Selasa, 29 Mei 2018

Pematangan

Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu. -- 1 Petrus 1:1-2
Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. -- 2 Petrus 1:1-2


Menarik untuk kita bandingkan perbedaan atau perkembangan dalam cara Petrus menyebut jatidiri dan panggilannya, siapa jemaat sesungguhnya dan bagaimana proses terjadinya keselamatan serta wujudnya.
Pertama dari rasul Petrus di surat pertama menjadi Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus. Di surat pertama Petrus menegaskan kerasulannya dan nama yang diberikan Yesus Kristus kepadanya, yang berarti batu karang -- di atas batu karang pengakuan iman yang benar dan hidup ini jemaat Yesus Kristus didirikan. Penegasan ini kini berkembang menjadi Simon Petrus -- nama Simon, nama lamanya yang menyiratkan keadaan manusia naturalnya yang rentan, naik-turun, berani-takut, cepat omong-kurang pikir, dst. Apa gambaran tentang pribadi Petrus melalui penyebutan kembali nama aslinya ini? Ini diperkuat dengan penyebutan fungsi rasul di surat pertama berkembang menjadi hamba dan rasul yang tidak saja menegaskan wibawa rasuli tetapi juga kehambaan Simon Petrus kepada Yesus Kristus. Semakin tua SImon Petrus, semakin matang ia dalam pengikutan dan pelayanan kepada Yesus Kristus, semakin ia merendahkan diri dan meninggikan Tuhan saja.
Jemaat yang dikiriminya surat kurang lebih adalah juga jemaat-jemaat kaum perantau di berbagai tempat seperti yang dideskripsikan olehnya di surat pertama. Di surat keduanya deskripsi tempat ditiadakan, diganti dengan "bersama-sama kami" memperoleh iman. Suasana surat kedua ini terasa lebih dekat, akrab, hangat. Pelayan yang semakin matang ini, semakin matang juga dalam relasi kasih vertikal yang tercermin ke dalam relasi kasih horisontal. Kesadaran akan kerasulannya ditopang oleh kesadaran akan kesamaan keumatannya dengan semua jemaat yang ia layani. Fungsi rohaniwan-jemaat bukan derajat nilai.
Terakhir, proses multi aspek penyelamatan yang melibatkan pilihan, rencana, pengudusan oleh Roh dan percikan darah Yesus Kristus di surat pertama mengkristal menjadi sederhana yaitu "memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus." Ada dua  penyederhanaan di sini: satu yaitu proses penyelamatan dari empat segi menjadi satu poros saja yaitu keadilan Allah -- atau secara lebih jelas merujuk kepada karakter-prinsip-tindakan Allah yang benar dalam menyelamatkan orang percaya; dan, karya-karya Bapa, Anak dan Roh di surat pertama diperas menjadi keadilan "Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus." Bukankah seperti halnya Yesus Kristus sendiri, semakin Petrus mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya semakin ia sanggup membicarakan hal-hal kompleks menjadi sederhana?
Terakhir, kebalikan dari tiga hal tadi, pengalaman orang percaya dalam paparan surat pertama justru menjadi berkembang penuh dan jelas, dari " Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu" -- menjadi:  "Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita." Menjadi lebih tegas bahwa kasih karunia, berkat dlsb. itu terwujud seiring pengenalan kita yang semakin nyata akan Tuhan Yesus Kristus.
Kiranya semakin lama-tua kita dalam Tuhan semakin rendah hati, akrab-hangat relasi kita dengan Tuhan, semakin mengkristal doktrin-doktrin indah dan rumit Kekristenan menjadi bulat-utuh-nyata, dan semakin konsisten pula kaitan antara berkat dan karunia dalam kehidupan kita dengan relasi kita dengan Yesus Kristus. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar