Jumat, 08 September 2017

Momen Penentu Pertumbuhan

Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba. -- Kejadian 22:9-19


Momen-momen kritis dalam kehidupan apabila diterima dalam sikap dan tindakan yang benar adalah krisis yang akan menghasilkan berbagai dampak pendalaman dan pertumbuhan luar biasa. Dari sepanjang kisah Abraham momen ketika Allah meminta ia mempersembahkan Ishak ini boleh dibilang merupakan krisis paling dahsyat -- bagi Abraham, bagi Ishak dan juga bagi TUHAN Allah sendiri. Di sini kita jumpai Abraham mengalami krisis tentang kepercayaannya, tentang hubungan dan pengenalannya akan Tuhan dan tentang ikatan kasihnya dengan putranya serta wawasannya tentang realitas masa depan janji Tuhan di dalam putranya itu. Apabila sebelum ini ketika ia belajar berharap kepada Tuhan yang setia dan berkuasa memenuhi janji-Nya ia belajar untuk beriman yang melawan "iman" kepada kapasitasnya sendiri, boleh dibilang kini ia harus mengambil keputusan iman yang melawan "iman" kepada pengertian dan pengenalannya sendiri tentang siapa Tuhan. Bayangkan saja sifat-sifat Tuhan apa saja yang selama ini telah makin ia kenal yang kini terancam akan runtuh satu-per-satu! Tetapi ternyata imannya tidak runtuh melainkan dimurnikan dan diberdayakan secara baru -- dengan tetap percaya kepada diri Tuhan sendiri yang berfirman -- ia seakan disanggupkan untuk percaya kepada Tuhan secara baru -- bukan saja Ia Tuhan yang setia, rahimi, adil, berkuasa, Ia juga Tuhan yang berdaulat, Tuhan yang menerbitkan keturunan dari pasangan yang telah layu juga adalah Tuhan yang sanggup membangkitkan orang mati, Tuhan yang meminta hal yang paling berharga darinya adalah juga Tuhan yang menyediakan. Melalui ujian luar biasa ini  Abraham sendiri pun bertumbuh secara luar biasa, sampai (nanti akan kita telusuri lebih jauh) tindakannya ini menjadi momen dibukanya layar panggung untuk kita boleh mengintip drama sang Bapa yang menyerahkan Anak-Nya sendiri sebagai tindakan penyediaan luar biasa demi keselamatan saya dan Anda. Bahkan, dengan segala kesadaran akan keterbatasan bahasa, peristiwa ini bahkan menjadi momen untuk TUHAN Allah seakan bertumbuh: "kini Ku ketahui bahwa engkau sungguh takut akan Allah dan tidak enggan melepaskan bagi-Ku benihmu, pewarismu sendiri." 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar