Sabtu, 19 Agustus 2017

Dimurnikan Tuhan

Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu. Mereka berseru kepada Lot: "Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai (harfiah: kenali = setubuhi) mereka." Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnya di belakangnya, dan ia berkata: "Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat. Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku." Tetapi mereka berkata: "Enyahlah!" Lagi kata mereka: "Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!" Lalu mereka mendesak orang itu, yaitu Lot, dengan keras, dan mereka mendekat untuk mendobrak pintu. Tetapi kedua orang itu mengulurkan tangannya, menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari pintu. - Kejadian 19:4-11

Jelas sikap dan perilaku Lot cukup berbeda dibanding orang-orang Sodom-Gomora. Lot rupanya punya kebiasaan duduk di gerbang kota untuk memastikan tidak ada orang asing yang masuk kota terperangkap dalam kebiadaban kota itu. Lot memiliki kepekaan rohani dan kemurahhatian untuk memberi tumpangan dan melindungi kedua utusan ilahi itu, sementara penduduk kota itu berperilaku layaknya gerombolan. Lot punya keberanian menghadapi gerombolan orang jahat yang mengepung rumahnya dengan ke luar sendirian di depan pintu kediamannya. Betapa jahat orang-orang itu, mereka tidak ingat bagaimana demi Lot mereka telah dibebaskan oleh Abraham dari penindasan raja-raja sekutu yang mengalahkan mereka. Selanjutnya, dan sayangnya, ya ini sisi negatif Lot akibat keserakahannya memilih tinggal di tempat yang jahat pada pemandangan Tuhan itu, Lot tanpa tanggungjawab dan naluri sebagai bapa, begitu saja mengucapkan kesediaan memberikan dua anak gadisnya sebagai pengganti keinginan orang banyak itu "memakai" dua tamunya.
Dai peristiwa berikutnya ternyata bukan Lot menyelamatkan dua malaikat itu tetapi malaikat tersebut yang menyelamatkan Lot. Pertama dengan menarik Lot masuk menghindari keroyokan para biadab itu, dan kedua dengan membutakan mata mereka sehingga tidak dapat mencapai pintu rumah. Sungguh luar biasa anugerah Tuhan bagi Lot. Kini saatnya ia dimurnikan Tuhan, dilepaskan dari harus terus menerus menderita dan tersiksa.

Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, -- sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa -- 2 Petrus 2:7-8

Jumat, 18 Agustus 2017

Persahabatan Positrif

Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah, serta berkata: "Tuan-tuan, silakanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya." Jawab mereka: "Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang." Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka, ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan. -- Kejadian 19:1-3
Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja... -- 2 Petrus 2:7

Lot boleh kita sebut sebagai seorang dengan sifat-sifat positif-negatif bercampur aduk. Dari hanya keponakan yang mengikut perjalanan Abraham memenuhi panggilan ilahi, Lot kemudian memilih jalannya sendiri. Percabangan itu terjadi ketika timbul pertengkaran soal lahan peternakan antara para gembala Lot dan para gembala Abraham. Kita masih ingat betapa sigapnya Lot memilih wilayah yang paling menguntungkan pada pemandangannya tanpa segan bahwa ia telah melangkahi hak Abraham yang sesungguhnya mewarisi janji tanah dari TUHAN, juga tanpa peduli bahwa wilayah pilihannya itu termasuk teritorial tumbuh-kembangnya berbagai kekejian di mata TUHAN. Dalam nas ini kita temui gema sifat-sifat Abraham tertentu dalam diri Lot. Yang terpenting adalah sikapnya kepada dua sosok ilahi yang diutus TUHAN untuk menyelidik Sodom-Gomora. Seperti sikap Abraham kepada YHWH dan dua malaikat-Nya, Lot pun tiarap sampai wajahnya rata ke tanah. Seperti Abraham menjamu tiga orang pelawat surgawi itu, Lot juga. Seperti Abraham mendesak agar tamunya tidak berlalu tetapi singgah, Lot pun mendesak dua malaikat itu untuk bermalam di rumahnya. Kepekaan rohani, kemurahhatian dan kebutuhan untuk perkawanan yang baik ini, dari mana asalnya? Apakah ia belajar itu dari sikap hidup Abraham selama ia masih pengikutnya? Apakah meski sudah berpisah -- sebagaimana terjadi dari kisah Abraham membebaskan Lot dari tawanan raja-raja sekutu penakluk Sodom-Gomora -- Abraham dan Lot masih menjaga hubungan, bebagi cerita? Mungkin sekali, meski ini hanya siratan yang dapat kita tarik tanpa teks Alkitab mengatakannya secara gamblang. 
Jadi, tepatkah menyimpulkan bahwa pola hidup Lot boleh juga ditiru -- hidup dekat dengan gaya hidup duniawi bahkan jahat tanpa sendirinya tercemar? Meski 2 Petrus mengatakan bahwa Lot orang benar, namun dari paparan lanjut nas ini kita melihat ada beberapa pengaruh buruk lingkungan tidak baik itu yang memengaruhi Lot dan keluarganya juga.
Selama masih di dunia jahat ini dan menanti langit dan bumi baru, penting untuk kita memupuk persahabatan rohani yang di dalamnya boleh tumbuh nilai-nilai dan sifat-sifat positif melampaui pengaruh negatif dunia ini. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Doa Syafaat

Tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang...apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena.... Sekiranya...Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya -- Kejadian 18:22-33

Sesudah berlari menghampiri TUHAN, sujud bertiarap memohon Ia tidak segera berlalu, menyediakan perjamuan untuk-Nya, kini Abraham tetap berdiri dan mendekati TUHAN dengan doa-doanya bagi Sodom dan Gomora. Inilah Abraham sebagai berkat bagi bangsa-bangsa, Abraham yang di dalam pertumbuhan pengenalan dan persahabatannya akan Tuhan sendirinya mengalami peningkatan gestur dan posturnya di hadapan TUHAN, sampai ke peningkatan peran politisnya. Inilah keajaiban dalam pengenalan yang rill manusia akan Allah, inilah indahnya misteri doa khususnya doa-doa syafaat.
Apabila sebelum ini Abraham mengakrabi banyak sifat Tuhan lainnya kini khususnya ia berhadapan dengan TUHAN yang Mahatahu, Mahaselidik, Mahapeduli, Mahaadil akan berbagai kejahatan-kekerasan-kenajisan yang menimbulkankeluh kesah banyak orang yang terjadi di dalam kota-kota dunia. Mari kita belajar doa syafaat dari doa-doa syafaat Abraham ini.
Pertama, doa syafaat didasari atas dan dibingkai dalam sifat-sifat TUHAN. Tersirat dalam isi doa Abraham ia mengingatkan TUHAN akan sifat-Nya yang Mahabenar, Mahaampun/Maharahim, Mahaadil. Perhatikan bagaimana ia memposisikan sifat-sifat ini dan mengandaikan bahwa semua sifat ini dalam diri TUHAN konsisten-koheren adanya dan tidak berkontradiksi sebagaimana dalam diri manusia. (Dalam manusia kasih, rahmat  cenderung ada pada posisi bertolak belakang dengan adil dan benar). Kedua, dalam doa syafaatnya Abraham sendiri juga bertumbuh semakin konsisten-gigih dalam keprihatinannya akan keselamatan orang lain, khususnya di sini Lot dan seisi rumahnya yang tinggal di wilayah itu. Perhatikan bagaimana pengandaian jumlah orang benar yang Abraham ajukan kepada TUHAN berkurang terus dari 50, ke 45, ke 40, ke 30, ke 20 sampai akhirnya ke 10 orang saja. 
Doa syafaat bukan saja privilese dimana kita boleh berdiri di dekat TUHAN mewakili manusia, doa syafaat juga misteri dimana kita boleh semakin tumbuh ke dekat TUHAN sementara kita mewakili sesama yang kita doakan, sambil TUHAN sendiri seakan mengizinkan diri-Nya semakin merunduk ke keterbatasan keadaan manusia yang kita doakan. 

Ia menyendengkan (merundukkan/merendahkan) telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.
Dalam wawasan doa ini, mari kita terus dan gigih berdoa untuk Indonesia. Dirgahayu RI ke-72.

Rabu, 16 Agustus 2017

Makin Mengenal TUHAN

Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya." Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. -- Kejadian 18:20-22 


Sesungguhnya ada banyak sifat TUHAN yang kembali Abraham pelajari dan kenali dalam peristiwa ini. Melalui berbagai peristiwa sebelum ini sifat apa saja dari Tuhan yang telah Abraham kenali? Perhatikan juga bagaimana dampak pengenalan itu pada sifat dan tindakan Abraham sendiri? Coba Anda telusuri sejenak berbagai peristiwa di nas-nas berikut: 
1. Pasal 12 -- dari panggilan dan paparan rencana Allah kepada Abraham; dari peristiwa pengungsiannya ke Mesir. 
2. Pasal 13 -- dari perselisihan lahan peternakan antara gembala Lot dan gembala Abraham.
3. Pasal 14 -- dari kemenangan Abraham membebaskan Lot dari raja-raja sekutu yang mengalahkan raja-raja sekutu sodom-Gomora; dari pejumpaannya dengan Melkisedek.
4. Pasal 15 -- dari penyataan "Nama" Tuhan ketika Abraham khawatir tentang keadaannya; dari upacara yang Tuhan minta Abraham adakan bagi-Nya.
5. Pasal;16 -- dari peristiwa keputusan Sarah menganjurkan Abraham mendapat anak melalui Hagar; dari penyataan "Nama" Allah sebagai El-Shamma dan El-Roi (Allah yang mendengar; Allah yang melihat) tentang sikap-Nya terhadap penderitaan karena penindasan antar sesama manusia.
6. Pasal 17 -- dari pengulangan janji-Nya kepada Abraham dan penyataan "Nama" Dia sebagai ElShaddai dan pengubahan nama Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sarah; dari pemberian syarat sunat sebagai tanda untuk umat yang menerima perjanjian Allah.
7. Pasal 18 ini -- dari perhatian khusus Tuhan datang untuk meneguhkan hati Sarah (rekan perjanjian Abraham -- pihak perempuan); dari kalimat ini tentang Sodom dan Gomora: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya."

Sekian lama kita menjadi orang percaya -- sifat-sifat Tuhan apa saja yang kita kenali dan yang sangat memengaruhi sifat, sikap dan tindakan keagamaan dan keseharian kita? 

Senin, 14 Agustus 2017

Rindu Seperjamuan dengan Allah

TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui (jangan pergi tanpa singgah) hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu." -- Kejadian 18:1-5
Mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. -- Lukas 24:29

Banyak orang mengingini peningkatan anugerah, berkat, lawatan, penyataan karya-karya TUHAN tetapi tidak memperlihatkan peningkatan dalam bentuk kerinduan yang intens, pencarian yang sungguh, pengorbanan yang setimpal. Apabila kita ingin mengalami lawatan Tuhan lebih nyata, pengenalan lebih intim, kesanggupan menyelami isi hati Tuhan makin jelas, kita perlu mengembangkan berbagai ungkapan sebagaimana yang Abraham lakukan ini ketika ia menyadari bahwa TUHAN sendiri dan dua makhluk surgawi datang melawatnya. Pertama ia berlari mendatangi -- bukan diam, terkesima, pasif, melongo tetapi berlari dengan usaha dan tenaga yang sungguh mendekat kepada tiga "orang" tamu surgawi itu. Kedua, ia sujud tersungkur sampai rebah ke tanah. Ini adalah ungkapan penghormatan terdalam yang patut ditunjukkan manusia kepada Yang Mahamulia, Di hadapan TUHAN manusia hanya layak untuk menyembah, merendahkan diri, tunduk mengakui kebesaran-Nya. Ketiga, Abraham memohon agar ketiga tamu surgawi itu tidak pergi melaluinya, melainkan untuk singgah, menerima sambutannya, menerima jamuan yang akan ia siapkan dan layankan kepada mereka. "Do not leave from near your servant" demikian salah satu terjemahan mengungkapkan permohonan Abraham. Ia tidak puas hanya dengan melihat sekilas, merasakan desir gerak mereka berlalu, mendengar firman-Nya menguatkan iman... Abraham menginginkan persekutuan lebih lama, lebih akrab, lebih nyata, lebih dalam -- dalam sebuah perjamuan yang meriah. Sebagai anak-anak Abraham, adakah hasrat yang terus menggelora di dalam kita akan persekutuan dan persahabatan lebih dalam dengan Tuhan?

Tuhan, kiranya ibadah pribadi dan gerejawi kami, kehidupan keseharian kami, pelayanan kami sungguh dan kuat didorong oleh kerinduan kami untuk mengalami perjamuan dengan-Mu, cicipan dari yang kelak akan kami alami dalam kekekalan.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Peran "Duniawi"

Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya." Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: "Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya." Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. -- Kejadian 18:17-22
Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. -- Yohanes 15;15

Tujuan lawatan surgawi itu di samping untuk memastikan mukjizat Abraham dan Sarah akan mendapatkan anak juga untuk melaksanakan penghakiman-Nya atas komunitas manusia yang telah sedemikian jahatnya melampaui batas kesabaran dan kemurahan Allah. Lalu mengapa TUHAN kini menimbang untuk memberitahukan urusan penghakiman dunia itu kepada Abraham? Alasan TUHAN ialah: 1) Abraham adalah orang-Nya yang akan Ia jadikan bangsa besar yang memberkati bumi; dan, 2) Tindakan penghakiman TUHAN juga berkaitan dengan Abraham mendidik keturunannya seterusnya untuk tetap setia dalam jalan TUHAN. Dengan kata lain, Abraham adalah sahabat Allah untuk menjadi berkat bagi dunia dengan cara terlibat dalam seluk beluk penyelenggaraan dunia oleh para penguasa dunia -- intinya berperan nyata dalam sosial-ekonomi-budaya-pendidikan-politik. Peran semacam ini tidak bisa terjadi jika penghayatan tentang arti berkat tertuju ke diri sendiri -- maksud dari berkat bukan hanya materiil dan egoistis tetapi komprehensif dan integrasional serta global. Lalu, akan ada dampak dan gema timbal; balik antara bagaimana TUHAN mengurus dunia luar dengan bagaimana umat TUHAN (keluarga, gereja, lembaga Kristen) berperilaku secara internal. Mutu peran "duniawi" orang percaya akan sejajar dengan mutu kesungguhan orang percaya melaksanakan kehendak dan perintah TUHAN. 

Jumat, 11 Agustus 2017

Tiada yang Mustahil bagi YHWH

Lalu kata mereka kepadanya: "Di manakah Sara, isterimu?" Jawabnya: "Di sana, di dalam kemah." Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan (harfiah: Kembali, Aku akan kembali pada saatnya kehidupan [lahirnya Ishak])  mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid. Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki." Lalu Sara menyangkal, katanya: "Aku tidak tertawa," sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: "Tidak, memang engkau tertawa!"  -- Kejadian 18:9-15
Yesus memandang mereka lalu berkata, "Untuk manusia, itu [masuk Kerajaan Allah] mustahil! Tetapi untuk Allah, semua mungkin." -- Matius 19:26

Tiga "orang" tamu Abraham menanyakan keberadaan Sarah karena tujuan utama theophani itu adalah untuk menegaskan mukjizat yang akan terjadi pada Sarah. Yaitu bahwa Ia sungguh akan kembali lagi pada saat kehidupan / keturunan yang dijanjikan-Nya itu (Ishak) lahir. Bahwa ucapan-Nya itu tidak main-main terkesan dari dua kali Ia berkata: "kembali, kembali Aku akan datang..." Lalu, saat kelahiran Ishak diungkapkan-Nya dengan "pada saatnya kehidupan"; dengan kata lain Ia akan kembali lagi ketika dua pasangan yang telah mati kemungkinan biologisnya untuk membuahi-dibuahi itu ternyata mengalami kehidupan berlanjut dengan lahirnya sang anak secara ajaib. Dari dalam kemah Sarah mendengar penegasan ini lalu tertawa ragu atas alasan bahwa ia sudah mati haid, tidak lagi ada berahi, dan kedua mereka sudah tua, Apabila tawa Abraham tidak ditegur karena bukan keluar dari keraguan, kini Sarah ditegur yang berarti ada unsur keraguan di dalam tawa dan pertimbangannya itu. Kendati ia menyangkal, Tuhan dengan tegas dan lembut menegur keraguannya itu.
Dalam Perjanjian Baru disoroti lagi situasi mustahil manusia yang tidak mustahil bagi Allah: 1) kemustahilan perawan Maria untuk mengandung dan melahirkan Yesus pengampun dosa manusia, 2) kemustahilan para murid menyembuhkan anak yang kerasukan roh jahat dengan gejala epilepsi (Mat. 17), 3) tidak mustahil Allah membangkitkan Yesus dari kematian (khotbah Paulus dalam Kisah Rasul 26), dan 4) kemustahilan orang yang terikat oleh sesuatu (seperti oleh uang pada orang muda yang kaya yang meninggalkan Yesus dengan sedih) untuk dapat masuk Kerajaan Sorga. 
Dalam hidup ini kita harus menyadari berbagai ketidakberdayaan kita -- kemustahilan jasmani, jiwani dan/atau rohani diri kita. Kita perlu menimbang dan mengambil kesimpulan bukan atas dasar kondisi diri sendiri, tetapi dalam perspektif janji, rencana, kesetiaan dan kemahakuasaan TUHAN. 

Kamis, 10 Agustus 2017

Theophani

Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata: "Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." Jawab mereka: "Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu." Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!" Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan. -- Kejadian 18:1-8

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." -- Yohanes 8:58

Siapakah tiga "orang" itu yang datang kepada Abraham sementara ia duduk di depan pintu kemahnya? Mengapa Abraham langsung berlari menyongsong mereka, sujud bertiarap dan memohon agar ia beroleh kasih mereka untuk singgah dan dilayani olehnya? Abraham menyebut salah seorang dari mereka dengan "Tuanku" (Ibr.: Adonai yang berarti yang berkuasa/mulia dan oleh orang Yahudi dipakai sebagai panggilan pengganti nama YHWH demi untuk tidak menyebut Nama TUHAN dengan sembarangan). Jika kita membaca dengan teliti nas ini, ada ucapan Abraham yang ditujukan kepada ketiga tamunya itu, ada yang ditujukan kepada salah Seorang dari mereka. Demikian juga ada ucapan dari ketiga mereka kepada Abraham, dan ada yang diucapkan oleh Seorang saja yang dalam nas ini dikaitkan dengan hal "berfirman." Ada Seorang dari mereka yang berfirman memastikan Sarah akan melahirkan pada tahun berikutnya; dan Seorang yang sama ini juga yang mempertimbangkan untuk memberitahu Abraham tentang hukuman ilahi yang akan dijatuhkan-Nya ke atas Sodom dan Gomora, sementara dua lainnya pergi lebih dulu ke sana. 
Apabila kita kilas balik ke nas-nas yang mencatat penyataan diri TUHAN kepada Abraham, kita melihat adanya peningkatan. Dari hanya memerintah, berfirman, menyatakan diri dalam penglihatan, sampai menyatakan kehadiran dalam upacara peneguhan perjanjian, dan kini penampakan diri secara riil dalam wujud seorang manusia riil yang berbicara dalam bahasa keseharian Abraham. Ini yang disebut sebagai theophani -- penyataan diri Tuhan -- dan karena TUHAN Allah adalah Roh, maka Seorang yang datang dengan dua orang lainnya ini adalah penampakan awal oknum yang kelak akan menjelma sebagai Yesus Kristus, disertai oleh dua makhluk surgawi. Inilah kemurahan Allah yang luar biasa yang dianugerahkan-Nya kepada Abraham, sahabat-Nya. Inilah hak istimewa yang dialami seorang Abraham, yang menjadi tanda nyata hasil persahabatannya dengan Tuhan. 
Marilah kita yang sudah mengalami penjelmaan penuh Yesus dan karya-karya pembaruan-Nya juga boleh memiliki kerinduan untuk mengalami secara nyata intensitas persahabatan dan pengenalan makin dalam, makin meningkat akan TUHAN. 

Rabu, 09 Agustus 2017

Taat: Segera, Semua, Segenap Hati

Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia. -- Kejadian 17:23-27

Sunat adalah tanda perjanjian. Sunat dikaitkan dengan beberapa hal: 1) TUHAN memperkenalkan diri-Nya secara baru, sebagai El Shadai, Allah kekal yang Mahakuasa yang sanggup menggenapi janji-janji dan rencana-rencana-Nya kepada dan melalui Abraham. 2) TUHAN menjadikan sunat pengingat lahiriah yang tak dapat dihapus seumur hidup orang bahwa sebagai milik-Nya yang telah dikerat kulit khatannya mereka harus (disanggupkan oleh El Shadai) hidup utuh, lengkap, sempurna, tak bercela. Ini juga diikuti oleh penggantian nama menjadi Abraham dan Sarah.  3) TUHAN menegaskan komitmen-Nya sebagai Allah Abaham dan Allah keturunannya. 
Perhatikan bagaimana Abraham merespons perintah untuk sunat ini. Kendati sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun, sunat pastinya sangat menyakitkan dan melemahkan, sesaat sesudah Allah menarik diri Abraham tanpa menunda segera menaati perintah itu. Ia menyunat semua lelaki isi rumahnya termasuk para budak belian, juga Ismael yang berusia tiga belas tahun, dan dirinya sendiri.
Dalam Perjanjian Baru tanda anugerah yang merupakan inisiasi orang ke dalam karya penyelamatan Allah adalah baptisan. Baptisan menandai masuknya kita ke dalam hidup-salib-kebangkitan-kenaikan Yesus, sejak itu dan seterusnya kita hidup mati terhadap dosa dan ikut bangkit dalam kemenangan Yesus Kristus. Sebagaimana sunat Abraham dilakukan sebagai ketaatan yang tanpa tunda, sepenuh hati dan segenap isi rumahnya, demikian juga kini hal masuk dan menghidupi anugerah penyelamatan hendaknya serasi dengan kehendak Tuhan yaitu  sesegera mungkin, seisi rumah, sepenuh hati, sepanjang hidup.

Selasa, 08 Agustus 2017

Teman Pewaris Kehidupan

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. -- Kejdian 17:15-22
Bahkan dibaca dalam konteks kini pun nas ini sungguh revolusioner, apalagi jika kita bayangkan konteks patriarkal zaman Abraham, dengan budaya yang mengutamakan lelaki! Kini seluruh perhatian nas ini ditujukan kepada Sarai. Pertama, bukan saja Abram menjadi Abraham, Sarai pun diganti nama oleh Tuhan menjadi Sarah -- keduanya sama-sama mendapatkan tambahan abjad 'h.' Apabila Abraham kini menjadi Bapak banyak bangsa, Sarah yang berarti 'pangeran putri' dari Sarai yang berarti 'bersifat pangeran' dinyatakan oleh TUHAN sebagai ibu bangsa-bangsa, yang akan melahirkan raja-raja bangsa-bangsa. Maka dalam zaman dan budaya dimana perempuan adalah milik dan instrumen untuk menghasilkan keturunan, kini Sarah ditempatkan Tuhan sebagai teman pewaris kasih karunia atau rekan sekerja Allah mewujudkan rencana-Nya, yaitu kehidupan. Dalam panggilan dan karya Allah mewujudkan rencana-Nya Abraham dan Sarah diperlakukan Tuhan sebagai dua yang setara, pasangan yang saling berkontribusi atau sama menerima kehormatan menjadi Bapak dan Ibu bangsa-bangsa dan raja-raja mereka.
Mendengar itu Abraham tunduk hormat dan bersuka di hadapan Tuhan. Suatu ungkapan yang semestinya ada pada tiap orang yang menerima pernyataan karunia dahsyat dari Tuhan. Doanya tentang Ismael dijawab Tuhan dengan sekali lagi menegaskan anak yang dari Sarah yaitu Ishak yang akan menjadi berkat yang memberkati semua bangsa di bumi termasuk bangsa-bangsa yang keluar dari Ismael. Perjanjian Tuhan ini jelas menunjuk kepada Injil di dalam Yesus Kristus yang datang dari keturunan Ishak-Yakub-Yehuda sebagai satu-satunya sumber pengharapan untuk semua bangsa dan bahasa di bumi. 
Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan... -- 1 Petrus 3:7

Sabtu, 05 Agustus 2017

Tanda Rohani-Jasmani


Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."  -- Kejadian 17:9-14
Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. -- Kolose 2:11-12

Ini adalah tanda ketiga yang Allah tetapkan sebagai meterai perjanjian. Yang pertama pelangi Nuh, sepenuhnya alami dan tepat untuk menandai kehendak Allah tentang  keberlanjutan alam; yang kedua upacara tumpukan potongan binatang yang harus disediakan Abram yang menandai keseriusan ("sumpah mati") Allah untuk memelihara perjanjian-Nya dari pihak-Nya; kini yang ketiga adalah sunat. Tanda ini kini sepenuhnya menjadi tanggungjawab Abram untuk melakukannya baik kepada dirinya maupun kepada seluruh lelaki isi kemah kekerabatannya mulai dari usia delapan hari. Tanda ini berkaitan dengan janji Allah akan memberikan keturunan dan menjadikan mereka bangsa penerima-penerus berkat bagi dunia. Dikeratnya kulit khatan lelaki itu menjadi tanda seumur hidup yang tidak dapat dihapus selamanya bahwa mereka adalah benih kudus dan seterusnya menghasilkan benih-keturunan yang kudus, umat perjanjian, milik Allah. 
Mari alihkan sejenak ke berbagai peristiwa sesudah penetapan sunat ini: pemberian taurat Musa menandai penetapan perilaku yang Tuhan inginkan bagi umat bersunat itu. Namun sunat dan taurat tidak mengubah hati manusia. Secara lahiriah mereka membawa tanda perjanjian dan memiliki standar perilaku yang jelas yang mencerminkan sifat dan kehendak Allah, tetapi masih dibutuhkan satu hal hakiki yang hanya rahmat anugerah TUHAN sendiri dapat melakukannya -- sunat hati, lahir baru, perubahan rohani yang dimungkinkan oleh hidup dan karya Yesus Kristus, yang kita alami dengan kita dibaptiskan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Umat PL memiliki tanda lahiriah, umat PB memiliki realitas batiniah -- bersunat dan bertaurat tanpa pembaruan dalam Yesus Kristus adalah sia-sia; sejajar itu yang mengaku sudah di dalam Yesus Kristus apabila tanpa diikuti oleh tanda-tanda nyata kemilikan Allah dalam perilaku jasmani kesehariannya membatalkan sendiri pengakuannya. Kita umat PB yang bersunat hati harus memancarkan itu ke dalam perilaku keseharian kita.

Jumat, 04 Agustus 2017

Berjalan di Hadapan Allah

TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela (harfiah: berjalanlah di hadapan-Ku, dan jadilah utuh / sempurna).-- Kejadian 17:1
Henokh hidup bergaul dengan Allah (harfiah:berjalan dengan Allah) selama tiga ratus tahun lagi -- Kejdian 5:22
TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti (harfiah: Berjalanlah mengikut TUHAN Allahmu), kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. -- Ulangan 13:4

Apa kekhasan dari berjalan dan hadirat Allah dalam tiga ungkapan berbeda mengenai Henokh, Abraham dan Israel ini, dan bagaimana masing-masingnya boleh kita berlakukan dalam keseharian kita? 
Berjalan dengan Allah yang dilakukan Henokh berbicara tentang menghayati hadirat Allah. Ada persekutuan yang akrab, ada percakapan timbal balik, ada saling membuka diri, ada perkenalan yang intim. Sepanjang kehidupannya Henokh berjalan dengan Allah -- menghayati hadirat-Nya, mengalami damai dan suka yang dari-Nya, tumbuh dalam kasih kepada-Nya.
Berjalan di hadapan Allah yang TUHAN perintahkan kepada Abram diapit oleh penyataan diri-Nya sebagai El Shadai -- El Yang Mahakuasa, sumber hidup yang kekal yang mengadakan, mewujudkan, sanggup menggenapi janji dan rencana-Nya -- dan perintah agar Abram berjalan di hadapan-Nya. Perintah ini bercabang dalam janji bahwa dengan berjalan di hadapan Allah Yang Mahakuasa, kendati sudah layu tubuhnya, kendati Abram dan Sarah jatuh-bangun dalam gumulan mengerti bagaimana keturunan yang dijanjikan TUHAN itu akan terealisir -- maka mereka akan diberdaya oleh KeMahakuasaan-Nya untuk hidup mencapai standar janji, rencana dan kehendak-Nya, dan dengan demikian boleh mengalami kehidupan yang utuh, yang fulfilled, yang sempurna. Kesadaran Coram Deo -- dalam Hadirat Allah -- membangkitkan standar dan daya kehidupan dalam segala seginya yang serasi standar dan daya Allah, tidak kurang dari itu.
Israel diperintahkan untuk berjalan di belakang Allah, mengikuti Allah. Aspek kepemimpinan Allah yang ditekankan di sini. Mereka harus mengikuti Sang Komandan -- Ia maju mereka maju, Ia berhenti mereka berhenti, Ia lurus mereka tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Dengan berjalan mengikuti Allah Israel berhasil meraih kemenangan demi kemenangan, penaklukan demi penaklukan, sampai bagian-bagian yang tercakup dalam rencana Allah bagi umat itu sungguh menjadi kenyataan.

Kehidupan devosi kita hanya beberapa menit tiap hari atau memanjang ke sepanjang perjalanan hidup seperti Henokh? Kenyataan hidup kita sesuaikah dengan standar dan daya El Shadai? Perjuangan kita untuk maju sungguhkah mengikuti kepemimpinan dan cara-cara Allah?

Kamis, 03 Agustus 2017

Nama Baru

Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak." Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: " Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."  -- Kejadian 17:1-8

Abram menyambut panggilan dan janji Tuhan ketika ia berusia tujuh puluh lima tahun. Selama dua puluh lima tahun ia telah mengalami Tuhan menggenapi aspek berkat jasmani janji-Nya digenapi. Namun aspek terpenting janji itu, inti rohaninya yaitu anak dan keturunan tetap tidak kunjung terwujud. Padahal kini usianya sudah mencapai sembilan puluh sembilan tahun. Tuhan tahu Abram membutuhkan peneguhan ulang. Maka untuk ke sekian kalinya Tuhan melakukan itu.  Apabila sebelum ini Tuhan meneguhkan Abram melalui firman, alam dan upacara perjanjian kali ini Ia bahkan menampakkan diri kepada Abram. Ketika Abram takut usai berperang Tuhan menyatakan diri sebagai Perisai dan Pahala, kini dalam keadaan sudah uzur dan kondisi tubuh Abram telah lemah dan kandungan Sarah telah tertutup (Rm. 4:19) Tuhan menyatakan sifat dan kesanggupan-Nya dalam pemberian Nama-Nya: El-Shadai -- Allah yang Mahakuasa! Maka selain dimaksud untuk menguatkan iman Abram dan Sarah peneguhan perjanjian dan penyataan Nama Tuhan ini juga bertujuan membukakan hakikat terdalam perjanjian itu ialah bahwa Tuhan menjadi Allahnya Abram dan Allah keturunannya dan dengan demikian Abram dan seluruh kapasitas, potensi dan penyingkapan riwayat hidup dan keturunannya kelak adalah milik-Nya, ada di bawah kendali kehendak dan rencana-Nya. Maka seiring penyingkapan Nama Tuhan ini, nama Abram pun diubah menjadi Abraham -- dari Bapa agung menjadi Bapa bangsa-bangsa, sebab di dalam rencana Tuhan melalui Abraham untuk dunia memang akan ke luar selain bangsa-bangsa Arab, Edom, juga terutama keturunan Yakub, Israel, Mesias, Gereja antar bangsa-bangsa!
Semakin memegang janji Tuhan, semakin menjalani rencana-Nya, semakin mengalami penyingkapan demi penyingkapan berbagai sifat Tuhan, tidak mungkin tidak kita akan mengalami perubahan jatidiri, karakter, dan peran kita juga.

Rabu, 02 Agustus 2017

TUHAN -- Melihat & Mendengar

Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku." Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya." Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?" Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered. Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.  -- Kejadian 16:6-16

Ada begitu banyak kesalahan terjadi dalam kisah Abram, bapa orang beriman -- kesalahan prakarsa Sarah kepada Abram, kesalahan Abram yang mengikut saja usul istri tanpa mengujinya dengan kehendak Tuhan, kesalahan Hagar yang menghina Sarah, kesalahan Sarah berikutnya yang menindas Hagar. Di dalam dan di balik begitu banyak kesalahan ini -- Allah mendengar (inilah arti dari penamaan yang YHWH berikan kepada Hagar untuk anak yang dikandungnya) dan Allah melihat (El-Roi -- di tempat ketika Hagar menyadari bahwa YHWH telah berlaku penuh kerahiman dan keadilan kepadanya sewaktu ia lari balik ke Mesir. Malaikat TUHAN -- dalam Perjanjian Lama ini entah malaikat yang mewakili TUHAN atau penampakan pra-inkarnasi oknum kedua Allah Tritunggal sendiri sehingga memiliki kewenangan dan kedaulatan seperti berfirman, bernubuat, menerima penyembahan -- Malaikat TUHAN ini memerintahkan Hagar untuk kembali kepada Sarah, hal ini menunjukkan bahwa kendati Tuhan baik kepadanya, Tuhan juga tetap pada rencana-Nya semula untuk menjadikan Abram dan Sarah sebagai pangkal dari umat yang diberkati-Nya memberkati dunia ini. Dan dengan memerintahkan Hagar kembali kepada Sarah, berarti Hagar harus mengakui keputusan ilahi itu. Namun demikian Tuhan tidak sewenang-wenang, Ia berjanji akan menjadikan Ismael bangsa yang besar dan menubuatkan akan seperti apa bangsa yang keluar dari Ismael kelak.

Di keseharian kita dalam keluarga, pertetanggaan, pekerjaan, pelayanan, dlsb. kerap terjadi berbagai kesalahan, konflik dan penyalahgunaan kuasa. Untuk semua pihak yang terlibat dalam hubungan negatif antar manusia hendaknya diingat benar bahwa TUHAN melihat, TUHAN mendengar. Yang menyalahgunakan kuasa hendaknya berubah, memohon ampun dari Tuhan dan maaf dari manusia yang disalahinya. Yang ada di pihak yang disalahi hendaknya bersikap menurut iman bahwa Tuhan mendengar, Tuhan melihat dan carilah tindakan yang serasi dengan kerahiman dan keadilan Tuhan dalam cara Tuhan sendiri. 

