Sabtu, 30 Juni 2018

Membongkar Kesesatan

Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat. Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan. Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu. Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."  -- 2 Petrus 2:17-22

Apabila kita ingat catatan Injil-injil terutama ucapan Tuhan Yesus, kita dengar gemanya dalam peringatan keras Petrus ini. Misalnya, ucapan keras Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi, ucapan tentang Yudas. Kembali di beberapa ayat ini Petrus menelanjangi sifat, ciri dan nasib akhir dari para pengajar palsu serta mereka yang berpaling dari kebenaran karena menerima ajaran sesat mereka.
Hidup dan ajaran para penyebar ide-ide teologis menyesatkan diumpamakan seperti sumur kosong dan awan dilenyapkan badai tanpa memberi hujan. Kedua perumpamaan ini menegaskan kesan kosong dan menipu dari para pengajar palsu yang sejatinya tidak mengandung isi yang sungguh menyegarkan apalagi memperbarui kehidupan. Penyampaian mereka adalah dengan kata-kata besar (harfiah: membengkak) dan dengan teknik yang memanfaatkan nafsu kedagingan. Berarti kesesatan dan kekosongan ajaran mereka akan dipoles, dibungkus, dikemas begitu rupa dengan cara berkata-kata yang bombastis, dramatis, berlebih-lebihan dan ditopang oleh berbagai metode yang sejatinya adalah pemanfaatan berbagai nafsu kebinatangan manusia. Mereka seolah menjanjikan kemerdekaan padahal mereka sendiri adalah hamba dosa, hamba kebinasaan.
Paparan Petrus tentang para pengajar sesat, ajaran sesat, bahaya mereka dan nasib akhir mereka dan juga orang-orang yang mengikuti ajaran sesat menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini harus menjadi perhatian orang Kristen perorangan, keluarga dan gereja secara luas. Prinsip paling tepat untuk mengenali kesesatan adalah dengan benar-benar memastikan diri kita ada dalam kebenaran, dalam terang firman, dalam persekutuan bersama orang beriman lain yang dipimpin oleh Roh, Kita wajib memastikan apakah ajaran yang kita jadikan sumber untuk keseluruhan aspek hidup kita dan yang kita saksikan / ajarkan / bagikan kepada orang lain adalah sungguh setia kepada Alkitab atau hanya merupakan pemelintiran, pengaburan, pembelokan, pelemahan, pemutarbalikan Alkitab? Kita harus peka kepada arahan, teguran, nasihat Roh jika ada kecenderungan, unsur cara dan isi ibadah, ajaran, teologi yang kita sukai yang sebenarnya mendukakan hati Roh Allah. Kita harus mengawasi benar-benar bahwa ajaran dan perilaku kita serasi kebenaran Allah yang sungguh menuju keberbagian kita dalam kodrat ilahi. 

Jumat, 29 Juni 2018

VS Jalan Kebinasaan

Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan, padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah. Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar, dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu. Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk! Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu. -- 2 Petrus 2:9-16


Inilah ciri dari orang yang disimpan Allah untuk dimurkai -- jelas ini kontras dari orang percaya yang membuktikan kesejatian imannya dengan giat berusaha menambah-numbuhkan iman mereka dengan tujuh aspek pertumbuhan dalam pasal sebelumnya. Perhatikan juga kemiripan peringatan Petrus ini dengan peringatan dan kontras dari rasul Paulus tentang orang yang berjalan dalam Roh dan mengeluarkan buah Roh dalam sembilan wujudnya dari orang yang berjalan dalam daging dan mengeluarkan berbagai perbuatan kedagingan yang tidak mendapat tempat dalam Kerajaan Allah. Petrus juga menegaskan bahwa para pengajar palsu dan para pengikut pengajar palsu ini adalah orang-orang yang berjalan menurut daging dalam hawa nafsu kecemaran (terj. harfiahnya). Ciri dan sifat dari berjalan menurut daging dalam hawa nafsu kecemaran itu adalah: - mencemarkan diri, - menghina pemerintahan Allah, - kurang ajar dan angkuh, - menghujat kemuliaan, - sama seperti hewan yang tidak berakal, hewan yang untuk ditangkap dan dibunuh, - mengucapkan hujatan padahal tidak mengetahui hal yang dihujat itu, - liar dalam kenikmatan, - hidup hanya untuk memuaskan tubuh dan perut, - mata zinah, - menipu untuk memanfaatkan orang lemah, - ahli dalam keserakahan -- inilah ciri dan sifat dari orang-orang yang meninggalkan jalan yang benar, yaitu yang mengikuti jalan Bileam, yaitu jalan mencampur-adukkan berkat dan kutuk, kebenaran dan ketidakbenaran, anugerah dan dosa, mencari Tuhan tetapi mencintai uang sampai berkompromi dan menjual diri kepada kecemaran.
Jelas paparan Petrus ini bukan saja cocok dengan konteks kesesatan ajaran dan perilaku hidup zaman Gerika-Romawi tetapi juga zaman NOW yang posmo yang memuja pluralisme dan relativisme, yang penuh gairah mencoba dan menjelajahi apa saja yang kedagingan, emosi, nafsu, kenikmatan dapat berikan. Marilah kita berkomitmen kuat untuk memiliki ciri (tampilan) dan sifat (jatidiri) dan perilaku yang berbeda -- karena sedang didorong oleh kuasa penyelamatan dan pemurnian Yesus Kristus menuju pewujudan janji-janji yang mulia dan ajaib yaitu akan berbagian dalam kodrat ilahi di ujungnya nanti. Marilah kita yang menjadi pemimpin dalam kehidupan iman berhati-hati dalam belajar Alkitab, berkhotbah, menggembalakan, mengembangkan pola ibadah, memilih ragam puji-pujian, mempolakan doa syafaat, merancang kehidupan gerejawi, dll. supaya tidak kemasukan unsur tidak benar di atas secara halus tersamar atau terang-terangan/ Kasihanilah dan tolonglah kami ya Roh Kudus. Amin.

