Sabtu, 17 November 2012

Bapa Kami yang di Surga


Matius 6:9-13: Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Dalam zaman Perjanjian Baru Nama Allah sangat kudus sampai orang Farisi tidak berani menyebut Nama-Nya. Hidup keagamaan orang kebanyakannya tanpa relasi yang riil dan intim dengan Allah. Lalu Yesus datang dan mengajar para murid Doa ini dalam bahasa Aramaik yang merupakan bahasa percakapan mereka. Yesus tidak mengajar orang sederhana zaman-Nya untuk bedoa yang agung, impersonal kepada Allah Yang Mahakuasa tetapi mulai dengan kata-kata sederhana… “Bapa kami yang di surga.”

Doa ini sudah didoakan oleh jutaan orang sejak zaman gereja perdana. Ini adalah doa yang dipanjatkan oleh banyak kalangan dari orang terhormat dan politikus sampai anak-anak kecil di Sekolah Minggu. Kiranya ketika kita mendoakan doa ini, kita diingatkan tentang mengapa kita memanggil Allah sebagai “Bapa kami.” Sebab inilah tekanan inti dari pesan injil… Yesus mati untuk setiap kita supaya kita dapat mengenal dan memiliki relasi pribadi dengan Dia.

Selanjutnya dalam Yohanes 20:17, perkataan pertama pasca kebangkitan yang Yesus sampaikan kepada Maria ketika Ia berjumpa dengannya di kebun adalah…  Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Semoga setiap kita tahu bahwa adalah hasrat Allah Tritunggal bagi kita tidak saja untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita, tetapi juga mengenal Dia dengan intim sungguh sebagai Papa surgawi kita. Dan – ini yang sering kita lupakan – akibat dari kita mengenal Allah sebagai Bapa, karena Yesus memperlakukan kita sebagai saudara-Nya, ialah kita semua adalah saudara-saudara-Nya, anak-anak Bapa.itu sebab Yesus mengajar kita memanggil Dia Bapa kami, bukan sekadar Bapa ku.

Jika kita – semua orang percaya kepada Yesus – adalah saudara satu kepada yang lain, maka wajarnya ada keterkaitan, saling mendoakan, saling terlibat mendukung dalam suka dan duka, bukan?

Refleksi & Realitas: Seberapa riil persaudaraan iman ini Anda hayati dan hidupi dalam keseharian? Adakah ungkapan berikut dalam keseharian Anda? Bersyafaat? Adakah rasa peduli kepada penderitaan yang dipikul sesama seiman kita di berbagai tempat? Mari ungkapkan persaudaraan iman ini dengan mendukung pelayanan para rohaniwan di tempat-tempat sukar (kebanyakannya di Indonesia Timur) dengan sesuatu yang konkrit...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar