Kamis, 23 Februari 2012

Keluh Kesah Hati


Kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
Roma 8:23


Apakah yang membuat orang Kristen berkeluh kesah dalam hatinya? Hati kita berkeluh kesah tentang tubuh (maksudnya keseluruhan diri pribadi kita) yang masih mengalami gangguan dosa; insting lama yang anti Allah dan dorongan yang masih menetap, meski tidak lagi dominan. Sebagai makhluk yang telah jatuh, seluruh hasrat jasmani dan mental kita secara alami condong bersifat tidak tepat, tidak teratur, dan tidak terkendali. Kerakusan adalah salah satu bentuk hasrat tidak tepat yang menjadi masalah pada sebagian orang. Orang lain mengalami hasrat egoisnya untuk memanfaatkan sesama demi mengejar kemajuan dan keberhasilannya sendiri. Hasrat kita menjadi berlebihan dalam segala bentuk sebab masing-masing kita memiliki kepribadian khas dalam tubuh yang belum diselamatkan penuh ini. Hasrat tak teratur terus menerus mencari jalan menyesatkan kita dan ini mengakibatkan ketegangan dalam kehidupan Kristen kita.

            Orang beriman yang hatinya menyukai hukum Allah, menemukan adanya prinsip lain bekerja dalam dirinya: yaitu suatu hukum yang melawan hukum akal budi dan mencondongkan dia kepada segala bentuk ketidaktaatan dan pemuasan diri (Rm. 7:22-23). Tiap hari ia mulai dengan berkata, “Tuhan, kiranya semua hal baik adanya hari ini,” dan mengakhiri hari dengan, “Tuhan, ternyata tidak selalu baik hari ini.” Selama ia masih hidup dalam tubuh yang didiami dosa, banyak dari yang ia harapkan yang tidak ia lakukan.

            Tabiat jasmani dan keadaan kita menimbulkan berbagai kesulitan. Sebagian orang memiliki temperamen depresif, atau meledak-ledak, atau pikiran yang terbang ke sana-sini, atau sangat pemalu; ketegangan masa menopause terasa amat berat buat sebagian orang, dan semua kita harus menghadapi kegelisahan menghadapi kematian ketika usia mulai lanjut. Semua faktor ini bisa memicu dosa dan merintangi kebenaran. Semua ini pun menyebabkan keluh kesah kita.


Menghadapi realitas dosa dalam kita dan beban tubuh yang belum selamat sempurna – tidak heran kita berkeluh kesah (terkadang tidak hanya dalam hati!) Tetapi apalagi dapat kita lakukan?

Tuhan, tolongku tetap terbuka, peka akan, dan bersyukur untuk, cicipan awal yang Kau berikan dalam rohku dan dalam tubuhku tentang apa yang kelak akan kualami di surga.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I Packer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar