Kamis, 30 Agustus 2012

Penyataan Kumulatif


Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. - Matius 16:17

 
Karena Perjanjian baru lebih maju daripada Perjanjian Lama, bolehkah kita mengatakan bahwa penyataan bersifat “progresif”? bergantung pada apa yang kita maksud dengan kata itu. Jika yang kita maksudkan ialah bahwa ujaran Perjanjian Lama Allah, secara keseluruhan dalam satu atau lain cara menunjuk ke kedatangan Anak-Nya, istilah itu dapat diterima. Tetapi banyak teolog liberal menggunakan “progresif” untuk mengungkapkan ide bahwa sejarah penyataan sesungguhnya adalah sejarah bagaimana pemikiran Israel tentang Allah berevolusi dari sesuatu yang primitif (ide tentang allah peperangan) menjadi lebih baik (Pencipta yang moral) sampai ke konsepsi bahwa Allah yang diajarkan Yesus adalah Bapa yang mengasihi; dan mereka membuat ide ini sedemikian rupa sampai menyiratkan bahwa orang Kristen tidak perlu memerhatikan lagi Perjanjian Lama, sebab semua ide yang dapat dipelajari tentang Allah telah tertampung lengkap dalam Perjanjian Baru, dan ide lainnya salah.

            Tetapi jelas itu tidak benar. Allah memang telah mengembangkan pengetahuan manusia tentang diri-Nya melalui proses penyataan, tetapi ide bahwa yang dinyatakan kemudian menentang dan membatalkan yang dinyatakan sebelumnya adalah salah. Demikian juga dampak pandangan itu yang membuat orang mengabaikan Perjanjian Lama. Penyataan Perjanjian Baru selalu bertumpu atas landasan Pesrjanjian Lama, dan mencabut fondasi sesudah struktur bangunan berdiri berarti menumbangkan struktur bangunan itu sendiri. Orang yang mengabaikan Perjanjian Lama tidak akan mendapat banyak dari Perjanjian Baru.

            Penyataan yang kemudian, jauh dari menentang apa yang telah datang sebelumnya, justru mengandaikan dan membangun di atasnya. Ide ini paling baik diungkapkan dengan menyebut penyataan sebagai kumulatif daripada progresif.

 
Dapatkah para orangtua belajar sesuatu dari penyataan Allah yang kumulatif kepada umat-Nya tentang cara mendidik anak?

Tuhan, tolong aku memelihara gambaran benar tentang Engkau dari penyataan-Mu.

Rabu, 29 Agustus 2012

Penyataan - Lisan dan Pribadi


Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. - Ibrani 13:7-8

 
Menerima penyataan Allah bukan semata soal duduk dan belajar doktrin. Tidak ada teolog modern yang dapat menegaskan hal itu lebih tegas daripada penulis Ibrani pasal 11 bahwa iman bukan ortodoksi belaka tetapi menaruh percaya secara eksistensial kepada Allah yang hidup. Bahkan, sebagaimana Ibrani 11:7-8, 11, 13 perlihatkan, percaya demikian hanya mungkin atas dasar komunikasi lisan dari Allah – yaitu perintah dan janji ilahi – yang dikenali sebagai datang dari Allah.

            Kepercayaan bahwa penyataan berhakikatkan komunikasi lisan dari surga tidak menentang identifikasi Perjanjian Baru tentang Yesus sebagai Firman Allah (Yoh. 1:1-14) yang menyatakan Bapa (Yoh. 1:18; 14:9). Bila ada yang mengeluarkan pendapat berbeda (memang ada yang berpendapat begitu) berarti berpendapat bahwa karena “Flying Scotsman” adalah nama lokomotif, nama itu tidak bisa juga menjadi nama sebuah kereta api. “Firman” (logos) menekankan ungkapan pemikiran dalam berpikir dan berbicara. Anak Allah disebut Firman karena dalam Dia pikiran, sifat, dan rencana Allah terungkap penuh. Penyataan Allah disebut juga Firman sebab ia merupakan ungkapan lisan berbentuk pemikiran yang mengandung Allah sebagai subyek dan sumbernya. Kata lisan memberi kesaksian kepada Firman pribadi dan memampukan kita untuk mengenal Firman pribadi sebagaimana adanya Ia, yang tidak mungkin terjadi dengan cara lain.

            Meskipun Ibrani mulai dengan memuliakan Anak Allah sebagai gambaran sempurna dari Bapa-Nya, tiga kali dari empat ungkapan “firman Allah” dipakai bukan untuk menekankan Kristus tetapi pesan ilahi tentang Dia (Ibr. 1:3; 4:12; 6:5; 13:7).

Pelajari semua rujukan kepada Firman Allah dalam surat Ibrani.

Bapa, atas semua arti Firman Allah – aku berterima kasih dengan segenap hatiku.

Selasa, 28 Agustus 2012

Penyataan dalam Kata dan Aksi


Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang Israel.

                                                                                                            Mazmur 103:7

 

Ide bahwa hakikat penyataan bersifat komunikasi lisan tidak menyiratkan bahwa Allah adalah rabi di awang-awang yang pekerjaannya tidak lain dari duduk dan bicara. Yang sungguh tersirat adalah tidak ada peristiwa sejarah yang dalam dirinya dapat membuat Allah dikenal oleh semua orang kecuali Allah sendiri menyingkapkan artinya dan tempatnya dalam rencana-Nya. Peristiwa-peristiwa dalam penyelenggaraan ilahi boleh berfungsi mengingatkan kita secara kurang jelas bahwa Allah sedang bekerja, tetapi kaitannya (jika ada) dengan maksud penyelamatan-Nya tidak dapat diketahui sampai Ia sendiri memberitahukannya kepada kita. Tidak ada peristiwa apa pun yang sanggup menafsirkan dirinya sendiri.

            Contohnya, Keluaran hanya satu dari banyak perpindahan suku dalam sejarah. Kalvari hanya salah satu dari sekian banyak penghukuman mati oleh orang Romawi. Siapa dapat menduga tentang arti penyelamatan yang unik dari peristiwa- peristiwa ini jika Allah tidak memberitahukannya kepada kita?

            Dalam arti tertentu semua sejarah adalah kisahnya Allah, tetapi tidak satu pun yang menyatakan Dia kecuali Ia sendiri bicara kepada kita tentang itu. Penyataan Allah bukan melalui perbuatan tanpa perkataan (drama bisu) juga bukan seperti perkataan saja tanpa perbuatan. Allah bicara kepada kita melalui perbuatan atau, lebih alkitabiah, melalui perkataan yang diteguhkan dan digenapi oleh perbuatan. Fakta yang harus kita hadapi ialah bahwa jika tidak ada penyataan lisan, maka sama sekali tidak ada penyataan, tidak juga dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret.

 

Bagaimanakah Anda mengerti Mazmur 39:1-4 dalam terang yang dikatakan di atas? Apakah penyataan umum dan khusus adalah sejajar dengan anugerah umum dan khusus?

Tuhan, terima kasih atas perbuatan-Mu dalam hidupku dan perkataan-Mu yang Kau berikan untuk menolongku memiliki pandangan benar tentang perbuatan-Mu.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas Nabi


Kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan… Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
- Yeremia 1:7, 9.

 
Sifat tugas nabi dikristalkan dalam perkataan kepada Yeremia. Menaruh perkataan ke mulut seseorang lain berarti meminta ia memberitahu kepadanya apa tepatnya yang harus ia katakan. Itulah yang Allah buat dengan para nabi. Seperti yang berulang kali mereka katakan kepada kita, Firman Tuhan datang kepada mereka dan memberitahukan mereka apa yang harus mereka katakan kepada orang lain dalam Nama Allah.

            Amos memaparkan para nabi sebagai para pengantara penyataan dalam dua ayat berturutan (Am. 3:7, 8). “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?” Di sana para nabi adalah para pelihat dan pendengar, penerima penyataan. Lalu Amos berkata,  “Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Di sana para nabi adalah pembicara dan pembawa pesan, yang didesak untuk mendeklarasikan rahasia yang Allah telah singkapkan kepadanya.

            Karena itu, pada intinya, para nabi adalah para pewarta awal dari Firman Allah, para agen manusia yang membuat pernyataannya didengar publik dan menyiarkannya kembali kepada umat yang kepadanya ia diutus. Tetapi karena rahasia Allah sering melibatkan juga rencana rahasia-Nya, termasuk artinya untuk tindakan di masa kini, para pewarta awal Firman Allah itu sering terkesan sebagai para peramal hal-hal yang akan datang. Begitulah ide bahwa para nabi adalah peramal bertemu.

 
Kenalkah Anda nabi modern – orang yang mengaplikasikan Firman Allah dalam Nama Allah kepada Anda dan orang lain? Apakah Anda berdoa agar para pengkhotbah masa kini boleh berperan nabi dalam arti tadi?

Berdoalah untuk para nabi yang terasing, dan tawar hati, yang Anda kenal.

Jumat, 24 Agustus 2012

Firman Nubuatan


Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa… Beginilah firman TUHAN. - Amos 1:1, 3
 

Tanda istimewa nubuat Perjanjian Lama ialah formula “Beginilah firman TUHAN” yang selalu mendahului pengucapannya. Formula itu memproklamirkan sumber dan otoritas pesan para nabi: ia memberitahukan dunia bahwa perkataan mereka harus didengar dan diterima sebagai pencanangan kerajaan dari Allah, dan bukan sekadar produk manusia saleh. Pesan profetis cocoknya dibandingkan bukan dengan editorial Kompas tetapi dengan pernyataan-pernyataan dari pihak istana.

            Lazimnya para nabi bicara atas nama pribadi Allah: “Aku” dalam ujaran mereka lebih sering daripada menyebut Yahweh sendiri. Psikologi dari inspirasi profetis, melibatkan faktor-faktor suara, visi, intuisi, dan perenungan, jelas misterius bagi kita yang tidak ikut mengalaminya. Tetapi kedua Perjanjian memberitahu kita bahwa inspirasi profetis, betapa pun misteriusnya, merupakan fakta yang terjadi berulang kali mulai dari Musa seterusnya dan inspirasi ini memiliki dampak definit dan khas. Inspirasi profetis lebih dari sekadar wawasan alami, bahkan lebih dari pencerahan rohani; inspirasi profetis adalah suatu proses unik di mana pewarta manusia ditarik ke dalam pengidentifikasian sedemikian sempurna dengan pesan yang telah Allah berikan kepadanya untuk disampaikan sampai yang ia katakan dapat dan harus diperlakukan sebagai sepenuhnya ilahi.

            Meskipun kuasa pemikiran dan keahlian nabi sendiri sepenuhnya dipakai dalam menyelami penyingkapan diri Allah dan dalam menyiapkan penyingkapan itu untuk publikasi (lisan atau tulisan), produk yang dihasilkan itu secara seragam dan tanpa salah adalah “Firman dari TUHAN.”

Dapatkah para pengkhotbah, penyuluh, dlsb. masa kini belajar sesuatu tentang metode, ketrampilan para nabi Perjanjian Lama?

Tuhan, tolong aku mengidentifikasi diri dengan pesan yang Engkau ingin aku sampaikan ke orang lain.

Kamis, 23 Agustus 2012

Tumbuh dalam Kekudusan


Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar; karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. - Filipi 2:12-13

 
Penting sekali bahwa kita menyingkirkan segala suasana kesombongan dari pikiran kita yang sementara kita tumbuh dalam kekudusan mengusulkan bahwa kita tidak terlalu memerlukan pengudusan dari darah Kristus. Kita tak akan pernah terlalu berlebihan dalam kebutuhan kita akan darah Yesus. Konteks untuk pengudusan kita adalah pembenaran oleh darah Kristus.

            Sumber pengudusan kita ialah kesatuan dengan Kristus. Kita dipersatukan dengan-Nya pada titik di mana kehidupan kita yang pertama (hidup lama kita) berakhir dan kehidupan baru mulai. Permulaan hidup baru berarti pembaruan hati kita sehingga kini kita mengasihi Allah dan kehendak-nya, jalan-Nya, serta maksud-Nya, dan menemukan hasrat terdalam kita – yaitu mengenal, mengasihi, mendekat, melayani, menyukakan, dan memuji Dia sepanjang hari-hari kita. Panggilan untuk kudus hanyalah panggilan agar kita menjadi Kristen sewajarnya dan mengizinkan semua insting, impuls, kerinduan baru itu mengungkap diri dalam cara kita hidup.

            Agen pengudusan adalah Roh Kudus yang bekerja dalam kita untuk menciptakan kemauan dan tindakan sesuai perkenan baik Allah. Berulang kali kita harus berlutut dan mengakui ketidakberdayaan kita serta memohon untuk diberdayakan. Lalu, dengan memercayai bahwa Allah mendengar dan menjawab kita, kita harus bertindak, berusaha untuk melakukan hal yang telah kita minta dalam doa.

            Semua ini tidak semudah yang terdengar, sebab pengudusan adalah peperangan (Gal. 5:17). Kita tidak pernah mengarahkan hati kita sepenuhnya kepada perkara-perkara Allah, sehingga meskipun tindakan kita benar menurut standar eksternal, hati kita tidak sempurna benar. Pengudusan melibatkan pergumulan dan perjuangan sepanjang hidup.

 
Apakah hal yang darinya kita tumbuh dalam kekudusan? Apakah hal yang darinya tidak mungkin kita akan tumbuh?

Tuhan, aku sadar aku tidak boleh menyebut apa pun sebagai “pertumbuhan” jika membuatku menjauhi salib-Mu.

Rabu, 22 Agustus 2012

Lemah namun Penuh Kuasa


Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. - 1 Korintus 2:3-5
 

Paulus tahu bawa ia akan terlihat bodoh di mata orang Korintus. Baiklah! Ia siap untuk itu. Ia akan mengandalkan Tuhan agar menghormati Firman-Nya. Ia memberitahu orang Korintus bahwa ia sengaja membelakangi kembang api filsafat dan oratorika, karena berketetapan hati untuk bicara gamblang dan sederhana serta memercayai Roh Kudus untuk mendemonstrasikan, mengukuhkan, dan mengotentikkan kebenaran ilahi pesan yang ia sampaikan. Ia memercayai kuasa Allah, bukan kecerdasannya sendiri.

            Memang Paulus merasa sedikit bodoh. Itulah tujuan kata lemah dan takut yang ia pakai. Menyadari bahwa ia akan mengecewakan orang Korintus karena tidak menyerasikan diri dengan kesombongan intelektual Yunani, ia merasa rentan dan bersiap dianggap aneh, dan itu membuatnya tidak nyaman. Namun demikian ia tidak surut. Ia tahu bahwa kesetiaan menuntutnya melakukan itu, dan ia tahu bahwa ia dapat menaruh percaya kepada Allah untuk menghormati kesetiaannya. Paulus melihat kepada Roh Kudus untuk mengabsahkan Firman.

            Roh bertindak sesuai yang Paulus harapkan. Hasilnya ialah gereja Korintus! Allah menghormati kesetiaan kepada kebenaran-Nya – kesetiaan baik kepada isi yang Ia berikan maupun pencerahan yang Roh berikan. Kini kita pun dipanggil untuk menyaksikan kesetiaan sejenis itu.


Apakah pesan Allah kepada Paulus: Jangan takut, bicaralah dan jangan diam; sebab Aku besertamu, dan tak seorang pun akan membahayakan hidupmu; sebab Aku memiliki banyak orang di kota ini (Kis. 18:9-10), juga pesan untuk Anda kini?

Tuhan, tolong aku untuk mendemonstrasikan dalam hidupku bahwa betapa pun lemah dan tak layak kami secara manusia, kami boleh dipenuhi kuasa Roh-Mu.

Selasa, 21 Agustus 2012

Pembentukan Yakub (2)



Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." - Kejadian32:26-28


Ketika Yakub diberitahu bahwa Esau membawa pasukan bersenjata menuju dia untuk membalas berkat yang telah ia curi duapuluh tahun sebelumnya, ia terhempas dalam keputusasaan besar. Dan kini saat untuk Allah tiba. Malam itu, sementara Yakub berdiri sendirian di tepi sungai Yabok, Allah menjumpainya (Kej. 32:22-32). Terjadilah berjam-jam lamanya pergumulan berat dan menyakitkan; pergumulan rohani, dan untuk Yakub terkesan sebagai, juga jasmani.

            Yakub berpegang pada Allah; ia menginginkan berkat, yang meneguhkan perkenan dan perlindungan ilahi dalam krisis tersebut, tetapi ia tidak mendapatkan apa yang ia cari. Sebaliknya, ia makin menjadi sadar akan keadaan dirinya – amat tak berdaya dan tanpa Allah, sangat tak berpengharapan. Ia merasakan seluruh kegetiran dari cara-cara hidupnya yang tak bermoral dan sinis kini balik ke sangkarnya. Sejauh ini ia telah bertindak mengandalkan diri sendiri, percaya bahwa dirinya lebih hebat dari apa pun yang terjadi, tetapi kini ia merasa sama sekali tidak berdaya untuk mengendalikan segala yang terjadi. Dalam terang benderang membutakan Ia sadar, bahwa ia tidak akan berani lagi memercayai diri sendiri untuk mengurus kehidupannya dan mengukir destininya. Agar hal ini terang dan jelas untuk Yakub, Allah membuatnya pincang sebagai pengingat seterusnya tentang kelemahan rohaninya dan kebutuhannya untuk bersandar pada Allah selalu.

            Sifat kemenangan Yakub atas Allah tidak lain adalah ia berpegangan terus kepada Allah sementara Allah melemahkan dia dan menciptakan di dalamnya roh ketaklukan dan tidak lagi memercayai diri; bahwa ia sedemikian menginginkan berkat Allah sampai ia bergelantung pada Allah sepanjang pergumulan yang merendahkan dirinya itu sampai ia cukup rendah untuk Allah membangkitkannya.


Mengapa Allah harus merendahkan kita?

Apakah aku hidup oleh kecerdikanku atau oleh hikmat Allah?

Senin, 20 Agustus 2012

Pembentukan Yakub (1)


Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." - Kejadian 27:19
 

Allah mengurus Yakub, cucu Abraham, dengan cara berbeda dari Ia menangani Abraham. Pertama, sekitar duapuluh tahun lamanya, Allah membiarkan Yakub menenun jejaring dusta yang rumit dengan banyak konsekuensi tak terhindari – saling tidak percaya, persahabatan berubah menjadi permusuhan, dan pengasingan diri sang pendusta. Konsekuensi dari kelicikan Yakub itu sendiri adalah hukuman Allah atasnya.

            Ketika Yakub mencuri hak dan berkat kesulungan Esau, Esau membencinya (wajar!), dan Yakub harus segera lari dari rumah. Ia pergi ke Laban, pamannya yang terbukti sama liciknya seperti Yakub sendiri. Laban memeras posisi Yakub dan mengakalinya untuk tidak saja mengawini putrinya yang cantik yang Yakub inginkan, tetapi juga yang sederhana dengan mata jelek, yang jika tidak demikian mungkin akan susah untuk beroleh suami yang baik.

            Pengalaman Yakub dengan Laban adalah kasus penipu tertipu; Allah menggunakan itu untuk menunjukkan kepada Yakub apa rasanya menjadi orang yang ditipu – sesuatu yang harus Yakub pelajari jika ia ingin putus cinta dengan jalan hidupnya yang lama. Namun demikian Yakub belum lagi sembuh. Reaksi langsungnya adalah memberi gayung bersambut; ia memanipulasi pengembang-biakan domba-domba Laban sedemikian cerdiknya, sampai ia mendapat untung sangat banyak dan kerugian besar pada majikannya, dan ini membuat Laban marah, lalu Yakub berpikir lebih baik ia pergi dengan keluarganya ke Kanaan sebelum pembalasan dendam mulai. Allah yang sedemikian jauh tidak pernah menegur ketidakjujuran Yakub, mendorong dia untuk pergi, sebab Ia tahu apa yang akan Ia lakukan kepadanya sebelum perjalanan tiba di tujuan.


Tengok kembali perlakuan Allah kepada Anda, dengan mengingat saat ketika Ia membiarkan Anda memilih jalan sendiri dan kemudian Anda harus “mencicipi” hal yang Anda “buang.”

Bapa, terima kasih Engkau sabar sementara aku jatuh bangun dalam belajar dari-Mu.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Melatih Iman


Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." - Roma 4:18
 

Kehidupan Abraham adalah gambaran dari apa sebenarnya iman yang sejati. Dalam kebergantungannya yang kuat dan memuliakan Allah kepada janji ilahi – dalam hal ini janji bahwa ia akan mendapatkan anak pewaris – ia adalah teladan dan pola untuk iman yang membenarkan yang oleh injil kita diminta untuk melakukannya (Rm. 4:18-22).

            Contoh lain dalam Perjanjian Baru tentang iman dalam tindakan ada dalam kitab Ibrani. Penulisnya berusaha menstabilkan orang beriman yang sedang mengalami masalah dan perhatiannya disimpangkan. Ia menulis: hendaklah kalian puas dengan apa yang ada padamu. Sebab Allah sudah berkata, "Aku tidak akan membiarkan atau akan meninggalkan engkau." Sebab itu kita berani berkata, "Tuhan adalah Penolongku, aku tidak takut. Apa yang dapat manusia lakukan terhadapku?" (Ibr. 13:5-6 IBIS).

            Allah telah berfirman dalam perkataan janji alkitabiah; kita merespons dengan jalan mengambil janji, memercayainya, bertumpu atasnya, dan menyesuaikan pandangan kita tentang hidup sesuai dengannya. Itulah iman; itulah arti berdiri atas janji-janji Allah.


Apakah aku melatih diri merespons janji-janji Allah dalam cara yang diusulkan di atas? Bagaimana aku dapat menerima, memercayai, bertumpu pada, dan menyesuaikan diri kepada janji Allah?

Tuhan, inilah kebutuhanku… dan inilah janji-Mu…

Kamis, 02 Agustus 2012

Nama-Nya dan Kehendak-Nya


Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku… Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. - Yohanes 16:23-24

Jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. - 1 Yohanes 5:14


Ayat-ayat ini datang dari dua bagian Alkitab yang berusaha memimpin kita ke doa lebih dalam daripada yang kebanyakan kita pernah lakukan (Yoh. 16:23-27; 1Yoh. 5:13-17).

            Tujuan doa bukan memaksa tangan Allah atau membuat Dia melakukan kehendak kita melawan kehendak-Nya, tetapi untuk memperdalam pengenalan kita akan Dia dan persekutuan kita dengan-Nya melalui merenungkan kemuliaan-Nya, mengakui kebergantungan dan kebutuhan kita, dan secara sadar menerima maksud-maksud-Nya. Jadi, permintaan kita harus sesuai kehendak Allah dan dalam Nama Yesus.

            Konteks dari permintaan seperti itu ialah iman yang terjamin. Waktu itu, ketika Yesus mengajar mereka oleh Roh-Nya, secara jelas tentang Bapa, tidak ada unsur memasukkan dukungan Yesus dalam doa, seolah Ia lebih bermurah hati daripada Bapa atau dapat memengaruhi Bapa hal yang mereka tidak dapat; waktu itu dalam hati mereka tahu bahwa sebagai orang beriman mereka adalah para kekasih Bapa.

            Meminta dalam Nama Yesus bukan memakai mantra lisan tetapi menaruh doa kita dalam relasi penyelamatan dalam Kristus untuk kita melalui salib; ini berarti meminta persetujuan Kristus sendiri. Waktu Allah menjawab dalam Nama Yesus, Ia memberi melalui Yesus sebagai pengantara kita dan kepada Yesus sebagai pihak yang akan dimuliakan melalui apa yang diberikan.

            Di pusat kehidupan doa adalah sikap sedia kita untuk diajar oleh Kristus melalui Firman dan Roh tentang apa yang harus kita doakan. Sejauh kita tahu melalui kesaksian Roh dalam hati, bahwa kita menaikkan permohonan yang Tuhan sendiri berikan secara khusus untuk kita doakan, kita tahu bahwa kita memiliki jawaban bahkan sebelum melihatnya.


Sediakah aku dibentuk Allah melalui Firman dan Roh-Nya? Pernahkah aku berusaha berdoa dalam cara itu?

Tuhan, aku butuh iman yang lebih pasti. Tolong aku...

Rabu, 01 Agustus 2012

Doa Orang Kudus yang Berkebutuhan


Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring. - Mazmur 25:15



Tidak ada doa jika tidak ada kesadaran akan kebutuhan. Penyair Mazmur 25 sangat peka akan kebutuhannya. Ia merasa bahwa sebuah jaring telah menjerat dan memenjaranya. Jaring apa? Sepertinya jaring itu memiliki jerat bagian luar dan dalam. Bagian luar melambangkan para musuhnya – “Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam” (19) – dan segala akibat yang dibuat oleh mereka – “aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” (16-17).

            Jerat bagian dalam melambangkan apa yang ia rasakan ketika ia mengingat dosa-dosanya. “Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat… Ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu” (7, 11). Ingatan itu menimbulkan ketakutan bahwa ia akhirnya akan mengalami perendahan dan akhirnya gagal: “janganlah kiranya aku mendapat malu” (2, 20).

            Tidakkah kita juga sadar akan jaring serupa mengelilingi kita? Tidakkah kita juga menghadapi oposisi, keadaan hidup yang menentang, kesukaran demi kesukaran, ingatan tentang dosa dan kegagalan kita? Kita perlu melakukan apa yang pemazmur lakukan: secara spontan bawalah semua hal ini kepada Tuhan, berulang kali dan tanpa segan-segan, oleh pertolongan Roh Kudus, dan minta Dia menarik kita keluar dari kekacauan jerat yang ditebar oleh si iblis, perancang semua keputusasaan dan ketawaran hati.
 

Apakah jerat yang Anda alami itu: hal, orang, suasana hidup yang menggentarkan hidup Anda?

Bawa tiap aspek kesulitan atau ketakutan Anda kepada Allah dan ingatkan diri  Anda tentang siapa Allah dan apa yang telah ia janjikan.

Selasa, 31 Juli 2012

Berpikir Besar tentang Allah


Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan! Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian. - Daniel 2:20-21
 

Kebenaran inti yang Daniel ajarkan kepada Nebukadnezar (Dan. 2:4) dan ingatkan kepada Belsyazar (5:18-23); yang Nebukadnezar akui (4:34-37); yang menjadi dasar doa-doa Daniel dan keyakinannya dalam menantang otoritas; yang membentuk substansi pokok dari semua penyingkapan yang Allah berikan kepada Daniel, ialah kebenaran bahwa “Yang Mahatinggi memerintah kerajaan manusia” (4:25). Ia tahu dan melihat lebih dulu segala sesuatu, dan kemahatahuan-Nya sekaligus juga adalah kemaha-kekuasaan-Nya. Jadi, Ia yang memiliki kata akhir, baik dalam sejarah dunia maupun dalam destini setiap pribadi. Kerajaan dan kebenaran-Nya akhirnya akan menang, sebab tidak ada manusia atau malaikat dapat menggagalkan-Nya.

            Demikianlah pemikiran tentang Allah yang memenuhi pikiran Daniel, seperti yang ia saksikan dalam doanya – doa yang selalu merupakan bukti paling nyata tentang pandangan orang mengenai Allah (2:20-23; 9:4-19). Apakah demikian kita berpikir tentang Allah? Apakah anggapan tentang Allah tadi terlihat dalam doa kita? Apakah kepekaan dahsyat akan kekudusan-Nya, kemuliaan-Nya, kesempurnaan moral-Nya, dan kesetiaan-Nya yang penuh anugerah yang membuat kita senantiasa merendahkan hati dan bergantung, takjub dan taat, sebagaimana Daniel? Dalam segala ketulusan, seberapa banyak atau sedikit Anda mengenal Allah?


Apakah aku telah kehilangan pandangan tentang kebesaran Allah? Bagaimana aku menyisihkan waktu untuk mempelajari tema Alkitab tersebut untuk mengoreksi pikiranku?

Sembah Allah kuat-kuat dengan memakai perkataan Daniel dalam 2:20-23, atau versi Anda sendiri yang menyanyikan kebesaran Allah.

Senin, 30 Juli 2012

Kesukaan dalam Allah


Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. - Mazmur 16:11


Orang Kristen masa kini cenderung menjadikan kepuasan mereka agama mereka. Kita memberikan lebih banyak perhatian pada pemenuhan diri daripada menyukakan Allah. Karena pengaruh Barat (Amerika utara), ciri khas orang Kristen masa kini adalah gairah besar pada buku-buku yang membahas tentang teknik sukses dalam relasi, lebih menikmati seks, menjadi pribadi lebih baik, menyadari potensi diri, mendapatkan kenikmatan lebih penuh tiap hari, mengurangi berat badan, memperbaiki diet, mengatur uang, memiliki keluarga yang lebih bahagia, dan sebagainya.

            Untuk orang yang gairah utamanya adalah memuliakan Allah, memang hal-hal tadi merupakan perhatian yang sah, tetapi buku-buku yang menekankan teknik dan cara tersebut menelusur semua itu dalam sikap penyerapan diri sendiri dan memperlakukan kenikmatan hidup dan bukan kemuliaan Allah, sebagai pusat perhatian. Katakanlah buku-buku itu memaparkan lapisan tipis ajaran Alkitab dicampur dengan psikologi modern serta akal sehat, tetapi pendekatan keseluruhannya mencerminkan sikap narsisme – (egosentrisme atau akuisme) – itulah jalan dunia dalam masyarakat modern.

            Penyerapan diri, betapa pun religius pemikirannya, adalah lawan dari kekudusan. Kekudusan berarti kehidupan yang menyerupai Allah (godliness) dan itu adalah pementingan Allah. Mereka yang berpikir bahwa Allah ada untuk keuntungan mereka daripada mereka ada untuk kepujian-Nya tidak memenuhi syarat sebagai orang kudus. Hal itu merupakan kesalehan yang tidak saleh yang menjadikan diri sendiri pusatnya. Tidak heran, kesalehan yang demikian kurang kesukaan yang Allah ingin berikan kepada mereka yang mencari-Nya.



Apakah aku terlalu memerhatikan diri atau kurang? Dapatkah aku melihat mengapa kedua sikap itu tidak menolong?

Tuhan, aku ingin Engkau makin menjadi pusat hidupku.

Jumat, 20 Juli 2012

Wawasan Kristen tentang Ambisi & Sukses


SUKSES DAN AMBISI DALAM WAWASAN DUNIA KRISTEN

Pada kilas pertama Alkitab terkesan mengecilkan ambisi. Paulus memerintahkan gereja agar ambisi mereka ialah menjalani hidup yang tenang (1Tes. 4:11). Satu-satunya tempat ambisi dipuji ialah ketika Paulus memuji orang yang berhasrat untuk menjadi penilik gereja (1Tim. 3:1). Dalam konteks dunia purba ini tidak heran sebab hanya ada sedikit saluran sah bagi seseorang mengejar ambisi ekonomi. Tetapi ini tidak berarti Alkitab tidak memiliki nasihat bagi orang masa kini yang bekerja keras untuk sukses. Hanya karena tersedia sedikit kategori untuk mobilitas sosio-ekonomi dalam abad pertama tidak berarti bahwa Alkitab memandang rendah mereka yang ingin mengejar keberhasilan dalam bisnis mereka. Pada akhirnya, tersedia beberapa contoh sukses “duniawi” terpuji dalam Alkitab. Abraham dan Ayub adalah orang-orang kaya; Yusuf naik ke posisi perdana menteri Mesir; Nehemia adalah pejabat tinggi dalam pascapembuangan di Persia; Daniel tumbuh dalam kebudayaan Babilonia dan pada kenyataannya ia yang menjalankan kerajaan untuk para raja selama lebih dari enam puluh tahun masa pengabdiannya; dan ada sekelompok kecil para kader dari orang sukses dan kaya yang mendukung Yesus serta para rasul sepanjang era Perjanjian Baru. Agaknya tidak ada apa pun yang secara intrinsik bermasalah tentang orang yang setia kepada Allah yang juga sukses atau berambisi pada saat yang sama, sambil mengandaikan motif mereka konsisten dengan ajaran Alkitab.

            Tetapi kita harus jelas tentang apa yang dimaksud sukses dari wawasan dunia Kristen. Yang jelas, hal itu tidak harus terkait dengan neraca keuangan seseorang. Tidak harus juga berkaitan dengan memiliki posisi berpengaruh. Juga menjadi tersohor atau termashur tidak harus berkait dengan keberhasilan. Pada akhirnya, seseorang dapat dikenal karena banyak hal, sebagian sebabnya dapat menjebloskan orang ke dalam penjara! Semua ini adalah ukuran yang palsu, meski sering diandaikan oleh kebudayaan pada umumnya. Jika pekerjaan Anda adalah sebuah mezbah, suatu pelayanan transformasional bagi Allah, maka bagaimana Anda mengukur keberhasilan Anda tidak akan disesuaikan dengan standar dunia.
(BERSAMBUNG)

Sabtu, 14 Juli 2012

Model Doa Ignatian


Embusan Udara Gunung:
Sebuah Meditasi-Doa di Hari Kenaikan

Mulailah dengan membaca kisah tentang kenaikan dalam Matius 28:16-20 dan  Kisah Para Rasul 1:6-9.

            Bayangkan diri Anda di Gunung Kenaikan, bersama para murid. Jika Anda belum pernah ke Palestina, pilih salah satu bukit yang Anda tahu dan suka, mungkin dari daerah Anda sendiri atau dari suatu pengalaman liburan. Bukit itu bisa berfungsi untuk maksud doa juga.

            Sambil Anda menanti bersama para murid, pikiran Anda menerawang ke kejadian-kejadian menjelang kenaikan.

            Anda kilas balik ke kepedihan dan misteri penyaliban. Kasih tergantung di salib karena dosa-dosa, kita telah menyalibkan-Nya dan Ia berkata, “Aku tidak akan menyerah–dan Aku tak akan membalas.” Ingatlah kata-kata Alkitab:


Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes. 53:3-5)

            Lalu Anda mulai berpikir tentang misteri kebangkitan. Kasih bisa dimatikan tetapi tidak dapat ditahan oleh maut dalam kematian. Kebencian, meski membunuh, memiliki kematian di hatinya dan akan hancur sendiri, sementara kasih, meski mati memiliki hidup di hatinya dan akan bangkit kembali. Jadi Yesus hidup, dan laporan tentang kebangkitan-Nya berdatangan dari banyak sumber: dari perorangan, dari kelompok-kelompok kecil, dari kelompok lebih besar dan sekali dari kumpulan berjumlah lima ratus orang (1Kor. 15:3-8).

            Para murid bingung. Sebagian ragu (Mat. 28:17), tetapi kemuridan terbukti lebih kuat daripada keraguan. Kristus telah memanggil Anda juga ke Gunung Kenaikan, dan kini Anda di sini.

            Kemudian tiba-tiba Yesus tampak bersama Anda. Ia terlihat mulia. Anda tergerak untuk menyembah, seperti Tomas ketika ia mengucapkan perkataan terkenal itu “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28).

            Bayangkan kejadian itu. Ambil waktu Anda. Sebagaimana dikatakan oleh St. Teresa, “Tergesa-gesa adalah kematian doa.” Jadi diamlah, lihat, dan dengar.

            Yesus bicara tentang hal Ia menjadi raja. “"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Mat. 28:18). Terimalah Ia sebagai raja–dalam tubuh Anda, akal budi Anda, roh Anda, sikap Anda, relasi Anda, dan gaya hidup Anda. Terima otoritas-Nya sebagai raja dalam waktu dan dalam kekekalan.

            Ia bicara tentang pengutusan-Nya dan pengutusan Anda juga. Anda harus masuk ke dalam dunia bagi Dia. Anda tidak saja harus menjadi seorang murid tetapi memuridkan orang lain (Mat. 28:19). Anda harus menjadi saluran kasih-Nya, kuasa-Nya, maksud-Nya. Terimalah pengutusan ini.

            Ia bicara  tentang kemahahadiran-Nya. Hari Kenaikan adalah perayaan tentang kemahahadiran Yesus. Semasa pelayanan-Nya di bumi dan bahkan semasa empat puluh hari sesudah Paskah, Yesus hanya hadir di satu tempat pada satu saat, tetapi kini semua pembatasan waktu dan ruang telah disingkirkan. Kita memiliki janji-Nya, jaminan-Nya: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Terimalah dan rayakan firman-Nya.

            Kemudian, di puncak Gunung Kenaikan awan mulai mengitari Yesus. Awan makin lama makin tebal sampai Ia tidak lagi terlihat. Dalam pengistilahan tradisional terjemahan Alkitab, “awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis. 1:9). Ketika awan kembali cerah, Ia telah pergi–pergi ke takhta-Nya.

            Di manakah takhta-Nya? Di surga. Dalam kata-kata Pengakuan Iman Nicea, “Ia naik ke dalam Surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”–melampaui ruang dan waktu. Usahakan yang mustahil. Bayangkan sang Kristus kosmis.

            Takhta-Nya juga di dalam hati tiap orang percaya. Sekali lagi tegaskan ulang pentakhtaan-Nya dalam kehidupan Anda. Sebagaimana ditulis oleh Caroline Maria Noel dalam himne “Di Hadapan Nama Yesus”:

Dalam hatimu takhtakan Dia;
Di sana biarkan Ia menaklukkan
Semua yang tidak kudus,
Semua yang tidak benar;

Mahkotakan Dia sebagai Komandanmu
Dalam saat pencobaan,
Biarkan kehendak-Nya merangkulmu
Dalam terang dan kuasa-Nya.


  • Ingat Anda tunduk di bawah sang Raja (Flp. 2:10).
  • Ingat Anda adalah prajurit sang Raja (1Tim. 6:12).
  • Ingat Anda adalah anggota Keluarga Kerajaan dan berbagi dalam otoritas dan kuasa sang Raja (Why. 1:6).
Resapi kesan tentang status dan peran Anda sementara Anda mengklaim dan mempraktikkan kemahahadiran-Nya. Ini adalah suatu pengalaman yang menyembuhkan. Berada bersama Yesus selalu berakibat demikian. Ini juga pengalaman yang memberdayakan. Jadi bawa kepada Yesus siapa saja yang Anda ingin doakan. Pegangi mereka di hadapan sang Kristus kosmis. Pegang mereka di hadapan Kristus yang bertakhta di hati Anda. Ingat bahwa Ia bersama Anda dan Ia bersama mereka yang Anda doakan. Tegaskan kehendak Kristus yang kudus dan menyembuhkan, sang Raja yang telah naik dan maha hadir.

            Tetaplah dalam tempat kudus ini, hiruplah udara di Gunung Kenaikan ini selama yang Anda inginkan. Dengarkan pengutusan spesifik apa yang sang Raja mungkin ingin berikan bagi Anda.

            Lalu ketika waktunya tepat, sambil Anda turun dari puncak gunung, berdoalah:

Allah Mahakuasa, melalui Kristus Raja kami, aku persembahkan kepada-Mu jiwa dan tubuhku. Utuslah aku pergi dalam kuasa Roh-Mu ke dalam hidup dan kerja demi kepujian dan kemuliaan-Mu. Amin.

            Anda mungkin perlu melatih metode doa ini beberapa kali sebelum doa ini menjadi hidup bagi Anda. Saya harap cepat atau lambat doa ini akan bercahaya bagi Anda dengan sinar Yesus dan menjadi suatu cara doa yang mengasyikkan, membebaskan, menterapi Anda. Saya harap Anda dan mereka yang Anda doakan akan mendapat manfaat sementara Anda mempersembahkan doa ini dan diri Anda kepada Allah. Namun demikian jika metode doa ini tidak cocok bagi Anda, tidak perlu khawatir; doa Ignatian memang tidak tepat bagi semua orang. Jika Anda bukan tipe Ignatian, coba bentuk doa penyembuhan yang lain. Allah tidak terbatas, dan jalan-jalan doa kepada-Nya pun tidak terbatas. Mungkin akan menolong mencoba metode alternatif doa-Alkitab ..

Jumat, 13 Juli 2012

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (5)


5. Sumber hakiki kepercayaan orang akan keamanan dan jati diri adalah Allah dan persediaan-Nya, bukan uang.
Meski Alkitab mengokohkan kekayaan sebagai karunia baik Allah, ini tidak berarti bahwa mencari atau memilikinya bebas dari pencobaan. Salah satu dari bahaya kekayaan yang sering Alkitab sebut ialah kaitannya dengan berhala. Meski tidak merupakan kaitan keharusan, karena memang ada orang kaya yang setia mengikut Yesus dan para rasul, umumnya kekayaan merupakan hal yang patut diawasi. Menyerah kepada berhala dalam berbagai bentuknya adalah suatu masalah serius, dan tidak sukar untuk orang jatuh ke dalam pencobaan yang menjadikan kekayaan sebagai pengganti Allah. Terus menerus Alkitab memperingati tentang memercayai kekayaan untuk keamanan ekonomi kita. Pemazmur meratapi orang yang memercayai kekayaan, mengusulkan bahwa melakukan itu adalah kesia-siaan sebab uang tidak dapat menyelamatkan kita di hadapan Allah (Mzm. 49:6-7). Lebih jauh, para nabi mendorong umat untuk memercayai Allah, bukan kekayaan, hikmat atau kuasa untuk kesadaran hakiki keamanan mereka dalam dunia ini (Yer. 9:23). Perjanjian Baru memperingati bahaya memercayai kekayaan ketimbang Allah, sebab kekayaan sangat tidak dapat diandalkan dan Allah sepenuhnya setia memerhatikan kebutuhan kita (1Tim. 6:17). Yesus menjelaskan bahwa kekayaan dapat menjadi rintangan untuk masuk Kerajaan Allah (Mrk. 10:24), tidak saja karena ia sering melibatkan kegiatan immoral tetapi juga karena bahaya spiritual memakai kekayaan sebagai pengganti kepercayaan kepada Allah.

            Juga tidak seharusnya kondisi pembukuan seseorang menjadi sumber jati diri atau keamanan.[1] Bahayanya, usul Craig Gay, ialah uang “menjadi tujuan dalam dirinya dan memang telah menjadi tujuan akhir bagi sebagian besar orang.”[2] Jadi tentang harta bersih seseorang sangat bermasalah, sebab hal itu cenderung mengukur kelayakan diri orang dalam pernyataan finansial. Gay mengusulkan bahwa bagian dari bahaya pengaruh uang atas wawasan dunia ialah “hidup itu sendiri jadi dialami sebagai sebentuk gabungan arti, nilai dan kepentingan,” yang segala sesuatunya dinilai dalam ukuran-ukuran kuantitatif uang.[3] Sosiolog Robert Wuthnow menggemakan ini ketika menyimpulkan bahwa “uang terkait secara subjektif dengan jati diri kita” dan karenanya menjadi penentu penting tentang bagaimana orang memandang dirinya.[4]

            Manusia juga tidak dikenali dengan apa yang mereka beli, ukuran atau lokasi rumah mereka, jenis mobil yang dikendarai atau milik lainnya yang oleh kebudayaan dilihat membuat orang berarti.[5] Barangkali ini lebih halus dari pada yang disadari mulanya, sebab kebudayaan konsumtif telah menjadi sedemikian identik dengan yang dikenal sebagai “merek” (lihat pasal 8). Para konsumer telah demikian mengaitkan diri dengan merek-merek tertentu, entah pakaian, mobil, elektronik atau benda konsumer lain yang diharga oleh kebudayaan. Teolog Katolik Tom Boudoin menunjukkan bahwa merek dapat memengaruhi cara konsumen mengidentifikasi diri mereka, menentukan kecocokan mereka dalam kelompok atau subbudaya tertentu, bahkan membentuk definisi mereka tentang sukses. Ia mengusulkan bahwa berbagai merek dapat mengkomunikasikan arti dan jati diri, khususnya untuk dewasa muda dan remaja dalam tahap-tahap pembentukan pengembangan jati diri mereka. Dalam hal yang orang lain sebut “merek untuk hidup,” Boudoin menunjukkan bahwa “jika orang muda merasa mantap tentang merek tertentu yang melaluinya mereka menyatakan jati diri mereka, merek-merek tersebut boleh jadi akan menjadi bagian dari keseluruhan jati diri orang itu sementara mereka memasuki kedewasaan dan usia pertengahan.”[6] Ini merupakan salah satu tujuan jangka panjang periklanan, yaitu membuat konsumen melekatkan arti pribadi ke merek produk tertentu – pemasang iklan tahu  bahwa mereka telah sukses bila mereka membawa para konsumer mengidentikkan diri dengan produk-produk mereka.[7]

            Sebagian solusi bagi endemi materialisme dalam kebudayaan kita ialah menilai uang dengan apa yang Gay sebut “ringan hati” yang pada hakikatnya datang dari kepercayaan kita akan Allah untuk persediaan kita. Almarhum teolog Katolik Richard John Neuhaus mengusulkan kita bersikap tidak menentu tentang kekayaan:



Maksudnya ialah kekayaan – baik memiliki atau menghasilkannya – sesungguhnya tidak begitu penting. Pokok ini luput baik dari yang tamak, yang tertawan oleh milik mereka, dan oleh para ideolog religius yang menganjurkan suatu tatanan ekonomi yang adil. Keduanya menerima kekayaan terlalu serius. Penghargaan akan kehidupan ekonomi dan produksi kekayaan yang diterangi secara teologis harus ditandai oleh kesan tidak menentu dan heran di hadapan realitas-realitas kehidupan ekonomi yang bersifat tidak pasti, nyata, acak dan tidak teramalkan.[8]



            Tentunya, ini menjadi lebih menantang di masa-masa kesukaran ekonomi, tetapi tidak kurang penting, dan tidak mengikis pentingnya kerajinan dan tanggung jawab dalam memerhatikan diri Anda sendiri dan tanggungan Anda.



[1] Untuk bacaan lebih lanjut tentang dasar penting bagi keamanan dan jati diri orang ini, lihat buku berwawasan oleh Craig M. Gay, Cash Value: Money and the Erosion of Meaning in Today’s Society (Grand Rapids: Eerdmans, 2004).
[2] Ibid., hlm. 90. Untuk diskusi lanjut tentang kritik terhadap materialisme, lihat Robert Wuthnow, ed., Rethinking Materialism: Perspectives on the Spiritual Dimension of Economic Life (Grand Rapids: Eerdmans, 1995); dan Robert Wuthnow, God and Mammon in America (New York: Free Press, 1994).
[3] Gay, Cash Value, hlm. 68.
[4] Robert Wuthnow, Poor Richard’s Principle: Recovering the American Dream Through the Moral Dimensions of Work, Business and Money (Princeton, N. J.: Princeton University Press, 1996), hlm. 153.
[5] Untuk diskusi lebih lanjut tentang pokok ini, lihat Tom Boudoin, Consuming Faith: Integrating Who We Are with What We Buy (Lanham, Md.: Sheed & Ward, 2003); dan Rodney Clapp, ed., The Consuming Passion: Christianity and the Cousumer Culture (Downers Grove: Ill.: InterVarsity Press, 1998).
[6] Boudoin, Consuming Faith, hlm. 7-8 (cetak miring ditambahkan). Lebih jauh ia mengusulkan bahwa “merek memengaruhi jati diri yang konsisten, koheren, di mana Anda menceritakan diri sejati Anda; hal itu menawarkan keanggotaan dalam suatu komunitas, mengeluarkan suatu undangan ke kepercayaan tak bersyarat, menawarkan janji perubahan hidup dan suatu hidup baru” (Ibid., hlm. 44).
[7] Untuk bacaan lanjut tentang tujuan jangka panjang iklan, lihat Howard J. Bluementhal, Branded for Life: How American Are Brainwashed by the Brand We Love (Cincinnati: Emmis Books, 2005).
[8] Richard John Neuhaus, “Wealth and Whimsy: On Economic Creativity,” First Things,  August-September (1990), hlm. 29.

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (4)


4. Alkitab menyetujui bahwa menikmati hidup dan sumbernya merupakan karunia Allah. Kemakmuran kita pada akhirnya adalah akibat berkat Allah dalam kehidupan kita. Alkitab juga jelas bahwa kerajinan kita pun memainkan peran (Ams. 10:4), tetapi pada puncaknya, semua yang seseorang kumpulkan datang dari Allah. Tidak ada kesalahan dalam hal memiliki kekayaan dan menikmati karunia baik Allah, selama itu didapat secara benar dan kita bermurah hati dengannya (kuis nomor 2, 12). Pengkhotbah meneguhkan bahwa “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah” (Pkh. 5:19, penekanan ditambahkan).[1] Allah menjanjikan bangsa Israel suatu “tanah yang berlimpah dengan susu dan madu,” bahasa figuratif untuk kelimpahan berkat-Nya.[2] Jelas Allah menghendaki umat-Nya menikmati kelimpahan berkat-Nya di tanah itu. Sebagai tambahan, paparan alkitabiah tentang Taman Firdaus dalam Kitab Kejadian dan Yerusalem Baru dalam Kitab Wahyu menggemakan visi yang sama ini tentang kelimpahan persediaan dari Allah. Meskipun masa kini berkat-Nya tidak terikat pada kemakmuran nasional, sebagaimana dalam hukum Musa, cukup jelas prinsip bahwa Allah menghendaki kelimpahan bagi umat-Nya. Tentu saja, ini diseimbangi dengan mandat untuk bermurah hati dan berbelas kasihan kepada mereka yang ada dalam kebutuhan. Tekanan pada menikmati hidup sebagai pemberian baik Allah ini tidak mengusulkan sesuatu yang mirip dengan teologi kemakmuran, yang mengajarkan bahwa Allah harus mengganjar kebenaran dan kesetiaan dengan kemakmuran materiil. Allah memang mengganjar kesetiaan dengan berkat-Nya, tetapi itu tidak harus atau bahkan wajar berbentuk berkat finansial. Masa kini tidak harus ada kaitan antara kekayaan orang dengan kesetiaannya kepada Allah.

            Demikian pun kemiskinan dalam Alkitab kemiskinan bukan suatu kebajikan. Orang miskin dan yang miskin di hadapan Allah tidak diberkati karena mereka miskin tetapi karena Kerajaan Allah adalah milik mereka (Mat. 5:3; Luk. 6:20), kuis nomor 5).[3] Dalam kitab-kitab sastra hikmat kemiskinan sering dikaitkan dengan kurang rajin, hikmat dan karakter moral (Pkh. 6:6-11; 10:4; 24:30-34), meski masa kini ada juga penyebab sistemik dari kemiskinan yang sama sekali tidak berhubungan dengan karakter orang. Baik kekayaan atau kemiskinan dalam dirinya tidak harus merupakan petunjuk tentang spiritualitas seseorang. Sepanjang isi Alkitab yang jahat makmur dan yang benar kerap menderita kemiskinan karena alasan-alasan yang sedikit berkait dengan kedewasaan atau kekurangan spiritual mereka. Sebagai contoh, pemazmur meratapi kenyamanan dan kekayaan orang fasik:



Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual,

kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik...

Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik:

mereka menambah harta benda dan senang selamanya! (Mzm. 73:3, 12)



            Perjanjian Baru juga meneguhkan menikmati hidup sebagai persediaan dari Allah untuk umat-Nya. Sebagai contoh, Paulus memerintahkan Timotius untuk meneruskan ajaran bahwa “orang-orang kaya di dunia ini… jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1Tim. 6:17; kuis nomor 2, 12). Allah memerintahkan merasa cukup (yang diartikan sebagai “menginginkan apa yang Anda miliki”), memercayai Dia, bukan uang, untuk keamanan; dan kemurahhatian dengan kekayaan yang dipunyai untuk menyeimbangi mandat agar menikmati hidup sebagai pemberian baik Allah.



[1] Perlu diperhatikan bahwa Salomo juga menegaskan kesia-siaan kekayaan – bahwa harta tidak dapat menyediakan kepuasan hakiki, bukan pengganti Allah (Pkh. 5:8-20; 6:1-12). Pernyataan-pernyataan ini tidak saling bertolak belakang, sebab kekayaan dapat menjadi karunia baik Allah tanpa membuatnya sama dengan berhala. Salomo mengusulkan bahwa kekayaan dapat menjadi karunia tanpa harus menghargainya berlebihan sampai ia dilihat sebagai kunci yang menyatukan keseluruhan kepingan-kepingan puzzle kehidupan menjadi utuh.
[2] Schneider, God of Affluence, hlm. 7-74. Tentu saja, dengan kelimpahan berkat datang tanggung jawab kemurahan hati, khususnya kepada orang miskin, yang juga ditegaskan oleh Schneider. Lihat Sider, Rich Christians, untuk pembahasan lebih lanjut tentang tanggung jawab kepada orang miskin ini. Lihat juga Ron Sider, Just Creativity: A New Vision for Overcoming Poverty in America (Grand Rapids: Baker, 1999).
[3] Untuk bahasan lebih lanjut tentang Ucapan Berkat ini, lihat Dallas Willard, The Divine Conspiracy (New York: HarperCollins, 1998).

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (3A)


Alkitab memberikan tekanan khusus pada kemurahan hati pada orang miskin dan mereka yang rentan secara ekonomi. Sepanjang isi Alkitab sikap orang terhadap orang miskin dianggap ukuran penting tentang spiritualitas (kuis nomor 7). Para nabi menghubungkan kepedulian secara perorangan kepada orang miskin dan perhatian Israel sebagai bangsa untuk orang miskin dengan komitmen spiritual. Sebagai contoh, Yesaya menjelaskan bahwa kehidupan religius yang benar tidak terdiri dalam ritual dan seremoni tetapi dalam perhatian nyata bagi orang miskin dan pengusahaan keadilan ekonomi. Ia berkata,

Berpuasa yang Kukehendaki, ialah
supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman,
dan melepaskan tali-tali kuk,
supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
dan mematahkan setiap kuk,
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar
dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang,
supaya engkau memberi dia pakaian dan
tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! (Yes. 58:6-7)


            Dalam bagian terdahulu pasal ini kami menunjukkan bahwa Yeremia mengaitkan kepedulian seseorang kepada orang miskin dengan arti mengenal Allah (“’ia melakukan keadilan dan kebenaran, serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku?’ demikianlah firman TUHAN” [Yer. 22:16, cetak miring ditambahkan]), dan Amsal mengajarkan kita bahwa hal itu menghormati Allah (“siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia” [Ams. 14:31]).

            Yesus meneruskan prioritas memerhatikan kaum miskin ini dengan menjadikannya salah satu tanda penting pelayanan-Nya di bumi. Sesungguhnya, Yesus mengidentikkan perhatian-Nya untuk orang miskin sebagai suatu petunjuk utama bahwa ia telah meresmikan Kerajaan Allah. Dalam catatan Lukas tentang pelayanan publik-Nya yang pertama, Yesus bicara tentang misi-Nya “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk. 4:18). Pelayanan Yesus di antara kaum marginal pada zaman-Nya dianggap sebagai penggenapan nubuat tentang kedatangan Mesias. Demikian pun, ketika para pengikut Yohanes Pembaptis bertanya langsung kepada Yesus apakah benar atau bukan Ia adalah sang Mesias, Ia menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat. 11:4-5). Alkitab jelas bahwa kita harus menumbuhkan kemurahhatian secara umum. Tetapi secara spesifik dan berulang kali Alkitab mengajarkan yang miskin harus menjadi objek utama kemurahhatian kita. Yakobus mengulang prioritas Perjanjian Lama tentang hal ini ketika berkata:

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yak. 1:27)



[1] Perlu diperhatikan bahwa Salomo juga menegaskan kesia-siaan kekayaan – bahwa harta tidak dapat menyediakan kepuasan hakiki, bukan pengganti Allah (Pkh. 5:8-20; 6:1-12). Pernyataan-pernyataan ini tidak saling bertolak belakang, sebab kekayaan dapat menjadi karunia baik Allah tanpa membuatnya sama dengan berhala. Salomo mengusulkan bahwa kekayaan dapat menjadi karunia tanpa harus menghargainya berlebihan sampai ia dilihat sebagai kunci yang menyatukan keseluruhan kepingan-kepingan puzzle kehidupan menjadi utuh.
[2] Schneider, God of Affluence, hlm. 7-74. Tentu saja, dengan kelimpahan berkat datang tanggung jawab kemurahan hati, khususnya kepada orang miskin, yang juga ditegaskan oleh Schneider. Lihat Sider, Rich Christians, untuk pembahasan lebih lanjut tentang tanggung jawab kepada orang miskin ini. Lihat juga Ron Sider, Just Creativity: A New Vision for Overcoming Poverty in America (Grand Rapids: Baker, 1999).
[3] Untuk bahasan lebih lanjut tentang Ucapan Berkat ini, lihat Dallas Willard, The Divine Conspiracy (New York: HarperCollins, 1998).

PELAJARAN ALKITAB TENTANG HARTA (3)


3. Pegang kekayaan dan harta milik Anda secara longgar dan beri dengan tangan terbuka dalam kemurahan hati.
Jika segala sesuatu yang seseorang punya adalah milik Allah, dan hidup bukan sekadar apa yang kita miliki, maka memegangi milik kita secara longgar adalah hal logis berikutnya. Alkitab jelas bahwa kemurahhatian harus mencirikan umat Allah (1Tim. 6:18). Memberi harus dilakukan dengan niat dan gembira, tidak dengan terpaksa (2Kor. 9:7). Ada tekanan khusus tentang memberi kepada orang miskin dan memerhatikan keperluan mereka (Efs. 4:28). Cara orang menangani uang mereka, khususnya seberapa murah hati mereka dengan uang, dijadikan barometer tentang kehidupan spiritual mereka. Yesus jelas bahwa hati kita mengikuti uang kita, artinya, kita dapat menceritakan banyak hal tentang di mana hati kita dari di mana kita menginvestasi uang kita (Mat. 6:19-21). Inilah alasan Yesus mengatakan kepada pemimpin muda yang kaya untuk memberi semua uangnya. Tetapi itu tidak harus menjadi norma bagi masa kini – ada banyak macam orang kaya yang mengikut Yesus dan menjadi bagian dari gereja awal, yang mengusulkan bahwa akumulasi kekayaan tidak sendirinya dilarang dalam Alkitab (kuis nomor 9). Namun demikian, dalam contoh si pemimpin muda yang kaya itu, kekayaannya adalah indikasi dari kondisi hatinya, dan satu-satunya cara mengurus isu itu dengan tepat adalah dengan melepaskan diri dari kekayaannya.

            Gereja di bagian awal Kisah Para Rasul terkesan membagi bersama kepunyaan mereka (Kis. 2:44) dan sebagian orang mengusulkan bahwa gereja adalah bentuk awal dari kehidupan komunal. Walaupun penolakan akan harta bumiah bukan norma, jelas bahwa gereja memegangi harta mereka dengan sangat longgar agar bisa memenuhi kebutuhan finansial para anggota mereka secara berarti. Kisah Para Rasul 2:42 menjelaskan bahwa anggota gereja mula-mula menjual harta mereka bukan untuk prinsip penolakan melainkan demi mereka yang memiliki kebutuhan mendesak.[1] Gereja mula-mula tidak mempraktikkan divestasi dari semua barang bumiah, meski mereka luar biasa bermurah hati dalam memenuhi banyak sekali kebutuhan ekonomi yang mendesak. Gereja awal senantiasa bermurah hati, terkadang memanjangkan kemurahhatian mereka ke kebutuhan di bagian dunia lainnya (Kis. 11:27-30; 2Kor. 8:1-12). Namun demikian, para rasul juga menekankan bahwa tiap orang wajib bekerja untuk mendukung dirinya sendiri, keluarga dan orang miskin (Kis. 4:28; 2Tes. 3:6-10). Jika seseorang tidak bersedia bekerja, ia tidak diizinkan berbagi dalam sumber-sumber yang ada dalam komunitasnya.



[1] Gonzales, Faith and Wealth, hlm. 82.