Rabu, 27 Juni 2018

Takut akan Allah

Takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. -- Matius 10:28

 Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian, tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, -- sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa-- maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman, terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan, padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.  -- 2 Petrus 1:4-11

Mengapa kita harus memelihara pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus Kristus? Mengapa kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar? Mengapa kita harus terus menerus memerhatikan langkah hidup kita senantiasa ada di dalam jalur yang benar? Mengapa kita harus berjuang agar masuk dari pintu yang sempit dan terus berjalan di jalan yang sempit yang hanya sedikit orang yang akhirnya terpilih dari banyak yang terpanggil? Jawab: karena Allah tidak saja penuh rahmat dan belas kasihan yang mengampuni barangsiapa yang menyambut dan menjunjung tinggi karya keselamatan dari-Nya, tetapi Allah juga adil, kudus, murka dan tidak berbelas kasihan kepada semua yang berontak, tidak setia, tidak memelihara kebenaran-Nya sepanjang hidup mereka.
Nas ini memuat dengan jelas, menggentarkan, menakutkan -- dan memang seharusnya demikian yang terjadi di hati kita -- tentang sifat Allah dan tindakan-Nya kepada dua pihak, yang tidak setia dan yang setia. Nas ini juga dengan tegas dan keras  menekankan bahwa bahkan malaikat yang tadinya mulia, kudus, berbagian dalam berbagai penyelenggaraan ilahi, namun karena berontak -- entah persisnya apa bentuk pemberontakan, sikap mereka dan kapan itu terjadinya -- Tuhan Allah membuang mereka ke neraka, ke tartarus (diterjemahkan di Alkitab Indonesia sebagai gua-gua gelap) yang kegelapannya membelenggu mereka sampai hai penghakiman nanti. Juga di zaman Nuh, di peristiwa Sodom-Gomora Allah dengan tidak segan membinasakan sampai-sampai hampir melenyapkan seisi bumi, karena kekudusan dan keadilan-Nya tetap harus dilaksanakan.
Maka di samping dan sejajar dengan mengamini dan mengimani Allah adalah kasih adanya, penuh rahmat, limpah anugerah, meluap dengan belas kasihan, juga kita harus mengingat baik-baik bahwa Allah adalah api yang menyala-nyala, yang tidak kenal kompromi dengan dosa, dan yang hanya memberlakukan anugerah penyelamatan-Nya bagi yang sungguh bertobat, beriman dan dengan giat mengusahakan pertambahan-pertumbuhan iman menuju kesepadanan dan keserupaan dengan kodrat ilahi. 
Para bidat cenderung menekankan sisi-sisi kebenaran dengan tidak penuh dan seimbang -- Allah terlalu baik, kasih, anugerah sampai menjadi murahan -- ekses, ekstrim, sesat! Allah terlalu kudus, keras, murka, kejam -- sampai menjadi tiran -- lagi-lagi ekses, ekstrim, sesat! Kedua kebenaran tentang Allah dan sikap serta tindakan-Nya ini harus dipegang, dihayati dan diberitakan secara penuh. Itulah kebenaran!

Selasa, 26 Juni 2018

Awas Penyesat!

... Serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. -- Kisah Rasul 20:29-30

Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda. -- 2 Petrus 2:1-3

Fakta dan peringatan tehadap para nabi palsu, para guru palsu, para penyesat berulang kali dicanangkan baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Karena ajaran salah membawa kesesatan dan berujung pada kebinasaan maka semua kita perlu memerhatikan dengan serius peringatan ini. 
Pertama, nas ini adalah lanjutan dari pembicaraan Petrus tentang sentralitas Kitab Suci yang memuat nubuat, ajaran, catatan tentang para manusia Allah sejati sebagai pegangan melawan berbagai dongeng menyesatkan. Bergaul akrab dengan Kitab Suci sambil mengandalkan pertolongan Roh Kudus untuk kita mengerti dengan benar dan melaksanakannya, adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri dari kesesatan. Kesesatan dan para penyesat adalah akibat dari ketidaktundukan kepada otoritas Kitab Suci.
Kedua, para penyesat itu akan berasal dari kalangan Kekristenan / gerejawi sendiri. Berarti entah mereka orang Kristen biasa, atau orang-orang yang kedudukan dan fungsinya -- semisal guru agama, pembina rohani, pendeta / gembala jemaat -- berpotensi menjadi kanal penyampaian ajaran sesat. Tanpa harus membangun sikap curiga kepada semua pengkhotbah atau pengajar, tetap semua kita perlu memiliki biblical literacy (celik alkitabiah) supaya ada di jalur yang benar menuju hidup kekal.
Ketiga, mereka akan memasukkan (mengandung arti menyelipkan, menyelinapkan, membuat sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari kebenaran menjadi seolah kebenaran). Memang, inilah tipu daya iblis ketika menjatuhkan Hawa dan kemudian Adam -- memutarbalikkan firman Allah. Lagi-lagi hanya dengan memiliki keaksaraan alkitabiah dan daya untuk memberlakukannya dari Roh Kudus kita boleh memiliki imunitas yang tinggi terjadap kesesatan.
Keempat, pada dasarnya kesesatan mereka adalah menyangkali Sang Penguasa (kemungkinan di sini mengacu kepada Perancang Keselamatan yaitu Allah Bapa) dan karya penebusan Yesus Kristus. Memang bukan doktrin yang menyelamatkan kita melainkan Ia dan kebenaran tentang diri dan karya-Nya yang menyelamatkan; maka, harus ada sikap yang menyukai dan menjunjung tinggi ajaran kebenaran yang membuat kita sungguh berelasi benar dengan Tuhan Allah. Doktrin bukan dipelajari sebagai tujuan akhir atau sebagai pengganti realitas relasi dengan Tuhan, bukan juga dikecilkan artinya sampai dianggap tidak perlu. Doktrin adalah bagaikan tengkorak yang menopang tubuh dan mewadahi nafas kehidupan.
Kelima, jangan lupa sedetik pun bahwa kesesatan pasti berujung pada kebinasaan. Maka jangan tergiur oleh ujaran, ajaran, kesaksian, pidato, khotbah yang menyesatkan.
Keenam, salah satu tanda pengenal para penyesat adalah gaya hidup mereka. Mereka cenderung antinomian atau tidak mengikuti norma-norma moral dalam kehidupan pribadinya, dan mereka cenderung menjadikan umat sebagai lahan basah untuk meraup banyak keuntungan materiil. 
Ketujuh, karena ajaran dan gaya hidup mereka Jalan Kebenaran -- di sini bisa merujuk kepada prinsip iman yang berpusatkan pada Pribadi Yesus Kristus sendiri yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hiduo -- akan diejek, dilecehkan, dihujat dunia. Karena itu, orang percaya harus menolak, melawan bahkan menelanjangi kepalsuan dan kesesatan mereka.
Zaman ini yang sangat merayakan keragaman, kelainan, ketidaksamaan, adalah masa subur untuk para penyesat berkeliaran -- melalui mimbar, seminar, medsos, dlsb. Mari kita jaga baik-baik sejauh mana mengembangkan suasana saling belajar dan menghargai keragaman ajaran tetapi tanpa tergelincir ke dalam wilayah kesesatan. Roh Kudus dan Firman tertulis menolong kita!

Sabtu, 23 Juni 2018

Kitab Suci

Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.  -- 2 Petrus 1:19-21


Mari kita pikirkan beberapa aspek penting bagi kehidupan yang sungguh mengantisipasi kedatangan Yesus Kristus kedua dari nas yang dikemukakan Petrus ini:
1. Yang manakah yang lebih kita jadikan sumber untuk membentuk konsep, prinsip, pertimbangan, kecenderungan hidup kita secara umum dan khususnya tentang kedatangan Yesus Kristus  kedua nanti: 1) Berbagai teori, anggapan, ajaran yang orang banyak pegang, yaitu yang boleh dianggap sebagai "dongeng-dongeng"?; 2) Pengalaman rohani yang sewaktu-waktu orang saksikan seperti pengalaman arwah orang mati yang hidup kembali, beragam penglihatan, dlsb.?;atau 3)  Ajaran dan nubuat Kitab Suci tentang kedatangan Yesus Kristus kedua kelak?
2. Bagaimana sikap dan cara praktis harusnya kita memerhatikan Kitab Suci dari frasa berikut ini: "Memerhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur bersinar di dalam hatimu"? Apakah ada kesungguhan, keuletan itu pada kita ketika menyelidiki Kitab Suci? Apakah kita merenungkan Kitab Suci sampai "terbit terang" darinya ke dalam hati kita?
3. Apa implikasi dari menerima Kitab Suci sebagai firman yang diilhamkan Roh kepada para nabi dan penulisnya pada: 1) sikap kita terhadap Kitab Suci, 2) kebiasaan kita membaca dan merenungkan Kitab Suci?
4. Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan sembarangan tetapi harus dalam bingkai: 1) Roh Kudus yang mengilhami Kitab Suci dulu, Roh Kudus juga yang menerangi pembacaan Kitab Suci kini; 2) Roh Kudus berbicara dengan melibatkan pikiran, bahasa, konteks para penulis Kitab Suci, Roh Kudus juga menolong kita kini mempelajari arti Kitab Suci sambil memperhitungkan semua unsur tersebut. Seberapa jauh kita mengupayakan pembacaan Kitab Suci dan penerapannya masa kini dalam bingkai ini?
5. Apa beda membaca Kitab Suci supaya tahu dari membaca Kitab Suci supaya yakin tentang kedatangan Yesus Kristus kedua kali? Yang mana yang lebih merupakan kecenderungan kita?

Jumat, 22 Juni 2018

Kedatangan Yesus Kristus Kedua Kali

Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. - 2 Petrus 1:16-18

Nasihat pastoral Petrus kini bergeser tekanannya pada kedatangan Yesus Kristus kedua kelak. Dorongan agar iman mengeluarkan usaha giat untuk bertumbuh dan bertambah dalam lingkup perubahan hidup yang menyeluruh didasari pada karya hidup-mati-bangkit-Nya Yesus Kristus yang oleh Roh dimungkinkan beroperasinya kuat-kuasa ilahi yang dahsyat dan janji-janji yang mulia dan ajaib berlaku untuk kita di sini dan kini. Selain ini, ada lagi Tarikan dari pokok iman yang dahsyat yaitu bahwa Yesus Kristus akan datang kembali kelak. Pada kedatangan kembali-Nya itulah letak kepastian faktual keselamatan kita sempurna yang sekarang ini baru dengan pertolongan Roh dan hati nurani yang dimurnikan kita yakini kebenarannya. Pada kedatangan Yesus Kristus kedua itu semua perjuangan, kegiatan, jerih payah iman untuk hidup sesuai kehendak-Nya sungguh akan bermuara pada perubahan penuh dan sempurna kita dan pengenalan sejati nyata tatap muka antara kita dengan Tuhan kekasih hati kita. Pada kedatangan-Nya kembali itulah tubuh dosa ini akan diubahkan dengan tubuh kebangkitan yang mulia, dan misteri tentang berpartisipasi dalam "kodrat ilahi" akan menjadi nyata. Pada kedatangan-Nya kedua itulah letak pusat penyataan kuat-kuasa maha dahsyat yang sangat dibutuhkan oleh semua kita yang merindukan pembaruan dan perubahan personal-total-holistik-komprehensif-global-bahkan universal.  
Pada zaman itu banyak orang yang meragukan tentang kedatangan Yesus kedua kali (2 Petrus 3:4), yang rupanya dipengaruhi oleh beragam, dongeng agama politeistis dengan versi tentang kebangkitan dan kedatangan dewa-dewi sampai menganggap ajaran tentang kedatangan Yesus kedua kali juga adalah semacam dongeng lainnya. Pengalaman menyaksikan pemuliaan Yesus untuk Petrus adalah salah satu bukti cukup bahwa kedatangan Yesus kedua kelak bukan dongeng kosong. Bagaimana dengan kita yang tidak mengalami langsung? Bagaimana iman dan harap kita boleh giat kendati kita hidup dalam zaman yang makin tidak menghargai pokok-pokok iman? Kesaksian Kitab Suci adalah salah satu sumber untuk kita menerima bukti-bukti pendukung tersebut. Tetapi tidak hanya itu, usaha giat menumbuh-nambahkan iman justru juga adalah bukti pendukung bahwa Ia yang dalam kuat-kuasa-Nya yang kini bekerja di dalam kita sungguh kelak akan datang kembali menyempunakan semua ini. Maka, jangan izinkan kegemilangan dunia ini menyilaukan kita sampai tidak mengantisipasi kedatangan Tuhan Yesus kedua kali kelak. Jangan biarkan apa pun dari dunia ini melemahkan pengharapan vital kita akan perjumpaan dengan Yesus Kristus di kedatangan-Nya kelak. Iman yang sungguh ditumbuh-tambahkan secara aktif terarah pada janji kedatangan-Nya menjadi iman yang adalah bukti nyata akan kebenaran yang diimani -- iman yang memateri, mewujudnyata, iman yang berubah dari menjadi dasar dan juga menjadi bukti dari yang kita harapkan yang tidak kelihatan -- seperti definisi Ibrani 11. Amin.

Kamis, 21 Juni 2018

Panggilan Pastoral

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir -- Filipi 2:12
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. -- Kolose 3:16
Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu. -- 2 Petrus 1:12-15

Tugas siapakah mengajarkan, mengingatkan, membimbing, mendoakan agar sesama orang percaya, gereja lokal kita boleh bertumbuh-bertambah-berkembang? Apa sajakah yang harus diajarkan, diingatkan, dicontohkan supaya kita satu sama lain berakar, bertumbuh dan berbuah dalam iman kita? Dalam konteks apa sajakah hal mengajar, mengingatkan, menegur, ini harus dijadikan budaya kehidupan umat bersama? Dan sampai kapan itu perlu dilakukan?
Dalam nas ini jelas bahwa Petrus -- yang telah diajar, dibimbing, dilayani oleh Yesus Kristus melalui pengajaran-Nya dan pertolongan Roh Kudus kini meneruskan apa yang telah ia terima itu kepada jemaat-jemaat yang ia pastoralkan. Sesungguhnya inilah definisi pastoral -- memberi makan dan menggembalakan -- yang Petrus terima dari Tuhan ketika ia dicari, dibarui dan dipercaya ulang menjadi gembala dari sang Gembala Agung (Yohanes 21). Ini harus menjadi standar pelayanan dari semua yang dipecaya menjadi gembala umat; juga menjadi ekspektasi dan doa kita semua. Dalam tradisi Ibrani tugas mengajarkan, mengingatkan, mengakarkan, mendorong terjadinya tumbuh-tambah iman ini juga adalah panggilan para orangtua kepada anak-anaknya, para suami dan para istri secara timbal balik, panggilan semua umat percaya karena seperti prinsip teologi yang ditemukan kembali oleh para reformator kita semua adalah imamat yang berkerajaan, umat yang kudus, kaum kepunyaan Tuhan sendiri -- prinsip: keimamatan semua orang percaya.
Apa saja yang perlu diingatkan, diajarkan ulang itu? Seluruh hikmat dan kebenaran Injil Yesus Kristus -- segala sesuatu yang telah Yesus Kristus ajarkan dan percayakan untuk disampaikan dalam rangkaian proses pemuridan: dari rasul, kepada murid rasul, kepada mereka yang menghidupi dan cakap mengajar orang lain, dst... Bukan saja yang belum diajarkan tetapi juga yang sudah diketahui supaya benar-benar mengakar, menumbuh, membuah-buah -- mendarah-daging dalam segala aspek kehidupan. Dari hati ke pikiran-perasaan-kemauan-pertimbangan-ingatan-kenangan-imajinasi, dari tempat tidur ke wc ke ruang makan ke kendaraan ke ruang kerja, dari ruang keluarga ke ruang ibadah, dst.
Tugas ini perlu dijadikan budaya seumur hidup, baik seumur hidup setiap pribadi, juga seumur hidup gereja lokal dan sinodal dan universal. Sampai masing-masing dan semua kita tiba di akhir ketika kita mengalami yang sempurna -- kasih tanpa takut, kesalehan dan kekudusan dalam bentuk tidak dapat berbuat dosa lagi, kodrat ilahi yaitu menjadi serupa dan manunggal dengan Tuhan Yesus Kristus. 

Rabu, 20 Juni 2018

Keyakinan Teguh dan Hak Melimpah

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. -- 2 Petrus 1:10-11

Marilah jadikan nas ini bingkai untuk kita menghayati keselamatan pribadi kita, juga untuk pembinaan pemuridan kita, pelayanan pastoral kita, penginjilan dan kesaksian kita. Keselamatan bukan hasil usaha atau upah atas jasa moral dan spiritual kita, keselamatan adalah hasil dari pemilihan Allah dan panggilan Injil yang memberlakukan karya penyelamatan oleh Yesus Kristus ke dalam kehidupan nyata kita. Kendati memang demikian, keselamatan terjadi karena adanya respons iman dan tobat terus menerus -- bukan hanya sekali di awal yang menjamin keselamatan kekal selamanya, tetapi di dalam kehidupan beriman yang terus menerus bertumbuh dan bertambah-tambah. 
Nas ini membuat jelas bahwa tidak mungkin ada keyakinan keselamatan tanpa usaha dan kegiatan menumbuhkan dan menambahkan iman dengan berbagai segi pembaruan hidup yang telah dipaparkan sebelum ini. Bahkan tujuh manifestasi pertumbuhan dan pertambahan iman sejati -- kebajikan, pengetahuan, pengendalian diri, ketekunan, kesalehan, kasih eksklusif sesama seiman dan kasih inklusif sesama manusia -- berfungsi untuk: 1) meneguhkan panggilan dan pilihan keselamatan kita, 2) penopang untuk kita tidak tersandung sampai hanyut atau undur sampai tidak tiba di tujuan (peringatan di Ibrani), 3) beroleh hak melimpah untuk memasuki Kerajaan kekal Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. 
Mari ingat atau baca ulang berbagai ajaran dan perumpamaan Tuhan Yesus tentang Kerajaan. Bukan saja panggilan, ajakan dan anjuran yang diberikan, tetapi juga syarat tobat dan iman, peringatan tentang penyaringan, syarat untuk sungguh menghasilkan buah pertobatan, buah percaya sejati, peringatan tentang menghitung bukan saja agar bisa memulai tetapi supaya sanggup menyelesaikan, tentang banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih, dst. Ini semua serasi dengan yang Petrus paparkan di sini. Relasi pengenalan yang tumbuh-tambah akan Yesus Kristus akan memberikan keyakinan yang makin kuat tentang keterpanggilan dan keterpilihan kita, akan memberikan jaminan melimpah dan HAK untuk kita kelak-akhirnya memasuki Kerajaan kekal Tuhan Allah dalam Yesus Kristus Tuhan kita. Semua doktrin dan penghayatan kita hendaknya sesuai dengan firman Tuhan ini. 

Selasa, 19 Juni 2018

Jangan Tidak Giat, Tidak Berbuah!

Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, -- Markus 4:14-18
Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. -- Yohanes 15:2
Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.  -- 2 Petrus 1:8-9

Perhatikan mengapa usaha giat menambah-numbuhkan iman dengan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih kepada sesama orang beriman (philia) dan kasih kepada semua orang (agape) mutlak  perlu pada orang percaya.  Yaitu agar kita tidak menjadi mandul (terjemahan Inggris: barren, idle, inactive) dan tidak berbuah. 
Terjemahan: "kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil" sesungguhnya mengubah kontras dan peringatan serius yang ingin Petrus tegaskan menjadi positif saja. Uraian positif Petus di ayat 5-7 adalah kontras dari keadaan tidak berusaha dan tidak berbuah di ayat 8-9 ini. Juga jika kita lihat ujaran Petrus ini sebagai gema dari dua perumpamaan Yesus: penabur dan pokok anggur - jelas betapa mutlak adanya usaha (ergon -- dan bukan keadaan argos yaitu dari a-ergon -- tidak bekerja / berusaha) dan berbuah (karpos, dan bukan a-karpos -- tidak berbuah). Keadaan tidak berusaha dan tidak berbuah adalah ciri dari tiga tanah yang tidak baik dalam perumpamaan penabur, dan dalam perumpamaan pokok anggur yang benar adalah kenyataan dari murid yang tidak tinggal di dalam Yesus Kristus sang sumber kehidupan. Ini merupakan suatu peringatan keras.
Kontras dan peringatan keras ini diulang lagi dalam frasa: "menjadi buta dan picik, lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan." Ini adalah keadaan yang tidak boleh terjadi pada pengenalan yang makin bertambah dan bertumbuh akan Yesus Kristus Tuhan kita. 
Jadi pilihannya jelas: antara giat berusaha dan berbuah vs tidak aktif dan tidak berbuah; antara menambah-numbuhkan iman vs statis dan pasif; antara makin kenal dan makin akrab Yesus Kristus vs lupa dan picik tentang anugerah-Nya dan kuasa pembaruan-Nya; antara sungguh mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar vs berlindung pada rasa aman dan jaminan yang palsu. Kiranya Tuhan menyadarkan kita bila kita ada di posisi dan kondisi yang salah. 

Sabtu, 16 Juni 2018

Kasih Universal

Kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.-- Lukas 6:27-28
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. -- 1 Korintus 13:13
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. -- 2 Petrus 1:5-7

Kasih adalah kekuatan yang sangat besar yang lebih dahsyat daripada maut dan tidak dapat dihalangi, dihambat atau ditahan oleh sesuatu apa pun lainnya. Jika demikian, mengapa kita orang percaya yang sudah menerima kasih Allah yang kekal dalam Yesus Kristus masih juga sempit, eksklusif, "inward-looking," sempit, egois, tidak peduli akan kesejahteraan dan kemajuan dan keselamatan orang lain? Keadaan menyedihkan ini, kondisi tidak serasi dengan fakta bahwa kita umat-Nya didapat, dipelihara, ditopang oleh kasih ilahi. harus dengan giat dan usaha kuat ditaklukkan oleh kebenaran dan oleh kenyataan dari sisi Allah. Kebenaran dan kenyataan sisi Allah ini bila dengan giat dipupuk dan ditumbuh-kembangkan niscaya dapat mengatasi dan mengubahkan naluri dosa yang membuat kasih natural kita.
Kebenaran apakah yang harus dengan sadar / sengaja kita ingat, hayati dan hidupi dalam keseharian kita? Pertama, Kebenaran bahwa umat manusia berasal dari dan merupakan cermin dari relasi kasih yang terdapat dalam Relasi Kasih Allah Tritunggal sendiri. Dan, bahwa universalitas manusia bukan saja berasal dari satu nenek-moyang sang gambar dan rupa Allah yaitu Adam dan Hawa tetapi juga menjadi gambaran dari Relasi Kasih Allah sendiri. Kedua, fakta bahwa kuat-kuasa kasih yang melintasi jurang lebar dan dalam antara Allah yang Mahakudus dan manusia berdosa telah diwujudkan dalam hidup-mati-bangkit-naik-Nya Yesus Kristus yang menyelamatkan kita; bahwa kasih itu telah dicurahkan rata ke dalam hati kita dan beroperasi dengan kuat mengubahkan kita menjadi makin mirip dengan kodrat kasih ilahi-Nya. Maka tidak hanya dengan mengingat fakta universalitas kita tetapi dengan bekerjasama mengizinkan kasih-Nya beroperasi dalam keseharian kita maka kita boleh mengasihi semua orang.
Siapakah semua orang itu? Itulah semua orang yang di sekitar kita -- yang tidak seiman, tidak sesuku / bangsa, tidak se-level dalam pendidikan, ekonomi, kedudukan, tidak sama dengan kita dalam banyak hal, bahkan yang ada dalam posisi lawan / musuh. Pasti ada banyak orang seperti itu di kantor, sekolah, pertetanggaan, pergaulan kita -- adakah doa, perhatian, pikiran, ungkapan kasih, kesaksian Injil kita dinyatakan bagi mereka? 
Kasih universal adalah puncak dari rangkaian pertumbuhan iman dan bukti dari kesejatian iman kita. Kasih yang dengan giat dan sengaja kita praktikkan dalam keseharian melintasi sekat, lingkup, tembok naluri berdosa kita adalah kenyataan bahwa kita sedang bekerjasama dengan kuat-kuasa transformatif-Nya dalam diri kita. Ini memang proses -- berat dan panjang -- tetapi wajib kita juangkan sebab kita sedang menuju keberbagian kita dalam kodrat ilahi-Nya.

Jumat, 15 Juni 2018

Kasih Internal

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. -- Yohanes 13:34
Hendaklah kamu melimpah saling mengasihi dengan kasih persaudaraan (Roma 12:10 -- terj. hafiah)
Kamu... telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya; dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. -- Kolose 3:10-11
Peliharalah kasih persaudaraan -- Ibrani 13:1
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, -- 2 Petrus 2:5-7

Mari hayati dan hidupi kuat-kuasa kasih-Nya 
yang telah memberikan seluruh hidup-Nya 
supaya kita boleh menjadi kawanan gembalaan-Nya, 
anggota keluarga-Nya sehingga 
dalam dunia yang penuh dengan sekat, tembok, 
perpisahan, perpecahan,  permusuhan ini 
dimungkinkan terwujud sebuah komunitas 
kasih sejati, yang dengan aktif 
saling memerhatikan, saling mendoakan, 
saling tegur-menegur, saling berkorban 
saling melayani memenuhi kebutuhan satu sama lain, 
saling merendahkan diri dan dahulu mendahului 
memberi hormat, tanpa memandang beda 
suku / ras / bangsa, tingkat ekonomi / sosial / pendidikan / kedudukan,...
Kasih ini tidak natural sebab natur kita lemah dan cacat dan cemar
melainkan, datang dari kasih kekal Allah 
namun kita harus  berusaha giat mengizinkan kasih ilahi
mengatasi kasih sempit / lemah / cemar natur dosa kita.
Supaya, kita makin dekat ke kodrat ilahi, yaitu dalam
wujud gandanya -- kasih internal dan kasih universal.

Kamis, 14 Juni 2018

Kesalehan

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!  -- 2 Timotius 3:5

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, -- 2 Petrus 1:5-6

Masa kini populer istilah spiritualitas yaitu sisi kerohanian dari segala sesuatu -- semisal orang bicara tentang spiritualitas puasa, spiritualitas kerja, spiritualitas kebersyukuran, dlsb. Maksud dari istilah itu adalah makna dan sosok rohani dari kegiatan berpuasa, kerja, bersyukur, dlsb. Juga ada istilah spiritualitas tubuh yang ingin menyampaikan makna rohani dari kejasmanian kita.
Sebenarnya istilah yang lebih lazim dipakai di Alkitab bukan spiritualitas melainkan kesalehan atau ibadah, dalam bahasa Inggris piety, godliness, godly life, godly character. Sayangnya ungkapan yang lazim dipakai di Alkitab ini makin melenyap berganti oleh yang lebih populer yaitu spiritualitas. Spiritualitas bisa mengandung implikasi yang kurang sehat, seperti terlalu menekankan sisi roh manusia lebih dari sisi kegiatan Roh Allah, dan menyiratkan roh lebih penting dari tubuh mengikuti dualisme pengaruh pola pikir Yunani. Sebaiknya kita kembali kepada ungkapan alkitabiah ini, yaitu kesalehan, percaya-takut-mengasihi Tuhan, keserasian hidup dengan sifat, kehendak dan tindakan Tuhan. 
Sifat, sikap dan tindakan serasi Allah -- istilah aslinya: eusebia, lebih luas dan mencakup hagios (kekudusan, yang lebih menekankan sisi moral) yaitu ibadah yang mewujud ke dalam perilaku keseharian -- inilah yang harus dengan giat kita usahakan bertambah-tumbuh dalam rangkaian pertumbuhan iman perspektif Petrus. Memang kita perlu memerhatikan peringatan yang Paulus utarakan dalam suratnya kepada Timotius tentang orang yang hanya beribadah secara lahiriah tetapi penghayatan hatinya dan penghidupan kesehariannya tidak sesuai dengan ibadah atau godliness ini. Juga kesalehan (eusebia) ini lebih positif dalam arti menekankan kesesuaian dengan sifat Allah ketimbang kekudusan (hagios) yang menekankan perbedaan / keterpisahan dari hal-hal yang najis. 
Marilah dengan adanya kuat-kuasa Allah bekerja di dalam kita dan sambil berpegang pada janji-janji Allah yang mulia dan ajaib kita tambah-tumbuhkan di atas iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, dan KESALEHAN / ibadah holistic lahir batin sesuai diri Allah. 

Rabu, 13 Juni 2018

Ketekunan

Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. -- Matius 10:22
Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." -- Lukas 8:15
Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. -- Roma 5:3-4
Kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan,... -- 2 Petrus 1:5-6

Kata lain dari tekun / ketekunan antara lain adalah: sabar, tahan, terus menerus, berulang-ulang, tidak kenal menyerah, berkelanjutan, berkesinambungan, berkeringat, disiplin, bekerja-bekerja-bekerja!
Nasihat orang bijak mengatakan hanya perlu 10% inspirasi bagi hidup yang unggul, selebihnya -- 90% yang dibutuhkan adalah perspirasi -- keringat, atau dengan kata lain tekun mengerjakan!
Dalam rangkaian pertumbuhan iman dalam perspektif Petrus, dapat kita bayangkan hubungan erat antara iman -- kebajikan -- pengetahuan -- penguasaan diri -- ketekunan -- dst. Ketekunan, kesabaran, ketidakbosanan, ketidakputusasaan, kekonsistenan, ketahanan, keberlanjutan inilah yang membuat iman kita bertumbuh dan bertambah sampai mencapai ke garis finish. Dan mengingat ucapan Yesus hanya yang tekun sampai ke akhir yang selamat -- ini diulang dalam banyak nuansa dalam para penulis Perjanjian Baru lainnya, dan di Wahyu juga  maka sangat perlu untuk kita memerhatikan ketekunan kita. Tekun menyumberkan hidup dalam anugerah, tekun berbuat baik yang istimewa, tekun melatih pikiran agar menjadi alat bagi tumbuh-kembangnya pengetahuan yang benar, tekun mendisiplin kehidupan agar terkendali menjalani kehidupan yang mulia, tekun mengerjakan disiplin rohani -- berdoa, baca Alkitab, bersyafaat, bersaksi, bertahan dalam susah, memuji dan menyembah Tuhan, berkarya Kerajaan, dst. 
Kita hidup dalam zaman percepatan, variasi, keragaman, kemajemukan, silih ganti yang pada intinya bertentangan dengan bertekun dengan hal yang dianggap lama, kolot, itu-itu terus, membosankan. Tetapi, semangat zaman dunia kini kehilangan indahnya dan sukacitanya bertekun. Kita orang percaya perlu mengembangkan ketekunan, mengakar, mendalam, bertahan sampai kekal  di dalam hal-hal hakiki dari Tuhan untuk kehidupan. 

Selasa, 12 Juni 2018

Penguasaan Diri

Buah Roh ialah... penguasaan diri -- Galatia 5:23
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri -- 2 Petrus 1:5-6

Iman yang benar dan hidup juga akan menghasilkan penguasaan diri -- atau mengikuti cara Petrus mengatakannya, orang percaya harus berjuang dengan giat menambahkan penguasaan diri kepada imannya sehingga iman dipastikan benar dan hidup. Bagaimana kita mengembangkan penguasaan diri, apa penguasaan diri ini dan mengapa perlu?
Apabila Petrus menempatkan penguasaan diri sebagai usaha giat orang percaya, Paulus melihat penguasaan diri sebagai buah dari karya Roh di dalam orang percaya? Ini bukan dua pendapat bertentangan tetapi dua sisi tekanan saling melengkapi. Ingat bahwa Petrus bertolak dari kuat-kuasa ilahi dan janji-janji yang mulia dan ajaib yang darinya orang percaya boleh menimba kekuatan untuk giat menambahkan antara lain penguasaan diri. Ingat juga bahwa Paulus sama menekankan pentingnya berjalan dalam Roh, hidup dalam Roh supaya buah kehadiran-Nya boleh mewujud. Jadi keduanya menekankan kesumberan karya Allah sambil juga kerjasama orang percaya mengingini, mengambil, mengerjakan, mewujudkan potensi dari Tuhan ke dalam aksi nyata kemanusiaan kita.
Apa sebenarnya penguasaan diri ini? Baik kita mulai dengan mengingat bahwa dosa telah mencemari seluruh kapasitas manusia kita. Ada sifat atau dorongan dosa yang mengakar ke dalam segala segi naluri kemanusiaan kita. Coba pikirkan berbagai keinginan berikut: makan. minum, pakaian, hiasan, hidup nyaman, uang, hiburan, barang, kendaraan, sukses dalam pekerjaan / usaha, pengaruh, dlsb. Tidak ada satu pun dari semua ini yang jahat atau dosa dalam dirinya, selama dan sejauh ada penguasaan diri. Coba lihat acara kuliner tertentu -- tidak semua memang -- tetapi ada beberapa yang akhirnya harus kita katakan itu sebagai kerakusan luar biasa dan tidak mengingat kenyataan begitu banyak orang yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Dalam hal seperti itu, nafsu makan menjadi kerakusan yang berdosa. Demikian juga berbagai kebutuhan fisik lainnya, bahkan juga berbagai keinginan batin yang lebih tersembunyi dan kerap tidak tampak bila tidak dikendalikan bisa menjadi dosa.. 
Mengapa perlu penguasaan diri? Bukan saja supaya kebutuhan dan keinginan manusiawi kita tidak dirusakkan terus menerus oleh penyimpangan dosa, tetapi terutama karena kita sedang diproses menuju manusia yang berbagian dalam kodrat ilahi. Ini adalah alasan paling utama dari perlu dan pentingnya penguasaan diri -- supaya sifat, tabiat, kehendak, kodrat ilahi boleh semakin dekat dan nyata di dalam kehendak, sifat dan perilaku kita -- dalam pengendalian perut, mata, telinga, lidah, angan-angan, cita-cita, dst. 

Sabtu, 09 Juni 2018

Pengetahuan Sejati vs Palsu

"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." -- Yohanes 8:31-32
Kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,... -- 2 Petrus 1:5

Pernah mendengar tentang injil Filipus, injil Petrus, injil Tomas? Pernah dengar tentang Da Vinci Code yang baik novel maupun filmnya beberapa waktu yang lalu juga telah masuk ke sini dan menggoncangkan iman sementara orang Kristen atau ide-idenya dipakai oleh mereka yang ingin menyerang iman Kristen? Ini semua berasal pada aliran sesat gnosticisme yang di samping berakar pada dualisme yang diajarkan oleh filsafat Yunani juga dapat kita temukan sampai kini dalam dualisme berbagai ajaran filsafat religius lain baik yang mengaku Kristen maupun agama lain.
Gnosticisme memandang realitas terdiri dari dua lingkup -- rohani dan materi. Yang rohani dianggap lebih unggul dan baik dalam dirinya, materi dianggap hina dan jahat dalam dirinya. Mereka menganggap keselamatan adalah melalui sejenis pengetahuan rahasia yang hanya didapat oleh segelintir orang melalui jalan semedi, puasa, melajang seumur hidup (selibat) dan menyiksa diri. Ajaran gnosticisme ini berpotensi merusak iman Kristen karena implikasinya yang menyimpang dari kebenaran. Semisal menganggap yang mencipta alam bukan Allah tetapi sesuatu yang setengah Allah dan setengah ciptaan, Yesus Kristus tidak manusia sejati dan tidak mati disalib melainkan Yudas yang sesungguhnya disalib, juga pada pengembangan praktik spiritualitas dan moralitas yang tidak benar.
Pengetahuan menurut nas Petrus ini penting sebagai hal yang harus berkembang dari iman dan menjadi salah satu unsur yang membuat iman bertumbuh. Pengetahuan ini bukan pengetahuan rahasia seperti ajaran gnosticisme tetapi pengetahuan yang telah disingkapkan Allah dalam penyataan-Nya -- Alkitab, Yesus Kristus dan semua segi dalam pengalaman manusia yang serasi dengan dua poros penyataan itu. Pengetahuan tidak menyelamatkan tetapi lahir dari iman menuju ke relasi pengenalan yang berkembang berkelanjutan. Karena itu pengetahuan bukan soal kecerdasan akali melainkan melibatkan sikap, emosi, hati nurani, tindakan ketaatan, kemauan, relasi riil dan vital, perilaku moral-spiritual-sosial. 
Kita hidup dalam zaman dimana pengetahuan telah dihayati secara salah -- baik arti, sumber, pun caranya. Ada yang menganggap pengetahuan adalah akali saja ada juga yang mistik, ada yang berlebihan menekankannya sebagai data,fakta dan imajinari ada juga yang sampai menolak pentingnya pengetahuan karena lebih mengunggulkan ide-ide intuitif, dlsb. Orang Kristen harus berusaha memiliki pengetahuan yang bersumber pada iman akan Yesus Kristus dan paparan hati Allah dalam Alkitab, pengetahuan yang melibatkan akal, penerimaan, emosi, kemauan, relasi, moral, eksperiential dan spiritual. Marilah kita aktif mengembangkan pengetahuan yang imani dan mengkonter ide-ide yang berseliweran di sekeliling kita yang sejatinya adalah lawan dari pengetahuan sejati. 

Jumat, 08 Juni 2018

Pentingnya Pengetahuan

Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.... Kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,... -- 2 Petrus 1:1, 5

Pengenalan, iman dan pengetahuan jelas saling terhubung. Pengenalan pribadi terjadi atas dasar dan dalam bingkai iman sebab karena adanya percayalah boleh terjalin hubungan saling kenal. Pengenalan dan iman yang bertumbuh tentu melibatkan pengetahuan -- dalam iman Kristen ini adalah pengetahuan akan berbagai dan beragam kebenaran yang datang dari Allah.  Karena itu mari kita memeriksa bagaimana pertumbuhan pengenalan kita akan Tuhan, pendewasaan iman kita dan bagaimana dampak timbal balik kedua hal itu dengan pengetahuan kita.
Seberapa nyata dan akrab pengenalan kita akan Tuhan -- dalam doa, baca Alkitab, suara Roh dalam hati nurani, pikiran, perasaan dan kemauan kita? Bagaimana dengan pendewasaan iman kita -- makin mengakar, makin tumbuh kokoh berpaut pada janji-janji Tuhan, pada kehadiran dan karya-karya-Nya di keseharian kita? 
Bagaimana dengan pengetahuan kita? Tahukah kita dimana, apa, siapa yang di dalamnya kita boleh tahu tentang siapa Allah, apa sifat-sifat-Nya, bagaimana kehendak-Nya yang universal dan yang partikular-personal, seperti apa sifat dan wujud tindakan-tindakan-Nya? Seberapa rindu kita ingin dekat Yesus Kristus, ingin membuka-membaca halaman-halaman Alkitab yang merupakan curahan isi hati Allah untuk kita lalu menyimpan dan melakukannya dalam keseharian kita? Apa yang kita ketahui tentang doktrin-doktrin khas Kristen seperti tentang Keselamatan, Sifat-Pribadi-Karya: Bapa, Yesus Kristus, Roh Kudus, Tritunggal, Gereja, Panggilan dan Tugas orang percaya, Akhir Zaman? Dapatkah kita membedakan mana benar mana salah dalam lingkup poin-poin kepercayaan dan implikasi moral-sosial-spiritualnya di tengah dunia dengan begitu banyak iman-percaya lain? 
Pengenalan akan Tuhan, iman yang hidup pasti bertambah dan bertumbuh dalam pengetahuan yang semakin jelas dan mengakar. Mari kita tidak malas belajar kebenaran. Mari kita giat berusaha mengetahui jelas dan dalam setiap dan semua segi pengetahuan Kekristenan yang telah dinyatakan dalam Alkitab dan dalam gumulan orang percaya sepanjang sejarah. Roh hikmat kiranya menopang kita. Amin.