Jumat, 07 Desember 2012

Kemurnian Hati

Janganlah seperti orang munafik. - Matius 6:5

Kata asal untuk munafik (hipokrit) ialah pemain drama.dalam teater purba, jauh hari sebelum ada alat rias, para aktor memakai topeng yang menampilkan tokoh yang ia perankan. Semua yang menonton akan keliru bila menyangka bahwa mereka melihat manusia dengan sifat atau kehidupan nyata. Yang mereka lihat hanya orang-orang memainkan berbagai tokoh dan adegan, untuk menghibur, menimbulkan kesan dan dipuji.

            Maka Yeus memberitahu para murid-Nya untuk tidak hipokrit – dalam hal ini orang Farisi – dalam persembahan, doa, dan puasa (Mat. 6:1-18). Orang Farisi, menurut Yesus, hanya melakukan tindakan-tindakan supaya dilihat dan dianggap saleh oleh orang yang melihatnya. Tetapi Allah tidak suka dengan sikap itu. Allah akan melihat tetapi tidak bertepuk tangan, sebab Ia tahu bahwa tujuan tindakan itu bukan untuk-Nya tetapi untuk diri mereka sendiri.

            Yesus memegang prinsip jauh lebih tinggi seperti dalam ucapan bahagia keenam: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, sebab mereka akan melihat Allah”(Mat. 5:8). Murni hati berarti lebih dari sekadar memiliki hati dan pikiran yang bebas dari pikiran dan hasrat yang biasa disebut najis; melainkan hal itu adalah sikap yang menempatkan Allah sendiri sebagai tujuan dan menginginkan kesukaan, kehormatan, pengenalan, pemujaan, dan keakraban dengan-Nya lebih di atas segalanya.

            Paruh pertama Matius 6 seluruhnya adalah khotbah tentang kemurnian hati dengan tiga lukisan kegiatan hidup para murid – memberi, berdoa, dan berpuasa. Tidak boleh ada kemunafikan, kedangkalan, keanehan atau pameran dalam hal-hal ini atau lainnya dalam ibadah dan pelayanan Kristen.

 
Pikirkan tentang jenis situasi dan kejadian di mana saya merasa senang dengan diri sendiri. Apa yang hal tadi perlihatkan tentang siapa yang ingin saya sukakan dan peroleh perkenan darinya?

Tuhan, di mana ada motif yang tak murni dalamku, tolongku mengakuinya dan tidak berpura-pura itu tidak ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar