Sabtu, 22 Desember 2012

Keselamatan


Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. - 2 Korintus 5:21
 

Jika kita Kristen, kita telah diselamatkan sebab karunia pembenaran Allah telah menyelamatkan kita dari hukuman dosa; kita sedang diselamatkan sebab tiap hari kita dipelihara dari kuasa dosa; dan kita akan sepenuhnya selamat ketika kita bebas dari kehadiran dosa dan dari semua jejak dosa pada kedatangan Kristus. Inilah tiga aspek keselamatan, yang dialami melalui tiga cara berikut.

            Pertama, kurban kematian Kristus yang melaluinya Allah membuat penyediaan keselamatan. Ia menjadikan diri-Nya tebusan bagi banyak orang, mencurahkan darah-Nya seperti domba tak bercela (Mt. 20:28; 1Ptr. 1:9; Ibr. 9:22).

            Kedua, iman, lepas dari perbuatan, adalah cara kita menerima keselamatan. Iman adalah langkah jiwa dalam percaya dan komitmen kepada obyek dengan tiga aspek: Allah dari Alkitab; Kristus dari Allah, yang juga adalah Kristus dari Alkitab; dan ajaran serta janji dari Allah, yang adalah ajaran dan janji dalam Alkitab. Iman menerima kebenaran Alkitab dan memercayai pribadi – atau tepatnya ketiga pribadi Allah. Pertobatan yang berarti memalingkan akal budi seseorang, adalah sisi negatif dari iman. Pertobatan berkata “Tidak” kepada jalan-jalan  fasik agar seterusnya berkata “Ya” kepada Kristus.

            Ketiga, kelahiran baru oleh Roh adalah cara Allah memberikan keselamatan. Seperti Yesus berkata kepada Nikodemus, orang tidak dapat melihat atau masuk ke dalam kerajaan Allah (kenyataan keselamat) tanpa dilahirkan kembali (Yoh. 3:3-5). Artinya manusia dalam dosa tidak memiliki kuasa untuk berpaling kepada Allah dan beriman kecuali Roh Kudus bekerja dalam hati (Yoh. 6:44; Rm. 8:7-8; 1Kor. 2:14).

 
Lihat lagi ayat-ayat di atas dan ucapkan syukur kepada Allah untuk apa yang telah Ia lakukan bagi Anda.

Berdoalah agar Ia akan melakukan yang sama kepada orang yang Anda kenal.

Jumat, 21 Desember 2012

Anugerah


Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. - Efesus 2:8

 
Anugerah dalam Perjanjian Baru, adalah tindakan kasih Allah kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerima kasih. Allah mengerakkan surga dan bumi untuk menyelamatkan orang berdosa yang tak dapat menggerakkan jari-jarinya untuk menyelamatkan diri sendiri. Allah mengirim Anak-Nya untuk turun ke dalam kerajaan maut di salib-Nya supaya kita yang bersalah boleh didamaikan dengan Allah dan diterima dalam surga.

            Anugerah mencakup baik kehendak maupun perbuatan. Yang pertama adalah rencana kekal Allah untuk menyelamatkan; yang kedua adalah pekerjaan baik Allah dalam Anda (Fil. 1:6) yang memanggil masuk ke dalam persekutuan yang hidup dengan Kristus, membangkitkan dari kematian ke dalam hidup, memeteraikan sebagai milik-Nya oleh karunia Roh-Nya, mengubah menjadi gambar Kristus, dan kelak akan membangkitkan tubuh mereka ke dalam kemuliaan.

            Para teolog Protestan biasa mengatakan bahwa anugerah adalah sikap kasih Allah yang dibedakan dari karya kasih-Nya, tetapi pembedaan ini tidak alkitabiah. Sebagai contoh Paulus menulis: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1Kor. 15:10) jelas menekankan karya kasih Allah dalam Paulus, yang melaluinya Ia menjadikan Paulus pertama menjadi orang Kristen lalu menjadi pelayan-Nya.

            Apakah tujuan anugerah? Untuk memulihkan relasi kita dengan Allah dan memimpin kita ke latihan mengasihi, memercayai, bersukacita, berharap, dan menaati Allah.

 
Apa sajakah “karya baik Allah” dalam Anda? Apakah dasar Alkitab untuk penjelasan itu?

Pujilah Allah atas semua aspek anugerah-Nya terhadap Anda.

Karunia


Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan… Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun.
1 Korintus 1:5, 7
 

Kita benar ketika mengatakan bahwa karunia-karunia rohani datang dari Roh (1Kor. 12:4-31). Namun kita selalu cenderung menganggapnya sebagai bakat (kesanggupan alami) atau suatu kesanggupan baru bersifat adikodrati (berbicara dalam lidah, menyembuhkan, menerima pesan langsung dari Allah untuk orang lain, atau lainnya). Kita belum terbiasa mendefinisikan karunia-karunia dalam rangka Kristus, sang kepala tubuh, dan karya-Nya kini dari surga. Dalam hal ini kita tidak alkitabiah.

            Paulus menjelaskan bahwa karunia rohani diberikan dalam Kristus, adalah pengayaan dari Kristus. 1 Korintus 12 mengandaikan perspektif yang berporoskan Kristus yang dijelaskan dalam 1 Korintus 1:4-7. Penting sekali kita melihat kebenaran ini, atau kita akan mengacaukan antara talenta alami dengan karunia rohani.

            Dalam Perjanjian Baru baik Paulus maupun rasul lain tidak memberikan definisi tentang karunia rohani. Penegasan Paulus bahwa penggunaan karunia membangun (1Kor. 14.3-5, 12, 17, 26; Efs. 4:12) memperlihatkan apa sesungguhnya suatu karunia rohani. Untuk Paulus, hanya melalui Kristus, di dalam Kristus, dan dengan belajar tentang serta merespon kepada Kristus, orang dapat dibangunkan. Maka karunia-karunia rohani harus didefinisikan dalam rangka Kristus sebagai kuasa yang dinyatakan untuk mengungkapkan, merayakan, menyingkapkan, dan mengkomunikasikan Kristus dengan berbagai cara, entah melalui perkataan atau perbuatan.

 
Apakah aku/gerejaku perlu diingatkan tentang kebenaran ini?

Tuhan Yesus, tolongku / kami untuk memahami karunia-karunia rohani yang telah Kau berikan untuk memperlihatkan sesuatu tentang diri-Mu.

Rabu, 19 Desember 2012

Kebutuhan


Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. - Filipi 4:19
 

Bagaimanakah Allah akan menyediakan semua kebutuhan orang Kristen Filipi? Sebagiannya, paling tidak, oleh karya Kristus melalui Roh yang mengaktualkan karunia kemurahan seperti orang Samaria yang baik di antara orang Filipi sendiri. Ketika orang Kristen berbicara satu kepada lain dalam Nama Kristus dan mempraktikkan kepedulian Kristen, secara pribadi Kristus memberkati melalui mereka (2Tes. 3:6; Mrk. 9:41). Seperti ucapan Kristus bahwa “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40), demikian juga dalam kategori itu kita bisa berkata bahwa ketika orang Kristen lain membagikan pengertian, penguatan, dan kelegaan dalam bentuk apa pun kepada kita, Kristus sendirilah yang melayani, memberikan kita berbagai manfaat tadi melalui mereka (2Kor. 13:3; Rm. 15:18).

            Dari surga Kristus memakai orang-orang Kristen menjadi mulut, tangan, kaki, bahkan senyum-Nya; melalui kita, umat-Nyalah, Ia berbicara dan bertindak, menjumpai, mengasihi, dan menyelamatkan di sini dan kini dalam dunia ini. Ini merupakan sebagian arti dari gambaran Paulus tentang gereja sebagai tubuh Kristus di mana semua orang Kristen adalah anggotanya – anggota tubuh atau organ yang bertindak menurut gerakan Kristus sang kepala tubuh.
 

Ucapan ini kiranya meluputkan kita dari kemalasan atau kekalutan: “Allah tidak memiliki tangan kecuali tangan kita” dan “…ribuan orang menuruti perintah-Nya melintas daratan dan lautan tanpa istirahat” (Milton).

Tuhan, aku serahkan diriku dan potensiku ke dalam tangan-Mu hari ini dengan segala kesempatan di dalamnya.

Selasa, 18 Desember 2012

Nama itu Ajaib


Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: "Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?" - Hakim-hakim 13:18
 

Jawab malaikat Tuhan tentang nama-Nya, dari satu sisi agak samar; dari sisi lain itu undangan untuk merenung, berpikir, dan menyembah. Manoah benar ketika berkata bahwa mereka telah melihat Allah (13;23), Allah sendiri bertindak seolah malaikat utusan-Nya.

            Ketika kita berpikir tentang Allah sebagai Allah yang melakukan hal-hal ajaib, kita ingat bagaimana Ia mencipta dunia dengan memanggilnya dari ketiadaan, dan Yesus mengubah air menjadi air anggur, memberi makan empat ribu dan lima ribu orang, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati. Pastilah, Allah adalah Allah atas mukjizat. Dalam Alkitab mukjizat-mukjizat mengitari saat-saat agung penyataan untuk menarik perhatian manusia tentang apa yang sedang terjadi.

            Dalam kisah Manoah, istrinya, dan malaikat Tuhan (Hkm. 13), keajaiban kasih Allah tampil dalam banyak cara. Israel telah berdosa, Allah dalam penghukuman-Nya membuang mereka ke dalam tawanan, dan kini Allah mengambil inisiatif dan mulai bertindak untuk keselamatan dan pemulihan mereka.

            Bagaimana Ia melakukan itu? Ia datang ke seorang perempuan mandul dan memberitahu bahwa ia akan mendapat seorang anak yang khusus yang akan membebaskan umat-Nya. Dan kemudian itu terjadi! Bayang-bayang Yesuskah? Ya – secara harfiah! Di sini kita tidak saja memiliki suatu keajaiban kuasa Allah, tetapi juga kemurahan, kesetiaan, dan kasih-Nya.

 
Penguatan: Semua hal yang telah Allah janjikan kepada Anda, akan ia lakukan.

Tuhan, aku percaya janji-Mu… dan menaruh percaya dalam kuasa, kasih, dan kesetiaan-Mu.

Senin, 17 Desember 2012

Allah yang Berotoritas


Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. - Hakim-hakim 13:3-4
 

Malaikat Tuhan memberitahu istri Manoah bahwa ia akan mendapat seorang putra yang akan hidup sebagai seorang nazir. Ia akan dibaktikan khusus untuk Allah dan menjalani berbagai aturan yang menjadi tanda fakta itu: menjauhi minuman keras dan tidak boleh cukur. Selain itu, istri Manoah pun harus menjauhi minuman keras dan makanan yang tidak halal. Hanya sekali itu dalam Alkitab seorang calon ibu diberi petunjuk sejelas itu. Istri Manoah bisa saja bertanya mengapa ia diberi larangan itu. Jika ia lakukan itu, jawabnya adalah, “Karena Aku berkata demikian.”

            Allah membuat aturan. Ia tidak harus menjelaskan alasannya. Tugas kita adalah menaati. Allah tidak memberitahu istri Manoah mengapa Ia memberi petunjuk tertentu seperti juga Ia tidak menjelaskan kepada Gideon mengapa ia harus mengurangi pasukannya sampai hanya sekelompok kecil. Kita bisa menduga-duga, tetapi akhirnya kita hanya berpegang pada prinsip bahwa Allah anugerah berhak membuat aturan.

            Andai kita berkata, “Tetapi Allah, masakan Engkau ingin aku melakukan itu – tidak beralasan,” kita mungkin tidak akan menerima jawaban kecuali gema perkataan Allah dalam hati nurani kita. Seringkali kesombongan membuat kita menanyakan alasan dan membuat kita enggan. Adam dan Hawa mempertanyakan alasan perintah Allah dan akhirnya tidak taat. Iblis yang mencobai mereka, akan mencobai kita juga dengan cara yang sama. Istri Manoah tidak menanyakan penjelasan, ia taat saja, dan ia menerima berkat yang telah Allah rencanakan bagi mereka.

 
Andai aku yang diminta Maria (Yoh. 2:5), apa reaksiku?

Tuhan, tolongku memercayai kasih-Mu bahkan ketika Engkau tidak memberiku alasan apa pun.

Sabtu, 15 Desember 2012

Allah yang Konsisten


Berkatalah Manoah kepada isterinya: "Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah."

Tetapi jawab isterinya kepadanya: "Seandainya TUHAN hendak membunuh kita, maka tidaklah Ia menerima korban bakaran dan korban sajian dari tangan kita dan tidaklah Ia memperlihatkan semuanya itu kepada kita dan tidaklah Ia memperdengarkan hal-hal yang demikian kepada kita pada waktu sekarang ini." - Hakim-hakim 13:22-23
 

Dalam reaksi panik Manoah terkesan ada hikmat. Ia tahu Allah Israel kudus adanya dan manusia berdosa yang menatap Dia tidak dapat bertahan hidup. Ingat bagaimana Yesaya ketika melihat Allah di Bait (Yes. 6)? Hanya penyelamatan dari Allah sendiri dapat meredakan ketakutan ini. Kepanikan itu membuktikan bahwa meski Manoah teliti, ia tidak kenal benar agamanya. Ia belum menyadari bahwa Allah dapat diandalkan. Istrinya tahu hal ini. Ia tahu Allah tidak menarik kembali rencana-Nya; jika Ia meninggikan orang, Ia tidak menolak mereka; jika Ia mengikat diri dengan janji-janji-Nya Ia akan memegang perkataan-Nya. Ia memberitahu suaminya bahwa Allah pasti tidak akan melenyapkan mereka sesudah menerima kurban bakaran mereka dan memberitahu tentang kelahiran anak mereka serta rencana ilahi untuknya. Singkat kata ia berkata kepada Manoah: Allah tidak berubah-ubah – Ia konsisten! Tenanglah! Bersukacitalah!

            Ada banyak situasi yang kita rasa Allah sedang menghancurkan pengharapan yang Ia berikan kepada kita. Itulah yang dirasakan oleh dua murid yang menuju Emaus. Kita percaya bahwa Yesus penebus Israel, ujar mereka. Tetapi kini lihat apa yang terjadi. Ia mati. Yusuf mungkin juga memiliki perasaan yang sama sewaktu dipenjara di Mesir. Bagaimana dengan semua visi kebesaran yang Allah berikan kepadanya sewaktu ia remaja? Tetapi kita tahu bagaimana akhir kedua kisah itu. Pengharapan yang telah Allah berikan sungguh digenapi, meski tidak seperti yang diharapkan semula.

            Reaksi panik pada saat stres dan trauma membawa kita ke kesimpulan salah.

“Allah telah melupakan kita.” “Allah membinasakan kita.” Bagaimana menjawabnya?

Tuhan, kasih-Mu di masa lalu melarang kami berpikir Engkau akan meninggalkan kami tenggelam dalam masalah! Terima kasih atas kesetiaan-Mu kepada maksud-Mu.

Jumat, 14 Desember 2012

Pertemuan dengan Allah

Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah. - Hakim-hakim 13:20
Manoah tipe pria yang rewel, sombong, sangat religius dan teliti. Istrinya menceritakan yang terjadi, tetapi ia merasa perlu memeriksa sendiri. Mungkin ia menyesali “manusia Allah” datang kepada istrinya dan bukan kepadanya. Pokoknya, ia meminta agar Allah mengutus lagi manusia Allah itu kepada mereka. Doanya dijawab, tetapi lagi-lagi utusan Allah itu menemui istrinya dulu! Istrinya memanggilnya dan ia datang lalu berkata, “engkaukah yang telah berbicara kepada perempuan ini?” (11). (Bukan “istriku” tetapi “perempuan ini” – perhatikan nuansa itu!) ketika malaikat Tuhan mengiakan, dengan kesopanan timur ia lanjut,“apabila terjadi yang Kaukatakan itu, bagaimanakah nanti cara hidup anak itu dan tingkah lakunya?" (12). Utusah ilahi itu (sebab malaikat Tuhan itu sesungguhnya adalah suatu teofani - penampakan ilahi) menjawab: Apa yang kukatakan ini kepadamu, sesungguhnya telah kukatakan lebih dulu kepada istrimu; mengapa kamu ingin aku mengatakannya kembali?
Percakapan itu berlanjut dan kemudian Manoah, atas usul utusan itu, memberikan kurban bakaran untuk Tuhan. Ketika api dan bersamanya pelawat ilahi itu naik ke surga, Manoah menyadari bahwa ia telah berjumpa langsung dengan Allah sendiri dan itu membuatnya panik. Sekali lagi istrinya bicara tepat!
Jika Anda pria yang telah menikah, bolehkah saya bertanya apakah Anda sedia mendengar nasihat istri Anda? Jika tidak, Anda sungguh bodoh!
Apakah aku bersedia belajar dari siapa saja yang dapat menolongku mengenal diri atau Allah lebih baik? Hati-hati dengan anggapan, “Tidak ada yang dapat ia ajarkan kepadaku.”
Tuhan, tolongku rendah hati untuk belajardari orang lain. Ampuni sikapku merasa diri lebih dari…

Kamis, 13 Desember 2012

Allah yang Memulihkan


Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang… kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib. - Yoel 2:25-26


Jika ketika mengemudi saya masuk ke dalam rawa, seharusnya saya tahu bahwa saya telah keluar dari jalan. Tetapi pengetahuan itu tidak memberikan penghiburan jika saya harus berdiri tak berdaya memandang ke mobil saya yang tenggelam lenyap ditelan rawa. Samakah yang terjadi ketika seorang Kristen sadar bahwa ia telah kehilangan pimpinan Allah dan mengambil jalan salah? Apakah kerusakan yang terjadi tidak mungkin lagi diperbaiki? Apakah kini ia harus dikeluarkan dari perjalanan hidup?

            Puji Allah, tidak. Allah kita tidak saja Allah yang memulihkan, tetapi mengambil kesalahan dan kebodohan kita ke dalam rencana-Nya untuk kita dan mengubahnya menjadi kebaikan. Itulah bagian dari keajaiban kedaulatan anugerah-Nya. Yesus yang memulihkan Petrus sesudah penyangkalannya, dan lebih dari sekali mengoreksinya sesudah itu, adalah Juruselamat kita kini dan Ia tidak berubah. Allah tidak saja mengubah kemarahan manusia menjadi kepujian-Nya tetapi juga pengembaraan sesat orang Kristen.

            Allah tidak hanya membimbing kita dengan memperlihatkan jalan yang harus kita tempuh; Ia juga mau membimbing kita secara lebih mendasar dengan meyakinkan kita bahwa, apa pun yang terjadi, kesalahan apa pun yang kita buat, kita akan selamat tiba di rumah-Nya. Tergelincir dan tersesat, boleh jadi akan terjadi, tetapi lengan kekal menopang kita; kita akan tertangkap, diluputkan, dipulihkan.

Apakah Anda merasa terperangkap dalam “kebaikan kelas dua” dari Allah karena sebelumnya pernah menyimpang? Sadari perasaan itu tidak perlu dan tidak berdasar, sebab akan membuat Anda terus kalah.

Tuhan, bersihkanku dari kesalahan dan kuasa dosa… (apa pun itu). Aku menerima pengampunan-Mu dan memercayai-Mu untuk memulihkanku dan situasiku sepenuhnya, sehingga kini aku mengalami yang terbaik dari kehendak-Mu dalam hidupku.

Rabu, 12 Desember 2012

GAGAL?

 
Andai malam sebelumnya Petrus cs berhasil menangkap ikan,
Perahu mereka pasti penuh tangkapan,
Pagi itu mereka akan meluap dengan kesukaan
Mengurusi ikan-ikan tangkapan yang akan dijual di pasar;
Maka tidak akan terjadi kesempatan perahu Petrus dipinjam Yesus,
Untuk dijadikan mimbar darurat tempat Ia berkhotbah ke orang banyak,
Dan tanpa kesempatan itu Petrus tidak akan sempat mendengar
KhotbahNya yang berkuasa yang mungkin sekali menjadi sebab
Mengapa ia mau juga mencoba menangkap ikan lagi,
Meski sebagai seorang nelayan kawakan ia tahu bahwa
Yang bicara bukan nelayan tetapi tukang kayu,
Dan saat itu sudah bukan saatnya untuk menangkap ikan.
Karena kesempatan mendengar itu - Petrus mencoba menuruti kata2Nya
Dan, perahunya hampir tenggelam karena sarat tangkapan
Lalu celiklah mata hatinya bahwa ia ada di Hadapan Yang Kuasa,
Maka sujudlah ia mengakui keberdosaannya,
Dan, dalam ajaib anugerahNya Petrus mendengar sebuah kalimat indah:
"Ikutlah Aku, engkau akan Kujadikan penjala orang."


Gagal --> Perahu Kosong --> Mimbar Darurat --> Dengar Khotbah --> Alami kuasaNya --> Sadar diri berdosa --> Terima PanggilanNya

 JADI BGM PASNYA KITA MENYIKAPI SUATU KEGAGALAN?

Jumat, 07 Desember 2012

Kemurnian Hati

Janganlah seperti orang munafik. - Matius 6:5

Kata asal untuk munafik (hipokrit) ialah pemain drama.dalam teater purba, jauh hari sebelum ada alat rias, para aktor memakai topeng yang menampilkan tokoh yang ia perankan. Semua yang menonton akan keliru bila menyangka bahwa mereka melihat manusia dengan sifat atau kehidupan nyata. Yang mereka lihat hanya orang-orang memainkan berbagai tokoh dan adegan, untuk menghibur, menimbulkan kesan dan dipuji.

            Maka Yeus memberitahu para murid-Nya untuk tidak hipokrit – dalam hal ini orang Farisi – dalam persembahan, doa, dan puasa (Mat. 6:1-18). Orang Farisi, menurut Yesus, hanya melakukan tindakan-tindakan supaya dilihat dan dianggap saleh oleh orang yang melihatnya. Tetapi Allah tidak suka dengan sikap itu. Allah akan melihat tetapi tidak bertepuk tangan, sebab Ia tahu bahwa tujuan tindakan itu bukan untuk-Nya tetapi untuk diri mereka sendiri.

            Yesus memegang prinsip jauh lebih tinggi seperti dalam ucapan bahagia keenam: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, sebab mereka akan melihat Allah”(Mat. 5:8). Murni hati berarti lebih dari sekadar memiliki hati dan pikiran yang bebas dari pikiran dan hasrat yang biasa disebut najis; melainkan hal itu adalah sikap yang menempatkan Allah sendiri sebagai tujuan dan menginginkan kesukaan, kehormatan, pengenalan, pemujaan, dan keakraban dengan-Nya lebih di atas segalanya.

            Paruh pertama Matius 6 seluruhnya adalah khotbah tentang kemurnian hati dengan tiga lukisan kegiatan hidup para murid – memberi, berdoa, dan berpuasa. Tidak boleh ada kemunafikan, kedangkalan, keanehan atau pameran dalam hal-hal ini atau lainnya dalam ibadah dan pelayanan Kristen.

 
Pikirkan tentang jenis situasi dan kejadian di mana saya merasa senang dengan diri sendiri. Apa yang hal tadi perlihatkan tentang siapa yang ingin saya sukakan dan peroleh perkenan darinya?

Tuhan, di mana ada motif yang tak murni dalamku, tolongku mengakuinya dan tidak berpura-pura itu tidak ada.

Kemuliaan Allah


Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. - 1 Korintus 10:31
 

Ketaatan Kristen harus memiliki motif dan tindakan yang benar. Kebanyakan motif adalah reaksi kepada situasi atau orang yang dikendalikan oleh faktor luar (takut atau syukur) atau sebaliknya adalah ketetapan dari dalam hati (mengejar kekayaan atau reputasi). Kasih adalah motif kompleks yang mengandung kedua unsur itu; ia bisa merupakan reaksi dengan maksud baik, yang dipicu dan diberdaya oleh penghargaan kepada orang yang dikasihi, sekaligus merupakan ketetapan untuk memberi manfaat dan kebahagiaan, tanpa mempertimbangkan kelayakan penerimanya atau biayanya.

            Motif tertinggi orang Kristen selalu harus untuk memuliakan Allah, dan sebagai ungkapan sejati dari kasih kepada-Nya. Tetapi kasih kepada sesama demi Tuhan harus memotivasi kita juga, dan hal ini telah menjadi topik perdebatan cukup lama. Bagaimana kasih dapat menentukan kelakuan saya kepada sesama saya?

            Kita perlu menolak ide situasional bahwa peraturan alkitabiah tentang perilaku hanya petunjuk dengan aplikasi yang luas, dan bahwa perhitungan yang sehat dapat membuat pelanggaran terhadap hukum menjadi baik dan benar. Pada saat sama penting disadari bahwa semakin kasih kepada sesama menjadi motif bagi tindakan, semakin usaha dan keahlian kita melakukan ungkapan kasih akan meningkat, di dalam batas yang Hukum Allah tetapkan, sehingga itu menjadi cara bertindak yang paling baik dan paling berhasil.
 

Renungkan: Melakukan yang baik untuk orang lain harus melibatkan diri kita dan bukan hanya tindakan kita.

Tuhan, dalam apa pun yang aku lakukan untuk orang lain hari ini, tolongku untuk memberi sesuatu dari diriku juga.

Kekudusan


Siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu. - 1 Petrus 1:13-15

 
Ayat-ayat ini memperingatkan kita terhadap tiga kejahatan yang dapat menghancurkan kehidupan Kristen kita. Pertama kelambanan – karena itu “siapkanlah akal budimu,” konsentrasilah! Yang kedua keteledoran, yang merupakan ciri orang mabuk – maka, “waspadalah,” disiplin dirimu, miliki tujuan hidup jelas dan waspadalah. Yang ketiga adalah pikiran bercabang, yaitu kejahatan yang diakibatkan karena terlalu memperhatikan daya tarik dunia ini dan tidak cukup memperhatikan prospek yang Allah janjikan bagi kita – maka “letakkanlah pengharapanmu seluruhnya” ke hari penyataan Yesus Kristus.

            Kehidupan kudus didorong oleh pengharapan kemuliaan dengan Kristus. Untuk orang Kristen seperti para pembaca Petrus dulu yang kini hidup di bawah rezim yang memusuhi Kristen, menghadapi kesukaran dan perlakuan buruk karena Kristus, pengharapan ini sungguh memberikan kestabilan dan penguatan.

            Pengharapan adalah motif yang berpengaruh besar untuk kehidupan kudus. Petrus lalu menambahkan dua hal lain. Pertama hak istimewa Kristen (18-21) yang memancar dari pengenalan akan tiga hal: pertama, nilai darah Kristus yang telah dicurahkan untuk mereka; kedua, kepedulian Allah atas penebusan mereka, yang telah menetapkan Anak-Nya untuk tugas itu sebelum mereka ada; ketiga, pengangkatan mereka menjadi putra-putri Allah melalui kelahiran baru. Motif kedua adalah rasa hormat mereka kepada Allah yang selain hakim yang adil juga berelasi dengan mereka sebagai bapa. Hormat anak-bapa inilah arti takut akan Allah (17).

 
Langkah apa harus ku ambil untuk membuat akal budiku siap? Apakah program gereja kita menjelaskan arti hal itu dan mendorong tindakan itu?

Tuhan, aku beranikan diriku dengan pemikiran tentang langit dan bumi baru yang akan datang.

Hukum Kristus


Penuhilah hukum Kristus. - Galatia 6:2
 

Memang tiap situasi unik dan hanya dengan mengenali kekhasan tiap situasi kita dapat menyimpulkan hal terbaik apa dapat kita tarik darinya. Juga benar bahwa kasih membuat orang selalu menginginkan yang terbaik bagi orang yang dikasihi dan yang dimaksud bukan sekadar perbuatan benar secara formal atau menghindari kesalahan melainkan keinginan untuk selalu berbuat hal yang lebih baik. Penekanan bahwa kasih sejati bersifat kreatif, penuh upaya, dan ketidaksediaan untuk puas dengan hal baik yang bukan terbaik dalam relasi adalah sikap yang terdapat dalam pandangan situasionisme.

            Tetapi sikap itu menyimpang dalam penolakan mereka bahwa ada tindakan yang dalam dirinya bersifat immoral, jahat, dan dilarang. Anggapan salah itu merusak.

            Perjanjian Baru menegaskan bahwa meski relasi kita dengan Allah tidak lagi ditentukan oleh hukum sebab Kristus telah membebaskan kita dari hukum sebagai sistem keselamatan, kita kini di bawah hukum Kristus sebagai standar pengudusan.

            Dengan menyangkali bahwa ada hal yang Allah larang secara universal, kita memerangkap kasih ke dalam kebingungan. Bagaimana saya harus mengasihi sesama saya? Dengan menyesuaikan diri dengan situasi, demikian kita dianjurkan. Tetapi bagaimana saya mendefinisi situasi? Semua definisi bisa lahir menurut kemauan siapa saja dan terbuka untuk ditantang. Dan sesudah didefinisi, bagaimana saya dapat meyakini apa hal terbaik untuk dikasihi? Kompas moral saya tidak selalu dapat diandalkan, dan saya terhambat oleh dosa dan ketidaktahuan. Saya butuh hukum Allah untuk membimbing; dan tidak ada benturan antara menjalani perintah Allah dan mengasihi sesama saya. Justru keduanya berjalan bersama (1Yoh. 5:2). Hukum adalah matanya kasih; kasih adalah hatinya hukum.

Berpikirlah lebih banyak tentang hukum dan orang Kristen (Untuk awal: Rm. 6:14; 7:1-6; 10:4; 1Kor. 6:21; Gal. 3:23-26).

Tuhan, tolongku untuk kreatif dan penuh usaha dalam mengasihi orang lain – dalam batas yang Engkau tetapkan.

Hari Kudus

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. - Keluaran 20:8

Orang Puritan memiliki cara arif untuk mengungkapkan hari Minggu. Untuk mereka hari Minggu adalah Sabat Kristen, dan mereka biasa menyebutnya “hari pasar jiwa.” Jadi untuk mereka hari Minggu bukan untuk bermalasan, tetapi hari untuk berhenti dari urusan panggilan bumiah agar boleh mengejar urusan panggilan surgawi kita. Juga, bukan untuk menjadi beban membosankan, tetapi merupakan hak istimewa menyukakan; bukan puasa tetapi pesta; bukan kerja tak berguna tetapi alat anugerah.

            Agar mendapat manfaat penuh dari hari Minggu, mereka menasihati kita untuk menyiapkan diri – membebaskan diri dari hal-hal yang menyimpangkan perhatian dan beban lalu meluangkan waktu untuk memeriksa diri, pengakuan dosa dan doa pada hari Sabtunya.

            Ibadah umum harus menjadi pusat hari Minggu, dan orang Puritan tidak simpati pada mereka yang mengeluh tentang lamanya waktu ibadah, meski Baxter menasihati para pengkhotbah agar “berkhotbah dengan keseriusan yang hidup dan membangunkan pendengar… dan dengan metode yang mudah serta beragam isi yang bermanfaat agar orang tidak bosan dengan Anda.”

            Orang Puritan menegaskan bahwa keluarga harus berfungsi sebagai unit kehidupan benar di hari Tuhan, dengan kaum pria dalam rumah melakukan tanggungjawabnya untuk memperhatikan jiwa-jiwa dalam isi keluarganya. Pastor Puritan berbeda dari sejawatnya di zaman modern, tidak mengatur agar anak dan wanita menjangkau kaum pria tetapi sebaliknya.

            Ia juga berusaha menghindari jebakan legalisme (hanya memperhatikan pada hal yang tidak boleh dilakukan di hari Tuhan) dan Farisiisme (kebiasaan mencela orang bila terjadi pelanggaran dalam hal ini).

 
Kaum Puritan merasa bahwa kesukaan harus menjadi kunci ibadah umum. Apakah kesukaan merupakan ciri utama ibadah gereja Anda? Jika tidak, mengapa?

Tuhan, apakah kami memanfaatkan penuh alat anugerah-Mu ini?

Kesalehan


Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. - Mazmur 1:1


Mazmur 1 membuka nada dan menfokuskan pemandangan seluruh mazmur-mazmur. Mazmur ini berisi renungan tentang sosok seorang yang saleh, dengan membandingkannya dengan orang fasik. Ketika membaca mazmur-mazmur ingatlah hal ini dalam pikiran Anda.

            Orang yang saleh menjauhi pemikiran dan rencana, perhatian dan sikap mereka yang mengejek kesalehan dan menolak Allah. Sebaliknya mereka bersuka dalam hukum Allah. Mengapa? Sebab mereka bersuka akan Allah sendiri sumber dan isi kesaksian hukum. Inilah jalan orang benar, dalam kontras dengan jalan orang fasik.

            Buah dari kehidupan benar adalah Kesalehan dalam perilaku, pengaruh kebaikan, dan kontribusi positif kepada kesejahteraan orang lain. Dalam artian tadi orang fasik jelas-jelas tidak berbuah; dosa menjadi kekuatan pemecah, yang membuat para pelakunya membawa kesusahan baik bagi dirinya maupun bagi dunia ini. Buah orang saleh bersifat tetap dan teratur, seperti pohon yang berakar di tepi sungai dan disegarkan terus oleh air tanah. Gambaran itu menyatakan bahwa Allah menyediakan kekuatan untuk segala pekerjaan baik melalui perenungan Firman yang dilakukan orang saleh. Kemakmuran yang dialaminya bersifat batiniah; sebab ia berusaha untuk melakukan segala sesuatu untuk kepujian Allah, sesuai Firman-Nya, ia diperkaya oleh kepuasan batin dari hati nurani yang baik, bahkan ketika usahanya terkesan terhalang dan gagal.

            Kemantapannya berasal bukan saja dari keutuhan batinnya tetapi dari fakta bahwa Allah tahu jalannya, menerima, dan memperhatikannya. Kelak ia akan berdiri di pengadilan Allah – diteguhkan dalam perkenan Allah – sementara orang fasik yang jalannya tidak berkenan, akan jatuh. Alkitab secara teratur menilai jalan hidup dengan bagaimana kenyataan orang pada Hari Penghakiman.

Apakah Perjanjian Baru memengaruhi realitas rohani dalam mazmur ini?

Tuhan, jika kelakuan, pengaruh, kontribusiku tidak menyenangkan-Mu, nyatakan kepadaku…

Selasa, 27 November 2012

Ketaatan


Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. -     Yesaya 1:29

 
Memang ada yang disebut sifat manusia, kemanusiaan sejati dan pemenuhan diri, dan bahwa kemanusiaan sejati adalah kebebasan sejati. Tetapi kebebasan menuntut otoritas eksternal yang memadai, jika tidak hidup kita tidak akan terintegrasi. Tanpa prinsip otoritas eksternal semua orang akan menjadi Legion, sebab mereka banyak: seribu macam hasrat berbeda yang menariknya ke segala arah, dan ia akan menjalani hidup dengan perhatian terbagi-bagi. Ia tidak memiliki kriteria untuk menentukan prioritas; ia tidak cukup kenal diri sendiri untuk mengetahui apa yang sesungguhnya ia inginkan, dan terus menerus kecewa sebab kesukaan yang diharapkan berubah jadi debu di tangannya. Ia hidup dalam era nihilisme, suatu penyangkalan akan adanya nilai dalam segala sesuatu.

            Manusia boleh terkesan berani (sebab harus hidup dalam dunia penuh bahaya) tetapi tak pernah merasa berarti dan puas. Yang biasa disebut kebebasan tak lain adalah belenggu kepada diri sendiri dan ia tak pernah mengerti paradoks bahwa kebebasan sejati didapat di bawah ketundukan kepada otoritas. Bahkan hanya ada satu prinsip yang memberikan kebebasan yaitu penerimaan akan aturan sang Pencipta dan melalui Tuhan kita Yesus Kristus, dan aturan itu dilakukan melalui Alkitab.

            Jadi Kekristenan adalah kemanusiaan paling sejati sebab ia membawa kita ke bawah otoritas yang sepenuhnya cocok dengan sifat manusia dan membawa kepada keutuhan, serta kepuasan. Ketika mengusulkan injil kita harus fokus perhatian pada Yesus Kristus yang adalah otoritas Allah, hukum taurat, injil dan keselamatan dalam manusia. Injil memanggil bukan atas dasar Kekristenan sebagai suatu sistem tetapi atas diri Anak, dan otoritas dasar injil ialah pengaturan pribadi atas kehidupan kita melalui Firman, sebagai Juruselamat dan Tuhan kita yang benar.


Apakah aku memiliki sikap taat kepada otoritas Allah?

Tuhan, aku memiliki keinginan untuk taat, namun tampaknya aku tidak sungguh menikmati hidup. Tunjukkanlah jika ada sesuatu yang harus kulakukan agar janji-Mu itu terpenuhi dalam hidupku.

Sabtu, 24 November 2012

Alkitab - Untuk Dinikmati


Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. - Mazmur 119:14

Kenikmatan, yang tidak bercampur dan tanpa akhir, adalah maksud Allah untuk umat-Nya dalam segala aspek dan kegiatan persekutuan mereka dengan-Nya. “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mzm. 16:11). Saya memegang doktrin bahwa tidak ada kenikmatan yang sesering atau sedalam yang dialami oleh orang Kristen yang penuh syukur, berbakti, tak berpikiran bercabang, dan menyangkal diri. Saya meyakini bahwa kesukaan dari kerja dan santai, persahabatan dan keluarga, makan dan persetubuhan, seni dan hobi, bermain dan menonton, petualangan dan pembuatan sesuatu, menolong orang, dan semua kenikmatan dari berbagai aspek kehidupan lainnya berlipat ganda bagi orang Kristen, sebab mereka mencicipi Allah dalam segala kesenangan dan ini menambah kesenangan yang ada; sedangkan pada orang lain justru terasa dangkal dan berkurang.

            Saya juga percaya bahwa tiap perjumpaan antara orang Kristen tulus dan Firman Allah, selalu membawa kesukaan; dan semakin sungguh sikap orang Kristen tersebut semakin besar kesukaannya.

            Kesukaan itu tidak datang melalui Penelaahan Alkitab demi kenikmatan kita sendiri, tetapi dari tujuan yang mengusahakan kemuliaan Allah. Mempelajari Alkitab hanya memberikan kenikmatan jika kita menyesuaikan diri dengan Pencipta kita dalam iman dan kelakuan melalui percaya dan taat. Yang menghasilkan kesukaan ialah menemukan jalan Allah, anugerah Allah, dan persekutuan dengan Allah melalui Alkitab, meskipun apa yang Allah katakan kepada kita seringkali membuat kita terkapar.

 
Baca Mazmur 119 dan catat seberapa sering penulis bicara tentang hukum (taurat) Allah sebagai kesukaan, atau sesuatu yang ia cintai.

Tuhan, aku ingin makin mengalami arti bersuka di dalam-Mu.

Jumat, 23 November 2012

Perkataanku dan Firman


Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman. - 2 Petrus 1:18-19

 
Petrus ingin para pembacanya yakin tentang realitas kebenaran, dan keandalan hal-hal yang telah ia ajarkan tentang Yesus Kristus kepada mereka. Inti yang ia katakan ialah: Kami tidak menyampaikan kisah-kisah kosong tanpa dasar fakta ketika kami bicara  tentang kuasa dan kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Tidak sebab kami adalah saksi mata kemuliaan-Nya. Kami melihat dan mendengar. Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa: suatu suara datang kepada-Nya dari kemuliaan dahsyat dan berkata: “Inilah Anakku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Kami melihat, dan mendengar itu. Terimalah kesaksian kami.

            Tetapi ia melanjutkan: Jangan hanya menerima dari kami. Kami memiliki sumber yang lebih pasti dan kokoh tentang pengetahuan akan Kristus daripada saksi mata; yaitu, Firman nubuatan (seluruh Perjanjian Lama). Secara mengagetkan Petrus pindah dari kesaksiannya ke Alkitab. Ia memberitahu pembacanya bahwa Firman nubuatan jauh lebih pasti: bahwa apa yang Allah katakan meneguhkan pengalamannya, bukan sebaliknya.

            Firman nubuatan juga meliput tulisan rasuli untuk kita: “Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya... Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain” (2Ptr. 3:15-16). Dengan membandingkan tulisan Paulus dengan bagian Alkitab lain, secara tidak langsung Petrus memperlakukan tulisan Paulus sebagai Alkitab juga.

 
Apakah dalam gerejaku kesaksian pribadi dikawinkan dengan kebenaran Alkitab?

Tuhan, kiranya seperti Petrus, aku sanggup bicara kepada orang lain dengan otoritas, “Terimalah kesaksianku ini, sebab Alkitab menjadi dasar pedukungnya.”

Kamis, 22 November 2012

Firman Allah


Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. - Mazmur 119:12


Untuk pemazmur Firman Allah adalah sekumpulan pengajaran ilahi, yang ditulis sebagai rujukan tetapi yang sebagian besarnya diturunkan secara lisan; kumpulan ajaran yang keberadaannya sendiri merupakan tanda perkenan Allah: Israel mendapat hak istimewa untuk menikmati baik anugerah maupun ajaran-Nya. Allah telah menyatakan kehendak-Nya dalam bentuk maksud dan perintah, dan kesalehan berarti hidup sesuai Firman-Nya.

            Pemazmur bicara tentang menyimpan Firman dalam hati dan ingatannya, diam dan bersuka di dalamnya, menatap kepadanya agar ia terpelihara dari dosa dan mengajarnya tentang jalan kehidupan. Ia rindu mempraktikkan itu sepenuhnya.

            Selain fakta Firman Allah, ayat ini bicara juga tentang bentuk-bentuk Firman. Firman berarti pesan; hukum (taurat) berarti ajaran, seperti dari bapa kepada keluarganya; kesaksian, ketetapan, peraturan, peringatan, perintah adalah perintah moral. Ayat ini juga bicara tentang berkat bagi orang yang jalan dalam Taurat dan menunjuk tajam kepada pencarian akan Allah sebagai inti dari memelihara hukum-Nya, adalah peringatan bahwa Firman mengandung janji dan menyingkapkan diri Allah sendiri. Firman adalah pengantara Allah untuk komunikasi dan komuni dengan manusia dalam banyak segi relasi-Nya dengan kita.

            Akhirnya ayat-ayat ini memperlihatkan buah Firman Allah. Ia membangkitkan hasrat untuk taat, doa untuk pengajaran, dan pencarian sepenuh hati akan Allah; ia membersihkan jalan menjauhkan kita dari hal yang mencemarkan; ia menggerakkan kita untuk bicara bagi Allah dan menemukan kesukaan kita dalam Dia. Maka melalui Firman Allah, karya Allah berlanjut dalam kehidupan manusia.


Apakah aku cukup memakai Firman Allah – sebagai cara utama untuk membimbing, bertumbuh, dan beroleh anugerah?

Jadikan bacaan hari ini dasar untuk doa Anda.

Selasa, 20 November 2012

ROH dan Alkitab


Mereka semua akan diajar oleh Allah. - Yohanes 6:45

 
Orang Kristen dijanjikan hak untuk mendapat pengajaran Allah, dan hal itu dilakukan oleh Roh Allah. Roh yang mengajar semua perkara kepada para rasul adalah juga urapan yang mengajar semua umat milik Kristus (1Yoh. 2:27) – bukan dalam bentuk penyingkapan kebenaran baru yang tadinya belum diketahui, tetapi dengan menyanggupkan kita mengenali sifat ilahinya dan tunduk ke bawah otoritas realitas ilahi yang disingkapkan kepada kita.

            Tetapi apakah kita  terbuka kepada karya Roh ini? Sejauh kita mendekati Alkitab dengan mengambil jarak, yaitu dengan hanya menghargai kesejarahan atau estetikanya, dan sejauh kita memperlakukannya hanya sebagai tulisan manusia. Kita hanya terbuka kepada pelayanan Roh sejauh kita bersedia melangkah masuk ke dalam Alkitab dan mengambil tempat bersama orang-orang yang menyambut bicara Allah – seperti Abraham yang mendengarkan Allah di Ur, Musa yang mendengarkan Allah di Sinai, umat Israel yang mendengarkan Firman Allah dari bibir Musa dan para nabi, orang Yahudi yang mendengar ucapan Yesus, orang di Roma dan Korintus serta Timotius yang mendengarkan Paulus, dan seterusnya – dan ikut berbagian diajar bersama mereka, memperhatikan apa yang Allah katakan kepada mereka dan berusaha mendengar melalui itu apa yang Allah ingin katakan kepada kita.

            Banyak orang yang tidak begitu suka itu – kita berprasangka, malas, dan tidak siap untuk melatih roh serta hati nurani kita. tetapi kuatnya kesediaan dan penerimaan kita, adalah karunia Roh. Maka kita harus berdoa, “Ajarku ketetapan-ketetapan-Mu” (Mzm. 119:12), sebagai permohonan bukan saja untuk diajar tetapi untuk memiliki kesediaan diajar.

 
Seberapa jauh aku bersedia berusaha dan berdoa agar mengerti Alkitab?

Tuhan, kiranya RohMu mengarahkan imajinasiku supaya melalui karunia dari-Mu ini aku dapat mengerti Firman-Mu lebih baik.

Senin, 19 November 2012

Kitab Terpercaya

Hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya. - Mazmur 19:9
 

Sebagai akibat dari inspirasi Alkitab, kita menerima bahwa Alkitab dapat dipercaya atau diandalkan penuh. Mengatakan bahwa Alkitab dapat diandalkan penuh berarti mengakui bahwa Allah yang menginspirasikannya dapat dipercaya sepenuhnya, maka seluruh hal yang dipaparkan dan diajarkan dalam Alkitab pun tidak mungkin mengandung kesalahan atau hal yang menyesatkan. Hal ini memberikan dasar untuk kita memperlakukan Alkitab secara tepat yaitu membaca, menerima dan melakukannya dalam hidup sebab ia berasal dari Allah yang dapat dipercaya dan yang kata-kata-Nya layak dipercayai dan diterima dengan segenap hidup. Hal ini tidak membuat kita menyangkali, mengabaikan atau merendahkan apa pun yang para penulisnya paparkan dan implikasinya pada penyembahan dan pelayanan. Penerimaan ini juga tidak membuat kita tergesa menyimpulkan secara negatif hal-hal yang sekilas terkesan merupakan masalah entah faktual atau teologis dalam Alkitab.

            Mengaku bahwa Alkitab adalah otoritas andal dan terpercaya berarti membuat kita menerima bahwa seluruh isi Alkitab secara keseluruhan bersifat serasi dan padu; dan semua yang dipaparkan di dalamnya datang dari Allah, dan kita harus menundukkan ajaran, tradisi, perilaku, dan kepercayaan kita ke bawah otoritas Alkitab, lalu berusaha untuk hidup sesuai dengannya.
 

Kita tidak dapat membuktikan bahwa seluruh isi Alkitab adalah benar, tetapi kita dapat yakin bahwa semua isi Alkitab dapat dipercaya karena datang dari Allah.

Tuhan, ketika beberapa bagian Alkitab terasa sukar dipertemukan, tolongku untuk tidak cepat menghakimi atau takut menghadapi atau berpikir serius tentangnya.

Sabtu, 17 November 2012

Bapa Kami yang di Surga


Matius 6:9-13: Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Dalam zaman Perjanjian Baru Nama Allah sangat kudus sampai orang Farisi tidak berani menyebut Nama-Nya. Hidup keagamaan orang kebanyakannya tanpa relasi yang riil dan intim dengan Allah. Lalu Yesus datang dan mengajar para murid Doa ini dalam bahasa Aramaik yang merupakan bahasa percakapan mereka. Yesus tidak mengajar orang sederhana zaman-Nya untuk bedoa yang agung, impersonal kepada Allah Yang Mahakuasa tetapi mulai dengan kata-kata sederhana… “Bapa kami yang di surga.”

Doa ini sudah didoakan oleh jutaan orang sejak zaman gereja perdana. Ini adalah doa yang dipanjatkan oleh banyak kalangan dari orang terhormat dan politikus sampai anak-anak kecil di Sekolah Minggu. Kiranya ketika kita mendoakan doa ini, kita diingatkan tentang mengapa kita memanggil Allah sebagai “Bapa kami.” Sebab inilah tekanan inti dari pesan injil… Yesus mati untuk setiap kita supaya kita dapat mengenal dan memiliki relasi pribadi dengan Dia.

Selanjutnya dalam Yohanes 20:17, perkataan pertama pasca kebangkitan yang Yesus sampaikan kepada Maria ketika Ia berjumpa dengannya di kebun adalah…  Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Semoga setiap kita tahu bahwa adalah hasrat Allah Tritunggal bagi kita tidak saja untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita, tetapi juga mengenal Dia dengan intim sungguh sebagai Papa surgawi kita. Dan – ini yang sering kita lupakan – akibat dari kita mengenal Allah sebagai Bapa, karena Yesus memperlakukan kita sebagai saudara-Nya, ialah kita semua adalah saudara-saudara-Nya, anak-anak Bapa.itu sebab Yesus mengajar kita memanggil Dia Bapa kami, bukan sekadar Bapa ku.

Jika kita – semua orang percaya kepada Yesus – adalah saudara satu kepada yang lain, maka wajarnya ada keterkaitan, saling mendoakan, saling terlibat mendukung dalam suka dan duka, bukan?

Refleksi & Realitas: Seberapa riil persaudaraan iman ini Anda hayati dan hidupi dalam keseharian? Adakah ungkapan berikut dalam keseharian Anda? Bersyafaat? Adakah rasa peduli kepada penderitaan yang dipikul sesama seiman kita di berbagai tempat? Mari ungkapkan persaudaraan iman ini dengan mendukung pelayanan para rohaniwan di tempat-tempat sukar (kebanyakannya di Indonesia Timur) dengan sesuatu yang konkrit...

Jumat, 16 November 2012

Pelita di dalam Gelap


Kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. - 2 Petrus 1:19
 

Kata “gelap” biasa dipakai dalam kaitan dengan tempat kotor seperti gudang, kandang sapi, atau tambang. Jadi Petrus membayangkan tempat yang kotor, suram, barangkali penuh dengan rintangan. Kita perlu terang untuk menghindari rintangan dan melihat jalan dan mungkin juga sambil membersihkan tempat itu.

            Mengapa ia menyebut tentang tempat di mana kita hidup kini sebagai tempat yang gelap? Karena memang demikianlah kenyataan dunia ini. Dunia gelap karena kelonggaran moral di dalamnya (lihat contoh yang Petrus tunjukkan dalam 2Ptr. 2). Dan gereja terkena dampaknya juga.

            Kita perlu melakukan yang Petrus usulkan: beri perhatian pada Alkitab, sebab ia bagaikan pelita yang bercahaya dalam tempat gelap. Pemazmur memberikan gambaran serupa. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm. 119:105). Ketika kita berjalan sendiri dalam kegelapan sambil memegang pelita di depan kita, ia tidak akan melenyapkan semua kegelapan tetapi ia melenyapkan bagian di depan kita sehingga kita dapat melihat harus berjalan ke mana. Dan dengan cara itu kita bisa melanjutkan perjalanan sampai fajar terbit dan matahari menyingsing.

 
Adakah tempat-tempat gelap dalam hidupku atau dalam hidup orang lain yang ku kasihi yang perlu dibuka kepada terang kebenaran Allah? Bagaimana dan kapan hal itu baiknya terjadi?

Tuhan, aku perlu lebih banyak terang dalam situasi ini… Tunjukkanku jika aku telah merespons terang yang Kau nyatakan kepadaku sejauh ini. Aku butuh lebih banyak terang.

Kamis, 15 November 2012

Ketaatan Kreatif

Karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati."  - Kisah rasul 23:6
 

Alkitab memberi kita petunjuk untuk perilaku yang benar, namun masih ada ruang luas untuk imajinasi dan kreativitas, bahkan untuk mengembangkan usaha dan kesempatan kita dalam melayani Allah – seperti yang kita lihat dalam diri Paulus (Kis. 16:35-39; 17:22-31; 23:6-10). Di dalam batas-batas perintah spesifik dari Allah, aplikasinya dapat beragam dan bisa lebih baik atau buruk, seperti dalam permainan catur di mana langkah-langkah yang diambil bisa beragam dan membuat ruang cukup luas untuk gerak selanjutnya.

            Langkah terbaik, seperti dalam permainan catur, selalu adalah yang paling memberikan janji dalam situasi keseluruhan. Entah orang memainkan putih atau hitam; masing-masing dengan mengenali kekuatan dan kelemahan lawan, berusaha untuk membuat langkah-langkah yang disesuaikan dengan posisi yang ingin ia kejar, menang atau draw.

            Ketaatan Kristen lebih dari sekadar menjalani kehidupan negatif yang hanya menjauhi perbuatan salah dan melihat seluruh kehidupan Kristen sebagai usaha menjauh dari hal-hal buruk. Yang jelas, hati nurani yang lembut yang gemetar terhadap Firman Allah (Yes. 66:2; Ez.10:3) dan takut melukai hati-Nya (Yud. 23) adalah anugerah dan tidak boleh disamakan dengan pemeriksaan diri berlebihan. Maka kehidupan Kristen yang penuh dan sehat ialah yang menaati Allah bukan semata untuk menghindari yang buruk melainkan untuk sepenuhnya memuliakan Allah.

Apakah aku cenderung menghindari kejahatan daripada mengembangkan sikap bertualang dalam kebaikan dan ketaatan yang positif?

Tuhan, tolongku untuk memiliki hidup yang bermoral dan benar secara imajinatif dan kreatif (dan karenanya juga atraktif).

Rabu, 14 November 2012

Batu-batu Hidup


Batu-batu hidup…

1 Petrus 2:5
Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

Setiap orang percaya adalah bagian dari bangunan Allah. Kita adalah batu-batu hidup yang disatukan bersama untuk menjadi ungkapan kekal kebaikan Allah. Sambil kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup hari ini (Roma 12:1), kiranya semua kita diingatkan tentang siapa kita sejatinya dalam pemandangan Allah yang hidup. Kita adalah imamat-Nya yang kudus, yang telah diterima sempurna dalam Anak-Nya yang kekasih.

Kiranya kita sanggup melihat diri kita sebagaimana Bapa melihat kita. masing-masing kita adalah bagian penting hakiki dari rumah rohani kekal yang dibaktikan untuk kemuliaan Allah. Tanpa satu batu saja pun, bangunan itu tidak akan lengkap. Seterusnya, kiranya Roh Allah juga menanamkan kesadaran bahwa semua saudara seiman kita dimana pun mereka berada dan termasuk denominasi apa pun mereka, adalah juga bagian penting dari rumah Allah. Bukan saja tanpa kita, tanpa mereka pun bangunan Allah itu tidak sempurna.

Semoga hari ini dan seterusnya setiap kita memiliki keberanian untuk menghidupi tujuan dan destini unik kita supaya kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik yang Bapa kita ciptakan untuk kita lakukan dalam Kristus yaitu untuk menjadi alat-Nya dalam membangun keutuhan dan kesempurnaan tubuh-Nya yang kudus dan Am.

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua – Efesus 4:1-6

Selasa, 13 November 2012

Hikmat


Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, - Amsal 3:13
 

Langkah apa harus Anda ambil bila ingin mendapat karunia hikmat? Menurut Alkitab ada dua prasyarat.

            Pertama, kita harus belajar menghormati Allah. Takut akan TUHAN adalah permulaan segala hikmat (Mzm. 111:10). Sebelum kita rendah hati dan terbuka untuk diajar, berdiri takjub di hadapan kekudusan dan kedaulatan Allah, sambil mengakui kekecilan kita, tidak memercayai pemikiran sendiri, serta bersedia untuk mengalami penjungkirbalikan pemikiran kita, hikmat ilahi tidak dapat menjadi milik kita. Perlu ditakuti bahwa banyak orang Kristen menghidupi kehidupan yang tidak rendah hati dan yang sombong yang akhirnya sama sekali tidak memiliki hikmat dari Allah. Alkitab berkata, “hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2).

            Lalu, orang harus belajar menerima Firman Allah. Hikmat hanya ditempa ke dalam mereka, ya hanya mereka, yang mengaitkan diri dengan penyataan Allah. “Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku,” – mengapa? – “sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan” (Mzm. 119:99). Paulus menasihati orang Kolose, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat…” (Kol. 3:16).

            Bagaimana kita melakukannya? Dengan jalan membenamkan diri dalam Alkitab, seperti nasihat Paulus kepada Timotius (dan waktu itu ia berpikir tentang Perjanjian Lama!), sebab Alkitab “sanggup menuntun engkau kepada keselamatan” dalam iman kepada Kristus, dan untuk menyempurnakan manusia Allah “bagi setiap perbuatan baik” (2Tim. 3:15-17).

 

Kapankah terakhir Anda membaca seluruh isi Alkitab? Apakah Anda memakai waktu untuk membaca Alkitab sama lamanya untuk membaca surat kabar?

Tuhan, aku butuh hikmat-Mu untuk situasi ini… Tolongku mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menerima hikmat.

Senin, 12 November 2012

Anugerah Allah dalam berbagai Wujudnya...

Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. – 1 Petrus 4:9-10

Setiap karunia yang baik dan sempurna datang dari Bapa segala Terang (Yak. 1:17). Yohanes Pembaptis berkata dalam Yohanes 3:27 bahwa orang hanya memiliki apa yang diberikan dari atas. Efesus 4:10-12 berkata bahwa Kristus memberikan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar sebagai karunia-karunia untuk melayani dan melengkapi Gereja.
Dalam bacaan Alkitab ini, rasul Petrus memberitahu agar kita berusaha memakai karunia-karunia yang telah kita terima dari surga untuk saling melayani. Karena kita semua telah dicipta dalam citra Allah (Kej. 1:27) dan secara unik mencerminkan citra-Nya melalui hidup kita, maka masing-masing kita adalah ungkapan anugerah Allah.
Sebagaimana tubuh sepenuhnya bergantung pada tiap anggotanya untuk memenuhi peran masing-masing, demikian juga kita sebagai Gereja memerlukan ungkapan unik anugerah Allah yang terdapat dalam tiap orang di dalam Tubuh Kristus (1Kor. 12). Firman ini mendorong kita dengan mengingatkan bahwa masing-masing kita dibutuhkan dalam keluarga Allah! Tidak pernah ada seorang lain yang diciptakan seunik masing-masing kita dalam mencerminkan citra Allah.
Cahaya yang terpancar melalui Anda dimaksudkan untuk memanifestasi anugerah Allah ke setiap orang dalam lingkup pengaruh Anda. Kiranya kita menyerahkan diri kepada kemuliaan Allah yang diam dalam kita dan dengan demikian menjadi diri kita sepatutnya. Kiranya Allah dan Bapa kita memperlihatkan karya-karya baik-Nya yang telah Ia persiapkan untuk kita lakukan dalam Kristus (Efes. 2:10) sebab kita adalah karya agung-Nya.
Kiranya setiap karunia yang telah Ia berikan kepada kita dalam hidup bangkit ke permukaan dalam waktu seperti zaman kita ini agar kita dapat sungguh mencerminkan kemuliaan Tuhan ke mana pun kita pergi.
Matius 5:14-16:
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
“Janganlah kita lelah melakukan hal-hal kecil untuk kasih Allah, sebab ia tidak melihat besar-kecilnya karya kita, tetapi kasih yang dengannya karya itu dilakukan.” – Brother Lawrence

Sabtu, 10 November 2012

Menghidupi Makna Sabat

Lalu kata Yesus kepada mereka:
"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan
bukan manusia untuk hari Sabat,
jadi Anak Manusia adalah juga
Tuhan atas hari Sabat." - Markus 2:27-28

Menghidupi makna Sabat bukan
dengan membuat berbagai aturan rumit tentang
apa yang harus dan yang tidak boleh dilakukan.
Jadikan Yesus Tuhan atas tiap hari kita
sepanjang minggu dan tempatkan Ia sentral
dalam seluruh pikiran dan kegiatan kita.
Itulah cara yang pasti mengalami
kesukaan "sabat" dalam hidup ini.

Kamis, 08 November 2012

Kobarkan karunia Allah di dalammu...

2 Timotius 1:6
Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.

Ketika Allah memberi suatu karunia kepada seseorang, Ia tidak menarik kembali karunia itu. Roma 11:29 berkata… Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Ini berarti ketika Bapa kita memberikan suatu karunia kepada kita, Ia memberi itu untuk kita seterusnya.


Dalam Yakobus 1:17, kita baca bagaimana Allah tidak berubah-ubah dalam memberi karunia dan Ia tidak berubah seperti bayang-bayang. Demikian firman-Nya: Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Penguatan bagi Anda hari ini ialah Anda harus menyadari karunia-karunia yang Bapa surgawi telah berikan dan seperti anjuran Paulus kepada anak rohaninya Timotius, Anda harus mengobarkan karunia Allah yang ada di dalam Anda itu!

Dalam Amplified Bible, ayat itu diterjemahkan… Itulah sebab aku mengingatkan kamu untuk mengobarkan (meningkatkan baranya, mengipasi kobarannya, dan mempertahankan apinya) dari pemberian Allah, yang dianugerahi-Nya sebagai (api di dalammu) dengan jalan penumpangan tangan oleh para penatua pada saat penetapanmu,

Satu hal tentang karunia ialah pertama kita perlu “menerima” pemberian itu sebelum kita dapat menikmati manfaatnya. Kiranya kita semua disanggupkan untuk menerima karunia-karunia yang Bapa surgawi berikan kepada kita kemudian mengobarkan panasnya dan meningkatkan jilatan api dari tiap karunia berharga yang telah Ia percayakan kepada kita dengan meluaskan jangkauannya kepada sesama kita.

1 Petrus 4:10:
Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.