Kamis, 30 Agustus 2018

Kitab yang Membaca Saya


Di meja kerja saya berdiri sebuah ukiran kayu kecil, karya seniman Tanzania tak dikenal. Itu menggambarkan seorang perempuan sedang berlutut. Yang menarik mata kita adalah wajahnya... yang seakan memancarkan rahasia besar yang memberinya sukacita mendalam. Rahasia itu jelas berkaitan dengan buku dengan salib yang ia pegang tinggi di atas kepalanya.
Dalam ukiran itu sang seniman ingin menangkap klimaks dari kisah yang sering diceritakan di Afrika Timur. Seorang perempuan sederhana selalu berkeliling membawa Alkitab tebal. Ia tidak pernah berpisah dari Alkitab itu. Segera para penghuni desa mulai mengejek dia: "Mengapa selalu Alkitab? 'Kan ada banyak sekali buku lain yang dapat kamu baca!" Namun demikian perempuan itu tetap saja hidup dengan Alkitabnya, tidak menjadi terganggu atau marah oleh semua ejekan itu. Akhirnya, suatu hari ia berlutut di tengah mereka yang menertawakannya. Sambil mengangkat tinggi Alkitab itu di atas kepalanya, ia berkata dengan senyum melebar: "Ya, memang ada banyak buku yang bisa saya baca. Tetapi hanya ada satu buku yang dapat membaca saya!"
Kisah ini adalah keseluruhan rahasia penelaahan Alkitab secara ringkas. Orang mulai dengan mendengarkan berita lama Alkitab, dengan menganalisis teks kuno tersebut, melalui membacanya -- entah secara naif atau kritis -- yaitu dokumen alkitabiah dari zaman purba. Mereka melakukan itu sebagai sesuatu yang menjemukan atau bersifat mengajar, yang orang Kristen harus lakukan atau sebagai sesuatu yang didorong oleh ketertarikan mereka secara historis, sastra atau teologis. Namun perubahan peran yang misterius bisa terjadi. Sementara mendengarkan, menganalisis dan membaca itu, para pelajar Alkitab berjumpa dengan realitas hidup yang mulai menantang mereka. Keluar dari berbagai kisah, teks dan dokumen Alkitab itu, satu Pribadi menjadi hidup: yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub, dan bahkan lebih intim lagi Yesus dari Nazaret yang di dalam-Nya Allah Alkitab memilih untuk hadir di antara kita. Kehadiran ilahi ini mulai bertanya, menilai dan membimbing kita. Mungkin secara bertahap, mungkin tiba-tiba, buku yang menjadi objek pembacaan dan penelaahan kita itu menjadi subjek yang membaca kehidupan kita.
Tidak ada metode yang menjamin terjadinya perubahan peran misterius itu. Itu tidak datang dari kesanggupan akademis manusia atau pengajaran cerdas dan pengetahuan teknis. Itu adalah perubahan yang dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus.
(Hans-Rudi Weber, Experiences with Bible Study. WCC, 1981, hlm. vii)

Kamis, 23 Agustus 2018

Inti dari Syafaat

Langkah pertama syafaat adalah melakukan "tindakan" tegas bersatu dengan arus kasih dan kuasa Allah, yang mengalir keluar tanpa henti dari hati-Nya dan kembali kepada diri-Nya lagi.
Membuat usaha sadar menyatukan kehendak dan hati kita dengan sungai kasih Allah yang mengalir terus menerus itu akan memberi kita energi yang tenang. Dengan menyadari bahwa kasih Allah mengalir melalui kita dan memakai kita sambil ia mengalir, semua ketegangan yang sifatnya alami semata akan lenyap. Jika penderitaan datang pada kita sementara kita bersyafaat, kita harus menerimanya, dan tetap berserah dengan tenang kepada Allah demi maksud-Nya. Jika kita mengalami kesukaran untuk "maju terus,"  sebaiknya kita menyelidiki hati apakah kita sedang mengupayakan agar Allah memberkati kita karena kita berusaha memuliakan Dia, ketimbang agar kita bersatu dengan kasih-Nya. "Karya terbesar yang dihasilkan oleh doa, bukan terjadi karena usaha manusia tetapi oleh kepercayaan manusia akan upaya Allah." Dalam doa semacam ini kita bersatu dengan kehidupan Allah terdalam, berbagian dalam karya-Nya. 
Hakikat dan inti dari syafaat adalah persembahan diri. Semakin dalam penyerahan kita kepada Allah, semakin sejati dan berkuasa doa syafaat kita. Doa syafaat sesungguhnya adalah prinsip dasar dari menjadi manusia, ia mengungkapkan hakikat kebersamaan komunitas manusia, dan ia mengungkapkan insting untuk memberi sampai ke kondisi pengorbanan yang merupakan unsur terdalam dari hakikat kita, dan digenapi sepenuhnya sekali untuk selamanya oleh Kristus di salib... Syafaat tersebut mencakup seluruh dunia, semua dosa kita, kekejaman dan kesengsaraan manusia, semua kengerian peperangan, semua keluh kesah orang yang terpenjara dan tertawan, kesengsaraan orang yang ditindas dan dibuang, keputusasaan semua orang yang jauh dari Allah. "Doa syafaat Kristen adalah penyempurnaan dan ungkapan dari pemberian diri." Kita mempersembahkan kasih kita yang papa dan tidak sempurna kepada Allah untuk menjadi saluran dari kasih-Nya yang sempurna dan menyelamatkan.  Kta mempersembahkan diri kita menjadi jalan yang melaluinya Allah akan menjangkau, menyelamatkan dan memberkati dunia ini.
(Olive Wyon, The School of Prayer, SCM Press, 1943, p. 115)

Sabtu, 04 Agustus 2018

Arti Hidup

Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. -- 1 Korintus 13:3
Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. -- Wahyu 2:4

Bersama seluruh umat Allah, dengan semua orang dari seluruh dunia, Anda diundang untuk menghidupi kehidupan yang melampaui segala pengharapan Anda. Sendirian, bagaimana mungkin Anda pernah mengalami gemerlap hadirat Allah?
Allah terlampau cemerlang untuk dapat ditatap. Ia adalah Allah yang membutakan penglihatan kita. Kristuslah yang menyalurkan api yang menghanguskan itu, dan mengizinkan Allah bercahaya melalui-Nya tanpa menyilaukan kita. 
Kristus hadir, dekat kepada setiap orang dari kita, entah kita mengenal Dia atau tidak. Ia sedemikian terlibat dengan kita sampai Ia hidup di dalam kita, bahkan ketika kita tidak menyadari Dia. Ia hadir secara rahasia, api itu yang menyala di dalam hati-Nya, terang dalam kegelapan.
Tetapi Kristus pun seorang yang lain dari diri Anda sendiri. Ia hidup, Ia berdiri melampaui, mendahului kita.
Inilah rahasia Dia, Ia mengasihi Anda lebih dulu.
Inilah arti kehidupan Anda: dikasihi selama-lamanya, dikasihi sampai kekekalan, supaya pada gilir berikutnya, Anda berani menghidupi kehidupan Anda. Tanpa kasih, apakah artinya hidup?
Mulai kini, dalam doa atau dalam gumulan, hanya satu hal yang celaka, kehilangan kasih. Tanpa kasih, apakah gunanya percaya, atau bahkan memberi diri Anda untuk berkorban?
Pahamkah Anda? Kontemplasi dan pergumulan bangkit dari sumber yang sama: Kristus yang kasih adanya itu.
Jika Anda berdoa, itu harus dari kasih. Jika Anda bergumul untuk memulihkan martabat diri orang yang dieksploitasi, itu pun harus karena kasih.
Setujukah Anda untuk terjun ke dunia nyata? Dengan menanggung risiko kehilangan hidup Anda karena kasih; bersediakah Anda menghidupi Kristus demi orang lain?
(Roger Schutz -- Brother Roger of Taize, Parable of Community, Texts of Taize, Mowbray 1980, pp. 49-50)

Jumat, 03 Agustus 2018

Yesus, Sahabat

Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. -- Lukas 7:34
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. -- Yohanes 15:13-14

Ketika dalam lingkup relasi manusia, relasi orangtua-anak berakhir, ketika koneksi tuan-hamba dihapuskan dan ketika privilese yang didasarkan atas posisi seksual disingkirkan, maka hal yang sejatinya manusia muncul dan bertahan, itu adalah persahabatan. Manusia yang baru, yang sejati, manusia yang merdeka adalah sahabat. Keberadaan untuk orang lain dalam peraturan dan fungsi tatanan sosial memang keharusan. Tetapi itu hanya sah selama yang merupakan keharusan ada terus. Di pihak lain keberadaan bersama orang lain, dalam sikap bersahabat yang tidak menuntut, bebas dari desakan dan paksaan. Persahabatan adalah hasrat wajar untuk persekutuan manusia yang sejati, afeksi timbal balik yang direkatkan oleh kesetiaan. Semakin seseorang hidup bersama orang lain secara timbal balik, semakin privilese dan klaim dominasi menjadi tak berguna. Semakin orang saling percaya semakin kurang kebutuhan untuk saling mengatur. Arti positif dari masyarakat tanpa kelas yang bebas dari dominasi, tanpa tekanan dan privilese, terletak dalam persahabatan. Tanpa kuasa persahabatan dan tanpa adanya tujuan untuk dunia yang bersahabat tidak ada pengharapan bagi manusia dari konflik antar kelas dan konflik untuk penguasaan.
Alasan terdalam persahabatan Yesus dengan "para pemungut cukai dan orang berdosa" harus ditemukan di dalam sukacita perjamuan mesianik yang Ia rayakan bersama mereka. Itu bukan simpati, itu adalah sukacita melimpah dalam Kerajaan Allah, sukacita yang berupaya untuk berbagi dan menyambut, yang membuat Ia mendekat kepada orang yang terbuang di mata hukum taurat. Fajar Kerajaan dirayakan dalam perjamuan mesianik, yang kerap disebut sebagai perjamuan nikah. Penghormatan yang Yesus perlihatkan kepada yang tidak terhormat dan yang tertolak ketika Ia makan dan minum bersama mereka ditentukan oleh hukum anugerah. Yesus memberlakukan hukum anugerah dengan mengampuni dosa dan dengan bersekutu bersama pemungut cukai dan para pendosa. (Jürgen Moltmann, The Church in the Power of the Spirit, SCM Press, 1977, pp. 116-117)

Kamis, 02 Agustus 2018

Dalam Kebenaran

Janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." -- Matius 6:31-34; 7:9-11


"Sembahlah Allah dalam roh dan dalam kebenaran."  Dalam kebenaran, misalnya, ketika Anda berkata, "Dikuduskanlah Nama-Mu"; Apakah Anda sungguh berhasrat bahwa Nama Allah sungguh dikudus-tinggikan melalui perbuatan hidup orang lain dan diri Anda sendiri juga? Waktu Anda berdoa, "Datanglah Kerajaan-Mu"; apakah Anda sungguh merindukan datang mewujudnya Kerajaan Allah? Apakah Anda berharap menjadi kediaman dari Roh Allah, dan bukan kediaman dosa? Atau Anda lebih ingin hidup dalam dosa? Ketika Anda berkata, "Jadilah kehendak-Mu"; bukankah Anda lebih berusaha memenuhi keinginan sendiri ketimbang kehendak Tuhan? Ya, tidak? Waktu Anda memohon, "Berikanlah kami hari ini makanan kami secukupnya"; bukankah dalam hati Anda malah berkata seperti ini: "Saya tidak perlu meminta ini dari-Mu -- saya punya lebih dari cukup tanpa perlu meminta kepada-Mu, biar orang miskin saja yang berdoa semacam ini." Atau, bukankah kita dengan serakah meminta lebih, dan tidak pernah puas dengan sedikit atau dengan apa yang telah Tuhan karuniakan kepada kita? Kita tidak mengucap syukur  atas apa yang kita miliki sebagaimana seharusnya yang Tuhan mau bagi kita.
(St. John of Kronstadt, My Life in Christ, B#61, p. 3)

Rabu, 01 Agustus 2018

Progres Keselamatan

Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. -- Efesus 1:13-17

Supaya oleh pertumbuhan bertahap ... dan kemajuan dari kemuliaan yang satu ke kemuliaan yang berikut, terang Tritunggal boleh bercahaya ke atas orang yang lebih diterangi ... sebab alasannya ialah, menurut saya, Ia secara bertahap mendiami para murid-Nya. Ia memberi takaran diri-Nya kepada mereka sesuai kapasitas mereka menerima Dia; di masa pewartaan injil oleh-Nya, sesudah Sengsara-Nya, sesudah Kenaikan-Nya, menyempurnakan kesanggupan mereka, menghembuskan nafas ke dalam mereka, dan penampakan di dalam lidah-lidah api (Pentakosta)... Jadi Anda lihat, terang terbit atas kita secara bertahap, dan juga pengetahuan teologis menurut urutan tersebut, sebab itu lebih baik bagi kita, yaitu tidak mewartakan kebenaran terlalu mendadak tidak juga menyembunyikannya sampai akhir... Ia berkata segala sesuatu akan diajarkan kepada kita oleh Roh sendiri, yang dijadikan jelas kemudian hari  ketika pengetahuan sedemikian menjadi terpahami dan berterima sesudah pemulihan (kebangkitan) Juruselamat kita ketika kebenaran-Nya tidak lagi diterima dalam keraguan karena sifatnya yang menakjubkan.....
Sungguh Roh memancarkan kelahiran kembali, dan dari kelahiran kembali ke penciptaan baru kita, dan dari penciptaan baru ke pengenalan kita akan kemuliaan Dia yang dari-Nya semua proses pembaruan ini berasal... Lihatlah fakta-fakta ini: Kristus lahir, Roh membuka jalan bagi-Nya, Ia memimpin Dia naik, Ia membuat berbagai mukjizat, Roh menyertai mereka, Ia naik ke kemuliaan, Roh meneruskan posisi dan karya-Nya untuk kita.
(Gregory Nazianzus, Fifth Theological Oration, 26, 27, 28, 29 B#7, pp. 210-211)