Sabtu, 28 April 2018

Allah dan Realitas

Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. -- 1 Korintus 15:38-39

Kebangkitan membuktikan bukan saja Allah mahakuasa tetapi juga menyatakan bahwa Ia terlibat penuh berkesinambungan dan berkelanjutan di dalam segala sesuatu. Maka bukan saja ajaran materialisme salah, juga ajaran naturalisme dan reinkarnasi sama salahnya. Naturalisme menganggap bahwa di dalam alam ini berlaku hukum-hukum natural yang berlangsung dengan sendirinya. Paulus mengajarkan kita bahwa di dalam hukum-hukum alam ada aktivitas Allah mengatur, memelihara, memberkati, memberi kekuatan pertumbuhan dan wujud masing-masingnya secara beragam. Benih-hancur-mati-tunas-tanaman dengan sifat khas tanaman itu -- semua proses alami ini adalah karena pengaturan dan pemeliharaan Allah. 
Biji jagung akan tumbuh menjadi pohon jagung dengan segenap dan seluruh ciri khasnya, biji mangga akan tumbuh menjadi pohon mangga dengan segenap dan seluruh sifat khasnya, demikian juga dengan beras, kacang, kedelai, semangka, jambu, apel, dlsb. Ada tindakan Allah memberi dan kehendak aktif Allah di dalam keseluruhan kekhasan masing-masing ragam hidup ciptaan (tubuh) dan di dalam masing-masing wujudnya (daging). Jika di dalam ciptaan berlaku hikmat, keputusan, anugerah dan energi Allah, maka argumen Paulus kini, mengapa tidak percaya bahwa Ia sanggup melakukan kebangkitan -- resurrection dari kata anastasis dalam bahasa Yunani -- yaitu yang sudah mati itu dibangunkan, dijadikan hidup kembali. Dan ini bukan reinkarnasi yang pada hakikatnya adalah jiwa bermigrasi ke bentuk tubuh lain, semisal jiwa manusia baik bereinkarnasi menjadi bintang, atau celeng yang merupakan migrasi dari manusia jahat. Kebangkitan berarti orang yang sama diberikan tubuh khas dia juga namun dalam kondisi mulia yang tidak lagi dapat tercemar, lelah-lemah, sakit, dlsb. 
Itu sebabnya di dalam tubuh fana ini kita mengembangkan sifat, hasrat dan tindakan yang sepadan dengan tubuh mulia kelak, dan kita tidak menjalani kehidupan tanpa mengendali keinginan tubuh atau sekadar mengalir mengikuti arus kekuatan natural-ekonomi-politik-sosial yang buta dan nirnilai. Tidak. Kita aktif berpikir, menimbang, memutuskan, bertindak sesuai kebenaran kekal Allah dalam firman-firman-Nya.

Jumat, 27 April 2018

Jangan jadi Bodoh!

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. -- Yohanes 12:24
Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. -- 1 Korintus 15:35-37

Pandangan yang menolak kebangkitan tidak saja dibangun atas dasar pengamatan bahwa tidak pernah ada orang mati yang bangkit. Argumen pendukung anggapan itu yang kini dikonter oleh Paulus adalah: 1) Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? dan 2) Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali? Argumen ini jelas didasari atas paham bahwa segala sesuatu materi belaka adanya. Argumen pertama berpikir jasad orang mati yang dimakan ikan di laut, yang hancur dalam ledakan pesawat terbang, yang busuk dimakan belatung lalu berangsur terurai menjadi zat-zat kimia semata -- bagaimana mungkin bisa dibangkitkan? Argumen kedua berpikir lanjut jika jasad orang sudah rusak, lenyap, terurai menyatu dengan binatang yang memakannya atau tersisa tulang dan zat-zat yang telah menjadi tanah, jika ada kebangkitan lalu dengan tubuh apa mereka kembali?
Di dasar argumen-argumen materialistis ini ada praanggapan terdalam yaitu kepercayaan yang sudah Paulus tegur di ayat sebelum ini, yaitu mereka tidak mengenal Allah. Tidak percaya adanya Allah atau tidak percaya bahwa Allah adalah Keberadaan Pribadi Kekal yang Mahakuasa, Mahabijak, Mahaanugerah yang telah mencipta, mengatur, memelihara dan yang akan mengerjakan kebangkitan tubuh kita sebagaimana Ia telah membangkitkan Yesus Kristus. Itu sebabnya Paulus kini menegur lebih keras lagi: "Hai orang bodoh." Kepercayaan yang menolak Allah dan semua pemikiran turunan dari kepercayaan itu adalah kebodohan, betapa pun logis, cermat, meyakinkan kesan yang ditimbulkannya. Bantahan terhadap materialisme itu bukan sekadar dengan merujuk ke hukum alam -- semua tanaman, tumbuhan, pepohonan melalui proses hukum mati-hancur-tunas-tumbuh, melainkan kepada Dia yang mengatur proses alami itu yaitu TUHAN Allah. Dan keajaiban dari penyelenggaraan ilahi ini ialah yang tumbuh sesudah mati itu adalah hidup dalam wujud yang baru -- biji-bijian yang telanjang, kecil, hina tumbuh menjadi pohon yang wujudnya ber-"pakaian," besar dan indah/mulia.
Apabila kita sungguh percaya Allah sanggup mengadakan kebangkitan dan menyebabkan wujud tubuh kebangkitan yang mulia, tidak sanggupkah Ia menolong kita melalui berbagai proses "kematian" yang harus kita tanggung di sini kini -- yaitu kesukaran, tantangan, hambatan, kelemahan, dlsb? Bukankah pengharapan akan kebangkitan nanti boleh menjadi kekuatan besar untuk kita menang?

Kamis, 26 April 2018

Awasi Doktrin dan Moralitas

Banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. -- 2 Yohanes 1:7-10
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. -- 1 Korintus 15:33-34

Adakah hubungan kebenaran dan kelakuan, doktrin dan moral, prinsip dan praktik, konsep dan pengalaman? Ya, ada! Itu sebabnya dari membicarakan berbagai argumen pro-kontra kebangkitan yang masuk dalam tataran doktrin, Paulus tiba-tiba bergeser ke soal pergaulan dan perilaku. Rupanya jemaat Korintus membuka diri terlalu jauh kepada para pengajar sesat, bergaul, berdiskusi, dipengaruhi pikiran mereka sampai terlena dan terseret ke berbagai kelakuan immoral. 
Doktrin dan etika, ajaran dan perilaku selalu berhubungan timbal balik. Entah doktrin sesat membuka jalan bagi berbagai perilaku yang tidak benar, atau kelakuan dosa menyebabkan orang mencari sebentuk pembenaran secara doktrin bagi kesalahan itu, mencari alasan. Korintus adalah kota yang secara moral lepas kendali -- apalagi tersedia kuil Artemis (Venus, Diana) yang menyediakan ribuan pelacur bakti untuk menarik orang terlibat dalam penyembahan orgasmik. Jika ada ajaran bahwa tidak ada kebangkitan, hanya roh yang penting tubuh tidak, maka bisa dua akibat yang keluar dari ajaran itu. Entah tubuh dianggap jahat dan kesalehan disamakan dengan pertarakan, pengabaian, penyiksaan jasmani; atau, tubuh diumbar, dipuaskan dengan berbagai perilaku dosa sebab yang selamat dan penting hanya roh saja.
Jadi, Paulus (juga seluruh Alkitab) memanggil orang percaya untuk tidak membuka diri kepada ajaran sesat para penyesat. Sebaliknya untuk bangun dari keterlenaan dan kemabukan, kembali ke perilaku benar, dan berhenti berbuat dosa. Ia mengingatkan dengan tegas bahwa sebagian anggota jemaat Korintus yang telah sedemikian membuka diri kepada ajaran sesat, penyesat dan kelakuan immoral sesungguhnya "tidak mengenal Allah." Sungguh ucapan keras namun penuh kasih kudus yang tidak menginginkan gereja Tuhan mengalami kecemaran.
Kita hidup dalam era orang alergi doktrin cinta pengalaman, menganggap segala sesuatu relatif dan gairah besar untuk mencoba mengalami apa saja yang mungkin. Orang yang telah ditebus oleh darah Yesus tidak bisa demikian. Harus ada ketegasan berpegang pada ajaran Kitab Suci dan menolak segala hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. 

Rabu, 25 April 2018

Bangkit dan Berjuang

Dan kami juga--mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". -- 1 Korintus 15:30-32


Sukacita dan bahaya senantiasa mengiringi para hamba Tuhan yang setia. Paulus kini mengajukan argumen dari pengalaman pribadinya mengapa kebagkitan Yesus Kristus di masa lalu dan kepercayaan akan kebangkitan orang percaya di masa depan adalah fakta dan janji yang sangat berpengaruh kuat dalam ia menjalani pelayanan misinya. 
Pertama, tiap saat (harfiah: jam) ia harus menghadapi bahaya, tiap hari ia harus berhadapan dengan maut. Bandingkan pernyataan Paulus ini dengan beberapa pernyataan lainnya, seperti di Roma 8:36 dan 2 Korintus 1:8-10. Tentang bahaya, di catatan Lukas tentang perjalanan misi Paulus kita ketahui bahwa baik di perjalanan darat atau laut, baik ketika ia memproklamasikan Injil ke kalangan Yahudi atau bukan Yahudi, kalangan intelektual, religius, pejabat negara, sampai ke orang yang dirasuk roh jahat, ia selalu harus berhadapan dengan berbagai perlawanan yang mengancam keselamatan hidupnya. Yang menggelitik kita di ayat 32 ialah pernyataan bahwa ia "telah berjuang melawan binatang buas di Efesus." Ini menimbulkan pertanyaan, sebab di Kisah Rasul Lukas tidak pernah mencatat peristiwa ini. Bisa jadi ini simbol bagi para penguasa (seperti Yesus menyebut Herodes serigala, para rasul menyebut Nero singa), atau memang Paulus pernah diperhadapkan dengan situasi biadab harus bertarung dengan binatang buas. Yang jelas semua ancaman bahaya, kesukaran, bahkan berhadap muka dengan ancaman maut dalam runtut waktu begitu sering dapat ia tanggung karena fakta kebangkitan Yesus Kristus dan pengharapan kebangkitannya kelak dalam kemuliaan.
Di pihak lain pelayanan juga melibatkan sikap dan pengalaman suka dan bangga. Entah maksudnya kesukaan dan kebanggaan dia akan jemaat di Korintus atau kesukaan dan kebanggaan jemaat akan Paulus, suka dan bangga dalam pelayanan dikaitkan di sini dengan kerelaan untuk menanggung berbagai bahaya dan keduanya didasarkan atas keyakinan teguh akan kebangkitan. 
Semestinya sama juga dengan kini kini dan di sini -- sepanjang kita berupaya mengemban berbagai karya Kerajaan dalam keseharian kita, perlu ada energi yang memancar berkelanjutan memberi kita semangat, ketahanan, ketekunan, kekuatan, kegembiraan, keberanian, dst. Tidak ada sumber kuat-kuasa lebih hebat selain dari fakta kebangkitan Yesus Kristus dan keyakinan bahwa itu menjamin kebangkitan kita dalam kemuliaan kelak. Kiranya daya kebangkitan tampak dalam daya juang dan pengabdian kita sepanjang hari-hari kita diberi hidup. Amin.

Selasa, 24 April 2018

Bangkit dan Baptis

Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? -- 1 Korintus 15:29


Baptis adalah masuk-menyatu ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus melalui tindakan dibenamkan ke dalam dan keluar dari air baptisan. Melalui baptisan orang yang menerima baptisan memulai kehidupan imannya kepada Yesus Kristus yang mati dan bangkit baginya. Ia dibasuh dari dosa-dosanya yang lama, memulai kehidupan yang baru dengan kuat-kuasa kematian Yesus yang telah menjadi korban karena dosa-dosa dan dengan kuat-kuasa kebangkitan Yesus yang menang atas semua kekuatan iblis, dosa, dunia dan maut.
Maka kepada ritus baptisan (dibaptis untuk orang mati) apa Paulus merujuk di sini, tidak jelas. Menurut Leon Morris (Commentary 1 Corinthians, Tyndale) ada sekitar 30-40 penjelasan telah diusulkan oleh para penafsir dengan berbagai argumen mereka yang masing-masing tetap menyisakan ketidakjelasan. Misalnya, 1) ini maksudnya dibaptis ke dalam Kristus yang mati (berarti kalimatnya harus diubah: dibaptis "ke dalam orang mati [tunggal]"), 2) ini bukan baptisan tetapi pembasuhan (jika pembasuhan jenazah mengapa kalimatnya beda; jika pembasuhan orang hidup untuk jenazah apa hubungannya dengan kebangkitan?), 3) dibaptis sebagai orang yang mati dan bangkit ke dalam Kristus (seperti uraian awal di atas), 4) orang hidup dibaptis sebagai wakil orang percaya yang menunda baptisan sampai keduluan mati, 5) "baptis" adalah gambaran untuk berbagai kesulitan dan penderitaan iman seperti yang dijelaskan di ayat 30 (tetapi ini pemakaian "baptis" yang tidak lazim), 6) mereka dibaptis dengan pengharapan sesudah mati nanti akan dibangkitkan (kalimatnya tidak berkata demikian), 7) orang dibaptis karena melihat kesaksian hidup indah orang percaya yang kemudian mati. Dua yang terakhir adalah pandangan yang paling tidak bermasalah secara doktrin alkitabiah.
Intinya, Paulus sedang melancarkan rangkaian argumen yang mendukung atau yang diturunkan dari kebangkitan Yesus Kristus dan kebangkitan orang yang di dalam Yesus Kristus. Terlepas dari apa sesungguhnya ritus baptis yang dirujuk Paulus, maksud dia jelas bahwa tanpa kesejatian kebangkitan Yesus Kristus maka berbagai ritus iman menjadi tidak bermakna. Semua tindakan spiritualitas kita dalam keseharian, doa, baca Alkitab, hidup taat, bersaksi, memuji Tuhan, beribadah, melayani, dlsb. menjadi hampa makna dan sia-sia apabila tidak ada kebangkitan Yesus Kristus dan kebangkitan kita kelak. Syukur semua spiritualitas yang sungguh kita jalani dalam kesatuan dengan Yesus Kristus adalah hal-hal yang bermakna -- bagi kita khususnya, dan juga bagi Allah Tritunggal. Puji Tuhan. Amin.

Sabtu, 21 April 2018

Visi Telos (3)

Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: -- Mazmur 8:7
Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. -- 1 Korintus 15:24-28

Kita perlu membaca paparan Paulus dalam pasal ini dengan membayangkan suasana perang. Kita melihat berbagai pertempuran sengit -- Adam yang jatuh ke dalam dosa menyebabkan seisi dunia masuk ke status musuh Allah dan berontak melawan Allah; tetapi di pihak lain Yesus Kristus menjadi Adam kedua yang taat sempurna kepada kehendak Allah Bapa dan berhasil mengalahkan si musuh dalam kematian-Nya, Ia sendiri bangkit dalam kemenangan dan sepanjang sejarah berikutnya dengan bersatu dengan-Nya banyak para pemercaya dikeluarkan dari status dan keadaan di bawah kuat-kuasa kejahatan ke dalam barisan para pemenang. Sampai akhirnya satu per satu, tahap demi tahap, wilayah demi wilayah anasir demi anasir -- mulai dari si penghulu kejahatan yang adalah musuh pertama Allah, diikuti oleh berbagai bentuk dosa dan pengikut iblis seperti sihir, magis, berhala, guna-guna, agama-kepercayaan palsu-sesat, sampai yang terakhir kematian jasmani yang adalah buah dari dosa ditaklukkan-Nya. Proses dan progres arak-arakan kemenangan ini terjadi mulai dari kematian-kebangkitan Yesus Kristus seterusnya di sepanjang sejarah yang juga melibatkan semua orang percaya di segala tempat masa kini sampai kedatangan-Nya kedua kelak. 
Pada kedatangan-Nya kedua kelak -- dalam bahasa teologis alkitabiah disebut parousia -- kemenangan Yesus Kristus atas segala sesuatu, atas "segala pemerintahan dan kekuasaan dan kekuatan" di langit dan du bumi dituntaskan -- dan ketika itu Ia sebagai Adam kedua yang berhasil memenangi umat manusia baru yang telah disucikan dan menghidupi pembaruan-pengudusan secara nyata, Yesus Kristus menyerahkan Kerajaan yang telah Ia terima dari Allah Bapa kembali kepada Dia, Bapa Mahamulia. Ketika itu terjadi, perhatikan beberapa hal penting ini terwujud: 1) Keindahan keserasian di dalam Allah Tritunggal -- Bapa yang berdaulat, Anak yang taat, Roh pemberi kuat berinteraksi serasi sempurna dalam kekekalan; 2) Manusia baru terwujud sebagaimana grand design Allah pada awalnya yaitu menjadi gambar-Nya, wakil-Nya mengelola bumi; 3) seluruh realitas dipulihkan-dimurnikan-disucikan dari segala sesuatu yang cemar, menyimpang, memberontak, merusak. Datanglah ya Tuhan -- Maranatha!

Jumat, 20 April 2018

Visi Telos (2)

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. -- 1 Korintus 15:23-25

Inkarnasi, kehidupan, pelayanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus ke surga BUKAN FIKSI tetapi FAKTA SEJARAH-- ada saksi-saksi mata, ada kitab-kitab yang mencatat, membahas, memproklamirkan itu, dan ada kemajuan visi-misi yang ditenagai dan didasari serta diwujudnyatakan oleh Kristus yang bangkit itu di dalam dan melalui para pemercaya Dia, Maka TELOS, ESKATON  yang belum lama ini disebut-sebut oleh seseorang di salah satu acara televisi, bukan sekadar kekuatan imajinasi untuk maju ke depan tanpa realitas historis di masa lampau -- realitas Yesus Kristus di masa lampau dan telos Yesus Kristus yang melibatkan semua orang percaya dan seisi kosmos di masa depan, di akhir ESKATON nanti berkesinambungan, sebab-akibat, dorong-dan-tarik bersifat konsekuensial.
Karena fakta kebangkitan Yesus Kristus membuat kedatangan Yesus Kristus kedua nanti pasti akan menjadi fakta juga, maka kita yang percaya kepada-Nya, hidup di dalam Dia dan Dia di dalam kita pasti juga mengalami dorong-tarik kebangkitan-kedatangan kedua itu di sini-kini kita. Antara lain di berbagai arus kehidupan berikut ini:
1. RELASI: Pengaruh Kebangkitan-kedatangan kedua Yesus Kristus dalam pewujudan relasi riil kita dengan Allah Tritunggal, Ini menjamin status kita sebagai anak-anak Tuhan, menurunkan kondisi kehidupan kita berikut ini:
2. SPIRITUALITAS: doa-baca Alkitab, penyembahan, ibadah bersama, bersaksi, melayani dalam konteks gerejawi menggeliat nyata dalam hidup orang percaya.
3. MORAL: Dorongan kuasa kebangkitan dan tarikan Kedatangan kedua Yesus Kristus bekerja di dalam orang percaya menghasilkan kehidupan kudus -- kekudusan pikiran-perasaan-kemauan-imajinasi-kreativitas, kekudusan kerja, kekudusan ekonomi-finansial, kekudusan seksual, dlsb.
4. SOSIAL / KOMUNAL: Kebangkitan-kedatangan kedua Yesus Kristus mewujudkan kasih universal dan kasih partikular. Orang percaya mengembang-tumbuhkan hubungan penuh perhatian ke dalam Komunitas Tubuh Kristus dan ke luar ke Sesama Manusia.
5. VOKASIONAL: Panggilan umum dan panggilan khusus bekerja di dalam hidup orang percaya karena didorong dan ditarik oleh energi kebangkitan dan kedatangan Yesus Kristus itu. Pekerjaan, karier, hobby yang menjadi penghasilan, bisnis, berbagai profesi untuk orang percaya adalah vokasi -- pengabdian yang dimotori oleh syukur kepada Tuhan.
6. KULTURAL: Kekuatan utama karya kebangkitan-kedatangan kedua Yesus Kristus dalam budaya adalah kekuatan kreatifitas yang memuliakan Tuhan dan memanusiakan manusia serta memelihara alam. Orang Kristen seharusnya bukan sekadar pemakai atau penikmat apalagi penonton budaya tetapi terlibat penuh sebagai garam dan terang.
7. FISIKAL: Hal ini sudah sedikit disinggung kemarin -- yaitu di dalam realitas fisik kita sebagai gambar Allah, pun bekerja energi kebangkitan Yesus Kristus dan energi kebangkitan tubuh kita kelak pada kedatangan-Nya yang boleh kita hidupi dalam iman untuk kebutuhan kesehatan, kekuatan, pembaruan jasmani kita.
8. KONSEPTUAL: Orang percaya perlu memiliki wawasan alkitabiah tentang seluruh realitas dan kuat-kuasa kebangkitan dan kedatangan kedua Yesus Kristus menjadi kekuatan pewujud meta narasi alkitabiah: penciptaan-kejatuhan-penyelamatan-restorasi kekal. Wawasan konseptual dan energi kebangkitan-kedatangan kedua Yesus Kristus menjadi pola hidup orang percaya.
9. EKOLOGIKAL: Bumi dan segenap isinya memuliakan Nama Tuhan -- sayangnya sebagian besar bumi dan sumber daya alam telah rusak karena dosa kerakusan manusia, Kuasa kebangkitan dan kedatangan Yesus kedua bekerja dalam hidup yang bertanggungjawab dan yang restoratif dalam pola hidup orang percaya.
Sungguhkah kita menerjemahkan FAKTA kebangkitan dan PENGHARAPAN kedatangan kedua Yesus Kristus dalam semua aspek penting ini? Supaya dunia menyadari bahwa Yesus Kristus bukan fiksi sebab kitalah fakta Dia! KIRIE ELEISON!

Kamis, 19 April 2018

Visi Telos (1)

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. -- 1 Korintus 15:23-25

Nas ini sarat dengan penyingkapan tentang hal-hal masa depan yang menyangkut peristiwa berskala dunia bahkan kosmis dan bermuatan teologis sangat dalam. Untuk perenungan kali ini, itu kita simpan dulu untuk beberapa hari yang akan datang karena selain skalanya yang begitu luas juga karena perlu pembacaan pembanding paling tidak dari catatan injil-injil tentang ucapan Yesus tentang akhir zaman, ajaran rasul Paulus di surat-suratnya, juga ajaran para rasul lainnya termasuk wahyu yang diterima rasul Yohanes.
Kita akan menarik penguatan spiritual dari nas ini. Pertama, kita sedang menjalani urut-urutan yang telah dibuka dan dimungkinkan oleh kedatangan, kematian, kebangkitan, kenaikan Yesus Kristus. Fase dimana kita sekarang berada adalah antara Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga dan bersyafaat dalam kemenangan-Nya dengan kedatangan-Nya kembali, kebangkitan orang mati yang di dalam Dia, penaklukan semua kuat-kuasa spiritual-kosmis dan pengembalian kuat-kuasa mediatorial Yesus Kristus kepada Bapa di surga. Intinya, kita kini hidup di dalam era kemenangan Yesus Kristus dan pemerintahan oleh-Nya. Maka, kendati kejahatan dan sengsara masih bahkan makin merajalela, kita perlu menyadari sedalam-dalamnya bahwa kita adalah bagian dari Sang Pemenang bukan kalah, termasuk dalam arus pembaruan, pengudusan, pemulihan yang dikerjakan Yesus Kristus. Kiranya dengan mengandalkan Roh Kudus kita menghidupi benar suasana kebaruan, kemenangan itu dalam segala segi kehidupan kita.
Kedua, akan ada kebangkitan tubuh yang dipastikan akan terjadi oleh fakta kebangkitan Yesus Kristus. Paulus memakai gambaran buah sulung di sini. Dalam dunia pertanian/perkebunan kita ketahui bahwa keluarnya buah pertama dari pohon menandai mulainya masa panenan raya atas hasil dan buah berikutnya. Kebangkitan Yesus Kristus adalah sumber, jaminan dan pembuka jalan bagi kebangkitan tubuh semua yang di dalam Dia. Kebenaran tentang kebangkitan tubuh kita ini berimplikasi ganda. 1) Segala keberatan dan penderitaan yang kini kita tanggung dalam tubuh lama dosa kita kini dapat kita tanggung dengan mengingat bahwa ini akan diganti dengan tubuh baru-kudus-mulia. 2) Pengharapan masa depan ini sebenarnya sudah dapat kita cicipi secara faktual di sini-kini kita yaitu dengan mengimani dan memberlakukan kemenangan, kebangkitan dan pemerintahan Yesus Kristus untuk berbagai kelemahan, sakit-penyakit, kekurangan fisik kita. Artinya, kendati belum mengalami kebangkitan tubuh sempurna itu, namun kini kuat-kuasa kebangkitan Yesus Kristus boleh kita cicipi namun signifikan dengan iman bukan saja secara teologis-spiritual tetapi juga secara jasmani. Maka tidak heran bila berbagai tanda mukjizat dimungkinkan terjadi dan dialami oleh kita di sini-kini.
Ketiga, masih ada beberapa unsur dari "Grand Design" atau Rancangan Agung Allah yang belum terjadi, yaitu kedatangan Yesus Kristus kedua kali, kebangkitan orang percaya, penaklukan semua musuh Allah di langit maupun di bumi, penghakiman akhir yang akan menyudahi / membinasakan seluruh realitas dan sejarah penuh dosa, lalu kesudahannya yaitu kesudahan dari semua ini dan awal baru yaitu ketika kemenangan mediatorial Yesus Kristus dipersembahkan kepada Allah maka akan mulai era baru Kedaulatan penuh Allah atas segala sesuatu sehingga segalanya menjadi harmonis di dalam Dia. 
Petanyaan mahapenting: apakah "little design" masing-masing hidup kita pribadi-keluarga-kerja/bisnis-gereja, dlsb. tercakup di dalam dan antisipatif harmonis dengan Grand Design Allah itu. 

Rabu, 18 April 2018

Dasar Kebangkitan Kita

Tetapi yang benar ialah ini, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah mati. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. -- 1 Korintus 15:20-22

But now Christ has been raised from the dead; He became the firstfruit of those having fallen asleep. For since death is through man, also through a Man is a resurrection of the dead; for as in Adam all die, so also in Christ all will be made alive. (Terjemahan LITV sebagai perbandingan)

Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya fakta tentang diri-Nya sendiri, bukan saja menggugurkan asumsi bahwa tidak ada kebangkitan, bukan juga hanya menjadi dasar yang teguh bagi kenyataan yang sudah dapat dialami orang percaya  dulu dan kini yaitu kelepasan dari dosa; Kebangkitan Yesus Kristus juga adalah dasar bagi pengharapan pasti akan terwujudnya kebangkitan semua yang percaya dalam Yesus Kristus. Nada pasti, sukacita, dan harap penuh ini diungkapkan Paulus dengan dua kata yang mengawali nas ini: "Tetapi kini."
Kematian-kebangkitan Yesus Kristus menelanjangi kesalahan anggapan tentang arti kematian. Dalam falsafah keagamaan yang melihat tubuh sebagai sumber dosa, kematian dilihat sebagai jalan keluar dan kebangkitan justru tidak diingini. Dalam ajaran Alkitab kematian adalah akibat dari jahatnya dosa yang memisahkan manusia dari sang Sumber Hidup. Maka kematian Yesus Kristus selain menanggung akibat dosa juga adalah tindakan untuk melumpuhkan kuasa dosa dan sengat maut sampai malah menghasilkan hidup. Itulah sebab untuk orang percaya maut disebut Paulus sebagai MUSUH terakhir -- bukan jalan keluar -- yang masih harus dihadapi semua orang, namun tidak lagi menakutkan bagi orang percaya sebab sengat maut sudah tercabut dan dilumpuhkan kedahsyatannya oleh Ia yang mati dan bangkit. 
Paulus menunjuk kepada fakta sejarah yang menjadi pangkal penyebab keharusan semua orang untuk mati, yaitu satu tindakan dosa Adam. Terjemahan LAI memasukkan "dalam persekutuan" yang menjelaskan bagaimana prosesnya sampai di dalam Adam terjadi kematian, sedangkan di dalam Kristus terjadi kebangkitan. Ada beberapa teori doktrinal tentang hal ini: 1) Secara jasmani Adam kepala umat manusia menampung "benih" semua manusia, sehingga perbuatan dosanya menyebabkan seluruh benih di dalam dirinya ikut berdosa dan ikut ternoda dosa; 2) Secara federal: Adam kepala seluruh umat manusia bertindak bukan saja sebagai diri pribadinya sendiri tetapi juga sebagai wakil dari semua manusia yang diwakilinya. Maka semua tindakan dan akibat perbuatan Adam melibatkan semua manusia. Tetapi bagaimana kebangkitan Yesus Kristus berakibat pada semua orang percaya? Jelas  bukan melalui benih biologis, juga bukan hanya melalui perhitungan otomatis seperti dalam poin 2) di atas melainkan karena 3) persatuan iman yang riil. 
Yesus Kristus adalah kebangkitan sebagai yang sulung -- berarti semua orang mati yang dicatat Alkitab pernah hidup kembali bukan kebangkitan dengan tubuh kemuliaan melainkan hidup lama dihidupkan kembali untuk kemudian mati lagi. Yang akan terjadi nanti dan yang kini boleh menjadi pengharapan besar yang menguatkan, menghibur dan memberi daya besar bagi semua orang percaya ialah bahwa kelak kita akan diberikan tubuh kemuliaan seperti Yesus Kristus. Tubuh yang tidak lagi mengalami parahnya akibat dosa, yang tidak lagi sakit dan lemah, melainkan tubuh kebangkitan dengan segala kehebatan energi dan kedahsyatan kemuliaannya. Puji Tuhan! 

Selasa, 17 April 2018

Logika Kebangkitan (2)

Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.-- 1 Korintus 15:17-19

Pikirlah baik-baik apa saja dampak dari menerima ajaran bahwa tidak ada kebangkitan dan bahwa Yesus Kristus tidak bangkit dari kematian -- demikian Paulus melanjutkan dorongannya agar jemaat di Korintus memakai nalarnya dengan baik. Akibat dari menerima ajaran sesat itu adalah membalikkan semua kebenaran dan manfaat riil serta realitas misional dalam Kristus.
Pertama, ajaran bahwa Yesus Kristus tidak bangkit menyebabkan seluruh kebenaran tentang pengampunan, pembenaran, pelepasan dari kuasa dosa, dan pengudusan menjadi gugur. Yang benar adalah Yesus Kristus mati sebagai korban penebusan yang menyukakan hati Allah dan menghasilkan pengampunan, sekaligus kematian dan kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Ia telah mengalahkan seluruh kekuatan kejahatan si iblis di seluruh seginya dan segenap kedahsyatannya. Lagi pula dengan Ia bangkit maka dimungkinkan kesatuan dengan Dia dalam kematian dan kebangkitan-Nya yang menjadi jalan untuk orang percaya ikut dalam kemenangan-Nya, boleh mengalami pengudusan terus menerus sampai hari pemuliaan kelak. Maka, menolak kebangkitan berarti tidak ada jalan keluar apa pun dari masalah dosa.
Kedua, jika Kristus tidak bangkit berarti orang percaya yang sudah mati tidak masuk dalam realitas keabadian rohani. Mati menjadi kepunahan tubuh dan roh, tamat sempurna. Itu berarti kita sama dengan mereka yang menganut paham materialisme yang tidak percaya akan adanya realitas dan energi rohani di dalam dan di balik yang materiil-jasmani ini. Maka tidak ada masa depan kekal, tidak ada janji-janji tentang Kerajaan Allah akan mewujud dalam langit baru dan bumi baru. Jadi hidup ini sepenuhnya fana dan sementara.
Ketiga, jika "kita" adalah orang yang hidup seakan ada pengharapan kekal padahal tidak, maka kitalah orang yang paling bodoh, malang, hidup dalam ilusi. "Kita" di sini sebaiknya dimengerti lebih dulu sebagai "kami" (eksklusif -- yaitu Paulus dan para rasul) yang telah berjuang, berkorban, menderita berbagai kesukaran dan aniaya fisik bertubi-tubi dalam setiap usaha misi mereka -- demi hal yang kosong. tidak benar, tidak riil! Maka Paulus dan para rasul adalah orang yang paling malang di antara segala manusia. Maka juga "kita" yang menerima kabar khayal / dusta itu adalah paling malang karena satu-satunya kesempatan untuk dihidupi sepenuhnya telah kita abaikan demi harapan akan hidup kekal yang tidak riil. 
Syukur bagi Dia yang bangkit -- Dia sungguh bangkit -- maka ada jalan kelepasan riil bagi masalah dosa; ada pengharapan nyata yang disediakan Allah untuk orang yang percaya Kristus yang bangkit, dan semua doa, usaha, pengorbanan bahkan penderitaan kita demi melayani Kerajaan tidak sia-sia.

Sabtu, 14 April 2018

Menolak Ajaran Salah

Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.  -- 1 Korintus 15:13-16

Mengapa ada pengajaran yang rupanya diterima atau membuat ragu jemaat di Korintus, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Pertama, dari penyimpulan atas mengamati kenyataan -- setiap orang yang mati tidak pernah ada yang bangkit hidup kembali, maka tidak ada kebangkitan orang mati. Ini sudah dikonter oleh Paulus bahwa ada banyak sekali saksi berjumpa dengan Yesus Kristus selama 40 hari sebelum Kenaikan-Nya ke surga. Karena itu kesimpulan dari pengamatan fakta-fakta bumiah ini gugur oleh kenyataan Yesus Kristus sungguh bangkit. Kedua, dari praanggapan kebanyakan filsafat Yunani dan juga agama-agama dunia ini bahwa tubuh adalah penyebab berbagai masalah dan kesengsaraan: dosa, penyakit, kelemahan, penuaan, dlsb. Maka yang esensial adalah roh dan kerohanian. Bahkan keselamatan diartikan sebagai keluputan atau lepasnya roh dari tubuh. Maka, mengajarkan bahwa ada kebangkitan berarti kembali kepada kehidupan bermasalah dan sengsara. Yang lebih baik adalah tidak ada kebangkitan, supaya roh bebas dari berbagai masalah dan sengsara.
Maka jelas di sini ada dua posisi saling bertentangan antara posisi falsafah keagamaan yang tidak menghendaki kebangkitan lalu menganggap kebangkitan tidak ada di satu pihak vs fakta bahwa Yesus sudah bangkit dengan banyak sekali saksi mengalami perjumpaan dengan-Nya dan bahwa ini sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Jadi bukan saja kebangkitan Yesus Kristus harus ditegaskan, ajaran bahwa tidak ada kebangkitan pun harus ditolak. Sebab ajaran merupakan bangunan atau jejaring yang kait mengait dengan ajaran-ajaran lainnya. Jika tidak ada kebangkitan, maka Yesus Kristus tidak mungkin bangkit, berarti kesaksian dan ajaran para rasul tidak benar, maka mereka adalah penyaksi-pengajar-rasul palsu dan seluruh Kekristenan runtuh. Sebaliknya karena Kitab Suci mengajarkan ada kebangkitan, maka dan terbukti Yesus Kristus sungguh bangkit, jadi kesaksian dan ajaran para rasul benar, maka Kekristenan benar. 
Tiga kesimpulan perlu ditarik dari apologetika Paulus ini: 1) jangan sembarang menerima ajaran, pemikiran, asumsi dan praktik yang datang dari dunia ini yang bertolak belakang dengan ajaran Kitab Suci dan fakta-fakta perbuatan Allah; 2) perlunya sungguh mengakar dalam Kitab Suci dan tumbuh dalam pengalaman yang riil akan Tuhan yang hidup dan memakai seluruh kapasitas manusiawi yang dikuduskan untuk mengenali keterhubungan pokok-pokok iman Kristen; 3) sanggup berapologetika bukan sekadar untuk mengalahkan orang lain tetapi untuk "menyelamatkan orang yang disesatkan" ke dalam kebenaran Tuhan. 

Jumat, 13 April 2018

Umat Sakramental

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka. -- Ibrani 1:3-4

Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia. Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! -- Mazmur 22:26-27

Mesias yang menang yang dengan mengalami sengsara dan maut menyatakan bahwa kuasa hidup dari YHWH sanggup mematikan kuasa maut. kini menyampaikan pujian syukur, memberikan persembahan penggenapan nazar kepada sang sumber hidup, YHWH. Dalam Perjanjian Lama kita mengenal beberapa jenis korban persembahan -- korban karena salah dan dosa, korban syukur dan ritual yang menyatakan pemeliharaan TUHAN yang berkelanjutan untuk umat-Nya. Yang diberikan kelayakan untuk menyampaikan korban-korban umat kepada TUHAN adalah Imam Besar. Sang Mesias sekaligus menjadi korban dan Imam Besar Agung -- Ia adalah korban karena dosa dan salah bagi kita, Ia adalah penjamin pemeliharaan Allah sepanjang hidup kita dan Ia kini menjadi pemimpin umat yang besar yang tersebar di seluruh dunia terdiri dari banyak bangsa, suku, klan, keluarga, bahasa sepanjang 20 abad sampai kesudahannya nanti -- Ia menjadi Imam-Nabi-Raja Besar Agung yang memimpin semua umat tebusan-Nya yaitu jemaah yang besar untuk memuji-muji YHWH.
Umat tebusan-Nya memiliki ciri seperti sang Mesias Penebus -- takut akan TUHAN, rendah hati, mencari TUHAN sepanjang hidup dan memiliki hati yang hidup selamanya (untuk YHWH). Seruan pujian mesianis nas ini untuk YHWH juga merupakan undangan untuk semua yang mau percaya kepada-Nya untuk datang ke mezbah persembahan dan makan bersama hidangan yang tersedia karena pengorbanan hidup-Nya. Itu kita rayakan dalam sakramen Perjamuan Kudus di mana dalam iman dengan makan roti dan minum anggur kita duduk sehidangan dengan Yesus Kristus yang di surga. Dan ini memungkinkan kita menghidupi kehidupan yang juga sakramental sifatnya -- kehadiran Allah mewujud nyata dalam keseharian kita -- persekutuan hidup yang mesianis. Puji Tuhan. 

Logika Kebangkitan

Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya. Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. -- 1 Korintus 15:11-13

Dalam ayat-ayat sebelum ini Paulus mengajukan fakta-fakta historis yang melibatkan pengalaman nyata banyak pihak bahwa Yesus Kristus sungguh menampakkan diri kepada mereka. Empat kali Paulus menyebutkan kata "menampakkan diri" -- dan fakta sejarahnya selama 40 hari pasca kebangkitan pasti lebih banyak dari itu dan jauh lebih banyak peristiwa perjumpaan Yesus dan para murid-Nya. Maka dari fakta pengalaman yang melibatkan orang berbeda-beda dan rentang waktu cukup lama, jelas bahwa Yesus Kristus sungguh sudah bangkit!
Mulai ayat 11 Paulus menggunakan argumen logika -- dari landasan pemikiran khusus ke kesimpulan umum, dan kesimpulan umum yang bertolak belakang dengan kesimpulan pertama itu harus ditolak, sebab menerima kesimpulan umum berbeda berarti menolak kenyataan khusus yang terbukti telah terjadi! 
Fakta 1 (Khusus): Kristus sudah bangkit. Kesimpulan 1 (Umum -- Tidak disebutkan oleh Paulus): ada kebangkitan orang mati  Kesimpulan 2 (Pengandaian yang diajarkan oleh beberapa pengajar palsu -- tidak disebut siapa mereka): Tidak ada kebangkitan orang mati. Kesimpulan 3: maka Yesus Kristus pun tidak mungkin bangkit dari orang mati. Kesimpulan 3 ini jelas-jelas bertolak belakang dengan Fakta Khusus begitu banyaknya perjumpaan dengan Yesus Kristus yang bangkit disebabkan Yesus Kristus sendiri berulang kali menampakkan diri kepada mereka. Maka, atas dasar kebangkitan Yesus Kristus yang diberitakan oleh para rasul dan Kitab Suci, semua ajaran yang menolak itu harus ditolak. Itu bukan ajaran benar tetapi ajaran sesat. Pengajar-pengajarnya bukan rasul sejati tetapi rasul palsu, alias BIDAT! 
Pertanyaannya di sini, bagaimana Paulus menyimpulkan bahwa satu kebangkitan bisa berhubungan dan mengakibatkan kebangkitan umum banyak orang mati? Jawab: Karena iman bukan sekadar persetujuan akali tetapi penyatuan hidup orang percaya dengan Yesus Kristus yang hidup -- Yesus Kristus yang hidup berkuasa untuk hidup, hadir, bekerja dalam kehidupan orang percaya dan orang percaya dalam imannya menyatu dengan Yesus Kristus dan mulai kini ikut dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus secara spiritual sampai akhirnya ketika Yesus Kristus datang kedua kali semua yang percaya yang sudah mati akan dibangkitkan dengan tubuh kemuliaan seperti Yesus juga!
Ini merupakan nas sangat bagus untuk menunjukkan pentingnya iman yang berpikir, pikiran yang beriman, pikiran yang dikuduskan dan dikendalikan oleh kebenaran yang bersumber dari Yesus Kristus dan Kitab Suci. Zaman ini zaman pikiran ditidurkan, perasaan dan pengalaman bangkit berjaya. Untuk orang Kristen semua kapasitas yang telah Tuhan ciptakan di dalam kita perlu dipakai dan dikuduskan -- pikiran, perasaan, kemauan, imajinasi, kreatifitas, memori ... semua harus ditumbuh-kembangkan untuk kemuliaan Tuhan. Amin.

Kamis, 12 April 2018

Anugerah Tidak Sia-sia

Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya. -- 1 Korintus 15:10-11


"Aku adalah sebagaimana aku ada" adalah sebuah pernyataan syukur sekaligus klaim menakjubkan dari Paulus. Terutama jika kita mengerti latarbelakang, intelektualitas, status ekonomi-sosial dan kondisi fisik-lingual Paulus. Tiga yang pertama secara logis membuat dia dalam posisi yang amat sangat sukar bisa berubah menjadi pengikut dan penyiar Yesus Kristus yang luar biasa gigih melebihi para rasul yang sempat mengenyam hubungan dan didikan langsung dari Tuhan Yesus. Secara jasmani -- menurut catatan dan lukisan yang ada dalam tradisi Gereja -- ia bersosok tubuh tidak menarik dan mungkin mengidap beberapa penyakit yang bukan saja menyusahkan dirinya tetapi juga orang lain. Lebh lagi, ia bukan orator atau retorik unggul sebab sesuai pengakuannya ia tidak fasih bicara! Ini kendala riil yang dalam ukuran zaman yang menilai isi dari kulit pasti sejak sebelum mulai terjadi kontak orang semacam Paulus telah dalam posisi ditolak. Tetapi kenyataannya dalam jangkauan misi, petobat yang menjadi pemercaya, jemaat-jemaat yang ditanam, pengorbanan karier, posisi, sampai berulang kali menanggung penderitaan fisik dan ancaman maut -- Paulus tidak ada taranya. 
Apa rahasianya? Bukan entusiasme manusiawinya, bukan kejelian memperhitungkan strategi misi, bukan pengandalan pada berbagai metode komunikasi mengena, atau juga apa saja yang dari dulu dan kini cenderung dianggap sebagai kunci keberhasilan dalam PI, misi, kebangunan rohani, pertumbuhan (pertambahan jumlah / kesibukan?) gereja! Rahasianya tiga kali ia sebutkan dalam ayat 10: KHARIS -- ANUGERAH yaitu kasih setia Allah yang menyebabkan yang tidak layak / sanggup beroleh keselamatan; dan, dari sumber anugerah yang sama mengalir melimpah-limpah baik energi maupun berbagai karunia yang memungkinkan orang menjadi instrumen penyelamatan Allah. Kalaupun ia membandingkan diri dan pelayanannya dengan para rasul lain, motifnya adalah untuk menunjukkan keajaiban sumbernya yaitu Anugerah Allah ini!
Rahasia lain ada pada kata "tidak sia-sia" dalam arti bukan saja anugerah itu tidak kosong tetapi penerimanya "tidak menyia-nyiakan" anugerah TUHAN! Dalam pelayanan, bagaimana wujud "tidak sia-sia" itu? Dalam kehidupan spiritual dan pelayanan Paulus dapat kita temukan hal-hal ini: dalam mempelajari Alkitab sampai sungguh berjumpa TUHAN dan kebenaran-Nya, dalam doa tanpa putus untuk seluruh aspek pelayanannya dan jemaat-jemaat yang dihasilkannya termasuk dalam meminta didoakan oleh jemaat-jemaat untuk kualitas kehidupan pelayanannya, dalam kerja tim yang akrab dan saling topang, dalam kepekaan dan ketaatan kepada pimpinan Roh serta berbagai kharisma dari-Nya. Singkat kata tidak satu pun dari alat dan andalan rasul besar ini yang senjata pelayanannya bersifat duniawi, kedagingan! 

Ya TUHAN, Allah semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkau kuat, ya TUHAN, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu. -- Mazmur 89:9


Rabu, 11 April 2018

Rindu Jumpa Yesus

Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. -- 1 Korintus 15:8-9

Mungkin yang dimaksud Paulus bahwa ia melihat Yesus Kristus menampakkan diri kepadanya itu: entah ketika Yesus Kristus menampakkan diri kepadanya di jalan dari Yerusalem ke Damaskus ketika ia dalam misi jahat dengan restu pemuka Yahudi akan menangkapi para pengikut Yesus, atau ketika sesudah bertobat ia pergi ke tanah Arab dan diajar langsung oleh Yesus Kristus (Galatia 1), atau ketika ia mengalami pengangkatan ke surga ketiga dan bertemu dengan Tuhan (2 Korintus 12)  -- yang jelas semua ini menegaskan bahwa ia termasuk mereka yang menjadi saksi Yesus Kristus yang sungguh sudah bangkit. 
Pengalaman berjumpa Yesus Kristus yang bangkit ini dinyatakan Paulus sebagai yang terakhir untuk menunjukkan bahwa itu menjadi peristiwa yang menjadi akhir dari pemanggilan rasul -- sehingga ia adalah rasul terakhir dan itu membuat ia bagaikan lahir dengan proses mendadak dan lebih cepat (seperti anak yang lahir prematur -- sebutan ini dipakai di dunia politik Roma tentang orang-orang yang sebenarnya tidak pantas beroleh kedudukan menjadi senator). Itulah sebab Paulus menyebut dirinya rasul terakhir, yang paling hina karena sebagai penganiaya murid Yesus Kristus -- bagaimana mungkin anugerah Tuhan lalu mengubah dia menjadi rasul Yesus Kristus. Justru oleh karena ketidaklayakan inilah ia menjadi rasul paling gigih, paling bersemangat, paling berani terus-menerus maju merebut wilayah-wilayah dunia Romawi-Yunani untuk Tuhannya.
Pengalaman rohani dimungkinkan oleh dua faktor. Pertama dan paling utama adalah karena Yesus Kristus adalah Tuhan yang sudah bangkit dan hidup -- melebihi cara dan lingkup Ia berjumpa orang-orang di Yudea, Galatia, Samaria semasa Ia hidup, Ia yang sama dalam Tubuh Kebangkitan yang mulia dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu kini sanggup dan sudi menjumpai orang-orang di berbagai belahan dunia. Kedua, kata kerja yang dipakai tentang penampakan Yesus ini juga menyiratkan aktivitas aktif penuh konsentrasi pada yang melihat. Terutama untuk kita yang sudah mengaku pengikut Yesus Kristus, kita perlu memiliki kerinduan besar, iman sungguh, ekspektasi tinggi untuk berbagai pengalaman rohani yang Tuhan sediakan bagi kita.
Tentu saja perjumpaan itu bisa terjadi dalam berbagai cara -- perjumpaan dalam perenungan Alkitab seperti dua murid Emaus dibukakan makna Kitab Musa, Mazmur dan Nabi-nabi oleh Yesus, juga dalam sakramen pemecahan roti dalam peristiwa yang sama, atau bisa juga dalam peristiwa seperti yang rasul Paulus alami ini. Kita perlu pengalaman rohani lebih dalam bukan supaya kita menjadi makin besar tetapi seperti teladan Paulus ini, justru supaya kita makin menyadari betapa besar dan ajaib anugerah-Nya bagi kita dan betapa rendah dan tidak  layaknya kita sesungguhnya di hadapan Dia. Kiranya rindu besar akan perjumpaan seturut ketetapan-Nya dan rendah hati yang mendalam -- semakin membentuk di dalam kehidupan kita. Amin.

Selasa, 10 April 2018

Yesus Kristus Hidup!

Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, -- Lukas 24:44-46
Sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.  -- 1 Korintus 15:3-7

Paulus menegaskan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus 1) sesuai dengan Kitab Suci, dan 2) benar-benar merupakan fakta dalam sejarah. Menurut Yesus sendiri, tiga kelompok kitab dalam Kitab Suci Perjanjian Lama telah membicarakan tentang karya penyelamatan oleh-Nya itu. Sebut saja tentang ular tembaga Musa yang dirujuk di Yohanes 3 14, Mazmur 22 yang dirujuk oleh Petrus dalam khotbah perdananya di Hari Pentakosta, dan hamba Tuhan yang menderita dalam Yesaya 53. Dengan kata lain kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah penggenapan dari berbagai janji, ajaran, peristiwa penyiapan dan pelambangan serta visi yang terjadi dalam era dan diwahyukan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Maka Yesus Kristus perlu dimengerti dalam perspektif Perjanjian Lama dan sebaliknya Perjanjian Lama harus dihidupi dalam dinamisme hidup dan karya Yesus Kristus. Itu sebabnya pembacaan dan perenungan Perjanjian Lama relevan untuk kehidupan Kristen segala masa.
Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah dengan akibat kepercayaan kepada Yesus Kristus adalah satu-satunya dalam dunia ini yang merupakan realitas spiritual yang relasional dan personal. Kepercayaan Kristen adalah hubungan pribadi yang riil -- iman, harap dan kasih --  antara pemecaya dan Yesus Kristus sedemikian rupa melebihi sekadar ajaran filosofis-moral-wawasan hidup keagamaan atau apalagi hanya mitos keagamaan. 
Memang -- seperti halnya semua catatan dalam keempat Injil -- juga catatan tentang kebangkitan Yesus Kristus oleh Paulus ini ada beda dan uniknya. Terutama ini bukan catatan kronologis, juga mengingat ada rentang waktu 40 hari sejak kebangkitan sebelum Yesus Kristus kembali ke surga, maka pasti ada banyak perjumpaan lain di luar yang dicatat Injil-injil yang sungguh dialami oleh para murid akan Ia yang bangkit. Intinya dengan menyodorkan fakta-fakta perjumpaan personal dan masal ini kita dikuatkan untuk percaya bahwa Yesus Kristus yang bangkit itu bukan fatamorgana, bukan ilusi atau halusinasi tetapi perjumpaan nyata.
Yesus Kristus sungguh hidup! Kini Ia bahkan tidak lagi dibatasi oleh sekat waktu dan tempat -- berarti sambil mengenal Dia dalam terang penyataan Alkitab kini kita sungguh dapat mengalami Dia secara personal dan riil dalam ruang tidur kita, dalam hubungan keluarga kita, dalam dunia kerja kita, bahkan kita boleh memperkenalkan Dia ke dalam berbagai kegiatan sosial yang memungkinkan tanda-tanda kehadiran-Nya menjadi nyata. Puji Dia. Amin.

Jumat, 06 April 2018

Akar Alkitabiah

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. -- 1 Korintus 15"1-2

Dalam perjalanan misi Paulus yang kedua tiga kota yang merupakan pusat peradaban Yunani, dicapai oleh Injil. Atena, Korintus dan Efesus tepat dibilang mewakili pusat intelektualitas, perdagangan dan spiritualitas dunia Yunani ketiganya dicapai oleh Injil yang Paulus beritakan sesuai catatan Kisah Para Rasul 17 dan 18. Di ketiga kota itu Injil yang Paulus beritakan berhasil memenangkan beberapa orang yang boleh disebut tokoh dalam komunitas setempat menjadi pemercaya Kristus. Termasuk di Korintus yang boleh dianggap sebagai mengkonsentrasikan tiga ciri peradaban Yunani -- komersialitas, intelektualitas, dan spiritualitas -- Injil Yesus Kristus berhasil menanamkan jemaat.
Lalu selang berjalannya waktu Paulus mendengar berbagai perkembangan yang tidak menyukakan hatinya tentang para pemercaya di Korintus. Benih yang telah tumbuh di tanah komersialitas, spiritualitas, intelektualitas dunia itu terancam menjadi "sia-sia" -- bantut, tidak mengakar, tidak tumbuh sehat dan kuat -- bagaikan benih dalam perumpamaan Yesus yang masuk ke tanah berbatu-batu, atau yang tumbuh terjepit di antara semak duri. Ini sebabnya Paulus mengemukakann kembali intisari Injil -- euangelion, kabar baik tentang Yesus Kristus yang mati dan bangkit yang seharusnya menjadi penentu seluruh segi kehidupan sementara dan kekal, inelektualitas, spiritualitas, finansial, moralitas,... bahkan politis pun. 
Bahaya lupa akar, mengabaikan fondasi bangunan iman, menyepelekan tradisi doktrinal alkitabiah sungguh mengancam baik orang tua maupun orang muda, baik jemaat Korintus yang baru sekitar 6 tahunan sejak mulanya menerima Injil yang Paulus beritakan maupun diri kita, keluarga kita, gereja kita yang mungkin baru beberapa tahun percaya atau sudah lebih dari setengah abad tumbuh. Percaya, menjadi selamat, mengalami kuat kuasa pembaruan dari kematian dan kebangkitan Yesus adalah peristiwa berkesinambungan, bukan sekali mulai otomatis selesai tuntas. Percaya, kehidupan spiritualitas dan ke semua serta ke keseluruhan segi dampaknya adalah kenyataan yang berproses -- pertumbuhan akar ke dalam (yang tidak kasat mata di publik) dan perkembangan pembuahan ke luar harus dipastikan berlangsung terus sehat dan benar sesuai dengan euangelion, kabar baik tentang Yesus Kristus sebagaimana yang Kitab Suci ajarkan. Apabila akar/fondasi mulai goyah ada kemungkinan seluruh pertumbuhan di atas dan keluar akan bantut, melenceng, dan akhirnya "sia-sia percaya." Karena itu, peliharalah akar / fondasi, tradisi Injil yang sesuai kata Kitab Suci!