Rabu, 31 Januari 2018

Menjadi "logos" dari sang LOGOS

Tetapi di dalam hatimu, hendaklah kalian memberikan kepada Kristus penghormatan yang khusus yang sesuai dengan kedudukan-Nya sebagai Tuhan. Dan hendaklah kalian selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang kalian miliki. Tetapi lakukanlah itu dengan lemah lembut dan hormat. Dan hendaklah hati nuranimu murni, supaya kalau kalian difitnah karena kalian hidup dengan baik sebagai pengikut Kristus, maka orang yang memfitnah itu akan menjadi malu sendiri. -- 1 Petrus 3:15-16 (BIS)

Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? -- Roma 10:14

Kesempatan untuk menjelaskan tentang pengharapan kekal dalam Yesus Kristus (kesaksian dalam kata) akan terbuka sebagai akibat  wajar dari kesaksian hidup yang sungguh mempertuhankan Yesus Kristus dalam hidup nyata. Sebaliknya, jika kita tidak berinteraksi secara riil dalam berbagai lingkar pergaulan keseharian, jika kita tidak mengizinkan Kristus menyatakan kekudusan, anugerah, kebenaran-Nya menghasilkan perilaku yang berbeda dari orang yang tidak dalam Tuhan, jika sifat, sikap dan tindakan kita dalam keluarga, pertetanggaan, pekerjaan, sama saja dengan mereka yang beroperasi menurut naluri manusia berdosa, bagaimana mungkin akan terjadi pertanyaan tentang pengharapan kekal kita?
Kesaksian hidup dan kesaksian kata tidak dapat dipisahkan sebab keduanya berjalan seiring saling bergantung dan berakibat satu sama lain. Tergesa mengupayakan kesaksian kata tanpa latar kesaksian hidup yang mendukung justru bisa berakibat kesan buruk tentang Injil. Hanya bersikap dan berperilaku baik tanpa kesiapan untuk menjelaskan alasannya dan menunjuk kepada Yesus Kristus sumbernya justru bisa membuat kesan bahwa kita orang yang tidak biasa alias hebat. Mempertuhankan Yesus Kristus dalam hati dan hidup nyata berarti membuahkan kesaksian hidup dan hidup yang menyaksikan Injil -- hidup yang adalah misi, misi sepenuh hidup. 
Marilah kita selalu berkomitmen agar sikap dan perilaku kita ke luar selalu serasi dengan pembaruan hati akibat Yesus Kristus bertakhta di dalam hati. Marilah kita meminta keberanian dari Roh untuk memperluas jaringan perjumpaan sosial kita sambil peka akan kesempatan menyaksikan pengharapan kekal dalam Yesus Kristus begitu keinginan tahu itu muncul di pihak mereka. Marilah sesuai nas ini kita sadari bahwa perbuatan dan perkataan kita adalah logos dari sang logos. 

Selasa, 30 Januari 2018

Kuduskan Kristus dalam Hati

TUHAN semesta alam (YHWH Zebaoth), Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.  -- Yesaya 8:13
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, -- Matius 6:9
Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, -- 1 Petus 3:15

Semua perintah di ayat-ayat sebelum ini -- supaya kita hidup kudus, membuang semua bentuk kejahatan dan dosa, menjadi batu-batu hidup untuk pembangunan Bait rohani, untuk rela menanggung penderitaan demi kebenaran, untuk menjadi keluarga yang setara saling menghormati -- boleh disimpulkan bersumber dari nas penting ini: Kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan di dalam pusat kehidupan kita. Juga bila kita dengan cepat membaca ke ayat-ayat sesudah ini dapat disimpulkan bahwa nas inilah kuncinya, sumbernya, dasar penopangnya -- bagi daya untuk dapat mempertanggungjawabkan Injil kepada dunia sekitar, untuk kehidupan yang siaga bagi kedatangan kembali sang Gembala Agung, dst.
Jelas bukan karena Yesus Kristus kurang kudus maka kita perlu menguduskan Dia. Maksudnya ialah bahwa sebagaimana disiratkan Petrus bahwa Yesus Kristus setingkat dengan YHWH, dengan Abba Bapa-Nya -- semua sifat, sikap sosial dan pelayanan, perilaku pribadi dan umum -- seluruhnya tanpa terkecuali menyinarkan kekudusan, kemuliaan, keindahan tak terperikan -- maka orang percaya perlu mengingat, mengakui, menjunjung seluruh kepenuhan kekudusan Yesus Kristus itu di dalam pusat kehidupan kita terdalam, yaitu hati yang dengan sendirinya meliputi pikiran, perasaan, pertimbangan moral, kemauan, imajinasi, memori, dan hasrat.
Dengan kata lain jika kita kurang mencerminkan kehendak Tuhan dalam aspek moral, spiritual, filial, sosial, ekonomi, eklesiastikal (kehidupan kegerejaan) kita, satu hal yang perlu dikoreksi adalah apakah Yesus Kristus sungguh kita tinggikan layak sesuai kepenuhan kekudusan-Nya dalam aspek-aspek itu. Tetapi, bagaimana mungkin kita menguduskan Yesus Kristus dalam hati jika kita tidak rindu berjumpa dan mengenal Dia dalam pembacaan Injil-injil secara teratur, apabila kita malas merenungkan firman-firman penyataan diri Bapa-Nya melalui Roh-Nya dalam seluruh Alkitab, apabila kita lebih gemar mendengar lelucon dan penyemangat para motivator ketimbang khotbah yang sungguh memproklamasikan seluruh kepenuhan hikmat ilahi? Kita juga perlu kritis terhadap pola ibadah dan lagu-lagu penyembahan yang menjadikan Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus menjadi sedemikian dangkal dan kerdil dan lebih menyerupai berhala-berhala yang orang dunia buat demi memuaskan keinginan diri sendiri. Kita perlu sekali membuka diri penuh kepada pertolongan Roh Kudus agar Tuhan Yesus Kristus bukan sekadar informasi yang kita ketahui di kepala, tetapi sungguh kita kenal, percaya, berharap dan kasihi dengan segenap hati, akal budi, perasaan, kemauan -- otak, jantung, hati, otot sampai tercermin ke bagian-bagian kehidupan yang Petrus nasihati di pasal-pasal sebelum dan sesudah nas ini.

Sabtu, 27 Januari 2018

Baik dan Bahagia

Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. -- 1 Petrus 3:13-14
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. -- Matius 5:8-12

Perbuatan baik wajar merupakan tabiat kedua orang percaya. Naluri pertama kita manusia adalah jahat balas jahat, baik balas baik, tetapi dengan kita diperbarui oleh Yesus Kristus dan Roh Kudus menyucikan kita terus kita dimungkinkan untuk memiliki tabiat kedua yang melampaui naluri manusiawi, yaitu sifat dan perilaku Kristus sendiri. Logisnya orang yang rajin berbuat baik pasti mendapatkan kesan, sambutan dan respons baik juga. Masalahnya banyak orang Kristen masa kini hanya baik untuk kalangan sendiri karena membangun ghetto -- ghetto kegiatan gerejawi yang berjibun banyaknya sampai tidak ada waktu lagi untuk bermasyarakat. Firman ini menantang kita untuk keluar dari sarang aman, dari tempurung nyaman, dan ke luar berbagi hidup baik dalam dunia.
Namun memang bisa terjadi paradoks. Baik ditanggapi jahat, jujur justru dibenci, suci malah dianggap banci, berbagi hidup malah didemo -- dengan akibat berbagai penderitaan harus ditanggung oleh orang Kristen yang aktif berbuat baik. Sambil mengingat ayat sebelum ini bahwa ada MATA, TELINGA Tuhan bagi orang percaya dan ada WAJAH Tuhan yang melawan orang fasik, Petrus menambahkan dua hal lagi. Pertama, sepertinya ia mengingat Ucapan Bahagia Tuhan Yesus seperti kutipan di atas. Inilah bahagia jenis kedua yang tidak dialami dunia ini. Maka untuk orang percaya ada tabiat kedua, ada juga bahagia jenis kedua yang hanya dialami oleh orang yang sungguh hidup berkenan di hadapan Allah dan manusia. Kedua, orang percaya tidak perlu takut akan apa yang ditakuti orang yang tidak dalam naungan Tuhan -- takut nasib buruk, takut diguna-gunai, takut pailit, takut mati mendadak, takut ditipu orang, dan banyak lagi kecemasan-ketakutan orang yang tidak di dalam pemeliharaan Tuhan. Sebab kita hidup di bawah kepak sayap kasih-setia Allah. Puji Tuhan. Amin.

Jumat, 26 Januari 2018

Coram Deo

Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat." Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. -- 1 Petrus 3:12-14

Apakah dampak dari hidup dalam kesadaran bahwa Tuhan Mahakasih, Gembala yang Mahabaik, Pemelihara jiwa yang Maha terpercaya? Apakah dampak dari hidup dalam ingatan aktif bahwa Tuhan Mahatahu, Raja yang Maha berdaulat, Hakim Mahaadil? 
Tidak jarang antara pengetahuan kita tentang sifat-sifat Tuhan dan kenyataan hidup keseharian kita tidak terjalin hubungan sebab-akibat yang serasi. Terutama ketika kita ada dalam lingkungan yang tidak menerapkan kebenaran bukankah kita cenderung tergoda untuk kompromi, mengurangi integritas iman dan moralitas? Atau, bukankah ketika melihat situasi sosio-politis dipermainkan orang fasik lalu keyakinan kita akan pengendalian Tuhan, kedamaian dan keyakinan iman kita ikut surut ?
Petrus kini bukan menggunakan konsep-konsep teologis tentang kemahatahuan, pemeliharaan, pengendalian Tuhan atas segala sesuatu, tetapi ia memakai penggambaran visual: MATA, TELINGA dan WAJAH Tuhan. Mata Allah tertuju kepada orang benar -- menampung konsep kemahatahuan dan perlindungan Tuhan. Telinga Tuhan tertuju kepada permintaan tolong orang benar -- mengukuhkan perhatian kasih Tuhan yang terus menerus bagi semua orang yang mengandalkan Dia. Tetapi, WAJAH Tuhan yang dalam berkat Harun ditujukan-Nya kepada umat-Nya tentu dalam artian yang menghangatkan, kini dalam artian yang menakutkan untuk orang fasik yang menyebabkan kesukaran pada orang benar. 
CORAM DEO -- hadirat Tuhan -- harus secara aktif, imajinatif dan kreatif kita hidupi sehingga secara riil menunjang seluruh pengalaman hidup kita dalam situasi-kondisi berubah-ubah di dunia ini. 

Kamis, 25 Januari 2018

Berkat utamanya adalah Ucapan

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. -- 1 Petrus 3:9-11

Berkatilah orang yang mengutukmu, dan doakanlah orang yang jahat terhadapmu. -- Lukas 6:28


Berkat, diberkati, memberkati, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru utamanya adalah berwujud ucapan. Barak, barakah dalam Perjanjian Lama, dan khususnya eulogia, eulogeoo dalam Perjanjian Baru jelas menyatakan bahwa esensi dari berkat adalah ucapan baik, ucapan yang membangun kehidupan, kata-kata yang serasi kehendak shalom Allah untuk manusia. 
Allah memberkati berarti Allah mengucapkan perkenan-Nya, menyatakan rencana baik-Nya, memberitahu hal-hal baik yang Ia sediakan untuk manusia yang begitu Ia kasihi dan hargai. Di dalam berkat perkenan Allah kepada manusia ini memang tersirat juga kebaikan dalam bentuk kesehatan, kehidupan yang tumbuh berhasil seturut rencana Allah dan pemenuhan segala segi kebutuhan hidup termasuk materi.
Manusia memberkati Allah yaitu memuja-muji Dia dalam bentuk mengucapkan hal-hal yang layak, tinggi, bernilai, mulia sesuai kenyataan diri Allah yang mulia dan semua berkat baik-Nya.
Maka jelas bahwa arti utama dari berkat adalah relasi yang baik, yang saling membangun-meninggikan-memuliakan satu sama lain, bermula dari relasi yang intim dengan Allah dan berlanjut dalam relasi terhormat antar manusia.
Implikasi dalam relasi sosial dari berkat adalah menjaga lidah dan bibir -- baik dalam ungkapan vertikal yaitu tidak sembarangan menyebut nama Tuhan, tidak asal omong ungkapan kerohanian yang tanpa isi kesejatian tetapi dalam pujian syukur yang tulus kepada Tuhan, maupun dalam ungkapan horisontal kepada sesama yaitu ucapan, celetukan, ocehan yang tidak berisi kekuatan kutuk tetapi kekuatan membangun dan memuliakan. 

Rabu, 24 Januari 2018

Kebajikan Kristen

Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. -- 1 Petrus 3:8-9

Penggembalaan Yesus Kristus harus nyata baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup kehidupan berjemaat. Kini kesannya jelas Petrus mengarahkan perhatiannya kepada kehidupan di antara sesama orang percaya. Nasihat-nasihat Petrus ini terkesan sama dengan yang Paulus berikan di surat seperti Roma, 1 Korintus, Efesus, tetapi sesungguhnya pilihan kata yang Petrus pakai ini khas dirinya dan tidak terdapat dalam nas Perjanjian Baru lainnya. Ia menasihati kita agar:
Se-ia-se-kata (harfiah satu akal-budi) hal yang jelas mustahil kecuali sungguh akal budi kita menyatu dengan dan dibentuk oleh akal budi Yesus Kristus sendiri. Seperasaan (harfiah: sim-pati yang artinya saling menyelami perasaan satu sama lain demi kebaikan satu sama lain). Simpati terdalam dan paling asli yang dikenal dalam sejarah manusia adalah dalam Ia yang menjadi sama dengan manusia dan turun ke titik terendah kesengsaraan manusia seperti yang dipaparkan rinci dalam Filipi 2. Mengasihi saudara-saudara berarti masuk ke dalam hubungan baru keluarga ilahi yang dinafasi oleh kasih persaudaraan. Penyayang atau lembut hati menggemakan kata yang kita baca tentang Yesus yang tergerak oleh belas kasihan ketika melihat kebutuhan orang. Bedanya di Matius 9:36 ditekankan ketergerakan kuat hati Yesus, di sini dibicarakan lembut manisnya hati kita -- jelas akibat dari mengikut Yesus yang berhati sedemikian peka akan kebutuhan sekitar-Nya kita dapat memiliki hati lembut yang memiliki kepekaan sama juga. Terakhir kita diminta juga untuk rendah hati supaya boleh selalu bersikap ramah dan bersahabat kepada orang lain.
Perhatikan juga sesudah nasihat menyangkut sikap dan kebajikan positif, Petrus kini mengalihkan ke sikap dan perilaku terhadap situasi nyata yang negatif. Tanpa perlu pengkajian lebih dalam, jelas ini merupakan implikasi dari mengembangkan kebajikan positif tadi sehingga orang Kristen tidak membalas jahat dengan jahat, caci maki dengan caci maki -- ini merupakan kualitas hidup yang sudah dicontohkan Yesus Kristus sendiri sampai akhir hidup-Nya (1 Petrus 2:21-23). 
Tidak berhenti di situ, seperti nasihat Yesus agar kita sedia memberikan mil ekstra Petrus menegaskan bahwa kita yang telah menjadi pewaris pengharapan kekal yang hidup yang tidak dapat binasa-cemar-layu (1 Petrus 1:4) harus berespons memberkati orang lain. Sebab ini membuktikan sekaligus mengukuhkan bahwa kita sungguh pewaris berkat kekal. 

Selasa, 23 Januari 2018

Injil dalam Keluarga

Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman. Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.  -- 1 Petru 2:25-3:7

Nasihat agar mengikuti teladan Yesus Kristus berlaku juga dalam konteks keluarga. Zaman itu ada kemungkinan bahwa Injil belum diterima oleh semua anggota keluarga. Dan seperti juga yang terjadi pada masa kini bisa jadi bahwa yang pertama merrespons kepada Injil adalah kaum perempuan, para istri. Perlu diingat juga bahwa dalam zaman itu kedudukan perempuan berbeda dari masa kini, meski bukan serendah budak tetapi ada kecenderugan juga seperti di banyak tempat sampai kini yang istri dianggap sebagai milik dan tidak dianggap setara oleh suami. Firman ini mengingatkan kaum perempuan yang sudah menerima Injil, sudah dalam penggembalaan Yesus Kristus untuk memenangkan para suami bukan dengan ocehan tetapi dengan karakter dan tampilan yang serasi kemuliaan Allah. Sedikit refleksi untuk kaum perempuan gereja masa kini -- apakah perkataan, cara berpakaian dan tampilan fisik Anda memancarkan hormat dan kemuliaan Allah?
Para suami pun harus mengikuti teladan Yesus Kristus dalam sikap dan perlakuan terhadap istri. Istri bukan milik, pemuas nafsu, kelas lebih rendah tetapi sbagai "teman pewaris anugerah yaitu kehidupan kekal" Dengan demikian hubungan doa suami dengan Tuhan tidak terhalang.
Sang Gembala Baik menginginkan agar keluarga-keluarga kita utuh ada dalam anugerah, dan agar nasihat tentang karakter, penampilan, sikap satu sama lain dalam keluarga ini kita praktikkan sebagai wujud nyata bekerjanya karya pembaruan Yesus Kristus. Karakter, sikap dan tampilan kita hendaknya serasi Dia.

Sabtu, 20 Januari 2018

Penyelamatan dan Penyembuhan

Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa?...Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. -- 1 Petrus 2:20, 24-25

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. -- Yesaya 53:4-5
Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." -- Matius 8:17-18

Bagaimana tepatnya kita mengerti nas ini: "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh"? Secara simboliskah -- kesembuhan dari masalah dosa, atau kesembuhan fisik riil, atau keduanya -- ya jasmani, ya jiwani?
Dari konteks dekat ayat ini kita bisa menangkap kesan adanya paralel antara Yesus menyelesaikan masalah dosa dan Yesus menyembuhkan. Artinya kita menangkap kesan bahwa "bilur-bilur-Nya menyembuhkan" menegaskan bahwa penderitaan dan kematian Yesus adalah dalam rangka menyembuhkan kita dari penyakit dosa.
Namun beberapa pertimbangan berikut membuat kita tidak bisa berhenti hanya pada arti simbolis dari kesembuhan. Pertama, di ayat 20 Petrus bicara tentang "pukulan" yang pasti menyebabkan derita jasmani pada penerima suratnya yang berstatus budak itu. Lagi pula seluruh pasal ini bicara tentang hal-hal riil, bukan tentang hal-hal simbolis. Kematian Yesus itu riil, keselamatan itu riil, perbudakan yang orang percaya tanggung waktu itu adalah riil, bahkan termasuk segala manfaat rohani seperti dipercik darah Yesus, dikuduskan dan dimurnikan, dibentuk melalui penderitaan, dlsb. -- semua ini bicara tentang hal-hal riil.
Dapat kita simpulkan bahwa Petrus mengutip Yesaya 53 ini dengan maksud asalnya bahwa korban kematian Yesus Kristus sungguh menghasilkan penyelamatan -- jiwani dan jasmani -- apalagi bila kita melengkapi dengan beberapa pertimbangan teologis berikut.
Pertama, keberadaan manusia sebagai makhluk jasmani-jiwani/rohani. Jika kita berpegang konsisten pada antropologi alkitabiah, maka jasmani-jiwani itu harus dimengerti sebagai dua sisi mata uang yang sama. Itu sebabnya berbagai gangguan jasmani membawa akibat ke kesejahteraan jiwani juga, demikian sebaliknya keadaan jiwani yang tidak beres sering termanifestasi ke dalam gangguan kondisi jasmani juga. Kita tidak bisa mengutamakan yang satu dan merendahkan yang lain sebab kita adalah tubuh-jiwa sebagai kesatuan. Maka penyembuhan / keselamatan yang Yesus Kristus kerjakan pasti berkaitan dengan sisi jiwani/rohani-jasmani kita.
Kedua, ketika fajar Kerajaan Allah terbit dengan kedatangan Yesus Kristus yang hidup-pelayanan-kematian-kebangkitan-Nya membawa kelepasan -- hadir pulalah berbagai manifestasi Kerajaan seperti kelepasan dari roh-roh jahat dan kesembuhan dari berbagai sakit-penyakit. Tindakan pelepasan dan penyembuhan yang Yesus Kristus buat bukan sekadar cara untuk Ia membuktikan otoritas-Nya, bukan juga sekadar isyarat simbolis dari keselamatan yang Ia bawa. Kedua tindakan itu adalah tindakan Kerajaan yang menghadirkan pemulihan manusia seutuhnya, kedua sisi jasmani-jiwani/rohaninya kepada maksud semula Allah menciptakan manusia. Ini sesuatu yang riil teralami. Itulah sari yang dimaksudkan Matius 8:17 ketika sesudah mencatat tentang begitu banyak pelepasan dan penyembuhan yang Yesus buat Matius merujuk ke Yesaya 53 tentang bilur-bilur-Nya menyembuhkan.
Ketiga, sebelum kita menarik kesimpulan akhir, perlu kita sadari bahwa pewujudan Kerajaan Allah oleh Yesus Kristus bersifat sudah-sedang-akan -- artinya dari segi realitas sejarah nyata, pewujudan shalom dari kedatangan Kerajaan itu sudah diberlakukan oleh berbagai mukjizat yang Yesus buat, oleh kematian-kebangkitan-Nya, dan oleh pencurahan Roh Kudus di Hari Pentakosta yang berdampak seterusnya dari zaman ke zaman, pewujudan Kerajaan di kedua sisi jasmani-jiwani/rohani itu sedang berproses. Namun, wujud final sempurnanya hanya akan terjadi pada kedatangan Yesus Kristus kedua kelak, dimana kita orang percaya diberikan tubuh kebangkitan yang tidak lagi mengalami sakit dan maut, tubuh kebangkitan yang sepenuhnya serasi dengan jiwa/roh yang telah diselanatkan, dikuduskan, dimurnikan dari segala bentuk kecemaran dosa dan akibat-akibatnya. Jadi dalam kurun waktu kekinian sementara kita menantikan yang sempurna itu tiba, kita boleh menghidupi cicipan awal dari kesempurnaan itu dalam bentuk penyembuhan dan pemurnian. 
Jadi bagaimana prinsip yang dapat kita terapkan ke situasi ketika kita jatuh sakit atau ketika melayani orang yang menderita penyakit? Pertama, dasar sikap kita adalah bahwa Tuhan mampu dan mau untuk menyembuhkan, bahkan bukan saja itu Lebih dari mampu, mau Ia sudah mengerjakan penyembuhan untuk segala bentuk penyakit melalui karya kematian-kebangkitan-Nya. Inilah kehendak dan provisi umum Tuhan untuk kita. Karena Ia menghendaki kita sehat jasmani-jiwani/rohani, maka kita menjaga pola makan dan pola pikir kita, kita memastikan asupan ke perut dan ke otak sehat adanya, kita melatih tubuh dan jiwa/roh kita dalam berbagai senam jasmani-jiwani/rohani.
Kedua, dalam bingkai beberapa kebenaran di atas, orang Kristen dari berbagai aliran berbeda memberlakukan beberapa pola penyembuhan berikut: 1) berdoa meminta kesembuhan, 2) dengan iman bersyukur bahwa kesembuhan sudah Tuhan kerjakan dan berikan di salib-kebangkitan-Nya, 3) mengklaim kepada sakit-penyakit yang diderita bahwa bilur-bilur Yesus telah menyembuhkan, berarti sakit-penyakit itu harus tunduk kepada kebenaran itu. Kita yang berasal dari tradisi 1) -- berdoa mohon kesembuhan menganggap pendekatan 2) apalagi 3) sangat ekstrim, seakan memaksa Tuhan untuk menyembuhkan. Padahal, jika kita meresapi kembali poin-poin di atas bahwa realitas Kerajaan sedang mewujud dan kepada para pengikut Yesus dibagikan otoritas untuk mewartakan Injil, mengusir roh jahat dan menyembuhkan dari sakit-penyakit, sesungguhnya pendekatan 2) dan 3) itu konsisten dan logis secara teologis. Mempraktikkan poin 2) dan 3) juga tidak harus identik dengan mereka yang menekankan "injil kemakmuran dan kesehatan," sebab kita tidak menjadikan "berkat finansiil dan jasmani" sebagai bukti bahwa kita memiliki kerohanian yang memperkenan Tuhan.
Lalu, bagaimana jika sesudah mempraktikkan kedua poin di atas kenyataannya tidak sembuh juga? Kita tidak cepat berhenti berikhtiar mengalami kesembuhan yang sudah Tuhan sediakan apabila sesudah beberapa upaya iman ternyata belum sembuh. Sebab boleh jadi ada faktor "waktu Tuhan," atau "Tuhan menguji kesungguhan dan keimanan kita," atau "ada syarat rohani yang belum kita penuhi seperti bertobat dari dosa tertentu," dlsb. Andai kehendak umum yaitu kesembuhan dari Tuhan tidak juga dialami, berarti ada kehendak khusus Tuhan di dalam penanggungan penyakit itu. Itu yang kita simpulkan dari tidak dikabulkannya permohonan Paulus agar duri dalam dagingnya dicabut Tuhan. Tetapi ingat ini adalah kasus khusus, dan kita tidak memberlakukan perkecualian menjadi peraturan umum. 
Kiranya makin banyak orang percaya dan pelayan Tuhan yang berani menerima pelayanan penyembuhan sebagai bagian wajar dari pelayanan Kerajaan dalam dunia yang penuh dengan berbagai kebutuhan dan manifestasi kegelapan ini. Supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan, dan itu boleh menjadi salah satu cara orang datang mendekat kepada sang Pemberi hidup, sang Gembala Agung, sang Pemelihara jiwa. Dengan demikian ada kesinambungan antara pelayanan Yesus Kristus, pelayanan para murid pertama, pelayanan gereja perdana seterusnya dengan pelayanan kita kini. 

Jumat, 19 Januari 2018

Manfaat Sengsara Yesus

Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. -- 1 Petrus 2:19-25

Petrus merenungkan arti hidup dan penderitaan Yesus Kristus untuk para pemercaya yang sedang mengalami penderitaan karena melakukan kebenaran. 
Pertama, kehidupan Yesus yang tanpa cacat dalam segala segi-Nya, tidak membalas kejahatan dengan caci maki atau ancaman, bahkan tidak berdosa dalam tutur kata-Nya harus menjadi teladan orang percaya. Semua orang percaya perlu menjadikan sifat, sikap, perilaku, respons proaktif Yesus Kristus sebagai model dalam keseharian kita. Dengan kata lain, firman ini mengharapkan sifat, sikap dan perilaku Yesus nyata dalam kita di berbagai konteks keseharian kita.
Kedua, sengsara dan kematian Yesus bukan saja model tetapi terutama adalah sumber daya untuk kita boleh memiliki kehidupan yang seperti Dia, sumber pembaruan kita. Memiliki pola hidup seturut model Yesus Kristus adalah hal yang mustahil, karena semua kita memiliki orientasi hidup yang menyimpang, salah, berdosa. Ia lebih dari sekadar mati demi kebenaran, Ia mati sebagai anak domba Allah yang menanggung dosa-dosa serta akibat-akibatnya supaya orang yang percaya kepada-Nya boleh dibenarkan dan dibebaskan dari kuasa dosa. Kematian-Nya tidak saja menghasilkan pengampunan, kematian-Nya memungkinkan orang percaya untuk mati bersama Dia sehingga dosa dan semua kekuatannya tidak lagi berkuasa. Menyatu dengan kematian-Nya berarti menyatu dalam kehidupan-Nya. Dosa tidak saja menyebabkan penghukuman dan butuh pengampunan, dosa juga menyebabkan semacam adiksi, keterikatan dan membutuhkan penyembuhan. Maka kematian Yesus Kristus selain menyediakan model tentang penderitaan dalam kebenaran, pengampunan atas dosa, juga menyediakan penyembuhan dari dosa yang telah menjangkit seperti penyakit kronis.

Kamis, 18 Januari 2018

Hamba Allah Merdeka

Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja! Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. -- 1 Petrus 2:16-23

Sebagian penerima surat ini adalah para budak. Mereka dalam posisi tanpa kebebasan untuk mengatur diri sendiri, tanpa hak dan mereka dijajah oleh pemilik mereka. Tetapi dalam Yesus Kristus terjadi perubahan radikal melebihi status dan sikon -- justru merekalah yang sungguh merdeka sejati. Pertama, mereka bukan lagi hamba dosa dan semua akibatnya. Orang percaya boleh berdiri dengan penuh keberanian di hadapan takhta anugerah Allah. 
Kedua, dalam kemerdekaan rohani ini orang percaya menjadi merdeka untuk mengabdi Allah saja, bahkan mengabdi Allah di dalam berbagai situasi-kondisi kehidupan yang untuk orang tidak percaya ditimbang sebagai perbudakan. Mereka yang budak manusia tetapi merdeka di dalam Yesus Kristus dapat mengabdi tuan mereka bahkan yang kejam dan tidak benar sekali pun dalam hati nurani yang bersih, takut akan Allah, menghormati siapa pun seperti kepada sesama manusia. Tindakan merdeka sejati ini malah menelanjangi kemerdekaan semu yang sejatinya adalah perbudakan -- entah perbudakan nafsu, perbudakan harta, perbudakan prestise, perbudakan status sosial, dlsb. 
Untuk masa kini, nas ini nyata relevan untuk dunia kerja. Entah kita tuan / atasan atau bawahan dalam dunia kerja, nas ini memperingatkan kita untuk sungguh menjadi hamba Allah, hamba kebenaran, untuk sungguh menjabarkan kemerdekaan sejati Kristen dalam anugerah Yesus Kristus. Yang bawahan mari dengan meniru Yesus Kristus dalam perhambaan diri-Nya kita menimba teladan dan kesanggupan untuk memberikan layanan kerja terbaik kita. Yang atasan mari dengan meniru Yesus Kristus yang sejatinya adalah Raja atas segala raja, Tuan atas semua tuan yang kepada-Nya kita akan mempertanggungjawabkan kebijakan dan tindakan kepemimpinan kita. kita izinkan daya perhambaan-Nya juga mengalir dalam penatalayanan kita kepada para bawahan kita. 

Rabu, 17 Januari 2018

Kesaksian sosial-ekonomi-politis

Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!  -- 1 Petrus 2:12-17

Antara dalam dan luar, realitas teologis-spiritual dan realitas moral-sosial-politis, prinsip dalam relasi dengan Allah dan dalam relasi dunia manusia -- pasti dan harus terdapat hubungan yang jelas. Perbuatan-perbuatan besar dari Allah di dalam orang percaya harus mewujud-nyata ke dalam cara hidup dan perbuatan yang baik (tulus), dalam ketaatan yang memuliakan Allah kepada berbagai otoritas penataan kemasyarakatan, dalam tindakan yang mengalahkan dan membungkamkan sikap antipati orang tidak percaya terhadap keimanan orang percaya, dalam sikap hormat dan kasih kepada semua orang di dalam bingkai prinsip menghamba kepada dan takut akan Allah.
Godaan pada orang percaya yang minoritas dari segi jumlah dan posisi adalah terpinggir dalam peran dan pengaruh khususnya secara sosial dan politis. Kita menjadi aman dan nyaman dengan kalangan sendiri. Inilah godaan yang dikritik  Yesus sebagai menaruh pelita di bawah gantang, garam yang kehilangan daya mengasinkannya. Kita perlu mewaspadai apabila ibadah dan persekutuan kita berubah menjadi keasyikan dengan kenyamanan rohani eksklusif, apabila semangat dan keberanian kita untuk bersaksidalam kata dan karya menjadi pudar, ketika semakin hari semakin tidak jelas dimana kontribusi moral-sosial-ekonomi-politis orang Kristen dan gereja Kristen.
Mari sadari benar bahwa lawatan Allah yang kita harapkan terjadi ke dunia kita -- entah itu dalam bentuk lawatan injil anugerah atau dalam penegakan hukuman yang adil -- terhubung langsung dengan sikap dan tindak-tanduk sosial-politis-ekonomi kita orang percaya.

Sabtu, 13 Januari 2018

Jatidiri Umat Allah (4)

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. -- 1 Petrus 2:9-10
Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. -- Keluaran 19:6 (lihat juga Yesaya 61:6; Wahyu 1:6)

Dua lagi hal yang Petrus paparkan di sini mengenai jatidiri umat percaya adalah imamat yang rajani, dan bangsa yang kudus -- dua segi keumatan yang tepatnya dilihat sebagai fungsi dan operasi horisontal ke dalam dan ke luar dari dua segi yang mengapitnya yaitu genos terpilih dan laos kepunyaan Allah sendiri. keimamatan, rajani dan bangsa yang kudus jelas mengakar dalam penyataan Allah di Perjanjian Lama. 
Dalam Perjanjian Lama ada tiga jabatan penting yang Allah karuniakan untuk umat-Nya dapat berfungsi benar yaitu nabi, imam dan raja. Nabi berfungsi menerima dan menyatakan kehendak, ketetapan, bimbingan Allah yaitu dalam firman-firman-Nya. Imam berfungsi menghubungkan umat dan Allah dalam memberikan persembahan syukur dan korban-korban karena dosa dan salah. Maka imam di sini berfungsi menjaga keserasian hubungan umat dan Allah. Raja adalah jabatan yang Tuhan percayakan untuk menjalankan otoritas pengaturan kehidupan sosial-ekonomi supaya umat Allah menjadi bangsa yang bermartabat yang agung di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal-mengakui Allah. Jelas bahwa dua segi horisontal inilah yang mengoperasikan sampai menjadi konkret tentang bangsa terpilih dan umat kepunyaan Allah sendiri sampai umat atau gereja di perantauan ini boleh memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah ke tengah dunia yang gelap ini.
Jika kita hanya berfokus pada genos terpilih, rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, kita sangat mungkin akan frustrasi karena pada praktik nyatanya gereja Tuhan dulu sampai sekarang tidak demikian adanya. Antara konsep dan praktik cukup sering tidak sesuai. Ada keraguan tentang keterpilihan kita, ada ketidaklayakan tentang ke-rajani-an kita, ada noda dan cela dalam penghidupan kekudusan kita, ada ketidakharmonisan internal dalam kita menghayati kepemilikan Allah atas kita sebagai umat. Dengan kata lain, kita gereja dalam perjuangan, dalam pengembaraan di dunia ini masih diproses, masih berproses. Kendati demikian firman ini tegas menyatakan bahwa dari gereja yang llemah, bermasalah ini justru dituntut kenyataan untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah. Bagaimana?
Jawabannya adalah dalam fungsi dan operasi keimamatan yang rajani -- yaitu di dalam gereja yang sungguh mempraktikkan saling nasihat-menasihati, saling tegur-menegur, saling mengingatkan, saling mendoakan dan bersyafaat, saling menopang sesama kebutuhan, saling mengasihi yang berdampak pada menguduskan -- sambil berpusat, bercermin dan menimba dari sang Imam Besar sejati yang sudah memenuhi ketiga jabatan itu dengan sempurna -- Yesus Kristus -- Nabi-Imam-Raja BesarAgung selamanya. Amin.

Jumat, 12 Januari 2018

Jatidiri Umat Allah (3)

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. -- 1 Petrus 2:9-10

"Melawan lupa" tidak saja relevan dalam konteks sosio-politis tetapi lebih lagi dalam konteks spiritual-teologis yang berdampak secara moral-sosial kita orang percaya. Jangan sampai lupa bagaimana kita dulu dan bagaimana kita sekarang di dalam Tuhan -- supaya kita tidak lupa diri, lupa bersyukur, lupa membawa diri dengan benar sampai hanyut lagi berkompromi dengan nilai dan gaya hidup orang di luar Tuhan.
Dahulu kamu/kita hidup dalam kegelapan (moral dan relasional), dulu kita bukan umat Allah tetapi kini kita adalah:
1. Bangsa yang terpilih, 2. Imamat yang Rajani, 3. Bangsa yang kudus, dan 4. Umat milik Allah sendiri. 
Segera kita melihat bahwa empat paparan Petrus tentang status dan kondisi orang percaya ini mengandung dimensi vertikal dan horisontal. 1 dan 4 jelas menekankan hubungan vertikal kita dengan Allah -- karena Allah sudah memilih kita maka kita adalah milik Allah. 2 dan 3 jelas menekankan hubungan horisontal -- bagaimana keterpilihan kita sebagai umat itu beroperasi dalam pelayanan satu sama lain sebagai imamat yang rajani, dan dalam segi moral-sosial yaitu dalam kehidupan yang kudus-murni di antara kalangan umat percaya sendiri dan di antara mereka yang menolak Kristus.
Istilah "bangsa" poin 1 menggunakan kata genos yang dari kata ini kita kenal kata generasi dan gen. Tidak seperti sebagian kelompok yang mengklaim bahwa kita memiliki DNA Allah -- keberatan atas klaim ini kita menjadikan Allah yang Roh adanya menjadi berkeberadaan kemakhlukan -- namun melihat konteks sebelum ini jelas ia ingin menekankan asal-usul spiritual dan relasional kita yang luar biasa dari Allah. Kita dipilih, dipercik darah Yesus, dilahirkan kembali oleh kebangkitan-Nya dan benih firman, ditebus dengan darah Yesus yang mahal, dikudus-murnikan oleh Roh -- ini semua menjadi genos kita BANGSA TERPILIH. Dan dalam hubungan dengan Allah -- percaya, harap, kasih, pengabdian, ketaatan, kita perlu mempraktikkan nyata diri kita sebagai milik Allah.
Sayangnya kata laos untuk umat milik Allah di poin 4 telah salah dijadikan akar untuk istilah "laity/layman" yaitu awam yang dianggap tidak paham, tidak mengerti. Sebenarnya umat atau laos ini justru menegaskan kesamaan semua orang percaya sebagai umat kepunyaan Allah sendiri.
Marilah kita resapi dan hidupi benar keberadaan dahsyat baru kita ini -- kita adalah gen terpilih, semua yang percaya -- kaya-miskin, terpelajar-sederhana, berkuasa-biasa-biasa, di dalam karya penebusan Tuhan sama, setara, sehakikat, senilai, sepenting yang Tuhan anggap bagi kita yaitu sebagai umat-Nya, laos-Nya. Dalam hidup pribadi, komunitas gerejawi, di tengah masyarakat mari kita hidup sebagai genos dan laos Allah!

Kamis, 11 Januari 2018

Jatidiri Umat Allah (2)

Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.  -- 1 Petrus 2:9-10
Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. -- Keluaran 19:6 (lihat juga Yesaya 61:6; Wahyu 1:6)

Penerima surat Petrus ini minoritas -- dari segi ras (Yahudi dan non Yahudi di tempat yang penduduknya tidak se-ras mereka), dari segi status (mungkin bukan warga romawi dan bahkan sebagian berstatus budak), dari segi iman (tidak percaya dan ikut dalam praktik keagamaan animistis/politeistis/dinamistis/mistis). Selain itu karena iman mereka sedang mengalami berbagai bentuk penderitaan. Kini Petrus menyebutkan beberapa fakta teologis yang luar biasa tentang mereka: 1) bangsa yang terpilih, 2) imamat yang rajani, 3) bangsa yang kudus, dan 4) umat kepunyaan Allah sendiri. Bayangkan, renungkan betapa besar dampak penghiburan, penguatan, pemberdayaan makna masing-masing ungkapan ini pada mereka waktu itu. 
Bagaimana dampaknya untuk kita waktu kini? Mari kita resapi masing-masing ungkapan ini. 
Kita, kelompok percaya kita, gereja kita, umat Kristen di masing-masing lokal kita adalah:
BANGSA (GENOS) yang terpilih -- IMAMAT yang RAJANI (BERKERAJAAN) -- BANGSA (ETHNOS) yang Kudus -- UMAT (LAOS) kepunyaan Allah sendiri. 
Bagaimana frasa-frasa ini mengubah-memperbarui penghayatan dan penghidupan tentang hakikat kita sebagai pengikut Yesus Kristus, bagaimana kita memanifestasikan "kebangsaan Kristen" kita di tengah-tengah beragam pemberi jatidiri lainnya -- ras, keahlian, hobby, seksualitas, kekayaan, aliansi politis, dlsb., dan bagaimana kita mengoperasikan keumatan kita di dalam komunitas Kristen intern sendiri?

Rabu, 10 Januari 2018

Jaridiri Umat Allah

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. -- 1 Petrus 2:9-10

Sejak di pasal 1 kita melihat Petrus memakai beragam penggambaran untuk orang percaya. Penggambaran di pasal 1 lebih berkait dengan berbagai tindakan penyelamatan Allah atas orang percaya -- pilihan, pecikan darah Yesus, dilahirkan baru oleh kebangkitan-Nya, dimasukkan ke dalam pengharapan yang hidup akan warisan kekal, dimurnikan oleh api pencobaan dan kesukaran, dst. Dalam nas ini pengambaran beralih ke sesuatu yang lebih dinamis dan bersifat sosial. Orang percaya disebut sebagai 1) bangsa yang terpilih, 2) imamat yang rajani, 3) bangsa yang kudus, 4) umat kepunyaan Allah sendiri, dengan tujuan hakiki keberadaan itu ialah 5) untuk memberitakan keajaiban-keajaiban Allah. Dari sini boleh kita tarik beberapa pemaknaan relevan untuk kita orang percaya masa kini:
Pertama, kita perlu memiliki jatidiri keimanan yang sedemikian kuat sampai berpengaruh sangat jelas ke perilaku keseharian kita. Di ayat-ayat sebelum ini Petrus mengkontraskan antara Yesus yang mulia yang menjadi batu penjuru bagi orang percaya dari mereka yang karena tidak taat (percaya) kepada Yesus Kristus mengalami Dia sebagai batu sandungan dan batu penghancur. Orang percaya perlu memiliki kesadaran kontras mengakar bahwa pengorbanan Yesus Kristus, sikap Allah Bapa dan operasi Roh Kudus membuat kita beda, tidak sama, lain dari orang yang di luar anugerah. Ini harus kita pelihara benar mengingat tekanan atau godaan untuk pluralis-toleran yang kompromis begitu kuat zaman ini.
Kedua, kesan jatidiri dan perilaku berbeda ini membuat kita takjub akan apa yang sesungguhnya terjadi dalam hati Allah sehingga dari jutaan galaksi, milyaran tata surya, infinit jumlah keseluruhan partikel, satelit, planet, bintang di angkasa raya, dari begitu banyak makhluk rasional-spiritual seperti kerub, serafim, malaikat, dlsb. demi manusia yang lemah, berontak, tidak layak ini Ia rela sampai datang, menjadi sama, berkorban sampai mati. Ini bukan sesuatu yang boleh kita terima seenaknya, tetapi perlu menarik kita ke upaya merenungkan kedahsyatan kasih Allah dalam Yesus Kristus kendati itu sesuatu yang tidak terselami (bdk. Efesus 3:19, sampai kasih itu menjadi kekuatan besar dalam dorongan pengabdian kita kepada-Nya (bdk. 2 Kor. 5:14).
Ketiga, hasil nyata kesadaran akan keterpilihan kita, akan pengorbanan Yesus Kristus, akan berbagai berkat rohani-ilahi-kekal yang kita terima, membawa kita kepada ketakjuban akan keajaiban-keajaiban, atau kebajikan-kebajikan, atau kemuliaan-kemuliaan Allah -- sukar mencari kata padanan yang tepat -- yaitu beragam sifat, sikap dan tindakan Allah kepada kita yang lahir dari dalam interaksi kekal tak terselami antar tiga pribadi Tritunggal. Sampai di sini, kita hanya dapat menyaksikan dengan ketakjuban nyata -- segala puji, hormat, kemuliaan adalah punya-Nya, untuk-Nya kekal selama-lamanya. Amin.

Selasa, 09 Januari 2018

Proses Pemisahan

Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. -- 1 Petrus 2:4-8

Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia bukan membawa damai tetapi pedang, bahwa hati-Nya  sangat bersuka ketika melihat "api"  yang dilemparkan-Nya menyebabkan pertentangan, pemisahan, perceraian. Apa dari Yesus yang menyebabkan pemisahan itu?Spiritualitas-Nya, Ajaran-Nya, Perilaku Sosial dan Pelayanan-Nya, yang semuanya berpuncak pada salib-Nya adalah batu sandungan -- skandal -- bagi banyak orang. Orang tersandung oleh spiritualitas-Nya yang bebas merayakan hubungan dengan Allah dan sesama dalam maksud sejati aturan-aturan dan bukan menjadi budak dari aturan. Orang tersandung oleh ajaran-Nya terutama tentang dua hal. Pertama, Ia menyiratkan diri-Nya memiliki otoritas mutlak yang menuntut ketaatan dan kepengikutan mutlak para pengikut-Nya kepada-Nya. Kedua, Ia menyatakan bahwa pada akhirnya cara Ia mewujudkan misi Allah untuk manusia adalah melalui jalan sengsara, kehinaan dan kekejaman salib, yang menjadikan Ia adalah roti terpecah dan anggur tercurah pemberi hidup bagi para pegikut-Nya. Perilaku sosial dan pelayanan-Nya yang menerima orang-orang marjinal -- orang kusta, perempuan bersuami gonta-ganti, pelacur, pemungut cukai, anak-anak yang belum terlihat kontribusi nyatanya -- pun penyebab pertentangan dan pemisahan. 
Pemisahan, pertentangan, perceraian antar manusia ini terjadi akibat proses pemisahan lebih radikal yang berlangsung di dalam diri orang-orang itu sendiri. Ketika kita berjumpa Yesus, mendengar Injil-Nya, melihat beragam ujaran dan ajakan dan desakan-Nya, bercermin pada keindahan kuat pengaruh keteladanan-Nya, kita diperhadapkan dengan pilihan: masuk lebih dalam ke dalam Dia atau melambat, berhenti, berpaling lalu meninggalkan Dia. Ajakan Petrus adalah "datanglah terus kepada-Nya" supaya Ia bukan batu sandungan penyebab kehancuran melainkan batu penjuru, batu hidup yang memroses terus kehidupan kita pun menjadi batu-batu hidup. 
Kita hidup dalam zaman orang lebih menyukai yang samar ketimbang nyata, yang maya ketimbang konkret, yang beragam pilihan ketimbang komitmen jelas. Adalah vital untuk kita memastikan Yesus Kristus -- ajaran-kehidupan-perilaku-visi-misi-Nya -- sebagai batu penjuru seluruh aspek pembangunan kehidupan kita supaya kita tidak hanyut terbawa arus zaman ini.

Sabtu, 06 Januari 2018

Batu yang Mulia

Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. -- 1 Petrus 2:7-8

Injil Yesus Kristus -- kisah hidup-pelayanan-salib-kubur kosong-kenaikan -- untuk sebagian orang yang menerima dan percaya menjadi hal yang mulia dan mahal karena inilah sumber untuk pengharapan yang hidup; tetapi untuk yang tidak percaya dan taat Yesus dianggap sebagai batu buangan yang hina dan tidak berguna. Nyatanya, dalam sejarah dan dalam perspektif kekal Allah batu yang dibuang itu justru memang dipakai Allah menjadi Batu Hidup, Batu Penjuru yang menjadi pengukur dan pengikat semua batu lain yang dipakai Allah untuk membangun Bait-Nya yang rohani di bumi ini. Sedangkan untuk yang tidak memercayai Dia, dengan sendirinya tersandung dan terbuang, tidak termasuk dalam rencana pembangunan Allah. .
Yesus Kristus -- hidup-Nya, ajaran-Nya, pelayanan-Nya, sikap sosial-Nya, perilaku-Nya, teladan-Nya, kepemimpinan-Nya, spiritualitas-Nya -- harus menjadi Batu Pengikat seluruh aspek kehidupan kita pribadi, keluarga, keseharian, gerejawi, dst. Hanya jika kita sungguh dibangun terikat/terhubung menyatu dengan seluruh segi kehidupan Yesus Kristus termasuk jalan mulia salib, jalan menghidupkan via kematian, jalan kepemimpinan hamba, barulah kita boleh bersyukur bahwa ada nilai-nilai kekal ilahi dalam kehidupan kita. Kiranya Roh Kristus selalu mengingatkan dan memberdaya kita untuk menjaga kesatuan ini. Mari jadikan Hidup Yesus Kristus sebagai Blue-print kehidupan kita seterusnya. Amin. 

Jumat, 05 Januari 2018

Batu-batu Hidup Juga

Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." -- 1 Petrus 2:4-6


Surat ini bukan ditujukan kepada orang-orang di luar anugerah. Pasal 1 jelas bicara tentang berbagai faset keselamatan yang sudah menjadi ciri dari penerima surat ini. Justru karena itu kini Petrus menasihati mereka yang sudah datang kepada Yesus Kristus untuk kembali datang, terus menerus memupuk hubungan akrab dengan Yesus Kristus. Inilah hakikat kehidupan Kristen, bukan sekali beriman seterusnya terjamin, bukan sekali bertobat otomatis tidak ada hal lain baik dari yang lama maupun yang baru yang perlu dibereskan, sekali memegang hak masuk surga lalu mengabaikan bahwa hidup surgawi masa depan kekal itu justru perlu dialami nyata terwujud dalam dunia sementara ini. 
Sifat kehidupan Kristen itu adalah hubungan menyatu yang dinamis dengan Yesus Kristus. Manifestasi dari kesatuan dengan Yesus Kristus adalah seperti ini: Ia Batu yang Hidup, kita juga dijadikan-Nya batu-batu hidup; Ia Imam Besar Agung, kita juga dijadikan-Nya imam satu kepada lain dalam gereja yang adalah keimamatan semua orang percaya; Ia Terang Dunia, kita pun dijadikan seperti Dia terang untuk dunia ini; Ia Air Hidup, di dalam kita Ia memancarkan air kehidupan sampai kepada kekekalan.
Petrus kini mengajak kita melihat ke proses pembangunan Bait Allah bahkan Kota Allah yaitu Sion Ilahi yang mewujud di bumi, dimana Gereja adalah sebagian wujud dari Kerajaan Allah di bumi sebagaimana yang kita doakan di akhir doa-doa syafaat ibadah Minggu. Tidak ada orang Kristen yang sungguh menyatu dengan Yesus Kristus yang tidak dalam rencana Allah untuk dipakai dalam pembangunan Kota Ilahi itu. Kriteria fit and proper test Allah bukan terutama hal seperti gelar, deposito, pengaruh, wajah, banyak tahu, pandai adu argumen dan cakap bersandiwara, sebagaimana yang sering ditayangkan di sinetron. Kriteria yang berlaku pada Yesus itu juga yang menjadi kriteria kelayakan dipakainya kita dalam pembangunan Bait-Sion Ilahi. Seperti Yesus dibuang, ditolak, direndahkan, dihina bahkan dibuat tidak berdaya di hadapan manusia demikian juga sikap berserah, merendahkan diri, tidak mengandalkan kekuatan otot dan ngotot, percaya akan cara-cara Allah ketimbang kepada kebjakan manusiawi, menimbang mulia dari perspektif Allah bukan menurut konsep kemuliaan duniawi, dst. 
Mumpung baru hari ke-5 kita di tahun 2018 ini, mari makin menyatu dengan Yesus Kristus dan makin membuka diri untuk karya-karya anugerah-Nya mewujudkan Kerajaan di dalam dan melalui kita. Mari dengan syukur bahwa kita boleh diikutkan dalam pewujudan Kerajaan, kita turuti dorongan Allah untuk memakai hidup kita dan segala yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita ini demi membangun gereja-Nya dan menghadirkan dampak Kerajaan di sekitar kita.