Selasa, 01 Agustus 2017

Akibat Kedagingan

Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." -- Kejadian 16:1-5
Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar-- Galatia 4:24


Janji-janji Tuhan pasti akan digenapi -- menurut ketetapan-Nya, pada saat-Nya dan menurut cara-Nya sendiri. Seperti dalam kasus Abram dan Sarah janji Tuhan telah berulang kali diteguhkan baik dengan firman, alam bahkan dalam upacara yang menunjukkan keseriusan Tuhan untuk menggenapinya. Penundaan penggenapan janji itu menjadi cara Tuhan memurnikan iman Abram dan Sarah serta memperdalam persahabatan mereka dengan-Nya. Sayang sekali "kedagingan" berulang kali menyebabkan mereka mengambil keputusan yang bisa berakibat buruk pada penggenapan janji Tuhan. Apabila ketika mengungsi ke Mesir Abram membuat usulan salah kepada Sarah, kini Sarah membuat usulan salah mendesak Abram mengambil Hagar yang didapat di Mesir supaya boleh menghasilkan anak (harfiah: mungkin melalui dialah diriku boleh dibangun/ditopang [dalam hal beroleh anak]). Ternyata ketika Hagar sungguh mengandung keadaan itu bukan menjadi fondasi untuk Sarah bersukacita atau keluarga perjanjian itu beroleh penggenap pengganti atas janji melainkan malah menimbulkan tiga masalah rumit. Hagar menjadi kurang ajar, Sarah bertengkar menyalahkan Abram sampai mengangkat isu "pengadilan Tuhan," dan perjalanan perjanjian Tuhan selanjutnya berlangsung menjadi rumit karena akan keluar bangsa besar lain yang kendati diberkati Tuhan secara jasmani namun menjadi semacam duri bagi perjalanan umat perjanjian sendiri.
Dalam kita menjalani panggilan dan menantikan penggenapan janji-janji Tuhan dalam studi, pekerjaan, keluarga, pelayanan... hendaknya kita menanti dan berjuang tetap di dalam jalur kehendak Tuhan seturut firman-Nya dan dalam topangan sumber daya Roh Kudus. Jangan sekali pun mengikuti ide-ide cemerlang kedagingan sebab itu pasti akan mengakibatkan berbagai kekacauan dalam hidup ini. 

Sabtu, 29 Juli 2017

Suka dan Gentar

Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan... Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram... -- Kejdian 15:10-18

Apabila firman dan petunjuk alami telah cukup membuat Abram menujukan imannya kepada Tuhan sang pemberi janji, mengapa Tuhan masih mengaruniakan lagi suatu tanda, upacara atau ritual pemenggalan binatang-binatang yang ditumpuk dua baris membentuk lorong yang kemudian Ia sendiri berjalan melaluinya? Apakah ritual ini semata untuk memenuhi kebutuhan Abram sebagai manusia yang tidak saja rasional namun juga emosional? Atau ada prinsip lain di dalam pemberian ritual ini?
Nas ini dibuka dengan Tuhan menguatkan Abram untuk tidak takut; sesudah pemberian korban itu Abram tertidur dan terjadi hal yang dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai "kegelapan dahsyat yang menggentarkan turun meliputinya." Emosi takut akan berbagai faktor manusiawi dalam diri Abram berganti dengan emosi-intuisi-imajinasi gentar yang dahsyat karena mengalami hadirat Tuhan, menyadari berbagai segi sifat Allah diungkapkan di dalam dan melalui ritual persembahan korban itu. Ketika takut akan Tuhan sungguh ada pada kita, semua takut lainnya dengan sendirinya menepi dan sirna!
Esok kita kembali akan beribadah, menjalani berbagai ritual yang tersusun dalam liturgi yang intinya mengakui kemuliaan Allah, mengakui keberdosaan dan ketidaklayakan kita, menerima sakramen ekaristi, membuka diri kepada penyingkapan diri dan rencana-Nya dari dalam isi firman tertulis, mengungkapkan doa-doa syafaat, mengikrarkan kembali intisari iman Kristen dan menyatakan syukur kita dalam bentuk persembahan nyata sebagian dari harta yang dari Dia juga asalnya,lalu diakhiri dengan pengutusan kita ke keseharian dalam lingkup berkat-Nya. Urutan liturgis ini mungkin bisa berbeda-beda dari denominasi ke denominasi, namun intinya kurang lebih sama. 
Berbagai ritus dalam ibadah bukan saja memenuhi kebutuhan kita sebagai makhluk dengan kapasitas rasio-emosi-intuisi-imajinasi-volusi, tetapi lebih dari itu harus sesuai dengan sifat Allah yang Ia nyatakan dalam Alkitab, harus mengokohkan kita makin dalam ke dalam karya-karya-Nya yang ya dan amin, dan harus dihayati dalam kehadiran diri kita penuh tanpa distraksi dalam kepenuhan suka dan gentar akan Tuhan.

Jumat, 28 Juli 2017

Korban -- Peneguh Perjanjian

sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri,  -- Kejadian 15:8-13 dst.

Sebelum nas ini kita dapatkan Allah menjadikan firman dan alam sebagai alat untuk meneguhkan hati Abram memercayai diri-Nya dan memiliki keyakinan teguh tentang janji-janji-Nya. Dalam lanjutan peristiwa itu kini Tuhan bahkan mencelikkan penglihatan rohani Abram ke apa yang akan terjadi dengan keturunannya beberapa generasi, beberapa ratus tahun ke depan. Yang paling penting dalam nas ini untuk Abram dan kita juga ialah bagaimana Tuhan Allah memberikan semacam meterai yang mensahkan dan meneguhkan ikatan perjanjian antara diri-Nya dan Abram. Yaitu, di dalam pemberian korban darah tiga dari lima macam binatang. Perjanjian darah adalah sejenis perjanjian paling serius dengan implikasi maut yang dikenal dalam kisah-kisah peradaban manusia. Orang-orang yang mengikat janji mengucurkan darah mereka, mengaduk-satukan sebagai tanda mereka menyatukan diri dalam perjanjian itu. Kini Tuhan memakai ritus yang mungkin sudah dikenal sejak zaman pra-Abram yaitu pemberian korban. Hanya sifat dan tujuan korban itu berubah total. Korban-korban sejak Abram seterusnya dalam PL dan puncaknya dalam korban kematian Yesus Kristus bukan upaya manusia untuk menyenangkan dan membujuk Allah agar berdamai dan memberkati, melainkan sebaliknya. Korban adalah pemberian Allah kepada manusia supaya melalui hal yang ditandai oleh korban itu boleh terbuka jalan untuk manusia bersekutu, bersahabat dengan Allah. Tiga binatang itu dipenggal menjadi dua dan dua jenis burung, ditumpukkan menjadi dua baris yang di antaranya terjadi lorong untuk dilalui. Semestinya kedua pihak yang membuat perjanjian berjalan di lorong di antara tumpukan penggalan badan binatang yang darahnya telah dicurahkan dan hidupnya telah dicabut, tetapi kini Abram hanya mencegah burung bangkai dari memakan tumpukan daging itu dan ia kemudian tertidur. Yang berjalan di sana adalah "gelap-terang" / perapian berasap dan suluh berapi yaitu gambaran kehadiran Tuhan Allah sendiri. Inilah sifat korban dalam Alkitab: perjanjian dua pihak yang intinya hanya sepihak yaitu Tuhan yang menginisiasi, menganugerahkan jalan untuk penggenapan perjanjian-Nya tanpa syarat kondisi apa pun pada pihak manusia. Apabila kita merentangkan gambaran korban ini jauh ke korban yang Yesus lakukan dengan memberikan hidup-Nya bagi kita domba-domba sesat, bukankah kita melihat ada sesuatu yang dipenggal-dipisah dalam Allah sejati-manusia sejati Yesus dalam kematian-Nya yaitu Ke-Allahan-Nya dari kemanusiaan-Nya sehingga itu bukan saja boleh menjadi meterai peneguh perjanjian yang baru bagi kita, tetapi sesungguhnya ini adalah sumber pemberi hidup dan pewujud hubungan kekal Allah dan manusia, manusia dan Allah!

Sepanjang proses peziarahan iman kita, ingatlah firman dan alam sebagai media penguat, dan utamanya berpusatlah pada salib-kebangkitan Yesus sebagai meterai, penggenap, wujud perjanjian kekal Allah untuk umat pilihan-Nya. Maka sepanjang keseharian dan kebergerejaan kita jadikanlah firman, alam dan tanda-tanda sakramental lain yang menunjuk pada salib-kebangkitan Yesus sebagai sumber penguat iman-harap-kasih kita seterusnya. Amin.

Rabu, 26 Juli 2017

Menjadi Sahabat Tuhan

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.  -- Kejadian 15:6
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.  -- Roma 4:19-22
"Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah." -- Yakobus 2:23

Dua puluh lima tahun telah lewat sejak Abram dipanggil meninggalkan tempat kediamannya sampai ke peristiwa yang dicatat di nas ini. Ini merupakan yang ke lima dari sembilan rangkaian penyataan Tuhan dan firman-Nya kepada Abram. Pasti ada hal penting dalam peristiwa ini, dan diperkaya oleh pemaknaan nas-nas PB kita boleh mengambil banyak pelajaran tentang berbagai aspek iman, pertumbuhannya dan damoaknya.
Dari tiga janji berkat Tuhan kepada Abram, yang paling sentral adalah janji beroleh keturunan. Justru janji ini yang semakin Abram menjalani panggilan Tuhan semakin tampak menjauh kemungkinannya untuk dapat digenapi. Berulang kali nuansa keraguan dan kecemasan tentang keturunan ini muncul di pasal ini. Dua puluh lima tahun penantian ini menjadi semacam pengujian yang meluruhkan semua dasar-dasar potensi manusiawi bagi penggenapan janji tersebut. Maka yang terjadi pada Abram adalah dari belajar memercayai janji Allah, berharap janji itu dapat digenapi melalui cara yang lebih masuk akal (mengadopsi hambanya Eliezer) sampai sepenuhnya hanya mengandalkan Tuhan sendiri -- kesungguhan janji-Nya, kesanggupan-Nya menggenapi janji itu, kesetiaan-Nya mengingat dan memenuhi janji-Nya -- Dan, ketika sampai di iman yang sepenuhnya mengandalkan sang pemberi panggilan dan janji, di sinilah ia diperhitungkan sebagai orang benar. Secara khusus surat Roma dan Galatia menyorot hal ini sebagai prinsip pembenaran dalam proses keselamatan yang dihasilkan oleh Tuhan Yesus untuk orang yang memercayai Dia. Sejauh ini kita melihat jatuh-bangun moral-spiritual Abram yang hanya menegaskan bahwa ia bukan orang benar, jauh dari sempurna. Tetapi karena imannya sungguh ditujukan kepada Tuhan maka itu menjadi dasar untuknya diperhitungkan oleh Tuhan sebagai kebenaran. Dan dari pembenaran ini boleh tumbuh persatuan iman lebih dalam yang menghasilkan beragam perubahan hidup dan pewujudan janji-janji Allah seterusnya. Sisi kelanjutan dari iman yang diperhitungkan benar ini yaitu pertumbuhan persahabatan antara Abram dan Allah ini yang dilihat oleh Yakobus. 
Iman dan pembenaran adalah bagian dari proses pertumbuhan persahabatan antara kita dan Allah; proses persahabatan ini mengandung aspek pemurnian sifat dan dasar iman kita, pengerahan percaya lebih dalam kepada Tuhan, dan pengenalan makin nyata dan intens akan diri Tuhan. Dalam bahasa soteriologis ini adalah pembenaran, pematian diri, pengambilan kuasa dan karya Tuhan, pengudusan dan pemuliaan seterusnya sampai ke konsumasi (penyempurnaan keselamatan kita kelak). Kiranya kita boleh menjalani proses persahabatan iman ini semakin riil.