Kamis, 28 Juni 2012

Pembunuhan dan Kemarahan


Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu… - Matius 5:21-22
 

Orang Farisi menganggap bahwa hukum keenam hanya tentang pembunuhan sebagai tindakan. Yesus memberitahu para murid-Nya (Mat. 5:21-36) bahwa hukum itu lebih luas maknanya, termasuk melarang kejahatan, niat buruk, dendam, permusuhan. Prinsipnya ialah bahwa hukum Allah tidak saja mencakup tindakan (membunuh sungguhan), tetapi sikap (menginginkan orang agar mati).

            Yesus memberikan ilustrasi dari relasi intern para murid. Jika Anda marah kepada saudara Kristen, atau melukai dia, atau menyebutnya bodoh, demikian ujar Yesus, Anda dalam bahaya kebinasaan rohani, sebab hati Anda salah. Jadi jika Anda beribadah lalu teringat bahwa saudara Anda menyimpan sesuatu terhadap Anda karena Anda telah memperlihatkan niat buruk atau dendam, tunjukkan pertobatan kepada Allah dan kasih kepadanya dengan segera membereskan masalah itu sebelum Anda menyembah Allah, atau Anda akan mengulang dosa Kain. Sama dengan itu, jika seseorang menuduh Anda, berdamailah segera; jangan biarkan permusuhan berlanjut. Nasihat Paulus relevan: boleh marah tetapi jangan sampai matahari tenggelam; jangan beri si iblis kesempatan (Efs. 4:26-27). Kemarahan adalah unsur yang tertanam dalam sifat manusia, jadi pertanyaannya bukanlah apakah kita akan marah (kita pasti ada kemarahan!), tetapi apa yang harus kita lakukan ketika kita marah. Jawab Paulus: jangan pupuk kemarahan Anda: berdamai segera; minta Allah dan teman Anda mengampuni sebab Anda telah membiarkan kemarahan tersimpan. Jika tidak, Anda memberi si iblis tempat pijak dalam kehidupan Anda.

            Yesus ingin kita sadar bahwa hukum-hukum Allah meliputi perbuatan maupun sikap hati. Kita harus mengendalikan hasrat dan perbuatan kita.

Haruskah kita menunggu sampai motif kita beres, baru kita bertindak?

Tuhan, buat aku sadar akan sikap-sikapku.

Rabu, 27 Juni 2012

Kebenaran Sejati


Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. - Matius 5:20
 

Para ahli Taurat dan orang Farisi menyegani, mempelajari, dan menguraikan Hukum Allah – atau begitulah yang mereka pikir. Para rabi zaman Yesus setuju bahwa dalam Perjanjian Lama ada 148 perintah serta 365 larangan. Angka-angka tadi menjelaskan kepada kita apa yang salah dengan mereka.  Mereka menganggap bahwa Hukum hanya mengurusi pola kelakuan, seperti peraturan lalu lintas atau buku aturan perindustrian, dan melaksanakannya tidak lain berarti menyesuaikan diri dengan pola dan peraturan lahiriah.

            Yesus menantang pengertian sempit itu. Ia membuang peraturan eksternal – yaitu kebenaran yang para pemimpin agama Yahudi praktikkan – dan menggantinya dengan kebenaran yang dari Roh sambil juga mengganti yang tertulis dan memulai dari hati sebelum ungkapannya dalam kehidupan nyata.

            Kebenaran semacam itu hanya dapat ditemukan dalam orang yang telah lahir baru. Yesus tidak menyatakan itu secara eksplisit di sini, tetapi akan menjadi jelas jika Anda membaca Khotbah di Bukit bahwa tidak ada seorang pun secara alami dapat memenuhi standar yang Ia bentangkan. Kebenaran yang Ia tuntut mencerminkan hati dan sifat Allah, dan perilaku sedemikian tidak dapat lahir dari hati serta sifat kita sendiri sampai kita lahir dari dan digerakkan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Khotbah di Bukit (khususnya Mat. 5:21-48) Yesus bukan sekadar berkata, “Jangan buat ini, atau itu,” tetapi “Jadilah orang macam ini:” seorang baru, yang dijadikan baru oleh anugerah penyelamatan Allah.

Baca Matius 5 secara lambat dan melalui Roh izinkan ayat-ayat itu, menyelidik hati dan hidup Anda.

Tuhan, terima kasih bahwa aku adalah ciptaan baru dalam Kristus, yang diperbarui dalam hati untuk kehidupan yang benar. Tolong aku menjadi apa adanya aku dalam anugerah-Mu.

Senin, 25 Juni 2012

Nilai Intrinsik Kerja

NILAI INTRINSIK PEKERJAAN

Namun demikian, ada banyak lagi hal untuk pekerjaan ketimbang sekadar memerhatikan kebutuhan finansial dan kewajiban kita. Pekerjaan kita dapat melayani sebagai sebuah mezbah – yaitu sebuah arena penting di mana kita membawa karunia, ketrampilan dan talenta kita untuk dipersembahkan dalam pelayanan bagi Allah. Ketika orang Kristen bekerja, kita dapat berkontribusi bagi karya Allah dalam dunia ini. Tentu saja, ada beberapa batasan yang akan kami paparkan dalam pasal dua. Namun termasuk perkecualian tersebut, Allah memanggil orang untuk bekerja dalam arena seperti bisnis sebab hal itu menolong pencapaian karya-Nya dalam dunia ini. Tentu, ada batas yang akan kami paparkan dalam pasal dua (buku yad. dari Waskita: Bisnis untuk Kebaikan Bersama). Tetapi dengan menyingkirkan batas-batas itu, Allah memanggil orang untuk bekerja dalam berbagai arena seperti bisnis sebab itu menolong penggenapan karya-Nya dalam dunia ini. Bisnis dapat menjadi karya Allah dalam dunia sama seperti seorang pendeta dapat menjadi karya Allah dalam gereja dan seperti misionaris melayani karya Allah dalam ladang misi. Semua itu bernilai bagi Allah sebab pekerjaan yang selesai bernilai adanya, dan pekerjaan yang diselesaikan secara istimewa adalah hal yang baik. Akuntan, manajer, buruh pabrik, tukang kebun, pesuruh dan koki restoran dapat dipanggil oleh Allah ke dalam pekerjaan mereka sama seperti halnya pendeta atau misionaris dipanggil ke pekerjaan mereka juga. Semua mereka sanggup mengerjakan karya Allah dalam tempat kerja mereka, baik melalui sifat pekerjaan yang mereka lakukan dan cara mereka menghidupi iman mereka. Selangkah lebih jauh, Allah dalam pemeliharaan-Nya, bekerja melalui berbagai pekerjaan untuk mencapai karya-Nya dalam dunia ini. Ini adalah pokok lain yang akan kami kembangkan secara lebih mendalam di pasal dua.

            Pekerjaan Anda dapat menjadi sebuah mezbah sebab pekerjaan Anda mengandung nilai yang tertanam dalam bagi Allah. Alkitab mengajarkan bahwa pekerjaan memiliki nilai berarti bagi tiga alasan uama: (1) Allah menciptakan pekerjaan sebelum masuknya dosa dan kejahatan ke dalam dunia ini, (2) Allah merancang pekerjaan bagi kita untuk memenuhi mandat untuk “menaklukkan” (menjalankan penatalayanan atas) bumi ini, dan (3) pekerjaan adalah bagian penting dari apa artinya kita dicipta dalam gambar Allah.

Jumat, 22 Juni 2012

Puasa: Kisah Hati

Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu. - Matius 6:16


Yesus mengandaikan bahwa para murid-Nya akan berpuasa dan berkata bahwa orang yang murni hatinya akan berpuasa; motivasi dan kelakuan mereka akan berbeda dari orang yang tidak dalam relasi keluarga dengan-Nya dan Bapa-Nya (Mat. 6:16-18).

            Dalam Alkitab kita temukan beberapa tujuan puasa. Puasa adalah bagian dari disiplin pengendalian diri; adalah cara berbagi yang menunjukkan bahwa kita bergantung pada Allah saja dan mendapatkan seluruh kekuatan dan kebutuhan kita dari Dia; adalah cara untuk fokus penuh pada Dia ketika mencari bimbingan dan pertolongan-Nya, dan menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh dalam pencarian Anda; terkadang juga adalah cara mengungkapkan kesedihan dan pertobatan yang dalam, sesuatu yang seseorang atau sekelompok orang akan lakukan untuk mengakui kegagalan mereka di hadapan Allah dan mencari kemurahan-Nya.

            Biasanya kita tahu bahwa puasa berarti tidak makan. Tetapi kita dapat berpuasa dari segala sesuatu. Jika kita menyukai musik dan memutuskan untuk tidak ke konser dalam rangka memakai waktu dengan Allah, itu adalah puasa. Ada baiknya memikirkan paralelnya pada persahabatan manusia. Ketika sahabat ingin ada bersama, mereka akan membatalkan kegiatan supaya dapat bertemu. Tidak ada yang magis dalam puasa. Puasa hanya satu cara berkata kepada Allah bahwa prioritas Anda saat itu adalah ingin bersendiri dengan Dia, dengan menyingkirkan apa yang merupakan keharusan, dan Anda telah membatalkan makan, pesta, konser, atau apa saja yang telah Anda rencanakan untuk memenuhi prioritas itu.

Jika Anda pernah berpuasa – apakah motif Anda adalah agar memiliki waktu dengan Allah tanpa gangguan? Atau apakah pemikiran tentang semacam jasa atau keajaiban terselip di dalamnya? Jika Anda ingin berpuasa, jangan lupa prinsip persahabatan dan komitmen mendalam dengan Allah ini.

Tuhan, ada saat ketika aku rindu Engkau dengan segenap hatiku. Kiranya makin banyak saat demikian sementara aku hidup dalam relasi keluarga-Mu dari waktu ke waktu.

Bapa Surgawi Mengasihimu - J. I. Packer

Kamis, 21 Juni 2012

Kebenaran Sejati


Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. -  Matius 5:20


Para ahli Taurat dan orang Farisi menyegani, mempelajari, dan menguraikan Hukum Allah – atau begitulah yang mereka pikir. Para rabi zaman Yesus setuju bahwa dalam Perjanjian Lama ada 148 perintah serta 365 larangan. Angka-angka tadi menjelaskan kepada kita apa yang salah dengan mereka.  Mereka menganggap bahwa Hukum hanya mengurusi pola kelakuan, seperti peraturan lalu lintas atau buku aturan perindustrian, dan melaksanakannya tidak lain berarti menyesuaikan diri dengan pola dan peraturan lahiriah.

            Yesus menantang pengertian sempit itu. Ia membuang peraturan eksternal – yaitu kebenaran yang para pemimpin agama Yahudi praktikkan – dan menggantinya dengan kebenaran yang dari Roh sambil juga mengganti yang tertulis dan memulai dari hati sebelum ungkapannya dalam kehidupan nyata.

            Kebenaran semacam itu hanya dapat ditemukan dalam orang yang telah lahir baru. Yesus tidak menyatakan itu secara eksplisit di sini, tetapi akan menjadi jelas jika Anda membaca Khotbah di Bukt bahwa tidak ada seorang pun secara alami dapat memenuhi standar yang Ia bentangkan. Kebenaran yang Ia tuntut mencerminkan hati dan sifat Allah, dan perilaku sedemikian tidak dapat lahir dari hati serta sifat kita sendiri sampai kita lahir dari dan digerakkan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Khotbah di Bukit (khususnya Mat. 5:21-48) Yesus bukan sekadar berkata, “Jangan buat ini, atau itu,” tetapi “Jadilah orang macam ini:” seorang baru, yang dijadikan baru oleh anugerah penyelamatan Allah.

Baca Matius 5 secara lambat dan melalui Roh izinkan ayat-ayat itu, menyelidik hati dan hidup Anda.

Tuhan, terima kasih bahwa aku adalah ciptaan baru dalam Kristus, yang diperbarui dalam hati untuk kehidupan yang benar. Tolong aku menjadi apa adanya aku dalam anugerah-Mu.

Rabu, 20 Juni 2012

Perenungan & Doa


Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. - Mazmur 19:14
 

Perenungan – memikirkan tentang Allah dalam hadirat Allah – adalah persiapan yang berguna untuk berbicara secara langsung kepada Allah dan hal ini merupakan kebutuhan kita tiap hari. Dalam dunia ini, wawancara dengan orang-orang penting diatur dengan seremoni, keduanya disebabkan oleh unsur hormat kepada orang bersangkutan dan juga agar wawancara itu memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

            Bergegas ke Allah secara seenaknya memperkatakan apa saja yang muncul di pikiran kita, tanpa berhenti untuk menyadari keagungan-Nya, anugerah-Nya, dan keberdosaan serta kerendahan kita, sekaligus adalah sikap tidak menghormati Dia dan mendangkalkan persekutuan kita sendiri dengan-Nya. Saya sendiri ingin lebih baik dari pendekatan semacam itu. Seperti orang lain, saya merasa lebih baik membuka doa tentang kebutuhan dengan membaca Alkitab dan memikirkan apa yang bagian Alkitab itu katakan tentang Allah serta mengubah pengertian itu ke dalam pujian sebelum saya lanjut berdoa.

            Mengingat untuk menghormati Allah sebelum membuka mulut untuk menyapa-Nya membuat perbedaan berarti dalam kualitas persekutuan dengan-Nya selanjutnya. Mengingat, dan memikirkan siapa Allah sesungguhnya, sama sekali bukan kegiatan membuang waktu; sebaliknya, itu adalah cara vital untuk mengenal Allah, sebagaimana doa seharusnya.

Gunakan seluruh Mazmur itu untuk menolong perenungan Anda sebelum doa.

Tuhan, aku hanya mengerti dan mengenal Engkau secara samar, namun aku sadar akan sesuatu tentang kemuliaan dan kebesaran-Mu sementara aku membawa permohonanku kepada-Mu…

Senin, 18 Juni 2012

Tujuan Kerja (5)

KITA BEKERJA UNTUK MENYEDIAKAN SUATU ARENA UNTUK MENYATAKAN IMAN KITA

Akhirnya, Allah memanggil orang untuk bekerja dalam rangka mendapat kesempatan untuk mewartakan dan memodel realitas iman kita. Melalui pekerjaan kita memiliki kesempatan untuk membangun hubungan dan mendemonstrasikan perhatian dan kepedulian untuk orang yang dengannya kita mungkin tidak memiliki hubungan.

         Hubungan ini menyediakan cara-cara berarti yang melaluinya Allah memberi kita arena untuk menghidupi iman kita. Perjanjian Baru menasihati gereja mula-mula agar selalu rajin bekerja untuk menjaga kehormatan mereka dalam komunitas. Pertama Tesalonika 4:11-12 mengatakan itu demikian: “Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.”

          Pekerjaan adalah suatu peluang untuk memperoleh hormat dari komunitas. Tanpa ragu Paulus mengandaikan bahwa alasan untuk seorang memiliki hormat adalah memastikan bahwa daya tarik imannya tidak terhalang. Kebanyakan pendeta atau misionaris tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai spiritual yang terpercaya dalam lingkungan kerja. Mereka tidak mengenal orangnya atau bisnisnya, tidak dapat terhubung dengan gumulan hari lepas hari yang kita hadapi di pekerjaan, dan kemungkinan besar akan dipandang sebagai orang luar yang tidak sanggup mengucapkan banyak hal ke lingkungan bisnis. Kita, di pihak lain, mengenal mereka, bekerja berdampingan dengan mereka hari lepas hari, menjalani kesukaran-kesukaran bersama dan memberi mereka kesempatan untuk melihat iman kita dalam praktik nyata (asal kita menghidupinya dengan baik) hari lepas hari.

Tujuan Kerja (4)

KITA BEKERJA UNTUK MENDUKUNG GEREJA DAN PEKERJAANNYA
Tidak saja wajib menolong mereka yang dalam kebutuhan, orang Kristen juga bekerja dalam rangka menolong mendukung gereja dan pelayanannya. Alkitab mengakui bahwa Allah memanggil sebagian orang untuk mendapatkan kebutuhan hidup mereka dari pekerjaan dalam gereja setempat atau ladang misi. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Lama Allah memanggil para imam dan orang Lewi melakukan berbagai pelayanan imamat sepenuh waktu, mendapatkan keperluan hidup mereka dari persepuluhan komunitas. Mereka bergantung pada komunitas yang mereka layani untuk berbagai kebutuhan finansial mereka. Serupa dengan itu, dalam era Perjanjian Baru Allah memanggil para rasul untuk memakai kehidupan mereka menanam gereja-gereja di seluruh dunia. Sebagian terbesar dari para pemimpin gereja mula-mula bekerja untuk mendukung hidup mereka sendiri, dan terkadang para rasul bekerja juga, untuk tidak menjadi beban bagi gereja-gereja yang mereka layani (1Tes. 2:9). Namun demikian mereka mengakui pentingnya peran mereka sebagai rasul dan menyatakan jelas bahwa mereka berhak untuk menerima dukungan dari komunitas yang mereka layani, meskipun secara sukarela mereka melepaskan hak itu untuk mengurangi kontroversi (1Kor. 9:1-15). Pekerjaan mereka bagi gereja membuat mereka berhak atas dukungan materiil. Sepanjang Alkitab kesediaan komunitas untuk mendukung mereka yang dalam pekerjaan gereja penuh waktu dianggap sebagai barometer dari kesehatan spiritualnya (Mal. 3:10). Ingat bahwa mereka yang berhak mendapat nafkah dalam pelayanan gereja penuh waktu adalah perkecualian, bukan peraturan. Kebanyakan orang melayani Allah dalam perjalanan hidup keseharian mereka, dengan menaati Dia dalam rutinitas pekerjaan tiap hari, keluarga dan waktu senggang.

Tujuan Kerja (3)

KITA BEKERJA UNTUK MEMELIHARA MEREKA YANG BUTUH

Perintah Allah untuk bekerja tidak saja demi kebutuhan kita dan keluarga kita. Kita bekerja supaya mempunyai uang untuk bermurah hati bagi mereka yang dalam kebutuhan. Tidak sering kita berpikir demikian tentang kerja, namun Alkitab jelas bahwa salah satu alasan kita bekerja ialah untuk menolong orang yang secara ekonomi miskin. Tentu saja, ini mengandaikan bahwa kita hidup dalam batas-batas kemampuan kita dan memiliki uang utuk menolong mereka yang butuh. Paulus dengan tegas berkata: “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efs. 4:28). Anda perhatikan bahwa bagian Alkitab itu tidak berkata orang harus berhenti mencuri dan bekerja supaya mereka dapat mencukupi diri sendiri. Itu termasuk hal yang diandaikan. Tekanan bagian ini ialah bahwa mereka akan memiliki kelebihan agar dapat menolong orang yang tidak memiliki cukup.
          Komunitas Kristen mula-mula cukup miskin. Memang ada sebagian yang kaya, tetapi kebanyakannya adalah petani atau pedagang yang tidak jauh dari kemiskinan, khususnya jika kemalangan menyerang. Gereja mula-mula penuh dengan orang yang membutuhkan pertolongan finansial, dan secara mengejutkan Paulus mengimbau gereja tidak saja bekerja keras melakukan sesuatu yang produktif tetapi berbagi penghasilan mereka secara murah hati dengan orang miskin. Penerima dukungan tidak saja yang miskin dari kerabat dekat tetapi juga orang lain dengan kebutuhan finansial di seluruh dunia kuno. Sebagai contoh, Paulus mendorong orang Korintus untuk memberi dengan murah hati dari kelimpahan mereka untuk menolong mereka di Yerusalem yang menjadi korban kelaparan berat (2Kor. 8:13-15).

         Yesus menjelaskan mengapa penting bermurah hati kepada mereka dalam kebutuhan. Ia menyatakan itu dalam bentuk perumpamaan:
Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar. (Luk. 14:12-14)

          Bagian yang dicetak miring mewakili ajaran Yesus. Kita sering melakukan sesuatu karena kepentingan diri sendiri – untuk mendapat sesuatu bagi diri kita sendiri. Tetapi Yesus menekankan bahwa kita melakukan hal benar bagi orang miskin meskipun mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk membalas kita. (Yesus mengandaikan bahwa mereka tidak dapat membalas apa pun secara finansial kepada kita.) Sesungguhnya, alasan Ia menegaskan sikap murah hati kepada orang miskin justru karena mereka tidak dapat membalas kita. Pikirkan  tentang mengapa Yesus menekankan itu. Ia meminta kita untuk memerhatikan orang miskin tanpa persyaratan, tanpa pengharapan untuk mendapat balik apa pun. Bila kita bermurah hati kepada mereka yang tidak dapat membayar kita balik, itu menjadi model dari kepedulian Allah yang tanpa syarat bagi kita. Jadi, kemurahhatian kita kepada orang miskin dan mereka yang berkebutuhan adalah sebuah cermin tentang kasih Allah kepada semua manusia. Inilah sebab dari awal sampai akhir Alkitab menempatkan tekanan tentang memerhatikan orang dalam kebutuhan. Kita bekerja agar memenuhi mandat penting ini dan mencerminkan kasih Allah yang tanpa syarat, yang merupakan inti dari sifat-Nya.

Tujuan Kerja (2)

KITA BEKERJA DALAM RANGKA MEMELIHARA
KELUARGA DAN KERABAT KITA

Alkitab sama jelasnya tentang kewajiban orang dewasa menyediakan kebutuhan keluarga mereka. Bahkan, Perjanjian Baru menegaskan itu dengan lugas. Dalam tulisan kepada Timotius tentang bagaimana memerhatikan orang yang berkebutuhan, Paulus berkata, “jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1Tim. 5:8). Sukar membuat kalimat itu lebih keras lagi. Jika seorang sanggup bekerja, ia wajib bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
 Diandaikan bahwa orang akan terus bekerja sampai mereka tidak lagi sanggup melakukan itu. Ketika itu, menurut 1 Timotius 5:4, 8 anak-anak mereka mengambil kewajiban tersebut, menyediakan bagi orangtua dan kerabat mereka segala kebutuhan mereka. Para penulis Alkitab mengandaikan orang harus bekerja sampai mereka tidak sanggup lagi bekerja, sebab kebutuhan mereka harus dipenuhi.

Tujuan Kerja (1)

Allah banyak membicarakan tentang mengapa kita bekerja – yaitu, kita harus bekerja karena hal yang dilakukan oleh pekerjaan bagi komunitas kita dan diri kita sendiri. Tetapi kita juga bekerja demi alasan-alasan yang lebih penting: pekerjaan mencapai karya dan tujuan Allah dalam dunia ini. Pertama, kita akan fokus pada alasan-alasan awal, sebab Alkitab memperlakukan ini secara serius sekali.

KITA BEKERJA UNTUK MENDUKUNG DIRI KITA SENDIRI
Pertama, kita harus bekerja dalam rangka mendukung diri kita sendiri dan tidak membebani masyarakat. Rasul Paulus menjelaskan itu dengan indah bagi orang Tesalonika bahwa tiap orang wajib bekerja untuk menyediakan kebutuhan dirinya sendiri. Ia menulis demikian:
Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (2Tes. 3:6-8, 10-12)

          Ada beberapa perkecualian terhadap peraturan umum ini dalam gereja. Mereka yang tidak sanggup bekerja, entah karena keterbatasan mental atau jasmani, diberi hak untuk berbagi dalam milik komunitas. Mereka yang Alkitab bicarakan ialah orang-orang miskin, dan kedua Perjanjian jelas bahwa komunitas harus mengurus orang miskin (Ul. 15:1-11; Luk. 3:11; Gal. 2:10; Yak. 2:15-17). Perjanjian Lama membangun suatu jaringan keamanan sosial bagi orang miskin yang bertubuh sehat yang dikenal sebagai “memungut sedikit” (Im. 19:9-10). Di sini hukum taurat melarang petani menuai semua hasil tanah yang tumbuh di ladangnya. Sebagian harus ditinggalkan bagi mereka yang tidak memiliki tanah sendiri untuk ditanami. Namun mereka tetap masih harus berinisiatif. Mereka harus datang sendiri ke ladang-ladang dan memanen sesanggup mereka. Hanya orang yang tidak sanggup bekerja, karena kelemahan jasmani atau mental, yang dibebaskan dari kewajiban bekerja.

Sabtu, 16 Juni 2012

Berdoa atau Bekerja?

"Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." - Mat 9:38

Ketika panenan sudah siap untuk dituai manakah lebih perlu, bekerja atau berdoa? Tampaknya berdoa dapat dianggap seba...gai sikap ayal-ayalan ketimbang bertindak, bukan? Tetapi doa diperlukan untuk memfokuskan perhatian kita, membebaskan kita dari perhatian2 kecil, dan membawa pengabdian dan perbuatan kita ke dalam keserasian dengan kehendak Allah. Dan berdoa di sini dimaksud agar terjadi pengerahan daya dan peningkatan mutunya. Maka dalam hari perhentian ini - Berdoalah!

Jumat, 15 Juni 2012

Berdoa untuk Sesama Seiman


Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, - Kolose 1:9-10


Berdoa untuk sesama Kristen adalah tanggungjawab dasar orang Kristen. Kolose 1:3-14 menolong kita untuk melihat bagaimana melakukan itu. Dalam bagian tersebut Paulus meminta Allah untuk memberikan orang Kristen di Kolose empat hal:

            Pengetahuan Kristen. Ia berdoa agar mereka mengetahui kehendak Allah (rencana-Nya, jalan-Nya, dan perintah-Nya) dan Allah sendiri. Dalam bahasa Yunani istilah untuk pengetahuan mengandung arti pengetahuan penuh dan menyeluruh, seperti kata kerja “dipenuhi.” “pengertian” berkait dengan prinsip kebenaran, “hikmat” dengan aplikasi prinsip tersebut ke dalam hidup (9). Kehidupan layak bergantung pada pengetahuan ini, orang yang tidak tahu/kenal Allah tidak dapat melakukan itu. Pengenalan akan Allah bertambah sementara kita menghidupinya (10).

            Praktik Kristen. Ia berdoa agar mereka menghidupi kehidupan yang layak di hadapan Kristus, raja yang kepada-Nya mereka berutang keselamatan mereka, dan suatu hidup yang menyenangkan Allah dalam segala hal (10, 13-14).

            Kesabaran Kristen. Ia berdoa agar orang Kristen sanggup untuk menanggung dengan gembira baik orang maupun situasi yang menguji dengan kesukaan sejati sementara aniaya menyeringai (11). Untuk sanggup bereaksi seperti itu, Paulus memerinci perlunya kekuatan, kuasa, dan daya.

            Pengucapan syukur Kristen. Ia berdoa agar mereka berterima kasih untuk anugerah, yaitu motif utama dari kehidupan Kristen. Sesuai kebenaran injil (5), doktrin Kristen adalah anugerah sepenuhnya dan etika Kristen adalah ucapan syukur sepanjang hidup.

Seberapa lama, sering, rinci Anda berdoa untuk sesama seperti isi doa di atas?

Berdoalah untuk oang Krsisten lain baik secara umum atau beberapa nama yang Anda ingin doakan, sesuai isi uraian di atas.

Kamis, 14 Juni 2012

Doa dan Memori yang Dikuduskan

Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan! - Mazmur 31:21

Sementara kita membaca Mazmur ini, kita belajar bagaimana bersikap dalam relasi doa. Pemazmur menantikan Allah. Mereka sama sekali tidak kehilangan harap dan keyakinan, dengan menduga bahwa Allah melupakan mereka. Sebaliknya mereka menanti dengan sabar, menopang iman mereka dengan merenungkan dan mengingatkan diri mereka tentang segala sesuatu menyangkut diri Allah: janji-Nya, kesanggupan-Nya, semua yang telah Ia lakukan untuk mereka di masa lalu; semua yang Ia janjikan akan buat di masa depan. Seringkali mereka memberitahu Allah apa yang pernah Ia buat untuk mereka, dan dengan melakukan itu mereka mengingat semua hal itu untuk diri mereka sendiri dan diyakinkan oleh ingatan tersebut. Seperti seorang berkata, “Iman harus memanfaatkan pengalaman dan membacakannya kepada Allah dari catatan ingatan yang dikuduskan.”
         Ingatlah bagaimana Daud bereaksi ketika Saul mengatakan bahwa ia hanya anak kecil dan tidak mungkin menghdapi Goliat. Ia mengingatkan dirinya dan berkata kepada Saul bagaimana singa dan beruang menyerang kawanan dombanya dan Allah telah melepaskan dia dari keduanya; Allah yang sama dan tak berubah dapat melepaskan dia kembali, jawabnya.

        Ketika kita susah hati, kita perlu mengingat apa yang kita tahu tentang Allah dan telah alami dari Allah, agar kita mendapat energi dan pengharapan baru. Penting kita menyimpan kenangan tentang perlakuan Allah yang penuh anugerah pada kita di masa lalu, dan menggunakan itu untuk menopang iman dan pengharapan kita sementara kita menanti kelepasan dan pertolongan untuk kini dengan sabar.

Apakah Anda memiliki kebiasaan membuat jurnal rohani – menuliskan apa yang Allah katakan dan lakukan untuk Anda?
Tuhan, dengan syukur aku ingat…

Selasa, 05 Juni 2012

Tangan-tangan yang Terbuka

Psalm 145:16 WEB - You open your hand, and satisfy the desire of every living thing.
Mazmur 145:16 - Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup.

Pikirkan janji indah ini. Dengan hanya membuka tangan-Nya, Allah menyediakan semua yang telah Ia ciptakan! Terkadang ketika saya memohon untuk persediaan tiap hari, seakan saya menantikan suatu mukjizat besar. Tetapi bukankah para bapak menyediakan kebutuhan anak-anak mereka? Karena Allah adalah Bapa yang sempurna, Ia telah membuat komitmen untuk menyediakan bagi semua kebutuhan makhluk ciptaan-Nya termasuk lebih lagi manusia gambar-Nya sendiri.

          Sedihnya, kita masih menyaksikan penderitaan tak terperikan di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia dan sebagian besarnya kini ditanggung di tempat-tempat di mana banyak saudara seiman kita tinggal. Letak masalahnya bukan pada Dia, tetapi pada mereka yang dipercayakan untuk menatalayan sumber-sumber bumi dan harta yang Ia percayakan. Jika saja kita bersedia berbagi berkat-berkat yang telah Allah berikan kepada kita, tidak perlu ada kekurangan materiil termasuk pengerdilan spiritual.        

          Bukannya Allah tidak menyediakan, melainkan orang-orang yang telah Ia perintahkan untuk menjadi berkat yang kerap ayal-ayalan atau tidak bersedia berbagi apa yang telah mereka terima dengan sesamanya bahkan dengan sesama tubuh Kristus. 

          Tentang persediaan sehari-hari kita, kita tidak perlu melihat ke sumber-sumber kita sendiri untuk mendapatkan jawaban, tetapi ke sumber-umber tanpa batas yang datang dari surga. Mari kita panjatkan doa yang Yesus ajar untuk kita doakan kepada Bapa dan berkata… “Berilah kami hari ini makanan kami yang secukupnya.” Jika Yesus mengajar kita meminta kepada Bapa untuk persediaan kebutuhan keseharian kita, maka kita perlu menjuruskan iman kita dengan penuh harap bahwa Ia mendengar doa-doa kita dan akan dengan setia memelihara kita… hanya dengan jalan membuka Tangan-tangan-Nya! Apakah kita juga mengikuti teladan pemeliharaan-Nya itu dengan membuka tangan-tangan kita kepada kebutuhan perlengkapan pelayanan para hamba-Nya di tempat miskin?

Jumat, 01 Juni 2012

Petunjuk Doa

Dalam segala doa dan permohonan berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,
Efesus 6:18-19




Itulah petunjuk singkat tentang doa. Meski hanya dua ayat, namun cakupannya sangat komprehensif. Perhatikan ungkapan “setiap waktu,” “tak putus-putus,” “untuk segala orang kudus,” “dalam segala doa dan permohonan,” “berjaga-jagalah.”

          Ayat-ayat ini mengajar kita tentang sifat, saat, penolong disiplin, topik, dan lingkup doa. Semua ini patut kita pelajari baik-baik, namun kini kita fokus dulu pada cakupan doa.

          Kita tidak berdoa hanya untuk diri sendiri tetapi untuk semua orang kudus, seluruh keluarga Allah – atau paling tidak untuk semua anggota keluarga yang kita kenal dan dalam cara tertentu melibatkan kita. Kita perlu bertanya kepada Allah orang kudus-Nya yang mana dan kegiatan mereka yang mana yang Ia ingin untuk kita doakan secara teratur. Izinkan Allah memimpin. Dalam hal ini, Ia memimpin orang Kristen berbeda dengan cara berbeda pula.
         
          Ada yang merasa harus mendoakan sekelompok kecil orang dan perhatian; yang lain merasa dipimpin mendoakan lingkup lebih luas. Formula umumnya, tentang apa pun Ia memimpin Anda, itu meliputi doa untuk orang kudus sebagaimana kita mengenal mereka dan kebutuhan mereka. Doa Kristen harus berorientasi keluarga, bukan hanya berorientasi perseorangan. Harus ada jejaring pelayanan timbal balik bukan saja di tingkat kontak muka-dengan-muka dan pertolongan pribadi, tetapi juga di tingkat syafaat untuk orang lain di hadapan takhta anugerah Allah. Persekutuan Kristen harus meliputi disiplin untuk saling mendoakan.

Apakah Anda berdisiplin mendoakan sesama orang kudus?
Tuhan tunjukkan aku orang kudus-Mu yang mana dan kepentingan Kristen yang mana yang Kau ingin aku doakan secara umum dan secara spesifik?