Rabu, 09 Agustus 2017

Taat: Segera, Semua, Segenap Hati

Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia. -- Kejadian 17:23-27

Sunat adalah tanda perjanjian. Sunat dikaitkan dengan beberapa hal: 1) TUHAN memperkenalkan diri-Nya secara baru, sebagai El Shadai, Allah kekal yang Mahakuasa yang sanggup menggenapi janji-janji dan rencana-rencana-Nya kepada dan melalui Abraham. 2) TUHAN menjadikan sunat pengingat lahiriah yang tak dapat dihapus seumur hidup orang bahwa sebagai milik-Nya yang telah dikerat kulit khatannya mereka harus (disanggupkan oleh El Shadai) hidup utuh, lengkap, sempurna, tak bercela. Ini juga diikuti oleh penggantian nama menjadi Abraham dan Sarah.  3) TUHAN menegaskan komitmen-Nya sebagai Allah Abaham dan Allah keturunannya. 
Perhatikan bagaimana Abraham merespons perintah untuk sunat ini. Kendati sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun, sunat pastinya sangat menyakitkan dan melemahkan, sesaat sesudah Allah menarik diri Abraham tanpa menunda segera menaati perintah itu. Ia menyunat semua lelaki isi rumahnya termasuk para budak belian, juga Ismael yang berusia tiga belas tahun, dan dirinya sendiri.
Dalam Perjanjian Baru tanda anugerah yang merupakan inisiasi orang ke dalam karya penyelamatan Allah adalah baptisan. Baptisan menandai masuknya kita ke dalam hidup-salib-kebangkitan-kenaikan Yesus, sejak itu dan seterusnya kita hidup mati terhadap dosa dan ikut bangkit dalam kemenangan Yesus Kristus. Sebagaimana sunat Abraham dilakukan sebagai ketaatan yang tanpa tunda, sepenuh hati dan segenap isi rumahnya, demikian juga kini hal masuk dan menghidupi anugerah penyelamatan hendaknya serasi dengan kehendak Tuhan yaitu  sesegera mungkin, seisi rumah, sepenuh hati, sepanjang hidup.

Selasa, 08 Agustus 2017

Teman Pewaris Kehidupan

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. -- Kejdian 17:15-22
Bahkan dibaca dalam konteks kini pun nas ini sungguh revolusioner, apalagi jika kita bayangkan konteks patriarkal zaman Abraham, dengan budaya yang mengutamakan lelaki! Kini seluruh perhatian nas ini ditujukan kepada Sarai. Pertama, bukan saja Abram menjadi Abraham, Sarai pun diganti nama oleh Tuhan menjadi Sarah -- keduanya sama-sama mendapatkan tambahan abjad 'h.' Apabila Abraham kini menjadi Bapak banyak bangsa, Sarah yang berarti 'pangeran putri' dari Sarai yang berarti 'bersifat pangeran' dinyatakan oleh TUHAN sebagai ibu bangsa-bangsa, yang akan melahirkan raja-raja bangsa-bangsa. Maka dalam zaman dan budaya dimana perempuan adalah milik dan instrumen untuk menghasilkan keturunan, kini Sarah ditempatkan Tuhan sebagai teman pewaris kasih karunia atau rekan sekerja Allah mewujudkan rencana-Nya, yaitu kehidupan. Dalam panggilan dan karya Allah mewujudkan rencana-Nya Abraham dan Sarah diperlakukan Tuhan sebagai dua yang setara, pasangan yang saling berkontribusi atau sama menerima kehormatan menjadi Bapak dan Ibu bangsa-bangsa dan raja-raja mereka.
Mendengar itu Abraham tunduk hormat dan bersuka di hadapan Tuhan. Suatu ungkapan yang semestinya ada pada tiap orang yang menerima pernyataan karunia dahsyat dari Tuhan. Doanya tentang Ismael dijawab Tuhan dengan sekali lagi menegaskan anak yang dari Sarah yaitu Ishak yang akan menjadi berkat yang memberkati semua bangsa di bumi termasuk bangsa-bangsa yang keluar dari Ismael. Perjanjian Tuhan ini jelas menunjuk kepada Injil di dalam Yesus Kristus yang datang dari keturunan Ishak-Yakub-Yehuda sebagai satu-satunya sumber pengharapan untuk semua bangsa dan bahasa di bumi. 
Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan... -- 1 Petrus 3:7

Sabtu, 05 Agustus 2017

Tanda Rohani-Jasmani


Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."  -- Kejadian 17:9-14
Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. -- Kolose 2:11-12

Ini adalah tanda ketiga yang Allah tetapkan sebagai meterai perjanjian. Yang pertama pelangi Nuh, sepenuhnya alami dan tepat untuk menandai kehendak Allah tentang  keberlanjutan alam; yang kedua upacara tumpukan potongan binatang yang harus disediakan Abram yang menandai keseriusan ("sumpah mati") Allah untuk memelihara perjanjian-Nya dari pihak-Nya; kini yang ketiga adalah sunat. Tanda ini kini sepenuhnya menjadi tanggungjawab Abram untuk melakukannya baik kepada dirinya maupun kepada seluruh lelaki isi kemah kekerabatannya mulai dari usia delapan hari. Tanda ini berkaitan dengan janji Allah akan memberikan keturunan dan menjadikan mereka bangsa penerima-penerus berkat bagi dunia. Dikeratnya kulit khatan lelaki itu menjadi tanda seumur hidup yang tidak dapat dihapus selamanya bahwa mereka adalah benih kudus dan seterusnya menghasilkan benih-keturunan yang kudus, umat perjanjian, milik Allah. 
Mari alihkan sejenak ke berbagai peristiwa sesudah penetapan sunat ini: pemberian taurat Musa menandai penetapan perilaku yang Tuhan inginkan bagi umat bersunat itu. Namun sunat dan taurat tidak mengubah hati manusia. Secara lahiriah mereka membawa tanda perjanjian dan memiliki standar perilaku yang jelas yang mencerminkan sifat dan kehendak Allah, tetapi masih dibutuhkan satu hal hakiki yang hanya rahmat anugerah TUHAN sendiri dapat melakukannya -- sunat hati, lahir baru, perubahan rohani yang dimungkinkan oleh hidup dan karya Yesus Kristus, yang kita alami dengan kita dibaptiskan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Umat PL memiliki tanda lahiriah, umat PB memiliki realitas batiniah -- bersunat dan bertaurat tanpa pembaruan dalam Yesus Kristus adalah sia-sia; sejajar itu yang mengaku sudah di dalam Yesus Kristus apabila tanpa diikuti oleh tanda-tanda nyata kemilikan Allah dalam perilaku jasmani kesehariannya membatalkan sendiri pengakuannya. Kita umat PB yang bersunat hati harus memancarkan itu ke dalam perilaku keseharian kita.

Jumat, 04 Agustus 2017

Berjalan di Hadapan Allah

TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela (harfiah: berjalanlah di hadapan-Ku, dan jadilah utuh / sempurna).-- Kejadian 17:1
Henokh hidup bergaul dengan Allah (harfiah:berjalan dengan Allah) selama tiga ratus tahun lagi -- Kejdian 5:22
TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti (harfiah: Berjalanlah mengikut TUHAN Allahmu), kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. -- Ulangan 13:4

Apa kekhasan dari berjalan dan hadirat Allah dalam tiga ungkapan berbeda mengenai Henokh, Abraham dan Israel ini, dan bagaimana masing-masingnya boleh kita berlakukan dalam keseharian kita? 
Berjalan dengan Allah yang dilakukan Henokh berbicara tentang menghayati hadirat Allah. Ada persekutuan yang akrab, ada percakapan timbal balik, ada saling membuka diri, ada perkenalan yang intim. Sepanjang kehidupannya Henokh berjalan dengan Allah -- menghayati hadirat-Nya, mengalami damai dan suka yang dari-Nya, tumbuh dalam kasih kepada-Nya.
Berjalan di hadapan Allah yang TUHAN perintahkan kepada Abram diapit oleh penyataan diri-Nya sebagai El Shadai -- El Yang Mahakuasa, sumber hidup yang kekal yang mengadakan, mewujudkan, sanggup menggenapi janji dan rencana-Nya -- dan perintah agar Abram berjalan di hadapan-Nya. Perintah ini bercabang dalam janji bahwa dengan berjalan di hadapan Allah Yang Mahakuasa, kendati sudah layu tubuhnya, kendati Abram dan Sarah jatuh-bangun dalam gumulan mengerti bagaimana keturunan yang dijanjikan TUHAN itu akan terealisir -- maka mereka akan diberdaya oleh KeMahakuasaan-Nya untuk hidup mencapai standar janji, rencana dan kehendak-Nya, dan dengan demikian boleh mengalami kehidupan yang utuh, yang fulfilled, yang sempurna. Kesadaran Coram Deo -- dalam Hadirat Allah -- membangkitkan standar dan daya kehidupan dalam segala seginya yang serasi standar dan daya Allah, tidak kurang dari itu.
Israel diperintahkan untuk berjalan di belakang Allah, mengikuti Allah. Aspek kepemimpinan Allah yang ditekankan di sini. Mereka harus mengikuti Sang Komandan -- Ia maju mereka maju, Ia berhenti mereka berhenti, Ia lurus mereka tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dengan berjalan mengikuti Allah Israel berhasil meraih kemenangan demi kemenangan, penaklukan demi penaklukan, sampai bagian-bagian yang tercakup dalam rencana Allah bagi umat itu sungguh menjadi kenyataan.

Kehidupan devosi kita hanya beberapa menit tiap hari atau memanjang ke sepanjang perjalanan hidup seperti Henokh? Kenyataan hidup kita sesuaikah dengan standar dan daya El Shadai? Perjuangan kita untuk maju sungguhkah mengikuti kepemimpinan dan cara-cara Allah?

Kamis, 03 Agustus 2017

Nama Baru

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak." Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: " Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."  -- Kejadian 17:1-8

Abram menyambut panggilan dan janji Tuhan ketika ia berusia tujuh puluh lima tahun. Selama dua puluh lima tahun ia telah mengalami Tuhan menggenapi aspek berkat jasmani janji-Nya digenapi. Namun aspek terpenting janji itu, inti rohaninya yaitu anak dan keturunan tetap tidak kunjung terwujud. Padahal kini usianya sudah mencapai sembilan puluh sembilan tahun. Tuhan tahu Abram membutuhkan peneguhan ulang. Maka untuk ke sekian kalinya Tuhan melakukan itu.  Apabila sebelum ini Tuhan meneguhkan Abram melalui firman, alam dan upacara perjanjian kali ini Ia bahkan menampakkan diri kepada Abram. Ketika Abram takut usai berperang Tuhan menyatakan diri sebagai Perisai dan Pahala, kini dalam keadaan sudah uzur dan kondisi tubuh Abram telah lemah dan kandungan Sarah telah tertutup (Rm. 4:19) Tuhan menyatakan sifat dan kesanggupan-Nya dalam pemberian Nama-Nya: El-Shadai -- Allah yang Mahakuasa! Maka selain dimaksud untuk menguatkan iman Abram dan Sarah peneguhan perjanjian dan penyataan Nama Tuhan ini juga bertujuan membukakan hakikat terdalam perjanjian itu ialah bahwa Tuhan menjadi Allahnya Abram dan Allah keturunannya dan dengan demikian Abram dan seluruh kapasitas, potensi dan penyingkapan riwayat hidup dan keturunannya kelak adalah milik-Nya, ada di bawah kendali kehendak dan rencana-Nya. Maka seiring penyingkapan Nama Tuhan ini, nama Abram pun diubah menjadi Abraham -- dari Bapa agung menjadi Bapa bangsa-bangsa, sebab di dalam rencana Tuhan melalui Abraham untuk dunia memang akan ke luar selain bangsa-bangsa Arab, Edom, juga terutama keturunan Yakub, Israel, Mesias, Gereja antar bangsa-bangsa!
Semakin memegang janji Tuhan, semakin menjalani rencana-Nya, semakin mengalami penyingkapan demi penyingkapan berbagai sifat Tuhan, tidak mungkin tidak kita akan mengalami perubahan jatidiri, karakter, dan peran kita juga.

Rabu, 02 Agustus 2017

TUHAN -- Melihat & Mendengar

Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku." Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya." Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?" Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered. Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.  -- Kejadian 16:6-16

Ada begitu banyak kesalahan terjadi dalam kisah Abram, bapa orang beriman -- kesalahan prakarsa Sarah kepada Abram, kesalahan Abram yang mengikut saja usul istri tanpa mengujinya dengan kehendak Tuhan, kesalahan Hagar yang menghina Sarah, kesalahan Sarah berikutnya yang menindas Hagar. Di dalam dan di balik begitu banyak kesalahan ini -- Allah mendengar (inilah arti dari penamaan yang YHWH berikan kepada Hagar untuk anak yang dikandungnya) dan Allah melihat (El-Roi -- di tempat ketika Hagar menyadari bahwa YHWH telah berlaku penuh kerahiman dan keadilan kepadanya sewaktu ia lari balik ke Mesir. Malaikat TUHAN -- dalam Perjanjian Lama ini entah malaikat yang mewakili TUHAN atau penampakan pra-inkarnasi oknum kedua Allah Tritunggal sendiri sehingga memiliki kewenangan dan kedaulatan seperti berfirman, bernubuat, menerima penyembahan -- Malaikat TUHAN ini memerintahkan Hagar untuk kembali kepada Sarah, hal ini menunjukkan bahwa kendati Tuhan baik kepadanya, Tuhan juga tetap pada rencana-Nya semula untuk menjadikan Abram dan Sarah sebagai pangkal dari umat yang diberkati-Nya memberkati dunia ini. Dan dengan memerintahkan Hagar kembali kepada Sarah, berarti Hagar harus mengakui keputusan ilahi itu. Namun demikian Tuhan tidak sewenang-wenang, Ia berjanji akan menjadikan Ismael bangsa yang besar dan menubuatkan akan seperti apa bangsa yang keluar dari Ismael kelak.

Di keseharian kita dalam keluarga, pertetanggaan, pekerjaan, pelayanan, dlsb. kerap terjadi berbagai kesalahan, konflik dan penyalahgunaan kuasa. Untuk semua pihak yang terlibat dalam hubungan negatif antar manusia hendaknya diingat benar bahwa TUHAN melihat, TUHAN mendengar. Yang menyalahgunakan kuasa hendaknya berubah, memohon ampun dari Tuhan dan maaf dari manusia yang disalahinya. Yang ada di pihak yang disalahi hendaknya bersikap menurut iman bahwa Tuhan mendengar, Tuhan melihat dan carilah tindakan yang serasi dengan kerahiman dan keadilan Tuhan dalam cara Tuhan sendiri. 

Selasa, 01 Agustus 2017

Akibat Kedagingan

Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." -- Kejadian 16:1-5
Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar-- Galatia 4:24


Janji-janji Tuhan pasti akan digenapi -- menurut ketetapan-Nya, pada saat-Nya dan menurut cara-Nya sendiri. Seperti dalam kasus Abram dan Sarah janji Tuhan telah berulang kali diteguhkan baik dengan firman, alam bahkan dalam upacara yang menunjukkan keseriusan Tuhan untuk menggenapinya. Penundaan penggenapan janji itu menjadi cara Tuhan memurnikan iman Abram dan Sarah serta memperdalam persahabatan mereka dengan-Nya. Sayang sekali "kedagingan" berulang kali menyebabkan mereka mengambil keputusan yang bisa berakibat buruk pada penggenapan janji Tuhan. Apabila ketika mengungsi ke Mesir Abram membuat usulan salah kepada Sarah, kini Sarah membuat usulan salah mendesak Abram mengambil Hagar yang didapat di Mesir supaya boleh menghasilkan anak (harfiah: mungkin melalui dialah diriku boleh dibangun/ditopang [dalam hal beroleh anak]). Ternyata ketika Hagar sungguh mengandung keadaan itu bukan menjadi fondasi untuk Sarah bersukacita atau keluarga perjanjian itu beroleh penggenap pengganti atas janji melainkan malah menimbulkan tiga masalah rumit. Hagar menjadi kurang ajar, Sarah bertengkar menyalahkan Abram sampai mengangkat isu "pengadilan Tuhan," dan perjalanan perjanjian Tuhan selanjutnya berlangsung menjadi rumit karena akan keluar bangsa besar lain yang kendati diberkati Tuhan secara jasmani namun menjadi semacam duri bagi perjalanan umat perjanjian sendiri.
Dalam kita menjalani panggilan dan menantikan penggenapan janji-janji Tuhan dalam studi, pekerjaan, keluarga, pelayanan... hendaknya kita menanti dan berjuang tetap di dalam jalur kehendak Tuhan seturut firman-Nya dan dalam topangan sumber daya Roh Kudus. Jangan sekali pun mengikuti ide-ide cemerlang kedagingan sebab itu pasti akan mengakibatkan berbagai kekacauan dalam hidup ini. 

Sabtu, 29 Juli 2017

Suka dan Gentar

Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan... Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram... -- Kejdian 15:10-18

Apabila firman dan petunjuk alami telah cukup membuat Abram menujukan imannya kepada Tuhan sang pemberi janji, mengapa Tuhan masih mengaruniakan lagi suatu tanda, upacara atau ritual pemenggalan binatang-binatang yang ditumpuk dua baris membentuk lorong yang kemudian Ia sendiri berjalan melaluinya? Apakah ritual ini semata untuk memenuhi kebutuhan Abram sebagai manusia yang tidak saja rasional namun juga emosional? Atau ada prinsip lain di dalam pemberian ritual ini?
Nas ini dibuka dengan Tuhan menguatkan Abram untuk tidak takut; sesudah pemberian korban itu Abram tertidur dan terjadi hal yang dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai "kegelapan dahsyat yang menggentarkan turun meliputinya." Emosi takut akan berbagai faktor manusiawi dalam diri Abram berganti dengan emosi-intuisi-imajinasi gentar yang dahsyat karena mengalami hadirat Tuhan, menyadari berbagai segi sifat Allah diungkapkan di dalam dan melalui ritual persembahan korban itu. Ketika takut akan Tuhan sungguh ada pada kita, semua takut lainnya dengan sendirinya menepi dan sirna!
Esok kita kembali akan beribadah, menjalani berbagai ritual yang tersusun dalam liturgi yang intinya mengakui kemuliaan Allah, mengakui keberdosaan dan ketidaklayakan kita, menerima sakramen ekaristi, membuka diri kepada penyingkapan diri dan rencana-Nya dari dalam isi firman tertulis, mengungkapkan doa-doa syafaat, mengikrarkan kembali intisari iman Kristen dan menyatakan syukur kita dalam bentuk persembahan nyata sebagian dari harta yang dari Dia juga asalnya,lalu diakhiri dengan pengutusan kita ke keseharian dalam lingkup berkat-Nya. Urutan liturgis ini mungkin bisa berbeda-beda dari denominasi ke denominasi, namun intinya kurang lebih sama. 
Berbagai ritus dalam ibadah bukan saja memenuhi kebutuhan kita sebagai makhluk dengan kapasitas rasio-emosi-intuisi-imajinasi-volusi, tetapi lebih dari itu harus sesuai dengan sifat Allah yang Ia nyatakan dalam Alkitab, harus mengokohkan kita makin dalam ke dalam karya-karya-Nya yang ya dan amin, dan harus dihayati dalam kehadiran diri kita penuh tanpa distraksi dalam kepenuhan suka dan gentar akan Tuhan.

Jumat, 28 Juli 2017

Korban -- Peneguh Perjanjian

sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri,  -- Kejadian 15:8-13 dst.

Sebelum nas ini kita dapatkan Allah menjadikan firman dan alam sebagai alat untuk meneguhkan hati Abram memercayai diri-Nya dan memiliki keyakinan teguh tentang janji-janji-Nya. Dalam lanjutan peristiwa itu kini Tuhan bahkan mencelikkan penglihatan rohani Abram ke apa yang akan terjadi dengan keturunannya beberapa generasi, beberapa ratus tahun ke depan. Yang paling penting dalam nas ini untuk Abram dan kita juga ialah bagaimana Tuhan Allah memberikan semacam meterai yang mensahkan dan meneguhkan ikatan perjanjian antara diri-Nya dan Abram. Yaitu, di dalam pemberian korban darah tiga dari lima macam binatang. Perjanjian darah adalah sejenis perjanjian paling serius dengan implikasi maut yang dikenal dalam kisah-kisah peradaban manusia. Orang-orang yang mengikat janji mengucurkan darah mereka, mengaduk-satukan sebagai tanda mereka menyatukan diri dalam perjanjian itu. Kini Tuhan memakai ritus yang mungkin sudah dikenal sejak zaman pra-Abram yaitu pemberian korban. Hanya sifat dan tujuan korban itu berubah total. Korban-korban sejak Abram seterusnya dalam PL dan puncaknya dalam korban kematian Yesus Kristus bukan upaya manusia untuk menyenangkan dan membujuk Allah agar berdamai dan memberkati, melainkan sebaliknya. Korban adalah pemberian Allah kepada manusia supaya melalui hal yang ditandai oleh korban itu boleh terbuka jalan untuk manusia bersekutu, bersahabat dengan Allah. Tiga binatang itu dipenggal menjadi dua dan dua jenis burung, ditumpukkan menjadi dua baris yang di antaranya terjadi lorong untuk dilalui. Semestinya kedua pihak yang membuat perjanjian berjalan di lorong di antara tumpukan penggalan badan binatang yang darahnya telah dicurahkan dan hidupnya telah dicabut, tetapi kini Abram hanya mencegah burung bangkai dari memakan tumpukan daging itu dan ia kemudian tertidur. Yang berjalan di sana adalah "gelap-terang" / perapian berasap dan suluh berapi yaitu gambaran kehadiran Tuhan Allah sendiri. Inilah sifat korban dalam Alkitab: perjanjian dua pihak yang intinya hanya sepihak yaitu Tuhan yang menginisiasi, menganugerahkan jalan untuk penggenapan perjanjian-Nya tanpa syarat kondisi apa pun pada pihak manusia. Apabila kita merentangkan gambaran korban ini jauh ke korban yang Yesus lakukan dengan memberikan hidup-Nya bagi kita domba-domba sesat, bukankah kita melihat ada sesuatu yang dipenggal-dipisah dalam Allah sejati-manusia sejati Yesus dalam kematian-Nya yaitu Ke-Allahan-Nya dari kemanusiaan-Nya sehingga itu bukan saja boleh menjadi meterai peneguh perjanjian yang baru bagi kita, tetapi sesungguhnya ini adalah sumber pemberi hidup dan pewujud hubungan kekal Allah dan manusia, manusia dan Allah!

Sepanjang proses peziarahan iman kita, ingatlah firman dan alam sebagai media penguat, dan utamanya berpusatlah pada salib-kebangkitan Yesus sebagai meterai, penggenap, wujud perjanjian kekal Allah untuk umat pilihan-Nya. Maka sepanjang keseharian dan kebergerejaan kita jadikanlah firman, alam dan tanda-tanda sakramental lain yang menunjuk pada salib-kebangkitan Yesus sebagai sumber penguat iman-harap-kasih kita seterusnya. Amin.

Rabu, 26 Juli 2017

Menjadi Sahabat Tuhan

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.  -- Kejadian 15:6
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.  -- Roma 4:19-22
"Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah." -- Yakobus 2:23

Dua puluh lima tahun telah lewat sejak Abram dipanggil meninggalkan tempat kediamannya sampai ke peristiwa yang dicatat di nas ini. Ini merupakan yang ke lima dari sembilan rangkaian penyataan Tuhan dan firman-Nya kepada Abram. Pasti ada hal penting dalam peristiwa ini, dan diperkaya oleh pemaknaan nas-nas PB kita boleh mengambil banyak pelajaran tentang berbagai aspek iman, pertumbuhannya dan damoaknya.
Dari tiga janji berkat Tuhan kepada Abram, yang paling sentral adalah janji beroleh keturunan. Justru janji ini yang semakin Abram menjalani panggilan Tuhan semakin tampak menjauh kemungkinannya untuk dapat digenapi. Berulang kali nuansa keraguan dan kecemasan tentang keturunan ini muncul di pasal ini. Dua puluh lima tahun penantian ini menjadi semacam pengujian yang meluruhkan semua dasar-dasar potensi manusiawi bagi penggenapan janji tersebut. Maka yang terjadi pada Abram adalah dari belajar memercayai janji Allah, berharap janji itu dapat digenapi melalui cara yang lebih masuk akal (mengadopsi hambanya Eliezer) sampai sepenuhnya hanya mengandalkan Tuhan sendiri -- kesungguhan janji-Nya, kesanggupan-Nya menggenapi janji itu, kesetiaan-Nya mengingat dan memenuhi janji-Nya -- Dan, ketika sampai di iman yang sepenuhnya mengandalkan sang pemberi panggilan dan janji, di sinilah ia diperhitungkan sebagai orang benar. Secara khusus surat Roma dan Galatia menyorot hal ini sebagai prinsip pembenaran dalam proses keselamatan yang dihasilkan oleh Tuhan Yesus untuk orang yang memercayai Dia. Sejauh ini kita melihat jatuh-bangun moral-spiritual Abram yang hanya menegaskan bahwa ia bukan orang benar, jauh dari sempurna. Tetapi karena imannya sungguh ditujukan kepada Tuhan maka itu menjadi dasar untuknya diperhitungkan oleh Tuhan sebagai kebenaran. Dan dari pembenaran ini boleh tumbuh persatuan iman lebih dalam yang menghasilkan beragam perubahan hidup dan pewujudan janji-janji Allah seterusnya. Sisi kelanjutan dari iman yang diperhitungkan benar ini yaitu pertumbuhan persahabatan antara Abram dan Allah ini yang dilihat oleh Yakobus. 
Iman dan pembenaran adalah bagian dari proses pertumbuhan persahabatan antara kita dan Allah; proses persahabatan ini mengandung aspek pemurnian sifat dan dasar iman kita, pengerahan percaya lebih dalam kepada Tuhan, dan pengenalan makin nyata dan intens akan diri Tuhan. Dalam bahasa soteriologis ini adalah pembenaran, pematian diri, pengambilan kuasa dan karya Tuhan, pengudusan dan pemuliaan seterusnya sampai ke konsumasi (penyempurnaan keselamatan kita kelak). Kiranya kita boleh menjalani proses persahabatan iman ini semakin riil.

Selasa, 25 Juli 2017

Firman dan Alam

TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." -- Kejadian 15:5-7

Ketika dalam proses panjang mengikut Tuhan timbul kesadaran akan lemah dan lelahnya diri, harus bagaimanakah kita? Dari pengalaman Abram, bagaimana penguatan dan topangan dari Allah itu boleh kita alami? Firman Tuhan datang dalam suatu penglihatan, demikian catatan ay. 1. Dalam hikmat dan kedaulatan-Nya Allah tahu kapan dan bagaimana Ia akan meneguhkan hati orang yang dipimpin-Nya. Apabila dalam pimpinan sebelum ini dapat kita simpulkan bahwa Allah berfirman melalui kapasitas batiniah Abram, dalam nas ini Ia menyatakan firman-Nya kepada kapasitas pendengaran dan penglihatan Abram -- dalam suara dan penampakan. Sepanjang catatan Alkitab seterusnya kita masih kerap berjumpa dengan cara penyataan yang sama. Ini membuktikan bahwa kita bukan mengikuti patung berhala yang mati yang tidak dapat berbicara, bertindak, membimbing, menghibur dlsb. melainkan Allah yang hidup dan aktif bekerja mewujudkan kehendak dan rencana-Nya. Kita bersyukur bahwa catatan tentang sifat Allah, kehendak dan rencana Allah, kehendak moral dan spiritual Allah bagi kita, berbagai bentuk pengalaman nyata umat dengan Tuhan ada pada kita dalam kanon Alkitab yang boleh menjadi sumber untuk prinsip dan contoh bagi perjalanan iman kita kini. Pengalaman kita hidup dalam hadirat dan pimpinan Allah dan perjumpaan kita akan Allah dalam firman tertulis logisnya berjalan seiring dan serasi. 
Allah kemudian membawa Abram keluar dan memerintahkan dia untuk melihat ke langit. Di hadapan hamparan langit bertaburan benda-benda langit yang keseluruhannya infinit secara jumlah, ukuran, dinamika dan estetikanya -- Allah menyatakan kepada Abram bahwa akan seperti itu juga keturunannya kelak. Dalam nas sebelum ini Allah memakai pasir di tepi laut sebagai rujukan, kini Ia memakai benda-benda langit di angkasa -- kini kita sebut ini sebagai bagian dari penyataan umum, alam sebagai media Allah menyatakan kemuliaan dan penyelenggaraan-Nya kepada umat-Nya. 
Akibat dari dua perjumpaan ini -- firman dan alam, Abram percaya (Ibr.: aman) -- teguh atas dasar bukan saja janji Allah tetapi atas dasar Ia yang memberikan janji. Hal ini diperhitungkan Allah sebagai kebenaran.
Kita pun boleh mengalami penguatan iman secara kognitif, emotif dan volutif dengan bersandar penuh kepada Tuhan dan janji-janji-Nya dalam perjumpaan di dalam firman tertulis, di dalam pengalaman nyata yang sesuai Alkitab, dan di dalam penalaran akan penyataan umum alami Tuhan.

Sabtu, 22 Juli 2017

Perisai dan Pahala

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." -- Kejadian 15:1-4
Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. -- Efesus 6:13

Sesudah menang gemilang, berhasil menyangkal diri, dan diberkati oleh Melkisedek mengapa datang firman Tuhan agar Abram tidak takut? Kok bisa? Apa yang ia takuti? 
Dalam perjuangan orang bisa takut sebelum berjuang -- takut kalah, takut tidak bisa; atau orang bisa takut sesudah berhasil dalam perjuangan -- takut karena menyadari berbagai kerentanan diri dan sifat tidak mutlak dari keberhasilan yang telah dicapai. Yang terjadi pada Abram adalah takut sesudah menang. Ketakutannya ini sangat mungkin merupakan gabungan dari tiga unsur. Pertama, dalam keheningan kesendiriannya ia mungkin tiba-tiba menyadari betapa bahaya situasi dirinya, Ia hanya peternak pengembara bukan kepala pasukan perang. Ia belum memiliki teritorial wilayah tetapi baru menjelajah menjajagi wilayah yang akan Tuhan berikan kepadanya. Bagaimana bila lima kerajaan yang dikalahkannya menyusun kekuatan kembali dan menyerangnya balik? Kedua, penyangkalan dirinya untuk tidak mengambil pemberian dari raja Sodom bisa jadi dalam kilas pikirnya secara manusiawi terasa sebagai pengorbanan berlebihan dan kerugian. Bukankah ia memang telah berjasa melepaskan mereka. Andai ia menerima pemberian itu bukankah itu wajar saja, dan tidak perlu disamakan seakan ia menarik upeti yang justru memang harus dibayar rutin oleh raja-raja jajahan itu? Ketiga, untuk apa semua kemenangan dan berkat dan keberhasilan itu sementara ia tidak juga punya keturunan? 
Ke dalam berbagai kegelisahan yang ia alami ini -- datanglah firman Tuhan yang luar biasa ini "Janganlah takut" -- pertama dari rangkaian penguatan yang sama sekujur Alkitab yang kata peneliti statistik ayat Alkitab cukup untuk sepanjang hari-hari setahun kita -- 365 kali banyaknya. Yang lebih hebat lagi adalah ucapan Tuhan berikutnya: Akulah perisaimu, Akulah pahalamu... Jika Tuhan sendiri perisai atas ancaman bahaya dari luar dan dari dalam; Jika bukan sekadar akan memberikan berkat tetapi diri Tuhan sendiri merupakan pahala... mengapa perlu takut, rugi, gelisah? Kita perlu mengenakan selengkap senjata Allah bukan saja supaya dapat menang dalam peperangan iman, tetapi supaya tetap berdiri teguh sesudah berhasil di satu fase dan siap maju ke fase berikutnya. 

Jumat, 21 Juli 2017

Berkat Raja dan Imam

Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya. -- Kejadian 14:18-20

Anugerah Tuhan terus bekerja dalam sejarah purba umat manusia. Kendati dosa telah merusak hubungan dan pengenalan manusia akan Tuhan, dalam catatan Kejadian sebelum ini berulang kali tampil dengan indahnya catatan tentang orang tertentu memanggil nama Tuhan, memberikan korban kepada-Nya. Dan, kini Melkisedek raja (Yeru-)Salem disebut sebagai imam Allah yang Mahatinggi (El Elyon). Melkisedek datang memberikan roti dan anggur kepada Abram, dan memberkati. Ia bertindak selaku raja dan imam, dan juga dari persepuluhan yang Abram berikan kepadanya menunjukkan kedudukan Melkisedek lebih tinggi dari Abram. 
Ada beberapa hal penting dari catatan tentang Melkisedek ini. Penyebutan imam muncul pertama kali, menyiratkan yang ditegaskan dalam Surat Ibrani bahwa ada keimamatan yang jauh lebih dulu ada sebelum keimamatan Harun/Lewi. Demikian juga pemberian persepuluhan untuk pertama kali disebutkan di sini, sebagai bentuk pengakuan Abram akan keimamatan Melkisedek. Berarti keimamatan Melkisedek -- seperti disimpulkan Ibrani -- jauh lebih unggul ketimbang keimamatan Harun/Lewi yang keturunan Abram. Juga pertama kali disebut Allah sebagai El Elyon, Pencipta langit dan bumi yang telah menjadi sumber kemenangan Abram, ini senada dengan Kejadian 1 dan 2. Maka kehadiran dan tindakan Melkisedek selaku raja dan imam memberikan anggur dan roti dan menyebutkan berkat bukan saja untuk menyegarkan tubuh Abram, melainkan juga untuk menegaskan perkenan Allah kepada Abram dan semua tindakannya dalam nas ini. 
Kita boleh mengantisipasi prinsip yang sama: bahwa, tiap kali kita selesai melakukan tindakan yang serasi dengan kehendak baik Tuhan, kita boleh dijumpai-Nya dengan semacam pesta rohani yang meneguhkan dan meluaskan rencana berkat-Nya bagi dan melalui kita. 

Kamis, 20 Juli 2017

Berkat: Diberkati-Memberkati

Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya. Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya. Berkatalah raja Sodom itu kepada Abram: "Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda itu." Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: "Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi: Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya. Kalau aku, jangan sekali-kali! Hanya apa yang telah dimakan oleh bujang-bujang ini dan juga bagian orang-orang yang pergi bersama-sama dengan aku, yakni Aner, Eskol dan Mamre, biarlah mereka itu mengambil bagiannya masing-masing."  -- Kejadian 14:14-24

Inilah teladan orang yang dipilih Tuhan untuk diberkati menjadi berkat! Ketika mendengar bahwa terjadi peperangan antara lima kerajaan yang tadinya menjajah lima kerajaan dimana Lot tinggal, Abram memutuskan untuk mengerahkan anak buahnya yang terlatih untuk mengalahkan musuh dan merampas kembali harta rampasan mereka. Sungguh keputusan yang luar biasa terpuji dan teramat berani. Sebenarnya Abram bisa saja "memberi pelajaran" kepada Lot yang telah memilih untuk tinggal di dekat Sodom. Lagi pula Abram hanya seorang peternak pengembara -- bagaimana mungkin ia sanggup melawan pasukan sekutu lima kerajaan yang sebelumnya sudah sanggup menjajah lima kerajaan sekutu Sodom selama 13 tahun? Terbukti sikap terpuji Abram yang mengingat Lot dan sikap beraninya melawan lima kerajaan itu berhasil gemilang. Sekelompok peternak pengembara berhasil mengalahkan pasukan sekutu lima kerajaan! Sikap berikut dari Abram sebagai orang yang diberkati ialah ia tidak mau mengambil hasil rampasan itu meski raja Sodom menawarkannya. Berkat untuk Abram bukan datang dengan cara memanfaatkan kesusahan orang lain. Juga bagaimana Abram bisa menjadi teladan untuk Lot yang telah kompromi tinggal di dekat Sodom jika Abram sendiri mau mengambil harta orang Sodom? 

Berkat datang dari Allah, melalui cara yang benar, diperlakukan sebagai saluran untuk memberkati semua orang yang di sekeliling kita! Wujud terdalam dari berkat adalah berbagi kebebasan dan hidup memuliakan Allah! 

Rabu, 19 Juli 2017

Iman itu Perjuangan!

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN. -- Kejadian 13:14-18

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. -- 2 Timotius 1:6

Ada konsep keliru tentang Tuhan dan cara kerja-Nya yang tidak menghasilkan pertumbuhan iman dan kehidupan pelayanan yang sehat. Sadar atau tidak sadar kita sering menjadikan Tuhan dan cara kerja-Nya sebagai "Lord of the gap" -- maksudnya, Tuhan kita jadikan penjelas untuk hal-hal yang tidak dapat kita jelaskan; Tuhan kita jadikan sumber terakhir yang menolong kita menambah atau melengkapi atau menyelesaikan ketika semua usaha sudah kita kerahkan namun belum tampak hasilnya. Slogan seperti ini lazim kita dengar: "ketika kita angkat tangan, Tuhan turun tangan"; atau bahkan "cukup diam berdoa menonton saja, Tuhan akan melakukannya bagi kita." Dari kisah Abram dan semua tokoh Alkitab termasuk Yesus dan para rasul kita harus menyimpulkan bahwa Tuhan bukan hanya berdaulat atas ruang kosong yang tidak sanggup kita kendalikan -- Ia adalah Tuhan atas segala sesuatu, cara kerja-Nya bukan sebagai tambahan dari yang kurang dalam usaha kita melainkan anugerah, kuat-kuasa, sumber daya-Nya berlangsung di dalam, bersama, menopang, menyanggupkan semua usaha kita baik yang sifatnya umum maupun yang sering digolongkan sebagai wilayah kegiatan rohani. Jadi adalah kurang tepat berdoa "tambahkanlah kecerdasan," sementara usaha dan kerajinan belajar tidak penuh. Tidak benar meminta urapan Roh dalam khotbah padahal persiapan untuk eksegesis, merenungkan bagaimana mengkonekkan khotbah itu kepada pendengar hanya ala kadarnya. Demikian juga pertumbuhan kapasitas karunia-karunia rohani kita lainnya akan seiring dengan kesungguhan kita mencoba, melatih, memercayai penyertaan-Nya -- dengan kata lain "mengobarkan" talenta dan karunia baik natural maupun supernatural yang kita perlukan dalam kehidupan dan pelayanan. Sebab, berbagai karunia rohani itu akan ditambahkan dan ditumbuhkan Tuhan kepada para pelayan-Nya yang setia mengembangkan diri dan talentanya. 

Angkat matamu, pandanglah, bangkit dan jalanilah -- inilah prinsip pertumbuhan daya terwujudnya berbagai rencana Allah yang imani.  

Selasa, 18 Juli 2017

Beriman itu Aktif!

Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.  -- Kejadian 13:14-18


Sesudah Abram merendah-mengalah-menyilakan Lot mengambil bagian yang tampak paling menjanjikan, apa yang terjadi? Apakah Abram hanya mendapat sisa? Apakah ia kehilangan hak untuk beroleh tanah yang akan Tuhan brikan kepadanya? Sama sekali tidak! Kini bahkan janji tentang tanah di pasal 12 makin diperjelas oleh Allah di samping janji bahwa keturunannya akan menjadi seperti debu banyaknya. Dalam peneguhan janji ini, terkandung prinsip iman penting baik untuk Abram juga untuk kita masa kini. Allah bukan saja menyampaikan firman berisi janji, tetapi juga menyampaikan firman berisi perintah: "Pandanglah sekelilingmu (harfiah: Angkatlah matamu) dan lihatlah ke timur, barat, utara, selatan." Apabila Lot memandang dengan mata kedagingan, Abram diperintahkan Tuhan untuk memakai mata yang sama untuk melihat pemandangan iman, imajinasi iman, impian iman dalam bingkai rencana dan janji Allah. Seiring dengan penglihatan iman diperlukan juga penjelajahan iman: "Bersiaplah, jalanilah (harfiah: Bangkit, jalanilah) negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Tuhan pasti akan meneguhkan janji-janji-Nya, Ia pasti berniat memberi kepada Abram dan semua orang beriman apa yang memang ada dalam rencana kekal-Nya yang baik dan menyukakan dan bermakna, namun demikian Abram dan semua kita yang beriman harus aktif memandang dan menimbang dengan iman, mengambil langkah-langkah yang merupakan bagian integral dari memperoleh dan mengalami hal-hal yang Tuhan janjikan. 



Beriman bukan berarti menjadi pasif, sebaliknya beriman berarti melatih wawasan hidup, pertimbangan, keberanian dan tindakan nyata mewujudkan janji-janji dan prinsip-prinsip Kerajaan ke dalam berbagai aspek kehidupan -- pertumbuhan karakter, keluarga, studi, pekerjaan, pelayanan gerejawi, dlsb. 

Sabtu, 15 Juli 2017

Jangan Matre!

Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.  -- Kejadian 13:10-13
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? -- Matius 16:26

Semua syarat untuk sukses, hak untuk sukses menurut slogan-slogan para motivator duniawi masa kini ada pada Lot: ego yang kuat, 'assertiveness', perhitungan yang jeli, 'BQ' (business quotient) yang kuat dan serakah, lengkap ada padanya. Maka, begitu disilakan oleh Abram untuk memilih mana saja yang ia inginkan, Lot yang telah menjadi kaya karena mengikut Abram ini tanpa sungkan dan dengan tidak memiliki prinsip hidup yang lebih mendasar langsung memilih  tanah yang tampak subur, memiliki sumber daya air melimpah, dan merujuk selain ke taman Tuhan juga ke salah satu pusat budaya dunia waktu itu yaitu Mesir. Ia ingin mendapatkan surga dan dunia sekaligus -- tidak peduli bahwa pilihannya itu menyebabkan ia mengkompromikan nilai-nilai dan mendekat ke kota-kota yang sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan, Demi makin kaya, makin berkembang bisnis ternaknya, makin melimpah asetnya Lot mengorbankan prinsip "cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya" -- dengan akibat kelak ketika murka Tuhan membumi-hanguskan Sodom dan Gomora, seluruh pencapaiannya musnah begitu saja.

Pilihan Lot bukan pilihan orang beriman. Orang percaya melihat, menimbang, memutuskan, bertindak dengan iman bukan dengan kalkulator. Orang beriman menjadikan Tuhan dan kebenaran-Nya sebagai standar mutlak dan semua pertimbangan lain harus tunduk kepada standar ini.

Jumat, 14 Juli 2017

Manajemen Konflik

Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." -- Kejadian 13:5-9

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. -- Matius 5:9

Abram menunjukkan perubahan berarti dalam pertimbangan dan keputusannya. Andai ia masih memakai pertimbangan seperti ketika ia memutuskan untuk pergi ke Mesir, pertikaian tentang keterbatasan lahan untuk ternak peliharaannya dan Lot itu pasti diselesaikannya dengan cara lain. Dipandang dari sisi jasmani apalagi rohani Abram berhak menentukan dan memilih yang utama, Lot tidak. Sebab, Lot hanya keponakannya, yang bersama Abram karena ikut dan bukan karena menerima panggilan khusus Allah. Perhatikan bagaimana Abram menyelesaikan masalah ini. Pertama, ia yang lebih tua yang menerima pimpinan ilahi yang mengambil inisiatif mendatangi Lot dan mengusulkan jalan keluar. Orang yang lebih dewasa secara mental dan rohani seharusnya menjadi panutan tentang keputusan dan solusi yang benar. Kedua, ia lebih mementingkan relasinya sebagai paman dan ponakan ketimbang kepentingan bisnis dan miliknya. Apabila di Mesir ia lebih mementingkan makanan dan keselamatan diri sendiri ketimbang kehormatan istrinya, di sini ia menunjukkan perubahan signifikan. Ini salah satu tolok ukur dari orang sungguh memiliki relasi yang riil atau tidak dengan Tuhan: yaitu, menomorsatukan relasi kasih dengan Allah dan manusia serta menempatkan harta tidak dalam urutan prioritas. Sayangnya masa kini masih banyak orang percaya yang membendakan manusia dan memuja-muja harta! Ketiga, Abram bersedia melepas hak pilih padahal wajarnya ia sebagai paman, sebagai yang dipanggil Tuhan dan sebagai pihak yang mengajak Lot, yang berhak memilh lebih dulu. Kini, dalam percaya akan kedaulatan Tuhan ia mengalah. 

Tiga tanda pertumbuhan iman Abram: berinisiatif membawa damai, mementingkan relasi ketimbang harta, mengalah karena percaya akan kendali Tuhan atas segala sesuatu. Kiranya Tuhan menolong kita bertumbuh dalam tiga segi ini juga. Amin.

Kamis, 13 Juli 2017

Mengulang Kembali

Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. -- Kejadian 13:1-4
Kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit -- Kolose 1:23

Meski firman Tuhan tidak menyatakan adanya teguran Tuhan terhadap tindakan Abram pergi ke Mesir yang kemudian diikuti dengan rangkaian peristiwa memalukan, jelas kisah itu memaparkan kegagalan Abram. Ia gagal memercayai pemeliharaan Tuhan, bertanya pimpinan Tuhan, dengar-dengaran kehendak-Nya, berlaku benar di hadapan manusia. Sesudah ditolak Firaun ke luar dari Mesir, apa yang Abram buat? Ia kembali ke Negeb, lalu ke Betel dan Ai tempat pertama ia mendirikan mezbah. Ia kembali ke jalur perjalanan pertama ketika ia memasuki Kanaan, persis dari titik awalnya. Ia kembali ke awal ketika ia memanggil nama Tuhan! Pelajaran tentang hidup, iman, kasih pada intinya sama dengan pelajaran tentang pokok-pokok pelajaran apa pun. Kebenaran seperti jejaring yang masing-masing simpulnya berkaitan satu sama lain. Apabila ada satu simpul yang rapuh atau yang tidak tuntas kita hidupi, itu bisa menyebabkan simpul-simpul lain yang dekat maupun jauh darinya menjadi rentan dan rapuh juga. Maka seperti halnya Abram, jika ada pelajaran hidup yang di dalamnya kita gagal -- entah itu soal mengandalkan Tuhan, kejujuran, kerendahhatian, kerelaan, penyembahan, dlsb. -- kita perlu ditolong Tuhan agar simpul rapuh itu sungguh dikuatkan. 

Selasa, 11 Juli 2017

Penjelajahan Iman

 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb. -- Kejadian 12:6-9

Iman, pengalaman iman, pencapaian iman -- tidak otomatis cepat dan kuat bagaikan kendaraan dengan rpm tinggi. Perlu pertumbuhan dalam ketaatan, keberanian untuk bertualang yang mempertajam insting tentang kehendak dan bimbingan Tuhan, imajinasi yang melampaui apa yang dilihat sedang berlaku. Itulah iman pada Abraham, demikian juga kita yang oleh karya Yesus disebut sebagai anak-anak Abraham karena mengikuti imannya. Ia harus taat meninggalkan kediamannya, harta miliknya dan keluarga asalnya -- berarti ia sedang mengikuti penciptaan suatu manusia baru yang disaring terus sejak dari Adam-Hawa, Set, Nuh, Sem, Terah dan kini dirinya. Oleh iman akan panggilan dan rencana ilahi ia pergi menjelajahi tanah Kanaan -- ternyata tanah itu telah lebih dulu dihuni oleh orang Kanaan (keturunan Ham). Bahkan sudah ada lingkungan hunian yaitu Sikhem, juga Betel dan Ai. Nama-nama ini kelak akan muncul lagi dalam kisah penaklukan Kanaan oleh bani Israel -- berarti Abram adalah pembuka jalan untuk yang kelak terealisir dalam bani para buyutnya. Di tengah penjelajahan iman itu TUHAN menampakkan diri dan berfirman bahwa negeri itu -- yang sudah dihuni bani lain itu -- adalah pemberian Dia yang empunya langit dan bumi -- kepada keturunan Abram. Merespons firman itu Abram mendirikan mezbah, yang juga didirikan lagi di antara Betel dan Ai. Inilah penjelajahan iman -- Allah menyatakan rencana dan bimbingan-Nya, Abram merespons dalam ucapan syukur, sembah dan klaim iman -- mezbah. Mezbah di sini menjadi berfungsi jamak -- penyembahan kepada Tuhan, pengingat tentang tahap-tahap kemajuan iman, dan klaim penaklukan oleh iman kendati kenyataan saat itu masih belum merupakan milik Abram.
 

Mezbah syukur bukan saja karena sesuatu yang sudah terjadi namun juga untuk sesuatu yang dalam terang penyataan ilahi yang kita imani pasti akan terjadi. Mari penjelajahan hidup iman kita dipandu oleh terang firman dan ditandai oleh tebaran 'mezbah' syukur-klaim iman.