Sabtu, 16 Desember 2017

Pentingnya Perjanjian Lama

Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.  -- 1 Petrus 1:10-12
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. -- Lukas 24:25-27

Ada beberapa hal penting dibicarakan dalam nas ini. Yang pertama adalah tentang peran para nabi meneliti / menyelidiki dan menubuatkan tentang Yesus Kristus, Kita ketahui bahwa peran para nabi dalam Perjanjian Lama luar biasa penting. Para nabi bukan saja bernubuat tentang masa di depan mereka, mereka juga mengajar-mengingatkan-menegur tentang kebenaran hukum-hukum Tuhan agar umat yang mereka layani tidak menyimpang dari jalan TUHAN Allah.

Seiring dengan peran tersebut para nabi juga bernubuat tentang sang Mesias yang akan memberikan keselamatan kepada umat Tuhan. Mereka bukan saja diberikan kata-kata nubuat itu oleh Roh Kristus, mereka juga memiliki keinginan kuat untuk mengetahui kapan hal-hal yang mereka nubuatkan itu akan terjadi, bahkan dengan kerinduan besar mereka menyelidiki hal itu. Hal menyelidiki ini bukan saja bicara tentang usaha dan tenaga tetapi juga tentang kesinambungan sejarah nubuatan di Perjanjian Lama. Artinya, tentu para nabi-nabi yang kemudian menyelidiki nubuat-nubuat para nabi sebelum mereka, atau lebih jelasnya rangkaian nubuat-nubuat sejak yang disebut sebagai proto-evangelium di Kejadian 3:15 mengalir runtut melalui para nabi di Kitab Kejadian (Set, Henokh, Nuh, Abraham dst.), ke Musa di Keluaran, ke para nabi zaman kerajaan, ke para nabi pra-pembuangan ke para nabi pasca-pembuangan berfokus dan sampai genap dalam kelahiran-kehidupan-kematian-kebangkitan-kenaikan Yesus Kristus.

Jadi, Perjanjian Lama sangat penting untuk kita baca dan ketahui sebagai latar bagi Perjanjian Baru dan menjadi akar-akar sehat dan kuat bagi penghidupan iman-harap-kasih kita kepada Yesus Kristus. Jika para nabi demikian bergairah meneliti firman-firman di Perjanjian Lama, apakah kita lebih lagi menghargai dan merindu untuk mengerti firman-firman yang keluar melalui para nabi untuk kedalaman penghayatan kita masa kini?

Jumat, 15 Desember 2017

Arti Konkret Keselamatan

Kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. -- 1 Petrus 1:9



Apakah yang dimaksud dengan keselamatan? Bagaimana isi atau wujud keselamatan yang menurut Petrus sudah kita capai kini tersebut nyata dalam pengalaman kita?
Keselamatan memiliki beberapa sinonim seperti: kelepasan, keluputan, keamanan, kesembuhan, kepulihan. Lebih luas dan komprehensif ketimbang yang biasanya kita mengerti, yaitu hanya sebagai pengampunan dari murka Allah dan hak masuk surga. Apabila kita kaitkan dengan beberapa ciri orang percaya menurut Petrus -- dipercik darah Kristus supaya taat kepada-Nya, dikuduskan oleh Roh, dilahirkan baru ke pengharapan yang hidup untuk menerima warisan kekal -- maka keselamatan dapat kita pahami sebagai kelepasan dari semua hal yang merusak tubuh-jiwa kita dan pembentukan kekudusan agar layak memasuki kemuliaan kekal kelak.
Mari kita lekatkan ini ke dalam berbagai aspek keseharian kita berikut ini:
Bagaimana dengan proses perubahan sifat dosa kita ke sifat Kristus? Misalnya: tidak peduli menjadi kasih, murung .--> sukacita, khawatiran --> damai sejahtera, kikir -->  kemurahan, bosanan --> kesetiaan, kasar -->  kelemahlembutan, temperamental --> penguasaan diri?
Bagaimana dengan dosa-dosa laten ciri diri kita masing-masing? Rakuskah? Mudah marahkah? Lidah tak terkendalikah? Serakahkah? Sombongkah? Nafsu sekskah? Nafsu makankah? Nafsu kememewahankah? Haus pujiankah? Materialistiskah?  ...
Bagaimana kita dalam kehidupan ekonomi-sosial? Curangkah dalam relasi bisnis? Korupsi waktukah dalam kerja? Tidak adilkah dalam perlakuan ke bawahan? Penonjolan dirikah dalam pelayanan? Asal-asalankah dalam pekerjaan / pelayanan?...
Singkat kata mari kita hayati keselamatan tidak saja dalam artian rohani sebagai keluputan dari murka Allah dan hak masuk surga, tetapi sebagai perubahan hidup dari semua akar dan dampak kejahatan dan ketidakbenaran, mulai dari sifat, angan-angan, cita-cita, sampai ke motif di akar perilaku ekonomi-sosial kita sehari-hari. Tuhan menghendaki kita kudus rohani-pribadi-gerejawi-ekonomi-sosial sebagaimana layaknya orang-orang yang dipilih untuk warisan yang tidak dapat binasa-layu-cemar kelak Amin.

Kamis, 14 Desember 2017

Keselamatan -- Kini dan Kelak

Kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir....kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. -- 1 Petrus 1:5, 9



Dua ayat yang berbicara tentang keselamatan ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Sesungguhnya keselamatan itu kini masih kita nantikan untuk dinyatakan di zaman akhir, atau sudah kita capai sekarang ini? Apakah keselamatan hanya menyangkut jiwa dan tidak mencakup tubuh juga? 
Kita perlu memikirkan jawaban atas kedua pertanyaan ini dengan mempertimbangkan pertama, apa / siapakah manusia. Manusia diciptakan Tuhan Allah dalam keberadaan tubuh dan jiwa yang menyatu. Hanya memiliki salah satunya saja bukanlah manusia yang hidup dan utuh. Meski secara kasar dapat dibedakan namun tubuh dan jiwa saling berinteraksi sedemikian menyatu hingga tiap manusia mengalami dirinya dan dialami oleh pihak lain sebagai tubuh-jiwa yang utuh. Pengaruh dosa atas manusia pun berlaku atas manusia seutuhnya, jiwa dan tubuh kita kini membawa akibat-akibat buruk dan jahat dari kedosaan kita. Maka yang butuh diselamatkan adalah kita seutuhya, tubuh-jiwa kita harus diselamatkan. Penyelamatan dari Allah yang diwujudkan oleh kematian-kebangkitan-kenaikan-kedatangan kedua Yesus Kristus serta diimplementasikan oleh Roh Kudus pasti menjawab kebutuhan ini. Ketika Tuhan Yesus melayani di dunia ini berbagai kelepasan diberlakukan-Nya -- kelepasan dari roh-roh jahat, penyakit, kematian, dosa dan akibatnya. 
Kedua, keselamatan yang Allah kerjakan itu berproses paling tidak dari penjelmaan Putra Allah menjadi Yesus Kristus, kehidupan-kematian-kebangkitan-kenaikan-kedatangan-Nya kelak. Kenyataan keselamatan dalam diri manusia pun berproses dalam karya Roh Kudus menyatukan orang percaya  ke dalam Yesus Kristus -- ada unsur dan tahap kita beriman-bertobat sebagai respons kepada panggilan Injil, dilahirkan kembali, dibenarkan, diampuni, diangkat menjadi anak, dibasuh oleh darah Yesus, dikuduskan, diserupakan dengan Yesus Kristus dalam kita menghasilkan buah Roh sampai akhirnya pada kedatangan-Nya kembali kita dimuliakan. 
Maka keselamatan yang orang percaya alami sekarang ini adalah proses menuju tahap akhir kesempurnaan keselamatan dalam kemuliaan kelak, Namun begitu, dengan menghidupi penuh pemercikan darah Yesus, pengudusan Roh, pengharapan warisan, ujian iman, kasih dan sukacita, sesungguhnya kita sedang mengalami yang kekal dan nanti itu secara bertahap namun riil dan signifikan di sini dan kini. Kita sedang diubahkan dari kemuliaan yang satu ke kemuliaan berikutnya (2 Korintus 3:18; Yohanes 1:16). Terutama memang inilah keselamatan moral-spiritual dari jiwa kita namun dalam ajaib anugerah-Nya juga kita bisa mengalami cicipan kebangkitan tubuh nanti dalam wujud tubuh yang berfungsi baik dan sehat.

Rabu, 13 Desember 2017

Sukacita melimpah tak terkatakan

Kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. -- 1 Petrus 1:5-9


Tiga kali dalam nas singkat ini Petrus bicara tentang sukacita -- dua kali dalam kata kerja dan satu kali dalam kata benda. Bersukacita dalam kesukacitaan yang melimpah dan tak terkatakan adalah ciri orang yang mengalami keselamatan dari Tuhan. Dari semua kondisi yang terjadi dalam diri orang, kasih dan sukacita adalah dua yang tidak dapat disembunyikan dan ditahan. Bukan saja itu, keduanya dalam orang percaya terjadi secara tidak bergantung pada kondisi natural. Kita mengasihi Kristus meskipun kita belum melihat Dia, kita bersukacita dengan sukacita melimpah yang tidak terkatakan baik di dalam kesukaran dan pencobaan maupun dalam penantian sampai keselamatan itu dinyatakan penuh. 
Bagaimana kita boleh limpah dengan sukacita mulia demikian? Jawabannya yang komprehensif adalah renungkan, selami, hayati secara mendalam oleh pertolongan Roh semua kebenaran tentang pemilihan, pemercikan oleh darah Kristus, pengudusan, kelahiran baru, warisan kekal dan kasih kepada Kristus. Jawabannya secara singkat dalam ayat 8 karena keselamatan jiwa sudah kita capai dalam kekinian percaya kita. Bagaimana mungkin yang masih kita imani dan harapkan sudah teralami kini? Itulah kenyataan yang diimplementasikan Roh dalam jiwa kita dan yang kelak secara penuh -- tubuh kebangkitan dan jiwa mulia sempurna -- masuk dalam kemuliaan kekal Allah. Dan sebagaimana dalam pengalaman keseharian ada hubungan tak terpisahkan antara sukacita dan kasih demikian pun penghidupan keselamatan kekal itu menjadi nyata di dalam kasih aktif kita kepada Kristus.
Adakah kasih dan sukacita meluap-luap dalam hati sampai tak tertahankan menggejala dalam senyum-tawa, rona wajah, memuji Tuhan penuh semangat melibatkan bahasa tubuh juga, tutur kata yang tak tahan untuk tidak menceritakan tentang kisah Yesus kepada siapa yang kita jumpai,...? Semoga kasih dan sukacita kita tidak pernah pudar oleh waktu atau kondisi hidup yang berubah-ubah. Kiranya pengetahuan doktrinal kita terhubung dengan realitas batiniah kita dan bahasa tubuh kita -- baik dalam berbagai situasi keseharian maupun dalam ibadah.

Senin, 11 Desember 2017

Keutamaan Kasih

Yesus Kristus... yang sekalipun tidak kamu lihat, kamu kasihi. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. -- 1 Petrus 1:8-9

Sesudah memaparkan simpul-simpul indah yang sarat kebenaran dalam kehidupan Kristen -- pemilihan oleh Allah, pemercikan oleh darah Yesus Kristus, pengudusan oleh Roh Kudus, kelahiran baru oleh kebangkitan Kristus ke dalam pengharapan yang hidup, warisan kekal yang tidak dapat binasa/cemar/layu, pemurnian iman melalui kesukaran hidup dan pencobaan -- kini Petrus menyoroti mutiara indah dalam kehidupan orang percaya, kasih kepada Kristus. Di sini kita tidak dapat mengelakkan kesan kemiripan dengan Paulus tentang tiga hal penting -- iman, pengharapan dan kasih -- dan yang terutama dari ketiga hal itu, atau yang merupakan puncak dari semua kebenaran kehidupan Kristen, adalah KASIH. Ketiga kebajikan teologis ini saling menunjang, saling mengisi, saling menguatkan; namun demikian yang kini menjadi energi dahsyat dalam ketahanan, pengabdian, pelayanan dan yang kelak tetap berlangsung di kesempurnaan dan kekekalan kelak adalah kasih!
Bagaimana mereka bisa jatuh cinta kepada Yesus Kristus yang tidak pernah mereka lihat, temui, dengar, raba, dst? Karena mereka telah menerima manfaat dari pencurahan darah-Nya di salib. Karena mereka telah mengalami kuat kuasa kebangkitan-Nya bekerja dalam pembaruan moral-spiritual bahkan berbagai pengalaman keseharian mereka. Karena melalui kesaksian, khotbah, catatan yang mereka terima yang menceritakan tentang kehidupan Yesus Kristus, mereka menyadari betapa indah kepribadian dan sifat-sifat serta perilaku Yesus Kristus semasa hidup-Nya di bumi. Juga jangan kita lupakan bahwa pengalaman saling mengasihi sebagai Tubuh Kristus membuat mereka bertumbuh dalam kasih kepada Kristus. 
Dengan kata lain, kuatnya dan sejatinya  kasih Yesus menjadi pembangkit kasih mereka kepada Yesus Kristus. Dan dari kasih-mengasihi inilah meluap aliran sukacita yang mulia yang tidak terkatakan dalam kehidupan mereka,  bahkan sementara mereka sedang menderita karena Kristus. 
Sedemikian penting dan utamanya kasih kepada Kristus ini, janganlah dunia ini, perjuangan hidup, bahkan kegiatan pelayanan sekali pun menyebabkan kasih kepada Kristus menjadi lemah dan sirna.

Sabtu, 09 Desember 2017

"Api" Pemurni Iman

Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. -- 1 Petrus 1:6-7

Mengapa harus dilakukan proses pemurnian yang panjang dan berbahaya untuk mendapatkan emas yang murni? Karena logam mulia tersebut bercampur dengan arsen, antimonium, timbal, seng, tembaga, besi, telurium, and selenium. Untuk mendapatkan emas murni yang kemudian siap dicampur untuk berbagai bentuk dan tujuan yang diinginkan bahan bercampur itu perlu dibakar di dapur pemurnian dengan suhu di atas 1,000 C. Dengan cara itu berbagai kotoran terbakar menjadi gas, logam dan zat lain tersingkir, lalu dihasilkan emas lunak yang siap untuk dijadikan bahan untuk tujuan yang dikehendaki. 
Ini gambaran yang dipakai oleh Petrus untuk pemurnian iman yang harus dilalui oleh semua orang percaya. Seperti halnya api membuang kotoran dan menyingkirkan bahan lain yang tak perlu demikian juga kesukaran hidup dan berbagai pencobaan karena konsekuensi iman memurnikan iman kita. Keselamatan memang pasti, semua orang yang beriman sejati kepada Yesus Kristus karena pemilihan Allah dan pengudusan oleh Roh Kudus pasti sampai di kekekalan mulia menerima janji waris keselamatan. Namun demikian keselamatan bukan barang yang sekali dimiliki selanjutnya menjadi milik. Keselamatan adalah pemulihan hubungan dengan Pemilik kita sejati karena iman dan bahwa kita sungguh beriman dan iman itu murni tidak bercampur dengan berbagai unsur salah dan tak perlu harus dibuktikan. Dan pembuktian tentang kemurnian iman inilah yang akan memastikan di pihak kita bahwa sungguh pemilihan Allah, pemercikan darah Yesus Kristus dan pengudusan Roh memang sedang kita berlakukan dalam kehidupan ini. Dan pemurnian ini yang akan membuat kita tampil dalam kepujian, kehormatan dan kemuliaan di hari Tuhan kelak. 
Maka, kesukaran dan pencobaan karena konsekuensi iman adalah cara Allah memastikan pemurnian berlangsung kini dan di sini supaya kita layak masuk ke dalam pemuliaan yang Ia sediakan dan pelihara untuk kita.

Kamis, 07 Desember 2017

Spiritualitas Trinitarian

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (harfiah: kepada pengharapan yang hidup), untuk menerima suatu bagian (harfiah: warisan) yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu sekalipun sekarang ini .. -- 1 Petrus 1;3-6a

Perhatikan pola ke-tritunggal-an kebenaran kehidupan Kristen dalam paparan Petrus. Dalam salamnya ia mengakarkan jatidiri orang percaya pada keterpilihan oleh Allah (Bapa), pemercikan darah Kristus dan pengudusan Roh Kudus. Pujiannya menyebut Yesus dengan tiga sebutan: Tuhan (kerajaan-Nya), Yesus (Juruselamat -- keimamatan-Nya) dan Kristus (yang diurapi untuk membimbing, mengajar, menyatakan kebenaran -- kenabian-Nya). Kehidupan iman Kristen dipaparkan sebagai kelahiran baru-pengharapan yang hidup-dan beroleh warisan kekal. Warisan kekal itu bersifat tidak dapat binasa-tidak dapat cemar-tidak dapat layu. Warisan itu tersedia di sorga-dipelihara dalam kekuatan Allah-siap untuk dinyatakan di zaman akhir. Sangat mungkin dalam tindak pewahyuan Roh dalam perenungan Petrus ketika menulis suratnya ini, pola-pola trinitarian ini dijadikan bingkai kokoh-melimpah dengan kebenaan indah supaya kita boleh menghidupi kehidupan iman kita dengan mewah.
Dengan menyebut "kita" dalam pujian ini Petrus memasukkan dirinya ke dalam pengalaman kebaruan hidup berpengharapan warisan kekal ini. Kata yang dipakainya meski menggemakan "lahir dari atas" dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus, kini memakai ungkapan lahir kembali. Dengan latar bahwa pembacanya sedang mengalami ketidakpastian karena menjadi perantau teraniaya Petrus kini menguatkan bahwa lebih dari kenyataan hidup yang sukar dan tidak pasti bahkan sementara ini, kita yang sungguh masuk ke dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, masuk ke dalam pengharapan yang hidup dengan prospek masa depan mulia beroleh warisan kekal. 
Dengan cahaya ajah, tutur kata kesaksian, daya pengabdian kita di keseharian mari pancarkan bahwa kita sungguh memiliki hidup baru penuh pengharapan berprospek warisan kekal yang teguh pasti karena bersumber pada dan dipelihara oleh Bapa-Anak-Roh Kudus. Amin.

Rabu, 06 Desember 2017

Berguna dalam Kristus

Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus -- dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. Dia kusuruh kembali kepadamu--dia, yaitu buah hatiku--. Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela. Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. -- FIlemon 1:8-16

Pendekatan, imbauan, pernyataan yang Paulus lakukan untuk membimbing Filemon mengoperasikan kasih Kristen ini menggemakan apa yang telah ditempuh oleh Kristus sendiri. Demi untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan dosa Yesus Kristus rela tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah dan menempuh jalan perendahan, kehinaan bahkan penderitaan sampai mati. Paulus yang di dalam Kristus adalah rasul dan yang sebenarnya memiliki hak untuk memerintah atau menuntut Filemon mengampuni dan menerima kembali Onesimus, tidak menggunakan wewenang kerasulannya melainkan merendah -- sebagai orang yang dipenjara karena Kristus, sudah tua, meminta Filemon menerima balik Onesimus. Di samping berpijak pada prinsip persaudaraan Kristen, Paulus juga ingin agar Filemon bertindak karena kasih yang rela bukan karena paksaan. Ada dua hal baru dalam imbauannya yang melengkapi pendekatan ini. Sebagaimana Filemon telah mengalami perubahan hidup oleh injil yang diimaninya demikian juga Onesimus telah mengalami perubahan. Meski nama Onesimus berarti berguna tetapi kelakuannya yang menyebabkan ia lari dari Filemon adalah tidak berguna (Yun.: achrestos), tetapi sejak ia mengenal Christos melalui pelayanan Paulus, Onesimus sungguh telah menjadi sesuai namanya yang berarti berguna, atau memberi manfaat (Yun.: euchrestos). Perhatikan ejaan mirip antara a-chrestos, eu-chrestos dan Christos! Sejak perubahan itu ia menjadi berguna untuk Paulus di penjara. Maka dengan mengirimkan kembali Onesimus kepada Filemon sesungguhnya Paulus menempuh jalan merugi sebab ia lebih rela tidak terus dilayani demi mengupayakan pemulihan Onesimus dengan Filemon. Hal lain yang menguatkan imbauannya ialah Paulus mengajak Filemon melihat dan menilai hal-hal yang telah terjadi di masa lampau dalam perspektif penyelenggaraan Allah, yaitu pelarian Onesimus menjadi cara Allah mempertemukan dia dengan Injil melalui Paulus, supaya sesuai namanya Onesimus sungguh menjadi orang yang berguna baik kepada Paulus maupun kepada Filemon. 
Apabila Kristus sungguh di pusat kehidupan pribadi, keluarga dan gereja kita mestinya terjadi aliran-aliran pelayanan dan kegunaan di antara kita/

Keimamatan dalam Praktik Nyata

Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu: Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku, karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus. Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus. Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku. -- Filemon 1-7

Tujuan Paulus menulis surat ini kepada FIlemon adalah menciptakan pemulihan antara Filemon dan budaknya Onesimus yang telah menyebabkan kerugian materiil dan melarikan diri darinya. Bagaimana Paulus mengusahakan itu terjadi? Pertama, beda dari kebiasaannya menekankan wibawa kerasulan dalam surat-suratnya kepada jemaat-jemaat atau kepada pribadi binaannya di sini ia menyebut dirinya -- seorang hukuman karena Kristus Yesus -- dan menyapa Filemon sebagai -- yang kekasih, teman sekerja. Ini berarti Paulus tidak saja merendahkan diri tetapi memposisikan baik dirinya maupun Filemon dalam terang status baru orang percaya di dalam Kristus Yesus. Inilah prinsip teologis penting buah reformasi, yaitu keimamatan semua orang percaya. Oleh karena anugerah Yesus Kristus semua orang percaya beroleh posisi baru di hadapan Allah, dan posisi baru ini bukan saja menyetarakan semua orang percaya tetapi juga memberi tanggungjawab baru saling melayani sebagai sesama imam, sesama anggota tubuh Kristus. Kedua, dengan menyebut Timotius dan memberi salam kepada Apfia yang mungkin sekali adalah istri Filemon, dan juga Arkhipus yang mungkin adalah pemimpin di gereja rumah Filemon, Paulus menjadikan permohonan yang akan diajukannya sebagai juga hal yang menyangkut kepentingan keluarga Allah dan bukan semata isu legal. Ketiga, Paulus menyebut bahwa ia mendengar tentang kasih dan iman Filemon -- dari mana ia mendengar ini? Kemungkinan besar ini didengarnya dari Onesimus yang sesudah berjumpa Paulus lalu dilayani dan mengimani Kristus lalu menceritakan perilaku Filemon tersebut. Paulus menyampaikan harapan dan doanya untuk Filemon yaitu agar iman dan kasih itu semakin menjadi nyata dan semakin beroperasi seterusnya, tentunya terutama juga dalam kasus bagaimana ia akan bersikap terhadap permintaan Paulus untuk ia menerima kembali Onesimus dalam terang prinsip hidup Kristiani. 
Apabila terjadi hubungan retak di antara sesama orang percaya yang kita kenal, akankah kita mendamaikan mereka dengan mengingatkan, mengoperasikan dampak keimamatan-Nya dalam berbagai cara pendekatan kita?

Firman yang Murni

Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini. Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara kebusukan muncul di antara anak-anak manusia. -- Mazmur 12:7-9

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar. Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. -- Mazmur 19:8-13

Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. -- 1 Korintus 1:23-25


Di tengah suasana hidup keseharian yang sarat dengan kata-kata yang toxic, apa yang sungguh perlu didengar dan diperdengarkan? Kata-kata seperti stand-up comedy yang jenaka dan membuat kita terpingkal-pingkal? Kata-kata seperti para motivator yang membuat kita seakan disetrum dengan kobaran semangat untuk merenggut sukses? Kata-kata penuh data dan fakta seperti yang kita temui dari para reporter? Yang sungguh perlu kita dengar dan sebagai Kristen perlu kita perdengarkan adalah kata-kata Allah sendiri yaitu firman-firman-Nya. Firman Allah dalam Mazmur 12 diumpamakan sebagai perak teruji tujuh kali yang berisi janji-janji murni Allah untuk menghibur membangun kehidupan sesuai rancangan kekal-Nya. Dalam banyak nas Alkitab lainnya -- firman Allah diumpamakan seperti palu penghancur kekerasan hati, seperti api yang memurnikan, seperti pedang bermata-dua yang menyelidik ke dalam kerahasiaan diri, seperti cermin pembanding yang membaca keadaan kita dengan jujur, firman yang kendati realitas berubah bahkan runtuh ia tetap berjaya kekal selamanya, dst. dan puncaknya firman sang Firman yang memberi diri disalibkan lalu bangkit dan naik ke sorga -- ini sajalah yang sungguh dapat memperbaiki, memulihkan, membangun kehidupan manusia dengan benar.
Mari kita berdoa agar kehausan kita akan firman Allah semakin meningkat justru dalam keadaan kebanyakan orang lebih menyukai apa yang ia ingin dengar ketimbang apa yang ia perlu dengar. Mari kita berdoa agar dari para perpanjangan lidah Allah -- pendeta, pembina, guru agama, guru SM, orangtua -- sungguh diperdengarkan janji-perintah-wawasan-cerita-firman kuasa-injil yang sejati.

Akar Kehidupan Kristen

Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu. -- 1 Petrus 1:1-2


Kaum minoritas lazimnya dalam kondisi hidup terjepit dan sulit. Apalagi bila minoritasnya berangkap-rangkap seperti orang Kristen penerima surat Petrus ini -- mereka kemungkinan adalah orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi yang merantau entah karena asalnya memang perantauan atau karena menghindari penganiayaan demi iman mereka. Mereka kaum minoritas dobel bahkan mungkin tripel -- karena mereka bukan penduduk asli Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, Bitinia, mereka memiliki kepercayaan berbeda dari penduduk asli dan mereka memelihara jatidiri dan prinsip serta pola hidup berbeda dari penduduk setempat. Dalam keberadaan sulit terjepit demikian, apa kekuatan untuk tetap memelihara keunikan tetapi juga untuk menghadirkan pengaruh positif ke lingkungan mereka?

Di awal suratnya ini sesudah menyebutkan dirinya sebagai rasul Petrus menunjuk ke beberapa pengajaran iman penting yang perlu selalu diingat dan mengakari kehidupan orang percaya kapan dan di mana pun. Pertama, orang Kristen harus menyadari keterpilihan kita. Ini membuat kita bersyukur bukan mengeluh atau kompromi ketika kehidupan berat akibat iman menindih kita. Seperti surat Roma yang menyinggung pemilihan Allah (psl. 8) sesudah pasal-pasal panjang tentang pewartaan injil, iman, kesatuan orang beriman dengan salib dan kebangkitan Yesus -- demikian juga Petrus tidak memaksudkan pemilihan sebagai wacana spekulatif filosofis. Ia bahkan hanya menyebut fakta orang percaya sebagai orang pilihan, bukan tentang Allah yang memilih entah karena kedaulatan-Nya atau karena rencana-Nya atau semata karena kasih-anugerah-Nya. Ia menyebut Allah memilih dalam rencana (hafiah: kemahatahuan -- atau ke-pra-tahuan -- proginosis) Allah. Tidak dijelaskan apakah itu pratahu Allah tentang akan bagaimana kita, atau pratahu Allah yang Ia siapkan di masa depan orang percaya. 


Di dalam orang-orang pilihan Allah ada kenyataan yang teralami dan menjadi bukti yaitu bahwa Roh sudah dan sedang bekerja menguduskan kita melalui percikan darah Yesus Kristus dan dengan menolong kita untuk taat kepada Kristus. Dengan akar-akar kokoh tiga kebenaran ini -- pemilihan oleh Allah-pengudusan oleh Roh-percikan dalam darah Yesus -- dan, kenyataan ketaatan kita minoritas ganda atau tiga rangkap sekali pun tidak perlu membuat kita tergoyahkan atau terkedilkan dari  berkontribusi dalam keseharian. 


Masa kini tidak ada orang percaya yang tidak minoritas paling tidak dalam artian memiliki kepercayaan dan kehidupan yang tidak sama dengan sebagian besar orang di dunia luas. Berdasarkan firman pengingat ini kita patut mengembangkan hidup yang istimewa bukan hidup yang semata beda, hidup yang menyadari keajaiban anugerah Allah dan bukan karena memandang orang lain buruk, hidup yang lebih dari sekadar menyangkali yang sementara dengan mengorientasi hal-hal sementara dalam poros nilai-nilai kekal. Kiranya Roh menolong kita meghidupi pengkhususan hidup seperti ini hari demi hari. 

Sabtu, 02 Desember 2017

Jumpa TUHAN dalam Alkitab

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;..  Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar. Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. -- Mazmur 19:2,8-15


Apabila di dalam alam kita menyaksikan gema kemuliaan Allah, di dalam Alkitab kita berjumpa Ia sebagai TUHAN Perjanjian. Dalam stanza pertama tentang alam Ia disebut satu kali sebagai Allah, yaitu sebagai Pencipta, dalam stanza kedua Nama Perjanjian-Nya yaitu TUHAN enam kali digandengkan dengan berbagai penyebutan untuk Alkitab (Taurat, Peraturan, Titah, Perintah, Takut akan, dan Hukum-hukum) lalu di bagian akhir satu kali lagi disebut dalam konteks pengenalan akan TUHAN sebagai gunung batu dan penebus. 


Masing-masing firman TUHAN ini dijelaskan sifat dan dampaknya yang indah bagi kehidupan. Taurat (ajaran) bersifat sempuna menyegarkan jiwa, Peraturan (kesaksian) bersifat teguh memberi hikmat bagi orang tidak berpengalaman, Titah bersifat tepat menyukakan hati, Perintah bersifat murni membuat mata bercahaya, Takut akan TUHAN suci abadi selamanya, dan Hukum TUHAN benar, adil. Itu sebabnya fiman-firman TUHAN ini harus dihargai lebih dari harta dan sukses dunia, dan dialami indahnya dan berbagai dampaknya yang memperbarui hidup lebih dari madu tetesan dari sarang lebah  Melalui bergaul dengan Alkitab kita yang menyimpan dan melakukannya akan mendapatkan upah yang besar, dibebaskan dari kesesatan, dilindungi dari yang jahat dan disanggupkan untuk berpikir dan berdoa tentang hidup serasi hati TUHAN. Pada dasarnya bergaul dengan Alkitab adalah mengenal TUHAN sebagai penopang kuat dan penyelamat terpercaya.


Sayangnya, lagi-lagi kebanyakan kita masa kini lebih menyukai kata-kata manusia ketimbang kata-kata TUHAN. Kita lebih sering membuka-baca suratkabar-twit-fb-wa-line dlsb. ketimbang bersuka dalam kesejatian-kelimpahan-keindahan-kuasa firman-firman TUHAN. Kita lebih suka berbagai kata penyemangat para motivator yang kebanyakannya hanya mengandalkan sumber daya diri manusia sendiri demi untuk mengejar keberhasilan hidup fana ketimbang sungguh mengakarkan dan menumbuhkan hidup atas pengenalan akan TUHAN sebagai gunung batu dan penebus kita. Kita bahkan lebih suka berbagi hoax ketimbang berbagi kehidupan yang sungguh hidup dalam bingkai perkataan-perkataan TUHAN.



Ya TUHAN kiranya Roh-Mu menyadarkan kami kefanaan-kesemuan-keterbatasan-kesesatan yang kerap merasuki kehidupan kami karena lebih menyukai kata-kata manusia ketimbang kata-kata-Mu dalam Alkitab.

Jumat, 01 Desember 2017

Suara Alam

Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar ; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu -- Mazmur 19:1-8

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?  -- Matius 6:26


Selintas jelas Mazmur ini bicara tentang dan membandingkan dua hal -- karya dan kata Allah -- atau, yang dalam teologi disebut sebagai penyataan umum dan penyataan khusus. Sebagaimana kita menerima kesan tentang seseorang melalui karya-karyanya demikian juga kita menangkap kesan tentang Allah dari karya cipta-Nya  yaitu alam semesta dan segenap isinya. Sebagaimana kita mengenal lebih jauh tentang kepribadian dan karakter seseorang melalui kata-katanya demikian juga TUHAN dalam Taurat (berarti ajaran) menyatakan tentang diri-Nya dan bagaimana kehendak-Nya untuk kita dalam banyak perkataan pengajaran . Mazmur ini menjadikan langit, cakrawala, pergantian hari dan matahari sebagai wakil dari semua ciptaan Allah. Ayat 3 baik kita ketahui bahwa kebanyakan terjemahannya lebih mendekati terjemahan ITL: "Tidak ada bicara atau kata yang di dalamnya suara mereka tidak terdengar -- atau dengan kata lain semua alam ciptaan Allah menyatakan sesuatu tentang kemuliaan-Nya. Boleh kita jabarkan lebih jauh bahwa dengan melihat menyimak peragaan alam semesta kita boleh menerima kesan tentang berbagai aspek kemuliaan Allah sebagai Pencipta semuanya.
Zaman ini kita lebih akrab dengan berbagai ciptaan manusia -- laptop, hape, gps, microwave, gedung pencakar langit, AC, mobil canggih, dlsb., ketimbang akrab dan menghargai alam -- menumbuhkan tanaman,  menikmati matahari terbit dan tenggelam, merasakan kesegaran embun pagi, mendengarkan kicau burung, melihat ajaibnya sistem vacuum telapak kaki cecak yang membuat mereka sanggup berjalan tanpa dipengaruhi gravitasi. mendengar dan melihat kedahsyatan debur gelombang laut, memiliki kebun memadai sekitar gereja agar kedua jalur penyataan Allah tersedia bagi umat, dst. Tidak heran semakin hari zaman ini semakin takjub akan diri sendiri daripada takjub akan kemuliaan Allah dan hatinya meluap dengan puji syukur kepada sang Pencipta. Juga wajar bahwa kebanyakan kita makin banyak berkhawatir, tidak seimbang secara eko-psiko-spiritual.
Jika kita ingin memiliki kesadaran memadai akan kebesaran Allah dan memiliki kepribadian seimbang, dekatlah, hargailah, peliharalah semua karya-karya ciptaan-Nya dalam alam sekitar kita.

Kamis, 30 November 2017

Tebusan atas Salah dan Utang

Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan engkau (harfiah: bersalah) ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku-- aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya--agar jangan kukatakan: "Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!" --karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri. Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus! Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan. Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu. Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus, dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu! -- Filemon 1:17-25

Dua hal terakhir Paulus paparkan ke hadapan Filemon agar ia berkenan menerima Onesimus dengan penerimaan Kristen. Dua hal itu ditulis Paulus dengan pendahuluan "kalau". Pertama, kalau Filemon menganggap Paulus adalah sesama penerima anugerah Kristus -- kata untuk teman di sini adalah koinonos, atau yang ber-koinonia karena / di dalam Kristus. Dengan demikian, ia kini sesungguhnya meneruskan penerapan prinsip anugerah dan pembaruan Kristus yang telah beroperasi dalam Onesimus dan bekerja dalam pendekatan yang Paulus lakukan, juga diaktifkan oleh Filemon  Kedua, Paulus menyadari beratnya keputusan untuk menerima Onesimus di pihak FIlemon, baik dari status hukum mengingat kedudukan majikan-budak, dan adanya kerugian materiil yang dialami Filemon. Kembali Paulus menerapkan prinsip penebusan Kristus ke dalam kasus ini. Bagaimana Kristus menyelamatkan kita? Salah satu perspektif alkitabiah tentang penyelamatan oleh Kristus  mengerti ini sebagai penebusan utang dosa. Paulus dengan serius menegaskan kesediaannya menanggung utang kerugian materiil karena kesalahan Onesimus. Filemon perlu menyadari bahwa ia sendiri pun orang yang berutang hidup baru kepada Paulus, dan kini kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dengan menyelesaikan masalah Onesimus secara Kristen ia pun orang yang berguna . Perhatikan di sini bagaimana Paulus memberlakukan berbagai sikap, tindakan dan dampak pembaruan oleh Kristus secara timbal balik -- kepada dirinya, kepada Onesimus dan kini kepada Filemon. Sesudah ini semua barulah Paulus mengunci Filemon dengan keyakinan bahwa ia akan melihat ketaatan Filemon yang akan ia buktikan dengan kunjungannya kemudian hari, dan juga salam anugerah. 

Jumat, 24 November 2017

Kata-kata beracun

Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia. Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar, dari mereka yang berkata: "Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?" Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya. -- Mazmur 12;2-6
Jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah...  Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. -- Kolose 2:4; 3:8

Ada begitu banyak polusi, bahkan racun dalam bentuk ucapan, kata-kata baik lisan maupun tulisan yang berlangsung di sekitar kita yang dipraktikkan oleh orang-orang yang fasik, bengkok hati, tidak setia. Kemungkinan besar bahkan di kalangan orang yang seharusnya saleh dan setia -- para pemercaya Allah dalam Yesus Kristus -- pun tidak luput dari ancaman ini baik terhadap diri kita sendiri maupun yang keluar dari diri kita ke orang lain. Mazmur 12 menyadarkan kita bahwa krisis dahsyat peradaban bukanlah krisis ekonomi-moneter-perdagangan, dlsb. melainkan ketika orang saleh dan orang setia lenyap; kemurahhatian, kejujuran, kebaikan merosot hebat; dusta, fitnah, ejekan,kata-kata yang mem-bully, kata-kata menyanjung-menjilat, kata-kata dari dua hati satu yang mengucap dan satu yang bertindak lain, makin menjadi-jadi. Ketika orang jahat berjaya merenggut kuasa karena memanfaatkan kepandaian melancarkan kata-kata yang penuh  tipu muslihat -- peradaban di ambang kehancuran. Di saat seperti ini ratapan-permohonan sesuai mazmur ini perlu dinaikkan, supaya Tuhan tidak hanya menyimak tetapi bertindak menegakkan kebenaran kata-kata-Nya -- yaitu firman-Nya.
Marilah kita membuang kata-kata membujuk, menjilat, memfitnah, berbohong, OMDO, NATO, OMKO(song), menindas, memelintir kebenaran, membual dlsb. yang tidak serasi kebenaran firman TUHAN saat ini dan seterusnya, supaya kata-kata kita bergaram -- membawa pengaruh konstruktif baik dalam keluarga, gereja, pertetanggaan, pekerjaan, dst. Roh kiranya menolong supaya firman-Nya berjaya dalam kata dan fakta kita. Amin. .

Kamis, 23 November 2017

Konsisten Mengampuni dan Memberkati

Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya." Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu." Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya. Adapun Yusuf, ia tetap tinggal di Mesir beserta kaum keluarganya; dan Yusuf hidup seratus sepuluh tahun. Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf. Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub." Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.  -- Kejadian 50:15-27

Bagaimana kita dapat memiliki hidup yang terus menerus dan konsisten menjadi berkat bagi keluarga dan sesama kita? Prinsip apa saja harus kita hidupi?
Sesudah kematian Yakub para saudara Yusuf menjadi takut. Mereka khawatir bahwa pengampunan Yusuf hanya berlaku semasa ayah mereka masih hidup. Mereka masih takut bahwa Yusuf mendendam dan kini tiba saat pembalasan. Maka mereka mengutus orang menyatakan bahwa Yakub pernah berpesan agar Yusuf mengampuni mereka (17). Dalam narasi sebelum ini kita tidak pernah menemukan adanya pesan demikian dari Yakub. Sebenarnya bukan hanya Yusuf, tetapi Yakub pun seharusnya sangat marah kepada kejahatan mereka, namun bahwa dalam berkat profetisnya ia tidak pernah mengaitkan dengan perbuatan jahat itu, jelas Yakub sudah mengampuni. Kita tidak tahu apakah ada pesan demikian atau tidak, tetapi kini Yusuf diperhadapkan pada fakta dahsyatnya akibat dosa pada mereka yang berdosa.
Untuk ketujuh kalinya Yusuf menangis – tangis kasih sempurna. Yusuf lalu menyuarakan pengampunan ilahi kepada para saudaranya. O betapa mulia hati Yusuf, dan betapa ajaib kasih ilahi dalam dirinya. “Janganlah takut, aku inikah pengganti Allah?” (19). Inilah prinsip yang membuat Yusuf telah rajin, hidup benar, tidak membalas jahat dengan jahat, menanti sabar waktu Allah, tidak berani berbuat dosa, dan mengampuni, mengampuni, mengampuni konsisten! Karena ia bukan Allah, melainkan ia tunduk kepada kehendak Allah. Peneguhan kedua ialah pengakuan iman menakjubkan: “kamu mereka-rekakan kejahatan, tetapi Allah mereka-rekakan kebaikan” (20). Inilah pengakuan iman yang tidak mungkin dapat kita jelaskan dan selami kedalamannya. Kedaulatan dan anugerah Allah, kuasa dan rahmat-Nya bekerja bersama-sama mendatangkan kebaikan dan mewujudkan rancangan indah-Nya bahkan melalui hal yang dimaksudkan jahat oleh manusia, Hal teramat dalam ini bukan semata konsumsi otak untuk Yusuf tetapi berdampak pada konsistennya ia mengampuni dan memberkati!
Yusuf tak termasuk bapak leluhur, namun kehidupannya bahkan lebih luhur dari mereka semua. Ia mencerminkan hidup, mati, kasih, pengorbanan, penyelamatan Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya Roh Allah memakai teladan ini memberdayakan kita konsisten mencerminkan Kristus sampai akhir hayat kita!

Rabu, 22 November 2017

Mati, Kedukaan dan Penguburan

Kemudian berpesanlah Yakub kepada mereka: "Apabila aku nanti dikumpulkan kepada kaum leluhurku, kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua yang di ladang Efron, orang Het itu, dalam gua yang di ladang Makhpela di sebelah timur Mamre di tanah Kanaan, ladang yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik. Di situlah dikuburkan Abraham beserta Sara, isterinya; di situlah dikuburkan Ishak beserta Ribka, isterinya, dan di situlah juga kukuburkan Lea; ladang dengan gua yang ada di sana telah dibeli dari orang Het." Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Lalu Yusuf merebahkan dirinya mendekap muka ayahnya serta menangisi dan mencium dia. Dan Yusuf memerintahkan kepada tabib-tabib, yaitu hamba-hambanya, untuk merempah-rempahi mayat ayahnya; maka tabib-tabib itu merempah-rempahi mayat Israel. Hal itu memerlukan empat puluh hari lamanya, sebab demikianlah lamanya waktu yang diperlukan untuk merempah-rempahi, dan orang Mesir menangisi dia tujuh puluh hari lamanya. Setelah lewat hari-hari penangisan itu, berkatalah Yusuf kepada seisi istana Firaun: "Jika kiranya aku mendapat kasihmu, katakanlah kepada Firaun, bahwa ayahku telah menyuruh aku bersumpah, katanya: Tidak lama lagi aku akan mati; dalam kuburku yang telah kugali di tanah Kanaan, di situlah kaukuburkan aku. Oleh sebab itu, izinkanlah aku pergi ke sana, supaya aku menguburkan ayahku; kemudian aku akan kembali." Lalu berkatalah Firaun: "Pergilah ke sana dan kuburkanlah ayahmu itu, seperti yang telah disuruhnya engkau bersumpah." Lalu berjalanlah Yusuf ke sana untuk menguburkan ayahnya, dan bersama-sama dengan dia berjalanlah semua pegawai Firaun, para tua-tua dari istananya, dan semua tua-tua dari tanah Mesir, serta seisi rumah Yusuf juga, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya; hanya anak-anaknya serta kambing domba dan lembu sapinya ditinggalkan mereka di tanah Gosyen. Baik kereta maupun orang-orang berkuda turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia, sehingga iring-iringan itu sangat besar. Setelah mereka sampai ke Goren-Haatad, yang di seberang sungai Yordan, maka mereka mengadakan di situ ratapan yang sangat sedih dan riuh; dan Yusuf mengadakan perkabungan tujuh hari lamanya karena ayahnya itu. Ketika penduduk negeri itu, orang-orang Kanaan, melihat perkabungan di Goren-Haatad itu, berkatalah mereka: "Inilah perkabungan orang Mesir yang amat riuh." Itulah sebabnya tempat itu dinamai Abel-Mizraim, yang letaknya di seberang Yordan. Anak-anak Yakub melakukan kepadanya, seperti yang dipesankannya kepada mereka. Anak-anaknya mengangkut dia ke tanah Kanaan, dan mereka menguburkan dia dalam gua di ladang Makhpela yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik, yaitu ladang yang di sebelah timur Mamre. Setelah ayahnya dikuburkan, pulanglah Yusuf ke Mesir, dia dan saudara-saudaranya dan semua orang yang turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia untuk menguburkan ayahnya itu. -- Kejadian 49:19-50:14
 
Bagaimana kita melihat kematian? Apakah sebagai suatu akhir atau sebagai sesuatu yang melanjutkan hidup yang sudah kita lalui meski dalam cara yang berbeda? Bagaimana kita menyikapi kematian kita?
Itu bukan merupakan pertanyaan yang akan diterima dengan nyaman oleh kebanyakan orang. Semua orang pasti pernah merasakan ketakutan tertentu bila memikirkan dirinya akan meninggal. Mengapa? Sebab ada sesuatu yang misterius tentang apa yang terjadi dalam kematian dan apa akibatnya sesudah itu yang kita tidak tahu, di luar kendali kita, dan bersifat final. Itu sebab kita gelisah bahkan takut. Tetapi ada banyak orang yang dapat menatap bahkan mempersiapkan kematian serta penguburannya dengan penuh keyakinan. Di antara sedikit orang yang demikian itu adalah Yakub. Ketika ia mengumpulkan anak-anaknya dan memberikan nubuat berkat, intinya ia menyiapkan perpisahan dirinya dari mereka. Berulang kali ia meminta dan memastikan berbagai hal sehubungan dengan penguburannya. Dan seperti cara kematian Abraham, ia pun meninggal dengan cara yang sangat indah. Ia menarik kakinya, berbaring lalu pergi.
Oleh karena Yusuf adalah pembesar Mesir, kematian Yakub ayahnya pun mendapat penghormatan dan tata cara penguburan menurut kebudayaan Mesir. Ada persamaan dan perbedaan penting antara perlakuan Mesir dan perlakuan keluarga Israel tentang orang mati. Keduanya sama-sama meyakini adanya hidup kelanjutan dari orang yang sudah mati, seperti yang ditandai oleh pengawetan mayat pada orang Mesir. Pada keluarga bapa leluhur tidak diadakan pengawetan mayat, namun ungkapan “dikumpulkan bersama Abraham, Sara, Ishak, Ribka, Lea…” menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berlanjut di antara mereka meski saat itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Tangisan adalah hal yang manusiawi dan wajar, namun bila Yusuf menangis dengan mendekap dan mencium Yakub, orang Mesir menangis sampai tujuh puluh hari. Jika pasti adanya hidup berkelanjutan sesudah kematian, mengapa harus menangis sampai sekian lama?
Sesudah Yesus mati lalu bangkit, maut tidak lagi menakutkan. Hidup di seberang maut adalah bertemu Dia yang bangkit yang merupakan pemula dan penyempurna iman kita dan pemberi sumber pengharapan baik hidup maupun mati kita. Amin!

Selasa, 21 November 2017

Berkat Profetis

Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: "Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu. Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan. Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku! Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan. Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu. Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel. Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa. Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur. Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu. Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon. Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya, ketika dilihatnya, bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai, maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi. Adapun Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel. Semoga Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang. Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN. Gad, ia akan diserang oleh gerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka. Asyer, makanannya akan limpah mewah dan ia akan memberikan santapan raja-raja. Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas; ia akan melahirkan anak-anak indah. Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok. Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya, namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel, oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah Yang Mahakuasa, yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat buah dada dan kandungan. Berkat ayahmu melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya. Benyamin adalah seperti serigala yang menerkam; pada waktu pagi ia memakan mangsanya dan pada waktu petang ia membagi-bagi rampasannya." Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing. -- Kejadian 49:1-28

Apa atau siapakah yang menentukan destini kehidupan manusia? Berkat profetis yang Yakub ucapkan di akhir hidupnya kepada semua anaknya ini sedikit banyak memaparkan kepada kita misteri yang ditanyakan ini. Yakub memanggil semua anaknya untuk berkumpul. Dan satu per satu mereka mendapatkan “berkat” (28) Yakub. Berkat tersebut menyangkut masa depan mereka. Namun bila kita teliti setiap “berkat” tersebut, ternyata ada sebagian yang sebenarnya mengacu ke masa lalu sikap dan perbuatan mereka. Misalnya Ruben, Simeon dan Lewi. Ruben sama sekali tidak mendapatkan berkat, melainkan hanya paparan bahwa perbuatannya yang tidak menghormati ayahnya dengan melakukan inses membuatnya seterusnya bukan lagi yang utama dan tidak akan mungkin lagi menjadi yang utama. Simeon dan Lewi yang telah membunuh Sikhem dan kerabatnya dengan keji, ditolak Yakub seterusnya (6) bahkan dikutuknya (7). Yusuf yang sejak muda telah menunjukkan respons positif baik kepada panggilan ilahi maupun kepada sikap buruk saudaranya, dikokohkan dalam kemuliaan yang telah dicapainya (22-26). Semua ini mengingatkan kita akan firman: “apa yang ditabur orang itu juga akan dituainya” (Gal. 6:7).
Berkat-berkat yang Yakub sebutkan kepada anak-anaknya yang lain memaparkan jalan hidup mereka kelak. Sejak dari saat itu seterusnya sampai mereka menjadi umat Israel di bawah kepemipinan Musa, lalu menjadi kerajaan Israel, berbagai ciri yang disebutkan Yakub ini terjadi secara bertahap. Kita mungkin tidak menemukan kaitan langsung antara masa lalu mereka dengan masa depan mereka. Isu kaitan masa lalu dan masa depan, keputusan pribadi atau bangsa dan ketetapan ilahi adalah isu pelik yang harus didekati dengan takut dan gentar. Di antara kedua ekstrim tersebut nubuat berkat untuk Lewi dan Yehuda menarik untuk kita renungkan lebih dalam. Masa lalu Yehuda sebenarnya sama rusaknya seperti Ruben, namun berkat yang diterimanya luar biasa mulia karena darinya akan keluar sang mesias! Lewi yang dinubuatkan dengan kutuk pun dalam masa Musa memainkan peran pelayanan sangat menentukan dalam ibadah dan pemurnian serta spiritualitas umat! Semua ini membuat kita insyaf bahwa masa lalu, kini dan masa depan kita, harus dengan gentar dan hormat kita hidupi dalam iman penuh kepada Allah!