Selasa, 02 Juli 2013

Kedudukan Rahmat dan Hadirat

Buatlah dua kerub dari emas tempaan, satu pada setiap ujung tutup peti itu. Kedua kerub itu harus dijadikan satu bagian dengan tutupnya, dan dibuat saling berhadapan dengan sayap yang terbentang di atas peti itu - Keluaran 25:18-20 (BIS)
 
Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, - Ibrani 5:8-9
 
Tabut perjanjian dalam Perjanjian Lama adalah tempat di mana hadirat dan rahmat Allah dapat dialami nyata oleh umat-Nya. Perhatikan bagaimana Allah menginstruksikan Musa tentang pembuatan tutup tabut itu. Bongkahan emas padat harus dipahat menjadi bentuk dua kerub yang saling berhadapan dengan bentangan sayapnya saling bertemu melambangkan hadirat-Nya yang menaungi penuh rahmat.
 
Proses pembentukan tutup tabut ini melukiskan kenyataan yang harus dialami oleh Juruselamat kita, Yesus Kristus. Agar bisa menjadi pokok keselamatan bagi kita, Ia harus lebih dulu menjalani proses berat: menjadi manusia, dicobai, ditolak, menderita secara jasmani dan rohani.
 
Demikian kita pun. Jika kehidupan kita hendak menjadi basis di mana rahmat dan hadirat-Nya hinggap, serta keselamatan yang tersedia dalam Yesus boleh terpancar luas, kita juga harus melalui proses peleburan, pemahatan, pembuangan bagian-bagian yang tidak benar dan tidak perlu, sampai rahmat dan hadirat-Nya boleh nyata menaungi hidup kita teralami oleh orang lain.
 
Semoga pancaran rahmat dan hadirat-Nya saja yang hadir dalam kita dan bukan segala kemuliaan semu lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar