Jumat, 30 Juni 2017

Lahirnya bangsa-bangsa

Inilah keturunan Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka. 
Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh dan Tiras....Dari mereka inilah berpencar bangsa-bangsa daerah pesisir. Itulah keturunan Yafet, masing-masing di tanahnya, dengan bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka.... Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan... Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi; ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: "Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN." Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear. Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu...  Lahirlah juga anak-anak bagi Sem, bapa semua anak Eber serta abang Yafet. Keturunan Sem ialah Elam, Asyur, Arpakhsad, Lud dan Aram. -- Kejadian 10

Kejadian 10 menggambarkan tiga cabang besar dalam satu pohon umat manusia yang keluar dari Adam-Hawa dan melalui Nuh, Yaitu, cabang dari Yafet, cabang dari Ham dan cabang dari Sem. Tidak banyak yang diceritakan tentang Yafet hanya bahwa mereka ini yang menyebar ke pesisir (pulau-pulau) baik di sekitar Eropa, Asia Barat sampai ke Timur jauh. Beberapa nama seperti Yawan, Tubal, Magog muncul lagi di beberapa nubuat eskatologis Yesaya, Yeremia. Dari keturunan Ham, Nimrod mendapatkan sorotan sebagai pemburu, pendiri kota dan penguasa di kota-kota yang didirikannya . Dua di antaranya adalah nama bangsa-bangsa yang kelak menjadi musuh penindas Israel yaitu Asyur, Babel, di samping Kanaan dan Filistin. Sem meski merupakan bapa dari lima anak, disebut sebagai "bapa semua anak Eber." Kita tahu bahwa Sem adalah bapa dari bangsa-bangsa semitik, namun dari Eber ini tepatnya ke luar Abram orang Ibrani. 

Jika dilihat dari perspektif Perjanjian: dari Eber ini keluar Abram,.. Israel... memusat kepada Yesus Kristus yang menggenapi Injil Kerajaan Allah. Bersyukur bahwa oleh Injil Kerajaan kini yang bukan keturunan Ibrani yang tanpa perjanjian dan yang tidak mengenal Allah melainkan menyembah berhala-berhala mati, telah dibukakan kemungkinan untuk menjadi imamat rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri; dan kita yang mengikut Yesus tidak saja dicangkokkan ke dalam generasi ilahi itu tetapi juga dipercayakan meluaskan jangkauan Kerajaan di bumi melalui kesaksian hidup, karya kontributif kemanusiaan dan pewartaan Injil-Nya. 

Kamis, 29 Juni 2017

Mabuk Anggur

Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia: "Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya." Lagi katanya: "Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya." Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah. Jadi Nuh mencapai umur sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati.  -- Kejadian 9:20-29

Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. -- 1 Petrus 4:8

Nuh hidup benar, tidak bercela, berjalan dengan Allah, beroleh anugerah menjadi perintis generasi manusia zaman baru. Pasca air bah ia berhasil mengembangkan perkebunan anggur. Di tengah keberhasilannya ia bersuka merayakan berkat tetapi tanpa pengendalian diri. Ia minum sampai mabuk, sampai telanjang. Kejadian berikutnya melengkapi kesedihan dalam kisah ini. Anaknya yang termuda yang karena berada bersama dia kemungkinan ikut minum sampai mabuk, bereaksi salah terhadap ketelanjangan ayahnya. Akibatnya, sesudah Nuh siuman Ham yang menurunkan bani Kanaan tidak beroleh doa berkat Nuh. Hanya Sem dan Yafet yang bereaksi dengan menjaga hormat kepada ayahnya yang beroleh doa berkat Nuh.

Untuk kita simak dari kegagalan Nuh: Pertama, anugerah, keselamatan, hidup benar di masa lalu bukan andalan untuk kita seterusnya otomatis akan benar terus. Penting untuk tidak berhenti berjalan dengan Allah, terus menerus mengandalkan perkenan Allah, tumbuh dalam berbagai kapasitas manusiawi yang dikuduskan. Kedua, berkat bukan tujuan akhir. Jangan menjadi seperti orang dunia yang menjadikan kerja, usaha, sukses dan segala kaitannya sebagai tujuan akhir, Jangan mabuk nggur, mabuk kerja, mabuk harta, mabuk kuasa. Yang harus kita usahakan dan pelihara dengan rajin dalam kehidupan ini adalah bersekutu akrab dengan Allah dan segala aspek kehidupan berlangsung dalam proses berjalan dalam anugerah. Pelajaran dari reaksi anak-anak Nuh: Jangan ikut-ikutan dalam kesalahan orang lain termasuk dari pihak yang harusnya menjadi teladan namun dalam momen kelengahannya gagal menjadi teladan. Jangan bereaksi salah terhadap kesalahan orang lain -- membenci, mengejek, menghina, menertawakan, mensyukuri... -- tetapi doakan dan perlakukan dengan hormat agar yang bersalah boleh dikembalikan kepada kehormatan sebagai gambar Allah. 

Rabu, 28 Juni 2017

Berkat-Janji-Tanda

Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. ...Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.(bacalah Kejadian 9)

Generasi baru, dunia baru, era baru -- terdengar indah bukan? Apabila kita menempatkan diri di situasi Nuh cs kita menyadari bahwa sangat mungkin mereka dalam keadaan gentar, limbung, putus asa. Bayangkan perasaan mereka sementara air berangsur-angsur menelan melumatkan semua yang ada di permukaan bumi -- bersyukur namun juga gentar! Bayangkan ketika beberapa bulan sesudah pemusnahan lokal-regional-global itu mereka keluar dari bahtera -- bagaimana kesan mereka tentang Allah, tentang hidup, tentang bumi ini menyaksikan tanda kematiandi mana-mana? Pepohonan dan bangkai binatang serta manusia yang membusuk. Meski mereka selamat mungkin sekali tidak ada kekuatan dari dalam potensi dan kapasitas manusiawi mereka sendiri untuk melangsungkan kehidupan! Allah mengerti kebutuhan mereka akan penguatan pasca pengalaman traumatis! Ia memberi berkat-Nya: meneguhkan kembali berkat dan amanat-Nya untuk mereka beranak-cucu, mengembangkan bumi disertai peluasan tentang binatang kini menjadi bagian dari menu mereka. Ia memberi mereka janji-Nya -- perjanjian yang lingkupnya bersifat alami dan hakikatnya merupakan perjanjian sepihak. Ia sendiri sebagai pembuat perjanjian akan memastikan bahwa kehidupan tidak akan lagi dimusnahkan dengan cara yang sama. Tidak cukup janji, Ia lalu memberikan tanda alami -- pelangi. Bentuk pelangi adalah persis seperti busur namun dalam posisi terbalik -- bukan diarahkan ke bumi tetapi ke langit. Tanda yang merupakan gejala alami setiap kali terjadi hujan lalu patikel-partikel air di udara berbenturan dengan cahaya terjadilah efek prismatik yaitu keluarnya spektrum warna-warni indah yang merangkuli bumi. Kini gejala alami ini diberi makna teologis tentang gencatan senjata di pihak Allah, tentang rangkulan rahmat dan anugerah-Nya atas hidup yang Ia ciptakan dan selamatkan. Dan, tiap kali tanda itu muncul -- manusia melihatnya diingatkan akan perjanjian Allah, Allah melihatnya mengingat" akan janji-Nya sendiri. 

Untuk orang percaya, tanda yang berfungsi ganda mengingatkan kita dan Allah itu adalah Salib Yesus Kristus. Melihat salib-Nya kita diyakinkan, diteguhkan, dikuatkan akan karya penyelamatan Allah untuk kita dan kasih-Nya untuk seisi dunia. Yesus yang pernah tersalib-bangkit-naik dan kini bersyafaat bagi kita di surga, menjadi pengingat di hati Allah dalam kekekalan akan semua umat kepunyaan-Nya yang kini masih harus berjuang mewujud-nyatakan tanda-tanda keselamatan itu. Maka, hanya jalan salib adalah jalan untuk kehidupan berkelanjutan.

Selasa, 27 Juni 2017

Keluarga jasmani-rohani

Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa... -- Kejadian 6:17-22 (baiknya baca s/d psl. 9)

"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." -- Kisah Rasul 16:31

Masih ingat alasan TUHAN memutuskan untuk memusnahkan manusia zaman Nuh? Ya, pola hidup keluarga mereka: kawin-mawin mengikuti dorongan badani, sampai tidak memedulikan prinsip kesepadanan untuk menjadi generasi yang benar dan menggambarkan Allah. Alasan dan maksud Allah menyelamatkan Nuh adalah agar Nuh-istri, anak-anak dan mantu-mantu mereka menggambarkan Allah dan mewujudkan mandat dari-Nya. Sepanjang Alkitab kita saksikan modus operandi penyelamatan Allah atas manusia itu dilakukan dalam keluarga-keluarga: Dari Abraham di PL sampai ke gereja-gereja rumah di Kisah Rasul. 

Karena pengaruh evangelisasi Barat gereja cenderung individualistis dalam pola penginjilan, pemuridan dan pastoralnya. Dalam sebuah buku penting tentang sukarnya injil mencapai bangsa Jepang diungkap factor persisnya karena individualisme ini. Mereka berkata "Jika dengan menerima Yesus saya (saja) diselamatkan, sementara orangtua, para leluhur saya masuk nereka, lebih baik saya bersama leluhur saya..." Tentu kita tidak dapat menginjili orang yang sudah mati, namun penting dipikirkan pendekatan dan penjangkauan PI, misi, pemuridan, pastoral yang sungguh memperlakukan orang sebagai unit keluarga bukan sebagai sel tunggal yang mandiri. Sampai sekarang masih banyak tempat di penjuru dunia terutama di Asia-Afrika dimana terjadinya pertobatan-baptisan masal yaitu keluarga-keluarga, klan-klan bahkan suku-suku, Di banyak gereja Barat sudah dibiasakan, misalnya, dalam ibadah keluarga duduk bersama dan bukan memisah anak-anak ke kelas SM, Tidak cukup hanya mengadakan bulan keluarga, perlu dipikirkan pendekatan PI-pemuridan-pastoral-pelayanan yang sungguh memperlakukan orang sebagai bagian dari keluarga.

O Tuhan, terima kasih rencana peyelamatan-Mu berlangsung dalam keluarga. Tolong kami orangtua untuk sungguh mendoakan, menginjili dan membimbing generasi baru kami. Tolong sebagai gereja kami diberikan hikmat bagaimana mengekspresikan unit-unit keluarga dalam kegerejaan kami. Tolong agar terwujud hubungan timbal balik antara keluarga hubungan darah kami dan kekeluargaan ilahi kami. Demi darah Yesus yang telah menyatukan kami sebagai keluarga-Mu. Amin.

Sabtu, 24 Juni 2017

Benar, Tak Bercacat, Hidup dengan Allah

Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. --- Kejadian 6:8-12

Apabila semua orang di sekeliling kita menyimpang, korup, bejad, kejam, rusak... apakah itu menjadi alasan untuk kita juga sama dengan orang lain, atau ada kemungkinan untuk kita hidup kudus? Dalam keadaan orang zaman Nuh yang dalam penilaian Allah kawin-mawin seenaknya, rusak di hadapan Allah, penuh kekerasan dan "rusak benar," Nuh justru hidup benar, tidak bercela di antara mereka yang rusak benar itu dan hidup bergaul dengan Allah. Dan itu bukan dihidupinya sewaktu-waktu hanya dalam tampilan melainkan ratusan tahun sampai di usia 600 ketika Allah memutuskan untuk mengirimkan air bah untuk memusnahkan semua generasi jahat itu. Apa yang memungkinkan Nuh secara relatif benar, tidak bercela itu? Karena ia hidup bergaul dengan Allah; inilah yang memungkinkan magnit dahsyat dosa di sekelilingnya dan dorongan sifat dosa di dalamnya relatif dapat dikalahkan. Dan tentu saja ada interaksi antara kesanggupan Nuh ini dengan yang pertama kali disebut dalam Kejadian yaitu kasih karunia atau anugerah Allah. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa anugerah Allah sudah menyatakan diri -- memanggil Adam, membuatkan cawat kulit binatang, memberi janji benih perempuan, memimpin Habel dan menegur Kain, menemani Henokh, dan kini menyanggupkan Nuh untuk hidup benar di tengah generasi yang tidak benar. 

Sukar bahkan sangat sulit menjadi -- guru, staf admin, petugas pajak, pelaku hukum, pebisnis, siswa, aktris, pengkhotbah, novelis, penggubah lagu, periset, ilmuwan... -- yang benar, tidak bercela dan hidup berjalan dengan Allah -- di tengah-tengah lingkungan yang berlawanan arus. Tetapi, tidak sanggupkah anugerah-Nya? 

Jumat, 23 Juni 2017

Atraksi Jasmani bukan Fondasi Keluarga

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." -- Kejadian 6:1-7

Mengapa Allah mengambil Roh-Nya dari manusia, menyingkatkan usia mereka hanya sampai 120 tahun, menyesal telah mencipta manusia, pilu hati dan akhirnya memutuskan untuk menghapuskan manusia dari muka bumi? Jawab: kawin-mawin manusia tidak berkenan kepada Allah. Allah menginginkan manusia menjadi pasangan yang sepadan yang menjadi gambar-Nya untuk berekanan dengan Dia menumbuh-kembangkan bumi. Tetapi yang terjadi di era pra-bah Nuh menentang maksud Allah itu dan mengancam langsung pewujudan rencana penyelenggaraan Allah atas bumi. Pasal 4 dalam pola pencatatan narasi Kejadian telah membuat pemisahan jelas antara generasi Kain dan Lamekh yang menjauhi Allah, menolak anugerah dan mengembangkan pola budaya ego-sentris, dari generasi Set yang pertama memanggil nama TUHAN (Yahweh). Maka ketika anak-anak lelaki Allah (generasi Set) hanya karena atraksi fisik kawin dengan anak-anak perempuan manusia (generasi Kain/Lamekh) maka pemisahan itu pun lenyaplah. Dengan kata lain pola kawin-mawin campur tanpa memedulikan rencana Allah ini membuat kelangsungan rencana Allah di bumi-Nya terancam lenyap. Itulah mengapa Allah menyesal mencipta manusia dan dengan pilu berniat melenyapkan seluruh manusia dan menumbuhkan generasi baru yang diluputkan yaitu Nuh.

Kiranya di dalam gereja dan keluarga Kristen rencana Allah, kesepadanan sebagai gambar Allah, kesadaran dan prinsip generasi ilahi sungguh diajarkan dan dipraktikkan dalam persahabatan pra-nikah, keputusan untuk nikah, dan kelangsungannya pasca-nikah. Amin. 

Kamis, 22 Juni 2017

Arti Hidup Nyata

Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati...  Henokh hidup bergaul dengan Allah (harfiah: berjalan bersama Allah) selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. -- Kejadian 5
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. -- Filipi 1:21-24

Dalam ukuran kuantitas Henokh tidak sampai 50% panjang umur ayahnya atau anaknya yang mencapai 960an tahun. Bahkan semua orang generasi perdana keturunan Set ini mencapai 900an tahun, hanya Henokh yang 365 tahun. Kendati demikian ada dua komentar tentang Henokh yang tidak diberikan kepada yang lain, yaitu ia berjalan bersama Allah, dan [saking seringnya dan mesranya ia berjalan dengan Allah lalu suatu hari] ia tidak kembali lagi lalu selamanya ada bersama Allah. Dalam terang Perjanjian Lama yang sering mengistilahkan hidup dengan berjalan, hidup adalah berjalan bersama Allah, berjalan di hadapan Allah, berjalan mengikuti Allah -- sampai akhirnya seperti Henokh mati seolah bukan mati karena menjadi perpanjangan dari pengalaman berjalan bersama-di hadapan-mengikut Allah itu. Dalam terang surat Filipi hidup adalah dari Kristus, untuk mengenal Kristus, menikmati Kristus, meniru Kristus, melakukan karya-karya Kristus  Sedemikian rupa riilnya bahwa hidup adalah Kristus sampai mati adalah keuntungan. Inilah kriteria hidup yang penuh, fulfilled, bermakna, sukses dalam artian sesuai ukuran maksud Allah dan kemanfaatan bagi sesama. Maka, marilah kita jalani hidup dalam teladan Henokh dan Paulus ini: 

Hidup adalah Kristus -- berjalan bersama Dia, berjalan di hadapan Dia, berjalan mengikut Dia, berjalan mengerjakan karya-karya-Nya -- di dalam kita beribadah, berkarya, berkeluarga, bermasyarakat... sampai kita bertemu Dia muka tatap muka. Amin.

Rabu, 21 Juni 2017

Memanggil Nama TUHAN

Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.... Adam bersetubuh pula dengan isterinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya: "Allah telah mengaruniakan kepadaku anak yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya." Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN. -- Kejadian 4:16, 25-26

Semua manusia mewarisi sifat dosa dan berbuat dosa. Tetapi, di antara semua yang berdosa dan tidak layak itu sebagian tidak menerima teguran dan panggilan kasih Tuhan bahkan menjauh dari hadirat-Nya, sebagian lagi menerima teguran dan panggilan kasih-Nya dengan kesadaran akan kesalahan dan keaibannya, bertobat, menyambut kekudusan dan anugerah pengampunan-Nya dengan penuh syukur. Di dalam kelompok kedua ini Allah dipanggil dengan Nama-Nya sebagai Yahweh -- TUHAN. Frasa "memanggil Nama TUHAN" muncul lagi dengan Abraham dan keturunannya ketika menyembah Allah. Dalam Nama ini terkandung beberapa makna yang dalam tentang diri Allah dan tentang hubungan manusia dengan-Nya. Pertama, Nama ini berarti Aku Ada yang Aku Ada -- Nama yang menyingkapkan keunikan dan keberadaan Allah yang melampaui waktu, yang HIDUP bersama narasi orang-orang yang HIDUP-nya merespons Dia sepenuh hidup dalam waktu-waktu kehidupan mereka. Ia sumber dan norma bagaimana hidup, penyembahan dan karya hidup kita, bukan sebaliknya. Kedua, inilah Nama perjanjian yang arti jelasnya Ia singkapkan kepada Musa. Nama Pribadi yang prihatin dan peduli akan penderitaan manusia; yang memutuskan untuk bertindak masuk ke dalam penderitaan manusia. Dengan menyeru Dia berarti orang menyambut panggilan dan pembentukan-Nya dan masuk dalam hubungan yang sesuai kriteria Dia tentang hidup dan penyembahan dan karya nyata. Dalam terang Perjanjian Baru kita menjadi jelas bahwa kehidupan dan penyembahan yang sungguh di dalam hubungan dengan Sang Maha-Ada itu adalah melalui menyatu dengan Yesus Kristus -- yaitu kehidupan-penyembahan-karya yang diselamatkan-dibentuk-dikuduskan oleh salib-Nya. 

Apakah hidup kita dari waktu ke waktu adalah respons percaya dan kasih kepada gamitan anugerah-Nya? Apakah Nama TUHAN nyata di dalam kehidupan nyata kita, penyembahan kita, karya keseharian kita?  

Selasa, 20 Juni 2017

Energi Budaya Manusia

Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya. Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh. Lamekh mengambil isteri dua orang; yang satu namanya Ada, yang lain Zila. Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Zila juga melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, bapa semua tukang tembaga dan tukang besi. Adik perempuan Tubal-Kain ialah Naama. Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: "Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat." -- Kejadian 4;17-24

... Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. -- Lukas 16:8
Karena dicipta sebagai/menjadi gambar Allah, manusia memiliki banyak sekali potensi yang luar biasa. Bahkan sebelum jatuh manusia telah diberikan mandat untuk mengelola dan memelihara bumi -- mandat budaya yang berarti menjadi rekan sekerja Allah memberlanjutkan penciptaan dengan menumbuh-kembangkan potensi-potensi yang terkandung di dalam ciptaan dan yang mungkin dijadikan penciptaan lanjut ke luar sesuai penggunaan energi, intelek, imajinasi dan kreatifitas manusia. Pewujudan pertama berbagai manifestasi mandat budaya itu ternyata dilakukan oleh keturunan Kain -- yang membunuh adiknya, yang menjauhi hadirat Allah, dan yang pada garis keturunannya ke empat lahir lagi pembunuh yang sombong yang menegaskan imunitasnya terhadap pembalasan sampai tujuh puluh tujuh kali lipat. Di garis keturunan inilah lahir pembangunan kota pertama, kehidupan berkemah pertama, alat/seni musik pertama, pertukangan logam pertama. Mandat budaya, kejatuhan dan pengembangan budaya awal oleh keturunan Kain ini menjadi peringatan bagi kita. 1. Pada dasarnya semua penggunaan potensi budaya untuk pertumbuhan dan pengembangan budaya manusia adalah dari Tuhan dan seturut kehendak Tuhan. Maka semua manusia patut berkontribusi budaya. 2. Sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, dan kemudian kenyataan bahwa manifestasi budaya awal dilakukan oleh keturunan yang jauh dari Tuhan, kita orang percaya harus selalu berkearifan memilih/memilah dalam menerima, membeli, memakai produk-produk budaya. Tidak ada penghasil budaya dan manifestasi budaya yang bebas dari nilai-nilai dan dari kebutuhan untuk dicerahkan atau diselamatkan oleh anugerah Allah. 3. Peringatan Yesus dalam perumpamaan yang mengambil konteks ranah ekonomi harus menjadi cambuk. Orang percaya tidak hanya konsumen budaya, tetapi harus menjadi produsen budaya; selanjutnya pengembangan potensi budaya oleh orang percaya bukan semata untuk mengejar sukses, membesarkan kerajaan sendiri, menghasilkan produk yang hebat, tetapi nilai plus kita adalah melayani Tuhan dan melayani sesama. 

Menilik catatan sejarah kita temui banyak sekali nama-nama orang yang hidupnya tanpa Tuhan tetapi adalah ilmuwan, novelis, penggubah, pelukis, pematung, teknisi, saintis, fisikawan, dokter, pengajar, dll. yang sangat hebat. Hanya sedikit dari mereka yang pengikut Kristus. Mari jangan biarkan dunia ini dikuasai oleh pihak yang tidak sungguh memahami apa maksud perkembangan dunia dan harus ditujukan kemana sejarah dunia ini. 

Sabtu, 17 Juni 2017

Kutuk dan Kelepasan darinya

Engkau terkutuk sehingga tak bisa lagi mengusahakan tanah. Tanah itu telah menyerap darah adikmu, seolah-olah dibukanya mulutnya untuk menerima darah adikmu itu ketika engkau membunuhnya. Jika engkau bercocok tanam, tanah tidak akan menghasilkan apa-apa; engkau akan menjadi pengembara yang tidak punya tempat tinggal di bumi." Maka kata Kain kepada TUHAN, "Hukuman itu terlalu berat, saya tak dapat menanggungnya. Engkau mengusir saya dari tanah ini, jauh dari kehadiran-Mu. Saya akan menjadi pengembara yang tidak punya tempat tinggal di bumi, dan saya akan dibunuh oleh siapa saja yang menemukan saya." Tetapi TUHAN berkata, "Tidak. Kalau engkau dibunuh, maka sebagai pembalasan, tujuh orang termasuk pembunuhmu itu akan dibunuh juga." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain supaya siapa saja yang bertemu dengan dia jangan membunuhnya. Lalu pergilah Kain dari hadapan TUHAN dan tinggal di tanah yang bernama "Pengembaraan" di sebelah timur Eden. -- Kejadian 3:11-16 (BIS)

Kutukan Tuhan atas Kain berhubungan dengan reaksi tanah yang telah menerima penumpahan darah Habel -- tanah tidak akan lagi memberi hasil untuk usaha cocok tanam Kain, dan tanah tidak lagi menyambut dia sebagai penetap dan karenanya ia akan menjadi pengembara. Ia akan berusaha tanpa hasil, ia akan mencari tempat tanpa menemukan perhentian. Sayang sesudah ditegur, dihukum Kain bukan kembali kepada Tuhan tetapi dengan egoisnya hanya meminta untuk dilindungi dari pembunuhan. Riwayat Kain tidak kita temukan lagi. Lenyap di akhir pasal 4 ini dan hanya diulang di Perjanjian Baru sebagai peringatan tentang kejahatan, ketiadaan iman dan persembahan yang tidak berkenan kepada Tuhan. 
Bukan saja penumpahan darah, semua dosa terhadap sesama manusia -- penindasan, kekejaman, pelecehan, pemerasan, pembunuhan karakter -- pada intinya adalah merusak hidup orang lain dan langsung atau tidak juga mencemarkan lingkungan hidup alami. Dengan begitu banyaknya penumpahan darah karena berbagai dosa terhadap kemanusiaan, belum lagi dalam bentuk terorisme dan peperangan di banyak bagian dunia ini, kita semakin mengalami bumi ini menjadi kutuk dan tidak lagi perhentian yang aman dan nyaman. Hanya melalui Dia -- syukur bagi Dia -- yang tidak bersalah yang merelakan darah-Nya ditumpahkan demi memulihkan kita dengan Allah dan dengan sesama, kita boleh diselamatkan dari berbagai kutuk dan dibebaskan untuk bekerja bagi perubahan bumi ini. Kiranya ibadah esok merupakan perjumpaan yang memperbarui hidup kita dan memberdaya kita untuk membawa pembaruan ke lingkungan sosial dan lingkungan hidup alami kita. Amin. 

Jumat, 16 Juni 2017

Dimanakah Allah?

Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." -- Kejadian 4:6-12

Karena iman Habel ... masih berbicara, sesudah ia mati. -- Ibrani 11:14

Dimanakah Allah? Sungguhkah Ia mahakasih? Benarkah Ia peduli? Benarkah Ia pemelihara hidup, berdaulat, berkuasa? Pertanyaan semacam ini sering menggelisahkan hati banyak orang termasuk kita ketika berhadapan dengan berbagai kekejaman, kekerasan, aniaya, penumpahan darah seperti yang terjadi di nas ini dan kemudian terulang lagi sepanjang sejarah manusia sampai kini. Mengapa Allah seperti tidak berdaya, pasif dan baru bertindak sesudah korban berjatuhan? Ini sungguh misteri bagi kita: misteri diri Allah dan misteri tentang kehidupan manusia. Pertama, dari Kejadian 1-3 kita jumpai misteri Allah mencipta makhluk yang segambar diri-Nya yaitu manusia; dengan memberi manusia kuasa untuk memelihara bumi, untuk menamai binatang, Allah sesungguhnya berbagi sesuatu dari sifat dan kapasitas-Nya dengan manusia. Konsekuensinya ada risiko dan pembatasan diri yang Allah tanggung. Kedua, nas ini menegaskan bahwa Allah bukan tidak peduli dan hanya menonton dari jarak jauh. Sesungguhnya Ia bertindak yaitu dengan memberi peringatan kepada Kain sebelum Kain meneruskan kemarahannya dengan dosa lebih besar. Maka di dalam semua tindakan kekerasan, kekejaman, ketidakadilan oleh siapa pun ada keterlibatan Allah dalam suara hati nurani yang bersangkutan. Selebihnya apakah peringatan-Nya didengar atau dibungkamkan adalah risiko misteri Allah mencipta manusia sebagai gambar-Nya. Ketiga, Allah tidak tinggal diam -- sesungguhnya Ia turut menanggung penderitaan Habel di samping juga menanggung kepedihan akibat kekerasan hati Kain. Di Golgota kita melihat semua ini dengan terang benderang -- Allah yang menderita karena dosa dan demi menyelamatkan manusia dari masalah dosa, baik dosa yang dibuat maupun yang menjadi korban dosa orang lain. 

Allah mendengar teriakan darah orang benar pertama yang tertumpah itu, dan dalam waktu dan cara-Nya Ia bertindak mewujudkan penghukuman-Nya atas yang menyebabkan korban berjatuhan. Ini pasti, meski bagi kita masih misteri.

Kamis, 15 Juni 2017

Tentang Kemarahan

Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. -- Kejadian 3:5-8

Pelajaran tentang marah: 
1. Apabila kita bersalah dan teman/kerabat/Roh melalui firman dan nurani menegur kita -- bagaimana respons tepat kita seharusnya?
2. Apabila ada kesalahan yang melanggar nilai-nilai kebenaran dan membahayakan kemanusiaan dilakukan oleh orang yang dalam lingkup relasi serta tangungjawab kita -- bagaimanakah harusnya sikap dan tindakan kita?
3. Dalam situasi dan karena hal apa biasanya kita cenderung (mudah) marah? Benarkah itu? Bagaimanakah sebaiknya?
4. Dalam situasi dan karena hal apa biasanya kita cenderung tidak (mau) marah padahal harusnya marah? Benarkah itu? Bagaimana sebaiknya?
5. Apa pelajaran dan model yang kita dapat dari Allah, Yesus, para nabi, para rasul tentang: a) alasan marah, b) objek marah, c) tujuan marah dan d) cara marah?

Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki (perempuan juga) berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan. -- 1 Timotius 2:8



Rabu, 14 Juni 2017

Dosa, Dapat Dikuasai!




Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." -- Kejadian 3:5-7

Ini adalah nas pertama Tuhan bicara secara eksplisit tentang dosa dengan istilah yang berarti salah / menyimpang. Dalam terang penyataan alkitabiah lainnya kita mengenal dosa asal yang diturunkan dalam bentuk kecenderungan untuk menyimpang, melanggar, berontak terhadap Allah dan kebenaran-Nya. Meski ada kecenderungan dosa tidak berarti kerusakan yang terwujud dalam perbuatan kita akan sama bentuk dan kadarnya. Juga dalam terang nas ini tidak berarti kita harus terus menerus menjadi korban dari dosa. Dalam hal Kain proses dosa itu agaknya seperti berikut ini: Sifat dosa dalam sikap mandiri dalam penyembahan: penyembahan yang seadanya, yang tidak mengungkapkan kebutuhannya akan penebusan, yang tidak sungguh sesuai dengan sifat kudus, benar, mulia-Nya Allah; Lalu, ketika itu tidak dipandang Tuhan lahir kemarahan -- kemarahan Kain ini tidak semestinya sebab yang mestinya marah adalah Tuhan, dan yang pantas untuk Kain adalah mawas diri tentang sebab dalam diriya sampai persembahannya tidak berterima oleh Tuhan. Dalam kebaikan-Nya Tuhan menegur Kain dan memperingatkan tentang bahaya lebih besar yang dapat datang dari dosa. Tetapi Ia juga memberi jalan keluar: "engkau harus berkuasa atasnya" -- jadi, seharusnya jika Kain memerhatikan firman ini, merendahkan diri untuk pertolongan Tuhan, ia tidak perlu sampai membunuh Habel melainkan ia dapat memperbaiki persembahannya yang kurang layak dan tanpa iman itu dengan yang sesuai perkenan Tuhan. Sayang, sedihnya ia lebih mengikuti dosa -- dari kecenderungan, menjadi dorongan kemandirian, dan kini belenggu dosa dengan  segala akibatnya. 

Jangan fatalistis terhadap dosa, jangan juga masa bodoh tentang dosa. Ada anugerah Tuhan dalam salib dan kebangkitan Yesus yang cukup untuk menyelesaikan dosa dalam segala tahapnya dan bentuknya. 

Selasa, 13 Juni 2017

Penyembahan & Persaudaraan

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.  -- Kejadian 3:3-11


Bagaimana hubungan timbal balik persaudaraan dan penyembahan seharusnya? Persaudaraan kita tercerminkah dalam penyembahan? Penyembahan kita berpengaruhkah dalam persaudaraan? Penyembahan sejatinya bukan hanya mengenai manusia dengan Allah, tetapi juga mengenai manusia dengan manusia. Mengerikan sekali bahwa di dalam dan sesudah tindakan penyembahan pertama dari manusia generasi kedua ini, persaudaraan menjadi hancur. Tujuh kali nas ini menyebutkan kata 'adik' (harfiah: saudara = [akh -- Ibr.]). Pertama di ay. 2 menegaskan Kain dan Habel datang dari ibu dan ayah yang sama -- darah-daging manusia pertama. Dua berikutnya di ay 8 ketika Kain marah bahwa diri dan penyembahannya tidak berterima kepada Allah, lalu ia mengajak Habel untuk pergi bersama dan membunuhnya. Dua berikutnya ketika Allah bertanya kepada Kain di ay 9 dimanakah saudaranya Habel, lalu dengan tanpa sesal Kain menjawab sesuatu yang bertolak belakang: "Apakah aku ini penjaga saudaraku?" Ia memakai kata saudara tetapi dengan artian yang menentang arti kata itu. Terakhir dua kali lagi Allah memakai kata saudara di ay 10-11 tentang darah Habel yang berteriak kepada Allah dan yang diserap bumi -- di sini teks tidak memakai nama Habel tetapi "saudaramu" terhadap Kain.


Baiklah kita koreksi diri apakah ibadah kita individualistis dan abai persekutuan atau mengentalkan komunalisme kita sebagai gereja, dan membuat kita semakin menolak sikap a-sosial serta mendorong kita ber-saudara dengan sesama anak Adam dan Hawa?

Sabtu, 10 Juni 2017

Empat perspektif untuk Hidup

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. -- Kejadian 3:3-5

Mari kita masukkan Kejadian 1-3 bersama nas ini untuk mendapatkan perspektif alkitabiah tentang realitas dan bagaimana patutnya kita hidup. Pertama, kita sangat perlu secara aktif mengingat Allah -- bukan saja sekadar tahu tetapi sungguh sampai memberdaya seluruh dan setiap aspek kehidupan kita. Allah yang mahakuasa yang dengan berfirman mencipta segala yang ada; Allah yang sempurna baik sehingga semua buah karya-Nya adalah mahakarya yang perlu kita syukuri dan pelihara dengan penuh tanggungjawab. Allah yang berdaulat yang menentukan dan mengendalikan segala yang ada menurut rencana kekal-Nya. Supaya, dengan menyadari Allah, kita punya sikap mengandalkan Dia, mengutamakan Dia, menghormati Dia. Kedua, kita patut bersyukur tentang yang dalam teologi sistematika disebut sebagai 'anugerah umum' yaitu karya penciptaan dan pemeliharaan Allah yang memungkinkan bumi ini menjadi rumah yang menyukakan dan mengasyikkan untuk didiami, dikelola, ditumbuh-kembangkan oleh umat manusia. Dengan perspektif ini kita boleh menjadi manusia budaya yang melalui beragam bentuk kerja kita boleh menjadi rekan sekerja Allah. Ketiga, kita adalah keluarga umat manusia, memiliki kesamaan yaitu berasal dari satu Pencipta, memiliki sepasang nenek-moyang, namun kemudian menjadi beragam dan majemuk dalam hal bangsa, suku, ras, klan, bahasa, budaya, keluarga, dlsb. Dengan perspektif ini kita boleh selalu menjaga ketegangan dinamis antara kesatuan dan keberbedaan. Keempat, sejak Kejadian 3 seterusnya manusia dan riwayatnya baik sebagai individu maupun sejarahnya sebagai klan, keluarga, suku, bangsa telah dicemari, dirusak, didorong oleh dosa. Kehadiran dosa tidak boleh kita sepelekan dan abaikan. Sehebat apa pun pencapaian keilmuan, teknologi, moral, budaya, bahkan keagamaan manusia, tetap saja di dalam atau di baliknya mengintai dosa yang selalu siap merusakkan segala yang baik dalam ciptaan dan dalam kehidupan manusia. Dalam nas ini, kita disadarkan bahkan di dalam wujud religiositas pertama manusia menyelinap ketidaklayakan yang berbuahkan kemarahan dan menghasilkan pembunuhan. Keagamaan menghasilkan pembunuhan -- ini mengisi awal sejarah manusia generasi kedua. Itu sebabnya di dalam segala aspek kemanusiaan -- ilmu, teknologi, kerja, budaya dlsb. kita membutuhkan hadir dan beroperasinya kuasa penyelamatan dari Allah. Bersyukur, keempat, bahwa di Kejadian 3 dan seterusnya sampai berpuncak pada pokok keselamatan yaitu Yesus Kristus, Allah menyayangi ciptaan-Nya dan makhluk-Nya manusia dan terus berkarya dalam penyelamatan. 

Mari pastikan bahwa semua perspektif hidup ini sungguh kita hayati secara baru dan segar dalam keseharian kita.

Jumat, 09 Juni 2017

Ibadah benar vs ibadah palsu

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." -- Kejadian 4:3-7

Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. -- Ibrani 11:4

Kisah ini mencatat tindakan penyembahan, ungkapan keagamaan pertama dalam sejarah umat manusia. Tetapi, tidak setiap penyembahan atau ungkapan keagamaan otomatis diindahkan (harfiah: dipandang) oleh Allah. Apa sebab persembahan Kain ditolak? Mengapa korban Habel dikenan Allah? Nas ini memberi beberapa petunjuk. Pertama, perhatikan bagaimana pembahasaan tentang apa dan bagaimana masing-masing memberikan persembahan mereka? Kain mengambil sebagian dari hasil tanah -- mungkin maksudnya sayur-sayuran dan buah-buahan -- hal yang waktu itu bagian lazim dari yang manusia diizinkan untuk memakannya. Tidak ada komentar bahwa ia memilih yang terbaik, yang pilihan, dlsb. Sementara Habel memberikan korban persembahan binatang yang sulung dan bagian yang terbaik (lemak-lemaknya). Kedua, di bawah terang penyataan Tuhan kepada Musa kita mengetahui bahwa persembahan hasil bumi adalah persembahan syukur, sedangkan korban binatang sembelihan adalah korban penebus dosa. Tidak seorang pun dapat menghampiri Tuhan sebelum masalah dosanya dibereskan. Sebenarnya dari kisah bagaimana Tuhan menolak cawat daun dan mengganti dengan cawat kulit binatang untuk Adam dan Hawa, Kain sudah mengetahui tentang prasyarat korban binatang ini. Dengan menafikan pengetahuan itu, berarti Kain tidak sungguh beriman. Itu persembahannya tidak dipandang Tuhan sebab peribadatan Kain tidak baik menurut penilaian Allah. 

Nas ini suatu peringatan untuk kita simak masa kini. Apakah ibadah gerejawi dan pribadi kita: 1) bertujuan untuk menyukakan Tuhan atau mencari pemuasan selera [kedagingan] kita? 2) bentuk, isi dan caranya disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk yang telah Allah wahyukan dalam Alkitab atau semata mengikuti semangat zaman? 3) kesadaran akan kekudusan dan kemuliaan Allah, dan akan keberdosaan, kelemahan, kefanaan kita sungguh terpancar dari motif hati beriman dan terakomodasi dalam ekspresi tindakan keagamaan kita? 

Kamis, 08 Juni 2017

Tentang Kedatangan Yesus

Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!"  -- Markus 13:28-37

Tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, berikut beberapa hal yang harus kita pegang erat sebagai patokan untuk pemahaman dan sikap kita. 1. Tariklah pelajaran: Para pengikut Kristus harus memiliki sikap aktif mengamati, mempelajari dan menyikapi a) peristiwa-peristiwa dunia, dan b) apa kata Alkitab. 2. Yang harus diamati, dipahami dan disikapi dengan tepat dari peristiwa dunia adalah gejala pohon ara bertunas -- yaitu yang dipaparkan di pasal 13 ini sebagai: peristiwa di sekitar Yerusalem / Israel, berbagai malapetaka alam dan kosmis, berbagai bencana dan keguguran 'para bintang' dalam dunia manusia: sosial-ekonomi-politis, dan yang utama adalah pencapaian Injil ke segala makhluk. 3. Yang harus kita camkan benar dari firman Yesus sendiri adalah: a) apa yang Ia katakan pasti akan terjadi, b) tentang waktu dan saatnya bahkan Ia sebagai Mesias yaitu hamba Allah yang rendah tunduk kepada kedaulatan Allah tidak mengetahuinya, c) dituntut dari kita sikap berhati-hati, waspada, berjaga-jaga, bukan ayal-ayalan, masa bodoh, panik, bingung, berusaha meramal! 

Yesus, Tuhan, kiranya Roh-Mu menolong kami menjadi hamba yang setia dan baik, sahabat pengantin yang cerdik dan berjaga-jaga, bahkan bagian dari gereja-Mu sejati yaitu mempelai-Mu yang kudus dan layak menyambut kedatangan-Mu. Amin.

Sastra Apokaliptik

Waktu Aku membinasakan engkau, langit akan Kututup dan bintangnya Kubuat berkabut. Matahari Kututup dengan awan dan bulan, cahayanya tak disinarkan. -- Yehezkiel 32:7
Di depannya bumi gemetar, langit bergoncang; matahari dan bulan menjadi gelap, dan bintang-bintang menghilangkan cahayanya. -- Yoel 2:10
Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel: Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku... Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.  -- Kisah Rasul 2:16-21

"Tetapi pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit. -- Markus 13:24-27

Sebagian nubuat nabi Yesaya, Yoel, Zakharia, Yehezkiel dan Daniel dikenal sebagai sastra apokaliptik, yaitu jenis sastra yang melihat dari/melalui kondisi penderitaan yang sedang mereka alami (masa pembuangan) ke kedatangan penghukuman dari Allah atas segala kejahatan yang sekaligus memberikan kelepasan kepada umat-Nya untuk akhirnya menegakkan tatanan dunia dan kosmos baru. Dalam sastra ini bahasa realistis banyak bercampur dengan bahasa simbolis/fantasi. Misalnya bintang-bintang bisa merujuk ke benda-benda angkasa bisa juga dimaksud sebagai para pemimpin berpengaruh. Atau, berbagai gejala perubahan katastrofis di bumi dan dilangit seperti gempa, perubahan ekologis fatal, atau berbagai malapetaka astronomis boleh jadi juga membawa pesan teologis spiritual tentang penghukuman Allah atas dunia yang cemar oleh dosa. Pada saat penyaliban Yesus matahari menjadi gelap mengisyaratkan murka Allah yang sedang berlangsung yang harus Yesus tanggung demi menyelamatkan kita dari dosa; dalam Kisah Rasul nubuat Yoel tentang matahari gelap, bintang berjatuhan dan kuasa-kuasa langit goncang dikaitkan Petrus dengan pencurahan Roh Kudus -- berarti, ketika kemuliaan Allah dinyatakan cahaya alami praktis tidak dapat menandingi cahaya kemuliaan wajah Allah (ini juga dirujuk dalam kitab Wahyu 22:4-5).

Maka nubuat catatan Markus ini sejajar sastra apokaliptik sesungguhnya membawa peringatan keras bagi orang dan dunia yang berkanjang dalam kejahatan, tetapi sekaligus juga memberikan penghiburan, pengharapan akan keselamatan kekal yang akan rerealisasi penuh bagi orang pilihan-Nya. Dalam keadaan dan di lokasi apa pun kita berada -- bukan saja di ujung bumi tetapi bahkan sampai ke ujung langit -- jika kita sungguh percaya Injil Kerajaan oleh Yesus Kristus, hidup tekun dan setia di dalamnya, kita pasti terbilang dan terhisab umat bahagia Kerajaan kekal-Nya. Amin. Maranatha. Jadilah dan datanglah segera ya Raja Yesus.