Sabtu, 27 Agustus 2011

Percayai Allah ketika takut

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu
Mazmur 56:3


Ada berbagai bentuk ketakutan. Ada ketakutan akan konsekuensi masa lalu. Ada ketakutan akan ketidaktahuan tentang masa depan. Ada ketakutan tentang relasi yang kita terlibat di dalamnya dan terhadap orang yang dengannya kita berelasi. Dan ada orang yang takut konsekuensi dari mengikut Allah. Mereka menyadar bahwa Allah memanggil mereka dan panggilan-Nya menuntut mereka meninggalkan jalan yang telah mereka hidupi. Mereka tahu bahwa mereka akan kehilangan sesuatu, paling tidak dalam artian manusiawi, dan mereka tidak yakin bisa menanggung itu.

            Yang perlu diketahui oleh orang yang takut ialah kesanggupan Allah untuk menopang, menolong, menguatkan mereka untuk pelayanan-Nya, memikul mereka melalui berbagai tekanan, ketegangan, penderitaan, dan mengubah kerugian material menjadi keuntungan spiritual.

            Paulus mengkhotbahkan kesanggupan Allah dari salib. “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32).

            Fakta bahwa Ia telah memberikan karunia terbesar di salib, yaitu Anak-Nya sendiri untuk mati bagi kita, menjamin bahwa Ia akan memberi “segala sesuatu” – apa saja yang kita butuhkan dan semuanya yang dapat Ia rancang demi memberi kita kebahagiaan tertinggi.


Orang yang paling takut biasanya orang yang paling imajinatif. Apakah Anda sudah meminta Allah menjadi Tuhan atas imajinasi Anda dan memulihkannya, agar berfungsi sehat dan kreatif?

Tuhan, aku memiliki masalah ketakutan ini… bagaimanakah aku dapat memercayai-Mu ketika aku takut? Mustahil bagi manusia, namun tidak mustahil bagi-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar