Jumat, 22 Juli 2011

Belajar tentang Jalan Allah dalam Doa

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN… Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.
Mazmur 25:4, 12

Allah ingin kita mengerti prinsip-prinsip-Nya berurusan dengan kita supaya kita mengerti apa yang Ia lakukan. Maka kita memiliki pemazmur yang bicara tentang bagaimana Allah “mengajar orang berdosa dalam jalan-Nya” (8) dan “mengajar orang yang rendah hati tentang jalan-Nya” (9). Ia juga ingin mengajar kita jalan yang harus kita lalui.

            Bagaimanakah kita belajar tentang cara Allah mengurus kita dan jalan-Nya untuk kita lalui itu? Kita belajar dari Alkitab melalui Roh Kudus. Dari Alkitab kita belajar jalan Allah dengan umat-Nya dan jalan yang harus kita tempuh dalam ketaatan kepada-Nya.

            Allah mengajar hal-hal ini kepada umat-Nya dalam relasi doa. Kita menantikan Allah, kita merenung dalam hadirat-Nya, dan kita mengisi baik doa maupun renungan itu dengan Alkitab dalam hadirat Allah.           

            Kepada siapa Allah mengajarkan jalan-Nya? Kepada orang yang takut akan TUHAN (12 – kata “takut bukan berarti panik tetapi sikap bakti yang menghormat). Orang seperti itu akan menemukan dari Firman Allah bahwa ia adalah seorang berdosa, dan bahwa Allah “mengajar orang berdosa dalam jalan-Nya” (8). Ia akan mendengar Allah menyatakan kebesaran-Nya dan kekecilan manusia, karena itu ia akan merendahkan hati dan menenangkan rohnya di hadapan Allah, dan Allah “mengajar orang yang rendah hati, jalan-Nya” (9). Juga, ia belajar dari Allah tentang perjanjian anugerah dan bagaimana memeliharanya, serta “semua jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran, untuk mereka yang memelihara perjanjian-Nya” (10).

Apakah Allah mengajarku demikian? Jika tidak, apakah aku terlalu santai, sombong, mementingkan kehendak sendiri, atau bercabang hati dalam doa tentang ajaran Allah kepadaku?

Tuhan, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada-Mu… Tunjukkan jika ini sikap yang menghormati-Mu yang Kau minta dari mereka yang ingin Kau ajari jalan karya-Mu.

Kamis, 21 Juli 2011

Doa dengan Roh

Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku. 1 Korintus 14:15

Kita harus mencari dari Allah apa permintaan yang harus dibuat dalam setiap situasi dan menyadari bahwa tugas Roh Kudus adalah membimbing kita sementara kita memaparkan fakta di hadapan Tuhan. Seringkali kita tidak mengalami bimbingan khusus, tetapi terkadang Roh menganjurkan permintaan sangat spesifik dan memimpin kita untuk meminta dengan keyakinan yang tidak lazim.

            Suatu kali institusi teologia yang saya pimpin akan ditutup atas perintah pemimpin gereja. Komunitas menetapkan hari doa tentang hal itu. Dua jam sebelum hari itu, saya menemukan saya tahu pasti apa yang harus saya minta kepada Allah: yaitu peleburan dengan institusi lain dalam syarat-syarat spesifik yang sangat kontroversial sehingga bisa terkesan tidak realistis. Saat itu saya tidak dapat menceritakan kepada siapa pun, tetapi saya berpegang pada visi yang saya dapat sekuat mungkin, dan dalam waktu setahun semua yang saya minta dalam doa, terjadi. Kemuliaan bagi Allah!

            Seorang teman menjalani operasi penyelidikan penyakit di rumah sakit karena ada gejala kanker. Banyak orang mendoakan. Sambil memaparkan masalah itu di hadapan Allah, saya merasa diri saya ditarik (sejauh ini hanya sekali itu saya mengalaminya) untuk berdoa spesifik dan yakin untuk mukjizat kesembuhan. Ketika saya pulang dari gereja di Minggu pagi dan berdoa demikian, saya merasa diberitahu bahwa doa saya telah dijawab dan saya tidak perlu berdoa lagi. Seninnya operasi menyatakan tidak ada bekas kanker. Sekali lagi, kemuliaan bagi Allah!

            Kita selalu harus dengan sadar membuka diri untuk dipimpin oleh Allah dalam hal yang kita doakan.

Jika doa-doa ku terkesan tidak maju dalam situasi tertentu, perlukah aku berhenti dan menantikan Allah untuk menemukan apa harus ku doakan?

Tuhan, tunjukkan ku apa yang harus kudoakan untuk situasi ini…

Rabu, 20 Juli 2011

Kuasa Doa

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
Yakobus 5:16

Yakobus menganjurkan agar kita berdoa untuk diri kita dan orang lain (5:13-18). Dalam doa, kita menengadah dari keputusasaan kita untuk menatap Allah, pengatur yang penuh belas kasih yang pada saat tepat akan melepaskan para hamba-Nya yang menderita. Doa membawa kestabilan dan kekuatan; mampu melihat masalah sementara dalam perspektif kekal dan memenggalnya ke ukuran kecil.

            Orang yang sakit boleh meminta pendeta mereka mendoakan; para penatua harus bersedia melakukan itu ketika diminta. Ini bukan suatu formula magis untuk kesembuhan, sementara mukjizat Yesus memperlihatkan bahwa memang penyelamatan mengandung penyembuhan jasmani, sikap-Nya pada duri dalam daging Paulus menunjukkan bahwa Ia berdaulat menentukan apa yang baik untuk kesehatan tubuh kita. Tentu, waktu kita mendapat tubuh baru, semua akan berubah! Kita harus membedakan manfaat penyelamatan dari waktu dan cara Allah memberikan manfaat itu. Doa yang sungguh untuk penyembuhan orang sakit harus dilakukan atas prinsip bahwa sakit adalah panggilan Allah untuk kita memikirkan hidup kita di hadapan-Nya.

            Doa semacam itu boleh jadi mengakibatkan penyembuhan, dan saling mendoakan bagi kesejahteraan rohani tidak boleh dibatasi hanya pada soal kesembuhan jasmani. Khasiat doa bergantung pada kebenaran hidup dan motifnya, kesungguhan hati dan keseriusan doa, serta seberapa jauh ia sesuai dengan kehendak Allah yang dinyatakan dalam Firman-Nya. Kisah Elia memberikan gambaran tentang tiga prinsip tersebut.

Pelajari dan praktikkan, khususnya dalam kelompok kecil, ajaran Alkitab tentang berpikir benar dan doa efektif. (Cobalah Ul. 11:13-17; 2Rj. 17; Mzm. 73; Mrk. 2:3-12; Rm. 8:18; 2Kor. 4:7-18; Yak. 1:6-8; 2:14-26; 4:3).

Tuhan, tolong kami sebagai gereja berdoa dengan, dan untuk orang sebanyak dan seefektif mungkin.

Selasa, 19 Juli 2011

NamaNya, KehendakNya

Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku… Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
Yohanes 16:23-24

Jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
1 Yohanes 5:14

Ayat-ayat ini datang dari dua bagian Alkitab yang berusaha memimpin kita ke doa lebih dalam daripada yang kebanyakan kita pernah lakukan (Yoh. 16:23-27; 1Yoh. 5:13-17).

            Tujuan doa bukan memaksa tangan Allah atau membuat Dia melakukan kehendak kita melawan kehendak-Nya, tetapi untuk memperdalam pengenalan kita akan Dia dan persekutuan kita dengan-Nya melalui merenungkan kemuliaan-Nya, mengakui kebergantungan dan kebutuhan kita, dan secara sadar menerima maksud-maksud-Nya. Jadi, permintaan kita harus sesuai kehendak Allah dan dalam Nama Yesus.

            Konteks dari permintaan seperti itu ialah iman yang terjamin. Waktu itu, ketika Yesus mengajar mereka oleh Roh-Nya, secara jelas tentang Bapa, tidak ada unsur memasukkan dukungan Yesus dalam doa, seolah Ia lebih bermurah hati daripada Bapa atau dapat memengaruhi Bapa hal yang mereka tidak dapat; waktu itu dalam hati mereka tahu bahwa sebagai orang beriman mereka adalah para kekasih Bapa.

            Meminta dalam Nama Yesus bukan memakai mantra lisan tetapi menaruh doa kita dalam relasi penyelamatan dalam Kristus untuk kita melalui salib; ini berarti meminta persetujuan Kristus sendiri. Waktu Allah menjawab dalam Nama Yesus, Ia memberi melalui Yesus sebagai pengantara kita dan kepada Yesus sebagai pihak yang akan dimuliakan melalui apa yang diberikan.

            Di pusat kehidupan doa adalah sikap sedia kita untuk diajar oleh Kristus melalui Firman dan Roh tentang apa yang harus kita doakan. Sejauh kita tahu melalui kesaksian Roh dalam hati, bahwa kita menaikkan permohonan yang Tuhan sendiri berikan secara khusus untuk kita doakan, kita tahu bahwa kita memiliki jawaban bahkan sebelum melihatnya.

Sediakah aku dibentuk Allah melalui Firman dan Roh-Nya? Pernahkah aku berusaha berdoa dalam cara itu?

Tuhan, aku butuh iman yang lebih pasti. Tolong aku...

Senin, 18 Juli 2011

Doa Orang Kudus dalam Kebutuhan

Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring. Mazmur 25:15

Tidak ada doa jika tidak ada kesadaran akan kebutuhan. Penyair Mazmur 25 sangat peka akan kebutuhannya. Ia merasa bahwa sebuah jaring telah menjerat dan memenjaranya. Jaring apa? Sepertinya jaring itu memiliki jerat bagian luar dan dalam. Bagian luar melambangkan para musuhnya – “Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam” (19) – dan segala akibat yang dibuat oleh mereka – “aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” (16-17).

            Jerat bagian dalam melambangkan apa yang ia rasakan ketika ia mengingat dosa-dosanya. “Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat… Ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu” (7, 11). Ingatan itu menimbulkan ketakutan bahwa ia akhirnya akan mengalami perendahan dan akhirnya gagal: “janganlah kiranya aku mendapat malu” (2, 20).

            Tidakkah kita juga sadar akan jaring serupa mengelilingi kita? Tidakkah kita juga menghadapi oposisi, keadaan hidup yang menentang, kesukaran demi kesukaran, ingatan tentang dosa dan kegagalan kita? Kita perlu melakukan apa yang pemazmur lakukan: secara spontan bawalah semua hal ini kepada Tuhan, berulang kali dan tanpa segan-segan, oleh pertolongan Roh Kudus, dan minta Dia menarik kita keluar dari kekacauan jerat yang ditebar oleh si iblis, perancang semua keputusasaan dan ketawaran hati.

Apakah jerat yang Anda alami itu: hal, orang, suasana hidup yang menggentrkan hidup Anda?

Bawa tiap aspek kesulitan atau ketakutan Anda kepada Allah dan ingatkan diri  Anda tentang siapa Allah dan apa yang telah ia janjikan.

Sabtu, 16 Juli 2011

Berpikir Besar tentang Allah

Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan! Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian.
Daniel 2:20-21

Kebenaran inti yang Daniel ajarkan kepada Nebukadnezar (Dan. 2:4) dan ingatkan kepada Belsyazar (5:18-23); yang Nebukadnezar akui (4:34-37); yang menjadi dasar doa-doa Daniel dan keyakinannya dalam menantang otoritas; yang membentuk substansi pokok dari semua penyingkapan yang Allah berikan kepada Daniel, ialah kebenaran bahwa “Yang Mahatinggi memerintah kerajaan manusia” (4:25). Ia tahu dan melihat lebih dulu segala sesuatu, dan kemahatahuan-Nya sekaligus juga adalah kemahakuasaan-Nya. Jadi, Ia yang memiliki kata akhir, baik dalam sejarah dunia maupun dalam destini setiap pribadi. Kerajaan dan kebenaran-Nya akhirnya akan menang, sebab tidak ada manusia atau malaikat dapat menggagalkan-Nya.

            Demikianlah pemikiran tentang Allah yang memenuhi pikiran Daniel, seperti yang ia saksikan dalam doanya – doa yang selalu merupakan bukti paling nyata tentang pandangan orang mengenai Allah (2:20-23; 9:4-19). Apakah demikian kita berpikir tentang Allah? Apakah anggapan tentang Allah tadi terlihat dalam doa kita? Apakah kepekaan dahsyat akan kekudusan-Nya, kemuliaan-Nya, kesempurnaan moral-Nya, dan kesetiaan-Nya yang penuh anugerah yang membuat kita senantiasa merendahkan hati dan bergantung, takjub dan taat, sebagaimana Daniel? Dalam segala ketulusan, seberapa banyak atau sedikit Anda mengenal Allah?

Apakah aku telah kehilangan pandangan tentang kebesaran Allah? Bagaimana aku menyisihkan waktu untuk mempelajari tema Alkitab tersebut untuk mengoreksi pikiranku?

Sembah Allah kuat-kuat dengan memakai perkataan Daniel dalam 2:20-23, atau versi Anda sendiri yang menyanyikan kebesaran Allah.

Kamis, 14 Juli 2011

Penyembahan


Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia!
Mazmur 99:5

Menyembah Allah berarti mengakui kelayakan-Nya, menatap ke arah Allah, dan mengakui nilai dari apa yang kita lihat dalam cara yang patut. Alkitab menyebut kegiatan itu “memuliakan Allah” atau “memberi kemuliaan bagi Allah,” dan memandangnya sebagai tujuan tertinggi, dan dari satu sudut pandang, keseluruhan tugas manusia (Mzm. 29:2; 96:6; 1Kor. 10:31).

            Alkitab melihat kegiatan memuliakan Allah ini sebagai enam rangkap kegiatan: memuji Allah untuk seluruh keberadaan-Nya dan hal yang Ia capai; mensyukuri Dia untuk  pemberian dan kebaikan-Nya untuk kita; memohon Dia memenuhi kebutuhan kita dan orang lain; memberikan Dia talenta, pelayanan, dan diri kita; belajar tentang-Nya dari Firman, membaca dan mewartakan, dan menaati suara-Nya; memberitahu orang lain tentang nilai kemuliaan-Nya, baik dalam pengakuan maupun kesaksian publik atas apa yang telah Ia buat untuk kita. Jadi kita bisa berkata bahwa formula dasar penyembahan ialah: “Tuhan, Engkau luar biasa”; “Terima kasih, Tuhan”; “Tolong, Tuhan”; “Ambilah ini, Tuhan”; “Ya, Tuhan”; “Semua orang dengarlah!”

            Jadi inilah penyembahan dalam arti terluasnya: permohonan juga pujian, khotbah dan doa, mendengarkan dan bicara, tindakan dan perkataan, menaati dan memberi, mengasihi orang dan mengasihi Allah. Namun demikian, tindakan utama penyembahan ialah yang fokus langsung ke Allah – dan jangan kita bayangkan bahwa kerja untuk Allah dalam dunia ini adalah pengganti dari persekutuan langsung dengan-Nya dalam pujian, doa, dan ibadah.

Aspek penyembahan mana yang merupakan bagian dari perintah pertama dan yang mana bagian dari perintah kedua? Apakah prioritas Anda ialah pada yang pertama sampai menuntun ke yang kedua?

Tuhan, tunjukkanku/kami dalam hal bagaimana penyembahanku/kami kurang dan harus dilengkapi?

Rabu, 13 Juli 2011

Memilih Kesukaan

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4:4

Sumber kesukaan lainnya ialah mengetahui bahwa Anda memberikan sesuatu yang bernilai; suatu kepercayaan bahwa Anda berarti bagi orang lain sebab sesuatu yang telah Anda berikan kepada mereka. Memberi adalah sumber utama bagi kesukaan. Jika Anda memiliki sesuatu yang sangat penting, Anda akan mendapatkan kesukaan besar dari berusaha untuk berbagi hal itu meski kelak Anda sedih bahwa pemberian itu ditolak. Paulus mengenal kesukaan itu, sebab ia memberi dirinya, seluruh hidupnya, untuk membawa terang ke dalam hidup yang digelapkan dosa dengan berbagi berkat injil dengan mereka. Seperti Paulus, kita akan mendapatkan kesukaan ketika berbagi karunia terbaik Allah.

            Sekali kita tahu sumber kesukaan rohani, kita perlu memilihnya. Itu maksud perintah agar kita bersukacita senantiasa. Bagaimana? Dengan mempraktikkan seni berpikir Kristen? Dengan memilih untuk berdiam berulang-ulang dalam sumber kesukaan kita, mengatakan kepada diri sendiri dan juga orang lain: Ya, Ia mengasihiku dan menerimaku. Ya keadaan hidupku diatur Allah demi kebaikanku. Ya, aku punya sesuatu yang luar biasa bernilai: mengenal Juruselamatku. Ya, aku sedang melakukan sesuatu yang luar biasa dalam usaha berbagi Yesus Kristus dengan orang lain. Sambil kita berulang-ulang memikirkan hal itu, kesukaan akan meluap secara spontan. Anda bersukacita karena pilihan, jelas? Yaitu dengan jalan mengarahkan pemikiran Anda ke hal-hal yang memicunya.

            Yesus ingin sukacita kita penuh dan Ia mengatur agar persediaan untuk itu melimpah. Sekali kita belajar berpikir Kristen, sukacita akan meluap dalam hati dan hidup keseharian kita. Itu juga salah satu aspek berkemenangan atas dunia ini, yaitu iman kita yang darinya lahir kesukaan dan yang tak dapat dipadamkan oleh siapa pun, dan yang memberi kita kekuatan untuk pelayanan yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Renungkan lagi sumber kesukaan kita dan pikirkan tentang orang-orang yang memperlihatkan kesukaan Tuhan dalam hidup mereka. Bagaimana hal itu tampak?

Tuhan, terima kasih bahwa Engkau ingin para murid-Mu penuh sukacita (Yoh. 15:11). Jadikan aku demikian.

Selasa, 12 Juli 2011

Sukacita melalui Kasih


Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Roma 14:17

Mengetahui bahwa Anda dikasihi adalah salah satu sumber kesukaan. Tidak seorang pun memiliki kesukaan tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang menghargai, memerhatikan, dan menerimanya. Merasa bahwa tak seorang pun peduli, memerhatikan saya sebagai pribadi, atau acuh kepada saya, dan bahwa saya tidak penting bagi siapa pun, adalah pembunuh besar atas kesukaan. Orang Kristen mengenal kasih secara yang orang lain tidak kenal, sebab ia tahu bahwa Allah sangat mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati dalam aib salib bagi kita, supaya kita yang percaya kepada-Nya memiliki hidup kekal (Yoh. 3:16; Rm. 5:8; Gal. 2:20). Ukuran kasih Allah untuk kita ialah berapa banyak Ia memberi untuk kita. Mengetahui bahwa Kristus “mengasihi saya dan memberi diri-Nya untuk saya” adalah menyadari kasih ilahi dalam cara yang menghasilkan kesukaan tanpa akhir. Allah peduli pada saya! Ia telah menebus saya!

            Tidak puas adalah pembunuh kesukaan lainnya, sedangkan menerima situasi adalah sumber kesukaan. Orang Kristen selalu dapat melakukan itu sebab mereka tahu bahwa semua keadaan hidup mereka direncanakan bagi mereka oleh Bapa surgawi yang penuh kasih (Rm. 8:28). Dari penjara dengan ancaman hukuman mati menggelantung di atasnya, Paulus menulis: “Aku telah belajar, dalam keadaan bagaimana pun, untuk berpada dengan yang ada” (Fil. 4:11).

            Kesukaan juga datang dari kesadaran bahwa kita memiliki sesuatu yang layak untuk dimiliki. Orang berkata, “pasanganku, anak-anak, rumah, buku-buku, hobby dan seterusnya adalah kesukaanku.” Tetapi Paulus berbicara tentang “pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Fil. 3:8). Dengan Paulus, orang Kristen berkata, “aku memiliki Yesus, mutiara yang mahal. Aku rela melepas segala sesuatu agar berpegangan kepada-Nya dan lebih menikmati-Nya.”

Renungkan tiga sumber kesukaan di atas, ambil mempelajari ayat-ayat rujukannya.

Bapa, aku memiliki alasan baik untuk bersukacita…

Senin, 11 Juli 2011

Kesukaan Adikodrati

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Yohanes 15:11

Sukacita tidak sama dengan senang-senang. Banyak orang yang sepanjang hidupnya senang, tetapi tidak sukacita. Sebaliknya, orang bisa memiliki banyak kesukaan dan hanya sedikit kesenangan.

            Sukacita juga tidak sama dengan memiliki temperamen gembira. Kita sering mendengar dikatakan, kita harus memiliki wajah tomat (senyum) dan bukan wajah pepaya (cembetut). Tetapi jika yang dimaksud adalah struktur tulang wajah kita, tentu kita tidak bisa berharap banyak. Kita memang patut berusaha untuk bersikap gembira. Namun kegembiraan alami tidak sama dengan kesukaan, dan lagi-lagi adalah mungkin untuk bersukacita meski Allah mungkin tidak memberikan Anda temperamen gembira. Jangan mengira bahwa jika sifat alami Anda flegmatik atau melankolik, lalu Anda tersingkir dari kesukaan Kristen.

            Pada malam Ia dikhianati, Yesus berbagi rahasia dengan para murid-Nya, supaya, “sukacita-Ku ada di dalammu, dan… sukacitamu penuh.” Ia tahu benar apa yang sedang mendatangi-Nya – Getsemani hanya sekitar sejam jauhnya dan sesudah itu akan terjadi peristiwa ngeri penyaliban yang harus Ia tanggung. Jadi Ia pasti jauh dari bergembira atau tanpa masalah. Tetapi bahkan dalam keadaan menghadapi semua ini, kesukaan-Nya tetap di dalam Dia. Dan kita pun dapat mengenal kesukaan meski dalam situasi menyakiti. Jiwa seorang Kristen jauh lebih besar daripada orang lain, ada ruang di dalamnya bagi kedukaan (kehilangan, salib, dan kekacauan) serta sukacita (dalam dan dari Tuhan) pada saat yang sama.

Hal-hal apa telah Yesus katakan kepada para murid-Nya supaya mereka bersukacita (Yoh. 13-17)?

Syukuri Allah untuk setiap hal itu dan ingatkan diri Anda tentangnya kapan saja Anda merasa “down.”

Sabtu, 09 Juli 2011

Kesukaan dalam Allah


Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Mazmur 16:11

Orang Kristen masa kini cenderung menjadikan kepuasan mereka agama mereka. Kita memberikan lebih banyak perhatian pada pemenuhan diri daripada menyukakan Allah. Karena pengaruh Barat (Amerika utara), ciri khas orang Kristen masa kini adalah gairah besar pada buku-buku yang membahas tentang teknik sukses dalam relasi, lebih menikmati seks, menjadi pribadi lebih baik, menyadari potensi diri, mendapatkan kenikmatan lebih penuh tiap hari, mengurangi berat badan, memperbaiki diet, mengatur uang, memiliki keluarga yang lebih bahagia, dan sebagainya.

            Untuk orang yang gairah utamanya adalah memuliakan Allah, memang hal-hal tadi merupakan perhatian yang sah, tetapi buku-buku yang menekankan teknik dan cara tersebut menelusur semua itu dalam sikap penyerapan diri sendiri dan memperlakukan kenikmatan hidup dan bukan kemuliaan Allah, sebagai pusat perhatian. Katakanlah buku-buku itu memaparkan lapisan tipis ajaran Alkitab dicampur dengan psikologi modern serta akal sehat, tetapi pendekatan keseluruhannya mencerminkan sikap narsisme – (egosentrisme atau akuisme) – itulah jalan dunia dalam masyarakat modern.

            Penyerapan diri, betapa pun religius pemikirannya, adalah lawan dari kekudusan. Kekudusan berarti kehidupan yang menyerupai Allah (godliness) dan itu adalah pementingan Allah. Mereka yang berpikir bahwa Allah ada untuk keuntungan mereka daripada mereka ada untuk kepujian-Nya tidak memenuhi syarat sebagai orang kudus. Hal itu merupakan kesalehan yang tidak saleh yang menjadikan diri sendiri pusatnya. Tidak heran, kesalehan yang demikian kurang kesukaan yang Allah ingin berikan kepada mereka yang mencari-Nya.

Apakah aku terlalu memerhatikan diri atau kurang? Dapatkah aku melihat mengapa kedua sikap itu tidak menolong?

Tuhan, aku ingin Engkau makin menjadi pusat hidupku.

Jumat, 08 Juli 2011

Menikmati Masa Kini

Jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya. Pengkhotbah 11:8


Kebiasaan penting lain jika kita ingin mengenal kesukaan ialah kebiasaan untuk hidup dalam kekinian (9:7-9). Bahkan pengkhotbah mengatakan agar kita menikmati semua kenikmatan yang tiap hari Allah berikan. Itulah sebuah ungkapan sikap mirip seorang anak yang dianjurkan kepada kita sebagai peziarah. Dalam arti tertentu kita harus hidup dalam masa depan, dengan mengingat semua yang telah Allah sediakan untuk mereka yang mengasihi Dia, tetapi tidak sampai merampas kesukaan masa kini kita. Seorang rabi bijak dari abad kedua berkata bahwa ketika kita menghadap takhta pengadilan Allah, Ia tidak hanya akan bertanya mengapa kita melakukan semua yang buruk, tetapi juga mengapa kita tidak menikmati sepenuhnya semua hal baik yang Ia berikan kepada kita.

            Atas alasan ini, pengkhotbah mengarahkan orang muda untuk bersuka cita dalam masa mudanya serta bergembira dalam kemudaannya (Pkh. 11:9). Masa muda adalah karunia Allah; kita harus menikmatinya. “Turutiah keinginan hatimu, dan pandangan matamu,” ujarnya. Dengan kata lain, “Lakukanlah semua hal yang ingin kau lakukan sementara engkau masih muda untuk melakukannya.” Tentu ia mengandaikan bahwa hal yang kita inginkan itu adalah hal yang benar. Ia tidak menganjurkan kita melanggar aturan dan melakukan hal yang gila-gilaan – maka bagian akhir ayat itu berkata: “Tetapi ingat, Allah yang ada di surga, kelak mengadili tindakanmu semua” (1:9 IBIS).

            Tidak ada nilai ekstra tertera pada kemudaan; intinya ialah kita harus menerima dan mencicipi sepenuhnya semua hal yang bernilai yang Allah berikan kepada kita atau yang dimungkinkan-Nya untuk kita dalam setiap saat yang kini sedang berlangsung.

Apakah aku menjadikan sebagian besar dari hidup menjadi kesukaanku? Jika tidak, mengapa?

Tuhan, lepaskan aku dari sikap “bila ini atau itu terjadi, aku baru akan sungguh hidup.” Tolongku menerima setiap saat kekinianku dari-Mu.

Kamis, 07 Juli 2011

At the Feet of Jesus




The world will be at the feet of
those who are themselves at the feet of
Jesus Christ - that is the surest
thing I know - Dick Sheppard

Dunia akan ada di kaki
mereka yang sendirinya ada di kaki
Yesus Kristus - itulah hal terpasti
yang saya ketahui - Dick Sheppard

Rabu, 06 Juli 2011

Kesukaan Melalui Penerimaan

Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
Pengkhotbah 9:7

Kesukaan bukan sepenuhnya perasaan. Ia adalah kondisi akal budi di mana Anda puas dengan yang Anda terima dan Anda tak akan menukarkannya dengan dunia. Kondisi akal budi itu menerima batas-batas yang Allah letakkan atas Anda. Batas apa saja? Pertama, ketidakmampuan kita mengendali peristiwa dan ketidaktahuan kita akan rencana Allah; kedua, ketidakmungkinan mengelakkan ketegangan dan kepedihan; ketiga, kepastian bahwa suatu hari kelak, ketika Allah menghakimi segala sesuatu, kita akan menemukan bahwa yang kita pilih untuk ada dan lakukan dalam dunia ini menentukan destini kita.

            Kita tidak suka batas-batas itu. Kita adalah makhluk yang telah jatuh dan reaksi alami kita ialah berkata, “Saya lebih baik tidak hidup di bawah keharusan ini. Saya lebih suka mengalami segala sesuatu seperti yang saya harapkan. Saya sesali bahwa yang saya inginkan tidak menyebabkan kenyataan, dan bahwa akhir bahagia tidak terjamin. Kita tersandung oleh fakta bahwa Allah di surga dan saya di bumi dan Ia tidak memberitahu arti segala sesuatu yang Ia lakukan sehingga saya ada dalam gelap (11:5-6). Bagaimana saya bisa memercayai Allah kasih adanya ketika Ia menempatkan saya dalam dunia penuh kejahatan dan masalah yang tak dapat saya kendalikan?”

            Kesukaan pertama sekali bergantung pada pengenalan bahwa kematian Kristus untuk kita di Kalvari adalah jaminan kekal kita tentang kasih Bapa surgawi, dan kedua, untuk penerimaan keterbatasan yang disebabkan oleh ketidakberdayaan dan ketidaktahuan kita. Dalam Pilgrim’s Regress karya C. S. Lewis, John lari dari semua yang diajarkan kepadanya pada masa mudanya tetapi kemudian ia kembali dan surut ke iman Kristen yang sederhana di bawah bimbingan hikmat yang tidak ia miliki ketika ia lari darinya. Sesudah dihajar, ia berhenti menolak dan berontak, dan kesukaan yang tenang pun terbit di dalamnya.

Apakah aku perlu surut ke penerimaan hal-hal pasti yang ingin ku lampaui atau elakkan?

Tuhan, aku tidak cukup berhikmat untuk mengerti semua hal; aku tak dapat meramal dan menghindari kesukaran; aku tak mengerti banyak hal yang sekarang Kau lakukan. Dengan aku menerima semua keterbatasan yang Kau tetapkan ini, penuhiku dengan kesukaan-Mu.

Selasa, 05 Juli 2011

Karunia Sukacita


Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, --sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat--,dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu.
Pengkhotbah 2:3

Pertanyaan dasar dalam Pengkhotbah ialah: Adakah arti atau kesukaan dalam hidup? Sampai ke pasal 6 puncak masalahnya menunjuk ke dua fakta: banyak hal yang tidak memuaskan, dan Allah tidak dapat dikotakkan. Aslan dalam buku C. S. Lewis Berkelana di Narnia, bukan singa jinak! Hal-hal liar terjadi dalam dunia Allah. Bersamaan dengan penggambaran kekecewaan, keraguan, dan keputusasaan, penulis memberikan kita petunjuk tentang bagaimana kita mungkin mengalami hidup yang terus menerus frustrasi namun tetap menemukan kesukaan dan arti di dalamnya.

            Ia memberikan kita petunjuk di mana kesukaan dan arti dapat ditemukan dalam Pengkhotbah 2:24-26; 3:22; 5:18-20; 8:15; 9:9. Dalam ayat-ayat ini ia memberitahu kita dua hal: bahwa ada kepuasan sederhana, mendasar yang ditemukan dalam pekerjaan, makanan, kasih pernikahan, dan semua kesukaan adalah karunia Allah.

            Dalam bagian kedua, ia mendaftarkan tiga hal yang ia lihat sebagai “baik dan tepat ialah… dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya.” Yaitu, nikmati pekerjaanmu, demikian ujarnya; terima bagianmu; jangan mengharapkan kesukaan dari pencapaianmu; jangan mengharapkan hidup seumpama kebun bertaburan mawar meski Anda milik Allah; jangan menyesali segala sesuatu; jangan iri; jangan malas; jangan hidup dalam ilusi.

            Semua ini adalah nasihat sederhana namun sangat masuk akal dan perlu.

Apakah aku cenderung merendahkan orang yang bersikap praktis dan memakai perhitungan sederhana sebagai orang tidak “rohani”? Haruskah?

Tuhan, terima kasih untuk para orang kudus yang tidak bertemperamen merenung berjam-jam tetapi yang sigap melakukan apa yang perlu untuk dilakukan.

Senin, 04 Juli 2011

Apa yang Hati Nurani Buat?

Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.
1 Timotius 1:5

Secara tradisional dan pasti juga tepat, hati nurani dipercaya meliputi dua kapasitas yang melaluinya kita disanggupkan untuk melihat kebenaran moral umum dan kemudian mengaplikasikannya ke kasus khusus. Hal itu tidak pernah dipertanyakan baik di kalangan Protestan maupun Roma Katolik sampai saat ini di mana hati nurani mengambil bentuk silogisme praktis; yaitu: “Mencuri salah; mengambil payung berarti mencuri; maka mengambil payung salah.” Atau, “Perampok bank harus dihukum; saya merampok bank, maka saya patut dihukum.”

            Sebagaimana dapat kita lihat dari contoh tadi, hati nurani menghakimi tindakan dan kasus khusus atas dasar prinsip umum. Jika hati nurani seseorang menghakiminya di mana tidak ada prinsip umum yang terlibat, kita dapat mengandaikan bahwa apa yang ia rasakan adalah kesalahan atau obsesi yang memakai topeng seolah hati nurani dan hal itu harus dilepaskan atau ditolak.

            Karena hati nurani adalah suara Allah di dalam dan untuk kita, hati nurani mengikat kita dan harus diikuti secara hati-hati; tetapi ketika karena ketidaktahuan atau kebingungan yang ia katakan bukan suara Allah, kepekaan nurani kita tidak membuat kita menyukakan Allah. Maka orang Kristen dengan hati nurani yang tidak terdidik mengalami kemacetan: ia tidak dapat menyukakan Allah baik dengan menaati atau tidak menaati hati nuraninya. Betapa penting bahwa orang Kristen mempelajari moral dan doktrin alkitabiah dan mengalami pengampunan Allah tiap-tiap hari!

Apa yang Alkitab ajarkan tentang hati nurani dan bagaimana ia dapat dibentuk ulang?

Tuhan, teruslah membentuk hati nuraniku agar ia lebih sehat dan lebih sensitif.




Bukan Ini, Hati Nurani

Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka
1 Timotius 1:19

Freud mengaitkan hati nurani dengan berbagai gejala neurotik dan psikotik dari pembatasan, dorongan, dan rasa bersalah yang obsesif. Ia menggambarkan keadaan jiwa manusia sebagai rumah yang kacau, dimana ego di lantai dasar (diri yang sadar diri dengan pintu dan jendela yang terbuka ke dunia) ada di bawah tekanan dari id (energi agresif yang mengalir deras dari ruang bawah sadar) dan dari super-ego (perintah tegas menakutkan dari loteng, yang melaluinya larangan dan ancaman dari orangtua dan masyarakat diintrojeksikan ke dalam kehidupan sadar secara samar dan dengan efek mengganggu). Super-ego yang merupakan tiran dalam setiap orang, polisi jiwa, adalah pesakitan yang menyebabkan terjadinya neurosis dan psikosis; dan sasaran dari psiko-analisis ialah menelanjangi super-ego dan melihatnya sebagai campur aduk trauma yang terlupa, sehingga dengan begitu orang dapat dibebaskan darinya.

            Karena pandangan Freud menyetarakan super-ego dengan hati nurani, akibatnya orang dapat secara langsung meringankan konsep yang melihat nurani sebagai suara Allah; tetapi apa yang Freud katakan itu sebenarnya adalah apa yang para pendeta Kristen belajar sebagai “nurani yang palsu” – lebih kurang suatu ketelitian irasional yang memperlihatkan kepada pikiran bukan tentang kesalehan melainkan keadaan jiwa yang sakit.

            Tetapi yang Freud sebut hati nurani ini justru bukan pandangan Kristen. Untuk orang Kristen, hati nurani bersifat praktis, yaitu pertimbangan moral yang dengan sadar dipraktikkan, yang menyebabkan pertumbuhan dalam wawasan dan kepastian bimbingan melalui pngajaran dan penggunaan, serta membawa integrasi batin, kesehatan, dan kedamaian bagi mereka yang menaatinya. Freud sama sekali tidak mengurus semua aspek tersebut.

Apakah perbedaan antara hati nurani yang semu dan yang benar?

Tuhan, aku perlu pertolongan-Mu untuk menolak hati nurani semu dan hanya mendengar, makin jelas, suara-Mu dalam batinku.

Sabtu, 02 Juli 2011

Hati Nurani


Vincent van Gogh, 1890. Kröller-Müller Museum. The Good Samaritan (after Delacroix).

Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.
2 Korintus 1:12

Hari nurani adalah salah satu aspek dari gambar Allah dalam kita; oleh Thomas Aquinas didefinisikan sebagai pikiran manusia membuat pertimbangan moral. Hati nurani berfungsi sebagai suara dalam hati yang sungguh berbicara kepada kita untuk menyuruh atau melarang, menyetujui atau mencela, membenarkan atau menghakimi. Hati nurani tidak merasa seperti kerja akal yang spontan; ia merasa, dan dimaksudkan secara ilahi untuk merasa, seperti sebuah monitor dari atas. Deskripsi hati nurani sebagai suara dari Allah menyoroti sifat unik dari operasi mental yang khusus ini. Namun demikian, kita tidak harus mengandaikan bahwa finalitas ilahi terdapat pada semua yang hati nurani katakan, sebab ia memiliki kekurangan dan perlu dididik oleh Alkitab dan pengalaman. Jadi lebih tepat mengatakan bahwa hati nurani adalah kapasitas untuk mendengar suara Allah daripada mendengar secara aktual dalam setiap pertimbangan yang hati nurani berikan.

            Usaha mengerti nurani sebagai emosi hanya membuatnya dipahami sebagai perasaan suka dan tidak suka. Jika analisis ini benar, maka pertimbangan moral dapat dibandingkan dengan “Coba ini, kamu akan suka!” dan, “Jangan makan itu, parah rasanya,” dan tidak ada standar universal yang dapat disepakati, sama seperti selera makan orang tidak dapat disamakan. Tetapi hati nurani sendiri mengatakan kepada kita bahwa moralitas adalah sesuatu yang hakiki yang bukan merupakan soal selera tetapi soal kebenaran; bukan soal perasaan utamanya, tetapi soal pertimbangan yang didasari atas prinsip-prinsip yang dalam dirinya sendiri sah secara universal dan mengklaim persetujuan semua orang.

Apakah Anda merasa bersalah tentang sesuatu? Jika ada, benarkah rasa bersalah itu?

Tuhan, apakah Engkau atau sesuatu dalam Firman-Mu menghakimiku tentang hal ini…?

Jumat, 01 Juli 2011

Kata-kata Sulit dalam Alkitab

Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.
2 Petrus 3:16

Sebagian besar kita menyetujui Petrus bahwa bagian-bagian surat Paulus sukar dimengerti! Juga ada kesulitan dan bagian Alkitab yang terkesan tidak sesuai. Tentang hal ini saya ingat tulisan tokoh Puritan abad tujuhbelas, William Bridge. Menurutnya, membicarakan kesulitan dalam Alkitab secara berlebihan menunjukkan keadaan hati yang buruk. Tambahnya: “Orang saleh, seharusnya mirip Musa. Ketika orang saleh melihat seolah Alkitab bertolakan dengan data sekular, yang ia lakukan adalah seperti Musa ketika ia melihat orang Mesir menyiksa orang Israel: ia membunuh orang Mesir itu. Ia meringankan kesaksian sekular, karena mengetahui Firman Allah benar adanya. Tetapi ketika ia menemukan bagian-bagian Alkitab yang terkesan tidak sesuai, ia melakukan seperti Musa ketika menemukan dua orang Israel bertengkar: ia mencoba mendamaikan mereka. Ia berkata, Ah, kalian adalah saudara, aku harus memperdamaikan mereka. Itulah yang dibuat orang saleh.”

            Hal lain perlu diingat. Masing-masing angkatan memiliki anggapan sendiri tentang ketidaksesuaian Alkitab. Biasanya yang dianggap ketidaksesuaian dalam satu angkatan, dipecahkan dalam angkatan berikutnya. Faktanya ialah memang ada berbagai detail yang terkesan tidak sesuai. Namun sebagai ungkapan iman kita berpada untuk hidup dengannya, sambil mengakui bahwa karena Alkitab adalah Firman Allah, hal-hal itu seolah ilusi penglihatan. Jika kita tidak dapat mengerti sesuatu kita tetap memercayai Allah tentangnya, dan mungkin generasi kita kemudian, dengan bertambahnya pengetahuan, akan mengertinya. Sebab, jika kita menolak doktrin bahwa Alkitab sepenuhnya andal dan otoritatif, kita membuat Alkitab menjadi seperti lilin yang dapat dilekak-lekuk semau siapa saja.

Apakah sikapku tentang kesulitan dan ketidaksesuaian dalam Alkitab?

Tuhan, tentang kesulitan ini… tolongku lebih percaya dan menggali lebih dalam.

Selasa, 28 Juni 2011

Kebenaran Allah dan Kebenaranku

Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya. Mazmur 96:13

Kita harus memilih, menerima doktrin Alkitab sebagaimana adanya atau membentuk doktrin lain yang kita sukai. Apakah kita akan menerima khayal bahwa manusia sanggup untuk mengadili dan menemukan kesalahan dalam kata-kata Pencipta mereka atau menyadari ide ini sebagai hujatan dan menolaknya. Kita harus memutuskan apakah akan meneruskan pertobatan ke tingkat intelektual atau kita masih mau memelihara dorongan dosa yang menginginkan dunia pemikiran kita bebas dari aturan Allah. Kita harus memutuskan apakah mengatakan bahwa kita sungguh memercayai Alkitab atau mencari cara-cara mengucapkan itu namun tanpa keharusan menjalani konsekuensinya.

            Jika pikiran manusia ditempatkan sebagai ukuran dan ujian kebenaran, ia akan menggantikan sang Pencipta yang tak terselami dengan berhala buatan manusia sendiri yang terselami; manusia memang ingin allah yang dapat ia kendalikan dan akhirnya ia akan menciptakan allah semacam itu. Ia akan melupakan (sebab ia tidak dapat mengerti) kesenjangan kekal yang memisahkan sang Pencipta dari ciptaan-Nya dan membayangkan suatu allah yang sepenuhnya terlibat dalam dunia ini dan sepenuhnya terselami secara intelektual. Bahwa teologi liberal abad sembilanbelas sangat bersifat panteistik bukan suatu kebetulan tetapi justru adalah akibat wajar. Sekali orang telah membalik relasi tepat antara Alkitab dan pikiran mereka dan mulai menghakimi pernyataan-pernyataan Alkitab tentang Allah daripada sebaliknya, pengetahuan mereka akan Pencipta dalam bahaya untuk hancur dan dengan kehancuran itu runtuh jugalah seluruh ide tentang penyelamatan adikodrati.

Dapatkah Anda melihat bahwa benar mengatakan kita harus membuat kebenaran menjadi kebenaran kita tetapi salah mengatakan bahwa kebenaran kita adalah kebenaran?

Tuhan, kiranya kebenaran-Mu semakin menjadi kebenaranku yang melalunya akui hidup, bergerak, dan memiliki keberadaanku.

Senin, 27 Juni 2011

Inti Alkitab

Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia. Markus 9:7

Apakah artinya mendengarkan Firman Allah yang tertulis? Arti jelasnya, menurut kitab Ibrani, ialah menerima dan merespons firman Allah yang bersifat proposisi (yaitu pesan-Nya) yang telah ia katakan kepada kita dari surga melalui bibir Firman pribadi-Nya (yaitu, Anak-Nya sendiri), dan juga melalui tutur kata para nabi serta rasul, mengenai keselamatan besar yang telah dimenangkan oleh Anak Allah untuk kita dengan mencurahkan darah-Nya untuk dosa-dosa kita. Firman Allah yang pribadi tampak sebagai pokok sentral dari firman yang bersifat proposisi baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Apa yang Yesus katakan tentang Alkitab Perjanjian Lama – “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku” (Yoh. 5:39) – dapat dikatakan secara setara untuk kedua Perjanjian.

            Pada akhirnya, mendengar Firman Allah yang tertulis, berarti melakukan yang Allah perintahkan pada saat pemuliaan ketika Ia berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”; yang pada gilir berikutnya berarti tidak saja menerima ajaran moral Yesus tetapi menerima Dia sebagai Juruselamat kita yang hidup, dengan mengandalkan darah-Nya yang tercurah untuk pengampunan dosa-dosa kita, dan berikutnya hidup sebagai hamba tebusan-Nya – yaitu orang-orang yang “mengikuti Anak Domba itu kemana saja Ia pergi” (Why. 14:4).

Apakah aku dalam artian alkitabiah mendengarkan Firman Allah (tertulis, lisan, pribadi), mendatangi, menyetujui, dan mengaplikasikannya? Adakah semacam tindak lanjut khotbah dalam gereja kita? Apakah kita berusaha untuk mengerjakan implikasinya dan memeriksa apakah kita menaati apa yang telah diajarkan kepada kita dan diubah olehnya?

Bapa, bersihkan segala gangguan dalam kehidupan kami supaya kami boleh sungguh datang dengan hati dan telinga terbuka kepada Firman-Mu.

Jumat, 24 Juni 2011

Yesus dan Alkitab


Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"
Matius 26:53-54

Tidak dapat disangkal bahwa Yesus dan para rasul menerima dan mengajarkan Alkitab Yahudi (Perjanjian Lama kita) adalah kesaksian Allah kepada diri-Nya dalam bentuk kesaksian manusia kepada-Nya. Tidak ada perbantahan bahwa Yesus, inkarnasi Anak Allah itu, memandang Alkitab sebagai Firman Bapa-Nya; atau bahwa Ia mengutip Alkitab untuk mengusir Iblis; atau bahwa Ia mengklaim tengah menggenapi Hukum maupun para nabi; atau bahwa Ia melayani sebagai seorang rabi (guru Alkitab), menjelaskan arti teks di mana kebenaran dan otoritas ilahi tidak diragukan lagi; atau bahwa Ia pergi ke Yerusalem untuk dibunuh dan, seperti yang Ia percayai, Ia dibangkitkan kembali sebab itulah jalan yang Alkitab katakan harus dilalui oleh Mesias dari Allah. Tidak juga ada perbantahan bahwa Allah membangkitkan Dia dari kematian sehingga melaluinya Allah membela kebenaran semua yang Ia katakan dan lakukan – termasuk cara Ia mengerti, mengajar, dan menaati Alkitab.

            Juga jelas bahwa para rasul melihat Alkitab sebagai ajaran pemberian Allah dalam bentuk lisan yang berasal dari Roh Kudus. Mereka mengklaim bahwa bukan saja prediksi tertentu telah digenapi dalam Kristus tetapi bahwa seluruh Alkitab Yahudi ditulis untuk orang Kristen, dan mereka menerima Perjanjian Lama untuk penggunaan dalam gereja bersama ajaran mereka sendiri. Para rasul melihat ajaran dan tulisan mereka sendiri sebagai diinspirasikan dalam arti yang sama seperti Perjanjian Lama diinspirasikan (yaitu bahwa Allah bicara dan mengajar dalam dan melalui yang manusia katakan dalam Nama-Nya).

Apakah kita dipimpin oleh Alkitab sebagaimana yang diberikan Allah atau sebagaimana yang kita pilah-pilah?

Tuhan, aku menerima apa yang Engkau dan para rasul katakan tentang otoritas Alkitab.

Kamis, 23 Juni 2011

Alkitab dan Gereja



Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu.
1 Timotius 6:20

Seperti halnya bukan Sir Isaac Newton yang memberikan kita kekuatan gravitasi, demikian juga bukan gereja yang memberikan kita Perjanjian Baru. Allah telah memberikan gravitasi melalui karya penciptaan; demikian juga Ia memberikan kita kanon Perjanjian Baru dengan menginspirasikan tiap buku di dalamnya. Newton tidak mencipta gravitasi tetapi menemukannya dengan mengamati jatuhnya apel; demikian pun berbagai gereja dalam Kekristenan, melalui usaha panjang berabad-abad secara bertahap, acak, tidak diatur, menyadari keluasan dan batas-batas kanon dari Allah dengan menguji dan memeriksa silang asal usul dan isi buku-buku yang menyandang nama para rasul atau yang ditegaskan berasal dari kalangan rasuli, untuk menemukan yang mana dari tulisan-tulisan itu yang memang dapat menunjukkan kebenaran klaim rasuli mereka, yaitu yang mewujudkan kebenaran yang dinyatakan oleh Allah sebagaimana yang telah diterima oleh para rasul.

            Andaikan ada yang mengusulkan bahwa gereja abad dua, tiga, atau empat yang melalui cara ini telah menciptakan kanon sendiri, dengan memilih literatur Kristen yang bermutu untuk mengotorisasinya sebagai suatu standar iman untuk masa depan, mereka sendiri pasti akan menggelengkan kepala terheran-heran bagaimana mungkin orang dapat memimpikan ide yang menyimpang dari kebenaran separah itu. Kepercayaan bahwa tulisan rasuli sendirinya diinspirasikan dan karenanya secara intrinsik bersifat otoritatif adalah pengandaian dari seluruh usaha penemuan itu. Satu-satunya yang gereja cari ialah buku mana yang mengklaim otoritas rasuli yang benar-benar demikian adanya – suatu pertanyaan yang utamanya menyangkut fakta sejarah, meski juga menyangkut pertimbangan tentang sifat dan isi dari sisi positif dan negatifnya.

Mengapa penting mengatakan bahwa gereja mengumpulkan dan mengakui bukan menciptakan kanon Alkitab?

Tuhan, Engkau telah mempercayakan Firman-Mu kepadaku; tolong aku menjaga dan membagikannya.

Rabu, 22 Juni 2011

Alkitab - 'bak Orkestra Simfoni

Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Lukas 24:27

Karena Alkitab adalah buku manusia dan Allah memilih menyatakan ajaran-Nya kepada kita dalam bentuk petunjuk yang diilhamkan dari para penulis manusia, jalan masuk ke pikiran-Nya haruslah melalui pemikiran mereka. Jadi disiplin dasar dalam menafsirkan Alkitab ialah selalu harus berusaha menentukan setepat mungkin apa yang penulis maksudkan dengan kata-kata yang ia tulis.
            Karena Alkitab adalah buku ilahi, enampuluh enam kitab di dalamnya adalah dokumen terpisah yang merupakan produk dari satu pikiran ilahi yang mewartakan satu pesan utama, kita harus berusaha mengintegrasikan hasil studi terhadap tiap kitab dan penulisnya ke dalam satu pemahaman utuh. Kita tahu bahwa pemikiran sang pengarang manusia adalah pemikiran Allah juga. Sementara ketika berusaha menyelaraskan semua pemikiran berbeda itu, kita mulai menyadari bahwa dari satu ke lain pokok pemikiran Allah maju dan merangkul lebih banyak dari yang para penulis manusia itu dapat lakukan. Kepenuhan makna tiap bagian Alkitab hanya akan tampak ketika ia ditempatkan dalam konteks bagian Alkitab lainnya – yang tentunya merupakan hal yang tidak dapat dilakukan oleh penulis manusia atas bagian itu.
            Alkitab seolah suatu orkestra simfoni dengan Roh Kudus sebagai Toscanini-nya; masing-masing instrumen telah diikutkan dengan kesediaan, spontan, dan kreatif, untuk memainkan nadanya hanya seperti yang diinginkan oleh sang konduktor, dalam harmoni penuh dengan bagian lainnya, meski tak seorang pun pernah mendengar musik keseluruhannya. Kini kita mendapat hak istimewa untuk mendengar keseluruhan musik itu.

Apakah cara ku membaca dan mempelajari Alkitab adalah dengan mendalami bagian-bagiannya dan mengaitkannya dengan keseluruhannya?
Tuhan, kiranya hidupku makin seperti suatu simfoni yang diorkestrasi oleh Roh Kudus.

Selasa, 21 Juni 2011

Buku yang Sepenuhnya Ilahi-Manusiawi

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
2 Timotius 3:16-17

Kata yang diterjemahkan “diilhamkan Allah” sebenarnya berarti “dinafasi oleh Allah,” produk dari Roh-Nya yang kreatif, sebagaimana halnya dengan dunia sendiri (Kej. 1:2; Mzm. 33:6). Analisis Alkitab tentang inspirasi ialah “manusia digerakkan (dituntun) oleh Roh Kudus yang berbicara dari Allah” (2Ptr. 1:21), dan dokumen yang dihasilkan dari inspirasi adalah kesaksian manusia kepada Allah dan sekaligus juga kesaksian Allah kepada diri-Nya. Apa yang kita katakan tentang Tuhan Yesus harus juga dikatakan tentang buku-buku Alkitab: Ia dan Alkitab sepenuhnya manusiawi dan sepenuhnya ilahi. Itu sebabnya Tuhan dan para rasul dapat mengutip Perjanjian Lama sebagai perkataan Musa, Daud, Yesaya (Mrk. 7:6-10; 10:3-6; Kis. 2:25-34; 3:22), dan juga sebagai perkataan Allah atau Roh Kudus (Mat. 19:5; Kis. 28:25; Ibr. 1:5-13; 3:7; 10:15).

            Tampaknya proses inspirasi itu terkadang disadari terkadang tidak. Pasti para penulis yang diilhamkan itu tidak pasif secara psikologis, yang menulis dengan pendiktean; ciri khas diri mereka terlihat jelas dalam semua tulisan mereka. Tetapi kenyataan ini tidak mempertanyakan keilhaman mereka sebagaimana penerimaan kita akan kemanusiaan Tuhan tidak membuat kita mempertanyakan kebenaran keilahian-Nya.

            Sebagai pengajaran Allah sendiri, Alkitab tepat disebut penyataan. Pertama dan terutama kita harus harus menerimanya sebagai catatan yang diinspirasikan dan tafsiran atas penyataan yang Allah berikan dalam sejarah melalui visi dan pesan lisan, melalui tindakan kemurahan dan penghakiman, serta puncaknya melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Ketika kelak Anda membaca Alkitab berusahalah untuk mengingat bahwa Allah memberitahukan kita tentang apa yang Ia lakukan dan apa yang ia minta kita lakukan.

Tuhan, terima kasih untuk apa yang telah Kau lakukan dan perintahkan aku untuk lakukan.

Senin, 20 Juni 2011

Puasa menurut Yesus

Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu.
Matius 6:16

Yesus mengandaikan bahwa para murid-Nya akan berpuasa dan berkata bahwa orang yang murni hatinya akan berpuasa; motivasi dan kelakuan mereka akan berbeda dari orang yang tidak dalam relasi keluarga dengan-Nya dan Bapa-Nya (Mat. 6:16-18).

            Dalam Alkitab kita temukan beberapa tujuan puasa. Puasa adalah bagian dari disiplin pengendalian diri; adalah cara berbagi yang menunjukkan bahwa kita bergantung pada Allah saja dan mendapatkan seluruh kekuatan dan kebutuhan kita dari Dia; adalah cara untuk fokus penuh pada Dia ketika mencari bimbingan dan pertolongan-Nya, dan menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh dalam pencarian Anda; terkadang juga adalah cara mengungkapkan kesedihan dan pertobatan yang dalam, sesuatu yang seseorang atau sekelompok orang akan lakukan untuk mengakui kegagalan mereka di hadapan Allah dan mencari kemurahan-Nya.

            Biasanya kita tahu bahwa puasa berarti tidak makan. Tetapi kita dapat berpuasa dari segala sesuatu. Jika kita menyukai musik dan memutuskan untuk tidak ke konser dalam rangka memakai waktu dengan Allah, itu adalah puasa. Ada baiknya memikirkan paralelnya pada persahabatan manusia. Ketika sahabat ingin ada bersama, mereka akan membatalkan kegiatan supaya dapat bertemu. Tidak ada yang magis dalam puasa. Puasa hanya satu cara berkata kepada Allah bahwa prioritas Anda saat itu adalah ingin bersendiri dengan Dia, dengan menyingkirkan apa yang merupakan keharusan, dan Anda telah membatalkan makan, pesta, konser, atau apa saja yang telah Anda rencanakan untuk memenuhi prioritas itu.

Jika Anda pernah berpuasa – apakah motif Anda adalah agar memiliki waktu dengan Allah tanpa gangguan? Atau apakah pemikiran tentang semacam jasa atau keajaiban terselip di dalamnya? Jika Anda ingin berpuasa, jangan lupa prinsip persahabatan dan komitmen mendalam dengan Allah ini.

Tuhan, ada saat ketika aku rindu Engkau dengan segenap hatiku. Kiranya makin banyak saat demikian sementara aku hidup dalam relasi keluarga-Mu dari waktu ke waktu.

Sabtu, 18 Juni 2011

Tidak Membalas

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu Matius 5:38, 39

Dalam zaman Yesus pembalasan diterima luas. Namun Yesus mengajar para murid-Nya bahwa itu bukan prinsip hidup mereka. Bahkan secara mengherankan, Ia berkata: “Jangan melawan orang yang berbuat jahat” (Mat. 5:39). Lalu Ia memberikan empat contoh aplikasi prinsip revolusioner ini.

            Pertama, jika seseorang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu. Kedua, jika seorang meminta bajumu, berikan juga jaketmu. Ketiga, jika seorang serdadu Roma memaksamu membawakan ranselnya, atau perisainya, atau apa saja sejauh satu mil, bawakan untuk mil kedua. Keempat, beri dan pinjamkan cuma-cuma. Jangan surut oleh pemikiran bahwa orang itu tidak akan mengembalikan kepadamu. Belajarlah kemurahan hati tanpa bertanya, “Apa yang harus kubuat agar memperoleh hal itu balik?” tetapi pikirkan saja kebaikan orang lain.

            Yesus maju lebih jauh. Para murid-Nya harus lebih dari hanya tidak melawan kejahatan. Mereka harus mengasihi musuh mereka dan berdoa bagi para penganiaya mereka jika mereka ingin menjadi anak-anak Bapa mereka yang bermurah hati dalam memberikan semua yang baik kepada semua yang mengasihi dan menghormati Dia, juga mereka yang melawan Dia (Mat. 5:44-48).

            Pikirkan bagaimana Yesus mencontohkan prinsip ini. Ketika mereka menyalibkan Dia Ia berdoa. “Bapa, ampuni mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Luk. 23:34). Di dalam tindakan-Nya itulah terletak pengharapan kita, sebab dalam kekuatan kita sendiri kita tidak mungkin menghidupi prinsip kasih yang menyangkal diri ini dalam merespons dan memperlakukan orang lain. Tetapi Yesus yang telah melakukan itu, dapat memampukan kita melakukannya.

“Jangan melawan orang yang berbuat jahat” (Mat. :39). “Lawanlah iblis” (Yak. 4:7). adakah pertentangan di sini atau tidak?

Tuhan, dalam repons ku kepada orang lain, apakah aku menghidupi tingkatan Kristen lebih rendah, yaitu dengan mengikuti hukum pembalasan?

Jumat, 17 Juni 2011

Benar dalam Kata dan Sikap

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu…
Matius 5:33-34

Orang Farisi telah membentuk beberapa peraturan tentang sumpah, salah satunya mengatakan bahwa tidak mengapa melanggar sumpah kecil yang tidak menyebut nama Allah secara langsung. Tetapi Yesus menegaskan bahwa hukum tentang sumpah sebenarnya tentang bersikap benar, yaitu memegang perkataan seseorang. Anjuran-Nya ialah sebaiknya kita mengatakan ya yang biasa (tanpa sumpah) atau tidak yang biasa (tanpa sumpah) dan tiap kali berpegang pada apa yang telah kita ucapkan (35-37); tidak perlu embel-embel; tanpa “taruh tangan di dada dan siap mati” untuk menguatkan sesuatu; sama sekali tanpa sumpah. Ingat sumpah Simon Petrus ketika ia berusaha meyakinkan orang di rumah imam besar waktu Yesus diadili! Orang seringkali menambahkan sumpah untuk meyakinkan orang bahwa ia berkata benar, padahal sebenarnya tidak demikian.

            Jauhi semua itu, tegas Yesus. Jangan menipu orang dengan bersumpah. Hendaknya “ya” kamu adalah “ya” dan “tidak” kamu adalah “tidak.” Lebih dari itu adalah jahat!

            Prinsip yang mendasari pembahasan tentang sumpah ini ialah bahwa rincian Hukum taurat harus ditafsirkan dalam rangka semangatnya. Di sini semangat hukum ialah dalam semua yang kita katakan kita harus menghargai dan memegang kekudusan kebenaran dan menjaga perkataan kita, seperti Allah menjaga perkataan-Nya. Peraturan apa pun yang tidak segaris dengan prinsip ganda ini bukan termasuk Hukum Allah.

Apakah semua perkataanku dan bagaimana aku mengatakannya sungguh di bawah Ketuhanan Yesus?

Tuhan, tuliskan hukum-hukum-Mu di hatiku agar aku makin hari makin sanggup melakukan baik yang tertulis maupun yang tersirat.

Mencegah Orang Lain Berdosa

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.  Tetapi Aku berkata kepadamu…
Matius 5:31-32

Perceraian dalam pandangan umum Yahudi diperbolehkan jika seseorang merujuk ke prosedur Perjanjian Lama (Ul. 24:1-4). Dalam bagian lain (Mat. 19:3-9) Yesus menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai perceraian dan bahwa maksud-Nya sejak awal adalah pernikahan monogami seumur hidup. Di sini, Ia hanya menegaskan satu hal, yang intinya mengatakan: Tahukah kamu bahwa laki-laki yang menceraikan istrinya (bukan karena si istri melakukan dosa seksual), telah menyebabkan istrinya dan laki-laki yang kelak menikahinya melakukan dosa seksual? Di Palestina abad pertama tidak terdapat jaminan sosial, tidak ada jaminan kesejahteraan bagi seorang janda cerai, dan tidak ada kemungkinan untuk mengembangkan karier seperti pada zaman ini. Jadi satu-satunya hal yang dapat ia lakukan adalah mencari laki-laki lain yang bersedia memeliharanya. Entah ia resmi menikah atau tidak, ia akan memasuki relasi mirip pernikahan dengan laki-laki itu. Jadi dengan menceraikan istri, orang telah menyebabkan rentetan konsekuensi yang jauh dari ideal dan praktis membuat perempuan dan laki-laki yang menikahinya menjadi para pezinah.

            Prinsip dasarnya di sini ialah bahwa seperti halnya kita harus menjaga diri dari dosa, demikian juga kita harus berusaha mencegah orang lain dari dosa. Kita memiliki tanggungjawab untuk tidak memimpin atau mendorong orang lain ke dalam dosa yang disebabkan oleh tindakan kita. Jika kita adalah murid Yesus sejati kita harus mempertimbangkan dampak tindakan kita dalam masalah perceraian ini seperti juga dalam semua wilayah kehidupan kita lainnya.

Kita harus menanggung kesalahan, jika kita menyebabkan orang lain di bawah dorongan kuat untuk berdosa.

Tunjukkanku, Tuhan, jika aku melakukan atau merencanakan sesuatu yang membuat orang lain sulit untuk menolak kecenderungan bertindak keliru.

Kamis, 16 Juni 2011

Perzinahan dan Hawa Nafsu

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu…
Matius 5:27-28

Orang Farisi menganggap bahwa perintah ketujuh hanya melawan seks bebas. Tetapi Yesus menambahkan bahwa semua orang yang terlibat dalam fantasi nafsu tentang orang lain telah melakukan perzinahan di dalam hatinya (Mat. 5:28).

            Ini adalah contoh yang Yesus berikan untuk melukiskan prinsip sangat penting untuk menafsirkan Hukum, yaitu bahwa Hukum meliputi keinginan dan impian selain juga perbuatan. Kita tidak boleh beranggapan bahwa karena kita tidak melakukan sesuatu, Allah tidak peduli bahwa kita ingin melakukan itu. “TUHAN melihat ke dalam hati” (1Sam.16:7) dan melihat pikiran penuh nafsu serta fantasi tidak senonoh sebagaimana Ia memerhatikan tindakan penuh nafsu serta perilaku tidak senonoh.

            Demikian Yesus berkata lebih lanjut (Mat. 5:29-30), tegaslah terhadap diri Anda sendiri: “Jika mata kananmu membuatmu berdosa, cungkillah dan buanglah.” Ia mengatakan hal sama tentang tangan kanan. “Tetapi saya tidak melakukan dengan mata kanan atau tangan kanan,” orang mungkin berkata. Jika mereka menyebabkan Anda tersandung, lepaskan diri Anda darinya dengan segenap tenaga, jawab Yesus. Lebih baik begitu daripada dikirim ke neraka!

            Sesuatu harus kita kerat dari kehidupan kita (tidak saja yang berhubungan dengan soal seksual) jika kita ingin hati yang jernih. Standar Allah dalam wilayah ini dan wilayah lainnya juga sangat tinggi dan petunjuk-Nya jelas: hawa nafsu seperti juga perzinahan dilarang, dan kita perlu kejam dengan diri sendiri jika kita tidak ingin menghancurkan jiwa kita.

Adakah sesuatu dalam hidupku yang selalu menyebabkanku berdosa? Apa yang harus kubuat?

Terima kasih Tuhan, bahwa kematian-Mu di salib menutup semua dosa – dosa terbuka dan dosa tersembunyi juga. Aku mengakui dosa tersembunyi ini kepada-Mu…

Rabu, 15 Juni 2011

Pembunuhan dan Kemarahan

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu… Matius 5:21-22

Orang Farisi menganggap bahwa hukum keenam hanya tentang pembunuhan sebagai tindakan. Yesus memberitahu para murid-Nya (Mat. 5:21-36) bahwa hukum itu lebih luas maknanya, termasuk melarang kejahatan, niat buruk, dencam, permusuhan. Prinsipnya ialah bahwa hukum Allah tidak saja mencakup tindakan (membunuh sungguhan), tetapi sikap (menginginkan orang agar mati).

            Yesus memberikan ilustrasi dari relasi intern para murid. Jika Anda marah kepada saudara Kristen, atau melukai dia, atau menyebutnya bodoh, demikian ujar Yesus, Anda dalam bahaya kebinasaan rohani, sebab hati Anda salah. Jadi jika Anda beribadah lalu teringat bahwa saudara Anda menyimpan sesuatu terhadap Anda karena Anda telah memperlihatkan niat buruk atau dendam, tunjukkan pertobatan kepada Allah dan kasih kepadanya dengan segera membereskan masalah itu sebelum Anda menyembah Allah, atau Anda akan mengulang dosa Kain. Sama dengan itu, jika seseorang menuduh Anda, berdamailah segera; jangan biarkan permusuhan berlanjut. Nasihat Paulus relevan: boleh marah tetapi jangan sampai matahari tenggelam; jangan beri si iblis kesempatan (Efs. 4:26-27). Kemarahan adalah unsur yang tertanam dalam sifat manusia, jadi pertanyaannya bukanlah apakah kita akan marah (kita pasti ada kemarahan!), tetapi apa yang harus kita lakukan ketika kita marah. Jawab Paulus: jangan pupuk kemarahan Anda: berdamai segera; minta Allah dan teman Anda mengampuni sebab Anda telah membiarkan kemarahan tersimpan. Jika tidak, Anda memberi si iblis tempat pijak dalam kehidupan Anda.

            Yesus ingin kita sadar bahwa hukum-hukum Allah meliputi perbuatan maupun sikap hati. Kita harus mengendalikan hasrat dan perbuatan kita.

Haruskah kita menunggu sampai motif kita beres, baru kita bertindak?

Tuhan, buat aku sadar akan sikap-sikapku.

Selasa, 14 Juni 2011

Kebenaran Sejati

Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Matius 5:20

Para ahli Taurat dan orang Farisi menyegani, mempelajari, dan menguraikan Hukum Allah – atau begitulah yang mereka pikir. Para rabi zaman Yesus setuju bahwa dalam Perjanjian Lama ada 148 perintah serta 365 larangan. Angka-angka tadi menjelaskan kepada kita apa yang salah dengan mereka.  Mereka menganggap bahwa Hukum hanya mengurusi pola kelakuan, seperti peraturan lalu lintas atau buku aturan perindustrian, dan melaksanakannya tidak lain berarti menyesuaikan diri dengan pola dan peraturan lahiriah.

            Yesus menantang pengertian sempit itu. Ia membuang peraturan eksternal – yaitu kebenaran yang para pemimpin agama Yahudi praktikkan – dan menggantinya dengan kebenaran yang dari Roh sambil juga mengganti yang tertulis dan memulai dari hati sebelum ungkapannya dalam kehidupan nyata.

            Kebenaran semacam itu hanya dapat ditemukan dalam orang yang telah lahir baru. Yesus tidak menyatakan itu secara eksplisit di sini, tetapi akan menjadi jelas jika Anda membaca Khotbah di Bukt bahwa tidak ada seorang pun secara alami dapat memenuhi standar yang Ia bentangkan. Kebenaran yang Ia tuntut mencerminkan hati dan sifat Allah, dan perilaku sedemikian tidak dapat lahir dari hati serta sifat kita sendiri sampai kita lahir dari dan digerakkan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Khotbah di Bukit (khususnya Mat. 5:21-48) Yesus bukan sekadar berkata, “Jangan buat ini, atau itu,” tetapi “Jadilah orang macam ini:” seorang baru, yang dijadikan baru oleh anugerah penyelamatan Allah.

Baca Matius 5 secara lambat dan melalui Roh izinkan ayat-ayat itu, menyelidik hati dan hidup Anda.

Tuhan, terima kasih bahwa aku adalah ciptaan baru dalam Kristus, yang diperbarui dalam hati untuk kehidupan yang benar. Tolong aku menjadi apa adanya aku dalam anugerah-Mu.

Senin, 13 Juni 2011

Perenungan dan Doa

Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.
Mazmur 19:14
 

Perenungan – memikirkan tentang Allah dalam hadirat Allah – adalah persiapan yang berguna untuk berbicara secara langsung kepada Allah dan hal ini merupakan kebutuhan kita tiap hari. Dalam dunia ini, wawancara dengan orang-orang penting diatur dengan seremoni, keduanya disebabkan oleh unsur hormat kepada orang bersangkutan dan juga agar wawancara itu memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

            Bergegas ke Allah secara seenaknya memperkatakan apa saja yang muncul di pikiran kita, tanpa berhenti untuk menyadari keagungan-Nya, anugerah-Nya, dan keberdosaan serta kerendahan kita, sekaligus adalah sikap tidak menghormati Dia dan mendangkalkan persekutuan kita sendiri dengan-Nya. Saya sendiri ingin lebih baik dari pendekatan semacam itu. Seperti orang lain, saya merasa lebih baik membuka doa tentang kebutuhan dengan membaca Alkitab dan memikirkan apa yang bagian Alkitab itu katakan tentang Allah serta mengubah pengertian itu ke dalam pujian sebelum saya lanjut berdoa.

            Mengingat untuk menghormati Allah sebelum membuka mulut untuk menyapa-Nya membuat perbedaan berarti dalam kualitas persekutuan dengan-Nya selanjutnya. Mengingat, dan memikirkan siapa Allah sesungguhnya, sama sekali bukan kegiatan membuang waktu; sebaliknya, itu adalah cara vital untuk mengenal Allah, sebagaimana doa seharusnya.

Gunakan seluruh Mazmur itu untuk menolong perenungan Anda sebelum doa.

Tuhan, aku hanya mengerti dan mengenal Engkau secara samar, namun aku sadar akan sesuatu tentang kemuliaan dan kebesaran-Mu sementara aku membawa permohonanku kepada-Mu…