Jumat, 13 Juli 2012

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (5)


5. Sumber hakiki kepercayaan orang akan keamanan dan jati diri adalah Allah dan persediaan-Nya, bukan uang.
Meski Alkitab mengokohkan kekayaan sebagai karunia baik Allah, ini tidak berarti bahwa mencari atau memilikinya bebas dari pencobaan. Salah satu dari bahaya kekayaan yang sering Alkitab sebut ialah kaitannya dengan berhala. Meski tidak merupakan kaitan keharusan, karena memang ada orang kaya yang setia mengikut Yesus dan para rasul, umumnya kekayaan merupakan hal yang patut diawasi. Menyerah kepada berhala dalam berbagai bentuknya adalah suatu masalah serius, dan tidak sukar untuk orang jatuh ke dalam pencobaan yang menjadikan kekayaan sebagai pengganti Allah. Terus menerus Alkitab memperingati tentang memercayai kekayaan untuk keamanan ekonomi kita. Pemazmur meratapi orang yang memercayai kekayaan, mengusulkan bahwa melakukan itu adalah kesia-siaan sebab uang tidak dapat menyelamatkan kita di hadapan Allah (Mzm. 49:6-7). Lebih jauh, para nabi mendorong umat untuk memercayai Allah, bukan kekayaan, hikmat atau kuasa untuk kesadaran hakiki keamanan mereka dalam dunia ini (Yer. 9:23). Perjanjian Baru memperingati bahaya memercayai kekayaan ketimbang Allah, sebab kekayaan sangat tidak dapat diandalkan dan Allah sepenuhnya setia memerhatikan kebutuhan kita (1Tim. 6:17). Yesus menjelaskan bahwa kekayaan dapat menjadi rintangan untuk masuk Kerajaan Allah (Mrk. 10:24), tidak saja karena ia sering melibatkan kegiatan immoral tetapi juga karena bahaya spiritual memakai kekayaan sebagai pengganti kepercayaan kepada Allah.

            Juga tidak seharusnya kondisi pembukuan seseorang menjadi sumber jati diri atau keamanan.[1] Bahayanya, usul Craig Gay, ialah uang “menjadi tujuan dalam dirinya dan memang telah menjadi tujuan akhir bagi sebagian besar orang.”[2] Jadi tentang harta bersih seseorang sangat bermasalah, sebab hal itu cenderung mengukur kelayakan diri orang dalam pernyataan finansial. Gay mengusulkan bahwa bagian dari bahaya pengaruh uang atas wawasan dunia ialah “hidup itu sendiri jadi dialami sebagai sebentuk gabungan arti, nilai dan kepentingan,” yang segala sesuatunya dinilai dalam ukuran-ukuran kuantitatif uang.[3] Sosiolog Robert Wuthnow menggemakan ini ketika menyimpulkan bahwa “uang terkait secara subjektif dengan jati diri kita” dan karenanya menjadi penentu penting tentang bagaimana orang memandang dirinya.[4]

            Manusia juga tidak dikenali dengan apa yang mereka beli, ukuran atau lokasi rumah mereka, jenis mobil yang dikendarai atau milik lainnya yang oleh kebudayaan dilihat membuat orang berarti.[5] Barangkali ini lebih halus dari pada yang disadari mulanya, sebab kebudayaan konsumtif telah menjadi sedemikian identik dengan yang dikenal sebagai “merek” (lihat pasal 8). Para konsumer telah demikian mengaitkan diri dengan merek-merek tertentu, entah pakaian, mobil, elektronik atau benda konsumer lain yang diharga oleh kebudayaan. Teolog Katolik Tom Boudoin menunjukkan bahwa merek dapat memengaruhi cara konsumen mengidentifikasi diri mereka, menentukan kecocokan mereka dalam kelompok atau subbudaya tertentu, bahkan membentuk definisi mereka tentang sukses. Ia mengusulkan bahwa berbagai merek dapat mengkomunikasikan arti dan jati diri, khususnya untuk dewasa muda dan remaja dalam tahap-tahap pembentukan pengembangan jati diri mereka. Dalam hal yang orang lain sebut “merek untuk hidup,” Boudoin menunjukkan bahwa “jika orang muda merasa mantap tentang merek tertentu yang melaluinya mereka menyatakan jati diri mereka, merek-merek tersebut boleh jadi akan menjadi bagian dari keseluruhan jati diri orang itu sementara mereka memasuki kedewasaan dan usia pertengahan.”[6] Ini merupakan salah satu tujuan jangka panjang periklanan, yaitu membuat konsumen melekatkan arti pribadi ke merek produk tertentu – pemasang iklan tahu  bahwa mereka telah sukses bila mereka membawa para konsumer mengidentikkan diri dengan produk-produk mereka.[7]

            Sebagian solusi bagi endemi materialisme dalam kebudayaan kita ialah menilai uang dengan apa yang Gay sebut “ringan hati” yang pada hakikatnya datang dari kepercayaan kita akan Allah untuk persediaan kita. Almarhum teolog Katolik Richard John Neuhaus mengusulkan kita bersikap tidak menentu tentang kekayaan:



Maksudnya ialah kekayaan – baik memiliki atau menghasilkannya – sesungguhnya tidak begitu penting. Pokok ini luput baik dari yang tamak, yang tertawan oleh milik mereka, dan oleh para ideolog religius yang menganjurkan suatu tatanan ekonomi yang adil. Keduanya menerima kekayaan terlalu serius. Penghargaan akan kehidupan ekonomi dan produksi kekayaan yang diterangi secara teologis harus ditandai oleh kesan tidak menentu dan heran di hadapan realitas-realitas kehidupan ekonomi yang bersifat tidak pasti, nyata, acak dan tidak teramalkan.[8]



            Tentunya, ini menjadi lebih menantang di masa-masa kesukaran ekonomi, tetapi tidak kurang penting, dan tidak mengikis pentingnya kerajinan dan tanggung jawab dalam memerhatikan diri Anda sendiri dan tanggungan Anda.



[1] Untuk bacaan lebih lanjut tentang dasar penting bagi keamanan dan jati diri orang ini, lihat buku berwawasan oleh Craig M. Gay, Cash Value: Money and the Erosion of Meaning in Today’s Society (Grand Rapids: Eerdmans, 2004).
[2] Ibid., hlm. 90. Untuk diskusi lanjut tentang kritik terhadap materialisme, lihat Robert Wuthnow, ed., Rethinking Materialism: Perspectives on the Spiritual Dimension of Economic Life (Grand Rapids: Eerdmans, 1995); dan Robert Wuthnow, God and Mammon in America (New York: Free Press, 1994).
[3] Gay, Cash Value, hlm. 68.
[4] Robert Wuthnow, Poor Richard’s Principle: Recovering the American Dream Through the Moral Dimensions of Work, Business and Money (Princeton, N. J.: Princeton University Press, 1996), hlm. 153.
[5] Untuk diskusi lebih lanjut tentang pokok ini, lihat Tom Boudoin, Consuming Faith: Integrating Who We Are with What We Buy (Lanham, Md.: Sheed & Ward, 2003); dan Rodney Clapp, ed., The Consuming Passion: Christianity and the Cousumer Culture (Downers Grove: Ill.: InterVarsity Press, 1998).
[6] Boudoin, Consuming Faith, hlm. 7-8 (cetak miring ditambahkan). Lebih jauh ia mengusulkan bahwa “merek memengaruhi jati diri yang konsisten, koheren, di mana Anda menceritakan diri sejati Anda; hal itu menawarkan keanggotaan dalam suatu komunitas, mengeluarkan suatu undangan ke kepercayaan tak bersyarat, menawarkan janji perubahan hidup dan suatu hidup baru” (Ibid., hlm. 44).
[7] Untuk bacaan lanjut tentang tujuan jangka panjang iklan, lihat Howard J. Bluementhal, Branded for Life: How American Are Brainwashed by the Brand We Love (Cincinnati: Emmis Books, 2005).
[8] Richard John Neuhaus, “Wealth and Whimsy: On Economic Creativity,” First Things,  August-September (1990), hlm. 29.

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (4)


4. Alkitab menyetujui bahwa menikmati hidup dan sumbernya merupakan karunia Allah. Kemakmuran kita pada akhirnya adalah akibat berkat Allah dalam kehidupan kita. Alkitab juga jelas bahwa kerajinan kita pun memainkan peran (Ams. 10:4), tetapi pada puncaknya, semua yang seseorang kumpulkan datang dari Allah. Tidak ada kesalahan dalam hal memiliki kekayaan dan menikmati karunia baik Allah, selama itu didapat secara benar dan kita bermurah hati dengannya (kuis nomor 2, 12). Pengkhotbah meneguhkan bahwa “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah” (Pkh. 5:19, penekanan ditambahkan).[1] Allah menjanjikan bangsa Israel suatu “tanah yang berlimpah dengan susu dan madu,” bahasa figuratif untuk kelimpahan berkat-Nya.[2] Jelas Allah menghendaki umat-Nya menikmati kelimpahan berkat-Nya di tanah itu. Sebagai tambahan, paparan alkitabiah tentang Taman Firdaus dalam Kitab Kejadian dan Yerusalem Baru dalam Kitab Wahyu menggemakan visi yang sama ini tentang kelimpahan persediaan dari Allah. Meskipun masa kini berkat-Nya tidak terikat pada kemakmuran nasional, sebagaimana dalam hukum Musa, cukup jelas prinsip bahwa Allah menghendaki kelimpahan bagi umat-Nya. Tentu saja, ini diseimbangi dengan mandat untuk bermurah hati dan berbelas kasihan kepada mereka yang ada dalam kebutuhan. Tekanan pada menikmati hidup sebagai pemberian baik Allah ini tidak mengusulkan sesuatu yang mirip dengan teologi kemakmuran, yang mengajarkan bahwa Allah harus mengganjar kebenaran dan kesetiaan dengan kemakmuran materiil. Allah memang mengganjar kesetiaan dengan berkat-Nya, tetapi itu tidak harus atau bahkan wajar berbentuk berkat finansial. Masa kini tidak harus ada kaitan antara kekayaan orang dengan kesetiaannya kepada Allah.

            Demikian pun kemiskinan dalam Alkitab kemiskinan bukan suatu kebajikan. Orang miskin dan yang miskin di hadapan Allah tidak diberkati karena mereka miskin tetapi karena Kerajaan Allah adalah milik mereka (Mat. 5:3; Luk. 6:20), kuis nomor 5).[3] Dalam kitab-kitab sastra hikmat kemiskinan sering dikaitkan dengan kurang rajin, hikmat dan karakter moral (Pkh. 6:6-11; 10:4; 24:30-34), meski masa kini ada juga penyebab sistemik dari kemiskinan yang sama sekali tidak berhubungan dengan karakter orang. Baik kekayaan atau kemiskinan dalam dirinya tidak harus merupakan petunjuk tentang spiritualitas seseorang. Sepanjang isi Alkitab yang jahat makmur dan yang benar kerap menderita kemiskinan karena alasan-alasan yang sedikit berkait dengan kedewasaan atau kekurangan spiritual mereka. Sebagai contoh, pemazmur meratapi kenyamanan dan kekayaan orang fasik:



Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual,

kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik...

Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik:

mereka menambah harta benda dan senang selamanya! (Mzm. 73:3, 12)



            Perjanjian Baru juga meneguhkan menikmati hidup sebagai persediaan dari Allah untuk umat-Nya. Sebagai contoh, Paulus memerintahkan Timotius untuk meneruskan ajaran bahwa “orang-orang kaya di dunia ini… jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1Tim. 6:17; kuis nomor 2, 12). Allah memerintahkan merasa cukup (yang diartikan sebagai “menginginkan apa yang Anda miliki”), memercayai Dia, bukan uang, untuk keamanan; dan kemurahhatian dengan kekayaan yang dipunyai untuk menyeimbangi mandat agar menikmati hidup sebagai pemberian baik Allah.



[1] Perlu diperhatikan bahwa Salomo juga menegaskan kesia-siaan kekayaan – bahwa harta tidak dapat menyediakan kepuasan hakiki, bukan pengganti Allah (Pkh. 5:8-20; 6:1-12). Pernyataan-pernyataan ini tidak saling bertolak belakang, sebab kekayaan dapat menjadi karunia baik Allah tanpa membuatnya sama dengan berhala. Salomo mengusulkan bahwa kekayaan dapat menjadi karunia tanpa harus menghargainya berlebihan sampai ia dilihat sebagai kunci yang menyatukan keseluruhan kepingan-kepingan puzzle kehidupan menjadi utuh.
[2] Schneider, God of Affluence, hlm. 7-74. Tentu saja, dengan kelimpahan berkat datang tanggung jawab kemurahan hati, khususnya kepada orang miskin, yang juga ditegaskan oleh Schneider. Lihat Sider, Rich Christians, untuk pembahasan lebih lanjut tentang tanggung jawab kepada orang miskin ini. Lihat juga Ron Sider, Just Creativity: A New Vision for Overcoming Poverty in America (Grand Rapids: Baker, 1999).
[3] Untuk bahasan lebih lanjut tentang Ucapan Berkat ini, lihat Dallas Willard, The Divine Conspiracy (New York: HarperCollins, 1998).

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (3A)


Alkitab memberikan tekanan khusus pada kemurahan hati pada orang miskin dan mereka yang rentan secara ekonomi. Sepanjang isi Alkitab sikap orang terhadap orang miskin dianggap ukuran penting tentang spiritualitas (kuis nomor 7). Para nabi menghubungkan kepedulian secara perorangan kepada orang miskin dan perhatian Israel sebagai bangsa untuk orang miskin dengan komitmen spiritual. Sebagai contoh, Yesaya menjelaskan bahwa kehidupan religius yang benar tidak terdiri dalam ritual dan seremoni tetapi dalam perhatian nyata bagi orang miskin dan pengusahaan keadilan ekonomi. Ia berkata,

Berpuasa yang Kukehendaki, ialah
supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman,
dan melepaskan tali-tali kuk,
supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
dan mematahkan setiap kuk,
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar
dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang,
supaya engkau memberi dia pakaian dan
tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yes. 58:6-7)


            Dalam bagian terdahulu pasal ini kami menunjukkan bahwa Yeremia mengaitkan kepedulian seseorang kepada orang miskin dengan arti mengenal Allah (“’ia melakukan keadilan dan kebenaran, serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku?’ demikianlah firman TUHAN” [Yer. 22:16, cetak miring ditambahkan]), dan Amsal mengajarkan kita bahwa hal itu menghormati Allah (“siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia” [Ams. 14:31]).

            Yesus meneruskan prioritas memerhatikan kaum miskin ini dengan menjadikannya salah satu tanda penting pelayanan-Nya di bumi. Sesungguhnya, Yesus mengidentikkan perhatian-Nya untuk orang miskin sebagai suatu petunjuk utama bahwa ia telah meresmikan Kerajaan Allah. Dalam catatan Lukas tentang pelayanan publik-Nya yang pertama, Yesus bicara tentang misi-Nya “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk. 4:18). Pelayanan Yesus di antara kaum marginal pada zaman-Nya dianggap sebagai penggenapan nubuat tentang kedatangan Mesias. Demikian pun, ketika para pengikut Yohanes Pembaptis bertanya langsung kepada Yesus apakah benar atau bukan Ia adalah sang Mesias, Ia menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:4-5). Alkitab jelas bahwa kita harus menumbuhkan kemurahhatian secara umum. Tetapi secara spesifik dan berulang kali Alkitab mengajarkan yang miskin harus menjadi objek utama kemurahhatian kita. Yakobus mengulang prioritas Perjanjian Lama tentang hal ini ketika berkata:

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yak. 1:27)



[1] Perlu diperhatikan bahwa Salomo juga menegaskan kesia-siaan kekayaan – bahwa harta tidak dapat menyediakan kepuasan hakiki, bukan pengganti Allah (Pkh. 5:8-20; 6:1-12). Pernyataan-pernyataan ini tidak saling bertolak belakang, sebab kekayaan dapat menjadi karunia baik Allah tanpa membuatnya sama dengan berhala. Salomo mengusulkan bahwa kekayaan dapat menjadi karunia tanpa harus menghargainya berlebihan sampai ia dilihat sebagai kunci yang menyatukan keseluruhan kepingan-kepingan puzzle kehidupan menjadi utuh.
[2] Schneider, God of Affluence, hlm. 7-74. Tentu saja, dengan kelimpahan berkat datang tanggung jawab kemurahan hati, khususnya kepada orang miskin, yang juga ditegaskan oleh Schneider. Lihat Sider, Rich Christians, untuk pembahasan lebih lanjut tentang tanggung jawab kepada orang miskin ini. Lihat juga Ron Sider, Just Creativity: A New Vision for Overcoming Poverty in America (Grand Rapids: Baker, 1999).
[3] Untuk bahasan lebih lanjut tentang Ucapan Berkat ini, lihat Dallas Willard, The Divine Conspiracy (New York: HarperCollins, 1998).

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (3)


3. Pegang kekayaan dan harta milik Anda secara longgar dan beri dengan tangan terbuka dalam kemurahan hati.
Jika segala sesuatu yang seseorang punya adalah milik Allah, dan hidup bukan sekadar apa yang kita miliki, maka memegangi milik kita secara longgar adalah hal logis berikutnya. Alkitab jelas bahwa kemurahhatian harus mencirikan umat Allah (1Tim. 6:18). Memberi harus dilakukan dengan niat dan gembira, tidak dengan terpaksa (2Kor. 9:7). Ada tekanan khusus tentang memberi kepada orang miskin dan memerhatikan keperluan mereka (Efs. 4:28). Cara orang menangani uang mereka, khususnya seberapa murah hati mereka dengan uang, dijadikan barometer tentang kehidupan spiritual mereka. Yesus jelas bahwa hati kita mengikuti uang kita, artinya, kita dapat menceritakan banyak hal tentang di mana hati kita dari di mana kita menginvestasi uang kita (Mat. 6:19-21). Inilah alasan Yesus mengatakan kepada pemimpin muda yang kaya untuk memberi semua uangnya. Tetapi itu tidak harus menjadi norma bagi masa kini – ada banyak macam orang kaya yang mengikut Yesus dan menjadi bagian dari gereja awal, yang mengusulkan bahwa akumulasi kekayaan tidak sendirinya dilarang dalam Alkitab (kuis nomor 9). Namun demikian, dalam contoh si pemimpin muda yang kaya itu, kekayaannya adalah indikasi dari kondisi hatinya, dan satu-satunya cara mengurus isu itu dengan tepat adalah dengan melepaskan diri dari kekayaannya.

            Gereja di bagian awal Kisah Para Rasul terkesan membagi bersama kepunyaan mereka (Kis. 2:44) dan sebagian orang mengusulkan bahwa gereja adalah bentuk awal dari kehidupan komunal. Walaupun penolakan akan harta bumiah bukan norma, jelas bahwa gereja memegangi harta mereka dengan sangat longgar agar bisa memenuhi kebutuhan finansial para anggota mereka secara berarti. Kisah Para Rasul 2:42 menjelaskan bahwa anggota gereja mula-mula menjual harta mereka bukan untuk prinsip penolakan melainkan demi mereka yang memiliki kebutuhan mendesak.[1] Gereja mula-mula tidak mempraktikkan divestasi dari semua barang bumiah, meski mereka luar biasa bermurah hati dalam memenuhi banyak sekali kebutuhan ekonomi yang mendesak. Gereja awal senantiasa bermurah hati, terkadang memanjangkan kemurahhatian mereka ke kebutuhan di bagian dunia lainnya (Kis. 11:27-30; 2Kor. 8:1-12). Namun demikian, para rasul juga menekankan bahwa tiap orang wajib bekerja untuk mendukung dirinya sendiri, keluarga dan orang miskin (Kis. 4:28; 2Tes. 3:6-10). Jika seseorang tidak bersedia bekerja, ia tidak diizinkan berbagi dalam sumber-sumber yang ada dalam komunitasnya.



[1] Gonzales, Faith and Wealth, hlm. 82.

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (2)


2. Hidup bukan hanya tentang apa yang orang kumpulkan. Yesus membuat ini jelas ketika Ia berkata, “walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk. 12:15). Ia menasihati orang yang mengejar kekayaan untuk ingat bahwa kita harus “cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).

            Saya (Scott) mendapat suatu pelajaran serius mengenai hal ini dalam proses mengurus harta sepasang kerabat yang meninggal. Sesudah mereka meninggal, istri saya dan saya mendapat tugas untuk membuang semua kepunyaan mereka. Dengan kerabat yang satu, yang tidak banyak memiliki, kami menyimpan satu koper penuh berisi foto-foto dan memanggil pengangkut barang untuk mengambil semua hartanya itu dan membuangnya. Dengan kerabat yang kedua, praktis semua yang ia miliki entah diberi ke orang lain, atau dijual dengan diskon besar atau dibuang. Kami hanya menyimpan barang yang memiliki nilai sentimental. Hal yang luar biasa tentang proses itu ialah betapa dengan tenangnya kami membuang barang-barang yang kedua orang ini telah berusaha kumpulkan sepanjang hidup mereka. Pernyataan Paulus bahwa kita masuk ke dalam dunia dengan tidak membawa apa-apa dan pergi dengan cara yang sama (1Tim. 6:7) dengan gamblang tergambar bagi kami.

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (1)


1. Allah adalah pemilik akhir dan utama dari semua milik materiil kita.
Pemazmur berkata: “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm. 24:1). Kekayaan dan milik kita adalah karunia-karunia-Nya yang baik bagi kita (Mzm. 115:16). Dalam Perjanjian Lama, satu cara prinsip ini diwujudkan adalah dalam transaksi kepemilikan tanah Israel, aset ekonomi utama dalam dunia purba. Tanah tidak bisa dijual-belikan secara permanen – hanya dapat digadaikan, dan di Tahun Yobel harus dikembalikan ke pemilik asalnya. Alasannya dijabarkan dengan jelas: “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku” (Im. 25:23, cetak miring ditambahkan).[1] Apa pun kekayaan yang kita miliki adalah karunia baik Allah untuk kita (Pkh. 5:19-20; 1Tim. 6:17), yang perlu kita nikmati, dan yang atasnya kita menjadi pengelola yang bertangungjawab.

            Ide bahwa kita adalah penatalayan, bukan pemilik dari milik kita, adalah suatu pokok dahsyat dalam Alkitab. Penatalayanan atas sumber daya kita adalah pokok konstan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dengan perumpamaan Yesus tentang talenta menjadi salah satu ilustrasi prinsipnya (Mat. 25:14-30). Dalam perumpamaan ini sang tuan mempercayakan sumber-sumber yang ia miliki ke masing-masing hambanya, dan pada saat kepulangannya ia meminta pertanggungjawaban mereka tentang penggunaan produktif sumber-sumber itu. Inti perumpamaan itu ialah sang tuan mengharapkan kita mengelola sumber-sumbernya untuk penggunaan yang produktif sementara ia pergi, dan tidak ada salahnya bahwa sang tuan mendapatkan keuntungan dari penggunaan sumber-sumber tersebut. Meski sumber-sumber yang dimasalahkan lebih luas dari pada sekadar uang, tidak ragu perumpamaan ini menyatakan bahwa talenta-talenta itu bukan milik para hamba tersebut – mereka adalah penatalayan dari sumber-sumber yang dipercayakan kepada mereka dan bertanggungjawab tentang penggunaannya secara tepat mewakili sang tuan.



[1] Wright, God’s People in God’s Land, hlm. 58-65, 119-28. Imamat 25:23 meneguhkan tidak saja kepemilikan Allah atas tanah tetapi juga atas status orang sebagai pendatang dan penyewa – bukan sebagai penghuni permanen.

Kamis, 12 Juli 2012

Belajar Jalan Allah dalam Relasi Doa


Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN… Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. - Mazmur 25:4, 12
 

Allah ingin kita mengerti prinsip-prinsip-Nya berurusan dengan kita supaya kita mengerti apa yang Ia lakukan. Maka kita memiliki pemazmur yang bicara tentang bagaimana Allah “mengajar orang berdosa dalam jalan-Nya” (8) dan “mengajar orang yang rendah hati tentang jalan-Nya” (9). Ia juga ingin mengajar kita jalan yang harus kita lalui.

            Bagaimanakah kita belajar tentang cara Allah mengurus kita dan jalan-Nya untuk kita lalui itu? Kita belajar dari Alkitab melalui Roh Kudus. Dari Alkitab kita belajar jalan Allah dengan umat-Nya dan jalan yang harus kita tempuh dalam ketaatan kepada-Nya.

            Allah mengajar hal-hal ini kepada umat-Nya dalam relasi doa. Kita menantikan Allah, kita merenung dalam hadirat-Nya, dan kita mengisi baik doa maupun renungan itu dengan Alkitab dalam hadirat Allah.           

            Kepada siapa Allah mengajarkan jalan-Nya? Kepada orang yang takut akan TUHAN (12 – kata “takut bukan berarti panik tetapi sikap bakti yang menghormat). Orang seperti itu akan menemukan dari Firman Allah bahwa ia adalah seorang berdosa, dan bahwa Allah “mengajar orang berdosa dalam jalan-Nya” (8). Ia akan mendengar Allah menyatakan kebesaran-Nya dan kekecilan manusia, karena itu ia akan merendahkan hati dan menenangkan rohnya di hadapan Allah, dan Allah “mengajar orang yang rendah hati, jalan-Nya” (9). Juga, ia belajar dari Allah tentang perjanjian anugerah dan bagaimana memeliharanya, serta “semua jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran, untuk mereka yang memelihara perjanjian-Nya” (10).

Apakah Allah mengajarku demikian? Jika tidak, apakah aku terlalu santai, sombong, mementingkan kehendak sendiri, atau bercabang hati dalam doa tentang ajaran Allah kepadaku?

Tuhan, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada-Mu… Tunjukkan jika ini sikap yang menghormati-Mu yang Kau minta dari mereka yang ingin Kau ajari jalan karya-Mu.

Rabu, 11 Juli 2012

Doa dalam Roh

Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku. - 1 Korintus 14:15
 

Kita harus mencari dari Allah permintaan yang harus dibuat dalam setiap situasi dan menyadari bahwa itu adalah tugas Roh Kudus, yang membimbing kita sementara kita memaparkan fakta di hadapan Tuhan. Seringkali kita tidak mengalami bimbingan khusus, tetapi terkadang Roh menganjurkan permintaan sangat spesifik dan memimpin kita untuk meminta dengan keyakinan yang tidak lazim.

            Suatu kali institusi teologia yang saya pimpin akan ditutup atas perintah pemimpin gereja. Komunitas menetapkan hari doa tentang hal itu. Dua jam sebelum hari itu, saya menemukan saya tahu pasti apa yang harus saya minta kepada Allah: yaitu peleburan dengan institusi lain dalam syarat-syarat spesifik yang sangat kontroversial sehingga bisa terkesan tidak realistis. Saat itu saya tidak dapat menceritakan kepada siapa pun, tetapi saya berpegang pada visi yang saya dapat sekuat mungkin, dan dalam waktu setahun semua yang saya minta dalam doa, terjadi. Kemuliaan bagi Allah!

            Seorang teman menjalani operasi penyelidikan penyakit di rumah sakit karena; ada gejala kanker. Banyak orang mendoakan. Sambil memaparkan masalah itu di hadapan Allah, saya merasa diri saya ditarik (sejauh ini hanya sekali itu saya mengalaminya) untuk berdoa spesifik dan yakin untuk mukjizat kesembuhan. Ketika saya pulang dari gereja di Minggu pagi dan berdoa demikian, saya merasa diberitahu bahwa doa saya telah dijawab dan saya tidak perlu berdoa lagi. Seninnya operasi menyatakan tidak ada bekas kanker. Sekali lagi, kemuliaan bagi Allah!

            Kita selalu harus dengan sadar membuka diri untuk dipimpin oleh Allah dalam hal yang kita doakan.


Jika doa-doa ku terkesan tidak maju dalam situasi tertentu, perlukah aku berhenti dan menantikan Allah untuk menemukan apa harus ku doakan?

Tuhan, tunjukkan ku apa yang harus kudoakan untuk situasi ini…

Senin, 09 Juli 2012

Kuasa Doa


Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. - Yakobus 5:16
 

Yakobus menganjurkan agar kita berdoa untuk diri kita dan orang lain (5:13-18). Dalam doa, kita menengadah dari keputusasaan kita untuk menatap Allah, pengatur yang penuh belas kasih yang pada saat tepat akan melepaskan para hamba-Nya yang menderita. Doa membawa kestabilan dan kekuatan; mampu melihat masalah sementara dalam perspektif kekal dan memenggalnya ke ukuran kecil.

            Orang yang sakit boleh meminta pendeta mereka mendoakan; para penatua harus bersedia melakukan itu ketika diminta. Ini bukan suatu formula magis untuk kesembuhan, sementara mukjizat Yesus memperlihatkan bahwa memang penyelamatan mengandung penyembuhan jasmani, sikap-Nya pada duri dalam daging Paulus menunjukkan bahwa Ia berdaulat menentukan apa yang baik untuk kesehatan tubuh kita. Tentu, waktu kita mendapat tubuh baru, semua akan berubah! Kita harus membedakan manfaat penyelamatan dari waktu dan cara Allah memberikan manfaat itu. Doa yang sungguh untuk penyembuhan orang sakit harus dilakukan atas prinsip bahwa sakit adalah panggilan Allah untuk kita memikirkan hidup kita di hadapan-Nya.

            Doa semacam itu boleh jadi mengakibatkan penyembuhan, dan saling mendoakan bagi kesejahteraan rohani tidak boleh dibatasi hanya pada soal kesembuhan jasmani. Khasiat doa bergantung pada kebenaran hidup dan motifnya, kesungguhan hati dan keseriusan doa, serta seberapa jauh ia sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya. Kisah Elia memberikan gambaran tentang tiga prinsip tersebut.


Pelajari dan praktikkan, khususnya dalam kelompok kecil, ajaran Alkitab tentang berpikir benar dan doa efektif. (Cobalah Ul. 11:13-17; 2Rj. 17; Mzm. 73; Mrk. 2:3-12; Rm. 8:18; 2Kor. 4:7-18; Yak. 1:6-8; 2:14-26; 4:3).

Tuhan, tolong kami sebagai gereja berdoa dengan, dan untuk orang sebanyak dan seefektif mungkin.

Jumat, 06 Juli 2012

Alkitab - Suatu Orkestra-Simfoni

Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. - Lukas 24:27  

Karena Alkitab adalah buku manusia dan Allah memilih menyatakan ajaran-Nya kepada kita dalam bentuk petunjuk yang diilhamkan dari para penulis manusia, jalan masuk ke pikiran-Nya haruslah melalui pemikiran mereka. Jadi disiplin dasar dalam menafsirkan Alkitab ialah selalu harus berusaha menentukan setepat mungkin apa yang penulis maksudkan dengan kata-kata yang ia tulis.

            Karena Alkitab adalah buku ilahi, enampuluh enam kitab di dalamnya adalah dokumen terpisah yang merupakan produk dari satu pikiran ilahi yang mewartakan satu pesan utama, kita harus berusaha mengintegrasikan hasil studi terhadap tiap kitab dan penulisnya ke dalam satu pemahaman utuh. Kita tahu bahwa pemikiran sang pengarang manusia adalah pemikiran Allah juga. Sementara ketika berusaha menyelaraskan semua pemikiran berbeda itu, kita mulai menyadari bahwa dari satu ke lain pokok pemikiran Allah maju dan merangkul lebih banyak dari yang para penulis manusia itu dapat lakukan. Kepenuhan makna tiap bagian Alkitab hanya akan tampak ketika ia ditempatkan dalam konteks bagian Alkitab lainnya – yang tentunya merupakan hal yang tidak dapat dilakukan oleh penulis manusia atas bagian itu.

            Alkitab seolah suatu orkestra simfoni dengan Roh Kudus sebagai Toscanini-nya; masing-masing instrumen telah diikutkan dengan kesediaan, spontan, dan kreatif, untuk memainkan nadanya hanya seperti yang diinginkan oleh sang konduktor, dalam harmoni penuh dengan bagian lainnya, meski tak seorang pun pernah mendengar musik keseluruhannya. Kini kita mendapat hak istimewa untuk mendengar keseluruhan musik itu.


Apakah cara ku membaca dan mempelajari Alkitab adalah dengan mendalami bagian-bagiannya dan mengaitkannya dengan keseluruhannya?

Tuhan, kiranya hidupku makin seperti suatu simfoni yang diorkestrasi oleh Roh Kudus.

Kamis, 05 Juli 2012

Jangan Membalas


Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu
Matius 5:38, 39
 

Dalam zaman Yesus pembalasan diterima luas. Namun Yesus mengajar para murid-Nya bahwa itu bukan prinsip hidup mereka. Bahkan secara mengherankan, Ia berkata: “Jangan melawan orang yang berbuat jahat” (Mat. 5:39). Lalu Ia memberikan empat contoh aplikasi prinsip revolusioner ini.

            Pertama, jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu. Kedua, jika seorang meminta bajumu, berikan juga jaketmu. Ketiga, jika seorang serdadu Roma memaksamu membawakan ranselnya, atau perisainya, atau apa saja sejauh satu mil, bawakan untuk mil kedua. Keempat, beri dan pinjamkan cuma-cuma. Jangan surut oleh pemikiran bahwa orang itu tidak akan mengembalikan kepadamu. Belajarlah kemurahan hati tanpa bertanya, “Apa yang harus kubuat agar memperoleh hal itu balik?” tetapi pikirkan saja kebaikan orang lain.

            Yesus maju lebih jauh. Para murid-Nya harus lebih dari hanya tidak melawan kejahatan. Mereka harus mengasihi musuh mereka dan berdoa bagi para penganiaya mereka jika mereka ingin menjadi anak-anak Bapa mereka yang bermurah hati dalam memberikan semua yang baik kepada semua yang mengasihi dan menghormati Dia, juga mereka yang melawan Dia (Mat. 5:44-48).

            Pikirkan bagaimana Yesus mencontohkan prinsip ini. Ketika mereka menyalibkan Dia Ia berdoa. “Bapa, ampuni mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Luk. 23:34). Di dalam tindakan-Nya itulah terletak pengharapan kita, sebab dalam kekuatan kita sendiri kita tidak mungkin menghidupi prinsip kasih yang menyangkal diri ini dalam merespons dan memperlakukan orang lain. Tetapi Yesus yang telah melakukan itu, dapat memampukan kita melakukannya.
 

“Jangan melawan orang yang berbuat jahat” (Mat. :39). “Lawanlah iblis” (Yak. 4:7). adakah pertentangan di sini atau tidak?

Tuhan, dalam repons ku kepada orang lain, apakah aku menghidupi tingkatan Kristen lebih rendah, yaitu dengan mengikuti hukum pembalasan?

Rabu, 04 Juli 2012

Hawa Nafsu

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu… - Matius 5:27-28

Orang Farisi menganggap bahwa perintah ketujuh hanya melawan seks bebas. Tetapi Yesus menambahkan bahwa semua orang yang terlibat dalam fantasi nafsu tentang orang lain telah melakukan perzinahan di dalam hatinya (Mat. 5:28).

            Ini adalah contoh yang Yesus berikan untuk melukiskan prinsip sangat penting untuk menafsirkan Hukum, yaitu bahwa Hukum meliputi keinginan dan impian selain juga perbuatan. Kita tidak boleh beranggapan bahwa karena kita tidak melakukan sesuatu, Allah tidak peduli bahwa kita ingin melakukan itu. “TUHAN melihat ke dalam hati” (1Sam.16:7) dan melihat pikiran penuh nafsu serta fantasi tidak senonoh sebagaimana Ia memerhatikan tindakan penuh nafsu serta perilaku tidak senonoh.

            Demikian Yesus berkata lebih lanjut (Mat. 5:29-30), tegaslah terhadap diri Anda sendiri: “Jika mata kananmu membuatmu berdosa, cungkillah dan buanglah.” Ia mengatakan hal sama tentang tangan kanan. “Tetapi saya tidak melakukan dengan mata kanan atau tangan kanan,” orang mungkin berkata. Jika mereka menyebabkan Anda tersandung, lepaskan diri Anda darinya dengan segenap tenaga, jawab Yesus. Lebih baik begitu daripada dikirim ke neraka!

            Sesuatu harus kita kerat dari kehidupan kita (tidak saja yang berhubungan dengan soal seksual) jika kita ingin hati yang jernih. Standar Allah dalam wilayah ini dan wilayah lainnya juga sangat tinggi dan petunjuk-Nya jelas: hawa nafsu seperti juga perzinahan dilarang, dan kita perlu kejam dengan diri sendiri jika kita tidak ingin menghancurkan jiwa kita.
 

Adakah sesuatu dalam hidupku yang selalu menyebabkanku berdosa? Apa yang harus kubuat?

Terima kasih Tuhan, bahwa kematian-Mu di salib menutup semua dosa – dosa terbuka dan dosa tersembunyi juga. Aku mengakui dosa tersembunyi ini kepada-Mu…

Selasa, 03 Juli 2012

Inti Alkitab

Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.
Markus 9:7

Apakah artinya mendengarkan Firman Allah yang tertulis? Arti jelasnya, menurut kitab Ibrani, ialah menerima dan merespons firman Allah yang bersifat proposisi (yaitu pesan-Nya) yang telah ia katakan kepada kita dari surga melalui bibir Firman pribadi-Nya (yaitu, Anak-Nya sendiri), dan juga melalui tutur kata para nabi serta rasul, mengenai keselamatan besar yang telah dimenangkan oleh Anak Allah untuk kita dengan mencurahkan darah-Nya untuk dosa-dosa kita. Firman Allah yang pribadi tampak sebagai pokok sentral dari firman yang bersifat proposisi baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Apa yang Yesus katakan tentang Alkitab Perjanjian Lama – “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku” (Yoh. 5:39) – dapat dikatakan secara setara untuk kedua Perjanjian.
            Pada akhirnya, mendengar Firman Allah yang tertulis, berarti melakukan yang Allah perintahkan pada saat pemuliaan ketika Ia berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”; yang pada gilir berikutnya berarti tidak saja menerima ajaran moral Yesus tetapi menerima Dia sebagai Juruselamat kita yang hidup, dengan mengandalkan darah-Nya yang tercurah untuk pengampunan dosa-dosa kita, dan berikutnya hidup sebagai hamba tebusan-Nya – yaitu orang-orang yang “mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi” (Why. 14:4).

Apakah aku dalam artian alkitabiah mendengarkan Firman Allah (tertulis, lisan, pribadi), mendatangi, menyetujui, dan mengaplikasikannya? Adakah semacam tindak lanjut khotbah dalam gereja kita? Apakah kita berusaha untuk mengerjakan implikasinya dan memeriksa apakah kita menaati apa yang telah diajarkan kepada kita dan diubah olehnya?
Bapa, bersihkan segala gangguan dalam kehidupan kami supaya kami boleh sungguh datang dengan hati dan telinga terbuka kepada Firman-Mu.

Kamis, 28 Juni 2012

Pembunuhan dan Kemarahan


Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu… - Matius 5:21-22
 

Orang Farisi menganggap bahwa hukum keenam hanya tentang pembunuhan sebagai tindakan. Yesus memberitahu para murid-Nya (Mat. 5:21-36) bahwa hukum itu lebih luas maknanya, termasuk melarang kejahatan, niat buruk, dendam, permusuhan. Prinsipnya ialah bahwa hukum Allah tidak saja mencakup tindakan (membunuh sungguhan), tetapi sikap (menginginkan orang agar mati).

            Yesus memberikan ilustrasi dari relasi intern para murid. Jika Anda marah kepada saudara Kristen, atau melukai dia, atau menyebutnya bodoh, demikian ujar Yesus, Anda dalam bahaya kebinasaan rohani, sebab hati Anda salah. Jadi jika Anda beribadah lalu teringat bahwa saudara Anda menyimpan sesuatu terhadap Anda karena Anda telah memperlihatkan niat buruk atau dendam, tunjukkan pertobatan kepada Allah dan kasih kepadanya dengan segera membereskan masalah itu sebelum Anda menyembah Allah, atau Anda akan mengulang dosa Kain. Sama dengan itu, jika seseorang menuduh Anda, berdamailah segera; jangan biarkan permusuhan berlanjut. Nasihat Paulus relevan: boleh marah tetapi jangan sampai matahari tenggelam; jangan beri si iblis kesempatan (Efs. 4:26-27). Kemarahan adalah unsur yang tertanam dalam sifat manusia, jadi pertanyaannya bukanlah apakah kita akan marah (kita pasti ada kemarahan!), tetapi apa yang harus kita lakukan ketika kita marah. Jawab Paulus: jangan pupuk kemarahan Anda: berdamai segera; minta Allah dan teman Anda mengampuni sebab Anda telah membiarkan kemarahan tersimpan. Jika tidak, Anda memberi si iblis tempat pijak dalam kehidupan Anda.

            Yesus ingin kita sadar bahwa hukum-hukum Allah meliputi perbuatan maupun sikap hati. Kita harus mengendalikan hasrat dan perbuatan kita.

Haruskah kita menunggu sampai motif kita beres, baru kita bertindak?

Tuhan, buat aku sadar akan sikap-sikapku.

Rabu, 27 Juni 2012

Kebenaran Sejati


Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. - Matius 5:20
 

Para ahli Taurat dan orang Farisi menyegani, mempelajari, dan menguraikan Hukum Allah – atau begitulah yang mereka pikir. Para rabi zaman Yesus setuju bahwa dalam Perjanjian Lama ada 148 perintah serta 365 larangan. Angka-angka tadi menjelaskan kepada kita apa yang salah dengan mereka.  Mereka menganggap bahwa Hukum hanya mengurusi pola kelakuan, seperti peraturan lalu lintas atau buku aturan perindustrian, dan melaksanakannya tidak lain berarti menyesuaikan diri dengan pola dan peraturan lahiriah.

            Yesus menantang pengertian sempit itu. Ia membuang peraturan eksternal – yaitu kebenaran yang para pemimpin agama Yahudi praktikkan – dan menggantinya dengan kebenaran yang dari Roh sambil juga mengganti yang tertulis dan memulai dari hati sebelum ungkapannya dalam kehidupan nyata.

            Kebenaran semacam itu hanya dapat ditemukan dalam orang yang telah lahir baru. Yesus tidak menyatakan itu secara eksplisit di sini, tetapi akan menjadi jelas jika Anda membaca Khotbah di Bukit bahwa tidak ada seorang pun secara alami dapat memenuhi standar yang Ia bentangkan. Kebenaran yang Ia tuntut mencerminkan hati dan sifat Allah, dan perilaku sedemikian tidak dapat lahir dari hati serta sifat kita sendiri sampai kita lahir dari dan digerakkan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Khotbah di Bukit (khususnya Mat. 5:21-48) Yesus bukan sekadar berkata, “Jangan buat ini, atau itu,” tetapi “Jadilah orang macam ini:” seorang baru, yang dijadikan baru oleh anugerah penyelamatan Allah.

Baca Matius 5 secara lambat dan melalui Roh izinkan ayat-ayat itu, menyelidik hati dan hidup Anda.

Tuhan, terima kasih bahwa aku adalah ciptaan baru dalam Kristus, yang diperbarui dalam hati untuk kehidupan yang benar. Tolong aku menjadi apa adanya aku dalam anugerah-Mu.

Senin, 25 Juni 2012

Nilai Intrinsik Kerja

NILAI INTRINSIK PEKERJAAN

Namun demikian, ada banyak lagi hal untuk pekerjaan ketimbang sekadar memerhatikan kebutuhan finansial dan kewajiban kita. Pekerjaan kita dapat melayani sebagai sebuah mezbah – yaitu sebuah arena penting di mana kita membawa karunia, ketrampilan dan talenta kita untuk dipersembahkan dalam pelayanan bagi Allah. Ketika orang Kristen bekerja, kita dapat berkontribusi bagi karya Allah dalam dunia ini. Tentu saja, ada beberapa batasan yang akan kami paparkan dalam pasal dua. Namun termasuk perkecualian tersebut, Allah memanggil orang untuk bekerja dalam arena seperti bisnis sebab hal itu menolong pencapaian karya-Nya dalam dunia ini. Tentu, ada batas yang akan kami paparkan dalam pasal dua (buku yad. dari Waskita: Bisnis untuk Kebaikan Bersama). Tetapi dengan menyingkirkan batas-batas itu, Allah memanggil orang untuk bekerja dalam berbagai arena seperti bisnis sebab itu menolong penggenapan karya-Nya dalam dunia ini. Bisnis dapat menjadi karya Allah dalam dunia sama seperti seorang pendeta dapat menjadi karya Allah dalam gereja dan seperti misionaris melayani karya Allah dalam ladang misi. Semua itu bernilai bagi Allah sebab pekerjaan yang selesai bernilai adanya, dan pekerjaan yang diselesaikan secara istimewa adalah hal yang baik. Akuntan, manajer, buruh pabrik, tukang kebun, pesuruh dan koki restoran dapat dipanggil oleh Allah ke dalam pekerjaan mereka sama seperti halnya pendeta atau misionaris dipanggil ke pekerjaan mereka juga. Semua mereka sanggup mengerjakan karya Allah dalam tempat kerja mereka, baik melalui sifat pekerjaan yang mereka lakukan dan cara mereka menghidupi iman mereka. Selangkah lebih jauh, Allah dalam pemeliharaan-Nya, bekerja melalui berbagai pekerjaan untuk mencapai karya-Nya dalam dunia ini. Ini adalah pokok lain yang akan kami kembangkan secara lebih mendalam di pasal dua.

            Pekerjaan Anda dapat menjadi sebuah mezbah sebab pekerjaan Anda mengandung nilai yang tertanam dalam bagi Allah. Alkitab mengajarkan bahwa pekerjaan memiliki nilai berarti bagi tiga alasan uama: (1) Allah menciptakan pekerjaan sebelum masuknya dosa dan kejahatan ke dalam dunia ini, (2) Allah merancang pekerjaan bagi kita untuk memenuhi mandat untuk “menaklukkan” (menjalankan penatalayanan atas) bumi ini, dan (3) pekerjaan adalah bagian penting dari apa artinya kita dicipta dalam gambar Allah.

Jumat, 22 Juni 2012

Puasa: Kisah Hati

Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu. - Matius 6:16


Yesus mengandaikan bahwa para murid-Nya akan berpuasa dan berkata bahwa orang yang murni hatinya akan berpuasa; motivasi dan kelakuan mereka akan berbeda dari orang yang tidak dalam relasi keluarga dengan-Nya dan Bapa-Nya (Mat. 6:16-18).

            Dalam Alkitab kita temukan beberapa tujuan puasa. Puasa adalah bagian dari disiplin pengendalian diri; adalah cara berbagi yang menunjukkan bahwa kita bergantung pada Allah saja dan mendapatkan seluruh kekuatan dan kebutuhan kita dari Dia; adalah cara untuk fokus penuh pada Dia ketika mencari bimbingan dan pertolongan-Nya, dan menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh dalam pencarian Anda; terkadang juga adalah cara mengungkapkan kesedihan dan pertobatan yang dalam, sesuatu yang seseorang atau sekelompok orang akan lakukan untuk mengakui kegagalan mereka di hadapan Allah dan mencari kemurahan-Nya.

            Biasanya kita tahu bahwa puasa berarti tidak makan. Tetapi kita dapat berpuasa dari segala sesuatu. Jika kita menyukai musik dan memutuskan untuk tidak ke konser dalam rangka memakai waktu dengan Allah, itu adalah puasa. Ada baiknya memikirkan paralelnya pada persahabatan manusia. Ketika sahabat ingin ada bersama, mereka akan membatalkan kegiatan supaya dapat bertemu. Tidak ada yang magis dalam puasa. Puasa hanya satu cara berkata kepada Allah bahwa prioritas Anda saat itu adalah ingin bersendiri dengan Dia, dengan menyingkirkan apa yang merupakan keharusan, dan Anda telah membatalkan makan, pesta, konser, atau apa saja yang telah Anda rencanakan untuk memenuhi prioritas itu.

Jika Anda pernah berpuasa – apakah motif Anda adalah agar memiliki waktu dengan Allah tanpa gangguan? Atau apakah pemikiran tentang semacam jasa atau keajaiban terselip di dalamnya? Jika Anda ingin berpuasa, jangan lupa prinsip persahabatan dan komitmen mendalam dengan Allah ini.

Tuhan, ada saat ketika aku rindu Engkau dengan segenap hatiku. Kiranya makin banyak saat demikian sementara aku hidup dalam relasi keluarga-Mu dari waktu ke waktu.

Bapa Surgawi Mengasihimu - J. I. Packer

Kamis, 21 Juni 2012

Kebenaran Sejati


Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. -  Matius 5:20


Para ahli Taurat dan orang Farisi menyegani, mempelajari, dan menguraikan Hukum Allah – atau begitulah yang mereka pikir. Para rabi zaman Yesus setuju bahwa dalam Perjanjian Lama ada 148 perintah serta 365 larangan. Angka-angka tadi menjelaskan kepada kita apa yang salah dengan mereka.  Mereka menganggap bahwa Hukum hanya mengurusi pola kelakuan, seperti peraturan lalu lintas atau buku aturan perindustrian, dan melaksanakannya tidak lain berarti menyesuaikan diri dengan pola dan peraturan lahiriah.

            Yesus menantang pengertian sempit itu. Ia membuang peraturan eksternal – yaitu kebenaran yang para pemimpin agama Yahudi praktikkan – dan menggantinya dengan kebenaran yang dari Roh sambil juga mengganti yang tertulis dan memulai dari hati sebelum ungkapannya dalam kehidupan nyata.

            Kebenaran semacam itu hanya dapat ditemukan dalam orang yang telah lahir baru. Yesus tidak menyatakan itu secara eksplisit di sini, tetapi akan menjadi jelas jika Anda membaca Khotbah di Bukt bahwa tidak ada seorang pun secara alami dapat memenuhi standar yang Ia bentangkan. Kebenaran yang Ia tuntut mencerminkan hati dan sifat Allah, dan perilaku sedemikian tidak dapat lahir dari hati serta sifat kita sendiri sampai kita lahir dari dan digerakkan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Khotbah di Bukit (khususnya Mat. 5:21-48) Yesus bukan sekadar berkata, “Jangan buat ini, atau itu,” tetapi “Jadilah orang macam ini:” seorang baru, yang dijadikan baru oleh anugerah penyelamatan Allah.

Baca Matius 5 secara lambat dan melalui Roh izinkan ayat-ayat itu, menyelidik hati dan hidup Anda.

Tuhan, terima kasih bahwa aku adalah ciptaan baru dalam Kristus, yang diperbarui dalam hati untuk kehidupan yang benar. Tolong aku menjadi apa adanya aku dalam anugerah-Mu.

Rabu, 20 Juni 2012

Perenungan & Doa


Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. - Mazmur 19:14
 

Perenungan – memikirkan tentang Allah dalam hadirat Allah – adalah persiapan yang berguna untuk berbicara secara langsung kepada Allah dan hal ini merupakan kebutuhan kita tiap hari. Dalam dunia ini, wawancara dengan orang-orang penting diatur dengan seremoni, keduanya disebabkan oleh unsur hormat kepada orang bersangkutan dan juga agar wawancara itu memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

            Bergegas ke Allah secara seenaknya memperkatakan apa saja yang muncul di pikiran kita, tanpa berhenti untuk menyadari keagungan-Nya, anugerah-Nya, dan keberdosaan serta kerendahan kita, sekaligus adalah sikap tidak menghormati Dia dan mendangkalkan persekutuan kita sendiri dengan-Nya. Saya sendiri ingin lebih baik dari pendekatan semacam itu. Seperti orang lain, saya merasa lebih baik membuka doa tentang kebutuhan dengan membaca Alkitab dan memikirkan apa yang bagian Alkitab itu katakan tentang Allah serta mengubah pengertian itu ke dalam pujian sebelum saya lanjut berdoa.

            Mengingat untuk menghormati Allah sebelum membuka mulut untuk menyapa-Nya membuat perbedaan berarti dalam kualitas persekutuan dengan-Nya selanjutnya. Mengingat, dan memikirkan siapa Allah sesungguhnya, sama sekali bukan kegiatan membuang waktu; sebaliknya, itu adalah cara vital untuk mengenal Allah, sebagaimana doa seharusnya.

Gunakan seluruh Mazmur itu untuk menolong perenungan Anda sebelum doa.

Tuhan, aku hanya mengerti dan mengenal Engkau secara samar, namun aku sadar akan sesuatu tentang kemuliaan dan kebesaran-Mu sementara aku membawa permohonanku kepada-Mu…

Senin, 18 Juni 2012

Tujuan Kerja (5)

KITA BEKERJA UNTUK MENYEDIAKAN SUATU ARENA UNTUK MENYATAKAN IMAN KITA

Akhirnya, Allah memanggil orang untuk bekerja dalam rangka mendapat kesempatan untuk mewartakan dan memodel realitas iman kita. Melalui pekerjaan kita memiliki kesempatan untuk membangun hubungan dan mendemonstrasikan perhatian dan kepedulian untuk orang yang dengannya kita mungkin tidak memiliki hubungan.

         Hubungan ini menyediakan cara-cara berarti yang melaluinya Allah memberi kita arena untuk menghidupi iman kita. Perjanjian Baru menasihati gereja mula-mula agar selalu rajin bekerja untuk menjaga kehormatan mereka dalam komunitas. Pertama Tesalonika 4:11-12 mengatakan itu demikian: “Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.”

          Pekerjaan adalah suatu peluang untuk memperoleh hormat dari komunitas. Tanpa ragu Paulus mengandaikan bahwa alasan untuk seorang memiliki hormat adalah memastikan bahwa daya tarik imannya tidak terhalang. Kebanyakan pendeta atau misionaris tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai spiritual yang terpercaya dalam lingkungan kerja. Mereka tidak mengenal orangnya atau bisnisnya, tidak dapat terhubung dengan gumulan hari lepas hari yang kita hadapi di pekerjaan, dan kemungkinan besar akan dipandang sebagai orang luar yang tidak sanggup mengucapkan banyak hal ke lingkungan bisnis. Kita, di pihak lain, mengenal mereka, bekerja berdampingan dengan mereka hari lepas hari, menjalani kesukaran-kesukaran bersama dan memberi mereka kesempatan untuk melihat iman kita dalam praktik nyata (asal kita menghidupinya dengan baik) hari lepas hari.

Tujuan Kerja (4)

KITA BEKERJA UNTUK MENDUKUNG GEREJA DAN PEKERJAANNYA
Tidak saja wajib menolong mereka yang dalam kebutuhan, orang Kristen juga bekerja dalam rangka menolong mendukung gereja dan pelayanannya. Alkitab mengakui bahwa Allah memanggil sebagian orang untuk mendapatkan kebutuhan hidup mereka dari pekerjaan dalam gereja setempat atau ladang misi. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Lama Allah memanggil para imam dan orang Lewi melakukan berbagai pelayanan imamat sepenuh waktu, mendapatkan keperluan hidup mereka dari persepuluhan komunitas. Mereka bergantung pada komunitas yang mereka layani untuk berbagai kebutuhan finansial mereka. Serupa dengan itu, dalam era Perjanjian Baru Allah memanggil para rasul untuk memakai kehidupan mereka menanam gereja-gereja di seluruh dunia. Sebagian terbesar dari para pemimpin gereja mula-mula bekerja untuk mendukung hidup mereka sendiri, dan terkadang para rasul bekerja juga, untuk tidak menjadi beban bagi gereja-gereja yang mereka layani (1Tes. 2:9). Namun demikian mereka mengakui pentingnya peran mereka sebagai rasul dan menyatakan jelas bahwa mereka berhak untuk menerima dukungan dari komunitas yang mereka layani, meskipun secara sukarela mereka melepaskan hak itu untuk mengurangi kontroversi (1Kor. 9:1-15). Pekerjaan mereka bagi gereja membuat mereka berhak atas dukungan materiil. Sepanjang Alkitab kesediaan komunitas untuk mendukung mereka yang dalam pekerjaan gereja penuh waktu dianggap sebagai barometer dari kesehatan spiritualnya (Mal. 3:10). Ingat bahwa mereka yang berhak mendapat nafkah dalam pelayanan gereja penuh waktu adalah perkecualian, bukan peraturan. Kebanyakan orang melayani Allah dalam perjalanan hidup keseharian mereka, dengan menaati Dia dalam rutinitas pekerjaan tiap hari, keluarga dan waktu senggang.

Tujuan Kerja (3)

KITA BEKERJA UNTUK MEMELIHARA MEREKA YANG BUTUH

Perintah Allah untuk bekerja tidak saja demi kebutuhan kita dan keluarga kita. Kita bekerja supaya mempunyai uang untuk bermurah hati bagi mereka yang dalam kebutuhan. Tidak sering kita berpikir demikian tentang kerja, namun Alkitab jelas bahwa salah satu alasan kita bekerja ialah untuk menolong orang yang secara ekonomi miskin. Tentu saja, ini mengandaikan bahwa kita hidup dalam batas-batas kemampuan kita dan memiliki uang utuk menolong mereka yang butuh. Paulus dengan tegas berkata: “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efs. 4:28). Anda perhatikan bahwa bagian Alkitab itu tidak berkata orang harus berhenti mencuri dan bekerja supaya mereka dapat mencukupi diri sendiri. Itu termasuk hal yang diandaikan. Tekanan bagian ini ialah bahwa mereka akan memiliki kelebihan agar dapat menolong orang yang tidak memiliki cukup.
          Komunitas Kristen mula-mula cukup miskin. Memang ada sebagian yang kaya, tetapi kebanyakannya adalah petani atau pedagang yang tidak jauh dari kemiskinan, khususnya jika kemalangan menyerang. Gereja mula-mula penuh dengan orang yang membutuhkan pertolongan finansial, dan secara mengejutkan Paulus mengimbau gereja tidak saja bekerja keras melakukan sesuatu yang produktif tetapi berbagi penghasilan mereka secara murah hati dengan orang miskin. Penerima dukungan tidak saja yang miskin dari kerabat dekat tetapi juga orang lain dengan kebutuhan finansial di seluruh dunia kuno. Sebagai contoh, Paulus mendorong orang Korintus untuk memberi dengan murah hati dari kelimpahan mereka untuk menolong mereka di Yerusalem yang menjadi korban kelaparan berat (2Kor. 8:13-15).

         Yesus menjelaskan mengapa penting bermurah hati kepada mereka dalam kebutuhan. Ia menyatakan itu dalam bentuk perumpamaan:
Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar. (Luk. 14:12-14)

          Bagian yang dicetak miring mewakili ajaran Yesus. Kita sering melakukan sesuatu karena kepentingan diri sendiri – untuk mendapat sesuatu bagi diri kita sendiri. Tetapi Yesus menekankan bahwa kita melakukan hal benar bagi orang miskin meskipun mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk membalas kita. (Yesus mengandaikan bahwa mereka tidak dapat membalas apa pun secara finansial kepada kita.) Sesungguhnya, alasan Ia menegaskan sikap murah hati kepada orang miskin justru karena mereka tidak dapat membalas kita. Pikirkan  tentang mengapa Yesus menekankan itu. Ia meminta kita untuk memerhatikan orang miskin tanpa persyaratan, tanpa pengharapan untuk mendapat balik apa pun. Bila kita bermurah hati kepada mereka yang tidak dapat membayar kita balik, itu menjadi model dari kepedulian Allah yang tanpa syarat bagi kita. Jadi, kemurahhatian kita kepada orang miskin dan mereka yang berkebutuhan adalah sebuah cermin tentang kasih Allah kepada semua manusia. Inilah sebab dari awal sampai akhir Alkitab menempatkan tekanan tentang memerhatikan orang dalam kebutuhan. Kita bekerja agar memenuhi mandat penting ini dan mencerminkan kasih Allah yang tanpa syarat, yang merupakan inti dari sifat-Nya.

Tujuan Kerja (2)

KITA BEKERJA DALAM RANGKA MEMELIHARA
KELUARGA DAN KERABAT KITA

Alkitab sama jelasnya tentang kewajiban orang dewasa menyediakan kebutuhan keluarga mereka. Bahkan, Perjanjian Baru menegaskan itu dengan lugas. Dalam tulisan kepada Timotius tentang bagaimana memerhatikan orang yang berkebutuhan, Paulus berkata, “jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1Tim. 5:8). Sukar membuat kalimat itu lebih keras lagi. Jika seorang sanggup bekerja, ia wajib bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
 Diandaikan bahwa orang akan terus bekerja sampai mereka tidak lagi sanggup melakukan itu. Ketika itu, menurut 1 Timotius 5:4, 8 anak-anak mereka mengambil kewajiban tersebut, menyediakan bagi orangtua dan kerabat mereka segala kebutuhan mereka. Para penulis Alkitab mengandaikan orang harus bekerja sampai mereka tidak sanggup lagi bekerja, sebab kebutuhan mereka harus dipenuhi.

Tujuan Kerja (1)

Allah banyak membicarakan tentang mengapa kita bekerja – yaitu, kita harus bekerja karena hal yang dilakukan oleh pekerjaan bagi komunitas kita dan diri kita sendiri. Tetapi kita juga bekerja demi alasan-alasan yang lebih penting: pekerjaan mencapai karya dan tujuan Allah dalam dunia ini. Pertama, kita akan fokus pada alasan-alasan awal, sebab Alkitab memperlakukan ini secara serius sekali.

KITA BEKERJA UNTUK MENDUKUNG DIRI KITA SENDIRI
Pertama, kita harus bekerja dalam rangka mendukung diri kita sendiri dan tidak membebani masyarakat. Rasul Paulus menjelaskan itu dengan indah bagi orang Tesalonika bahwa tiap orang wajib bekerja untuk menyediakan kebutuhan dirinya sendiri. Ia menulis demikian:
Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (2Tes. 3:6-8, 10-12)

          Ada beberapa perkecualian terhadap peraturan umum ini dalam gereja. Mereka yang tidak sanggup bekerja, entah karena keterbatasan mental atau jasmani, diberi hak untuk berbagi dalam milik komunitas. Mereka yang Alkitab bicarakan ialah orang-orang miskin, dan kedua Perjanjian jelas bahwa komunitas harus mengurus orang miskin (Ul. 15:1-11; Luk. 3:11; Gal. 2:10; Yak. 2:15-17). Perjanjian Lama membangun suatu jaringan keamanan sosial bagi orang miskin yang bertubuh sehat yang dikenal sebagai “memungut sedikit” (Im. 19:9-10). Di sini hukum taurat melarang petani menuai semua hasil tanah yang tumbuh di ladangnya. Sebagian harus ditinggalkan bagi mereka yang tidak memiliki tanah sendiri untuk ditanami. Namun mereka tetap masih harus berinisiatif. Mereka harus datang sendiri ke ladang-ladang dan memanen sesanggup mereka. Hanya orang yang tidak sanggup bekerja, karena kelemahan jasmani atau mental, yang dibebaskan dari kewajiban bekerja.

Sabtu, 16 Juni 2012

Berdoa atau Bekerja?

"Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." - Mat 9:38

Ketika panenan sudah siap untuk dituai manakah lebih perlu, bekerja atau berdoa? Tampaknya berdoa dapat dianggap seba...gai sikap ayal-ayalan ketimbang bertindak, bukan? Tetapi doa diperlukan untuk memfokuskan perhatian kita, membebaskan kita dari perhatian2 kecil, dan membawa pengabdian dan perbuatan kita ke dalam keserasian dengan kehendak Allah. Dan berdoa di sini dimaksud agar terjadi pengerahan daya dan peningkatan mutunya. Maka dalam hari perhentian ini - Berdoalah!

Jumat, 15 Juni 2012

Berdoa untuk Sesama Seiman


Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, - Kolose 1:9-10


Berdoa untuk sesama Kristen adalah tanggungjawab dasar orang Kristen. Kolose 1:3-14 menolong kita untuk melihat bagaimana melakukan itu. Dalam bagian tersebut Paulus meminta Allah untuk memberikan orang Kristen di Kolose empat hal:

            Pengetahuan Kristen. Ia berdoa agar mereka mengetahui kehendak Allah (rencana-Nya, jalan-Nya, dan perintah-Nya) dan Allah sendiri. Dalam bahasa Yunani istilah untuk pengetahuan mengandung arti pengetahuan penuh dan menyeluruh, seperti kata kerja “dipenuhi.” “pengertian” berkait dengan prinsip kebenaran, “hikmat” dengan aplikasi prinsip tersebut ke dalam hidup (9). Kehidupan layak bergantung pada pengetahuan ini, orang yang tidak tahu/kenal Allah tidak dapat melakukan itu. Pengenalan akan Allah bertambah sementara kita menghidupinya (10).

            Praktik Kristen. Ia berdoa agar mereka menghidupi kehidupan yang layak di hadapan Kristus, raja yang kepada-Nya mereka berutang keselamatan mereka, dan suatu hidup yang menyenangkan Allah dalam segala hal (10, 13-14).

            Kesabaran Kristen. Ia berdoa agar orang Kristen sanggup untuk menanggung dengan gembira baik orang maupun situasi yang menguji dengan kesukaan sejati sementara aniaya menyeringai (11). Untuk sanggup bereaksi seperti itu, Paulus memerinci perlunya kekuatan, kuasa, dan daya.

            Pengucapan syukur Kristen. Ia berdoa agar mereka berterima kasih untuk anugerah, yaitu motif utama dari kehidupan Kristen. Sesuai kebenaran injil (5), doktrin Kristen adalah anugerah sepenuhnya dan etika Kristen adalah ucapan syukur sepanjang hidup.

Seberapa lama, sering, rinci Anda berdoa untuk sesama seperti isi doa di atas?

Berdoalah untuk oang Krsisten lain baik secara umum atau beberapa nama yang Anda ingin doakan, sesuai isi uraian di atas.

Kamis, 14 Juni 2012

Doa dan Memori yang Dikuduskan

Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan! - Mazmur 31:21

Sementara kita membaca Mazmur ini, kita belajar bagaimana bersikap dalam relasi doa. Pemazmur menantikan Allah. Mereka sama sekali tidak kehilangan harap dan keyakinan, dengan menduga bahwa Allah melupakan mereka. Sebaliknya mereka menanti dengan sabar, menopang iman mereka dengan merenungkan dan mengingatkan diri mereka tentang segala sesuatu menyangkut diri Allah: janji-Nya, kesanggupan-Nya, semua yang telah Ia lakukan untuk mereka di masa lalu; semua yang Ia janjikan akan buat di masa depan. Seringkali mereka memberitahu Allah apa yang pernah Ia buat untuk mereka, dan dengan melakukan itu mereka mengingat semua hal itu untuk diri mereka sendiri dan diyakinkan oleh ingatan tersebut. Seperti seorang berkata, “Iman harus memanfaatkan pengalaman dan membacakannya kepada Allah dari catatan ingatan yang dikuduskan.”
         Ingatlah bagaimana Daud bereaksi ketika Saul mengatakan bahwa ia hanya anak kecil dan tidak mungkin menghdapi Goliat. Ia mengingatkan dirinya dan berkata kepada Saul bagaimana singa dan beruang menyerang kawanan dombanya dan Allah telah melepaskan dia dari keduanya; Allah yang sama dan tak berubah dapat melepaskan dia kembali, jawabnya.

        Ketika kita susah hati, kita perlu mengingat apa yang kita tahu tentang Allah dan telah alami dari Allah, agar kita mendapat energi dan pengharapan baru. Penting kita menyimpan kenangan tentang perlakuan Allah yang penuh anugerah pada kita di masa lalu, dan menggunakan itu untuk menopang iman dan pengharapan kita sementara kita menanti kelepasan dan pertolongan untuk kini dengan sabar.

Apakah Anda memiliki kebiasaan membuat jurnal rohani – menuliskan apa yang Allah katakan dan lakukan untuk Anda?
Tuhan, dengan syukur aku ingat…