Jumat, 25 Agustus 2017

Materi tidak Kekal

Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu. Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya. Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita." Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: "Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita." Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang. Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang. -- Kejadian 19:29-38

Dahsyatnya pemusnahan Sodom-Gomora mungkin membuat kedua putri Lot berpikir Tuhan telah memunahkan seluruh umat manusia dari muka bumi. Atau jika bukan demikian mungkin mereka menganggap kaum lelaki lain dari daerah lain tidak sudi mengambil mereka menjadi istri sebab mereka luput dari kota-kota yang dikutuk Tuhan. Ini alasan masuk akal di balik upaya memalukan mereka untuk membuat Lot menjadi mabuk lalu dalam keadaan tahu-tidak tahu meniduri mereka dan menghasilkan keturunan. Sebagaimana sebelum ini mereka dibiarkan memiliki calon suami orang asal Sodom-Gomora yang tidak kenalTuhan pertimbangan mereka itu semakin menunjukkan kecemaran pola nilai Sodom-Gomora yang mengakar dalam Lot dan anak-anaknya. Nama-nama yang diberikan semakin menunjukkan kekacauan pemikiran mereka. Moab berarti "dari si bapa," dan Ben-Ami berarti "anak kerabatku." Kemudian hari TUHAN melarang Israel memerangi bani Moabdan Amon karena mereka keturunan Lot (Ulangan 2:9, 19) tetapi terjadi juga perang karena kedua bani itu yang memusuhi Israel.
Narasi Lot berhenti sampai di kisah memalukan ini. Tidak ada lagi catatan tentang dia dalam nas-nas sejarah keselamatan. Bahkan tentang kematiannya pun Alkitab tidak mencatat. Dalam keserakahan, dengan mengabaikan ketetapan Allah dalam panggilan Abraham, ia memilih menurut pertimbangan materialistik. Ujung-ujungnya seluruh pencapaiannya habis musnah bersama kebinasaan Sodom-Gomora. Ia sendiri masih mengalami kemurahan Allah, diselamatkan. Dalam keluputannya pun masih terjadi lagi kisah memalukan yang melahirkan dua anak yang nantinya menjadi musuh umat pilihan Allah.
Peringatan bagi kita semua, materi tidak layak dijadikan dasar pertimbangan dalam kasus apa pun.

Kamis, 24 Agustus 2017

Tinggalkan Keduniawian

Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar. Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah. Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu, dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.  -- Kejadian 19:23-28
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Tetapi semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. -- 1 Yohanes 2:15-17

Betapa kontras: saat fajar memandikan Lot dengan cahaya pengharapan baru di Zoar, Sodom dan Gomora tiba-tiba kelam menyelubungi Sodom-Gomora dan wilayah sekitarnya, terlempar seakan dibolak-balik dan dihujani dengan belerang menyala. Sayang dan sedihnya istri Lot yang telah selamat dari kota terlaknat itu tidak menaati perintah  untuk tidak menengok ke belakang. Tubuhnya telah ke luar dari Sodom-Gomora tetapi hatinya masih tertambat. Akibatnya ia tidak dapat lanjut dalam proses penyelamatan itu dan berubah menjadi tiang garam. 
Apa sebenarnya bencana penghukuman atas Sodom dan Gomora itu? Sampai sekarang belum terdapat kesimpulan akhir di antara para arkeolog alkitabiah dan sejarawan. Dengan merujuk ke banyaknya bahan-bahan batu kapur belerang di sekitar lembah Yordan, Laut Mati, dan ditemukannya reruntuhan kota purba di selatan Laut Mati para ahli berpendapat kehancuran itu disebabkan oleh gempa dahsyat, atau letusan volkanik (Laut Mati adalah bekas kawah gunung yang meletus itu) atau kejatuhan meteor. Boleh jadi proses kehancuran itu dapat dijelaskan secara alami namun pemrakarsa pemusnahan itu dan faktor "timing"-nya menurut nas ini adalah TUHAN yang hadir di bumi dan TUHAN yang di langit yang menunggang-balikkan kota-kota jahat itu. Sebagaimana Tuhan yang memanifestasi di bumi dan Tuhan yang di langit secara serasi bekerjasama dalam penghakiman itu, demikian juga tidak ada keberatan teologis bahwa natural dan supernatural bersesuaian baik dalam pemeliharaan dan penopangan hidup di bumi ini maupun dalam pemusnahannya sebagai hukuman ilahi atas kejahatan.
Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk pandai-pandai membaca tanda-tanda zaman (termasuk gejala alami) sebab itu adalah manifestasi alami dari yang dikerjakan Tuhan yang di surga. Yang sungguh selamat adalah yang setia sampai ke akhir menghidupi keselamatan anugerah Tuhan.

Rabu, 23 Agustus 2017

Jangan Selamat seperti Lot

Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: "Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini, sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya." Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: "Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini." Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja. Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini." Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." Kata Lot kepada mereka: "Janganlah kiranya demikian, tuanku. Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku. Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara." Sahut malaikat itu kepadanya: "Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana." Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar. Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar. -- Kejadian 19:12-16

TUHAN adalah api yang menyala-nyala yang dalam kekudusan-keadilan-Nya menjatuhkan hukuman setimpal kejahatan manusia. Pemusnahan Sodom dan Gomora ini dalam Perjanjian Baru dijadikan peringatan serius tentang penghukuman akhir yang jauh lebih dahsyat akan menimpa dunia dan orang-orangnya yang melakukan kejahatan (Matius 11:23-24; 2 Petrus 2:6). Berlangsung bersamaan dengan penghukuman ini adalah tindakan penyelamatan atas Lot dan keluarganya. Hanya empat orang yang diselamatkan dari hukuman tersebut, itu pun karena desakan dan tuntunan malaikat dengan perintah tegas agar mereka lari menyelamatkan diri tanpa boleh menoleh ke belakang. Kedua sifat Tuhan yang untuk manusia seakan bertentangan ini -- kemurahan dan kemarahan -- dalam nas ini menyatakan diri hadir dan beroperasi bersama. Maka dalam pengenalan kita akan TUHAN keduanya juga harus serasi demikian memengaruhi semua pertimbangan dan tindakan kita.
Bahwa Lot diselamatkan disebabkan ia masih diperhitungkan benar oleh Tuhan. Tetapi perhatikan bagaimana pilihan Lot sejauh itu telah memengaruhi pertimbangan dan tindakannya. Apa yang membuat di awalnya Lot berlambat-lambat merespons desakan malaikat untuk ia dan kaumnya lari menyelamatkan diri? Sampai-sampai empat orang itu harus dituntun (masing-masing malaikat menuntun dua orang) dan ditunjukkan harus pergi ke arah mana mereka. Firman berkata dimana harta kita di situ arah hati kita -- inilah yang membuat Lot berlambat-lambat sebab itu berarti ia harus meninggalkan semua pencapaiannya, jerih lelahnya sekian lama dan pergi selamat namun dengan tangan hampa. Perhatikan juga kerohanian Lot yang tidak menunjukkan iman yang sehat. Berlambat-lambat berarti juga tidak menimbang serius hukuman yang akan datang, tetapi begitu ia mulai berjalan sesuai arahan malaikat tiba-tiba ia merasa tidak sanggup menempuh perjalanan peluputan itu terlalu jauh. Ia meminta diizinkan berhenti sampai sejauh Zoar, yang relatif dibebaskan dari hukuman itu -- cukup jauh namun tidak sepenuhnya jauh dari Sodom dan Gomora.

Meski kita hidup di dunia kita tidak boleh mencintai dunia ini supaya pola hidup kita dimungkinkan untuk limpah dengan fokus dan nilai surgawi. 

Selasa, 22 Agustus 2017

Dosa-dosa Sodom-Gomora

Berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.-- Kejadian 18:20
Orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka." -- Kejadian 19:4-5
Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. -- Roma 1:26-27
Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit (homoseks), pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. -- 1 Korintus 6:9-10
Seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. -- Yudas 1:7

Apakah keluh kesah terhadap Sodom dan Gomora -- yang disebut TUHAN sebagai "sungguh sangat besar" -- yang membuat Ia memutuskan untuk menyelidiki dan akhirnya menjatuhkan hukuman atas mereka? Dari begitu banyak dosa dan kejahatan sampai setiap nas yang bicara tentang Sodom dan Gomora dalam PL dan PB senada mengatakan bahwa ini adalah kota yang sangat jahat -- Yehezkiel 16:49 menyatakan dosa kesenangan hidup tanpa peduli akan orang miskin. Dengan tegas firman Tuhan menyatakan bahwa keserakahan sama dengan penyembahan berhala dan ketidakpedulian kepada orang miskin adalah kejahatan yang dihukum Tuhan.
Satu lagi dosa yang jelas disebut dalam peristiwa Lot ini adalah para lelaki yang menggerombol di sekitar rumah Lot itu ingin menyetubuhi dua tamu Lot. Inilah asal dari istilah sodomi yang kita kenal sebagai julukan bagi hubungan seks sesama pria. 
Paulus secara gamblang menegaskan bahwa pelaku homoseks tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Mengingat Paulus adalah orang Farisi sejati yang tahu "ngelotok" kitab-kitab taurat, juga dengan petunjuk bahwa dalam surat Roma ia menjadikan kisah Adam dan kisah Abraham sebagai tokoh contoh untuk pengajarannya, maka uraian di Roma 1 tentang penyimpangan seksual tidak saja bicara tentang dosa-dosa orang kota Roma tetapi ini juga mengacu ke dosa orang Sodom-Gomora. Pengubahan seks dan perilaku seksual adalah jahat di pemandangan Tuhan sebab berarti merusakkan keberadaan dan peran lelaki dan perempuan sebagai pasangan yang sepadan yang menggambarkan Allah. 
Anugerah penyelamatan yang kita alami adalah supaya kita hidup suci dan penuh anugerah. Maka menjaga kekudusan seksual dan kekudusan ekonomi adalah keharusan untuk orang Kristen.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Dimurnikan Tuhan

Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai (harfiah: kenali = setubuhi) mereka." Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnya di belakangnya, dan ia berkata: "Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku." Tetapi mereka berkata: "Enyahlah!" Lagi kata mereka: "Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!" Lalu mereka mendesak orang itu, yaitu Lot, dengan keras, dan mereka mendekat untuk mendobrak pintu. Tetapi kedua orang itu mengulurkan tangannya, menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari pintu. - Kejadian 19:4-11

Jelas sikap dan perilaku Lot cukup berbeda dibanding orang-orang Sodom-Gomora. Lot rupanya punya kebiasaan duduk di gerbang kota untuk memastikan tidak ada orang asing yang masuk kota terperangkap dalam kebiadaban kota itu. Lot memiliki kepekaan rohani dan kemurahhatian untuk memberi tumpangan dan melindungi kedua utusan ilahi itu, sementara penduduk kota itu berperilaku layaknya gerombolan. Lot punya keberanian menghadapi gerombolan orang jahat yang mengepung rumahnya dengan ke luar sendirian di depan pintu kediamannya. Betapa jahat orang-orang itu, mereka tidak ingat bagaimana demi Lot mereka telah dibebaskan oleh Abraham dari penindasan raja-raja sekutu yang mengalahkan mereka. Selanjutnya, dan sayangnya, ya ini sisi negatif Lot akibat keserakahannya memilih tinggal di tempat yang jahat pada pemandangan Tuhan itu, Lot tanpa tanggungjawab dan naluri sebagai bapa, begitu saja mengucapkan kesediaan memberikan dua anak gadisnya sebagai pengganti keinginan orang banyak itu "memakai" dua tamunya.
Dai peristiwa berikutnya ternyata bukan Lot menyelamatkan dua malaikat itu tetapi malaikat tersebut yang menyelamatkan Lot. Pertama dengan menarik Lot masuk menghindari keroyokan para biadab itu, dan kedua dengan membutakan mata mereka sehingga tidak dapat mencapai pintu rumah. Sungguh luar biasa anugerah Tuhan bagi Lot. Kini saatnya ia dimurnikan Tuhan, dilepaskan dari harus terus menerus menderita dan tersiksa.

Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, -- sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa -- 2 Petrus 2:7-8

Jumat, 18 Agustus 2017

Persahabatan Positif

Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah, serta berkata: "Tuan-tuan, silakanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya." Jawab mereka: "Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang." Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka, ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan. -- Kejadian 19:1-3
Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja... -- 2 Petrus 2:7


Lot boleh kita sebut sebagai seorang dengan sifat-sifat positif-negatif bercampur aduk. Dari hanya keponakan yang mengikut perjalanan Abraham memenuhi panggilan ilahi, Lot kemudian memilih jalannya sendiri. Percabangan itu terjadi ketika timbul pertengkaran soal lahan peternakan antara para gembala Lot dan para gembala Abraham. Kita masih ingat betapa sigapnya Lot memilih wilayah yang paling menguntungkan pada pemandangannya tanpa segan bahwa ia telah melangkahi hak Abraham yang sesungguhnya mewarisi janji tanah dari TUHAN, juga tanpa peduli bahwa wilayah pilihannya itu termasuk teritorial tumbuh-kembangnya berbagai kekejian di mata TUHAN. Dalam nas ini kita temui gema sifat-sifat Abraham tertentu dalam diri Lot. Yang terpenting adalah sikapnya kepada dua sosok ilahi yang diutus TUHAN untuk menyelidik Sodom-Gomora. Seperti sikap Abraham kepada YHWH dan dua malaikat-Nya, Lot pun tiarap sampai wajahnya rata ke tanah. Seperti Abraham menjamu tiga orang pelawat surgawi itu, Lot juga. Seperti Abraham mendesak agar tamunya tidak berlalu tetapi singgah, Lot pun mendesak dua malaikat itu untuk bermalam di rumahnya. Kepekaan rohani, kemurahhatian dan kebutuhan untuk perkawanan yang baik ini, dari mana asalnya? Apakah ia belajar itu dari sikap hidup Abraham selama Lot mengikutnya? Apakah meski sudah berpisah -- sebagaimana terjadi dari kisah Abraham membebaskan Lot dari tawanan raja-raja sekutu penakluk Sodom-Gomora -- Abraham dan Lot masih menjaga hubungan, bebagi cerita? Mungkin sekali, meski ini hanya siratan yang dapat kita tarik tanpa teks Alkitab mengatakannya secara gamblang. 
Jadi, tepatkah menyimpulkan bahwa pola hidup Lot boleh juga ditiru -- hidup dekat dengan gaya hidup duniawi bahkan jahat tanpa sendirinya tercemar? Meski 2 Petrus mengatakan bahwa Lot orang benar, namun dari paparan lanjut nas ini kita melihat ada beberapa pengaruh buruk lingkungan tidak baik itu yang memengaruhi Lot dan keluarganya juga.
Selama masih di dunia jahat ini dan menanti langit dan bumi baru, penting untuk kita memupuk persahabatan rohani yang di dalamnya boleh tumbuh nilai-nilai dan sifat-sifat positif melampaui pengaruh negatif dunia ini. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Doa Syafaat

Tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang...apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena.... Sekiranya...Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya -- Kejadian 18:22-33

Sesudah berlari menghampiri TUHAN, sujud bertiarap memohon Ia tidak segera berlalu, menyediakan perjamuan untuk-Nya, kini Abraham tetap berdiri dan mendekati TUHAN dengan doa-doanya bagi Sodom dan Gomora. Inilah Abraham sebagai berkat bagi bangsa-bangsa, Abraham yang di dalam pertumbuhan pengenalan dan persahabatannya akan Tuhan sendirinya mengalami peningkatan gestur dan posturnya di hadapan TUHAN, sampai ke peningkatan peran politisnya. Inilah keajaiban dalam pengenalan yang rill manusia akan Allah, inilah indahnya misteri doa khususnya doa-doa syafaat.
Apabila sebelum ini Abraham mengakrabi banyak sifat Tuhan lainnya kini khususnya ia berhadapan dengan TUHAN yang Mahatahu, Mahaselidik, Mahapeduli, Mahaadil akan berbagai kejahatan-kekerasan-kenajisan yang menimbulkankeluh kesah banyak orang yang terjadi di dalam kota-kota dunia. Mari kita belajar doa syafaat dari doa-doa syafaat Abraham ini.
Pertama, doa syafaat didasari atas dan dibingkai dalam sifat-sifat TUHAN. Tersirat dalam isi doa Abraham ia mengingatkan TUHAN akan sifat-Nya yang Mahabenar, Mahaampun/Maharahim, Mahaadil. Perhatikan bagaimana ia memposisikan sifat-sifat ini dan mengandaikan bahwa semua sifat ini dalam diri TUHAN konsisten-koheren adanya dan tidak berkontradiksi sebagaimana dalam diri manusia. (Dalam manusia kasih, rahmat  cenderung ada pada posisi bertolak belakang dengan adil dan benar). Kedua, dalam doa syafaatnya Abraham sendiri juga bertumbuh semakin konsisten-gigih dalam keprihatinannya akan keselamatan orang lain, khususnya di sini Lot dan seisi rumahnya yang tinggal di wilayah itu. Perhatikan bagaimana pengandaian jumlah orang benar yang Abraham ajukan kepada TUHAN berkurang terus dari 50, ke 45, ke 40, ke 30, ke 20 sampai akhirnya ke 10 orang saja. 
Doa syafaat bukan saja privilese dimana kita boleh berdiri di dekat TUHAN mewakili manusia, doa syafaat juga misteri dimana kita boleh semakin tumbuh ke dekat TUHAN sementara kita mewakili sesama yang kita doakan, sambil TUHAN sendiri seakan mengizinkan diri-Nya semakin merunduk ke keterbatasan keadaan manusia yang kita doakan. 

Ia menyendengkan (merundukkan/merendahkan) telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.
Dalam wawasan doa ini, mari kita terus dan gigih berdoa untuk Indonesia. Dirgahayu RI ke-72.

Rabu, 16 Agustus 2017

Makin Mengenal TUHAN

Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya." Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. -- Kejadian 18:20-22 


Sesungguhnya ada banyak sifat TUHAN yang kembali Abraham pelajari dan kenali dalam peristiwa ini. Melalui berbagai peristiwa sebelum ini sifat apa saja dari Tuhan yang telah Abraham kenali? Perhatikan juga bagaimana dampak pengenalan itu pada sifat dan tindakan Abraham sendiri? Coba Anda telusuri sejenak berbagai peristiwa di nas-nas berikut: 
1. Pasal 12 -- dari panggilan dan paparan rencana Allah kepada Abraham; dari peristiwa pengungsiannya ke Mesir. 
2. Pasal 13 -- dari perselisihan lahan peternakan antara gembala Lot dan gembala Abraham.
3. Pasal 14 -- dari kemenangan Abraham membebaskan Lot dari raja-raja sekutu yang mengalahkan raja-raja sekutu sodom-Gomora; dari pejumpaannya dengan Melkisedek.
4. Pasal 15 -- dari penyataan "Nama" Tuhan ketika Abraham khawatir tentang keadaannya; dari upacara yang Tuhan minta Abraham adakan bagi-Nya.
5. Pasal;16 -- dari peristiwa keputusan Sarah menganjurkan Abraham mendapat anak melalui Hagar; dari penyataan "Nama" Allah sebagai El-Shamma dan El-Roi (Allah yang mendengar; Allah yang melihat) tentang sikap-Nya terhadap penderitaan karena penindasan antar sesama manusia.
6. Pasal 17 -- dari pengulangan janji-Nya kepada Abraham dan penyataan "Nama" Dia sebagai ElShaddai dan pengubahan nama Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sarah; dari pemberian syarat sunat sebagai tanda untuk umat yang menerima perjanjian Allah.
7. Pasal 18 ini -- dari perhatian khusus Tuhan datang untuk meneguhkan hati Sarah (rekan perjanjian Abraham -- pihak perempuan); dari kalimat ini tentang Sodom dan Gomora: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."

Sekian lama kita menjadi orang percaya -- sifat-sifat Tuhan apa saja yang kita kenali dan yang sangat memengaruhi sifat, sikap dan tindakan keagamaan dan keseharian kita? 

Senin, 14 Agustus 2017

Rindu Seperjamuan dengan Allah

TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui (jangan pergi tanpa singgah) hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu." -- Kejadian 18:1-5
Mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. -- Lukas 24:29

Banyak orang mengingini peningkatan anugerah, berkat, lawatan, penyataan karya-karya TUHAN tetapi tidak memperlihatkan peningkatan dalam bentuk kerinduan yang intens, pencarian yang sungguh, pengorbanan yang setimpal. Apabila kita ingin mengalami lawatan Tuhan lebih nyata, pengenalan lebih intim, kesanggupan menyelami isi hati Tuhan makin jelas, kita perlu mengembangkan berbagai ungkapan sebagaimana yang Abraham lakukan ini ketika ia menyadari bahwa TUHAN sendiri dan dua makhluk surgawi datang melawatnya. Pertama ia berlari mendatangi -- bukan diam, terkesima, pasif, melongo tetapi berlari dengan usaha dan tenaga yang sungguh mendekat kepada tiga "orang" tamu surgawi itu. Kedua, ia sujud tersungkur sampai rebah ke tanah. Ini adalah ungkapan penghormatan terdalam yang patut ditunjukkan manusia kepada Yang Mahamulia, Di hadapan TUHAN manusia hanya layak untuk menyembah, merendahkan diri, tunduk mengakui kebesaran-Nya. Ketiga, Abraham memohon agar ketiga tamu surgawi itu tidak pergi melaluinya, melainkan untuk singgah, menerima sambutannya, menerima jamuan yang akan ia siapkan dan layankan kepada mereka. "Do not leave from near your servant" demikian salah satu terjemahan mengungkapkan permohonan Abraham. Ia tidak puas hanya dengan melihat sekilas, merasakan desir gerak mereka berlalu, mendengar firman-Nya menguatkan iman... Abraham menginginkan persekutuan lebih lama, lebih akrab, lebih nyata, lebih dalam -- dalam sebuah perjamuan yang meriah. Sebagai anak-anak Abraham, adakah hasrat yang terus menggelora di dalam kita akan persekutuan dan persahabatan lebih dalam dengan Tuhan?

Tuhan, kiranya ibadah pribadi dan gerejawi kami, kehidupan keseharian kami, pelayanan kami sungguh dan kuat didorong oleh kerinduan kami untuk mengalami perjamuan dengan-Mu, cicipan dari yang kelak akan kami alami dalam kekekalan.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Peran "Duniawi"

Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya." Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya." Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. -- Kejadian 18:17-22
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. -- Yohanes 15;15

Tujuan lawatan surgawi itu di samping untuk memastikan mukjizat Abraham dan Sarah akan mendapatkan anak juga untuk melaksanakan penghakiman-Nya atas komunitas manusia yang telah sedemikian jahatnya melampaui batas kesabaran dan kemurahan Allah. Lalu mengapa TUHAN kini menimbang untuk memberitahukan urusan penghakiman dunia itu kepada Abraham? Alasan TUHAN ialah: 1) Abraham adalah orang-Nya yang akan Ia jadikan bangsa besar yang memberkati bumi; dan, 2) Tindakan penghakiman TUHAN juga berkaitan dengan Abraham mendidik keturunannya seterusnya untuk tetap setia dalam jalan TUHAN. Dengan kata lain, Abraham adalah sahabat Allah untuk menjadi berkat bagi dunia dengan cara terlibat dalam seluk beluk penyelenggaraan dunia oleh para penguasa dunia -- intinya berperan nyata dalam sosial-ekonomi-budaya-pendidikan-politik. Peran semacam ini tidak bisa terjadi jika penghayatan tentang arti berkat tertuju ke diri sendiri -- maksud dari berkat bukan hanya materiil dan egoistis tetapi komprehensif dan integrasional serta global. Lalu, akan ada dampak dan gema timbal; balik antara bagaimana TUHAN mengurus dunia luar dengan bagaimana umat TUHAN (keluarga, gereja, lembaga Kristen) berperilaku secara internal. Mutu peran "duniawi" orang percaya akan sejajar dengan mutu kesungguhan orang percaya melaksanakan kehendak dan perintah TUHAN. 

Jumat, 11 Agustus 2017

Tiada yang Mustahil bagi YHWH

Lalu kata mereka kepadanya: "Di manakah Sara, isterimu?" Jawabnya: "Di sana, di dalam kemah." Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan (harfiah: Kembali, Aku akan kembali pada saatnya kehidupan [lahirnya Ishak])  mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid. Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki." Lalu Sara menyangkal, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: "Tidak, memang engkau tertawa!"  -- Kejadian 18:9-15
Yesus memandang mereka lalu berkata, "Untuk manusia, itu [masuk Kerajaan Allah] mustahil! Tetapi untuk Allah, semua mungkin." -- Matius 19:26

Tiga "orang" tamu Abraham menanyakan keberadaan Sarah karena tujuan utama theophani itu adalah untuk menegaskan mukjizat yang akan terjadi pada Sarah. Yaitu bahwa Ia sungguh akan kembali lagi pada saat kehidupan / keturunan yang dijanjikan-Nya itu (Ishak) lahir. Bahwa ucapan-Nya itu tidak main-main terkesan dari dua kali Ia berkata: "kembali, kembali Aku akan datang..." Lalu, saat kelahiran Ishak diungkapkan-Nya dengan "pada saatnya kehidupan"; dengan kata lain Ia akan kembali lagi ketika dua pasangan yang telah mati kemungkinan biologisnya untuk membuahi-dibuahi itu ternyata mengalami kehidupan berlanjut dengan lahirnya sang anak secara ajaib. Dari dalam kemah Sarah mendengar penegasan ini lalu tertawa ragu atas alasan bahwa ia sudah mati haid, tidak lagi ada berahi, dan kedua mereka sudah tua, Apabila tawa Abraham tidak ditegur karena bukan keluar dari keraguan, kini Sarah ditegur yang berarti ada unsur keraguan di dalam tawa dan pertimbangannya itu. Kendati ia menyangkal, Tuhan dengan tegas dan lembut menegur keraguannya itu.
Dalam Perjanjian Baru disoroti lagi situasi mustahil manusia yang tidak mustahil bagi Allah: 1) kemustahilan perawan Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus pengampun dosa manusia, 2) kemustahilan para murid menyembuhkan anak yang kerasukan roh jahat dengan gejala epilepsi (Mat. 17), 3) tidak mustahil Allah membangkitkan Yesus dari kematian (khotbah Paulus dalam Kisah Rasul 26), dan 4) kemustahilan orang yang terikat oleh sesuatu (seperti oleh uang pada orang muda yang kaya yang meninggalkan Yesus dengan sedih) untuk dapat masuk Kerajaan Sorga. 
Dalam hidup ini kita harus menyadari berbagai ketidakberdayaan kita -- kemustahilan jasmani, jiwani dan/atau rohani diri kita. Kita perlu menimbang dan mengambil kesimpulan bukan atas dasar kondisi diri sendiri, tetapi dalam perspektif janji, rencana, kesetiaan dan kemahakuasaan TUHAN. 

Kamis, 10 Agustus 2017

Theophani

Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu." Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!" Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan. -- Kejadian 18:1-8

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." -- Yohanes 8:58

Siapakah tiga "orang" itu yang datang kepada Abraham sementara ia duduk di depan pintu kemahnya? Mengapa Abraham langsung berlari menyongsong mereka, sujud bertiarap dan memohon agar ia beroleh kasih mereka untuk singgah dan dilayani olehnya? Abraham menyebut salah seorang dari mereka dengan "Tuanku" (Ibr.: Adonai yang berarti yang berkuasa/mulia dan oleh orang Yahudi dipakai sebagai panggilan pengganti nama YHWH demi untuk tidak menyebut Nama TUHAN dengan sembarangan). Jika kita membaca dengan teliti nas ini, ada ucapan Abraham yang ditujukan kepada ketiga tamunya itu, ada yang ditujukan kepada salah Seorang dari mereka. Demikian juga ada ucapan dari ketiga mereka kepada Abraham, dan ada yang diucapkan oleh Seorang saja yang dalam nas ini dikaitkan dengan hal "berfirman." Ada Seorang dari mereka yang berfirman memastikan Sarah akan melahirkan pada tahun berikutnya; dan Seorang yang sama ini juga yang mempertimbangkan untuk memberitahu Abraham tentang hukuman ilahi yang akan dijatuhkan-Nya ke atas Sodom dan Gomora, sementara dua lainnya pergi lebih dulu ke sana. 
Apabila kita kilas balik ke nas-nas yang mencatat penyataan diri TUHAN kepada Abraham, kita melihat adanya peningkatan. Dari hanya memerintah, berfirman, menyatakan diri dalam penglihatan, sampai menyatakan kehadiran dalam upacara peneguhan perjanjian, dan kini penampakan diri secara riil dalam wujud seorang manusia riil yang berbicara dalam bahasa keseharian Abraham. Ini yang disebut sebagai theophani -- penyataan diri Tuhan -- dan karena TUHAN Allah adalah Roh, maka Seorang yang datang dengan dua orang lainnya ini adalah penampakan awal oknum yang kelak akan menjelma sebagai Yesus Kristus, disertai oleh dua makhluk surgawi. Inilah kemurahan Allah yang luar biasa yang dianugerahkan-Nya kepada Abraham, sahabat-Nya. Inilah hak istimewa yang dialami seorang Abraham, yang menjadi tanda nyata hasil persahabatannya dengan Tuhan. 
Marilah kita yang sudah mengalami penjelmaan penuh Yesus dan karya-karya pembaruan-Nya juga boleh memiliki kerinduan untuk mengalami secara nyata intensitas persahabatan dan pengenalan makin dalam, makin meningkat akan TUHAN. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Taat: Segera, Semua, Segenap Hati

Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia. -- Kejadian 17:23-27

Sunat adalah tanda perjanjian. Sunat dikaitkan dengan beberapa hal: 1) TUHAN memperkenalkan diri-Nya secara baru, sebagai El Shadai, Allah kekal yang Mahakuasa yang sanggup menggenapi janji-janji dan rencana-rencana-Nya kepada dan melalui Abraham. 2) TUHAN menjadikan sunat pengingat lahiriah yang tak dapat dihapus seumur hidup orang bahwa sebagai milik-Nya yang telah dikerat kulit khatannya mereka harus (disanggupkan oleh El Shadai) hidup utuh, lengkap, sempurna, tak bercela. Ini juga diikuti oleh penggantian nama menjadi Abraham dan Sarah.  3) TUHAN menegaskan komitmen-Nya sebagai Allah Abaham dan Allah keturunannya. 
Perhatikan bagaimana Abraham merespons perintah untuk sunat ini. Kendati sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun, sunat pastinya sangat menyakitkan dan melemahkan, sesaat sesudah Allah menarik diri Abraham tanpa menunda segera menaati perintah itu. Ia menyunat semua lelaki isi rumahnya termasuk para budak belian, juga Ismael yang berusia tiga belas tahun, dan dirinya sendiri.
Dalam Perjanjian Baru tanda anugerah yang merupakan inisiasi orang ke dalam karya penyelamatan Allah adalah baptisan. Baptisan menandai masuknya kita ke dalam hidup-salib-kebangkitan-kenaikan Yesus, sejak itu dan seterusnya kita hidup mati terhadap dosa dan ikut bangkit dalam kemenangan Yesus Kristus. Sebagaimana sunat Abraham dilakukan sebagai ketaatan yang tanpa tunda, sepenuh hati dan segenap isi rumahnya, demikian juga kini hal masuk dan menghidupi anugerah penyelamatan hendaknya serasi dengan kehendak Tuhan yaitu  sesegera mungkin, seisi rumah, sepenuh hati, sepanjang hidup.

Selasa, 08 Agustus 2017

Teman Pewaris Kehidupan

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. -- Kejdian 17:15-22
Bahkan dibaca dalam konteks kini pun nas ini sungguh revolusioner, apalagi jika kita bayangkan konteks patriarkal zaman Abraham, dengan budaya yang mengutamakan lelaki! Kini seluruh perhatian nas ini ditujukan kepada Sarai. Pertama, bukan saja Abram menjadi Abraham, Sarai pun diganti nama oleh Tuhan menjadi Sarah -- keduanya sama-sama mendapatkan tambahan abjad 'h.' Apabila Abraham kini menjadi Bapak banyak bangsa, Sarah yang berarti 'pangeran putri' dari Sarai yang berarti 'bersifat pangeran' dinyatakan oleh TUHAN sebagai ibu bangsa-bangsa, yang akan melahirkan raja-raja bangsa-bangsa. Maka dalam zaman dan budaya dimana perempuan adalah milik dan instrumen untuk menghasilkan keturunan, kini Sarah ditempatkan Tuhan sebagai teman pewaris kasih karunia atau rekan sekerja Allah mewujudkan rencana-Nya, yaitu kehidupan. Dalam panggilan dan karya Allah mewujudkan rencana-Nya Abraham dan Sarah diperlakukan Tuhan sebagai dua yang setara, pasangan yang saling berkontribusi atau sama menerima kehormatan menjadi Bapak dan Ibu bangsa-bangsa dan raja-raja mereka.
Mendengar itu Abraham tunduk hormat dan bersuka di hadapan Tuhan. Suatu ungkapan yang semestinya ada pada tiap orang yang menerima pernyataan karunia dahsyat dari Tuhan. Doanya tentang Ismael dijawab Tuhan dengan sekali lagi menegaskan anak yang dari Sarah yaitu Ishak yang akan menjadi berkat yang memberkati semua bangsa di bumi termasuk bangsa-bangsa yang keluar dari Ismael. Perjanjian Tuhan ini jelas menunjuk kepada Injil di dalam Yesus Kristus yang datang dari keturunan Ishak-Yakub-Yehuda sebagai satu-satunya sumber pengharapan untuk semua bangsa dan bahasa di bumi. 
Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan... -- 1 Petrus 3:7

Sabtu, 05 Agustus 2017

Tanda Rohani-Jasmani


Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."  -- Kejadian 17:9-14
Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. -- Kolose 2:11-12

Ini adalah tanda ketiga yang Allah tetapkan sebagai meterai perjanjian. Yang pertama pelangi Nuh, sepenuhnya alami dan tepat untuk menandai kehendak Allah tentang  keberlanjutan alam; yang kedua upacara tumpukan potongan binatang yang harus disediakan Abram yang menandai keseriusan ("sumpah mati") Allah untuk memelihara perjanjian-Nya dari pihak-Nya; kini yang ketiga adalah sunat. Tanda ini kini sepenuhnya menjadi tanggungjawab Abram untuk melakukannya baik kepada dirinya maupun kepada seluruh lelaki isi kemah kekerabatannya mulai dari usia delapan hari. Tanda ini berkaitan dengan janji Allah akan memberikan keturunan dan menjadikan mereka bangsa penerima-penerus berkat bagi dunia. Dikeratnya kulit khatan lelaki itu menjadi tanda seumur hidup yang tidak dapat dihapus selamanya bahwa mereka adalah benih kudus dan seterusnya menghasilkan benih-keturunan yang kudus, umat perjanjian, milik Allah. 
Mari alihkan sejenak ke berbagai peristiwa sesudah penetapan sunat ini: pemberian taurat Musa menandai penetapan perilaku yang Tuhan inginkan bagi umat bersunat itu. Namun sunat dan taurat tidak mengubah hati manusia. Secara lahiriah mereka membawa tanda perjanjian dan memiliki standar perilaku yang jelas yang mencerminkan sifat dan kehendak Allah, tetapi masih dibutuhkan satu hal hakiki yang hanya rahmat anugerah TUHAN sendiri dapat melakukannya -- sunat hati, lahir baru, perubahan rohani yang dimungkinkan oleh hidup dan karya Yesus Kristus, yang kita alami dengan kita dibaptiskan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Umat PL memiliki tanda lahiriah, umat PB memiliki realitas batiniah -- bersunat dan bertaurat tanpa pembaruan dalam Yesus Kristus adalah sia-sia; sejajar itu yang mengaku sudah di dalam Yesus Kristus apabila tanpa diikuti oleh tanda-tanda nyata kemilikan Allah dalam perilaku jasmani kesehariannya membatalkan sendiri pengakuannya. Kita umat PB yang bersunat hati harus memancarkan itu ke dalam perilaku keseharian kita.

Jumat, 04 Agustus 2017

Berjalan di Hadapan Allah

TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela (harfiah: berjalanlah di hadapan-Ku, dan jadilah utuh / sempurna).-- Kejadian 17:1
Henokh hidup bergaul dengan Allah (harfiah:berjalan dengan Allah) selama tiga ratus tahun lagi -- Kejdian 5:22
TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti (harfiah: Berjalanlah mengikut TUHAN Allahmu), kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. -- Ulangan 13:4

Apa kekhasan dari berjalan dan hadirat Allah dalam tiga ungkapan berbeda mengenai Henokh, Abraham dan Israel ini, dan bagaimana masing-masingnya boleh kita berlakukan dalam keseharian kita? 
Berjalan dengan Allah yang dilakukan Henokh berbicara tentang menghayati hadirat Allah. Ada persekutuan yang akrab, ada percakapan timbal balik, ada saling membuka diri, ada perkenalan yang intim. Sepanjang kehidupannya Henokh berjalan dengan Allah -- menghayati hadirat-Nya, mengalami damai dan suka yang dari-Nya, tumbuh dalam kasih kepada-Nya.
Berjalan di hadapan Allah yang TUHAN perintahkan kepada Abram diapit oleh penyataan diri-Nya sebagai El Shadai -- El Yang Mahakuasa, sumber hidup yang kekal yang mengadakan, mewujudkan, sanggup menggenapi janji dan rencana-Nya -- dan perintah agar Abram berjalan di hadapan-Nya. Perintah ini bercabang dalam janji bahwa dengan berjalan di hadapan Allah Yang Mahakuasa, kendati sudah layu tubuhnya, kendati Abram dan Sarah jatuh-bangun dalam gumulan mengerti bagaimana keturunan yang dijanjikan TUHAN itu akan terealisir -- maka mereka akan diberdaya oleh KeMahakuasaan-Nya untuk hidup mencapai standar janji, rencana dan kehendak-Nya, dan dengan demikian boleh mengalami kehidupan yang utuh, yang fulfilled, yang sempurna. Kesadaran Coram Deo -- dalam Hadirat Allah -- membangkitkan standar dan daya kehidupan dalam segala seginya yang serasi standar dan daya Allah, tidak kurang dari itu.
Israel diperintahkan untuk berjalan di belakang Allah, mengikuti Allah. Aspek kepemimpinan Allah yang ditekankan di sini. Mereka harus mengikuti Sang Komandan -- Ia maju mereka maju, Ia berhenti mereka berhenti, Ia lurus mereka tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dengan berjalan mengikuti Allah Israel berhasil meraih kemenangan demi kemenangan, penaklukan demi penaklukan, sampai bagian-bagian yang tercakup dalam rencana Allah bagi umat itu sungguh menjadi kenyataan.

Kehidupan devosi kita hanya beberapa menit tiap hari atau memanjang ke sepanjang perjalanan hidup seperti Henokh? Kenyataan hidup kita sesuaikah dengan standar dan daya El Shadai? Perjuangan kita untuk maju sungguhkah mengikuti kepemimpinan dan cara-cara Allah?

Kamis, 03 Agustus 2017

Nama Baru

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak." Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: " Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."  -- Kejadian 17:1-8

Abram menyambut panggilan dan janji Tuhan ketika ia berusia tujuh puluh lima tahun. Selama dua puluh lima tahun ia telah mengalami Tuhan menggenapi aspek berkat jasmani janji-Nya digenapi. Namun aspek terpenting janji itu, inti rohaninya yaitu anak dan keturunan tetap tidak kunjung terwujud. Padahal kini usianya sudah mencapai sembilan puluh sembilan tahun. Tuhan tahu Abram membutuhkan peneguhan ulang. Maka untuk ke sekian kalinya Tuhan melakukan itu.  Apabila sebelum ini Tuhan meneguhkan Abram melalui firman, alam dan upacara perjanjian kali ini Ia bahkan menampakkan diri kepada Abram. Ketika Abram takut usai berperang Tuhan menyatakan diri sebagai Perisai dan Pahala, kini dalam keadaan sudah uzur dan kondisi tubuh Abram telah lemah dan kandungan Sarah telah tertutup (Rm. 4:19) Tuhan menyatakan sifat dan kesanggupan-Nya dalam pemberian Nama-Nya: El-Shadai -- Allah yang Mahakuasa! Maka selain dimaksud untuk menguatkan iman Abram dan Sarah peneguhan perjanjian dan penyataan Nama Tuhan ini juga bertujuan membukakan hakikat terdalam perjanjian itu ialah bahwa Tuhan menjadi Allahnya Abram dan Allah keturunannya dan dengan demikian Abram dan seluruh kapasitas, potensi dan penyingkapan riwayat hidup dan keturunannya kelak adalah milik-Nya, ada di bawah kendali kehendak dan rencana-Nya. Maka seiring penyingkapan Nama Tuhan ini, nama Abram pun diubah menjadi Abraham -- dari Bapa agung menjadi Bapa bangsa-bangsa, sebab di dalam rencana Tuhan melalui Abraham untuk dunia memang akan ke luar selain bangsa-bangsa Arab, Edom, juga terutama keturunan Yakub, Israel, Mesias, Gereja antar bangsa-bangsa!
Semakin memegang janji Tuhan, semakin menjalani rencana-Nya, semakin mengalami penyingkapan demi penyingkapan berbagai sifat Tuhan, tidak mungkin tidak kita akan mengalami perubahan jatidiri, karakter, dan peran kita juga.

Rabu, 02 Agustus 2017

TUHAN -- Melihat & Mendengar

Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku." Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya." Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?" Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered. Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.  -- Kejadian 16:6-16

Ada begitu banyak kesalahan terjadi dalam kisah Abram, bapa orang beriman -- kesalahan prakarsa Sarah kepada Abram, kesalahan Abram yang mengikut saja usul istri tanpa mengujinya dengan kehendak Tuhan, kesalahan Hagar yang menghina Sarah, kesalahan Sarah berikutnya yang menindas Hagar. Di dalam dan di balik begitu banyak kesalahan ini -- Allah mendengar (inilah arti dari penamaan yang YHWH berikan kepada Hagar untuk anak yang dikandungnya) dan Allah melihat (El-Roi -- di tempat ketika Hagar menyadari bahwa YHWH telah berlaku penuh kerahiman dan keadilan kepadanya sewaktu ia lari balik ke Mesir. Malaikat TUHAN -- dalam Perjanjian Lama ini entah malaikat yang mewakili TUHAN atau penampakan pra-inkarnasi oknum kedua Allah Tritunggal sendiri sehingga memiliki kewenangan dan kedaulatan seperti berfirman, bernubuat, menerima penyembahan -- Malaikat TUHAN ini memerintahkan Hagar untuk kembali kepada Sarah, hal ini menunjukkan bahwa kendati Tuhan baik kepadanya, Tuhan juga tetap pada rencana-Nya semula untuk menjadikan Abram dan Sarah sebagai pangkal dari umat yang diberkati-Nya memberkati dunia ini. Dan dengan memerintahkan Hagar kembali kepada Sarah, berarti Hagar harus mengakui keputusan ilahi itu. Namun demikian Tuhan tidak sewenang-wenang, Ia berjanji akan menjadikan Ismael bangsa yang besar dan menubuatkan akan seperti apa bangsa yang keluar dari Ismael kelak.

Di keseharian kita dalam keluarga, pertetanggaan, pekerjaan, pelayanan, dlsb. kerap terjadi berbagai kesalahan, konflik dan penyalahgunaan kuasa. Untuk semua pihak yang terlibat dalam hubungan negatif antar manusia hendaknya diingat benar bahwa TUHAN melihat, TUHAN mendengar. Yang menyalahgunakan kuasa hendaknya berubah, memohon ampun dari Tuhan dan maaf dari manusia yang disalahinya. Yang ada di pihak yang disalahi hendaknya bersikap menurut iman bahwa Tuhan mendengar, Tuhan melihat dan carilah tindakan yang serasi dengan kerahiman dan keadilan Tuhan dalam cara Tuhan sendiri.