Jumat, 30 September 2011

Komunitas Surgawi Internasional

Aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.  Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
Wahyu 7:9-10


Wahyu 7:9-17 sering dibaca pada upacara penguburan, memberikan kita paparan tentang surga yang menghangatkan hati.

            Siapakah komunitas internasional yang disebutkan ini? Merekalah umat Tuhan yang telah tiba di rumah kekal. Mereka telah dikumpulkan dan dipersatukan menjadi satu komunitas melalui pengenalan keselamatan yang kini membuat mereka memuji Allah. Dalam kasih kepada Bapa dan Anak, mereka saling juga mengasihi.

            Dari mana saja mereka? “Dari kesusahan yang besar” (14). Saya pikir mereka bukan dari aniaya besar yang kelak terjadi di akhir zaman; melainkan, ini menyatakan sejarah dunia di mana umat Allah selalu mengalami banyak kesusahan sebab perlawanan dunia kepada mereka.

            Bagaimana mereka dapat masuk ke sana? Pertama, melalui pembenaran, yang berasal dari salib Kristus (“mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” – 14). Kedua, melalui pemeliharaan Roh Kudus yang mempertahankan mereka. Meterai di dahi para hamba Allah (3) pasti adalah rujukan kepada Roh Kudus yang dikaruniakan kepada umat Allah sebagai tanda kemilikan, cara perlindungan, dan tanda otentikasi.

            Di mana mereka ada sekarang? Mereka bersama Bapa dan Anak dalam kedamaian tanpa kesusahan (9, 15, 17). Apa yang mereka buat? Mereka menyanyikan puji-pujian Kristus dan melayani Dia siang dan malam sebab mereka mengasihi Dia. Bagaimana perasaan mereka? Mereka mengalami yang C. S. Lewis katakan sebagai kesukaan yang bila dibandingkan dengan semua kesukaan dan penggenapan di antara para kekasih di dunia bagaikan susu dibandingkan dengan air. Mereka mengalami nyata kesukaan dan makna dari berada dalam hadirat Juruselamat tanpa gangguan atau tekanan atau hal lainnya yang mengurangi kesempurnaan persekutuan mereka.


Perlukah aku menengadah ke arah surga lebih dari yang biasa ku lakukan?

Tuhan, aku memohon kesabaran, kestabilan, dan kesigapan sambil aku menatap ke atas dan ke depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar