Kamis, 30 November 2017

Tebusan atas Salah dan Utang

Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan engkau (harfiah: bersalah) ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku-- aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya--agar jangan kukatakan: "Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!" --karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri. Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus! Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan. Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu. Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus, dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu! -- Filemon 1:17-25

Dua hal terakhir Paulus paparkan ke hadapan Filemon agar ia berkenan menerima Onesimus dengan penerimaan Kristen. Dua hal itu ditulis Paulus dengan pendahuluan "kalau". Pertama, kalau Filemon menganggap Paulus adalah sesama penerima anugerah Kristus -- kata untuk teman di sini adalah koinonos, atau yang ber-koinonia karena / di dalam Kristus. Dengan demikian, ia kini sesungguhnya meneruskan penerapan prinsip anugerah dan pembaruan Kristus yang telah beroperasi dalam Onesimus dan bekerja dalam pendekatan yang Paulus lakukan, juga diaktifkan oleh Filemon  Kedua, Paulus menyadari beratnya keputusan untuk menerima Onesimus di pihak FIlemon, baik dari status hukum mengingat kedudukan majikan-budak, dan adanya kerugian materiil yang dialami Filemon. Kembali Paulus menerapkan prinsip penebusan Kristus ke dalam kasus ini. Bagaimana Kristus menyelamatkan kita? Salah satu perspektif alkitabiah tentang penyelamatan oleh Kristus  mengerti ini sebagai penebusan utang dosa. Paulus dengan serius menegaskan kesediaannya menanggung utang kerugian materiil karena kesalahan Onesimus. Filemon perlu menyadari bahwa ia sendiri pun orang yang berutang hidup baru kepada Paulus, dan kini kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dengan menyelesaikan masalah Onesimus secara Kristen ia pun orang yang berguna . Perhatikan di sini bagaimana Paulus memberlakukan berbagai sikap, tindakan dan dampak pembaruan oleh Kristus secara timbal balik -- kepada dirinya, kepada Onesimus dan kini kepada Filemon. Sesudah ini semua barulah Paulus mengunci Filemon dengan keyakinan bahwa ia akan melihat ketaatan Filemon yang akan ia buktikan dengan kunjungannya kemudian hari, dan juga salam anugerah. 

Jumat, 24 November 2017

Kata-kata beracun

Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia. Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar, dari mereka yang berkata: "Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?" Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya. -- Mazmur 12;2-6
Jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah...  Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. -- Kolose 2:4; 3:8

Ada begitu banyak polusi, bahkan racun dalam bentuk ucapan, kata-kata baik lisan maupun tulisan yang berlangsung di sekitar kita yang dipraktikkan oleh orang-orang yang fasik, bengkok hati, tidak setia. Kemungkinan besar bahkan di kalangan orang yang seharusnya saleh dan setia -- para pemercaya Allah dalam Yesus Kristus -- pun tidak luput dari ancaman ini baik terhadap diri kita sendiri maupun yang keluar dari diri kita ke orang lain. Mazmur 12 menyadarkan kita bahwa krisis dahsyat peradaban bukanlah krisis ekonomi-moneter-perdagangan, dlsb. melainkan ketika orang saleh dan orang setia lenyap; kemurahhatian, kejujuran, kebaikan merosot hebat; dusta, fitnah, ejekan,kata-kata yang mem-bully, kata-kata menyanjung-menjilat, kata-kata dari dua hati satu yang mengucap dan satu yang bertindak lain, makin menjadi-jadi. Ketika orang jahat berjaya merenggut kuasa karena memanfaatkan kepandaian melancarkan kata-kata yang penuh  tipu muslihat -- peradaban di ambang kehancuran. Di saat seperti ini ratapan-permohonan sesuai mazmur ini perlu dinaikkan, supaya Tuhan tidak hanya menyimak tetapi bertindak menegakkan kebenaran kata-kata-Nya -- yaitu firman-Nya.
Marilah kita membuang kata-kata membujuk, menjilat, memfitnah, berbohong, OMDO, NATO, OMKO(song), menindas, memelintir kebenaran, membual dlsb. yang tidak serasi kebenaran firman TUHAN saat ini dan seterusnya, supaya kata-kata kita bergaram -- membawa pengaruh konstruktif baik dalam keluarga, gereja, pertetanggaan, pekerjaan, dst. Roh kiranya menolong supaya firman-Nya berjaya dalam kata dan fakta kita. Amin. .

Kamis, 23 November 2017

Konsisten Mengampuni dan Memberkati

Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya." Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu." Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya. Adapun Yusuf, ia tetap tinggal di Mesir beserta kaum keluarganya; dan Yusuf hidup seratus sepuluh tahun. Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf. Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub." Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.  -- Kejadian 50:15-27

Bagaimana kita dapat memiliki hidup yang terus menerus dan konsisten menjadi berkat bagi keluarga dan sesama kita? Prinsip apa saja harus kita hidupi?
Sesudah kematian Yakub para saudara Yusuf menjadi takut. Mereka khawatir bahwa pengampunan Yusuf hanya berlaku semasa ayah mereka masih hidup. Mereka masih takut bahwa Yusuf mendendam dan kini tiba saat pembalasan. Maka mereka mengutus orang menyatakan bahwa Yakub pernah berpesan agar Yusuf mengampuni mereka (17). Dalam narasi sebelum ini kita tidak pernah menemukan adanya pesan demikian dari Yakub. Sebenarnya bukan hanya Yusuf, tetapi Yakub pun seharusnya sangat marah kepada kejahatan mereka, namun bahwa dalam berkat profetisnya ia tidak pernah mengaitkan dengan perbuatan jahat itu, jelas Yakub sudah mengampuni. Kita tidak tahu apakah ada pesan demikian atau tidak, tetapi kini Yusuf diperhadapkan pada fakta dahsyatnya akibat dosa pada mereka yang berdosa.
Untuk ketujuh kalinya Yusuf menangis – tangis kasih sempurna. Yusuf lalu menyuarakan pengampunan ilahi kepada para saudaranya. O betapa mulia hati Yusuf, dan betapa ajaib kasih ilahi dalam dirinya. “Janganlah takut, aku inikah pengganti Allah?” (19). Inilah prinsip yang membuat Yusuf telah rajin, hidup benar, tidak membalas jahat dengan jahat, menanti sabar waktu Allah, tidak berani berbuat dosa, dan mengampuni, mengampuni, mengampuni konsisten! Karena ia bukan Allah, melainkan ia tunduk kepada kehendak Allah. Peneguhan kedua ialah pengakuan iman menakjubkan: “kamu mereka-rekakan kejahatan, tetapi Allah mereka-rekakan kebaikan” (20). Inilah pengakuan iman yang tidak mungkin dapat kita jelaskan dan selami kedalamannya. Kedaulatan dan anugerah Allah, kuasa dan rahmat-Nya bekerja bersama-sama mendatangkan kebaikan dan mewujudkan rancangan indah-Nya bahkan melalui hal yang dimaksudkan jahat oleh manusia, Hal teramat dalam ini bukan semata konsumsi otak untuk Yusuf tetapi berdampak pada konsistennya ia mengampuni dan memberkati!
Yusuf tak termasuk bapak leluhur, namun kehidupannya bahkan lebih luhur dari mereka semua. Ia mencerminkan hidup, mati, kasih, pengorbanan, penyelamatan Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya Roh Allah memakai teladan ini memberdayakan kita konsisten mencerminkan Kristus sampai akhir hayat kita!

Rabu, 22 November 2017

Mati, Kedukaan dan Penguburan

Kemudian berpesanlah Yakub kepada mereka: "Apabila aku nanti dikumpulkan kepada kaum leluhurku, kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua yang di ladang Efron, orang Het itu, dalam gua yang di ladang Makhpela di sebelah timur Mamre di tanah Kanaan, ladang yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik. Di situlah dikuburkan Abraham beserta Sara, isterinya; di situlah dikuburkan Ishak beserta Ribka, isterinya, dan di situlah juga kukuburkan Lea; ladang dengan gua yang ada di sana telah dibeli dari orang Het." Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Lalu Yusuf merebahkan dirinya mendekap muka ayahnya serta menangisi dan mencium dia. Dan Yusuf memerintahkan kepada tabib-tabib, yaitu hamba-hambanya, untuk merempah-rempahi mayat ayahnya; maka tabib-tabib itu merempah-rempahi mayat Israel. Hal itu memerlukan empat puluh hari lamanya, sebab demikianlah lamanya waktu yang diperlukan untuk merempah-rempahi, dan orang Mesir menangisi dia tujuh puluh hari lamanya. Setelah lewat hari-hari penangisan itu, berkatalah Yusuf kepada seisi istana Firaun: "Jika kiranya aku mendapat kasihmu, katakanlah kepada Firaun, bahwa ayahku telah menyuruh aku bersumpah, katanya: Tidak lama lagi aku akan mati; dalam kuburku yang telah kugali di tanah Kanaan, di situlah kaukuburkan aku. Oleh sebab itu, izinkanlah aku pergi ke sana, supaya aku menguburkan ayahku; kemudian aku akan kembali." Lalu berkatalah Firaun: "Pergilah ke sana dan kuburkanlah ayahmu itu, seperti yang telah disuruhnya engkau bersumpah." Lalu berjalanlah Yusuf ke sana untuk menguburkan ayahnya, dan bersama-sama dengan dia berjalanlah semua pegawai Firaun, para tua-tua dari istananya, dan semua tua-tua dari tanah Mesir, serta seisi rumah Yusuf juga, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya; hanya anak-anaknya serta kambing domba dan lembu sapinya ditinggalkan mereka di tanah Gosyen. Baik kereta maupun orang-orang berkuda turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia, sehingga iring-iringan itu sangat besar. Setelah mereka sampai ke Goren-Haatad, yang di seberang sungai Yordan, maka mereka mengadakan di situ ratapan yang sangat sedih dan riuh; dan Yusuf mengadakan perkabungan tujuh hari lamanya karena ayahnya itu. Ketika penduduk negeri itu, orang-orang Kanaan, melihat perkabungan di Goren-Haatad itu, berkatalah mereka: "Inilah perkabungan orang Mesir yang amat riuh." Itulah sebabnya tempat itu dinamai Abel-Mizraim, yang letaknya di seberang Yordan. Anak-anak Yakub melakukan kepadanya, seperti yang dipesankannya kepada mereka. Anak-anaknya mengangkut dia ke tanah Kanaan, dan mereka menguburkan dia dalam gua di ladang Makhpela yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik, yaitu ladang yang di sebelah timur Mamre. Setelah ayahnya dikuburkan, pulanglah Yusuf ke Mesir, dia dan saudara-saudaranya dan semua orang yang turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia untuk menguburkan ayahnya itu. -- Kejadian 49:19-50:14
 
Bagaimana kita melihat kematian? Apakah sebagai suatu akhir atau sebagai sesuatu yang melanjutkan hidup yang sudah kita lalui meski dalam cara yang berbeda? Bagaimana kita menyikapi kematian kita?
Itu bukan merupakan pertanyaan yang akan diterima dengan nyaman oleh kebanyakan orang. Semua orang pasti pernah merasakan ketakutan tertentu bila memikirkan dirinya akan meninggal. Mengapa? Sebab ada sesuatu yang misterius tentang apa yang terjadi dalam kematian dan apa akibatnya sesudah itu yang kita tidak tahu, di luar kendali kita, dan bersifat final. Itu sebab kita gelisah bahkan takut. Tetapi ada banyak orang yang dapat menatap bahkan mempersiapkan kematian serta penguburannya dengan penuh keyakinan. Di antara sedikit orang yang demikian itu adalah Yakub. Ketika ia mengumpulkan anak-anaknya dan memberikan nubuat berkat, intinya ia menyiapkan perpisahan dirinya dari mereka. Berulang kali ia meminta dan memastikan berbagai hal sehubungan dengan penguburannya. Dan seperti cara kematian Abraham, ia pun meninggal dengan cara yang sangat indah. Ia menarik kakinya, berbaring lalu pergi.
Oleh karena Yusuf adalah pembesar Mesir, kematian Yakub ayahnya pun mendapat penghormatan dan tata cara penguburan menurut kebudayaan Mesir. Ada persamaan dan perbedaan penting antara perlakuan Mesir dan perlakuan keluarga Israel tentang orang mati. Keduanya sama-sama meyakini adanya hidup kelanjutan dari orang yang sudah mati, seperti yang ditandai oleh pengawetan mayat pada orang Mesir. Pada keluarga bapa leluhur tidak diadakan pengawetan mayat, namun ungkapan “dikumpulkan bersama Abraham, Sara, Ishak, Ribka, Lea…” menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berlanjut di antara mereka meski saat itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Tangisan adalah hal yang manusiawi dan wajar, namun bila Yusuf menangis dengan mendekap dan mencium Yakub, orang Mesir menangis sampai tujuh puluh hari. Jika pasti adanya hidup berkelanjutan sesudah kematian, mengapa harus menangis sampai sekian lama?
Sesudah Yesus mati lalu bangkit, maut tidak lagi menakutkan. Hidup di seberang maut adalah bertemu Dia yang bangkit yang merupakan pemula dan penyempurna iman kita dan pemberi sumber pengharapan baik hidup maupun mati kita. Amin!

Selasa, 21 November 2017

Berkat Profetis

Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: "Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu. Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan. Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku! Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan. Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel. Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa. Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur. Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu. Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon. Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya, ketika dilihatnya, bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai, maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi. Adapun Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel. Semoga Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang. Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN. Gad, ia akan diserang oleh gerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka. Asyer, makanannya akan limpah mewah dan ia akan memberikan santapan raja-raja. Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas; ia akan melahirkan anak-anak indah. Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel, oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah Yang Mahakuasa, yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat buah dada dan kandungan. Berkat ayahmu melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya. Benyamin adalah seperti serigala yang menerkam; pada waktu pagi ia memakan mangsanya dan pada waktu petang ia membagi-bagi rampasannya." Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing. -- Kejadian 49:1-28

Apa atau siapakah yang menentukan destini kehidupan manusia? Berkat profetis yang Yakub ucapkan di akhir hidupnya kepada semua anaknya ini sedikit banyak memaparkan kepada kita misteri yang ditanyakan ini. Yakub memanggil semua anaknya untuk berkumpul. Dan satu per satu mereka mendapatkan “berkat” (28) Yakub. Berkat tersebut menyangkut masa depan mereka. Namun bila kita teliti setiap “berkat” tersebut, ternyata ada sebagian yang sebenarnya mengacu ke masa lalu sikap dan perbuatan mereka. Misalnya Ruben, Simeon dan Lewi. Ruben sama sekali tidak mendapatkan berkat, melainkan hanya paparan bahwa perbuatannya yang tidak menghormati ayahnya dengan melakukan inses membuatnya seterusnya bukan lagi yang utama dan tidak akan mungkin lagi menjadi yang utama. Simeon dan Lewi yang telah membunuh Sikhem dan kerabatnya dengan keji, ditolak Yakub seterusnya (6) bahkan dikutuknya (7). Yusuf yang sejak muda telah menunjukkan respons positif baik kepada panggilan ilahi maupun kepada sikap buruk saudaranya, dikokohkan dalam kemuliaan yang telah dicapainya (22-26). Semua ini mengingatkan kita akan firman: “apa yang ditabur orang itu juga akan dituainya” (Gal. 6:7).
Berkat-berkat yang Yakub sebutkan kepada anak-anaknya yang lain memaparkan jalan hidup mereka kelak. Sejak dari saat itu seterusnya sampai mereka menjadi umat Israel di bawah kepemipinan Musa, lalu menjadi kerajaan Israel, berbagai ciri yang disebutkan Yakub ini terjadi secara bertahap. Kita mungkin tidak menemukan kaitan langsung antara masa lalu mereka dengan masa depan mereka. Isu kaitan masa lalu dan masa depan, keputusan pribadi atau bangsa dan ketetapan ilahi adalah isu pelik yang harus didekati dengan takut dan gentar. Di antara kedua ekstrim tersebut nubuat berkat untuk Lewi dan Yehuda menarik untuk kita renungkan lebih dalam. Masa lalu Yehuda sebenarnya sama rusaknya seperti Ruben, namun berkat yang diterimanya luar biasa mulia karena darinya akan keluar sang mesias! Lewi yang dinubuatkan dengan kutuk pun dalam masa Musa memainkan peran pelayanan sangat menentukan dalam ibadah dan pemurnian serta spiritualitas umat! Semua ini membuat kita insyaf bahwa masa lalu, kini dan masa depan kita, harus dengan gentar dan hormat kita hidupi dalam iman penuh kepada Allah!

Sabtu, 18 November 2017

Warisan Terluhur

Maka diamlah Israel di tanah Mesir, di tanah Gosyen, dan mereka menjadi penduduk di situ. Mereka beranak cucu dan sangat bertambah banyak. Dan Yakub masih hidup tujuh belas tahun di tanah Mesir, maka umur Yakub, yakni tahun-tahun hidupnya, menjadi seratus empat puluh tujuh tahun. Ketika hampir waktunya bahwa Israel akan mati, dipanggilnyalah anaknya, Yusuf, dan berkata kepadanya: "Jika aku mendapat kasihmu, letakkanlah kiranya tanganmu di bawah pangkal pahaku, dan bersumpahlah, bahwa engkau akan menunjukkan kasih dan setia kepadaku: Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir, karena aku mau mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangku. Sebab itu angkutlah aku dari Mesir dan kuburkanlah aku dalam kubur mereka." Jawabnya: "Aku akan berbuat seperti katamu itu." Kemudian kata Yakub: "Bersumpahlah kepadaku." Maka Yusufpun bersumpah kepadanya. Lalu sujudlah Israel di sebelah kepala tempat tidurnya. Sesudah itu ada orang mengatakan kepada Yusuf: "Ayahmu sakit!" Lalu dibawanyalah kedua anaknya, Manasye dan Efraim. Ketika diberitahukan kepada Yakub: "Telah datang anakmu Yusuf kepadamu," maka Israel mengumpulkan segenap kekuatannya dan duduklah ia di tempat tidurnya. Berkatalah Yakub kepada Yusuf: "Allah, Yang Mahakuasa telah menampakkan diri kepadaku di Lus di tanah Kanaan dan memberkati aku serta berfirman kepadaku: Akulah yang membuat engkau beranak cucu, dan Aku akan membuat engkau bertambah banyak dan menjadi sekumpulan bangsa-bangsa; Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu untuk menjadi miliknya sampai selama-lamanya. Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir, sebelum aku datang kepadamu ke Mesir, akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon. Dan keturunanmu yang kauperoleh sesudah mereka, engkaulah yang empunya, tetapi dalam pembagian warisan nama mereka akan disebutkan berdasarkan nama kedua saudaranya itu. Kalau aku, pada waktu perjalananku dari Padan, aku kematian Rahel di tanah Kanaan di jalan, ketika kami tidak berapa jauh lagi dari Efrata, dan aku menguburkannya di sana, di sisi jalan ke Efrata" --yaitu Betlehem. Ketika Israel melihat anak-anak Yusuf itu, bertanyalah ia: "Siapakah ini?" Jawab Yusuf kepada ayahnya: "Inilah anak-anakku yang telah diberikan Allah kepadaku di sini." Maka kata Yakub: "Dekatkanlah mereka kepadaku, supaya kuberkati mereka." Adapun mata Israel telah kabur karena tuanya, jadi ia tidak dapat lagi melihat. Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya. Lalu berkatalah Israel kepada Yusuf: "Tidak kusangka-sangka, bahwa aku akan melihat mukamu lagi, tetapi sekarang Allah bahkan memberi aku melihat keturunanmu." Lalu Yusuf menarik mereka dari antara lutut ayahnya, dan ia sujud dengan mukanya sampai ke tanah. Setelah itu Yusuf memegang mereka keduanya, dengan tangan kanan dipegangnya Efraim, yaitu di sebelah kiri Israel, dan dengan tangan kiri Manasye, yaitu di sebelah kanan Israel, lalu didekatkannyalah mereka kepadanya. Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye--jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung. Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: "Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini, sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah jumlah yang besar di bumi." Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye. Katanya kepada ayahnya: "Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya." Tetapi ayahnya menolak, katanya: "Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa." Lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya: "Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye." Demikianlah didahulukannya Efraim dari pada Manasye. Kemudian berkatalah Israel kepada Yusuf: "Tidak lama lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu. Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori." -- Kejadian 47:27-48:22

Di luar dugaan, Yakub yang saat bertemu kembali dengan Yusuf menyatakan siap meninggal, masih hidup tujuh belas tahun dalam kebahagiaan. Meski bahagia, ia meminta Yusuf bersumpah agar tidak menguburkannya di Mesir. Ia ingin dikubur bersama nenek moyangnya, yaitu di tanah perjanjian. Inilah kesan dan pesan penting yang ditinggalkan Yakub dan menjadi teladan tentang keutamaan panggilan ilahi bagi kehidupan anak-cucunya yang kelak membentuk umat Israel.
Sesudah bersumpah sesuai permintaan Yakub, ketika Yakub jatuh sakit Yusuf membawa kedua putranya untuk beroleh berkat dari Yakub. Selain kesan dan pesan, berkat yang diberikan oleh orang yang sudah lanjut usia merupakan bekal penting bagi generasi penerus. Yakub mengingat kembali janji yang ia terima dari Allah (48:4). Kedua anak Yusuf  yang lahir dari ibu dan di tanah asing, diangkatnya menjadi anak. Tindakan ini menunjukkan penegasan Yakub bahwa kedua anak Yusuf itu juga adalah pewaris panggilan ilahi. Jika kita tidak dapat mewariskan banyak hal pada anak cucu kita, hal yang Yakub wariskan ini bukan saja cukup tetapi sangat hakiki. Harta dalam bejana tanah liat, janji Allah, panggilan ilahi, Injil, kisah tentang hidup kekal yang didapat dalam Yesus Kristus, sudahkah hal-hal tak ternilai ini kita tuturkan dan wariskan kepada generasi penerus kita? Sungguhkah seluruh hidup kita menjadi pancaran hal-hal hakiki ini?
Di usianya yang sudah uzur Yakub menjadi buta. Namun sebagai seorang yang semakin hari semakin jelas menatap Tuhan dan mengikuti pimpinan-Nya, penglihatan imannya makin jelas. Hal ini nampak dari adegan ketika Yakub memberkati Efraim dan Manasye. Hal yang terjadi pada dirinya yaitu sebagai anak kedua ia mendapatkan berkat kesulungan, kini kembali ia lakukan dalam berkatnya kepada kedua anak Yusuf. Itulah hakikat berkat dan anugerah. Yang bukan apa-apa dijadikan apa-apa, yang apa-apa sesungguhnya bukan apa-apa (1Kor. 1:28). Seluruh hidup Yakub telah menyatakan itu, demikian pun hidup Yusuf yang bukan anak sulung namun telah menjadi yang utama dari semua anak Yakub.
Kisah umat Allah PL, PB dan kita kini, adalah kisah kedaulatan anugerah dan kasih Allah mengalir kepada mereka yang sesungguhnya tidak layak menerima berkat!

Jumat, 17 November 2017

Tindkan Penyelamatan

Di seluruh negeri itu tidak ada makanan, sebab kelaparan itu sangat hebat, sehingga seisi tanah Mesir dan tanah Kanaan lemah lesu karena kelaparan itu. Maka Yusuf mengumpulkan segala uang yang terdapat di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, yakni uang pembayar gandum yang dibeli mereka; dan Yusuf membawa uang itu ke dalam istana Firaun. Setelah habis uang di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, datanglah semua orang Mesir menghadap Yusuf serta berkata: "Berilah makanan kepada kami! Mengapa kami harus mati di depanmu? Sebab tidak ada lagi uang." Jawab Yusuf: "Jika tidak ada lagi uang, berilah ternakmu, maka aku akan memberi makanan kepadamu sebagai ganti ternakmu itu." Lalu mereka membawa ternaknya kepada Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba dan kumpulan lembu sapi dan keledainya, jadi disediakannyalah bagi mereka makanan ganti segala ternaknya pada tahun itu. Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya, pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya: "Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku, bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami. Mengapa kami harus mati di depan matamu, baik kami maupun tanah kami? Belilah kami dan tanah kami sebagai ganti makanan, maka kami dengan tanah kami akan menjadi hamba kepada Firaun. Berikanlah benih, supaya kami hidup dan jangan mati, dan supaya tanah itu jangan menjadi tandus." Lalu Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Firaun, sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya, karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Firaun. Dan tentang rakyat itu, diperhambakannyalah mereka di daerah Mesir dari ujung yang satu sampai ujung yang lain. Hanya tanah para imam tidak dibelinya, sebab para imam mendapat tunjangan tetap dari Firaun, dan mereka hidup dari tunjangan itu; itulah sebabnya mereka tidak menjual tanahnya. Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu: "Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Firaun; inilah benih bagimu, supaya kamu dapat menabur di tanah itu. Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu." Lalu berkatalah mereka: "Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun." Yusuf membuat hal itu menjadi suatu ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari hasilnya menjadi milik Firaun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Firaun.  -- Kejadian 47:1-26

Apa sajakah peran yang dijalankan seorang yang menjadi alat penyelamatan, sehingga keselamatan boleh dicicipi orang banyak?
Pada waktu menafsirkan mimpi Firaun Yusuf sudah memberikan petunjuk agar hasil dalam tujuh tahun kelimpahan tidak dihabiskan tetapi disimpan untuk persiapan menghadapi tujuh tahun bencana kekeringan. Sebagai wakil Firaun Yusuf telah melaksanakan petunjuk ilahi tersebut sehingga perbendaharaan kerajaan Mesir tidak sampai terguncang oleh krisis itu. Sayang rakyat Mesir tidak mengikuti petunjuk dan teladan Yusuf. Akibatnya secara bertahap tetapi pasti semua mereka mengalami pukulan dahsyat kelaparan.
Rakyat Mesir yang mengabaikan petunjuk dan teladan Yusuf harus membayar harga sangat mahal. Tak satu pun dapat luput dari malapetaka itu. Semua mengalami kekeringan, kemiskinan, dan kelaparan. Yusuf kini memegang kunci keselamatan. Orang harus datang kepadanya, menuruti semua ketetapannya agar dapat diluputkan dari bencana itu. Mereka mendapatkan makanan yang menyambung hidup mereka dari Yusuf dengan jalan menukar dengan semua yang mereka miliki. Pertama dengan uang, sesudah uang habis dengan ternak, lalu sesudah tidak ada lagi ternak akhirnya dengan tanah mereka. Sampai akhirnya seluruh rakyat dan segenap tanah Mesir menjadi milik Firaun; nota bene semua kini di bawah kekuasaan Yusuf!
Apakah tindakan Yusuf ini bukan suatu pemerasan kejam berselubungkan tindakan penyelamatan? Sesungguhnya uang, ternak, dan tanah yang mereka berikan sudah tidak ada nilainya. Uang tak dapat dipakai membeli apa pun saat itu. Ternak bukan lagi komoditi tetapi beban yang malah mengancam hidup pemiliknya. Tanah pun tidak lagi berguna karena tak lagi bisa menghasilkan apa pun. Dengan kata lain, mereka menukar dan membayar penyelamatan yang Yusuf berikan kepada mereka itu dengan segala sesuatu yang sama sekali tidak lagi berguna atau bernilai!
Bukankah penyelamatan oleh Yusuf ini juga mencerminkan penyelamatan yang kita peroleh dari Yesus? Ia memberikan segala-galanya yang kita perlu untuk keselamatan kita. Kita hanya menukar dengan mempercayakan seluruh hidup kita yang telah gagal dan hancur ini ke bawah kemilikan dan pengaturan-Nya.

Kamis, 16 November 2017

Kemuliaan Yusuf

Kemudian pergilah Yusuf memberitahukan kepada Firaun: "Ayahku dan saudara-saudaraku beserta kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah datang dari tanah Kanaan, dan sekarang mereka ada di tanah Gosyen." Dari antara saudara-saudaranya itu dibawanya lima orang menghadap Firaun. Firaun bertanya kepada saudara-saudara Yusuf itu: "Apakah pekerjaanmu?" Jawab mereka kepada Firaun: "Hamba-hambamu ini gembala domba, baik kami maupun nenek moyang kami." Lagi kata mereka kepada Firaun: "Kami datang untuk tinggal di negeri ini sebagai orang asing, sebab tidak ada lagi padang rumput untuk kumpulan ternak hamba-hambamu ini, karena hebat kelaparan itu di tanah Kanaan; maka sekarang, izinkanlah hamba-hambamu ini menetap di tanah Gosyen." Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Ayahmu dan saudara-saudaramu telah datang kepadamu. Tanah Mesir ini terbuka untukmu. Tunjukkanlah kepada ayahmu dan kepada saudara-saudaramu tempat menetap di tempat yang terbaik dari negeri ini, biarlah mereka diam di tanah Gosyen. Dan jika engkau tahu di antara mereka orang-orang yang tangkas, tempatkanlah mereka menjadi pengawas ternakku." Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun. Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: "Sudah berapa tahun umurmu?" Jawab Yakub kepada Firaun: "Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing." Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun. Yusuf menunjukkan kepada ayahnya dan saudara-saudaranya tempat untuk menetap dan memberikan kepada mereka tanah milik di tanah Mesir, di tempat yang terbaik di negeri itu, di tanah Rameses, seperti yang diperintahkan Firaun. Dan Yusuf memelihara ayahnya, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya dengan makanan, menurut jumlah anak-anak mereka.  -- Kejadian 47:1-12

Sejak awal kehidupan Yusuf kita sudah melihat tumbuhnya kemuliaan dengan segar. Kini ketika ia mengurusi kediaman keluarga asalnya, satu persatu kemuliaan dirinya terpampang indah. Sukar dapat kita bayangkan bahwa seorang dari keluarga kaum gembala, melalui tempaan berat menjadi budak dan tahanan penjara, sanggup memperlihatkan kemuliaan seperti ini:
Pertama, ia melaporkan kedatangan keluarga asalnya itu kepada Firaun. Yusuf orang kepercayaan Firaun, tetapi ia adalah bawahan Firaun. Ia meminta izin untuk keluarga asalnya tinggal di Mesir. Kedua, Yusuf memperkenalkan para saudaranya kepada Firaun. Tindakannya ini telah melampaui kebaikan dan kasihnya yang telah mengampuni mereka. Kini kepada penguasa dunia, Yusuf memperkenalkan dan mengakui mereka sebagai saudaranya. Tidak ada sedikit pun dendam atau luka dalam hati Yusuf. Seperti halnya Kristus telah membenarkan kita yang berdosa di hadapan Bapa, demikian Yusuf memperlakukan mereka sebagai saudaranya. Tanpa embel-embel keterangan buruk masa lalu mereka. Karena sikapnya ini, saudaranya mendapatkan pekerjaan tetap menjadi gembala ternak Firaun.
Ketiga, sesudah memperoleh pernyataan Firaun yang mempersilakan mereka tinggal di tanah Gosyen, Yusuf membawa Yakub, ayahnya. Luar biasa tindakan Yusuf! Firaun ia perlakukan sebagai rajanya, sebagai penguasa dunia waktu itu. Kini ia memperlakukan Yakub ayahnya sebagai wali yang melaluinya berkat-berkat Allah dialirkan. Ia meminta agar Yakub memberkati Firaun. Firaun adalah raja dunia, tetapi Yakub adalah orang pilihan Allah yang melaluinya berkat-berkat Allah mengalir dan mewujud untuk dunia ini. Yusuf menempatkan kuasa dunia di bawah kuasa ilahi. Pernyataan Yakub untuk Firaun mengandung nubuat penting bagi Firaun juga bagi kita. Ia menyebut perjalanan hidupnya sebagai “hari-hari,” menegaskan tentang kesementaraan hidup ini. Hidup di dunia ini untuknya adalah “pengembaraan” sebab semua kita seharusnya fokus kepada sasaran hidup berjumpa Pencipta dan Penyelamat kita kelak. Ia menyebut bahwa dibanding para bapa leluhur lain, hidupnya penuh penderitaan. Namun, babakan akhir hidupnya berubah total. Ia menikmati kebahagiaan karena putranya, Yusuf telah menjadi alat penyelamat dari Allah. 

Rabu, 15 November 2017

Peneguhan dari Allah

Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya. Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: "Yakub, Yakub!" Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu firman-Nya: "Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti." Lalu berangkatlah Yakub dari Bersyeba, dan anak-anak Israel membawa Yakub, ayah mereka, beserta anak dan isteri mereka, dan mereka menaiki kereta yang dikirim Firaun untuk menjemputnya. Mereka membawa juga ternaknya dan harta bendanya, yang telah diperoleh mereka di tanah Kanaan, lalu tibalah mereka di Mesir, yakni Yakub dan seluruh keturunannya bersama-sama dengan dia. Anak-anak dan cucu-cucunya laki-laki dan perempuan, seluruh keturunannya dibawanyalah ke Mesir. Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben. Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi. Anak-anak Simeon ialah Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin dan Zohar serta Saul, anak seorang perempuan Kanaan. Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari. Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul. Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron. Anak-anak Zebulon ialah Sered, Elon dan Yahleel. Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di Padan-Aram anak-anak lelaki serta Dina juga, anaknya yang perempuan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga jiwa. Anak-anak Gad ialah Zifyon, Hagi, Syuni, Ezbon, Eri, Arodi dan Areli. Anak-anak Asyer ialah Yimna, Yiswa, Yiswi dan Beria; Serah ialah saudara perempuan mereka; dan anak-anak Beria ialah Heber dan Malkiel. Itulah keturunan Zilpa, yakni hamba perempuan yang telah diberikan Laban kepada Lea, anaknya perempuan, dan yang melahirkan anak-anak bagi Yakub; seluruhnya enam belas jiwa. Anak-anak Rahel, isteri Yakub, ialah Yusuf dan Benyamin. Bagi Yusuf lahir Manasye dan Efraim di tanah Mesir, yang dilahirkan baginya oleh Asnat, anak perempuan Potifera, imam di On. Anak-anak Benyamin ialah Bela, Bekher, Asybel, Gera, Naaman, Ehi, Rosh, Mupim, Hupim dan Ared. Itulah keturunan Rahel, yang telah lahir bagi Yakub, seluruhnya berjumlah empat belas jiwa. Anak Dan ialah Husim. Anak-anak Naftali ialah Yahzeel, Guni, Yezer dan Syilem. Itulah keturunan Bilha, yakni hamba perempuan yang diberikan Laban kepada Rahel, anaknya yang perempuan dan yang melahirkan anak-anak itu bagi Yakub--seluruhnya berjumlah tujuh jiwa. Semua orang yang tiba di Mesir bersama-sama dengan Yakub, yakni anak-anak kandungnya, dengan tidak terhitung isteri anak-anaknya, seluruhnya berjumlah enam puluh enam jiwa. Anak-anak Yusuf yang lahir baginya di Mesir ada dua orang. Jadi keluarga Yakub yang tiba di Mesir, seluruhnya berjumlah tujuh puluh jiwa. Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen. Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya. Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup." Kemudian berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya dan kepada keluarga ayahnya itu: "Aku mau menghadap Firaun dan memberitahukan kepadanya: Saudara-saudaraku dan keluarga ayahku, yang tinggal di tanah Kanaan, telah datang kepadaku; orang-orang itu gembala kambing domba, sebab mereka itu pemelihara ternak, dan kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah dibawa mereka. Apabila Firaun memanggil kamu dan bertanya: Apakah pekerjaanmu? jawablah: Hamba-hambamu ini pemelihara ternak, sejak dari kecil sampai sekarang, baik kami maupun nenek moyang kami--dengan maksud supaya kamu boleh diam di tanah Gosyen." --Sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir.  -- Kejadian 46:1-34

Dapat kita mengerti bagaimana perasaan hati Yakub ketika mendengar berita bahwa Yusuf masih hidup bahkan menjadi orang kedua Mesir. Hati yang sedemikian mencintai anaknya telah tercabik dan membeku oleh kedukaan. Lebih-lebih dalam adat kebiasaan keluarga pilihan Allah itu ada tradisi penguburan yang layak bagi kaumnya yang meninggal. Yusuf yang dikabarkan mati karena diterkam binatang buas, tidak saja mati sia-sia, tetapi juga tidak beroleh kehormatan dalam upacara penguburan yang layak. Maka ketika Yakub mendengar berita itu, mulanya hati yang telah hancur berkeping-keping itu tidak mampu lagi merespons berita sukacita itu. Selain diyakinkan oleh berbagai pernyataan kemuliaan Mesir yang Yusuf kirim kepadanya, Yakub kini mendapatkan peneguhan dari Allah. Jika dulu ia seorang yang proaktif dalam ambisinya sendiri, kini ia menjadi seorang yang bertindak responsif hanya kepada firman pimpinan Allah.
Allah tidak hanya memberikan janji, tetapi menegaskan jatidiri-Nya sebagai Allah bapaknya. Selain meneguhkan bahwa kepergian ke Mesir memang kehendak Allah, Allah memberikan janji penyertaan-Nya. Ia akan menjadikan keluarga  Yakub menjadi bangsa yang besar, sesuai perjanjian-Nya kepada Abraham. Ia menjanjikan juga bahwa Yusuf sendiri yang akan mendampingi ia saat kematiannya dan memberikan penghormatan layak saat itu. Lalu berangkatlah ia dan seisi keluarganya. Saat keberangkatan itu narasi mencatat secara detail bagaimana keluarga Yakub memang telah beranak-cucu menjadi suatu umat, yaitu bani Israel (8). Semuanya enam puluh enam jiwa, ditambah keluarga Yusuf menjadi tujuh puluh jiwa (27). Nama Yehuda disebut lagi, ia ditetapkan Yakub menjadi pemimpin (18).
Tangisan Yusuf kembali terjadi – keenam kalinya dalam semua penuturan proses rekonsiliasi dan perjumpaan kembali Yusuf dengan keluarga asalnya. Sekali ini Yusuf menangis lama di bahu ayahnya (29). Semua duka dan kegelapan dalam hati Yakub selama ini terhapus ketika ia menyatakan bahwa dirinya siap untuk meninggal (30). Sesudah luapan isi hati terungkap penuh, Yusuf segera mengambil keputusan untuk melapor kepada Firaun. Peristiwa ini menjadi pengantar dari kisah Keluaran ketika tindakan besar Allah lainnya berlaku atas umat pilihan-Nya.

Selasa, 14 November 2017

Akulah Yusuf... yang kamu jual...

Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini." Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu. Di sanalah aku memelihara engkau--sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi--supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari." Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf. Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia. Ketika dalam istana Firaun terdengar kabar, bahwa saudara-saudara Yusuf datang, hal itu diterima dengan baik oleh Firaun dan pegawai-pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Katakanlah kepada saudara-saudaramu Buatlah begini: muatilah binatang-binatangmu dan pergilah ke tanah Kanaan, jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini. Selanjutnya engkau mendapat perintah mengatakan kepada mereka: Buatlah begini: bawalah kereta dari tanah Mesir untuk anak-anakmu dan isteri-isterimu, jemputlah ayahmu dari sana dan datanglah ke mari. Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barang-barangmu, sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini adalah milikmu." Demikianlah dilakukan oleh anak-anak Israel itu. Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Firaun; juga diberikan kepada mereka bekal di jalan. Kepada mereka masing-masing diberikannya sepotong pesalin dan kepada Benyamin diberikannya tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin. Di samping itu kepada ayahnya dikirimkannya sepuluh ekor keledai jantan, dimuati dengan apa yang paling baik di Mesir, lagipula sepuluh ekor keledai betina, dimuati dengan gandum dan roti dan makanan untuk ayahnya dalam perjalanan. Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka: "Janganlah berbantah-bantah di jalan." Demikianlah mereka pergi dari tanah Mesir dan sampai di tanah Kanaan, kepada Yakub, ayah mereka. Mereka menceritakan kepadanya: "Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka. Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segala perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk menjemputnya, maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu. Kata Yakub: "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati."  -- Kejadian  45:1-28

Ketika semua hal yang ingin ia pastikan telah terpampang di depan matanya, ketika semua hal yang ia harapkan nyata beroperasi dalam sikap dan tindakan para saudaranya, Yusuf pun tidak sanggup lagi menahan luapan kenyataan dirinya terdalam. Ia menyuruh semua orang yang hadir untuk keluar dari ruangan itu agar ia dan para saudaranya dapat bersama tanpa kehadiran pihak lain. Lalu menangislah Yusuf sekeras-kerasnya sampai suaranya terdengar oleh seisi istana Firaun. Pasal ini tiga kali mencatat tangisan Yusuf. Sementara ia menjalani penderitaan bertubi-tubi, tidak pernah narasi tentangnya mencatat sedikit pun entah ia berkeluh kesah atau menangis. Ketika saat-saat perjumpaan dan pemulihan sedang bergulir, barulah tangisannya dicatat sampai kelak (ps. 50) total tujuh kali -- sempurna. Tangisannya ini pun bukan tangisan sesal, tetapi tangisan kasih sayang dan haru karena perjumpaan tersebut.
Yusuf tidak membiarkan para saudaranya larut dalam ketakutan dan kegentaran. Segera ia menyatakan dirinya dengan nama aslinya, Yusuf, bukan dengan nama Mesirnya (Zafnat Paaneah – 41:45). Yusuf segera mengundang mereka mendekat dan mengutarakan hal yang sangat mengejutkan. Pernyataannya bahwa ia adalah Yusuf sudah luar biasa mengejutkan dan menimbulkan kegentaran. Di luar dugaan mereka bahwa si pemimpi yang telah mereka lenyapkan itu, ternyata adalah orang yang mereka sujud kepadanya berulang kali. Tetapi lebih mengejutkan lagi, bahkan juga untuk kita adalah pernyataan Yusuf bahwa kejahatan mereka yang membuat Yusuf terjual, menjadi budak, terpenjara, dst. itu adalah tindakan Allah mengirimnya untuk menyelamatkan keluarga dan dunia.
Seluruh perjalanan hidup dan sikap Yusuf indah mencerminkan hidup dan sikap Tuhan Yesus. Bukan saja sepanjang hidupnya tak pernah ada catatan noda dan salah Yusuf, seperti sempurnanya hidup Yesus Kristus (Ibr. 4:15, 1Ptr. 2:22). Dalam adegan ini kita saksikan betapa mirip sikap Yesus memanggil orang berdosa datang mendekat, seperti bapa kepada anak yang hilang merangkul dan menangis bersama dalam kasih dan suka, sikap dan tindakan Yusuf. Namun, lebih ajaib menggentarkan hati kita ialah bagaimana kejahatan diubah oleh ketaatan dan kasih sempurna menjadi alat pewujudan kebaikan dan penyelamatan ilahi! 

Sabtu, 11 November 2017

Kasih, Menguji dan Menghajar

Sesudah itu diperintahkannyalah kepada kepala rumahnya: "Isilah karung orang-orang itu dengan gandum, seberapa yang dapat dibawa mereka, dan letakkanlah uang masing-masing di dalam mulut karungnya. Dan pialaku, piala perak itu, taruhlah di dalam mulut karung anak yang bungsu serta uang pembayar gandumnya juga." Maka diperbuatnyalah seperti yang dikatakan Yusuf. Ketika paginya hari terang tanah, orang melepas mereka beserta keledai mereka. Tetapi baru saja mereka keluar dari kota itu, belum lagi jauh jaraknya, berkatalah Yusuf kepada kepala rumahnya: "Bersiaplah, kejarlah orang-orang itu, dan apabila engkau sampai kepada mereka, katakanlah kepada mereka: Mengapa kamu membalas yang baik dengan yang jahat? Bukankah ini piala yang dipakai tuanku untuk minum dan yang biasa dipakainya untuk menelaah? Kamu berbuat jahat dengan melakukan yang demikian." Ketika sampai kepada mereka, diberitakannyalah kepada mereka perkataan Yusuf itu. Jawab mereka kepadanya: "Mengapa tuanku mengatakan perkataan yang demikian? Jauhlah dari pada hamba-hambamu ini untuk berbuat begitu! Bukankah uang yang kami dapati di dalam mulut karung kami telah kami bawa kembali kepadamu dari tanah Kanaan? Masakan kami mencuri emas atau perak dari rumah tuanmu? Pada siapa dari hamba-hambamu ini kedapatan piala itu, biarlah ia mati, juga kami ini akan menjadi budak tuanku." Sesudah itu berkatalah ia: "Ya, usulmu itu baik; tetapi pada siapa kedapatan piala itu, hanya dialah yang akan menjadi budakku dan kamu yang lain itu akan bebas dari salah." Lalu segeralah mereka masing-masing menurunkan karungnya ke tanah dan masing-masing membuka karungnya. Dan kepala rumah itu memeriksanya dengan teliti; ia mulai dengan yang sulung sampai kepada yang bungsu; maka kedapatanlah piala itu dalam karung Benyamin. Lalu mereka mengoyakkan jubahnya dan masing-masing memuati keledainya, dan mereka kembali ke kota. Ketika Yehuda dan saudara-saudaranya sampai ke dalam rumah Yusuf, Yusuf masih ada di situ, sujudlah mereka sampai ke tanah di depannya. Berkatalah Yusuf kepada mereka: "Perbuatan apakah yang kamu lakukan ini? Tidakkah kamu tahu, bahwa seorang yang seperti aku ini pasti dapat menelaah?" Sesudah itu berkatalah Yehuda: "Apakah yang akan kami katakan kepada tuanku, apakah yang akan kami jawab, dan dengan apakah kami akan membenarkan diri kami? Allah telah memperlihatkan kesalahan hamba-hambamu ini. Maka kami ini, budak tuankulah kami, baik kami maupun orang pada siapa kedapatan piala itu." Tetapi jawabnya: "Jauhlah dari padaku untuk berbuat demikian! Pada siapa kedapatan piala itu, dialah yang akan menjadi budakku, tetapi kamu ini, pergilah kembali dengan selamat kepada ayahmu." Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: "Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri. Tuanku telah bertanya kepada hamba-hambanya ini: Masih adakah ayah atau saudara kamu? Dan kami menjawab tuanku: Kami masih mempunyai ayah yang tua dan masih ada anaknya yang muda, yang lahir pada masa tuanya; kakaknya telah mati, hanya dia sendirilah yang tinggal dari mereka yang seibu, sebab itu ayahnya sangat mengasihi dia. Lalu tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Bawalah dia ke mari kepadaku, supaya mataku memandang dia. Tetapi jawab kami kepada tuanku: Anak itu tidak dapat meninggalkan ayahnya, sebab jika ia meninggalkan ayahnya, tentulah ayah ini mati. Kemudian tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Jika adikmu yang bungsu itu tidak datang ke mari bersama-sama dengan kamu, kamu tidak boleh melihat mukaku lagi. Setelah kami kembali kepada hambamu, ayahku, maka kami memberitahukan kepadanya perkataan tuanku itu. Kemudian ayah kami berkata: Kembalilah kamu membeli sedikit bahan makanan bagi kita. Tetapi jawab kami: Kami tidak dapat pergi ke sana. Jika adik kami yang bungsu bersama-sama dengan kami, barulah kami akan pergi ke sana, sebab kami tidak boleh melihat muka orang itu, apabila adik kami yang bungsu tidak bersama-sama dengan kami. Kemudian berkatalah hambamu, ayahku, kepada kami: Kamu tahu, bahwa isteriku telah melahirkan dua orang anak bagiku; yang seorang telah pergi dari padaku, dan aku telah berkata: Tentulah ia diterkam oleh binatang buas, dan sampai sekarang aku tidak melihat dia kembali. Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka. Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia, tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita. Tetapi hambamu ini telah menanggung anak itu terhadap ayahku dengan perkataan: Jika aku tidak membawanya kembali kepada bapa, maka akulah yang berdosa kepada bapa untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, baiklah hambamu ini tinggal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu, dan biarlah anak itu pulang bersama-sama dengan saudara-saudaranya. Sebab masakan aku pulang kepada ayahku, apabila anak itu tidak bersama-sama dengan aku? Aku tidak akan sanggup melihat nasib celaka yang akan menimpa ayahku." -- Kejadian 44:1-34

Tindakan Yusuf terhadap para saudaranya menunjukkan sifat kasih sejati. Kasih sejati tidak menyimpan kesalahan orang. Kasih sejati tidak juga mengobral pengampunan tanpa menginginkan agar pihak yang bersalah menyadari kesalahan, mengakui, berubah (bertobat) untuk akhirnya menghargai pengampunan yang diberikan. Hal-hal inilah yang terlihat dalam sifat kasih Yusuf melalui berbagai tindakannya.
Ia memerintahkan para pegawainya diam-diam menaruh uang pembayaran mereka. Tindakan ini sama seperti di kunjungan pertama mereka. Ini sebenarnya sikap dan tindakan kebaikan Yusuf, namun kasih yang dilimpahkan kepada orang bersalah justru menimbulkan kegentaran. Langsung mereka menafsirkan itu sebagai teguran Allah (42:28; lih. Rm. 12:19-21). Kasih dan kebaikan dapat menggoncang dan membangkitkan rasa bersalah dan insyaf pada orang yang berbuat salah. Sebaliknya pembalasan tidak dapat menghasilkan dampak pertobatan.
Bukan saja uang mereka dikembalikan, tetapi Yusuf mengatur agar piala minumannya disembunyikan dalam karung gandum Benyamin. Kemudian para pegawainya mengejar dan menuduh bahwa mereka telah membalas kebaikan dengan kejahatan. Ia tidak sedang membuat perangkap dan tuduhan palsu untuk membalas kejahatan yang telah ia tanggung dulu. Sebab bila demikian tentu piala itu bukan ditaruh di karung Benyamin tetapi di karung saudaranya yang lain. Dengan ditaruhnya piala itu di karung Benyamin, maka terbukalah kondisi hati para saudaranya di hadapan Yusuf. Benyamin yang jelas dimanja oleh Yakub sebagai pengganti Yusuf, tidak menerima sikap perlakuan iri atau benci seperti sikap mereka dulu kepada Yusuf. Sebaliknya kini mereka bukan saja gigih mempertahankan integritas mereka, tetapi juga membela Benyamin.
Yehuda kini kembali tampil. Ia mengakui bahwa Allah sudah membongkar kesalahan mereka. Karena jelas Benyamin tidak mencuri, maka secara tidak langsung ini adalah pengakuan tentang dosa mereka dulu terhadap Yusuf (16b). Ia juga benar-benar melaksanakan janjinya kepada Yakub untuk menjamin Benyamin, dengan menawarkan diri menjadi ganti Benyamin untuk dihukum oleh Yusuf. Yusuf kini menemukan adanya kesadaran, tanggungjawab, kesatuan pada para saudaranya!

Jumat, 10 November 2017

Menyiapkan Penggenapan Mimpi Lanjutan

Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu. Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis dimakan, berkatalah ayah mereka: "Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita." Lalu Yehuda menjawabnya: "Orang itu telah memperingatkan kami dengan sungguh-sungguh: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu. Jika engkau mau membiarkan adik kami pergi bersama-sama dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan makanan bagimu. Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada kami: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu." Lalu berkatalah Israel: "Mengapa kamu mendatangkan malapetaka kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada adikmu seorang?" Jawab mereka: "Orang itu telah menanyai kami dengan seksama tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita: Masih hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya. Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata: Bawalah ke mari adikmu itu." Lalu berkatalah Yehuda kepada Israel, ayahnya: "Biarkanlah anak itu pergi bersama-sama dengan aku; maka kami akan bersiap dan pergi, supaya kita tetap hidup dan jangan mati, baik kami maupun engkau dan anak-anak kami. Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari padaku; jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya. Jika kita tidak berlambat-lambat, maka tentulah kami sekarang sudah dua kali pulang." Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: "Jika demikian, perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam. Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: uang yang telah dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu bawa kembali; mungkin itu suatu kekhilafan. Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula kepada orang itu. Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!" Lalu orang-orang itu mengambil persembahan itu dan mengambil uang dua kali lipat banyaknya, beserta Benyamin juga; mereka bersiap dan pergi ke Mesir. Kemudian berdirilah mereka di depan Yusuf. Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: "Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini." Orang itu melakukan seperti yang dikatakan Yusuf dan dibawanyalah orang-orang itu ke dalam rumah Yusuf. Lalu ketakutanlah orang-orang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: "Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini, ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, supaya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambil." Karena itu mereka mendekati kepala rumah Yusuf itu, dan berkata kepadanya di depan pintu rumah: "Mohon bicara tuan! Kami dahulu datang ke mari untuk membeli bahan makanan, tetapi ketika kami sampai ke tempat bermalam dan membuka karung kami, tampaklah uang kami masing-masing dengan tidak kurang jumlahnya ada di dalam mulut karung. Tetapi sekarang kami membawanya kembali. Uang lain kami bawa juga ke mari untuk membeli bahan makanan; kami tidak tahu siapa yang menaruh uang kami itu ke dalam karung kami." Tetapi jawabnya: "Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah bapamu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima." Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka. Setelah orang itu membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannyalah air, supaya mereka membasuh kaki; juga keledai mereka diberinya makan. Sesudah itu mereka menyiapkan persembahannya menantikan Yusuf datang pada waktu tengah hari, sebab mereka telah mendengar, bahwa mereka akan makan di situ. Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada mereka itu kepada Yusuf di dalam rumah, lalu sujud kepadanya sampai ke tanah. Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: "Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?" Jawab mereka: "Hambamu, ayah kami, ada selamat; ia masih hidup." Sesudah itu berlututlah mereka dan sujud. Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: "Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?" Lagi katanya: "Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!" Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ. Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: "Hidangkanlah makanan." Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir. Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehingga mereka berpandang-pandangan dengan heran. Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia. -- Kejadian 43:1-34

Bagaimana cara Allah memimpin agar rencana-Nya untuk setiap umat-Nya berproses makin lama makin nyata?
Kita kagum akan kedahsyatan kuasa, kasih dan hikmat Allah. Ia mengatur kejadian berskala global seperti gejala alam, kondisi musim, faktor ekonomi, dan kenyataan dunia politik, berjalan serasi dengan operasi-Nya di dalam pribadi-pribadi yang di dalamnya  sedang Ia wujudkan rencana kekal-Nya. Kekeringan berlanjut, persediaan makanan keluarga Yakub tidak lagi memadai, memaksa Yakub mengutus anak-anaknya kembali mencari makanan di Mesir. Kebutuhan perut yang biasanya membuat orang berpikir gelap, di antara umat Allah justru memaksa akal budi bekerja, perasaan enggan teratasi, bahkan tanggungjawab muncul makin jelas. 
Yakub yang enggan mengirim Benyamin, akhirnya rela juga. Oleh kondisi sukar itu Yakub terpaksa bersedia mengorbankan Benyamin demi kelangsungan hidup seisi keluarga besarnya (14). Kesediaan itu didorong oleh Yehuda. Dalam pasal 38 kita melihat titik terang perubahan terjadi dalam kehidupan kacau Yehuda. Kini tiga pernyataan penting yang menunjukkan perubahan lanjut keluar dari Yehuda. Pertama, ia mendorong Yakub tidak lagi menunda kepergian mereka (8, 10). Kedua, ia menjamin keselamatan Benyamin. Dan, ketiga, ia menanggung dosa apabila kelak Benyamin tidak dibawa pulang kepada Yakub (9). Diaturlah soal pengembalian uang dan tambahannya, pemberian berbagai bentuk hadiah untuk raja kedua Mesir itu.Yakub kemudian melepas mereka sambil memanjatkan doa.
Yusuf kembali memainkan peran secara sangat canggih. Bayangkan sandiwaranya selama cukup waktu terhadap Simeon. Kini ia mulai dengan menyapa mereka dan menanyakan kepastian bahwa Benyamin adalah adik yang pernah mereka ceritakan sebelumnya. Lalu karena terharu, ia menyingkir dari mereka dan menangis untuk kedua kalinya (30). Yusuf mengatur agar diadakan pesta makan bersama. Pengaturan tempat duduk membuat mereka terheran-heran sebab diurut menurut kronologi kelahiran mereka. Yang seharusnya membuat mereka tidak habis pikir ialah bahwa Benyamin diberikan hidangan lima kali lipat lebih dari mereka. Dalam kasih yang besar dan dan hikmat ilahi yang dalam Yusuf sedang memroses pewujudan mimpinya agar terjadi dalam bentuk pemulihan.

Kamis, 09 November 2017

Penggenapan Mimpi 1

Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: "Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?" Lagi katanya: "Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati." Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudara-saudaranya, sebab pikirnya: "Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti." Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: "Dari mana kamu?" Jawab mereka: "Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan." Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka. Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: "Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga." Tetapi jawab mereka: "Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hamba-hambamu ini datang. Kami ini sekalian anak dari satu ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai." Tetapi ia berkata kepada mereka: "Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga." Lalu jawab mereka: "Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi." Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai. Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari. Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai." Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya. Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: "Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati." Demikianlah diperbuat mereka. Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita." Lalu Ruben menjawab mereka: "Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita." Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka. Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka. Demikianlah dilakukan orang kepada mereka itu. Sesudah itu merekapun memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ. Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi makan keledainya di tempat bermalam, dilihatnyalah uangnya ada di dalam mulut karungnya. Katanya kepada saudara-saudaranya: "Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam karungku!" Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: "Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!" Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan, mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya: "Orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, telah menegor kami dengan membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu. Tetapi kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai. Kami dua belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan. Lalu kata orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu dan pergilah; lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu, maka aku akan tahu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri ini dengan bebas." Ketika mereka mengosongkan karungnya, tampaklah ada pundi-pundi uang masing-masing dalam karungnya; dan ketika mereka beserta ayah mereka melihat pundi-pundi uang itu, ketakutanlah mereka. Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: "Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyaminpun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!" Lalu berkatalah Ruben kepada ayahnya: "Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka dia akan kubawa kembali kepadamu." Tetapi jawabnya: "Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita." -- Kejadian 42:1-43

Jika kondisi hidup berat telah berubah, ketika dari orang yang tanpa daya kita telah menjadi orang sangat berkuasa, biasanya apa yang kita lakukan? Ketika kita sempat berjumpa lagi dengan para penyebab kesusahan hidup kita, apa yang kita ingat?
Seiring dengan perubahan kondisi yang terjadi dalam hidup Yusuf, terjadi juga perubahan kondisi alam yang berdampak langsung ke kehidupan dunia luas waktu itu. Sedemikian dahsyat pukulan ekonomi yang diakibatkan oleh bencana kekeringan  sehingga seluruh kemakmuran yang terjadi sebelumnya hilang tanpa bekas. Persis seperti yang dinyatakan Allah dalam mimpi Firaun! Kengerian itu sampai membuat anak-anak Yakub tak tahu harus berbuat apa kecuali “berpandang-pandangan saja” (1). Semua wilayah yang mengalami musibah kekeringan terkena pukulan fatal secara ekonomi dan logistik, kecuali Mesir yang melalui kepemimpinan Yusuf telah mengadakan sistem penangkal.
Yakub memerintahkan sepuluh anaknya pergi ke Mesir mencari makanan. Yusuf segera mengenali mereka sebab bahasa dan kebiasaan mereka tentu tak asing baginya. Yusuf tidak mereka kenali sebab ia kini penguasa Mesir. Terjadilah adegan seperti mimpi Yusuf dulu, meski belum lengkap sebab baru sepuluh yang datang dan sujud kepadanya. Ingatan Yusuf langsung muncul. Bukan kejahatan para saudaranya terhadapnya. Bukan kesusahan yang bertubi-tubi harus ia tanggung karena mereka, tetapi mimpinya dulu! (9). Visi dan panggilan ilahi sangat berakar mengalahkan segala penderitaan dan kesakitan yang harus dilalui demi pencapaian visi ilahi itu!
Sikap dan tindakan lain yang keluar dari Yusuf ialah silih ganti peragaan kewibawaan, kebijaksanaan, kematangan memberlakukan kasih pengampunan dengan membangkitkan rasa bersalah para saudaranya, dan dengan daya berperan yang luar biasa canggih. Dengan gertakannya ia berhasil mengorek keadaan Yakub dan adiknya. Dengan ancamannya ia berhasil mengangkat rasa bersalah para saudaranya ke permukaan kesadaran mereka. Dengan tekanannya ia berhasil membuat rasa memiliki dan bersatu mereka sebagai keluarga terungkap. Semua itu lahir bukan dari benci tetapi dari kasih yang membuat air mata Yusuf yang sekian lama tertahan tak diungkap dalam narasinya, kini berderai tak terbendung lagi.

Rabu, 08 November 2017

Penuh Roh Allah

Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu." Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: "Hormat!" Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir." Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu." Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi. -- Kejdian 41:37-57

Faktor apakah yang intinya menjadi penentu layak tidaknya seseorang memasuki peran penting untuk hidupnya? Apakah yang menjadi pendorong semua pihak akhirnya mengakui bahwa seseorang memang tepat mengemban peran ilahi lebih besar?
Firaun mengakui dua hal tentang Yusuf. Pertama, kesanggupannya mengartikan mimpi Firaun. Kedua, nasihat bijaknya agar Firaun mengangkat seseorang untuk menjalankan berbagai kebijakan ekonomi dan logistik. Akal budi dan kebijaksanaan! Tentu dua faktor penting ini sangat memengaruhi pertimbangan Firaun untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa yang diusulkan Yusuf sendiri itu. Sepanjang sejarah dunia kita melihat bagaimana peradaban manusia boleh mengalami peningkatan yang sangat berarti karena kemajuan yang diakibatkan oleh pendidikan yang baik. Namun kepandaian dan pengetahuan tidak identik dengan akal budi dan kebijaksanaan. Dan, kita tahu juga bahwa pendidikan tidak otomatis menjamin orang pandai identik dengan orang berhikmat. 
Ada faktor penentu di balik kedua hal itu yang akhirnya membuat Firaun mantap untuk mengangkat Yusuf menjadi orang kedua sesudahnya ialah: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (38). Ini pertama kali dalam Kejadian ada ungkapan seperti ini tentang seseorang dan kedua kali sesudah catatan tentang kegiatan Roh dalam penciptaan. Sungguh mencengangkan bahwa dari bibir mulut seorang yang kafir boleh keluar pengakuan sedemikian tentang orang kepunyaan Allah. Karya dan kehadiran Roh Allah sedemikian cemerlang sampai orang yang menyaksikannya dapat dengan tepat menyimpulkan dari mana sumber semua itu. Roh Allah beroperasi dalam Yusuf memberi mimpi, kerajinan, tanggungjawab, kesalehan, kesanggupan bergaul yang menjadi berkat, hikmat spiritual dan kepemimpinan yang merakyat.
Alangkah beda kriteria orang zaman ini tentang bagaimana orang dapat mendaki jenjang pengaruh dan kepemimpinan. Kebanyakan perebutan kuasa adalah dengan menggunakan daya tarik uang, atraksi artis, kepandaian melobby, memanipulasi massa. Tidak heran bila kepemimpinan dunia makin terpuruk saja! Jika di kalangan umat Tuhan pun meniru strategi dunia, gereja akan ikut hancur bersama kehancuran dunia! Kuasa sebesar dan semulia yang harus diembankan ke bahu pemimpin hanya sanggup dan layak dipikul mereka yang telah ditempa dan dikuasai oleh Roh Allah!