampai di kisah memalukan ini. Tidak ada lagi catatan tentang dia dalam nas-nas sejarah keselamatan. Bahkan tentang kematiannya pun Alkitab tidak mencatat. Dalam keserakahan, dengan mengabaikan ketetapan Allah dalam panggilan Abraham, ia memilih menurut pertimbangan materialistik. Ujung-ujungnya seluruh pencapaiannya habis musnah bersama kebinasaan Sodom-Gomora. Ia sendiri masih mengalami kemurahan Allah, diselamatkan. Dalam keluputannya pun masih terjadi lagi kisah memalukan yang melahirkan dua anak yang nantinya menjadi musuh umat pilihan Allah.
Peringatan bagi kita semua, materi tidak layak dijadikan dasar pertimbangan dalam kasus apa pun.

Kamis, 24 Agustus 2017

Tinggalkan Keduniawian

Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar. Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah. Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu, dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.  -- Kejadian 19:23-28
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Tetapi semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. -- 1 Yohanes 2:15-17

Betapa kontras: saat fajar memandikan Lot dengan cahaya pengharapan baru di Zoar, Sodom dan Gomora tiba-tiba kelam menyelubungi Sodom-Gomora dan wilayah sekitarnya, terlempar seakan dibolak-balik dan dihujani dengan belerang menyala. Sayang dan sedihnya istri Lot yang telah selamat dari kota terlaknat itu tidak menaati perintah  untuk tidak menengok ke belakang. Tubuhnya telah ke luar dari Sodom-Gomora tetapi hatinya masih tertambat. Akibatnya ia tidak dapat lanjut dalam proses penyelamatan itu dan berubah menjadi tiang garam. 
Apa sebenarnya bencana penghukuman atas Sodom dan Gomora itu? Sampai sekarang belum terdapat kesimpulan akhir di antara para arkeolog alkitabiah dan sejarawan. Dengan merujuk ke banyaknya bahan-bahan batu kapur belerang di sekitar lembah Yordan, Laut Mati, dan ditemukannya reruntuhan kota purba di selatan Laut Mati para ahli berpendapat kehancuran itu disebabkan oleh gempa dahsyat, atau letusan volkanik (Laut Mati adalah bekas kawah gunung yang meletus itu) atau kejatuhan meteor. Boleh jadi proses kehancuran itu dapat dijelaskan secara alami namun pemrakarsa pemusnahan itu dan faktor "timing"-nya menurut nas ini adalah TUHAN yang hadir di bumi dan TUHAN yang di langit yang menunggang-balikkan kota-kota jahat itu. Sebagaimana Tuhan yang memanifestasi di bumi dan Tuhan yang di langit secara serasi bekerjasama dalam penghakiman itu, demikian juga tidak ada keberatan teologis bahwa natural dan supernatural bersesuaian baik dalam pemeliharaan dan penopangan hidup di bumi ini maupun dalam pemusnahannya sebagai hukuman ilahi atas kejahatan.
Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk pandai-pandai membaca tanda-tanda zaman (termasuk gejala alami) sebab itu adalah manifestasi alami dari yang dikerjakan Tuhan yang di surga. Yang sungguh selamat adalah yang setia sampai ke akhir menghidupi keselamatan anugerah Tuhan.

Rabu, 23 Agustus 2017

Jangan Selamat seperti Lot

Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: "Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya." Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: "Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini." Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja. Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini." Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." Kata Lot kepada mereka: "Janganlah kiranya demikian, tuanku. Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku. Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara." Sahut malaikat itu kepadanya: "Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana." Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar. Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar. -- Kejadian 19:12-16

TUHAN adalah api yang menyala-nyala yang dalam kekudusan-keadilan-Nya menjatuhkan hukuman setimpal kejahatan manusia. Pemusnahan Sodom dan Gomora ini dalam Perjanjian Baru dijadikan peringatan serius tentang penghukuman akhir yang jauh lebih dahsyat akan menimpa dunia dan orang-orangnya yang melakukan kejahatan (Matius 11:23-24; 2 Petrus 2:6). Berlangsung bersamaan dengan penghukuman ini adalah tindakan penyelamatan atas Lot dan keluarganya. Hanya empat orang yang diselamatkan dari hukuman tersebut, itu pun karena desakan dan tuntunan malaikat dengan perintah tegas agar mereka lari menyelamatkan diri tanpa boleh menoleh ke belakang. Kedua sifat Tuhan yang untuk manusia seakan bertentangan ini -- kemurahan dan kemarahan -- dalam nas ini menyatakan diri hadir dan beroperasi bersama. Maka dalam pengenalan kita akan TUHAN keduanya juga harus serasi demikian memengaruhi semua pertimbangan dan tindakan kita.
Bahwa Lot diselamatkan disebabkan ia masih diperhitungkan benar oleh Tuhan. Tetapi perhatikan bagaimana pilihan Lot sejauh itu telah memengaruhi pertimbangan dan tindakannya. Apa yang membuat di awalnya Lot berlambat-lambat merespons desakan malaikat untuk ia dan kaumnya lari menyelamatkan diri? Sampai-sampai empat orang itu harus dituntun (masing-masing malaikat menuntun dua orang) dan ditunjukkan harus pergi ke arah mana mereka. Firman berkata dimana harta kita di situ arah hati kita -- inilah yang membuat Lot berlambat-lambat sebab itu berarti ia harus meninggalkan semua pencapaiannya, jerih lelahnya sekian lama dan pergi selamat namun dengan tangan hampa. Perhatikan juga kerohanian Lot yang tidak menunjukkan iman yang sehat. Berlambat-lambat berarti juga tidak menimbang serius hukuman yang akan datang, tetapi begitu ia mulai berjalan sesuai arahan malaikat tiba-tiba ia merasa tidak sanggup menempuh perjalanan peluputan itu terlalu jauh. Ia meminta diizinkan berhenti sampai sejauh Zoar, yang relatif dibebaskan dari hukuman itu -- cukup jauh namun tidak sepenuhnya jauh dari Sodom dan Gomora.

Meski kita hidup di dunia kita tidak boleh mencintai dunia ini supaya pola hidup kita dimungkinkan untuk limpah dengan fokus dan nilai surgawi. 

Selasa, 22 Agustus 2017

Dosa-dosa Sodom-Gomora

Berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.-- Kejadian 18:20
Orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka." -- Kejadian 19:4-5
Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. -- Roma 1:26-27
Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit (homoseks), pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. -- 1 Korintus 6:9-10
Seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. -- Yudas 1:7

Apakah keluh kesah terhadap Sodom dan Gomora -- yang disebut TUHAN sebagai "sungguh sangat besar" -- yang membuat Ia memutuskan untuk menyelidiki dan akhirnya menjatuhkan hukuman atas mereka? Dari begitu banyak dosa dan kejahatan sampai setiap nas yang bicara tentang Sodom dan Gomora dalam PL dan PB senada mengatakan bahwa ini adalah kota yang sangat jahat -- Yehezkiel 16:49 menyatakan dosa kesenangan hidup tanpa peduli akan orang miskin. Dengan tegas firman Tuhan menyatakan bahwa keserakahan sama dengan penyembahan berhala dan ketidakpedulian kepada orang miskin adalah kejahatan yang dihukum Tuhan.
Satu lagi dosa yang jelas disebut dalam peristiwa Lot ini adalah para lelaki yang menggerombol di sekitar rumah Lot itu ingin menyetubuhi dua tamu Lot. Inilah asal dari istilah sodomi yang kita kenal sebagai julukan bagi hubungan seks sesama pria. 
Paulus secara gamblang menegaskan bahwa pelaku homoseks tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Mengingat Paulus adalah orang Farisi sejati yang tahu "ngelotok" kitab-kitab taurat, juga dengan petunjuk bahwa dalam surat Roma ia menjadikan kisah Adam dan kisah Abraham sebagai tokoh contoh untuk pengajarannya, maka uraian di Roma 1 tentang penyimpangan seksual tidak saja bicara tentang dosa-dosa orang kota Roma tetapi ini juga mengacu ke dosa orang Sodom-Gomora. Pengubahan seks dan perilaku seksual adalah jahat di pemandangan Tuhan sebab berarti merusakkan keberadaan dan peran lelaki dan perempuan sebagai pasangan yang sepadan yang menggambarkan Allah. 
Anugerah penyelamatan yang kita alami adalah supaya kita hidup suci dan penuh anugerah. Maka menjaga kekudusan seksual dan kekudusan ekonomi adalah keharusan untuk orang Kristen.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Dimurnikan Tuhan

Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai (harfiah: kenali = setubuhi) mereka." Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnya di belakangnya, dan ia berkata: "Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku." Tetapi mereka berkata: "Enyahlah!" Lagi kata mereka: "Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!" Lalu mereka mendesak orang itu, yaitu Lot, dengan keras, dan mereka mendekat untuk mendobrak pintu. Tetapi kedua orang itu mengulurkan tangannya, menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari pintu. - Kejadian 19:4-11

Jelas sikap dan perilaku Lot cukup berbeda dibanding orang-orang Sodom-Gomora. Lot rupanya punya kebiasaan duduk di gerbang kota untuk memastikan tidak ada orang asing yang masuk kota terperangkap dalam kebiadaban kota itu. Lot memiliki kepekaan rohani dan kemurahhatian untuk memberi tumpangan dan melindungi kedua utusan ilahi itu, sementara penduduk kota itu berperilaku layaknya gerombolan. Lot punya keberanian menghadapi gerombolan orang jahat yang mengepung rumahnya dengan ke luar sendirian di depan pintu kediamannya. Betapa jahat orang-orang itu, mereka tidak ingat bagaimana demi Lot mereka telah dibebaskan oleh Abraham dari penindasan raja-raja sekutu yang mengalahkan mereka. Selanjutnya, dan sayangnya, ya ini sisi negatif Lot akibat keserakahannya memilih tinggal di tempat yang jahat pada pemandangan Tuhan itu, Lot tanpa tanggungjawab dan naluri sebagai bapa, begitu saja mengucapkan kesediaan memberikan dua anak gadisnya sebagai pengganti keinginan orang banyak itu "memakai" dua tamunya.
Dai peristiwa berikutnya ternyata bukan Lot menyelamatkan dua malaikat itu tetapi malaikat tersebut yang menyelamatkan Lot. Pertama dengan menarik Lot masuk menghindari keroyokan para biadab itu, dan kedua dengan membutakan mata mereka sehingga tidak dapat mencapai pintu rumah. Sungguh luar biasa anugerah Tuhan bagi Lot. Kini saatnya ia dimurnikan Tuhan, dilepaskan dari harus terus menerus menderita dan tersiksa.

Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, -- sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa -- 2 Petrus 2:7-8

Jumat, 18 Agustus 2017

Persahabatan Positif

Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah, serta berkata: "Tuan-tuan, silakanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya." Jawab mereka: "Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang." Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka, ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan. -- Kejadian 19:1-3
Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja... -- 2 Petrus 2:7


Lot boleh kita sebut sebagai seorang dengan sifat-sifat positif-negatif bercampur aduk. Dari hanya keponakan yang mengikut perjalanan Abraham memenuhi panggilan ilahi, Lot kemudian memilih jalannya sendiri. Percabangan itu terjadi ketika timbul pertengkaran soal lahan peternakan antara para gembala Lot dan para gembala Abraham. Kita masih ingat betapa sigapnya Lot memilih wilayah yang paling menguntungkan pada pemandangannya tanpa segan bahwa ia telah melangkahi hak Abraham yang sesungguhnya mewarisi janji tanah dari TUHAN, juga tanpa peduli bahwa wilayah pilihannya itu termasuk teritorial tumbuh-kembangnya berbagai kekejian di mata TUHAN. Dalam nas ini kita temui gema sifat-sifat Abraham tertentu dalam diri Lot. Yang terpenting adalah sikapnya kepada dua sosok ilahi yang diutus TUHAN untuk menyelidik Sodom-Gomora. Seperti sikap Abraham kepada YHWH dan dua malaikat-Nya, Lot pun tiarap sampai wajahnya rata ke tanah. Seperti Abraham menjamu tiga orang pelawat surgawi itu, Lot juga. Seperti Abraham mendesak agar tamunya tidak berlalu tetapi singgah, Lot pun mendesak dua malaikat itu untuk bermalam di rumahnya. Kepekaan rohani, kemurahhatian dan kebutuhan untuk perkawanan yang baik ini, dari mana asalnya? Apakah ia belajar itu dari sikap hidup Abraham selama Lot mengikutnya? Apakah meski sudah berpisah -- sebagaimana terjadi dari kisah Abraham membebaskan Lot dari tawanan raja-raja sekutu penakluk Sodom-Gomora -- Abraham dan Lot masih menjaga hubungan, bebagi cerita? Mungkin sekali, meski ini hanya siratan yang dapat kita tarik tanpa teks Alkitab mengatakannya secara gamblang. 
Jadi, tepatkah menyimpulkan bahwa pola hidup Lot boleh juga ditiru -- hidup dekat dengan gaya hidup duniawi bahkan jahat tanpa sendirinya tercemar? Meski 2 Petrus mengatakan bahwa Lot orang benar, namun dari paparan lanjut nas ini kita melihat ada beberapa pengaruh buruk lingkungan tidak baik itu yang memengaruhi Lot dan keluarganya juga.
Selama masih di dunia jahat ini dan menanti langit dan bumi baru, penting untuk kita memupuk persahabatan rohani yang di dalamnya boleh tumbuh nilai-nilai dan sifat-sifat positif melampaui pengaruh negatif dunia ini. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Doa Syafaat

Tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang...apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena.... Sekiranya...Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya -- Kejadian 18:22-33

Sesudah berlari menghampiri TUHAN, sujud bertiarap memohon Ia tidak segera berlalu, menyediakan perjamuan untuk-Nya, kini Abraham tetap berdiri dan mendekati TUHAN dengan doa-doanya bagi Sodom dan Gomora. Inilah Abraham sebagai berkat bagi bangsa-bangsa, Abraham yang di dalam pertumbuhan pengenalan dan persahabatannya akan Tuhan sendirinya mengalami peningkatan gestur dan posturnya di hadapan TUHAN, sampai ke peningkatan peran politisnya. Inilah keajaiban dalam pengenalan yang rill manusia akan Allah, inilah indahnya misteri doa khususnya doa-doa syafaat.
Apabila sebelum ini Abraham mengakrabi banyak sifat Tuhan lainnya kini khususnya ia berhadapan dengan TUHAN yang Mahatahu, Mahaselidik, Mahapeduli, Mahaadil akan berbagai kejahatan-kekerasan-kenajisan yang menimbulkankeluh kesah banyak orang yang terjadi di dalam kota-kota dunia. Mari kita belajar doa syafaat dari doa-doa syafaat Abraham ini.
Pertama, doa syafaat didasari atas dan dibingkai dalam sifat-sifat TUHAN. Tersirat dalam isi doa Abraham ia mengingatkan TUHAN akan sifat-Nya yang Mahabenar, Mahaampun/Maharahim, Mahaadil. Perhatikan bagaimana ia memposisikan sifat-sifat ini dan mengandaikan bahwa semua sifat ini dalam diri TUHAN konsisten-koheren adanya dan tidak berkontradiksi sebagaimana dalam diri manusia. (Dalam manusia kasih, rahmat  cenderung ada pada posisi bertolak belakang dengan adil dan benar). Kedua, dalam doa syafaatnya Abraham sendiri juga bertumbuh semakin konsisten-gigih dalam keprihatinannya akan keselamatan orang lain, khususnya di sini Lot dan seisi rumahnya yang tinggal di wilayah itu. Perhatikan bagaimana pengandaian jumlah orang benar yang Abraham ajukan kepada TUHAN berkurang terus dari 50, ke 45, ke 40, ke 30, ke 20 sampai akhirnya ke 10 orang saja. 
Doa syafaat bukan saja privilese dimana kita boleh berdiri di dekat TUHAN mewakili manusia, doa syafaat juga misteri dimana kita boleh semakin tumbuh ke dekat TUHAN sementara kita mewakili sesama yang kita doakan, sambil TUHAN sendiri seakan mengizinkan diri-Nya semakin merunduk ke keterbatasan keadaan manusia yang kita doakan. 

Ia menyendengkan (merundukkan/merendahkan) telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.
Dalam wawasan doa ini, mari kita terus dan gigih berdoa untuk Indonesia. Dirgahayu RI ke-72.

Rabu, 16 Agustus 2017

Makin Mengenal TUHAN

Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya." Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. -- Kejadian 18:20-22 


Sesungguhnya ada banyak sifat TUHAN yang kembali Abraham pelajari dan kenali dalam peristiwa ini. Melalui berbagai peristiwa sebelum ini sifat apa saja dari Tuhan yang telah Abraham kenali? Perhatikan juga bagaimana dampak pengenalan itu pada sifat dan tindakan Abraham sendiri? Coba Anda telusuri sejenak berbagai peristiwa di nas-nas berikut: 
1. Pasal 12 -- dari panggilan dan paparan rencana Allah kepada Abraham; dari peristiwa pengungsiannya ke Mesir. 
2. Pasal 13 -- dari perselisihan lahan peternakan antara gembala Lot dan gembala Abraham.
3. Pasal 14 -- dari kemenangan Abraham membebaskan Lot dari raja-raja sekutu yang mengalahkan raja-raja sekutu sodom-Gomora; dari pejumpaannya dengan Melkisedek.
4. Pasal 15 -- dari penyataan "Nama" Tuhan ketika Abraham khawatir tentang keadaannya; dari upacara yang Tuhan minta Abraham adakan bagi-Nya.
5. Pasal;16 -- dari peristiwa keputusan Sarah menganjurkan Abraham mendapat anak melalui Hagar; dari penyataan "Nama" Allah sebagai El-Shamma dan El-Roi (Allah yang mendengar; Allah yang melihat) tentang sikap-Nya terhadap penderitaan karena penindasan antar sesama manusia.
6. Pasal 17 -- dari pengulangan janji-Nya kepada Abraham dan penyataan "Nama" Dia sebagai ElShaddai dan pengubahan nama Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sarah; dari pemberian syarat sunat sebagai tanda untuk umat yang menerima perjanjian Allah.
7. Pasal 18 ini -- dari perhatian khusus Tuhan datang untuk meneguhkan hati Sarah (rekan perjanjian Abraham -- pihak perempuan); dari kalimat ini tentang Sodom dan Gomora: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."

Sekian lama kita menjadi orang percaya -- sifat-sifat Tuhan apa saja yang kita kenali dan yang sangat memengaruhi sifat, sikap dan tindakan keagamaan dan keseharian kita? 

