Sabtu, 30 September 2017

Dampak Sosial-Ekonomi-Ekologis dari Syalom

Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya. Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya. Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah. Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: "Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami." Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: "Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini." Dari situ ia pergi ke Bersyeba. Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN."Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air." Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.  -- Kejadian 26:12-33

Usaha bercocok-tanam dan beternak yang Ishak lakukan diberkati Tuhan. Hasilnya luar biasa, hasil pertaniannya seratus kali lipat, peternakannya pun pasti berlipat kali ganda juga. Kisah yang sama kita saksikan berlaku sepanjang kehidupan para bapa leluhur, dari Abraham, kini ke Ishak, kelak Yakub, lalu umat Israel. Mereka tentu berhasil karena kerja keras otak dan keringat terjalin dalam aliran anugerah Allah. Mereka diberkati melimpah namun bukan seperti laut mati yang menyedot aliran berkat namun lupa mengalirkan ke sekitar. Ketika kehadiran Allah memberkati energi umat-Nya, berbagai potensi alam ikut dikembang-suburkan. Orang-orang yang bernaung atau bersentuhan dengan orang yang diberkati Allah, pasti juga mencicipi kelimpahan kasih Allah dan kemurahan umat-Nya.
Pewujudan surga di bumi ini belum tuntas, maka dunia ini bukan surga. Tuhan mengajar melalui berbagai kejadian agar hal ini tidak kita lupakan. Ketika kemakmuran Ishak makin bertambah-tambah, penduduk pribumi bereaksi. Mereka merasa terancam. Ini bisa dimengerti. Sumber tanah dan air sumur mereka bisa terbatasi oleh kemakmuran yang Ishak alami. Belum lagi bila hasil tanah dan ternak Ishak jauh lebih baik dari yang mereka dapatkan. Akhirnya Ishak diusir secara halus. Anak Tuhan yang sungguh mengandalkan Allah tidak bereaksi dalam kepahitan terhadap himpitan sosial. Ia mengalah, bukan kalah. Ia berserah, tetapi tidak menyerah. Dalam iman dan harap ia berikhtiar terus dan berhasil menghidupkan kembali sumber-sumber tertimbun. Sumur di Esek dan Sitna digugat lagi, ia mengalah dan berikhtiar terus sampai Rehobot dan Bersyeba menjadi miliknya. Bahkan, Abimelekh akhirnya datang dan mengakui bahwa memang Ishak ada dalam naungan berkat ilahi.

Jumat, 29 September 2017

Lepas dari Dosa turun-temurun

Maka timbullah kelaparan di negeri itu. --Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." Jadi tinggallah Ishak di Gerar. Ketika orang-orang di tempat itu bertanya tentang isterinya, berkatalah ia: "Dia saudaraku," sebab ia takut mengatakan: "Ia isteriku," karena pikirnya: "Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka, sebab elok parasnya." Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, isterinya. Lalu Abimelekh memanggil Ishak dan berkata: "Sesungguhnya dia isterimu, masakan engkau berkata: Dia saudaraku?" Jawab Ishak kepadanya: "Karena pikirku: Jangan-jangan aku mati karena dia." Tetapi Abimelekh berkata: "Apakah juga yang telah kauperbuat ini terhadap kami? Mudah sekali terjadi, salah seorang dari bangsa ini tidur dengan isterimu, sehingga dengan demikian engkau mendatangkan kesalahan atas kami." Lalu Abimelekh memberi perintah kepada seluruh bangsa itu: "Siapa yang mengganggu orang ini atau isterinya, pastilah ia akan dihukum mati." -- Kejadian 26:1-11

Mengapa berbagai peristiwa sama bisa berulang baik dalam perjalanan kehidupan pribadi, keluarga, bahkan sejarah bangsa dan dunia? Bagaimana kita dapat dibebaskan dari "kutuk" harus menjalani kembali hal-hal buruk yang sama yang berlangsung dalam garis keluarga kita?
Dalam nas ini ada dua hal buruk yang berulang kembali dalam riwayat tiga bapak leluhur orang beriman -- kekeringan dengan dampak kelaparan, dan kebiasaan berdusta untuk menyelesaikan masalah. Kekeringan disebabkan oleh siklus alam dan kelaparan yang mengikutinya disebabkan oleh sistem cadangan nasional yang mungkin zaman itu belum diatur atau dikelola dengan baik. Jika kita membandingkan kisah Abraham, Ishak dan Yakub yang sama-sama mengalami masalah krisis pangan, kita melihat beda cara mereka menyelesaikan masalah, beda cara TUHAN menyatakan providensia-Nya kepada mereka. Abraham dan kemudian Yakub melalui Yusuf mendapatkan solusi dari kelaparan dengan pergi ke Mesir -- kendati Abraham bukan sepenuhnya karena providensia Allah melainkan inisiatif pribadi yang kemudian menimbulkan masalah dalam kehidupan keluarganya, sementara Yakub mendapatkan providensia ilahi itu melalui providensia ilahi lebih luas atas kehidupan pribadi putranya Yusuf. Kini untuk Ishak dengan jelas TUHAN melarang dia pergi ke Mesir dan menjanjikan bahwa di tempat ia tinggal sebagai orang asing itulah TUHAN akan memelihara dan menjadikan kehidupannya berlimpah berkat. Sekali lagi TUHAN menegaskan bahwa Ishak mendapat berkat supaya menjadi berkat untuk orang-orang lain.
Hal beroleh berkat untuk memberkati ini jika tidak dilaksanakan oleh siapa pun di dunia ini sedikit banyak menjadi sebab bagi terjadinya banyak ketimpangan sosial-ekonomi, kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan kematian pada orang lain. Dengan tidak bersedia mengelola potensi bumi dan kapasitas diri untuk menjadi berkat bagi orang lain manusia itu telah berubah dari gambar Allah menjadi MONSTER bagi sesamanya. Jalan keluar dari petaka kemiskinan ialah orang harus mempraktikkan prinsip ini: bersyukur sambil mengaku TUHAN sebagai sumber dan pemilik akhir segala sesuatu, berbagi dengan kesadaran kita adalah wakil TUHAN untuk memerhatikan orang lain dan untuk mengakui kesegambaran sesama kita dengan Allah juga.
Abraham dua kali berbohong tentang jatidiri Sarah, Ishak mengulang lagi dusta dalam peristiwa yang hampir persis sama, Yakub berdusta ketika mendapatkan berkat kesulungan dari Ishak  Dosa keturunankah ini? Semacam kutuk generasionalkah? Atau pembelajaran melalui contoh dan peniruan? Bisa jadi masing-masing pendapat itu ada benarnya dan malah mungkin sekali ketiga teori itu memang sah sebagai penjelasan atas kerusakan manusia dari sudut pandang berbeda-beda. Dalam providensia TUHAN juga kini entah bagaimana momen bermesraan Ishak dan Ribka terlihat oleh Abimelekh dan itu menyebabkan mereka harus berhenti bermain sandiwara tentang siapa dan bagaimana sebenarnya hubungan antara keduanya.

Kamis, 28 September 2017

Ke-Daging-an vs Ke-Roh-anian

Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub. Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu. -- Kejadian 25:27-34



Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. -- Ibrani 12:16



Sejak dari kandungan Ribka dua saudara kembar ini sudah saling bergelut. Doa Ribka menunjukkan ia sangat kesakitan dan ia pergi memohon kepada TUHAN -- tentu maksud tersiratnya bukan memohon petunjuk tetapi memohon dilepaskan dari penderitaan itu. Anehnya yang ia terima dari TUHAN adalah nubuatan tentang akan munculnya dua bangsa yang saling berlawanan. Anehnya lagi bukan anak yang sulung akan menjadi bangsa yang unggul melainkan anak yang kedua. Ini terbukti ketika keduanya lahir sebab si pegulat yaitu anak yang kedua keluar sambil memegangi kaki anak pertama. Nubuat tersebut terasa sangat bertolak belakang dengan kenyataan sebab Esau justru yang tampil lebih perkasa dengan naluri liarnya yang menyukai alam ketimbang Yakub yang anak mama. Namun di balik dua ungkapan orientasi hidup berbeda itu terlihat semakin jelas bahwa yang sulung justru lebih memikirkan hal-hal yang sensual dan sementara sedangkan yang adik justru yang lebih memikirkan hal-hal yang spiritual dan jauh ke masa depan. Penggenapan awal nubuatan TUHAN terjadi ketika Esau pulang dari berburu dalam keadaan lelah dan lapar meminta diberikan sup kacang merah. Kesempatan itu dipakai dengan liciknya oleh Yakub yang meminta agar pemuas lapar Esau itu dibarter dengan berkat kesulungan, dan itu dilakukan dengan bersumpah. Dengan ringannya Esau membiarkan berkat kesulungan yang adalah haknya itu lepas darinya karena hanya melihat kefanaan dirinya dan tidak memiliki penilaian sepadan akan arti hak itu.

Kisah Esau dan Yakub ini oleh Perjanjian Baru dilihat dari dua perspektif yang berbeda dan harus diterima bersamaan sebagai kebenaran-kebenaran paradoksal yang melampaui kesanggupan logika kita menampungnya. Di satu pihak ada ketetapan TUHAN atas Yakub dan Esau; pilihan itu dalam Roma 9 dijelaskan sebagai pilihan kedaulatan TUHAN yang juga adalah pilihan anugerah dan rahmat. Yakub yang nomor dua yang secara kasat mata bukan calon tepat untuk menjadi penyandang janji Abraham justru dipilih TUHAN -- inilah anugerah dan rahmat. Pilihan itu dalam Ibrani 12:16 dilihat sebagai peringatan tentang kewajiban kita menghargai hal-hal kekal dan konsekuensi dari setiap dan semua pilihan sementara kita pada perjalanan hidup selanjutnya menuju kekekalan. Maka peristiwa ini hendaknya membuat kita meninggikan anugerah, rahmat, hkmat, kedaulatan dalam pilihan TUHAN dan dengan berhati-hati memilih dan menjalani hidup ini dengan penuh kesadaran akan konsekuensi kekalnya. 

Rabu, 27 September 2017

Rencana-Doa-Wujud

Inilah riwayat keturunan Ishak, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak. Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi isterinya. Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: "Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?" Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. Firman TUHAN kepadanya: "Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda." Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir. -- Kejadian 25:19-26

"Inilah riwayat" -- yang ke sembilan sejak riwayat Adam-Hawa dalam catatan riwayat-riwayat di Kitab Kejadian, atau yang kedua dari tiga generasi penyandang janji berkat Allah untuk dunia yaitu Abraham-Ishak-Yakub. Sepanjang kehidupan Ishak sampai ia meninggal di usia 180 tahun (akhir psl. 35) kita temukan kehidupan Ishak yang intinya pasif -- lahir dari usia ayah-ibu 100 dan 90 tahun, masa kecil ia dilindungi dari peghinaan oleh Ismael, usia muda dengan pasif ia tunduk pasrah untuk dikorbankan, kini mulai dari nas ini berbagai catatan tentangnya yang sedikit lebih aktif, dan di babakan terakhir kehidupannya yang menanggung derita akibat pertikaian di antara kedua anaknya. 
Di bagian yang aktif ini pun sebagian besar kisah Ishak mirip kisah Abraham. Ishak yang terkesan pasif dan tak banyak bicara ini baru menikah sesudah usianya benar-benar matang, empat puluh tahun. Itupun bukan hasil “buruannya” sendiri, melainkan karena pengaturan Abraham. Temperamen berbeda-beda tidak menyebabkan rencana dan karya Allah terbatasi. Rencana kekal Allah berkenan menjelma baik melalui Abraham yang merespons Allah dalam keaktifannya, maupun dalam Ishak melalui respons kepasrahannya . Meski cukup tajam perbedaan antara Ishak dan Abraham dalam hal sifat, namun dalam mendapatkan penggenapan janji Allah keduanya memiliki pengalaman yang sama. Sekitar duapuluh tahun Ishak harus harap-harap cemas tentang kapan ia sungguh dapat menghasilkan penggenap berikut dari janji yang telah Allah berikan kepada ayahnya. Sebab janji Allah bahwa dari keturunan Abraham dan Sarah akan keluar bangsa yang besar yang melaluinya bangsa-bangsa di bumi ini diberkati, kini tergantung pada apakah Ishak akan mendapat anak atau tidak.
Ternyata kapasitas manusiawi Ribka untuk menjadi mata rantai berikut penggenapan janji Allah itu bermasalah. Firman ini mengatakan Ishak mandul! Apakah karena kelemahan kapasitas manusia, janji Allah akan batal dan rencana-Nya akan buyar? Bagaimanakah operasi ilahi mewujudkan rencana kekal itu tersalurkan agar yang tidak berdaya dan tidak layak akhirnya sanggup menjadi wadah pewujudan karya kekal Allah? Jalan keluar bagi situasi muskil ini, jawab bagi pertanyaan teologis genting ini, sederhana saja: DOA! Doalah jembatan penghubung antara realitas ilahi dan realitas manusiawi. Doalah saluran yang mempertemukan yang tak layak dan tak mampu dengan Yang mulia dan dahsyat! 

Selasa, 26 September 2017

Bernas Makna dan Kesaksian

Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. Yoksan memperanakkan Syeba dan Dedan. Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum. Anak-anak Midian ialah Efa, Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura. Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka--masih pada waktu ia hidup--meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur. Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre, yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara isterinya. Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu; dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi. Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu. Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma. Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya. Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka. -- Kejadian 25:1-18

Meski Abaham adalah pola dan teladan tentang banyak hal, namun kehidupan pernikahannya jauh dari ideal. Sesudah hampir saja penggenapan janji Allah gagal karena ia mengambil Hagar sebagai alternatif mengatasi kemandulan Sarah, ia memperistri lagi Ketura. Dari Ketura lahir enam orang anak, sedangkan Ismael anaknya dari Hagar menghasilkan dua belas orang yang kelak menjadi para pemimpin suku. Asyur dan Midian dari Ketura, dan Kedar dari Ismaelnya Hagar, kelak akan sering kita jumpai lagi sebagai bangsa-bangsa yang banyak menimbulkan masalah pada Israel. Buah dari kekeliruan bapak orang beriman harus terus dicicipi pahitnya oleh umat piihan Allah. Ini penting untuk kita simak!
Meski banyak kekurangan dan kegagalan, Abraham mengakhiri hidupnya dengan kemuliaan. Pertama, untuk mengamankan warisan bagi Ishak anaknya yang adalah perjanjian Allah, Abraham mengambil inisiatif. Ia memberi dulu mana bagian untuk Ishak, baru pemberian untuk anak-anaknya yang lain yang tidak termasuk perjanjian Allah. Kedua, Abraham mengakhiri hidup secara menakjubkan, pada usia 175 tahun, 100 tahun sesudah ia menaati Allah untuk pergi lalu mendiami tanah Kanaan. Komentar firman tentangnya, “telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur.” Ia mati bukan karena sakit melainkan dalam bahasa aslinya, karena “menyerahkan nyawanya.” Sesudah menghidupi tahun-tahun yang penuh arti, puas, bernas, dan dalam kelimpahan hidup itu ia pergi menemui yang Empunya hidup.
Meski arti hidup tidak tergantung pada panjangnya usia, namun alangkah indah boleh memiliki hidup yang bernas penuh kesaksian dalam usia yang panjang!

Sabtu, 23 September 2017

Ia menanti-kita dinanti-Nya

Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb. Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang. Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba itu: "Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?" Jawab hamba itu: "Dialah tuanku itu." Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya. Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal. -- Kejadian 24:62-67

Firman yang memastikan kelahiran Ishak (18:14) juga memastikan dikandungnya Yesus oleh Roh Kudus dalam kandungan Maria (Lukas 1:37). Seperti domba bisu yang hanya menurut untuk dijadikan korban persembahan, demikian yang kita saksikan baik dengan Ishak maupun dengan Yesus -- bedanya hanya satu yaitu Yesus sungguh disalibkan, mati, dikuburkan dan hidup kembali bukan dengan disediakannya korban pengganti melainkan Allah sumber hidup membangkitkan Dia kembali. Kini Ishak digambarkan sedang menyendiri melayangkan pandang dan melihat ke kejauhan -- dalam sikap antisipatif, penuh ekspektasi -- dan di horizon pemandangannya terlihatlah rombongan yang memboyong Ribka datang mendekat. Ribka segera menyiapkan diri sesuai adat masa itu mengenakan penutup wajah. Demikianlah di depan para saksi Ishak menjadikan Ribka istrinya. Akan demikian juga gambaran sangat sederhananya dari yang akan terjadi kelak ketika Gereja yang Kudus dan Am bertemu dengan Yesus Kristus Raja segala raja dan bersatu untuk selama-lamanya. Sementara ini -- Ia sedang menatap di horizon-Nya penuh antisipasi dan ekspektasi -- dan kita serta semua yang menaruh harap-iman-kasih kita kepada-Nya berjalan dalam pengudusan-pemuliaan yang bertambah-tambah ke momen perjumpaan mulia itu.
Hendaknya kita makin menyadari Ia menanti-nantikan kita, dan kita semakin mengoperasikan anugerah-Nya berjuang untuk menjadi layak bagi-Nya. Amin -- Maranatha! Haleluyah!

Jumat, 22 September 2017

Providensia Allah

Lalu Laban dan Betuel menjawab: "Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya. Lihat, Ribka ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi isteri anak tuanmu, seperti yang difirmankan TUHAN." Ketika hamba Abraham itu mendengar perkataan mereka, sujudlah ia sampai ke tanah menyembah TUHAN. Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah. Sesudah itu makan dan minumlah mereka, ia dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia, dan mereka bermalam di situ. Paginya sesudah mereka bangun, berkatalah hamba itu: "Lepaslah aku pulang kepada tuanku." Tetapi saudara Ribka berkata, serta ibunya juga: "Biarkanlah anak gadis itu tinggal pada kami barang sepuluh hari lagi, kemudian bolehlah engkau pergi." Tetapi jawabnya kepada mereka: "Janganlah tahan aku, sedang TUHAN telah membuat perjalananku berhasil; lepaslah aku, supaya aku pulang kepada tuanku." Kata mereka: "Baiklah kita panggil anak gadis itu dan menanyakan kepadanya sendiri." Lalu mereka memanggil Ribka dan berkata kepadanya: "Maukah engkau pergi beserta orang ini?" Jawabnya: "Mau." Maka Ribka, saudara mereka itu, dan inang pengasuhnya beserta hamba Abraham dan orang-orangnya dibiarkan mereka pergi. Dan mereka memberkati Ribka, kata mereka kepadanya: "Saudara kami, moga-moga engkau menjadi beribu-ribu laksa, dan moga-moga keturunanmu menduduki kota-kota musuhnya." Lalu berkemaslah Ribka beserta hamba-hambanya perempuan, dan mereka naik unta mengikuti orang itu. Demikianlah hamba itu membawa Ribka lalu berjalan pulang. -- Kejadian 24:40-61


Kisah penemuan Ribka untuk menjadi pendamping Ishak sang pewaris panggilan TUHAN Allah untuk memberkati bangsa-bangsa dunia ini adalah yang terpanjang dalam catatan Kejadian. Di dalamnya, doa Eliezer kepada TUHAN Allah dan kesaksian Eliezer mengulangi isi doanya dan bagaimana TUHAN Allah memimpin dan membuat misinya berhasil adalah bagian terpanjang dalam peikop ini. Meski kepentingan kisah ini ada pada Ishak dan Ribka, sambil melibatkan banyak pemeran lain, namun Nama TUHAN Allah berulang kali mendominasi perikop ini -- ini menunjukkan pesan teologis penting yang boleh kita tarik dari dalamnya, yaitu bahwa di dalam urusan pernikahan dan juga urusan keseharian lainnya sekaligus terjadi jalin-menjalin menyatu dengan kelanjutan penggenapan janji dan rencana Allah -- maka menyatu pula upaya dan doa manusia dengan providensia TUHAN Allah. Penyediaan atau penyelenggaraan atau pengaturan ilahi tidak diwujudkan oleh TUHAN dan dialami oleh manusia sebagai suatu kekuatan yang memaksa dan mengharuskan tetapi sebagai dorongan-tarikan yang mewujud wajar dan menyatu dalam berbagai peristiwa yang sepenuhnya melibatkan pertimbangan, perasaan, kemauan, doa dan tindakan konkrit manusia. Providensia Allah menjadi sekaligus ilahi dan manusiawi. Dalam kisah ini Eliezer yang kerap disebut "mak comblang" menjadi agen providensia Allah itu beroperasi. Ketika nyata bahwa misinya akan berhasil ia pun tidak ingin berlama-lama lagi memboyong calon pengantin perempuan itu untuk segera berjumpa dengan calon pengantin laki-lakinya yaitu Ishak.
Ada satu lagi kisah pernikahan agung yang sedang berproses dalam penyiapan yaitu pengantin laki-laki yang telah berkorban untuk beroleh pengantin perempuan yang kudus -- dalam perspektif Eliezer dan Kitab Wahyu seruan kita wajarnya adalah "Maranatha" segeralah jadi!

Kamis, 21 September 2017

Hangat & Rohani Polesan

Berlarilah gadis itu pergi menceritakan kejadian itu ke rumah ibunya. Ribka mempunyai saudara laki-laki, namanya Laban. Laban berlari ke luar mendapatkan orang itu, ke mata air tadi, sesudah dilihatnya anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, dan sesudah didengarnya perkataan Ribka, saudaranya, yang bunyinya: "Begitulah dikatakan orang itu kepadaku." Ia mendapatkan orang itu, yang masih berdiri di samping unta-untanya di dekat mata air itu, dan berkata: "Marilah engkau yang diberkati TUHAN, mengapa engkau berdiri di luar, padahal telah kusediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu." Masuklah orang itu ke dalam rumah. Ditanggalkanlah pelana unta-unta, diberikan jerami dan makanan kepada unta-unta itu, lalu dibawa air pembasuh kaki untuk orang itu dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia. Tetapi ketika dihidangkan makanan di depannya, berkatalah orang itu: "Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini." Jawab Laban: "Silakan!" Lalu berkatalah ia: "Aku ini hamba Abraham. TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. Dan Sara, isteri tuanku itu, sesudah tua, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu telah diberikan tuanku segala harta miliknya. Tuanku itu telah mengambil sumpahku: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan, yang negerinya kudiami ini, tetapi engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang isteri bagi anakku.... -- Baca: Kejadian 24:28-49

Laban tiba-tiba menjadi penuh perhatian -- menyambut, mengatur pesta dan penginapan bagi Eliezer -- mengapa? Nas ini membukakan sekilas karkter Laban yang berorientasi kepada harta dan memanfaatkan orang demi harta: "Sesudah dilihatnya anting-anting dan gelang" pemberian Eliezer yang dipakai Ribka! Dengan cepat pula ia menyesuaikan diri -- tiba-tiba ia menyebut Allah sebagai TUHAN. Sungguhkah Laban penuh perhatian terhadap orang asing? Sungguhkah ia mengenal Allah sebagai TUHAN dan memiliki hubungan yang intim dengan-Nya sebagaimana dikatakan firman tentang Abraham: beriman, berjalan di hadapan-Nya? Kalau hanya di sini mungkin kita akan cepat menyimpulkan Laban sangat bermurahhati, suka menyambut dan memberi tumpangan, serta seorang yang  spiritual. Ternyata petunjuk singkat tentang melihat benda-benda berkilauan sekitar 250-500 gram beratnya itu, didukung oleh pasal-pasal berikut ketika ia memperbudak Yakub yang menginginkan Rahel dan bukan Lea menjadi istrinya, ditambah peristiwa tentang Rahel membawa berhala terafim kepunyaannya -- tahulah kita sifat asli Laban sesungguhnya. 
Kita perlu menguji apakah sikap dan tindakan sosial kita serta bahasa spiritual kita memang asli atau hanya polesan atas hati yang selalu haus akan harta? Bukan saja orang lain bisa bersosial-spiritual palsu, kita yang mengaku orang percaya pun bisa sama duniawinya, idem rakus dan serakahnya seperti orang yang mengilahkan benda. 

Rabu, 20 September 2017

Doa: Manusiawi dan Ilahi

Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya dan pergi dengan membawa berbagai-bagai barang berharga kepunyaan tuannya; demikianlah ia berangkat menuju Aram-Mesopotamia ke kota Nahor. Di sana disuruhnyalah unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air. Lalu berkatalah ia: "TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum--dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu." Sebelum ia selesai berkata, maka datanglah Ribka, yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, isteri Nahor, saudara Abraham; buyungnya dibawanya di atas bahunya. Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik. Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: "Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu." Jawabnya: "Minumlah, tuan," maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: "Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum." Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu. Dan orang itu mengamat-amatinya dengan berdiam diri untuk mengetahui apakah TUHAN membuat perjalanannya berhasil atau tidak. Setelah unta-unta itu puas minum, maka orang itu mengambil anting-anting emas yang setengah syikal beratnya, dan sepasang gelang tangan yang sepuluh syikal emas beratnya, serta berkata: "Anak siapakah engkau? Baiklah katakan kepadaku! Adakah di rumah ayahmu tempat bermalam bagi kami?"Lalu jawabnya kepadanya: "Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor." Lagi kata gadis itu: "Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalampun ada." Lalu berlututlah orang itu dan sujud menyembah TUHAN, serta berkata: "Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan TUHAN telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!"  -- Kejadian 24:10-27

Eliezer menjadi perpanjangan upaya Abraham sekaligus rencana TUHAN Allah untuk pergi menemukan calon istri Ishak yang di dalamnya tahap lanjut penggenapan pewujudan perjanjian TUHAN Allah. Kepercayaan itu ia terima dengan penuh tanggungjawab, ia pergi dengan bekal semacam mas kawin dan dalam doa yang diungkapkannya sesampainya ia di wilayah kota Nahor. Penting kita perhatikan beberapa hal dalam upaya penuh doa-nya ini. Pertama, ia pergi ke sumur yang memungkinkan ia bertemu dengan banyak gadis dalam tugas mereka mengambil air -- sumur adalah sumber alam penopang kehidupan, sumur adalah tempat paling tepat waktu itu untuk bertemu dengan para gadis dan dari sikap serta cara kerjanya dapat terlihat sifat dan sikap mereka. Kedua, ia berdoa kepada TUHAN Allah Abraham yang telah memanggil, berjanji, menggenapi rencana-rencana-Nya kepada Abraham, membuat tujuannya berhasil. Doa untuknya berarti: 1) Tuhan bekeja di dalam upayanya dan membuat itu berhasil, 2) Tuhan mewujudkan apa yang menjadi ketetapan-Nya bagi Ishak, dan 3) Tuhan menyatakan sifat-Nya yang kasih-setia baik kepada Abraham dan juga kepada Ishak melalui penyertaan-Nya dalam tugas Eiliezer ini. Ketiga, ia menjabarkan beberapa hal agar terjadi  -- gadis yang murah hati, cekatan dan peduli, cantik -- dengan kata lain yang berkarakter dan berpenampilan serasi menjadi pasangan sepadan pemuda yang di dalamnya rencana TUHAN Allah akan dikerja-wujudkan. Ternyata belum usai doanya Eliezer telah menerima jawaban TUHAN. Ribka datang, menunjukkan semua sikap dan tindakan sebagaimana pertimbangan Eliezer yang matang dalam perspektif hikmat kebudayaan waktu itu. 
Doa sendiri seumpama sumur yang tak henti-hentinya menyediakan penyegaran, penopangan, pembasuhan, pelepasan dahaga bagi kelanjutan kita menjalani rencana Allah. Di dalam doa dimungkinkan secara misterius-ajaib jalin-menjalin riil antara ketetapan dan pengerjaan ilahi dengan upaya pertimbangan hikmat manusiawi yang dikuduskan. 

Selasa, 19 September 2017

Menyiapkan Pernikahan Generasi Berikut

Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal. Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: "Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku." Lalu berkatalah hambanya itu kepadanya: "Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar?" Tetapi Abraham berkata kepadanya: "Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana. TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini--Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku. Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana." Lalu hamba itu meletakkan tangannya di bawah pangkal paha Abraham, tuannya, dan bersumpah kepadanya tentang hal itu.  -- Kejadian 24:1-9



Pemilihan calon pasangan hidup, perjodohan, pernikahan bukan sekadar keharusan biologis-psikologis-sosial melainkan jauh lebih mendasar di dalamnya adalah soal pembentukan ikatan perjanjian yang di dalamnya rencana ilahi boleh berproses dan mewujud. Apabila dalam catatan sebelum ini tidak pernah disebutkan orangtua mengatur perjodohan anak mereka -- meski kemungkinan adat kebiasaan itu memang ada di zaman itu sebagaimana yang masih cukup berlaku di timur sampai kini, secara khusus nas ini mencatat Abraham menyiapkan pencarian calon teman hidup Ishak karena janji TUHAN Allah tentang keturunan yang berlimpah dan memberkati bangsa-bangsa itu kini jatuh kepada Ishak. Untuk itu Abraham menugasi hambanya yang paling tua yaitu yang diberi kuasa untuk menjadi pengatur seluruh kepunyaan Abraham untuk pergi ke tanah asal Abaham. Pertama dengan pergi ke tanah asalnya berarti Abraham mengharapkan calon istri Ishak itu berasal dari garis keturunan Sem, dan ini ditegaskan dengan tekanan "bukan dari Kanaan" -- intinya di sini mengupayakan pasangan hidup yang tidak melenceng dari pengenalan . penyembahan kepada TUHAN Allah pencipta langit dan bumi. Kedua, Eliezer harus membawa calon istri Ishak dan bukan sebaliknya menyebabkan Ishak kembali ke tanah asal ayahnya -- intinya di sini mendapatkan pasangan hidup yang bersedia menjalani panggilan TUHAN untuk membentuk keluarga yang menghasilkan keturunan yang di dalam dan melaluinya berkat-berkat Allah memancar sebagai penggenapan rencana-Nya.


Masa kini generasi muda kita kebanyakan menemukan pasangan hidup melalui kontak-kontak mereka sendiri dalam pergaulan di sekitar kegiatan keseharian -- pendidikan, pekerjaan, kegiatan pelayanan, bahkan belakangan ini melalui media sosial. Kemungkinan untuk terjadinya perjodohan yang tidak sepadan karena tidak seiman dan tidak sungguh menjalani panggilan ilahi yang sama makin besar masa kini. Karena itu orangtua, pembina rohani, keluarga, gereja perlu sedini mungkin mengemban teladan Abraham memberikan pendidikan rohani tentang prinsip pencarian teman hidup dan penetapan calon istri/suami yang berfokus pada menyembah TUHAN Allah yang benar dan mengikuti panggilan-Nya dalam hidup.

Sabtu, 16 September 2017

Tidak memumpungi

Kemudian bangunlah Abraham lalu sujud kepada bani Het, penduduk negeri itu, serta berkata kepada mereka: "Jika kamu setuju, bahwa aku mengantarkan dan menguburkan isteriku yang mati itu, maka dengarkanlah aku dan tolonglah mintakan dengan sangat kepada Efron bin Zohar, supaya ia memberikan kepadaku gua Makhpela miliknya itu, yang terletak di ujung ladangnya; baiklah itu diberikannya kepadaku dengan harga penuh untuk menjadi kuburan milikku di tengah-tengah kamu." Pada waktu itu Efron hadir di tengah-tengah bani Het. Maka jawab Efron, orang Het itu, kepada Abraham dengan didengar oleh bani Het, oleh semua orang yang datang di pintu gerbang kota: "Tidak, tuanku, dengarkanlah aku; ladang itu kuberikan kepadamu dan gua yang di sanapun kuberikan kepadamu; di depan mata orang-orang sebangsaku kuberikan itu kepadamu; kuburkanlah isterimu yang mati itu." Lalu sujudlah Abraham di depan penduduk negeri itu serta berkata kepada Efron dengan didengar oleh mereka: "Sesungguhnya, jika engkau suka, dengarkanlah aku: aku membayar harga ladang itu; terimalah itu dari padaku, supaya aku dapat menguburkan isteriku yang mati itu di sana." Jawab Efron kepada Abraham: "Tuanku, dengarkanlah aku: sebidang tanah dengan harga empat ratus syikal perak, apa artinya itu bagi kita? Kuburkan sajalah isterimu yang mati itu." Lalu Abraham menerima usul Efron, maka ditimbangnyalah perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya dengan didengar oleh bani Het itu, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar. Demikianlah ladang Efron, yang letaknya di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta segala pohon di ladang itu, bahkan di seluruh tanah itu sampai ke tepi-tepinya, diserahkan kepada Abraham menjadi tanah belian, di depan mata bani Het itu, di depan semua orang yang datang di pintu gerbang kota. Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan. Demikianlah dari pihak bani Het ladang dengan gua yang ada di sana diserahkan kepada Abraham menjadi kuburan miliknya. -- Kejadian 23:7-20

Sesuai adat zaman itu Abraham dan para tokoh bani Het membahas tentang tanah untuk menguburkan Sarah itu di pintu gerbang kota. Karena hormat mereka kepada Abraham mereka rela memberikan begitu saja tanah pilihan yang Abraham inginkan yaitu tanah ladang milik Efron yang rupanya adalah pemimpin kota Kiryat-Arba itu sendiri. Tetapi Abraham tidak memanfaatkan itu sehingga ia memaksa untuk membayar harga yang diminta. Akhirnya Efron menyebutkan harga empat ratus syikal perak. Dengan menimbang perak seberat 400 syikal dan membayarkan itu kepada Efron, Efron lalu memberikan ladangnya di Makhpela beserta segala pohon di ladang itu dan gua tempat Abraham menguburkan Sarah. Peristiwa itu disaksikan oleh semua orang yang datang di pintu gerbang. 
Inilah sikap dan perilaku raja semestinya, sejatinya -- sebagai orang yang diberkati-memberkati oleh Tuhan Abraham tidak mumpung dan memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Sebagai pemercaya anak-anak Abraham hendaknya sikap ini ada pada kita juga.

Jumat, 15 September 2017

Kedukaan dan Kesaksian

Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara. Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het: "Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu; berikanlah kiranya kuburan milik kepadaku di tanah kamu ini, supaya kiranya aku dapat (mengantarkan dan -- tidak ada di naskah aslinya) menguburkan isteriku yang mati itu." Bani Het menjawab Abraham: "Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja agung di tengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu."  -- Kejadian 23:1-6


Sarah mati dalam usia sangat lanjut -- 127 tahun, satu-satunya perempuan yang usianya disebut dalam Alkitab -- 37 tahun sesudah ia memperanakkan Ishak. Abraham sungguh kehilangan Sarah teman perjanjian-rekan pewaris kehidupan sampai kedukaannya disebut sebagai "meratapi dan menangisi" kematian Sarah. Meratapi, menangisi dan kemudian menguburkan adalah sikap wajar mengungkapkan kasih dan hormat pihak yang berduka kepada pihak yang meninggal. Karena itu sesudah selesai mengungkapkan kedukaannya Abraham pergi ke pintu gerbang kota Kiryat-Arba (kota Arba -- karena dibangun oleh Arba -- Yoshua 14:15) yang kemudian pada zaman penaklukan Kanaan disebut kota Hebron. Abraham kendati kaya raya adalah orang asing dan pendatang maka ia tidak memiliki hak kepemilikan atas tanah untuk dipakai menguburkan Sarah. Maka di balik peristiwa kedukaan ini muncullah dialog menarik tentang siapa Abraham dalam anggapan penduduk setempat. Secara status Abraham hanya orang asing dan pendatang persis pengakuannya ketika memohon agar boleh membeli tanah untuk kuburan itu, tetapi secara penilaian faktual para penduduk setempat ia adalah "tuanku," "raja agung" di tengah-tengah mereka. Tentu dengan kilas balik kita paham kesan itu terjadi karena kisah-kisah yang mereka dengar -- perjumpaan Abraham dengan Firaun, dengan Abimelekh, kemenangan Abraham mengalahkan raja-raja sekutu, doanya untuk Sodom-Gomora -- intinya seluruh narasi Abraham menimbulkan kesan tentang pengaruh kerajaan dalam dirinya ke sekitarnya.

Dalam konteks kehidupan seutuhnya kedukaan sekalipun menjadi kesempatan untuk menyaksikan kemuliaan yang didapat dari berjalan di hadapan TUHAN.

Kamis, 14 September 2017

Silsilah dan Rencana Ilahi

anak juga, yakni Tebah, Gaham, Tahash dan Maakha.  -- Kejadian 22:20-24


Dari pembacaan Kejadian 11 kita mendapatkan dua hal: - silsilah dari keturunan Nuh dengan sorotan khusus pada silsilah Sem yang darinya lahir antara lain Terah dan kemudian Abraham, dan - Terah memprakarsai migrasi dari Ur ke Kanaan dan kelak di dalam kehidupan Abrahamlah panggilan Allah untuk pergi meninggalkan Ur ke negeri yang akan Ia nyatakan itu diteguhkan. Kisah Abraham bukan hanya urusan pribadinya -- meski melalui perenungan sejak pasal 12 sampai ayat-ayat sebelum ini begitu banyak hal prinsipil tentang hubungan dengan TUHAN boleh kita gali darinya. Kini kita melihat persiapan kepada keturunan Abraham yang akan memberkati bangsa-bangsa seisi bumi -- yaitu dari Milka (istri saudara Abraham, Nahor) yang adalah keponakan Abraham lahir salah seorangnya adalah Betuel yang menurunkan Ribka dan Laban. Ribka kelak akan menjadi menantu Abraham dan bersama Ishak akan melahirkan Esau dan Yakub, dan seperti halnya Nahor mendapatkan dua belas anak, Yakub pun kelak akan memiliki dua belas anak. Bedanya Nahor mendapatkan anak sebanyak itu dari Milka dan Reuma gundiknya, sedangkan Yakub dari Lea dan Rahel dan masing-masing gundik mereka. 
Satu hal lagi yang penting untuk kita simak adalah penyebutan Milka dan Ribka dalam silsilah yang menjadi bagian dari pewujudan rencana Allah menjadikan Abraham berkat bagi dunia. Di luar kelaziman budaya timur (tengah juga) yang patriarkal -- pencatatan Kejadian sejak awal telah mengangkat Hawa, kemudian Sarah dan kini Milka serta Ribka. Ini secara tidak langsung menegaskan julukan indah tentang perempuan dalam Alkitab -- bukan kelas dua, bukan sarana memperpanjang keturunan -- tetapi: rekan seperjanjian. Konsep rekan seperjanjian ini sesungguhnya jauh melebihi konsep emansipasi atau liberasi dlsb. yang banyak dijuangkan dalam zaman modern. Pasangan yang sepadan -- lelaki dan perempuan yang berekanan dalam perjanjian -- adalah yang di dalam dan melaluinya rencana Allah untuk dunia ini diwujudkan. 

Rabu, 13 September 2017

Bukan hanya Konsep

Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."  -- Kejadian 22:10-12
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? -- Roma 8:32
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. -- Roma 12:1-2

Apabila kita merenungkan nas ini bukan dari keterpakuan doktriner tetapi dari pendekatan naratif-dramatis sambil melibatkan emosi dan imajinasi di samping pertimbangan rasional kita, kita akan mengalami ketakjuban baru tentang para tokoh di dalamnya juga tentang arti peristiwa ini bagi masing-masing mereka dan maknanya bagi kita masa kini. Sudah kita lihat bagaimana Abraham tumbuh dalam iman dan pengenalannya akan Tuhan. Abraham juga tumbuh dalam hubungannya dengan Ishak dan dalam bagaimana ia harusnya menempatkan Ishak dalam hatinya. Ketika ia bersedia menyerahkan Ishak secara total untuk diambil oleh Tuhan, saat itu gentar-taat-kasihnya kepada Tuhan menjadi utuh-bulat dalam dirinya dan menjadi konkret-nyata untuk TUHAN juga. Justru di saat itu ia mengalami bahwa TUHAN adalah kudus dan setia dan rahimi, juga saat itulah ia menerima kembali anak yang dikorbankannya itu dalam penilaian dan arti dan hubungan yang baru. 
Lebih indah dari semua ini adalah -- tanpa Abraham menyadarinya sendiri waktu itu -- ia telah melakukan bayang-bayang samar dari yang terjadi sungguhan dan tanpa ada penggantian seperti yang ia dan Ishak alami, yaitu ketika Bapa menyerahkan Anak tunggal-Nya yang kekasih demi menggantikan kita dari kutuk dosa. Bahkan sesudah Bapa dan Anak itu rela melakukan pengorbanan sedemikian besar, itu menjadi dasar bagi kita mengalami terus limpah karunia-karunia-Nya yang kudus, indah, ajaib membangun dan membentuk dan "mengilahi"-kan kita. Masakan kita yang sudah melihat drama lanjutan di Kalvari ini tidak harusnya melebihi Abraham yang belum melihat pengorbanan Bapa-Anak itu?
Hanya ketika semua yang berharga bagi kita tidak kita biarkan melekat membelit hati tetapi kita serahkan penuh ke dalam pengendalian Tuhan, barulah kita dapat menerima balik arti dan nilai dari hal berharga yang kita lepaskan itu dan kita sungguh terbuka untuk menerima pusaka ilahi yang Ia karuniakan bagi kita dari surga. Maka jangan berat melepas untuk Tuhan semua yang melekat di hati -- manusia, harta, karier, posisi, cita-cita. Amin.

Karunia: Memberi-Menerima

Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."  -- Kejadian 22:10-12
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? -- Roma 8:32
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. -- Roma 12:1-2

Apabila kita merenungkan nas ini bukan dari keterpakuan doktriner tetapi dari pendekatan naratif-dramatis sambil melibatkan emosi dan imajinasi di samping pertimbangan rasional kita, kita akan mengalami ketakjuban baru tentang para tokoh di dalamnya juga tentang arti peristiwa ini bagi masing-masing mereka dan maknanya bagi kita masa kini. Sudah kita lihat bagaimana Abraham tumbuh dalam iman dan pengenalannya akan Tuhan. Abraham juga tumbuh dalam hubungannya dengan Ishak dan dalam bagaimana ia harusnya menempatkan Ishak dalam hatinya. Ketika ia bersedia menyerahkan Ishak secara total untuk diambil oleh Tuhan, saat itu gentar-taat-kasihnya kepada Tuhan menjadi utuh-bulat dalam dirinya dan menjadi konkret-nyata untuk TUHAN juga. Justru di saat itu ia mengalami bahwa TUHAN adalah kudus dan setia dan rahimi, juga saat itulah ia menerima kembali anak yang dikorbankannya itu dalam penilaian dan arti dan hubungan yang baru. 
Lebih indah dari semua ini adalah -- tanpa Abraham menyadarinya sendiri waktu itu -- ia telah melakukan bayang-bayang samar dari yang terjadi sungguhan dan tanpa ada penggantian seperti yang ia dan Ishak alami, yaitu ketika Bapa menyerahkan Anak tunggal-Nya yang kekasih demi menggantikan kita dari kutuk dosa. Bahkan sesudah Bapa dan Anak itu rela melakukan pengorbanan sedemikian besar, itu menjadi dasar bagi kita mengalami terus limpah karunia-karunia-Nya yang kudus, indah, ajaib membangun dan membentuk dan "mengilahi"-kan kita. Masakan kita yang sudah melihat drama lanjutan di Kalvari ini tidak harusnya melebihi Abraham yang belum melihat pengorbanan Bapa-Anak itu?
Hanya ketika semua yang berharga bagi kita tidak kita biarkan melekat membelit hati tetapi kita serahkan penuh ke dalam pengendalian Tuhan, barulah kita dapat menerima balik arti dan nilai dari hal berharga yang kita lepaskan itu dan kita sungguh terbuka untuk menerima pusaka ilahi yang Ia karuniakan bagi kita dari surga. Maka jangan berat melepas untuk Tuhan semua yang melekat di hati -- manusia, harta, karier, posisi, cita-cita. Amin.

Sabtu, 09 September 2017

Bagaimana dengan Ishak?

Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." -- Kejadian 22:6-12

Drama mendebarkan ini menyingkap sambil menutupi berbagai kualitas indah tokoh-tokoh di dalamnya: Abraham, Allah dan juga Ishak. Namun mengenai Ishak sepertinya lebih banyak yang tidak disingkap ketimbang dibiarkan untuk kita renungi dengan imajinasi dan pertimbangan yang hati-hati. Bahwa Abraham sangat mengasihi anak yang ia terima sebagai mukjizat di saat keadaan jasmani ia dan istrinya sudah layu tidak dapat kita bantah. Bahkan nas ini menegaskan hubungan kasih yang kuat itu dalam komentar Allah sendiri: "anakmu yang tunggal itu, yang kau kasihi." Dalam pasal sebelum ini kita melihat bagaimana Sarah dan kemudian juga Abraham melalui konfirmasi Allah membela, melindungi, mengukuhkan Ishak dari penghinaan yang dilakukan Ismael. Tentu pengalaman ini membekas dalam pada Ishak tetang arti dirinya bagi Abraham dan tentang pengamanan dari TUHAN Perjanjian atas kelangsungan perjanjian tersebut melalui dirinya. Namun nas ini hanya menampilkan satu kali pertanyaan Ishak tentang dimana anak domba yang akan dikorbankan Abraham, selebihnya Ishak hanya diam sambil memikul beban kayu bakar untuk korban, sampai diikat di atas tumpukan kayu itu bahkan sampai Abraham mengacungkan pisau siap menyembelihnya. Apakah yang dipikir dan dirasa Ishak sepanjang momen-momen mendebarkan itu -- tentang ayahnya? Tentang Allah yang perintah-Nya dituruti sang ayah? Tentang kesungguhan dirinya sebagai anak penerus perjanjian? Seperti halnya yang terjadi dengan Abraham, demikian juga tentang Ishak -- nas ini mengizinkan kita membayangkan berbagai kontradiksi pikiran, perasaan dan kemauan yang berkecamuk dalam diri Ishak. Hebatnya, kendati ia sesungguhnya memiliki hak dan tenaga melebihi Abraham untuk menyelamatkan dirinya, ia hanya diam -- percaya-tidak percaya, pasrah-berharap, menyangkali hak dan tenaganya sambil bertanya-tanya akankah sungguh ia menjadi korban itu atau domba korban jawaban ayahnya itu sungguh disediakah YHWH jirreh. Berbarengan dengan matanya melihat lengan Abaham dengan pisau yang terhunus, telinganya mendengar suara Malaikat TUHAN mencegah Abraham -- saat itu keduanya mengalami secara baru kasih satu sama lain, dan lebih dari itu keduanya mengalami dalam dampak makna lebih dahsyat tentang pengenalan mereka akan TUHAN Allah. 

Jumat, 08 September 2017

Momen Penentu Pertumbuhan

Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. -- Kejadian 22:9-19


Momen-momen kritis dalam kehidupan apabila diterima dalam sikap dan tindakan yang benar adalah krisis yang akan menghasilkan berbagai dampak pendalaman dan pertumbuhan luar biasa. Dari sepanjang kisah Abraham momen ketika Allah meminta ia mempersembahkan Ishak ini boleh dibilang merupakan krisis paling dahsyat -- bagi Abraham, bagi Ishak dan juga bagi TUHAN Allah sendiri. Di sini kita jumpai Abraham mengalami krisis tentang kepercayaannya, tentang hubungan dan pengenalannya akan Tuhan dan tentang ikatan kasihnya dengan putranya serta wawasannya tentang realitas masa depan janji Tuhan di dalam putranya itu. Apabila sebelum ini ketika ia belajar berharap kepada Tuhan yang setia dan berkuasa memenuhi janji-Nya ia belajar untuk beriman yang melawan "iman" kepada kapasitasnya sendiri, boleh dibilang kini ia harus mengambil keputusan iman yang melawan "iman" kepada pengertian dan pengenalannya sendiri tentang siapa Tuhan. Bayangkan saja sifat-sifat Tuhan apa saja yang selama ini telah makin ia kenal yang kini terancam akan runtuh satu-per-satu! Tetapi ternyata imannya tidak runtuh melainkan dimurnikan dan diberdayakan secara baru -- dengan tetap percaya kepada diri Tuhan sendiri yang berfirman -- ia seakan disanggupkan untuk percaya kepada Tuhan secara baru -- bukan saja Ia Tuhan yang setia, rahimi, adil, berkuasa, Ia juga Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang menerbitkan keturunan dari pasangan yang telah layu juga adalah Tuhan yang sanggup membangkitkan orang mati, Tuhan yang meminta hal yang paling berharga darinya adalah juga Tuhan yang menyediakan. Melalui ujian luar biasa ini  Abraham sendiri pun bertumbuh secara luar biasa, sampai (nanti akan kita telusuri lebih jauh) tindakannya ini menjadi momen dibukanya layar panggung untuk kita boleh mengintip drama sang Bapa yang menyerahkan Anak-Nya sendiri sebagai tindakan penyediaan luar biasa demi keselamatan saya dan Anda. Bahkan, dengan segala kesadaran akan keterbatasan bahasa, peristiwa ini bahkan menjadi momen untuk TUHAN Allah seakan bertumbuh: "kini Ku ketahui bahwa engkau sungguh takut akan Allah dan tidak enggan melepaskan bagi-Ku benihmu, pewarismu sendiri." 

Kamis, 07 September 2017

Allah mencoba Abraham

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. -- Kejadian 22:1-8

Peristiwa ini tidak terjadi langsung sesudah peristiwa yang dicatat di pasal sebelumnya. Juga kemungkinan tidak terjadi di usia teruna Ishak seperti yang sering kita lihat di lukisan. Abraham dipanggil ketika berusia 75 tahun, Ishak lahir ketika Abraham berusia 100 tahun, dan di usia 175 Abraham meninggal -- maka sangat boleh jadi bahwa peristiwa ini terjadi di antara 100 - 175 tahun yaitu ketika Ishak sudah berusia 30an tahun pas di puncak kemudaannya menjelang usia dewasanya menurut orang Ibrani yaitu 40 tahun. Dengan mempertimbangkan ini mari kita pertimbangkan bagaimana selama lebih dari setengah abad Abraham telah berjalan di hadapan Tuhan, menyambut panggilan-Nya, memercayai kesungguhan janji-janji-Nya, tumbuh dalam pengenalannya akan sifat-sifat TUHAN yang setia-rahimi-adil-kudus-berkuasa, dan tiba-tiba kini ia mendapatkan Allah yang perintah-Nya sangat bertentangan dengan semua pengenalannya tersebut. Kita seakan diberi kebebasan memasukkan pertimbangan dan imajinasi kita ke dalam nas ini -- terkejutkah Abraham? rahimikah Ia atau kejam? kuduskah ia atau sama saja dengan dewa yang menuntut korban manusia? sekian lama memercayai-Nya masih dapatkah Ia terus dipecaya? Tetapi firman yang datang kepadanya itu sudah sangat ia kenal, maka sesudah menyebut "ya Tuhan, saya ini," dengan tanpa tanya atau protes atau gugatan ia segera bertindak. Perhatikan betapa bulat ketaatan percaya Abraham -- tidak memberitahu Sarah, sejak dini hari ia menyiapkan keledai tunggangan, membelah kayu bakar, dan pergi bersama Ishak dengan mengajak kedua bujangnya. Sepanjang perjalanan dua hari itu tidak ada sepatah kata pun dicatat dalam nas ini. Bisa dibayangkan pertanyaan yang berkecamuk dalam hati Ishak, dan gejolak serta kemelut pertimbangan-perasaan-kemauan Abraham di setiap langkah yang mereka ambil selama dua hari tersebut. Tiba-tiba ketika Gunung tempat Yahweh dilihat (Mori-Yah -- gabungan kependekan nama Yahweh dan kata lihat yang juga berarti menyediakan) Abraham semakin berfokus penuh pada tugas yang Allah minta darinya -- kedua bujangnya ditinggal, ia sebagai pihak eksekutor membawa pisau dan api, sedangkan Ishak yang akan dikorbankan dibebani kayu bakar. Tiba-tiba terjadilah pembicaraan yang sangat mesra antara keduanya - Ishak bertanya dimana binatang korbannya dengan menyebut "Bapa" kepada Abraham, dan Abraham menjawab Ishak dengan "anakku." Dalam momen sesaat sebelum perpisahan akan terjadi keintiman luar biasa terungkap antara ayah dan anak itu. Dalam momen sesaat sebelum cobaan yang sangat muskil dari Allah itu ia laksanakan, entah bagaimana ia masih mengimani bahwa Ia akan menyediakan untuk-Nya sendiri. Ia pasti tidak membayangkan bahwa akan ada domba pengganti Ishak di belukar-- maka menurut penulis PB tersisa sedikit imannya kepada Allah yang berkuasa membangkitkan. 

Cobalah bayangkan peristiwa ini terjadi pada kita sendiri dalam bentuk perintah kita melepas dan mempersembahkan sesuatu yang sangat berarti bagi kita, yang adalah hasil juang dan doa dan berkat Tuhan, bahkan yang mempertaruhkan hubungan dan pengenalan kita akan Tuhan. Akan lahirkah sifat sebagai anak Abraham dalam kita di momen seperti itu?

Rabu, 06 September 2017

Naungan Nama TUHAN

Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan. Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing." Lalu kata Abraham: "Aku bersumpah!" Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh. Jawab Abimelekh: "Aku tidak tahu, siapa yang melakukan hal itu; lagi tidak kauberitahukan kepadaku, dan sampai hari ini belum pula kudengar." Lalu Abraham mengambil domba dan lembu dan memberikan semuanya itu kepada Abimelekh, kemudian kedua orang itu mengadakan perjanjian. Tetapi Abraham memisahkan tujuh anak domba betina dari domba-domba itu. Lalu kata Abimelekh kepada Abraham: "Untuk apakah ketujuh anak domba yang kaupisahkan ini?" Jawabnya: "Ketujuh anak domba ini harus kauterima dari tanganku untuk menjadi tanda bukti bagiku, bahwa akulah yang menggali sumur ini." Sebab itu orang menyebutkan tempat itu Bersyeba, karena kedua orang itu telah bersumpah di sana. Setelah mereka mengadakan perjanjian di Bersyeba, pulanglah Abimelekh beserta Pikhol, panglima tentaranya, ke negeri orang Filistin. Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal. Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin. -- Kejadian 21:22-34


Peristiwa kelahiran Ishak dan pengalamannya sendiri dihajar Tuhan karena mengambil Sarah membuat Abimelekh menyadari penyertaan TUHAN atas Abraham. Ini mendorongnya meminta Abaham setuju mengadakan perjanjian dengannya yang berlaku sampai ke anak-cucu-cicit mereka. Isi perjanjian itu sederhana yaitu persahabatan dimana kedua pihak menghindari berbuat curang satu kepada lainnya. Begitu menyetujui dan bersumpah langsung Abraham memberlakukan perjanjian itu dengan mengklaim sumur yang ia gali dan yang dirampas oleh para hamba Abimelekh. Sumur untuk peternak di wilayah yang sebagian besar padang gurun adalah sumber kehidupan. Sumur itu hasil galiannya sendiri tetapi untuk mendapatkan pengakuan Abimelekh Abraham tidak segan memberi hadiah tujuh ekor anak domba -- yang menjadi dasar nama sumur dan kemudian nama tempat itu disebut Bersyeba -- artinya sumur tujuh dan bunyi tujuh juga mirip dengan bunyi kata sumpah atau kudus. Lalu sesudah Abimelekh menerima hadiah yang menjadi meterai kemilikan Abraham atas sumur itu, Abraham menanam pohon tamariska -- pohon yang kelak akan tumbuh dengan cirinya tinggi, berdaun lebat dan hijau sepanjang tahun, usianya panjang dan kayunya keras. Bersamaan dengan itu Abraham nemanggil nama TUHAN, Allah yang kekal. 



Pengakuan dunia sekeliling, mengukuhkan hasil karya, rela memberi, membangun hal-hal yang mencerminkan sifat kekal Allah, memelihara hubungan dengan TUHAN -- inilah teladan Abraham untuk perjalanan spiritualitas kita juga.