Selasa, 18 September 2012

Tidak Takut Berpikir

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan… segenap akal budimu. - Matius 22:37

 
Ketika Kristus memanggil kita, sebagai bagian dari hukum pertama, untuk mengasihi Allah dengan segenap akal budi kita, Ia meminta kita benar-benar menggunakan pikiran kita. Maksudnya bukan saja kita perlu belajar doktrin dalam kevakuman, tetapi menerapkan doktrin ke fakta-fakta dunia Allah sebagaimana yang kita kenal supaya kita boleh menafsirkannya dengan tepat dan dalam segala mampu membedakan apa pikiran dan kehendak A-
            Orang Kristen dilarang tidak tertarik pada dunia. Iman alkitabiah diberikan kepada kita bukan sekadar untuk mendapatkan jaminan masuk surga tetapi juga untuk menyediakan kita prinsip untuk hidup kreatif dan imajinatif di sini dan kini. Kita harus memakai pikiran yang Ia karuniakan kepada kita dengan menerapkan kebenaran yang Ia nyatakan ke seluruh hidup, dalam rangka agar semuanya boleh dikuduskan.

            Memang kita harus menjaga jarak dari dunia dalam arti kita tidak boleh menganggap dunia ini rumah kita atau menganggapnya sebagai ganjaran kita sejati. Sikap memandang dunia ini sebagai pilihan kedua disebabkan orang Kristen berkata “bagiku hidup adalah Kristus” (Fil. 1:21). Tetapi setara dengan itu, kita tidak boleh membelakangi dunia dan hilang interes kepadanya. Allah memerhatikan dunia, kita pun harus.

            Ini akan berarti kita sedia untuk memikirkan tentang masalah-masalah mendesak masa kini – relasi antar ras, relasi kerja, relasi dengan penganut agama lain, kemiskinan, pencemaran, human-trafficking, berbagai wabah penyakit. Juga ketika kita berusaha memenangkan orang lain kepada Kristus kita harus menghadapi kesulitan hidup yang mereka alami. Kesaksian Kristen bukan sekadar melemparkan ayat-ayat Alkitab, tetapi duduk berdampingan dengan orang lain yang ingin kita bantu dan memikirkan bersamanya bagaimana memecahkan masalah mereka.

 
Siapkah aku memakai akal budiku secara demikian?

Tuhan, jadikanku tidak takut berpikir, peduli, dan terlibat.

Senin, 17 September 2012

Tak Khawatir Apa Pun


Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? - Matius 6:25
 

Bacalah kembali ucapan Yesus tentang kekhawatiran ini (Matius 6:24-35) dan catat alasan yang ia berikan agar kita tidak khawatir dan mengapa tidak perlu khawatir.

            Kekhawatiran menghancurkan kepekaan tentang proporsi. Ketika kita khawatir tentang makanan dan pakaian, kita tidak dapat menghargainya sebagai pemberian agung Allah yaitu hidup ini.

            Kekhawatiran menghancurkan persepsi rohani. Ketika kita diserap olehnya, kita tidak bisa peka akan nilai yang Allah berikan kepada kita. Jika Ia memerhatikan burung, tidak dapatkah kita menaruh percaya pada Bapa surgawi kita untuk menyediakan kebutuhan kita?

            Berikutnya pertimbangan akal sehat. Anda tak dapat mengubah situasi (Siapa dapat memperpanjang usia sejengkal saja dengan berkhawatir?) (27); jadi apa gunanya khawatir?

            Akhirnya – dan ini jepitannya – selain tak mencapai apa pun, khawatir pun tidak perlu. Allah yang sama yang memakaikan bunga dan rumput dengan keindahan pasti akan juga memberi pakaian, makanan dan minuman yang diperlukan oleh anak-anak-Nya.

            Yesus menyebut para murid “orang yang beriman kecil,” ini menunjukkan bahwa khawatir keluar dari kurang / tidak percaya. Jika kita sungguh percaya janji Allah dan relasi-Nya kepada kita sebagai Bapa yang mengasihi, murah hati, perhatian, kita tidak mungkin penuh dengan kekhawatiran. Sebaliknya kita akan mencari dulu Kerajaan-Nya (hidup keselamatan, ketaatan, dan persekutuan) dan kebenaran-Nya (kehendak-Nya dalam keseharian kita). Dengan begitu kita akan menjalani realitas hidup dalam kesukaan iman akan pemeliharaan-Nya yang sempurna dan mencakup seisi dunia ini.

 
Apa yang Anda khawatirkan kini?

Serahkan tiap kekhawatiran kepada Allah dengan menyebutnya atau dengan tindakan simbolik lainnya.

Sabtu, 15 September 2012

Spiritualitas Mendunia


Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. - Kejadian 1:28
 

Suatu aliran filsafat tertentu beranggapan bahwa dunia materi ini jahat dan tak bernilai. Karena itu kita harus mengurangi berurusan dengannya. Spiritualitas sejati berarti hidup menjauh dari dunia sebisa mungkin; kekudusan dipahami sebagai menahan diri dari lalu lintas tidak perlu dengan hal-hal ciptaan. Tidak ada yang penting untuk dipelajari dari realitas di bawah ini (dunia), dan semakin kita tidak tertarik kepadanya, semakin sehat jiwa kita.

            Spiritualitas seperti itu bukan spiritualitas Kristen, namun masih saja hal itu menyelinap ke dalam gereja Kristen. Sebagian orang memupuk ide bahwa pemikiran konstruktif tentang isi dan masalah dunia bukan urusan Kristen; atau mereka menjaga agar iman Kristen mereka terpisah dari studi sekular di ruang berbeda dalam akal mereka, sebab mereka tidak melihat kemungkinan keduanya saling memperkaya. Memang harus diakui orang Kristen semacam itu memiliki semangat berkobar, tetapi jangan kaget bila mereka menyerang orang Kristen lain sebagai setengah hidup dan tidak bertumbuh.

            Ide filsafat Manichean itu jelas salah total. Allah tidak ingin orang Kristen sampai kehilangan ketertarikan kepada dunia. Ia menciptakan manusia untuk memerintah tatanan ciptaan; kita harus memerintah dunia dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah; dengan demikian kita boleh dan harus mempelajari isi dan masalah dunia ini. Ini termasuk panggilan kita baik sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen.

 

Tidakkah penting (khususnya untuk generasi muda) mempelajari bagaimana pendekatan Alkitab tentang sejarah, ilmu alam, filsafat, psikologi, dan studi “sekular” lainnya?

Doakan anak muda yang Anda kenal yang merasa terbagi dua tentang isu tadi, agar mereka berhasil mengembangkan pola pandang kehidupan yang Kristiani.

Jumat, 14 September 2012

Rindu Allah Dimuliakan


Aku menghormati Bapa-Ku… Aku tidak mencari hormat bagi-Ku. - Yohanes 8:49-50
 

Kesalehan (keilahian) adalah kualitas hidup yang ada dalam mereka yang memuliakan Allah. Orang yang saleh tidak keberatan dikatakan bahwa panggilan tertinggi hidup mereka ialah menjadi alat kemuliaan Allah. Mereka justru menganggap itu sebagai sumber kepuasan dan kepenuhan hidup. Ambisi mereka ialah mengikuti rumusan hidup agung yang Paulus simpulkan tentang Kekristenan: “Muliakanlah Allah dalam tubuhmu,” “entah kamu makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 6:20; 10:31). Pengharapannya yang terbesar adalah meninggikan Allah dengan segenap keberadaan dan dalam semua tindakan mereka.

            Seperti Allah sendiri, orang yang saleh sangat cemburuan dan ingin hanya Allah, Allah saja yang dihormati. Kecemburuan semacam itu adalah bagian dari kenyataan bahwa gambar Allah dalam mereka telah mengalami pembaruan. Kini ada doksologi tertulis dalam hati mereka, dan diri mereka tidak pernah sepenuh seperti ketika mereka memuji Allah tentang hal-hal mulia yang Ia telah lakukan dan memohon agar dapat lebih memuliakan Allah seterusnya.

            Kita boleh berkata bahwa melalui doa mereka, mereka dikenal – oleh Allah, jika bukan juga oleh manusia. Doa di tempat tersembunyi adalah sumber kehidupan orang saleh. Dan bila kita bicara tentang doa, kita bukan merujuk ke formalitas santun, hati-hati, terpola, penuh pertimbangan diri yang terkadang dianggap sebagai doa yang sejati. Orang saleh tidak berdoa sambil bersandiwara, sebab hatinya ada di dalam doa. Doa baginya adalah pekerjaan utamanya. Dan beban doanya selalu sama, pengungkapan hasrat terkuat dan terpastinya: bahwa Allah dipermuliakan.

 
Lihat mazmur 21:13(14); 57:5(6); Yoh. 12:28; Matius 6:9.

Jadikan ayat-ayat itu dasar doa dan penyembahan Anda.

Kamis, 13 September 2012

Menyukakan Roh


Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah. - Efesus 4:30
Hendaklah kamu penuh dengan Roh, - Efesus 5:18
 

Firman ini menegaskan bahwa Roh Kudus adalah pribadi dan bahwa sifat-Nya adalah kudus. Seperti halnya dengan pribadi Allah Bapa dan Putra, perilaku tertentu menyukakan Dia, perilaku lain mendukakan-Nya. Yang termasuk hal kedua itu ialah kepahitan, kemarahan, kejengkelan, pertengkaran, fitnah, kebencian, dan mencuri (Efs. 4:28-31), bahkan semua pelanggaran hukum moral lainnya. Kristen yang jatuh ke dalam dosa-dosa ini mengacaukan rencana-Nya dan merusakkan karya-Nya yang membuat kita menjadi serupa Kristus. Pengetahuan bahwa kita adalah rumah Roh Allah dan bahwa “tamu yang penuh anugerah dan selalu sedia ini” bekerja keras dalam hati kita untuk menguduskan kita, harusnya menimbulkan rasa hormat yang takjub dan cepat membuat kita malu dan meninggalkan segala kekurangan moral kita (1Kor. 6:19; Fil. 2:12).

            Untuk menjauhkan kita dari mendukakan Roh, Alkitab mendorong kita ke sisi lawannya yang positif – yaitu, dipenuhi dengan Roh. Kata yang dipakai menyiratkan suatu kewajiban terus menerus. “Dipenuhi” mengandung arti sepenuhnya memikirkan dan dikendalikan oleh realitas yang diberitahukan oleh Roh, dan hal ideal dalam hidup yang Ia tunjukkan kepada kita. Dari sumber mana kita boleh mencari kepuasan hidup? Tidak dari pemuasan nafsu serupa orang mabuk oleh alkohol (cara pemuasan yang duniawi), tetapi dari memusatkan perhatian sepenuhnya dengan perhatian Roh sendiri. Maka kita akan memiliki sesuatu yang akan membuat kita bernyanyi, sebab Roh yang disukakan akan menopang kita dengan sukacita yang tak pernah dikenal oleh orang duniawi (Efs. 5:18-20).


Apakah orang Kristen gereja Anda dicirikan oleh kesukaan? Bisa saja mengklaim kesukaan batin, namun tak seorang pun memercayai itu jika wajah kita tegang, keras, dan tidak puas.

Tuhan, dagingku lemah tetapi rohku ingin Roh-Mu memenuhi setiap bagian keberadaanku.

Rabu, 12 September 2012

Kesukaan melalui Melayani


Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Yohanes 4:34

 
Yesus adalah teladan dalam semua segi kehidupan; juga menyangkut motivasi dan sikap Ia merupakan pengukur tentang apa arti menjadi manusia sejati. Jika manusia gagal mengasihi Allah dan sesama sebagaimana yang Allah maksudkan bagi kita, kita menjadi kurang manusiawi. Hanya jika kita menetapkan hati untuk meniru teladan Kristus, barulah kita memenuhi dan mengembangkan – sebagai lawan dari melanggar dan merusak – sifat manusiawi kita, yang memang telah banyak dirusak oleh hadirnya dosa. Dan hanya dengan cara ini kita dapat menemukan kesukaan sejati, yang secara integral selalu terikat dengan perasaan bahwa hidup kita berarti serta terpenuhi. Ketika Yesus berkata bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menggenapi pekerjaan-Nya, ia sedang menyaksikan tentang kesukaan yang Ia dapatkan di dalam pelayanan Bapa-Nya – yaitu pelayanan yang memenuhi sifat-Nya sebagai Anak, dan juga setara dengan itu memenuhi sifat-Nya sebagai manusia.

            Untuk kita, sebagaimana untuk Yesus, realisasi penuh dari semua potensi khas manusiawi kita (suatu realisasi yang sekaligus merupakan inti kebebasan dan puncak kesukaan) ditemui bukan dalam kehendak diri, tetapi dalam pelayanan kepada Allah (yang untuk kita berarti melayani Anak dan Bapa, dan orang lain demi Tuhan). Jalan lain mungkin sesaat memberikan pemenuhan diri tetapi tidak memberikan kebebasan  atau kesukaan; dan pemekaran pengalaman kita yang dihasilkan oleh jalan lain itu tak bernilai dibandingkan dengan pengerdilan kemanusiaan sejati kita.

 
Dapatkah saya menggemakan ucapan Yesus ini?

Tuhan, luaskan pengalamanku akan Engkau supaya aku boleh bertumbuh dalam kemanusiaan sejati.

Senin, 10 September 2012

Yang Utama, Pertama

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
- Matius 6:33

 
Yesus mengajar para murid-Nya untuk tidak khawatir atau berpikir berlebihan tentang harta benda (Mat. 6:25-34). Bukan berarti kita boleh malas; sebab dalam firman yang lain kita diminta untuk bekerja keras, jujur dan mencukupi keluarga kita (2Tes. 3:10; Efs. 4:28; 1Tim. 5:8). Tetapi memang hal-hal itu tidak boleh menempati prioritas melebihi relasi kita dengan Allah.

            Marta tidak melihat prioritas ini. Ketika Yesus dan para murid datang berkunjung, ia ingin memberi kesan baik, memasakkan mereka makanan enak. Itu tidak salah, tetapi ia terpaksa menunda prioritas utamanya. Ketika ia kesal karena Yesus tidak menyuruh Maria untuk membantu, Yesus menjawab bahwa meski Marta sudah bersusah payah tentang penyambutan itu, Maria memilih hal yang harus dipertamakan.

            Mudah sekali terjebak ke dalam kesibukan keseharian dan berkata kepada diri sendiri bahwa semua itu lebih penting daripada persekutuan dengan Allah. Sebenarnya, tak satu pun lebih penting. William Temple berkata bahwa kita cenderung menganggap kelakuan lebih penting dan doa adalah penunjang untuk kita bertindak benar, padahal yang benar ialah doa adalah yang paling penting dan kelakuan kita adalah petunjuk tentang kualitas doa kita. Kita harus menomorsatukan yang nomor satu, sambil percaya bahwa Allah memperhatikan kebutuhan kita, dan menolak kekhawatiran untuk mengemuka dalam hidup kita, sambil usaha untuk mengenal dan menyukakan Allah menjadi perhatian pertama kita.

 
Hal yang sungguh sangat ku inginkan dalam diriku dan mereka yang kukasihi ialah… (selesaikan kalimat ini),

Minta Allah menolong Anda memilih/menjalani prioritas hidup yang benar.

Jumat, 07 September 2012

Kesukaan karena Mengasihi Diri Sendiri

Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata. - Pengkhotbah 11:7
 

Rahasia ketiga untuk sukacita ialah mengasihi diri sendiri, dalam arti mengizinkan Anda menikmati hal-hal yang dapat dinikmati dalam hidup ini (11:7-10). Dalam ayat-ayat ini penulis memberi petunjuk tentang bagaimana kita dapat bahagia dengan bagian hidup kita tiap hari, meski terjadi ketegangan dan kepedihan. Kita perlu mempraktikkan penikmatan dan entusias tentang kegembiraan dalam keseharian. Lebih baik bersemangat daripada tidak. Di bagian awal Pengkhotbah, penulisnya memodelkan seseorang yang telah melakukan dan mencoba segala sesuatu, lalu berkata bahwa ia membenci hidupnya sebab tidak satu pencapaian pun telah memberinya kepuasan dan ia merasa tertipu. Tetapi orang yang berpikiran benar, demikian kini Pengkhotbah melanjutkan, tidak membenci hidup. Ia ingat bahwa “terang itu menyenangkan, dan melihat matahari itu baik bagi mata” (7-8).

            Ketika penulis berkata, “Segala sesuatu sia-sia,” maksudnya ialah bahwa hidup mungkin tidak akan seperti yang Anda harapkan atau memberi yang Anda inginkan. Namun demikian kita dapat dan harus bersukacita sementara kita menghidupi kehidupan pemberian Allah ini. Sebab hidup baik adanya. Ada warna, terang, kehangatan, dan keindahan dalam dunia Allah dan orang-orang yang melakukan hal-hal baik; hidup membawa banyak saat kegembiraan jika kita cermat.

            Hidup Kristen yang berhikmat akan entusias, menanti dengan realistis bahwa akan ada banyak hal yang salah dan terasa menyimpang, namun pada saat sama dengan sepenuh hati menikmati semua kegembiraan yang Allah berikan tiap-tiap hari. Nasihat yang baik untuk kita semua, tetapi penulis khusus menerapkan itu kepada orang muda (9-10).

 
Setujukah Anda, Anda harus mengasihi diri sendiri? Mengapa? Dan bagaimana?

Tuhan, bukakan dan bangkitkan segenap kepekaan, hati, akal budiku untuk mencerap dan merespons segala sesuatu dan semua orang yang mencerminkan secara unik kasih, kebenaran, atau kreatifitas-Mu.

Kamis, 06 September 2012

Kesukaan melalui Mengasihi Sesama


Lemparkanlah rotimu ke air… Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang.
Pengkhotbah 11:1-2
 

Rahasia kedua untuk bersukacita ialah mengasihi sesama (11:1-6). Ayat kunci di atas menggambarkan tangan terbuka yang murah hati yang melihat kebutuhan di sekitar dan menerima risiko untuk berusaha memenuhinya. Anda melempar roti ke air. Anda memberikan kepada orang yang dengan perhitungan manusia tidak mungkin mengembalikan. Ingat perumpamaan talenta tentang orang yang begitu takutnya kehilangan apa yang ia punya, hanya mengubur talentanya? Ketika tuannya pulang, ia tidak dipuji seperti yang ia harapkan, tetapi dikecam keras dan dinilai telah tidak setia. Dengan tidak berbuat apa-apa supaya tidak menanggung risiko apa pun, orang itu tidak mencapai apa-apa; dan Tuhan tidak memberi perhatian apa pun kepada murid yang tak berbuat apa-apa.

            Harus ada luapan gairah yang riil, kesediaan nyata untuk mengambil risiko, sampai kita bekerja dan menolong serta melayani orang lain. Orang Kristen sejati akan kedapatan selalu melakukan hal-hal yang terkesan tidak bijak demi melayani orang lain. Orang yang bijak-duniawi akan berkata: “Anda buat itu, Anda pasti bangkrut. Anda buat itu, lalu apa jadinya keluarga Anda? Atau reputasi Anda” Tetapi komentar begitu bukan semangat hati-lapang, tangan-terbuka, kemurah-hatian yang berani memikul risiko yang Tuhan inginkan dari kita (Luk. 6:30). Kita tidak boleh bertanya apakah ada cukup cadangan makanan di lemari es kita untuk menjamin tindakan kita menolong orang lapar. Kita harus melakukan itu karena ada orang yang membutuhkan, bahkan jika untuk itu kita sendiri harus jadi lapar, sebab itulah sikap yang harus ada dalam kita: semangat untuk bersedia memperluas jangkauan diri kita bahkan sampai berlebihan untuk memenuhi kebutuhan sesama kita. Orang Kristen perdana memiliki semangat itu (Kis. 2:44-45; 4:34-35). Kita harus memilikinya juga.

 
Bakarlah jembatan di belakang Anda agar tidak ada kemungkinan lain selain maju. Lakukan itu agar Anda dapat memiliki semangat kasih yang berisiko, nekat, dan aktif.

Tuhan, tolongku untuk bebas, terbuka tangan, murah hati, dan bebas mengasihi sesamaku.

Rabu, 05 September 2012

Kesukaan melalui Mengasihi Allah

Ingatlah… Penciptamu pada masa mudamu, - Pengkhotbah 12:1
 

Anda seperti juga semua orang lain pasti ingin memiliki sukacita dalam hidup, bukan? Pengkhotbah 12 memberikan petunjuk. Ia memberi tiga rahasia sukacita yang kelak lebih penuh dinyatakan lagi dalam Perjanjian Baru. Untuk bersukacita, Anda harus mengasihi diri sendiri, sesama, dan Allah. Kita tidak dapat mengasihi sesama sebagaimana mestinya kecuali Anda telah belajar mengasihi diri sendiri; mengasihi diri dengan tepat hanya bisa terjadi jika Anda telah belajar mengasihi Allah; dan tidak mungkin mengasihi Allah kecuali Allah lebih dulu mengasihi dan menaruh penilaian-Nya atas Anda sebagai orang yang telah Ia ciptakan dan tebus dan jadikan anggota keluarga-Nya.

            Jadi rahasia pertama sukacita ialah mengasihi Allah. Hal itulah yang ditegaskan Pengkhotbah ketika mengatakan, “Ingatlah Penciptamu pada masa mudamu.” Dengan kata lain: Sekarang ini, semasa Anda memiliki tenaga dan kekuatan, bersungguhlah melayani Allah yang telah melakukan dan memberi begitu banyak untuk memberkati Anda. Ada perubahan hidup yang terjadi sesudah orang lanjut usia, tetapi alangkah sedih bila seseorang harus menjalani masa tua dalam penyesalan bahwa ia tidak mengasihi Tuhan lebih awal supaya dapat melayani Dia dengan energi kemudaannya. Dalam Perjanjian Lama dan Baru, melayani Allah adalah bagian dari kasih kepada-Nya – takut kepada-Nya: “Takutlah kepada Allah dan peganglah perintah-perintah-Nya” (13). Takut yang dimaksud tidak ada hubungan dengan ketakutan. Takut adalah ungkapan kasih yang memuja, menyembah, dan takjub, karena mengingat kebesaran Allah dan kekecilan diri kita.

            Umat Israel Perjanjian Lama mengasihi Tuhan sebab Ia mengasihi mereka dan melepaskan mereka dari tawanan di Mesir. Orang Kristen mengasihi Tuhan sebab Ia mengasihi mereka dan membebaskan mereka dari tawanan dosa dan dari keabadian tanpa Allah yang tanpa Dia semua kita menuju ke akhir celaka itu.

 
Apakah hidupku kurang sukacita? Seberapa besar kasihku kepada Allah?

Tuhan, tunjukkanku hari lepas hari apa arti mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mrk. 12:30).

Selasa, 04 September 2012

Ketidakjelasan Hidup


Segala jerih payah manusia adalah untuk mulutnya, namun keinginannya tidak terpuaskan.
Pengkhotbah 6:7
 

Dalam pasal 6  penulis Pengkhotbah pertama berkata bahwa orang yang usianya panjang tetapi tidak menikmati hal-hal baik dalam kehidupan lebih buruk daripada anak yang keguguran. Baik orang itu maupun bayi yang tidak hidup itu pergi ke tempat sama, tetapi orang itu pergi dalam keadaan kurang bahagia (3-4).

Lalu ia membuat generalisasi bahwa orang yang bekerja keras untuk mencari nafkah tetap masih memiliki keinginan tak terpuaskan (7). Jadi apa kelebihan orang berhikmat daripada orang bodoh? (8). Ia lalu mengomentari bahwa realisme lebih baik daripada fantasi; hidup dalam fantasi adalah contoh lain tentang kesia-siaan (9).

Kini tiba semacam kesimpulan. “Apapun yang ada, sudah lama disebut namanya. Dan sudah diketahui siapa manusia, yaitu bahwa ia tidak dapat mengadakan perkara dengan yang lebih kuat dari padanya. Karena makin banyak kata-kata, makin banyak kesia-siaan. Apakah faedahnya untuk manusia? Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia? (10-12). Dengan kata lain: Apa gunanya hikmat jika hidup seperti itu? Kita tidak dapat menemukan arti darinya. Ayat-ayat ini adalah bagian paling pahit dalam Pengkhotbah, menggabungkan semua perasaan kesia-siaan yang telah dipaparkan dalam separuh pertama buku ini.

Tetapi dalam bagian kedua, pengkhotbah memberitahu pembaca: Carilah hikmat, hargai hikmat, dan Anda akan berada di jalan menuju kesukaan, betapa pun pahit dan pesimis perasaan Anda ketika memulai perjalanan hidup, dan betapa pun kesusahan bertambah. Ia menuntun kita ke kesukaan, bukan ke kesuraman.

 
Awasi suasana hati murung ini, baik dalam diri Anda maupun orang lain. Cari tahu tentangnya dari buku atau media lain.

Berdoalah untuk orang yang sedang mengalami kesuraman agar Allah memimpin mereka ke jalan hikmat dan kesukaan.

Senin, 03 September 2012

Masalah Kehidupan

Aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari. - Pengkhotbah 4:1
 

Pengkhotbah melihat ke sekeliling dan mencatat beberapa hal ini. Pertama, ia melihat penindasan – tangis dan kepedihan, tanpa seorang pun yang menghibur mereka; di pihak lain para penindas berkuasa dan sanggup memperlakukan orang lain seenaknya – sedemikian parah sampai yang tak berdaya dan terhimpit merasa lebih baik tidak pernah hidup.

            Kedua, kesia-siaan kesibukan hidup. Segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain” (4-8). Salah satu motivasi kuat dalam hidup ialah iri hati, cemburu, sombong, dan keinginan melebihi orang lain. Tetapi hidup yang digerakkan oleh kecemburuan tidak pernah memberi kepuasan.

            Kemudian, ia melihat kesepian dalam dunia Allah (9-12). Pemikiran penting dalam alinea ini ialah kesedihan orang yang sendirian: ketika ia gagal, tidak ada yang menolong (10). Ketika ia dalam masalah, tak seorang pun di sampingnya. Ada banyak orang seperti itu di dunia, dan dalam keluarga Allah: gereja Kristen.

            Akhirnya, ia melihat kesusahan dalam naik turun kehidupan (13-16). Pengkhotbah mungkin melihat kenyataan ketika ia merujuk ke raja tua dan bodoh, yang tak lagi sedia menerima nasihat, meski ia telah keluar dari penjara untuk menjadi raja atau dalam kerajaannya sendiri ia miskin. Ketika ia naik kuasa ia menjadi sombong dan bebal. Apa yang akan terjadi? Kelak ia akan diganti oleh seorang muda yang miskin yang kelak pun akan diganti dan dilupakan juga. Hidup untuk tiap orang ada gelombang naik dan turunnya, dan semakin tinggi ia naik, semakin hebat jatuhnya.

 
Apa pikiran dan perasaan Anda melihat masalah-masalah hidup?

Tuhan, tidak banyak yang berubah sejak zaman Pentkhotbah. Kini masih ada penindasan, kesepian, kerja keras sia-sia, turun dan naik… Bagaimana supaya aku ada tanpa menjadi bagian di dalamnya?

Sabtu, 01 September 2012

Kenikmatan Hidup


Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia."  - Pengkhotbah 2:1
 

Penulis Pengkhotbah menguji kenikmatan hidup dengan mencicipinya (2:1-11).

            Ia mencoba kesenangan, permainan dan minuman keras (1-3); kemudian ia masuki dunia bangunan, membangun rumah, dam menata perumahan (4-6). Sesudah itu ia menumpuk harta – para budak lelaki dan perempuan, kawanan ternak, perak, emas, dan harta berharga lainnya (7-8); apa saja yang ia ingin ia ambil. Tetapi akhirnya ia masih juga tidak puas, meski masih menikmati bekerja selama ia masih bisa bekerja (9-11).

            Banyak orang juga seperti itu. Kita menikmati melakukan hal-hal sehingga kita merespons tantangan dan kerja keras dan mungkin menghasilkan uang, mendirikan perusahaan, dan mampu membeli rumah mewah. Semua itu menyenangkan tetapi ketika semuanya berlalu kita menemukan bahwa semuanya bagaikan mengejar angin. Tidak satu pun memberikan kesukaan. Mungkin kita merasakan kenyamanan, kepastian, tetapi sukacita lebih dari sekadar tidak mengalami ketidaknyamanan. Untuk bersukacita harus ada semacam kepekaan bahwa hidup berharga, dan kita berarti.

            Jika kita mencari arti dan makna dalam kesenangan hidup, kita akan kecewa sebab kita mencari di tempat salah. Kesenangan yang dijanjikan oleh pencapaian adalah tipu: kita pikir kita akan mendapatkan kepuasan abadi sekali kita telah mencapainya – ternyata tidak! Sebaliknya kita menemukan apa yang Marie Antoinette katakan, ketika Anda memiliki semua tak satu pun terasa. Semakin Anda memiliki kesenangan dunia, semakin kurang gembira Anda akan mereka.

 
Apa yang memberi hidupku arti dan makna?

Arahkan pikiran Anda untuk memuji dan meminta Allah menolong Anda lebih yakin menjalani keseharian Anda karena mengingat Anda berarti di mata Allah.

Kamis, 30 Agustus 2012

Penyataan Kumulatif


Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. - Matius 16:17

 
Karena Perjanjian baru lebih maju daripada Perjanjian Lama, bolehkah kita mengatakan bahwa penyataan bersifat “progresif”? bergantung pada apa yang kita maksud dengan kata itu. Jika yang kita maksudkan ialah bahwa ujaran Perjanjian Lama Allah, secara keseluruhan dalam satu atau lain cara menunjuk ke kedatangan Anak-Nya, istilah itu dapat diterima. Tetapi banyak teolog liberal menggunakan “progresif” untuk mengungkapkan ide bahwa sejarah penyataan sesungguhnya adalah sejarah bagaimana pemikiran Israel tentang Allah berevolusi dari sesuatu yang primitif (ide tentang allah peperangan) menjadi lebih baik (Pencipta yang moral) sampai ke konsepsi bahwa Allah yang diajarkan Yesus adalah Bapa yang mengasihi; dan mereka membuat ide ini sedemikian rupa sampai menyiratkan bahwa orang Kristen tidak perlu memerhatikan lagi Perjanjian Lama, sebab semua ide yang dapat dipelajari tentang Allah telah tertampung lengkap dalam Perjanjian Baru, dan ide lainnya salah.

            Tetapi jelas itu tidak benar. Allah memang telah mengembangkan pengetahuan manusia tentang diri-Nya melalui proses penyataan, tetapi ide bahwa yang dinyatakan kemudian menentang dan membatalkan yang dinyatakan sebelumnya adalah salah. Demikian juga dampak pandangan itu yang membuat orang mengabaikan Perjanjian Lama. Penyataan Perjanjian Baru selalu bertumpu atas landasan Pesrjanjian Lama, dan mencabut fondasi sesudah struktur bangunan berdiri berarti menumbangkan struktur bangunan itu sendiri. Orang yang mengabaikan Perjanjian Lama tidak akan mendapat banyak dari Perjanjian Baru.

            Penyataan yang kemudian, jauh dari menentang apa yang telah datang sebelumnya, justru mengandaikan dan membangun di atasnya. Ide ini paling baik diungkapkan dengan menyebut penyataan sebagai kumulatif daripada progresif.

 
Dapatkah para orangtua belajar sesuatu dari penyataan Allah yang kumulatif kepada umat-Nya tentang cara mendidik anak?

Tuhan, tolong aku memelihara gambaran benar tentang Engkau dari penyataan-Mu.

Rabu, 29 Agustus 2012

Penyataan - Lisan dan Pribadi


Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. - Ibrani 13:7-8

 
Menerima penyataan Allah bukan semata soal duduk dan belajar doktrin. Tidak ada teolog modern yang dapat menegaskan hal itu lebih tegas daripada penulis Ibrani pasal 11 bahwa iman bukan ortodoksi belaka tetapi menaruh percaya secara eksistensial kepada Allah yang hidup. Bahkan, sebagaimana Ibrani 11:7-8, 11, 13 perlihatkan, percaya demikian hanya mungkin atas dasar komunikasi lisan dari Allah – yaitu perintah dan janji ilahi – yang dikenali sebagai datang dari Allah.

            Kepercayaan bahwa penyataan berhakikatkan komunikasi lisan dari surga tidak menentang identifikasi Perjanjian Baru tentang Yesus sebagai Firman Allah (Yoh. 1:1-14) yang menyatakan Bapa (Yoh. 1:18; 14:9). Bila ada yang mengeluarkan pendapat berbeda (memang ada yang berpendapat begitu) berarti berpendapat bahwa karena “Flying Scotsman” adalah nama lokomotif, nama itu tidak bisa juga menjadi nama sebuah kereta api. “Firman” (logos) menekankan ungkapan pemikiran dalam berpikir dan berbicara. Anak Allah disebut Firman karena dalam Dia pikiran, sifat, dan rencana Allah terungkap penuh. Penyataan Allah disebut juga Firman sebab ia merupakan ungkapan lisan berbentuk pemikiran yang mengandung Allah sebagai subyek dan sumbernya. Kata lisan memberi kesaksian kepada Firman pribadi dan memampukan kita untuk mengenal Firman pribadi sebagaimana adanya Ia, yang tidak mungkin terjadi dengan cara lain.

            Meskipun Ibrani mulai dengan memuliakan Anak Allah sebagai gambaran sempurna dari Bapa-Nya, tiga kali dari empat ungkapan “firman Allah” dipakai bukan untuk menekankan Kristus tetapi pesan ilahi tentang Dia (Ibr. 1:3; 4:12; 6:5; 13:7).

Pelajari semua rujukan kepada Firman Allah dalam surat Ibrani.

Bapa, atas semua arti Firman Allah – aku berterima kasih dengan segenap hatiku.

Selasa, 28 Agustus 2012

Penyataan dalam Kata dan Aksi


Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang Israel.

                                                                                                            Mazmur 103:7

 

Ide bahwa hakikat penyataan bersifat komunikasi lisan tidak menyiratkan bahwa Allah adalah rabi di awang-awang yang pekerjaannya tidak lain dari duduk dan bicara. Yang sungguh tersirat adalah tidak ada peristiwa sejarah yang dalam dirinya dapat membuat Allah dikenal oleh semua orang kecuali Allah sendiri menyingkapkan artinya dan tempatnya dalam rencana-Nya. Peristiwa-peristiwa dalam penyelenggaraan ilahi boleh berfungsi mengingatkan kita secara kurang jelas bahwa Allah sedang bekerja, tetapi kaitannya (jika ada) dengan maksud penyelamatan-Nya tidak dapat diketahui sampai Ia sendiri memberitahukannya kepada kita. Tidak ada peristiwa apa pun yang sanggup menafsirkan dirinya sendiri.

            Contohnya, Keluaran hanya satu dari banyak perpindahan suku dalam sejarah. Kalvari hanya salah satu dari sekian banyak penghukuman mati oleh orang Romawi. Siapa dapat menduga tentang arti penyelamatan yang unik dari peristiwa- peristiwa ini jika Allah tidak memberitahukannya kepada kita?

            Dalam arti tertentu semua sejarah adalah kisahnya Allah, tetapi tidak satu pun yang menyatakan Dia kecuali Ia sendiri bicara kepada kita tentang itu. Penyataan Allah bukan melalui perbuatan tanpa perkataan (drama bisu) juga bukan seperti perkataan saja tanpa perbuatan. Allah bicara kepada kita melalui perbuatan atau, lebih alkitabiah, melalui perkataan yang diteguhkan dan digenapi oleh perbuatan. Fakta yang harus kita hadapi ialah bahwa jika tidak ada penyataan lisan, maka sama sekali tidak ada penyataan, tidak juga dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret.

 

Bagaimanakah Anda mengerti Mazmur 39:1-4 dalam terang yang dikatakan di atas? Apakah penyataan umum dan khusus adalah sejajar dengan anugerah umum dan khusus?

Tuhan, terima kasih atas perbuatan-Mu dalam hidupku dan perkataan-Mu yang Kau berikan untuk menolongku memiliki pandangan benar tentang perbuatan-Mu.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas Nabi


Kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan… Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
- Yeremia 1:7, 9.

 
Sifat tugas nabi dikristalkan dalam perkataan kepada Yeremia. Menaruh perkataan ke mulut seseorang lain berarti meminta ia memberitahu kepadanya apa tepatnya yang harus ia katakan. Itulah yang Allah buat dengan para nabi. Seperti yang berulang kali mereka katakan kepada kita, Firman Tuhan datang kepada mereka dan memberitahukan mereka apa yang harus mereka katakan kepada orang lain dalam Nama Allah.

            Amos memaparkan para nabi sebagai para pengantara penyataan dalam dua ayat berturutan (Am. 3:7, 8). “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut?” Di sana para nabi adalah para pelihat dan pendengar, penerima penyataan. Lalu Amos berkata,  “Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Di sana para nabi adalah pembicara dan pembawa pesan, yang didesak untuk mendeklarasikan rahasia yang Allah telah singkapkan kepadanya.

            Karena itu, pada intinya, para nabi adalah para pewarta awal dari Firman Allah, para agen manusia yang membuat pernyataannya didengar publik dan menyiarkannya kembali kepada umat yang kepadanya ia diutus. Tetapi karena rahasia Allah sering melibatkan juga rencana rahasia-Nya, termasuk artinya untuk tindakan di masa kini, para pewarta awal Firman Allah itu sering terkesan sebagai para peramal hal-hal yang akan datang. Begitulah ide bahwa para nabi adalah peramal bertemu.

 
Kenalkah Anda nabi modern – orang yang mengaplikasikan Firman Allah dalam Nama Allah kepada Anda dan orang lain? Apakah Anda berdoa agar para pengkhotbah masa kini boleh berperan nabi dalam arti tadi?

Berdoalah untuk para nabi yang terasing, dan tawar hati, yang Anda kenal.

Jumat, 24 Agustus 2012

Firman Nubuatan


Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa… Beginilah firman TUHAN. - Amos 1:1, 3
 

Tanda istimewa nubuat Perjanjian Lama ialah formula “Beginilah firman TUHAN” yang selalu mendahului pengucapannya. Formula itu memproklamirkan sumber dan otoritas pesan para nabi: ia memberitahukan dunia bahwa perkataan mereka harus didengar dan diterima sebagai pencanangan kerajaan dari Allah, dan bukan sekadar produk manusia saleh. Pesan profetis cocoknya dibandingkan bukan dengan editorial Kompas tetapi dengan pernyataan-pernyataan dari pihak istana.

            Lazimnya para nabi bicara atas nama pribadi Allah: “Aku” dalam ujaran mereka lebih sering daripada menyebut Yahweh sendiri. Psikologi dari inspirasi profetis, melibatkan faktor-faktor suara, visi, intuisi, dan perenungan, jelas misterius bagi kita yang tidak ikut mengalaminya. Tetapi kedua Perjanjian memberitahu kita bahwa inspirasi profetis, betapa pun misteriusnya, merupakan fakta yang terjadi berulang kali mulai dari Musa seterusnya dan inspirasi ini memiliki dampak definit dan khas. Inspirasi profetis lebih dari sekadar wawasan alami, bahkan lebih dari pencerahan rohani; inspirasi profetis adalah suatu proses unik di mana pewarta manusia ditarik ke dalam pengidentifikasian sedemikian sempurna dengan pesan yang telah Allah berikan kepadanya untuk disampaikan sampai yang ia katakan dapat dan harus diperlakukan sebagai sepenuhnya ilahi.

            Meskipun kuasa pemikiran dan keahlian nabi sendiri sepenuhnya dipakai dalam menyelami penyingkapan diri Allah dan dalam menyiapkan penyingkapan itu untuk publikasi (lisan atau tulisan), produk yang dihasilkan itu secara seragam dan tanpa salah adalah “Firman dari TUHAN.”

Dapatkah para pengkhotbah, penyuluh, dlsb. masa kini belajar sesuatu tentang metode, ketrampilan para nabi Perjanjian Lama?

Tuhan, tolong aku mengidentifikasi diri dengan pesan yang Engkau ingin aku sampaikan ke orang lain.

Kamis, 23 Agustus 2012

Tumbuh dalam Kekudusan


Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar; karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. - Filipi 2:12-13

 
Penting sekali bahwa kita menyingkirkan segala suasana kesombongan dari pikiran kita yang sementara kita tumbuh dalam kekudusan mengusulkan bahwa kita tidak terlalu memerlukan pengudusan dari darah Kristus. Kita tak akan pernah terlalu berlebihan dalam kebutuhan kita akan darah Yesus. Konteks untuk pengudusan kita adalah pembenaran oleh darah Kristus.

            Sumber pengudusan kita ialah kesatuan dengan Kristus. Kita dipersatukan dengan-Nya pada titik di mana kehidupan kita yang pertama (hidup lama kita) berakhir dan kehidupan baru mulai. Permulaan hidup baru berarti pembaruan hati kita sehingga kini kita mengasihi Allah dan kehendak-nya, jalan-Nya, serta maksud-Nya, dan menemukan hasrat terdalam kita – yaitu mengenal, mengasihi, mendekat, melayani, menyukakan, dan memuji Dia sepanjang hari-hari kita. Panggilan untuk kudus hanyalah panggilan agar kita menjadi Kristen sewajarnya dan mengizinkan semua insting, impuls, kerinduan baru itu mengungkap diri dalam cara kita hidup.

            Agen pengudusan adalah Roh Kudus yang bekerja dalam kita untuk menciptakan kemauan dan tindakan sesuai perkenan baik Allah. Berulang kali kita harus berlutut dan mengakui ketidakberdayaan kita serta memohon untuk diberdayakan. Lalu, dengan memercayai bahwa Allah mendengar dan menjawab kita, kita harus bertindak, berusaha untuk melakukan hal yang telah kita minta dalam doa.

            Semua ini tidak semudah yang terdengar, sebab pengudusan adalah peperangan (Gal. 5:17). Kita tidak pernah mengarahkan hati kita sepenuhnya kepada perkara-perkara Allah, sehingga meskipun tindakan kita benar menurut standar eksternal, hati kita tidak sempurna benar. Pengudusan melibatkan pergumulan dan perjuangan sepanjang hidup.

 
Apakah hal yang darinya kita tumbuh dalam kekudusan? Apakah hal yang darinya tidak mungkin kita akan tumbuh?

Tuhan, aku sadar aku tidak boleh menyebut apa pun sebagai “pertumbuhan” jika membuatku menjauhi salib-Mu.

Rabu, 22 Agustus 2012

Lemah namun Penuh Kuasa


Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. - 1 Korintus 2:3-5
 

Paulus tahu bawa ia akan terlihat bodoh di mata orang Korintus. Baiklah! Ia siap untuk itu. Ia akan mengandalkan Tuhan agar menghormati Firman-Nya. Ia memberitahu orang Korintus bahwa ia sengaja membelakangi kembang api filsafat dan oratorika, karena berketetapan hati untuk bicara gamblang dan sederhana serta memercayai Roh Kudus untuk mendemonstrasikan, mengukuhkan, dan mengotentikkan kebenaran ilahi pesan yang ia sampaikan. Ia memercayai kuasa Allah, bukan kecerdasannya sendiri.

            Memang Paulus merasa sedikit bodoh. Itulah tujuan kata lemah dan takut yang ia pakai. Menyadari bahwa ia akan mengecewakan orang Korintus karena tidak menyerasikan diri dengan kesombongan intelektual Yunani, ia merasa rentan dan bersiap dianggap aneh, dan itu membuatnya tidak nyaman. Namun demikian ia tidak surut. Ia tahu bahwa kesetiaan menuntutnya melakukan itu, dan ia tahu bahwa ia dapat menaruh percaya kepada Allah untuk menghormati kesetiaannya. Paulus melihat kepada Roh Kudus untuk mengabsahkan Firman.

            Roh bertindak sesuai yang Paulus harapkan. Hasilnya ialah gereja Korintus! Allah menghormati kesetiaan kepada kebenaran-Nya – kesetiaan baik kepada isi yang Ia berikan maupun pencerahan yang Roh berikan. Kini kita pun dipanggil untuk menyaksikan kesetiaan sejenis itu.


Apakah pesan Allah kepada Paulus: Jangan takut, bicaralah dan jangan diam; sebab Aku besertamu, dan tak seorang pun akan membahayakan hidupmu; sebab Aku memiliki banyak orang di kota ini (Kis. 18:9-10), juga pesan untuk Anda kini?

Tuhan, tolong aku untuk mendemonstrasikan dalam hidupku bahwa betapa pun lemah dan tak layak kami secara manusia, kami boleh dipenuhi kuasa Roh-Mu.

Selasa, 21 Agustus 2012

Pembentukan Yakub (2)



Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Bertanyalah orang itu kepadanya: "Siapakah namamu?" Sahutnya: "Yakub." Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." - Kejadian32:26-28


Ketika Yakub diberitahu bahwa Esau membawa pasukan bersenjata menuju dia untuk membalas berkat yang telah ia curi duapuluh tahun sebelumnya, ia terhempas dalam keputusasaan besar. Dan kini saat untuk Allah tiba. Malam itu, sementara Yakub berdiri sendirian di tepi sungai Yabok, Allah menjumpainya (Kej. 32:22-32). Terjadilah berjam-jam lamanya pergumulan berat dan menyakitkan; pergumulan rohani, dan untuk Yakub terkesan sebagai, juga jasmani.

            Yakub berpegang pada Allah; ia menginginkan berkat, yang meneguhkan perkenan dan perlindungan ilahi dalam krisis tersebut, tetapi ia tidak mendapatkan apa yang ia cari. Sebaliknya, ia makin menjadi sadar akan keadaan dirinya – amat tak berdaya dan tanpa Allah, sangat tak berpengharapan. Ia merasakan seluruh kegetiran dari cara-cara hidupnya yang tak bermoral dan sinis kini balik ke sangkarnya. Sejauh ini ia telah bertindak mengandalkan diri sendiri, percaya bahwa dirinya lebih hebat dari apa pun yang terjadi, tetapi kini ia merasa sama sekali tidak berdaya untuk mengendalikan segala yang terjadi. Dalam terang benderang membutakan Ia sadar, bahwa ia tidak akan berani lagi memercayai diri sendiri untuk mengurus kehidupannya dan mengukir destininya. Agar hal ini terang dan jelas untuk Yakub, Allah membuatnya pincang sebagai pengingat seterusnya tentang kelemahan rohaninya dan kebutuhannya untuk bersandar pada Allah selalu.

            Sifat kemenangan Yakub atas Allah tidak lain adalah ia berpegangan terus kepada Allah sementara Allah melemahkan dia dan menciptakan di dalamnya roh ketaklukan dan tidak lagi memercayai diri; bahwa ia sedemikian menginginkan berkat Allah sampai ia bergelantung pada Allah sepanjang pergumulan yang merendahkan dirinya itu sampai ia cukup rendah untuk Allah membangkitkannya.


Mengapa Allah harus merendahkan kita?

Apakah aku hidup oleh kecerdikanku atau oleh hikmat Allah?

Senin, 20 Agustus 2012

Pembentukan Yakub (1)


Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." - Kejadian 27:19
 

Allah mengurus Yakub, cucu Abraham, dengan cara berbeda dari Ia menangani Abraham. Pertama, sekitar duapuluh tahun lamanya, Allah membiarkan Yakub menenun jejaring dusta yang rumit dengan banyak konsekuensi tak terhindari – saling tidak percaya, persahabatan berubah menjadi permusuhan, dan pengasingan diri sang pendusta. Konsekuensi dari kelicikan Yakub itu sendiri adalah hukuman Allah atasnya.

            Ketika Yakub mencuri hak dan berkat kesulungan Esau, Esau membencinya (wajar!), dan Yakub harus segera lari dari rumah. Ia pergi ke Laban, pamannya yang terbukti sama liciknya seperti Yakub sendiri. Laban memeras posisi Yakub dan mengakalinya untuk tidak saja mengawini putrinya yang cantik yang Yakub inginkan, tetapi juga yang sederhana dengan mata jelek, yang jika tidak demikian mungkin akan susah untuk beroleh suami yang baik.

            Pengalaman Yakub dengan Laban adalah kasus penipu tertipu; Allah menggunakan itu untuk menunjukkan kepada Yakub apa rasanya menjadi orang yang ditipu – sesuatu yang harus Yakub pelajari jika ia ingin putus cinta dengan jalan hidupnya yang lama. Namun demikian Yakub belum lagi sembuh. Reaksi langsungnya adalah memberi gayung bersambut; ia memanipulasi pengembang-biakan domba-domba Laban sedemikian cerdiknya, sampai ia mendapat untung sangat banyak dan kerugian besar pada majikannya, dan ini membuat Laban marah, lalu Yakub berpikir lebih baik ia pergi dengan keluarganya ke Kanaan sebelum pembalasan dendam mulai. Allah yang sedemikian jauh tidak pernah menegur ketidakjujuran Yakub, mendorong dia untuk pergi, sebab Ia tahu apa yang akan Ia lakukan kepadanya sebelum perjalanan tiba di tujuan.


Tengok kembali perlakuan Allah kepada Anda, dengan mengingat saat ketika Ia membiarkan Anda memilih jalan sendiri dan kemudian Anda harus “mencicipi” hal yang Anda “buang.”

Bapa, terima kasih Engkau sabar sementara aku jatuh bangun dalam belajar dari-Mu.

Sabtu, 18 Agustus 2012

Melatih Iman


Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." - Roma 4:18
 

Kehidupan Abraham adalah gambaran dari apa sebenarnya iman yang sejati. Dalam kebergantungannya yang kuat dan memuliakan Allah kepada janji ilahi – dalam hal ini janji bahwa ia akan mendapatkan anak pewaris – ia adalah teladan dan pola untuk iman yang membenarkan yang oleh injil kita diminta untuk melakukannya (Rm. 4:18-22).

            Contoh lain dalam Perjanjian Baru tentang iman dalam tindakan ada dalam kitab Ibrani. Penulisnya berusaha menstabilkan orang beriman yang sedang mengalami masalah dan perhatiannya disimpangkan. Ia menulis: hendaklah kalian puas dengan apa yang ada padamu. Sebab Allah sudah berkata, "Aku tidak akan membiarkan atau akan meninggalkan engkau." Sebab itu kita berani berkata, "Tuhan adalah Penolongku, aku tidak takut. Apa yang dapat manusia lakukan terhadapku?" (Ibr. 13:5-6 IBIS).

            Allah telah berfirman dalam perkataan janji alkitabiah; kita merespons dengan jalan mengambil janji, memercayainya, bertumpu atasnya, dan menyesuaikan pandangan kita tentang hidup sesuai dengannya. Itulah iman; itulah arti berdiri atas janji-janji Allah.


Apakah aku melatih diri merespons janji-janji Allah dalam cara yang diusulkan di atas? Bagaimana aku dapat menerima, memercayai, bertumpu pada, dan menyesuaikan diri kepada janji Allah?

Tuhan, inilah kebutuhanku… dan inilah janji-Mu…

Kamis, 02 Agustus 2012

Nama-Nya dan Kehendak-Nya


Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku… Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. - Yohanes 16:23-24

Jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. - 1 Yohanes 5:14


Ayat-ayat ini datang dari dua bagian Alkitab yang berusaha memimpin kita ke doa lebih dalam daripada yang kebanyakan kita pernah lakukan (Yoh. 16:23-27; 1Yoh. 5:13-17).

            Tujuan doa bukan memaksa tangan Allah atau membuat Dia melakukan kehendak kita melawan kehendak-Nya, tetapi untuk memperdalam pengenalan kita akan Dia dan persekutuan kita dengan-Nya melalui merenungkan kemuliaan-Nya, mengakui kebergantungan dan kebutuhan kita, dan secara sadar menerima maksud-maksud-Nya. Jadi, permintaan kita harus sesuai kehendak Allah dan dalam Nama Yesus.

            Konteks dari permintaan seperti itu ialah iman yang terjamin. Waktu itu, ketika Yesus mengajar mereka oleh Roh-Nya, secara jelas tentang Bapa, tidak ada unsur memasukkan dukungan Yesus dalam doa, seolah Ia lebih bermurah hati daripada Bapa atau dapat memengaruhi Bapa hal yang mereka tidak dapat; waktu itu dalam hati mereka tahu bahwa sebagai orang beriman mereka adalah para kekasih Bapa.

            Meminta dalam Nama Yesus bukan memakai mantra lisan tetapi menaruh doa kita dalam relasi penyelamatan dalam Kristus untuk kita melalui salib; ini berarti meminta persetujuan Kristus sendiri. Waktu Allah menjawab dalam Nama Yesus, Ia memberi melalui Yesus sebagai pengantara kita dan kepada Yesus sebagai pihak yang akan dimuliakan melalui apa yang diberikan.

            Di pusat kehidupan doa adalah sikap sedia kita untuk diajar oleh Kristus melalui Firman dan Roh tentang apa yang harus kita doakan. Sejauh kita tahu melalui kesaksian Roh dalam hati, bahwa kita menaikkan permohonan yang Tuhan sendiri berikan secara khusus untuk kita doakan, kita tahu bahwa kita memiliki jawaban bahkan sebelum melihatnya.


Sediakah aku dibentuk Allah melalui Firman dan Roh-Nya? Pernahkah aku berusaha berdoa dalam cara itu?

Tuhan, aku butuh iman yang lebih pasti. Tolong aku...

Rabu, 01 Agustus 2012

Doa Orang Kudus yang Berkebutuhan


Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring. - Mazmur 25:15



Tidak ada doa jika tidak ada kesadaran akan kebutuhan. Penyair Mazmur 25 sangat peka akan kebutuhannya. Ia merasa bahwa sebuah jaring telah menjerat dan memenjaranya. Jaring apa? Sepertinya jaring itu memiliki jerat bagian luar dan dalam. Bagian luar melambangkan para musuhnya – “Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam” (19) – dan segala akibat yang dibuat oleh mereka – “aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” (16-17).

            Jerat bagian dalam melambangkan apa yang ia rasakan ketika ia mengingat dosa-dosanya. “Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat… Ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu” (7, 11). Ingatan itu menimbulkan ketakutan bahwa ia akhirnya akan mengalami perendahan dan akhirnya gagal: “janganlah kiranya aku mendapat malu” (2, 20).

            Tidakkah kita juga sadar akan jaring serupa mengelilingi kita? Tidakkah kita juga menghadapi oposisi, keadaan hidup yang menentang, kesukaran demi kesukaran, ingatan tentang dosa dan kegagalan kita? Kita perlu melakukan apa yang pemazmur lakukan: secara spontan bawalah semua hal ini kepada Tuhan, berulang kali dan tanpa segan-segan, oleh pertolongan Roh Kudus, dan minta Dia menarik kita keluar dari kekacauan jerat yang ditebar oleh si iblis, perancang semua keputusasaan dan ketawaran hati.
 

Apakah jerat yang Anda alami itu: hal, orang, suasana hidup yang menggentarkan hidup Anda?

Bawa tiap aspek kesulitan atau ketakutan Anda kepada Allah dan ingatkan diri  Anda tentang siapa Allah dan apa yang telah ia janjikan.

Selasa, 31 Juli 2012

Berpikir Besar tentang Allah


Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan! Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian. - Daniel 2:20-21
 

Kebenaran inti yang Daniel ajarkan kepada Nebukadnezar (Dan. 2:4) dan ingatkan kepada Belsyazar (5:18-23); yang Nebukadnezar akui (4:34-37); yang menjadi dasar doa-doa Daniel dan keyakinannya dalam menantang otoritas; yang membentuk substansi pokok dari semua penyingkapan yang Allah berikan kepada Daniel, ialah kebenaran bahwa “Yang Mahatinggi memerintah kerajaan manusia” (4:25). Ia tahu dan melihat lebih dulu segala sesuatu, dan kemahatahuan-Nya sekaligus juga adalah kemaha-kekuasaan-Nya. Jadi, Ia yang memiliki kata akhir, baik dalam sejarah dunia maupun dalam destini setiap pribadi. Kerajaan dan kebenaran-Nya akhirnya akan menang, sebab tidak ada manusia atau malaikat dapat menggagalkan-Nya.

            Demikianlah pemikiran tentang Allah yang memenuhi pikiran Daniel, seperti yang ia saksikan dalam doanya – doa yang selalu merupakan bukti paling nyata tentang pandangan orang mengenai Allah (2:20-23; 9:4-19). Apakah demikian kita berpikir tentang Allah? Apakah anggapan tentang Allah tadi terlihat dalam doa kita? Apakah kepekaan dahsyat akan kekudusan-Nya, kemuliaan-Nya, kesempurnaan moral-Nya, dan kesetiaan-Nya yang penuh anugerah yang membuat kita senantiasa merendahkan hati dan bergantung, takjub dan taat, sebagaimana Daniel? Dalam segala ketulusan, seberapa banyak atau sedikit Anda mengenal Allah?


Apakah aku telah kehilangan pandangan tentang kebesaran Allah? Bagaimana aku menyisihkan waktu untuk mempelajari tema Alkitab tersebut untuk mengoreksi pikiranku?

Sembah Allah kuat-kuat dengan memakai perkataan Daniel dalam 2:20-23, atau versi Anda sendiri yang menyanyikan kebesaran Allah.

Senin, 30 Juli 2012

Kesukaan dalam Allah


Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. - Mazmur 16:11


Orang Kristen masa kini cenderung menjadikan kepuasan mereka agama mereka. Kita memberikan lebih banyak perhatian pada pemenuhan diri daripada menyukakan Allah. Karena pengaruh Barat (Amerika utara), ciri khas orang Kristen masa kini adalah gairah besar pada buku-buku yang membahas tentang teknik sukses dalam relasi, lebih menikmati seks, menjadi pribadi lebih baik, menyadari potensi diri, mendapatkan kenikmatan lebih penuh tiap hari, mengurangi berat badan, memperbaiki diet, mengatur uang, memiliki keluarga yang lebih bahagia, dan sebagainya.

            Untuk orang yang gairah utamanya adalah memuliakan Allah, memang hal-hal tadi merupakan perhatian yang sah, tetapi buku-buku yang menekankan teknik dan cara tersebut menelusur semua itu dalam sikap penyerapan diri sendiri dan memperlakukan kenikmatan hidup dan bukan kemuliaan Allah, sebagai pusat perhatian. Katakanlah buku-buku itu memaparkan lapisan tipis ajaran Alkitab dicampur dengan psikologi modern serta akal sehat, tetapi pendekatan keseluruhannya mencerminkan sikap narsisme – (egosentrisme atau akuisme) – itulah jalan dunia dalam masyarakat modern.

            Penyerapan diri, betapa pun religius pemikirannya, adalah lawan dari kekudusan. Kekudusan berarti kehidupan yang menyerupai Allah (godliness) dan itu adalah pementingan Allah. Mereka yang berpikir bahwa Allah ada untuk keuntungan mereka daripada mereka ada untuk kepujian-Nya tidak memenuhi syarat sebagai orang kudus. Hal itu merupakan kesalehan yang tidak saleh yang menjadikan diri sendiri pusatnya. Tidak heran, kesalehan yang demikian kurang kesukaan yang Allah ingin berikan kepada mereka yang mencari-Nya.



Apakah aku terlalu memerhatikan diri atau kurang? Dapatkah aku melihat mengapa kedua sikap itu tidak menolong?

Tuhan, aku ingin Engkau makin menjadi pusat hidupku.

Jumat, 20 Juli 2012

Wawasan Kristen tentang Ambisi & Sukses


SUKSES DAN AMBISI DALAM WAWASAN DUNIA KRISTEN

Pada kilas pertama Alkitab terkesan mengecilkan ambisi. Paulus memerintahkan gereja agar ambisi mereka ialah menjalani hidup yang tenang (1Tes. 4:11). Satu-satunya tempat ambisi dipuji ialah ketika Paulus memuji orang yang berhasrat untuk menjadi penilik gereja (1Tim. 3:1). Dalam konteks dunia purba ini tidak heran sebab hanya ada sedikit saluran sah bagi seseorang mengejar ambisi ekonomi. Tetapi ini tidak berarti Alkitab tidak memiliki nasihat bagi orang masa kini yang bekerja keras untuk sukses. Hanya karena tersedia sedikit kategori untuk mobilitas sosio-ekonomi dalam abad pertama tidak berarti bahwa Alkitab memandang rendah mereka yang ingin mengejar keberhasilan dalam bisnis mereka. Pada akhirnya, tersedia beberapa contoh sukses “duniawi” terpuji dalam Alkitab. Abraham dan Ayub adalah orang-orang kaya; Yusuf naik ke posisi perdana menteri Mesir; Nehemia adalah pejabat tinggi dalam pascapembuangan di Persia; Daniel tumbuh dalam kebudayaan Babilonia dan pada kenyataannya ia yang menjalankan kerajaan untuk para raja selama lebih dari enam puluh tahun masa pengabdiannya; dan ada sekelompok kecil para kader dari orang sukses dan kaya yang mendukung Yesus serta para rasul sepanjang era Perjanjian Baru. Agaknya tidak ada apa pun yang secara intrinsik bermasalah tentang orang yang setia kepada Allah yang juga sukses atau berambisi pada saat yang sama, sambil mengandaikan motif mereka konsisten dengan ajaran Alkitab.

            Tetapi kita harus jelas tentang apa yang dimaksud sukses dari wawasan dunia Kristen. Yang jelas, hal itu tidak harus terkait dengan neraca keuangan seseorang. Tidak harus juga berkaitan dengan memiliki posisi berpengaruh. Juga menjadi tersohor atau termashur tidak harus berkait dengan keberhasilan. Pada akhirnya, seseorang dapat dikenal karena banyak hal, sebagian sebabnya dapat menjebloskan orang ke dalam penjara! Semua ini adalah ukuran yang palsu, meski sering diandaikan oleh kebudayaan pada umumnya. Jika pekerjaan Anda adalah sebuah mezbah, suatu pelayanan transformasional bagi Allah, maka bagaimana Anda mengukur keberhasilan Anda tidak akan disesuaikan dengan standar dunia.
(BERSAMBUNG)

Sabtu, 14 Juli 2012

Model Doa Ignatian


Embusan Udara Gunung:
Sebuah Meditasi-Doa di Hari Kenaikan

Mulailah dengan membaca kisah tentang kenaikan dalam Matius 28:16-20 dan  Kisah Para Rasul 1:6-9.

            Bayangkan diri Anda di Gunung Kenaikan, bersama para murid. Jika Anda belum pernah ke Palestina, pilih salah satu bukit yang Anda tahu dan suka, mungkin dari daerah Anda sendiri atau dari suatu pengalaman liburan. Bukit itu bisa berfungsi untuk maksud doa juga.

            Sambil Anda menanti bersama para murid, pikiran Anda menerawang ke kejadian-kejadian menjelang kenaikan.

            Anda kilas balik ke kepedihan dan misteri penyaliban. Kasih tergantung di salib karena dosa-dosa, kita telah menyalibkan-Nya dan Ia berkata, “Aku tidak akan menyerah–dan Aku tak akan membalas.” Ingatlah kata-kata Alkitab:


Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes. 53:3-5)

            Lalu Anda mulai berpikir tentang misteri kebangkitan. Kasih bisa dimatikan tetapi tidak dapat ditahan oleh maut dalam kematian. Kebencian, meski membunuh, memiliki kematian di hatinya dan akan hancur sendiri, sementara kasih, meski mati memiliki hidup di hatinya dan akan bangkit kembali. Jadi Yesus hidup, dan laporan tentang kebangkitan-Nya berdatangan dari banyak sumber: dari perorangan, dari kelompok-kelompok kecil, dari kelompok lebih besar dan sekali dari kumpulan berjumlah lima ratus orang (1Kor. 15:3-8).

            Para murid bingung. Sebagian ragu (Mat. 28:17), tetapi kemuridan terbukti lebih kuat daripada keraguan. Kristus telah memanggil Anda juga ke Gunung Kenaikan, dan kini Anda di sini.

            Kemudian tiba-tiba Yesus tampak bersama Anda. Ia terlihat mulia. Anda tergerak untuk menyembah, seperti Tomas ketika ia mengucapkan perkataan terkenal itu “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28).

            Bayangkan kejadian itu. Ambil waktu Anda. Sebagaimana dikatakan oleh St. Teresa, “Tergesa-gesa adalah kematian doa.” Jadi diamlah, lihat, dan dengar.

            Yesus bicara tentang hal Ia menjadi raja. “"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Mat. 28:18). Terimalah Ia sebagai raja–dalam tubuh Anda, akal budi Anda, roh Anda, sikap Anda, relasi Anda, dan gaya hidup Anda. Terima otoritas-Nya sebagai raja dalam waktu dan dalam kekekalan.

            Ia bicara tentang pengutusan-Nya dan pengutusan Anda juga. Anda harus masuk ke dalam dunia bagi Dia. Anda tidak saja harus menjadi seorang murid tetapi memuridkan orang lain (Mat. 28:19). Anda harus menjadi saluran kasih-Nya, kuasa-Nya, maksud-Nya. Terimalah pengutusan ini.

            Ia bicara  tentang kemahahadiran-Nya. Hari Kenaikan adalah perayaan tentang kemahahadiran Yesus. Semasa pelayanan-Nya di bumi dan bahkan semasa empat puluh hari sesudah Paskah, Yesus hanya hadir di satu tempat pada satu saat, tetapi kini semua pembatasan waktu dan ruang telah disingkirkan. Kita memiliki janji-Nya, jaminan-Nya: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Terimalah dan rayakan firman-Nya.

            Kemudian, di puncak Gunung Kenaikan awan mulai mengitari Yesus. Awan makin lama makin tebal sampai Ia tidak lagi terlihat. Dalam pengistilahan tradisional terjemahan Alkitab, “awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis. 1:9). Ketika awan kembali cerah, Ia telah pergi–pergi ke takhta-Nya.

            Di manakah takhta-Nya? Di surga. Dalam kata-kata Pengakuan Iman Nicea, “Ia naik ke dalam Surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”–melampaui ruang dan waktu. Usahakan yang mustahil. Bayangkan sang Kristus kosmis.

            Takhta-Nya juga di dalam hati tiap orang percaya. Sekali lagi tegaskan ulang pentakhtaan-Nya dalam kehidupan Anda. Sebagaimana ditulis oleh Caroline Maria Noel dalam himne “Di Hadapan Nama Yesus”:

Dalam hatimu takhtakan Dia;
Di sana biarkan Ia menaklukkan
Semua yang tidak kudus,
Semua yang tidak benar;

Mahkotakan Dia sebagai Komandanmu
Dalam saat pencobaan,
Biarkan kehendak-Nya merangkulmu
Dalam terang dan kuasa-Nya.


  • Ingat Anda tunduk di bawah sang Raja (Flp. 2:10).
  • Ingat Anda adalah prajurit sang Raja (1Tim. 6:12).
  • Ingat Anda adalah anggota Keluarga Kerajaan dan berbagi dalam otoritas dan kuasa sang Raja (Why. 1:6).
Resapi kesan tentang status dan peran Anda sementara Anda mengklaim dan mempraktikkan kemahahadiran-Nya. Ini adalah suatu pengalaman yang menyembuhkan. Berada bersama Yesus selalu berakibat demikian. Ini juga pengalaman yang memberdayakan. Jadi bawa kepada Yesus siapa saja yang Anda ingin doakan. Pegangi mereka di hadapan sang Kristus kosmis. Pegang mereka di hadapan Kristus yang bertakhta di hati Anda. Ingat bahwa Ia bersama Anda dan Ia bersama mereka yang Anda doakan. Tegaskan kehendak Kristus yang kudus dan menyembuhkan, sang Raja yang telah naik dan maha hadir.

            Tetaplah dalam tempat kudus ini, hiruplah udara di Gunung Kenaikan ini selama yang Anda inginkan. Dengarkan pengutusan spesifik apa yang sang Raja mungkin ingin berikan bagi Anda.

            Lalu ketika waktunya tepat, sambil Anda turun dari puncak gunung, berdoalah:

Allah Mahakuasa, melalui Kristus Raja kami, aku persembahkan kepada-Mu jiwa dan tubuhku. Utuslah aku pergi dalam kuasa Roh-Mu ke dalam hidup dan kerja demi kepujian dan kemuliaan-Mu. Amin.

            Anda mungkin perlu melatih metode doa ini beberapa kali sebelum doa ini menjadi hidup bagi Anda. Saya harap cepat atau lambat doa ini akan bercahaya bagi Anda dengan sinar Yesus dan menjadi suatu cara doa yang mengasyikkan, membebaskan, menterapi Anda. Saya harap Anda dan mereka yang Anda doakan akan mendapat manfaat sementara Anda mempersembahkan doa ini dan diri Anda kepada Allah. Namun demikian jika metode doa ini tidak cocok bagi Anda, tidak perlu khawatir; doa Ignatian memang tidak tepat bagi semua orang. Jika Anda bukan tipe Ignatian, coba bentuk doa penyembuhan yang lain. Allah tidak terbatas, dan jalan-jalan doa kepada-Nya pun tidak terbatas. Mungkin akan menolong mencoba metode alternatif doa-Alkitab ..