Senin, 14 Agustus 2017

Rindu Seperjamuan dengan Allah

TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui (jangan pergi tanpa singgah) hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu." -- Kejadian 18:1-5
Mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. -- Lukas 24:29

Banyak orang mengingini peningkatan anugerah, berkat, lawatan, penyataan karya-karya TUHAN tetapi tidak memperlihatkan peningkatan dalam bentuk kerinduan yang intens, pencarian yang sungguh, pengorbanan yang setimpal. Apabila kita ingin mengalami lawatan Tuhan lebih nyata, pengenalan lebih intim, kesanggupan menyelami isi hati Tuhan makin jelas, kita perlu mengembangkan berbagai ungkapan sebagaimana yang Abraham lakukan ini ketika ia menyadari bahwa TUHAN sendiri dan dua makhluk surgawi datang melawatnya. Pertama ia berlari mendatangi -- bukan diam, terkesima, pasif, melongo tetapi berlari dengan usaha dan tenaga yang sungguh mendekat kepada tiga "orang" tamu surgawi itu. Kedua, ia sujud tersungkur sampai rebah ke tanah. Ini adalah ungkapan penghormatan terdalam yang patut ditunjukkan manusia kepada Yang Mahamulia, Di hadapan TUHAN manusia hanya layak untuk menyembah, merendahkan diri, tunduk mengakui kebesaran-Nya. Ketiga, Abraham memohon agar ketiga tamu surgawi itu tidak pergi melaluinya, melainkan untuk singgah, menerima sambutannya, menerima jamuan yang akan ia siapkan dan layankan kepada mereka. "Do not leave from near your servant" demikian salah satu terjemahan mengungkapkan permohonan Abraham. Ia tidak puas hanya dengan melihat sekilas, merasakan desir gerak mereka berlalu, mendengar firman-Nya menguatkan iman... Abraham menginginkan persekutuan lebih lama, lebih akrab, lebih nyata, lebih dalam -- dalam sebuah perjamuan yang meriah. Sebagai anak-anak Abraham, adakah hasrat yang terus menggelora di dalam kita akan persekutuan dan persahabatan lebih dalam dengan Tuhan?

Tuhan, kiranya ibadah pribadi dan gerejawi kami, kehidupan keseharian kami, pelayanan kami sungguh dan kuat didorong oleh kerinduan kami untuk mengalami perjamuan dengan-Mu, cicipan dari yang kelak akan kami alami dalam kekekalan.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Peran "Duniawi"

Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya." Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya." Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. -- Kejadian 18:17-22
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. -- Yohanes 15;15

Tujuan lawatan surgawi itu di samping untuk memastikan mukjizat Abraham dan Sarah akan mendapatkan anak juga untuk melaksanakan penghakiman-Nya atas komunitas manusia yang telah sedemikian jahatnya melampaui batas kesabaran dan kemurahan Allah. Lalu mengapa TUHAN kini menimbang untuk memberitahukan urusan penghakiman dunia itu kepada Abraham? Alasan TUHAN ialah: 1) Abraham adalah orang-Nya yang akan Ia jadikan bangsa besar yang memberkati bumi; dan, 2) Tindakan penghakiman TUHAN juga berkaitan dengan Abraham mendidik keturunannya seterusnya untuk tetap setia dalam jalan TUHAN. Dengan kata lain, Abraham adalah sahabat Allah untuk menjadi berkat bagi dunia dengan cara terlibat dalam seluk beluk penyelenggaraan dunia oleh para penguasa dunia -- intinya berperan nyata dalam sosial-ekonomi-budaya-pendidikan-politik. Peran semacam ini tidak bisa terjadi jika penghayatan tentang arti berkat tertuju ke diri sendiri -- maksud dari berkat bukan hanya materiil dan egoistis tetapi komprehensif dan integrasional serta global. Lalu, akan ada dampak dan gema timbal; balik antara bagaimana TUHAN mengurus dunia luar dengan bagaimana umat TUHAN (keluarga, gereja, lembaga Kristen) berperilaku secara internal. Mutu peran "duniawi" orang percaya akan sejajar dengan mutu kesungguhan orang percaya melaksanakan kehendak dan perintah TUHAN.