Rabu, 13 Maret 2013

Lembu, Keledai, atau... Umat?

Lembu mengenal pemiliknya,
tetapi Israel tidak;
keledai mengenal palungan
yang disediakan tuannya,
tetapi umat-Ku tidak memahaminya.
(Yesaya 1:3)
Biasanya kita mengerti ayat di atas sebagai berikut: Kita pikir Allah menegur Israel (juga kita, orang Kristen / gereja-Nya masa kini) tentang hal-hal seperti: - kurang bersyukur dan bergantung pada Tuhan, - kurang bergairah dalam beribadah di gereja, - malas bersaksi, dan lainnya semacam itu. Keliru besar!
Bila kita teruskan teguran keras Yesaya 1 ini, tidak satu pun dari hal-hal tadi yang kurang dari umat-Nya. Korban dan persembahan mereka tidak kurang malah melimpah (ay. 11); mereka tidak absen dalam beribadah dan melaksanakan berbagai perayaan ibadah dengan meriah (ay. 13-15). Sebaliknya dari menyukakan Allah, semua tindakan ibadah mereka itu malah kejijikan bagi Allah, membuat-Nya muak, dan tidak memperkenan-Nya.
Mengapa? Sederhana saja tetapi sangat serius bagi Tuhan! Bagi Allah perilaku religius umat tersebut “tidak sungguh” (ay. 13), sebab apa yang terjadi di rumah ibadah tidak sama dengan apa yang mereka lakukan dalam ruang publik! Yang disorot di sini ialah di ruang publik, kita harus mencerminkan hal-hal yang dialami tentang Allah yang kita sembah dalam ibadah. Hal ini tampak jelas dalam ayat 16-17: Allah menegur dosa-dosa sosial. Mengapa Allah sampai begitu murka kepada umat-Nya yang tidak mempraktikkan kepedulian sosial? Sebab itu menunjukkan mereka tidak memancarkan sifat Allah yang sejati. Dalam ibadah kita tidak saja berjumpa dengan Allah yang agung, tinggi, dahsyat, tetapi juga Allah yang mendengar tangisan umat-Nya (Kel. 3), yang peka akan kaum yang disingkirkan seperti para perempuan tanpa anak atau para janda.
Renungkanlah ayat-ayat seperti ini: “Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya. Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita. Haleluya!” - lihat Mazmur 113). Bagaimana kita mengaku kita menyembah Allah bila tindakan Allah yang “merunduk kepada kaum papa dan rentan”ini tidak terlihat dalam kehidupan sosial kita?
Seluruh Alkitab menyingkapkan sifat dan tindakan Allah yang menjenguk dan mengangkat kaum papa ini. Kita tidak mungkin tidak tertantang oleh kepedulian sosial Allah ini dari membaca berbagai firman dalam Perjanjian Lama, lebih-lebih bila kita merenung arti inkarnasi Yesus Kristus Putra Tunggal Allah. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor. 8:9). Sayangnya, kita cenderung merohanikan pembacaan kita akan bagian Alkitab sedemikian. Padahal, konteks tulisan Paulus ini sedang bicara tentang imbauannya agar jemaat kaya peduli dengan jemaat miskin. Inkarnasi Yesus harus dijadikan dasar dan teladan untuk kepedulian sosial jemaat dan orang Kristen.
Kekurangan gereja dan orang Kristen masa kini dalam kepedulian sosial bisa berakibat buruk pada pemahaman (baca: teologi) dan penghayatan yang dilakukan. Kita bisa cenderung membangun pola ibadah yang pro si kaya dan tidak peka akan rintihan si miskin. Kita bisa pro penguasa dan ikut menindas kaum papa yang rentan daya. Kita bisa berkedok kesalehan pribadi tetapi tidak memiliki hati welas asih seperti Tuhan. Kita bisa menipu diri merasa puas dengan ibadah-ibadah yang dikemas untuk menghibur ketimbang yang menantang orang berkotor tangan karena terlibat dunia nyata – baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Dengan kata lain, sebetulnya kita tidak sedang menyembah Allah tetapi berhala, yaitu diri kita sendiri, Maka untuk mengubah itu Allah memberikan tuntutan sederhana tetapi radikal: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat (baca: yang a-sosial) dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (ay. 16-17).
Sikap konkrit kepedulian sosial selain memancarkan hati Allah sendiri, juga berpengaruh dahsyat pada pembentukan diri kita. Melalui kepedulian sosial kita belajar menyetarakan diri dengan kesusahan pihak lain. Itu berarti mendisiplin hati kita untuk sensitif, untuk penuh pancaran kasih, untuk peduli, untuk merendah, untuk mengakui kefanaan dan keterbatasan kita, untuk bertobat dari keterikatan pada mamon dan menaklukkannya menjadi hamba kepentingan Allah semata. Itu berarti kita belajar bersandar pada Allah dalam mengatur hidup kita terutama dompet (baca: harta dalam berbagai wujudnya) dan tidak membiarkan harta menjadi berhala, atau kekhawatiran akan hari esok mencekik kedamaian dan kesukaan hidup. Singkat kata, bagaimana mungkin kita tidak dibentuk secara luar biasa ketika kita belajar untuk memancarkan sifat-sifat Allah ke ruang sosial kita?
Maka, darpada berdoa memohon Ia memberikan kesuksesan dalam berbagai aspek hidup, lebih baik mohonlah dan berjuanglah oleh bantuan Roh untuk memancarkan: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22, 23). Jadilah pribadi yang makin manusiawi, sebab dengan demikian kita menjadi makin ilahi; jadilah gereja atau komunitas Kristen yang makin “mewongke” sebab dengan demikian kita makin mirip “gusti Allah”sendiri.
     
Selamat bertumbuh dalam kemanusiaan yang ilahi

Sabtu, 23 Februari 2013

ROHANI - SEKULER?


Di kalangan Protestan ada semacam tradisi yang entah dibakukan atau hanya dijalani sebagai peraturan tidak tertulis, yaitu bahwa hamba Tuhan yang bekerja di ladang Tuhan tidak boleh memiliki sumber lain untuk hidup, seperti bekerja sambilan, berdagang, mengelola bisnis dll. Pelayan ybs. harus sepenuhnya hidup dari dukungan yang diterima - entah berbentuk gaji atau pemberian sukarela - dari konteks pelayanannya.
Sebaliknya di kalangan Pentakosta / karismatik dipraktikkan hal lain. Baik yang asalnya dari pelayanan penuh waktu maupun yang dari sekuler terlibat dalam pelayanan, tidak menabukan mengusahakan upaya tertentu seperti berdagang, bertani, beternak, punya bisnis, dll. untuk memungkinkannya melayani tanpa harus bergantung pada dukungan dari gaji yang diberikan gereja atau dukungan bukan gaji dari pihak yang dilayani.
Bagaimana sebaiknya kita melihat isu ini?
Dalam PL para pelayan Tuhan (para imam dan suku Lewi) memang tidak diberikan lahan untuk bertani atau berternak sebab orang Lewi dikhususkan untuk melayani seluruh kegiatan ibadah Kemah Sembahyang / Bait Allah dengan dukungan persepuluhan para suku lainnya. Pembagian ini tidak boleh disimpulkan bahwa Alkitab mengajarkan pembagian hidup ke dalam dua dunia: dunia sekuler dan dunia rohani. Inti dari pengaturan dalam PL ialah karena Allah meminta orang Lewi bekerja sepenuh waktu dalam pekerjaan yang menopang peribadahan; maka Allah mengatur mereka harus didukung oleh kesebelas suku lainnya.
Bahwa dalam dunia PB terjadi pergeseran tidak bisa dipungkiri. Pertama, karena kenyataan bahwa sejak masa pembuangan orang Yahudi tidak lagi memiliki Bait Allah dan beberapa aspek peribadahan seperti memberikan kurban, dll. tidak lagi dapat dilangsungkan. Kedua, sesudah Injil tersebar ke wilayah orang-orang asal kafir, terutama dalam tahap pionir para pemberita Injil harus mengusahakan dukungan hidup sendiri. Juga karena sebagian jemaat yang tercipta kebanyakan terdiri dari orang sederhana, mereka tidak sanggup memberikan dukungan hidup kepada para pelayan Tuhan.
Dua contoh berikut akan menolong kita belajar lebih lengkap tentang isu ini. Yesus, sampai dengan usia tiga puluhan, pasti mendapatkan kebutuhan hidupnya dari bekerja di bengkel kayu ayahnya, Yusuf. Bahkan, mungkin semasa awal pelayanan-Nya sebelum meninggalkan kota asalnya, Yesus masih sewaktu-waktu bekerja di bengkel kayu milik ayahnya (Markus 6:3). Tetapi sejak ia masuk dalam pelayanan mengajarkan kedatangan Kerajaan Allah, mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang dari sakit-penyakit, di luar daerah-Nya ada beberapa orang kaya pengikut-Nya yang mendukung kebutuhan hidup Yesus dan para murid-Nya.
Lain halnya dengan Paulus. Bahwa ia memiliki kewarganegaraan Roma bisa disimpulkan bahwa ia datang dari keluarga terhormat dan kaya. Kemudian hari ketika ia melakukan perintisan Injil di Makedonia ia mengembangkan bisnis membuat kemah bersama beberapa orang penginjil lain yang melayani bersamanya. Itu ia lakukan demi tidak membebani orang yang dilayani, juga demi memajukan pewartaan Injil lebih pesat terutama dalam menempuh perjalanan panjang darat maupun laut.
Kesimpulan apa dapat kita tarik dari sini?
Pertama, pembagian sekuler-spiritual, kerja-melayani penuh waktu - tidak alkitabiah. Semua orang percaya dipanggil untuk melayani Tuhan. Baik yang melayani dalam / melalui dunia kerja / bisnis maupun yang melayani dalam pekerjaan penginjilan atau pewartaan firman atau penggembalaan - sama adalah pelayan Tuhan. Allah sendiri adalah pekerja / pengusaha selain juga penyelamat / perawat jiwa-jiwa manusia.
Kedua, karena itu yang melayani penuh waktu tidak berarti lebih pelayan Tuhan dibanding yang melayani dalam dunia usaha / kerja. Atau, yang melayani dalam dunia usaha / kerja tidak kurang melayani / pelayan Tuhan dibanding mereka yang melayani penuh waktu.
Ketiga, baik pelayanan rohani maupun pelayanan yang tidak langsung menyentuh kerohanian, keduanya adalah pelayanan demi, untuk dan oleh Tuhan (Kol. 3:17, 23). Karena itu, bukan saja pelayanan rohani tetapi pelayanan yang tidak langsung menyentuh kerohanian pun - keduanya harus dilakukan dengan sepenuh hati dan hormat dan suka bagi Allah.
Keempat, dalam kondisi yang memungkinkan memang ada baiknya pelayan penuh waktu didukung sepenuhnya dari pelayanannya. Tetapi ini bukan prinsip mati. Dalam seluruh Alkitab ada banyak pelayan Tuhan penuh waktu yang juga mengembangkan sumber dukungan hidupnya sendiri agar tidak perlu bergantung pada dukungan orang yang dilayani. Contoh yang sudah disebut di atas (Paulus dkk.) masih dapat dilengkapi dengan beberapa tokoh PL seperti Abraham, Yusuf, Daniel cs., Nehemia, dll.
Kelima, jika Anda diberkati boleh hidup berkecukupan dari pelayanan dalam dunia kerja / usaha, jangan sampai lupa bersyukur. Dan bersyukur kepada Tuhan itu salah satunya adalah dengan memerhatikan kebutuhan pelayanan para hamba Tuhan terutama di daerah2 sukar / kekurangan.
Keenam, jika ada dari kenalan kita yang selain melayani dalam penginjilan atau pewartaan dlsb. tetapi juga mengusahakan pendapatan dari berbagai usaha, mengapa harus menilai mereka negatif. Ada banyak hal seperti beban pelayanan, konteksnya dalam pelayanan, dlsb. yang seperti Paulus membuat ia memutuskan untuk melayani sambil berusaha. Maka, bersyukurlah (dan mungkin malulah) bahwa hamba Tuhan tsb. seperti itu. Dan, pertimbangkanlah bagaimana Anda bisa berkontribusi bagi begitu luasnya pelayanan ladang Allah yang sedang menguning dan sedikit penuai ini.
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.... Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:17, 23)

Jumat, 22 Februari 2013

YESUS: Dasar Iman & Teladan



 
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama,
menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam
Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat... - Filipi 2:5-8
Ada dua hal prinsip menyangkut hidup Yesus yang menentukan kehidupan orang Kristen.
Pertama, kita mempercayai Dia untuk keselamatan kita. Seluruh hidup-Nya,
ketaatan-Nya, perendahan diri-Nya, sengsara-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya
adalah sumber keselamatan kita - yang memberi kita pengampunan, pembaruan, pemulihan,
pengangkatan jadi anak-anak Allah, pengudusan dan pemuliaan kelak.
Kedua, kita menjadikan seluruh hidup-Nya itu sebagai sumber teladan kita.
Oleh pertolongan Roh-Nya kita belajar dari Dia hidup-Nya sendiri
agar mewujud lagi dalam kehidupan kita masing-masing kini dan di sini:
menyangkal diri, taat kepada panggilan Bapa,
merendahkan hati, mengutamakan orang lain,
menjalani prinsip salib-mahkota,
mengampuni dan tidak membalas,
memberkati dan tidak mengutuk,
dstnya... seluruh aspek kehidupan Yesus menjadi teladan
untuk reaksi/respons kita dalam keseharian terhadap orang sekitar kita.
Amin.

Rabu, 20 Februari 2013

Memantulkan Terang-Nya

Demikianlah hendaknya terangmu
bercahaya di depan orang, supaya
mereka melihat perbuatanmu yang baik dan
memuliakan Bapamu yang di sorga - Matius 5:16

Bukan kita asal terang itu;

kita hanya memantulkannya.
Terang itu adalah pancaran cahaya Allah
dalam kita dan melalui kita.
Sementara kita mengizinkan terang itu bersinar ke sekitar,
ingat bahwa pujian adalah milik Bapa di surga.

Terang Dunia

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. - Matius 5:14

Di mana saja kita ada kita membawa terang rohani. Terang itu adalah akibat kita memiliki hubungan dengan Yesus. Yesus sendirilah sumber terang. Maka Ia di dalam kita menyebabkan kita memancarkan terang ke sekitar kita. Terang itu lebih terpancar dengan kita tidak sengaja berjuang menjadi terang ketimbang kita berusaha menjadi terang. Terang bisa redup, bisa dihalangi, bisa dijauhi, tetapi Terang Yesus tidak bisa dipadamkan. Maka berkooperasi sajalah bersama-Nya

Senin, 18 Februari 2013

Menggarami Dunia

Kamu adalah garam dunia.
Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. - Matius 5:13-14

Seberapa asin kita?
Kita dapat menyedapkan dan mempertahankan
banyak hal di sekitar kita.
Kita dapat meningkatkan sedapnya hari ini
bagi kerabat, sahabat, rekan kerja, dan tetangga
melalui budi dan bahasa kita.
Jangan kehilangan asin hidup kita!

Jumat, 15 Februari 2013

Kaki-Tangan Allah

Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita
dan akan dihantarkan dengan damai;
gunung-gunung serta bukit-bukit
akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu,
dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. - Yesaya 55:12;
Lalu Ia berkata kepada mereka:
"Ketika Aku mengutus kamu dengan
tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut,
adakah kamu kekurangan apa-apa?" - Lukas 22:35
Kami tahu bahwa Engkau tidak menghendaki satu pun dari ciptaan-Mu
yang mengalami kekurangan, o Allah Mahapemberi.
Jadikanlah kami uluran tangan-Mu dan langkah kaki-Mu,
agar melalui kami penyediaan-Mu bagi
pihak-pihak yang kekurangan boleh terpenuhi.
Amin

Aniaya

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran,
karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. - Matius 5:10
Jika Anda merasa direndahkan atau dianiaya,
pastikan bahwa itu karena perilaku benar dan
bukan karena kesombongan, sikap menghakimi, atau kebiasaan buruk.
Tindakan transparan bersama Allah berdampak sebagai
teguran bagi mereka yang tidak berbagi relasi Anda dengan Yesus.

Selasa, 12 Februari 2013

Lapar-Haus Perilaku Benar

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan. - Matius 5:6

Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela:

Bilakah Engkau datang kepadaku?
Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.
Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila;
perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku.
Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku,
kejahatan aku tidak mau tahu. - Mazmur 101:2-4

Lapar dan haus akan perilaku benar adalah hal mendesak.

Kerinduan yang kuat agar serupa Yesus,
untuk dijadikan baru seturut pola hidup-Nya
adalah hal mutlak sebagai orang percaya -
apalagi dalam kondisi dunia kita kini yang semakin gelap .
Hanya Dia orang-Nya yang telah
mewujudkan gambaran ideal ajaran-Nya di Bukit ini.
Dan hanya Dia yang dapat membuat kita
makin mendekat ke teladan-Nya dari hari ke hari -
asal kita terus mengandalkan Dia.

Selasa, 05 Februari 2013

Menghidupi Sabat

Lalu kata Yesus kepada mereka:
"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan
bukan manusia untuk hari Sabat,
jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat. - Markus 2:27-28
Menghidupkan arti "Sabat" sebagai hari
perhentian dan penyembahan tidak dapat dilakukan
dengan melembagakan seperangkat aturan
tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Jadikan saja Yesus Tuhan atas tiap hari sepanjang minggu
dengan membuat Ia sentral bagi pikiran dan kegiatan kita.
Begitulah prinsip menemukan kesukaan "sabat."

Senin, 04 Februari 2013

Makna Alkitab

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci,
sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya
kamu mempunyai hidup yang kekal,
tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu
memberi kesaksian tentang Aku,
namun kamu tidak mau datang kepada-Ku
untuk memperoleh hidup itu. - Yohanes 5:39-40

Alkitab adalah harta karun yang tak ternilai.
Jangan pernah rendahkan atau abaikan Alkitab.
Tetapi jangan puas hanya karena memiliki Alkitab,
pernah membacanya bahkan mengerti isinya.
Dalam Alkitab kita berjumpa Ia yang memberi hidup.
Kenal dan bersekutu dengan Allah melalui
Yesus yang hadir dalam Alkitab - itulah harta sejati Alkitab.

Kamis, 31 Januari 2013

Rahasia Sukses Yesus

Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya:
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat
mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri,
jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya;
sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. - Yohanes 5:18

Inilah rahasia sukses Yesus dalam hidup dan pelayanan-Nya.
Hubungan yang akrab dengan Bapa-Nya.
Kebergantungan penuh pada kehendak dan penyertaan-Nya.
Tidak melakukan dan tidak dapat mengerjakan apa pun
sebelum belajar dari dan dengan pertolongan Bapa-Nya di surga.
 
Ini patut menjadi teladan dan prinsip hidup kita juga. Dahulukan relasi dengan-Nya dalam segala hal, bergantunglah penuh pada Yesus dan Ia akan menyatakan kehendak Bapa, menyertai dan memberdaya kita. Inilah sukses sejati!

Selasa, 29 Januari 2013

Total-Radikal-Ekstrim!

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka:
"Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru
untuk menambalkannya pada baju yang tua.
Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan
pada yang tua itu tidak akan cocok
kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. - Lukas 6:36
Yang jiwa kita perlu bukan tambal sana tambal sini
atau inovasi atau tekad atau basa-basi adat istiadat.
Mari hadapi kenyataan kita dengan jujur.
Kita perlu dijadikan baru.
Justru itulah kekhususan Yesus.
Jangan cari perbaikan bertahap.
Carilah pembaruan total, radikal dan ekstrim dari Yesus!

Senin, 28 Januari 2013

Kapan perlu "Dokter"?

Yesus mendengarnya dan berkata:
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. - Matius 9:12

Yesus membagi manusia ke dalam dua golongan:
Yang menyadari dirinya sakit, lemah, tidak berdaya dan perlu lawatan-Nya - dan,
Yang tidak menyadari masalahnya bahkan karena berbagai cara menutupi keberadaan terdalamnya, golongan ini berhasil dianggap / menganggap orang terhormat, orang suci,... orang spiritual.

Hanya ketika kita bersedia menyadari sakit-penyakit kita baru kita merasa perlu dokter. Hanya ketika kita mengizinkan Roh Allah mendiagnosis hati, perasaan, pikiran, angan-angan, perbuatan kita dengan terang-Nya kita akan mengakui dan mencari pertolongan Yesus dari waktu ke waktu.

Mari biasakan menceritakan keadaan kita dengan jujur kepada Yesus, bukan saja di saat pengakuan dosa dalam ibadah hari Minggu, tetapi hari lepas hari - agar Ia "mengobati" kita dan "kewarasan-Nya" semakin nyata dalam kita.

Minggu, 27 Januari 2013

Wibawa-Nya

Setelah Yesus pergi dari situ,
Ia melihat seorang yang bernama Matius
duduk di rumah cukai,
lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku."
Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.  - Matius 9:9

Ada sesuatu tentang Yesus yang
langsung dirasakan oleh Matius.
Pertama, Yesus punya wibawa untuk
mengubah panggilan hidupnya.
Kedua, mengikut Yesus jauh lebih bernilai
ketimbang meneruskan tugas2nya hari itu
yang hanya mengejar kekayaan dengan cara tidak benar.
Semoga dalam ibadah hari ini kita berjumpa
Yesus seperti itu dan merasakan
daya tarik kuat diri Yesus sampai bersedia
mengganti haluan hidup bila Ia memintanya?

Sabtu, 26 Januari 2013

SATU Penyelamatan DUA Manifestasi

Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini:
Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan:
Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini
Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --
berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: "Kepadamu Kukatakan,
bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" - Markus 2:9-11
Dalam banyak kasus dosa dan penyakit berkaitan erat.
Meski dalam kasus per kasus tidak semua penyakit adalah akibat dosa,
tetapi secara universal kejatuhan manusia dalam dosa
yang membuka pintu bagi masuknya sakit-penyakit.
Maka tindakan Yesus mengampuni dan menyembuhkan
meski dua tindakan berbeda,
tetapi intinya adalah satu manifestasi penyelamatan.
Sang Juruselamat dunia ini datang
membawa pendamaian, pembaruan, pemulihan, penyembuhan.

Jumat, 25 Januari 2013

Yang Terpenting

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh
yang terbaring di tempat tidurnya.
Ketika Yesus melihat iman mereka,
berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu:
"Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." - Matius 9:2
 
 
Kebutuhan yang paling kita rasakan
tidak selalu yang terpenting atau persoalan inti.
Mungkin hal yang paling mengganggu kita kini
tidak seperti yang Yesus lihat merupakan kebutuhan hakiki kita.
Kita perlu datang kepada-Nya dan memercayai Ia
mengurus masalah dan kebutuhan kita
menurut urutan prioritas sebagaimana yang Ia lihat.
Syukur dalam peristiwa ini
baik kebutuhan terpenting maupun kebutuhan yang dirasakan,
keduanya mendapat jalan keluar.

Kamis, 24 Januari 2013

Teruskan!

"Marilah kita pergi ke tempat lain,
ke kota-kota yang berdekatan, supaya
di sana juga Aku memberitakan Injil,
karena untuk itu Aku telah datang." - Markus 1:38

Inilah yang disebut visi-misi sejatinya.
Yesus sedang naik daun.
Ia bisa saja tetap di tempat di mana Ia dikagumi,
menikmati sanjungan orang dan
segala dampak baiknya untuk diri-Nya.
Tetapi penugasan Bapa dan kepentingan Kerajaan
membuat Ia ingin bergerak dan berbagi lebih luas
ke orang dan tempat lain.
Ia tahu "untuk apa" Ia datang.
 
Kita pun layak menghidupi prinsip yang sama.
Kita diberkati untuk memberkati
bukan untuk menyimpannya bagi diri sendiri.
Semua yang baik dan indah dan mulia yang kita terima dari Yesus
bukan saja untuk dinikmati tetapi juga untuk diberbagikan.

Jangan Ragu

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota.
Di situ ada seorang yang penuh kusta.
Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon:
"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya,
menjamah orang itu, dan berkata:
"Aku mau, jadilah engkau tahir."
Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. -
Lukas 5:12-13

Ketika kita datang kepada Yesus,
tidak perlu kita ragukan
entahkah Ia peduli akan kesusahan kita
atau sudikah Ia menolong kita.
Kesediaan-Nya tidak perlu diragukan,
meski keengganan kita justru sering menjadi penghalang.
 
Segala keadaan kita - entah itu jasmani, jiwani, rohani -
separah atau sejijik apa pun bagi kita dan sesama kita -
justru yang ditujukan-Nya ketika Ia mengundang orang datang kepada-Nya.

Selasa, 22 Januari 2013

Penjala Orang

Yesus berkata kepada mereka:
"Mari, ikutlah Aku
dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." - Markus 1:17

Para pengikut Yesus akan menarik orang lain kepada Yesus.
Masalah yang sering terjadi, kita berusaha menarik orang
padahal kita sendiri tidak mengikut Yesus
atau tidak berjalan akrab dengan-Nya.
Panggilan Tuhan untuk kita adalah ikut Dia dalam keseharian kita,
nanti dengan sendirinya Ia yang mengubah kita menjadi "penjala" manusia bagi-Nya.

Senin, 21 Januari 2013

Rintangan bagi Nabi

Dan kata-Nya lagi:
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi
yang dihargai di tempat asalnya. - Lukas 4:24
 
Ingin berbagi anugerah dan rahmat Allah
kepada orang-orang di sekitar kita adalah hal yang wajar.
Namun tidak ada yang lebih sukar
ketimbang berbagi firman kebenaran kepada orang sekitar kita.
Karena adanya rintangan,
pertama dari ketidaksesuaian yang kita ucapkan dengan kehidupan kita, atau
kedua karena ada sikap negatif dari mereka sendiri yang merintangi mereka
dari menerima berkat-Nya melalui kita.
Maka selain mengucapkan dan mempraktikkan kebenaran,
kita juga perlu berdoa agar tidak ada hal yang dari hidup kita
atau sikap orang sekitar kita
menjadi perintang bagi penyampaian kebenaran dari kita
dan penerimaan kebenaran pada orang sekitar kita.

Sabtu, 19 Januari 2013

Lihatlah ke sekeliling

Bukankah kamu mengatakan:
Empat bulan lagi tibalah musim menuai?
Tetapi Aku berkata kepadamu:
Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang
yang sudah menguning dan matang untuk dituai. - Yohanes 4:35

Kita kerap berpikir urusan dan kebutuhan hidup kita sendiri
sudah lebih dari cukup untuk menyita waktu, perhatian, doa ... kita.
Lalu kepedulian kita akan kebutuhan orang sekitar kita,
terutama kebutuhan orang akan kasih Allah hampir-hampir tidak ada.
 
Yesus meminta kita para murid-Nya untuk melihat ke sekeliling -
bukan melihat ke diri sendiri -
nanti Roh-Nya akan menolong kita melihat
berbagai kebutuhan orang akan Kristus.
Seseorang yang jalan hidupnya melintas jalan hidup kita
mungkin sekali perlu mendengar apa yang telah kita alami dari Yesus.
Maka bersiaplah - berbagi diri Yesus -
berbagi kesukaan yang sangat mungkin akan terjadi
ketika "tuaian" rohani terjadi melalui kepedulian kita.

Jumat, 18 Januari 2013

Allah bersuka akan kita

TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan
yang memberi kemenangan.
Ia bergirang karena engkau dengan sukacita,
Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya,
Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,
seperti pada hari pertemuan raya - Zefanya 3:17-18
Ayat yang indah sekali, sarat dengan mutiara mahal yang memancarkan hati Bapa kepada kita:
#1...Yahweh, Allahmu ada di antaramu, sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Pertama, janji bahwa Ia sungguh di antara kita! Lalu Ia Yang Mahakuasa berjanji menyelamatkan kita. Ia menyebut diri sebagai pahlawan yang menang. Betapa dahsyat kasihNya kepada kita, Ia akan berperang sampai kita menang!
#2... Ia akan bersukacita karena kita dengan kesukaan. Tahukah kita bahwa Bapa sungguh bersuka akan kita? Kita diciptakan untuk kesukaanNya dan hidup kita membawa kesukaan ke hatiNya. Alk NIV mengatakan: "He 'takes great delight in you.'"
#3... Ia akan membaharui kita dengan kasihNya. Bayangkan seorang ibu menenangkan anaknya. Seberapa pun luka yang ditanggung, mimpi buruk, kasih ibu memiliki kekuatan untuk membawa ketenangan ke hati yang gelisah. Kasih Bapa lebih lagi.
#4... Ia akan bersorak dengan nyanyian seperti pada waktu pesta meriah. Ini perlu kita endapkan dalam hati sanubari kita. Betapa mengejutkan gambaran yang dipaparkan kepada kita tentang kesukaan Allah ini! Apakah demikian juga hati kita terhadap Allah waktu kita beribadah, dan dalam momen ke momen keseharian kita?
Semoga gambaran kita tentang Allah Papa kita berubah... tidak lagi sebagai figur yang menjaga jarak dan selalu mencari-cari kesalahan tetapi... penuh kasih dan lembut!

Kamis, 17 Januari 2013

Undangan

Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan,
hai ujung-ujung bumi!
Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. - Yesaya 45:22;
Lalu kata tuan itu kepada hambanya:
Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan
paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk,
karena rumahku harus penuh. - Lukas 14:23
Allah Mahakuasa,
tidak ada yang seperti Engkau.
Kiranya kami tetap fokus pada firman-Mu
dan menyaksikan anugerah-Mu
yang menyelamatkan kepada orang lain
agar mereka juga boleh mengenal-Mu
sebagai Juruselamat dan Tuhan. Amin

'Makanan' Pelayanan

Makanan-Ku ialah
melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. - Yohanes 4:34
Istilah "beban" pelayanan tidak serasi ucapan Yesus ini.
Ia menyebutnya "makanan" pelayanan.
Pelayanan bukan memberatkan, tidak menyusahkan.
Seperti makanan, pelayanan memberi tenaga,
menyukakan, nikmat untuk dilakukan.
 
Mengapa?
Karena dengan melayani kita berada dalam pusat
perhatian dan operasi Tuhan Allah.
Ia yang memanggil, mengutus kita dalam berbagai bentuk pelayanan
juga menyertai, mengaruniai, memberdayakan.

Rabu, 16 Januari 2013

Ibadah

Allah itu Roh
dan barangsiapa menyembah Dia,
harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." - Yohanes 4:24
Roh Allah menarik kita kepada kebenaran.
Semakin banyak kebenaran kita hidupi,
semakin kita ditarik oleh Roh.
Ibadah sejati tidak mekanis atau hafalan,
bukan juga kebiasaan atau tradisi.
Ibadah adalah respons dari dalam diri kita yang jati
ke panggilan Allah terdalam kepada hidup kita.

Minggu, 06 Januari 2013

Perkataan Kita

Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa!
Sebab aku ini seorang yang najis bibir,
dan aku tinggal di tengah-tengah
bangsa yang najis bibir, namun mataku
telah melihat Sang Raja,
yakni TUHAN semesta alam." - Yesaya 6:5;
Hendaklah kata-katamu senantiasa
penuh kasih, jangan hambar,
sehingga kamu tahu, bagaimana
kamu harus memberi jawab kepada setiap orang - Kolose 4:6
Bapa yang kudus, terima kasih untuk
satu hari lagi dalam kebun anggur-Mu.
Urapi bibir kami dengan kata-kata
yang menyukakan pendengaran-Mu dan
yang mengangkat hati orang yang kami jumpai
dalam berbagai kesempatan kami hari ini. Amin.

EPIFANIA

Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea.
Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" - Yohanes 1:43
Kerap kita menganggap mengenal Allah dan kerohanian
adalah perkara yang kompleks dan amat tinggi / sukar.
Ada begitu banyak aturan untuk ditaati
dan tata cara agamawi untuk dijalani.
Lalu kita juga menjadi bosan dengan semua itu.
 
KABAR BAIK!
Simpel saja kenal Allah itu, sebab Ia telah datang
menyatakan diriNya, menganugerahi kita pengenalan, keselamatan, bimbingan, berkat dst.
Hanya ini yang perlu ; IKUT SAJA YESUS!.

Di kalangan gereja Barat (Katolik, Protestan dll) Epifani(a) Epifani(a) yang berarti penyingkapan - merayakan anugerah Allah menyingkapkan diri-Nya, rahmat, kemuliaan dan rencana penyelamatan-Nya pada manusia. Di kalangan gereja Timur (Ortodoks Yunani, Koptik, Ortodoks Rusia dll) 6 Januari adalah Natal, juga seing dikaitkan dengan kebaikan Allah memimpin para majus dgn bintang Betlehem. Maka mari kita ingat, syukuri dan hidupi bahwa dari kemuliaanNya Allah telah mengutus sang Terang sejati, PutraNya sendiri menerangi kegelapan hati dan dunia kita.

Meneruskan Terang dari-Nya

Tetapi apabila aku berpikir:
"Aku tidak mau mengingat Dia
dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya",
maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti
api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku;
aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup. - Yeremia 20:9;
Karena jika aku memberitakan Injil,
aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri.
Sebab itu adalah keharusan bagiku.
Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. - 1 Korintus 9:16
Tuan Maha beranugerah,
di hari ibadah ini -
terima kasih untuk satu lagi pengingat
bahwa Engkaulah Terang dunia.
Kiranya terang-Mu itu bercahaya melalui kami
agar orang lain melihat karya baik-Mu,
lalu menginginkan dan memuliakan-Mu. Amin.

Sabtu, 05 Januari 2013

Ikut Yesus

Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." - Yohanes 1:38-39

Tidak ada perkara dan pribadi lebih penting lebih bernilai daripada Yesus. Ingin kenal Dia adalah sikap paling menentukan dal...am hidup. Ikut Dia adalah keputusan hari lepas hari yang berdampak kekal dan berpengaruh nyata dalam keseharian. Pada awalnya dan banyak momen dalam mengikut-Nya ini kita tidak tahu apa yang akan kita temukan dan kapan terjadinya. Cukup pandang saja Yesus, dan dari waktu ke waktu tanggap pada ajakan-Nya.
 
Kita mengaku Kristen? Pengikut Kristus?
Apa yang sesungguhnya kita cari?
Di mana Ia kita tempatkan dalam hidup?
Suara apa / siapa yang kita dengar dan ikuti?

Kamis, 03 Januari 2013

MENYEMBAH SIAPA / APA...?

Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" - Lukas 4:8

Kita semua adalah makhluk penyembah. "Menyembah" tidak hanya berarti menaikkan pujian, berdoa, ke gereja, dsb. Menganggap penting, mengutamakan, menggantungkan hidup - ini semua pun adalah sikap menyembah. Menyadari ini, betapa ngeri bahwa kita kini ada dalam budaya yang sarat dengan berbagai rupa penyembahan: kepada ketenaran, kuasa, harta, hiburan, kenyamanan, sosialitas, kecantikan, dst.

Yang bukan sumber hidup dan hanya alat untuk menopang hidup, jangan diberi kedudukan sebagai sumber hidup!
Doa:
Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!
Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.
Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.
 
Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku,
Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. (Mazmur 16:1-6)

Sabtu, 22 Desember 2012

Keselamatan


Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. - 2 Korintus 5:21
 

Jika kita Kristen, kita telah diselamatkan sebab karunia pembenaran Allah telah menyelamatkan kita dari hukuman dosa; kita sedang diselamatkan sebab tiap hari kita dipelihara dari kuasa dosa; dan kita akan sepenuhnya selamat ketika kita bebas dari kehadiran dosa dan dari semua jejak dosa pada kedatangan Kristus. Inilah tiga aspek keselamatan, yang dialami melalui tiga cara berikut.

            Pertama, kurban kematian Kristus yang melaluinya Allah membuat penyediaan keselamatan. Ia menjadikan diri-Nya tebusan bagi banyak orang, mencurahkan darah-Nya seperti domba tak bercela (Mt. 20:28; 1Ptr. 1:9; Ibr. 9:22).

            Kedua, iman, lepas dari perbuatan, adalah cara kita menerima keselamatan. Iman adalah langkah jiwa dalam percaya dan komitmen kepada obyek dengan tiga aspek: Allah dari Alkitab; Kristus dari Allah, yang juga adalah Kristus dari Alkitab; dan ajaran serta janji dari Allah, yang adalah ajaran dan janji dalam Alkitab. Iman menerima kebenaran Alkitab dan memercayai pribadi – atau tepatnya ketiga pribadi Allah. Pertobatan yang berarti memalingkan akal budi seseorang, adalah sisi negatif dari iman. Pertobatan berkata “Tidak” kepada jalan-jalan  fasik agar seterusnya berkata “Ya” kepada Kristus.

            Ketiga, kelahiran baru oleh Roh adalah cara Allah memberikan keselamatan. Seperti Yesus berkata kepada Nikodemus, orang tidak dapat melihat atau masuk ke dalam kerajaan Allah (kenyataan keselamat) tanpa dilahirkan kembali (Yoh. 3:3-5). Artinya manusia dalam dosa tidak memiliki kuasa untuk berpaling kepada Allah dan beriman kecuali Roh Kudus bekerja dalam hati (Yoh. 6:44; Rm. 8:7-8; 1Kor. 2:14).

 
Lihat lagi ayat-ayat di atas dan ucapkan syukur kepada Allah untuk apa yang telah Ia lakukan bagi Anda.

Berdoalah agar Ia akan melakukan yang sama kepada orang yang Anda kenal.

Jumat, 21 Desember 2012

Anugerah


Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. - Efesus 2:8

 
Anugerah dalam Perjanjian Baru, adalah tindakan kasih Allah kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerima kasih. Allah mengerakkan surga dan bumi untuk menyelamatkan orang berdosa yang tak dapat menggerakkan jari-jarinya untuk menyelamatkan diri sendiri. Allah mengirim Anak-Nya untuk turun ke dalam kerajaan maut di salib-Nya supaya kita yang bersalah boleh didamaikan dengan Allah dan diterima dalam surga.

            Anugerah mencakup baik kehendak maupun perbuatan. Yang pertama adalah rencana kekal Allah untuk menyelamatkan; yang kedua adalah pekerjaan baik Allah dalam Anda (Fil. 1:6) yang memanggil masuk ke dalam persekutuan yang hidup dengan Kristus, membangkitkan dari kematian ke dalam hidup, memeteraikan sebagai milik-Nya oleh karunia Roh-Nya, mengubah menjadi gambar Kristus, dan kelak akan membangkitkan tubuh mereka ke dalam kemuliaan.

            Para teolog Protestan biasa mengatakan bahwa anugerah adalah sikap kasih Allah yang dibedakan dari karya kasih-Nya, tetapi pembedaan ini tidak alkitabiah. Sebagai contoh Paulus menulis: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1Kor. 15:10) jelas menekankan karya kasih Allah dalam Paulus, yang melaluinya Ia menjadikan Paulus pertama menjadi orang Kristen lalu menjadi pelayan-Nya.

            Apakah tujuan anugerah? Untuk memulihkan relasi kita dengan Allah dan memimpin kita ke latihan mengasihi, memercayai, bersukacita, berharap, dan menaati Allah.

 
Apa sajakah “karya baik Allah” dalam Anda? Apakah dasar Alkitab untuk penjelasan itu?

Pujilah Allah atas semua aspek anugerah-Nya terhadap Anda.

Karunia


Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan… Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun.
1 Korintus 1:5, 7
 

Kita benar ketika mengatakan bahwa karunia-karunia rohani datang dari Roh (1Kor. 12:4-31). Namun kita selalu cenderung menganggapnya sebagai bakat (kesanggupan alami) atau suatu kesanggupan baru bersifat adikodrati (berbicara dalam lidah, menyembuhkan, menerima pesan langsung dari Allah untuk orang lain, atau lainnya). Kita belum terbiasa mendefinisikan karunia-karunia dalam rangka Kristus, sang kepala tubuh, dan karya-Nya kini dari surga. Dalam hal ini kita tidak alkitabiah.

            Paulus menjelaskan bahwa karunia rohani diberikan dalam Kristus, adalah pengayaan dari Kristus. 1 Korintus 12 mengandaikan perspektif yang berporoskan Kristus yang dijelaskan dalam 1 Korintus 1:4-7. Penting sekali kita melihat kebenaran ini, atau kita akan mengacaukan antara talenta alami dengan karunia rohani.

            Dalam Perjanjian Baru baik Paulus maupun rasul lain tidak memberikan definisi tentang karunia rohani. Penegasan Paulus bahwa penggunaan karunia membangun (1Kor. 14.3-5, 12, 17, 26; Efs. 4:12) memperlihatkan apa sesungguhnya suatu karunia rohani. Untuk Paulus, hanya melalui Kristus, di dalam Kristus, dan dengan belajar tentang serta merespon kepada Kristus, orang dapat dibangunkan. Maka karunia-karunia rohani harus didefinisikan dalam rangka Kristus sebagai kuasa yang dinyatakan untuk mengungkapkan, merayakan, menyingkapkan, dan mengkomunikasikan Kristus dengan berbagai cara, entah melalui perkataan atau perbuatan.

 
Apakah aku/gerejaku perlu diingatkan tentang kebenaran ini?

Tuhan Yesus, tolongku / kami untuk memahami karunia-karunia rohani yang telah Kau berikan untuk memperlihatkan sesuatu tentang diri-Mu.

Rabu, 19 Desember 2012

Kebutuhan


Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. - Filipi 4:19
 

Bagaimanakah Allah akan menyediakan semua kebutuhan orang Kristen Filipi? Sebagiannya, paling tidak, oleh karya Kristus melalui Roh yang mengaktualkan karunia kemurahan seperti orang Samaria yang baik di antara orang Filipi sendiri. Ketika orang Kristen berbicara satu kepada lain dalam Nama Kristus dan mempraktikkan kepedulian Kristen, secara pribadi Kristus memberkati melalui mereka (2Tes. 3:6; Mrk. 9:41). Seperti ucapan Kristus bahwa “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40), demikian juga dalam kategori itu kita bisa berkata bahwa ketika orang Kristen lain membagikan pengertian, penguatan, dan kelegaan dalam bentuk apa pun kepada kita, Kristus sendirilah yang melayani, memberikan kita berbagai manfaat tadi melalui mereka (2Kor. 13:3; Rm. 15:18).

            Dari surga Kristus memakai orang-orang Kristen menjadi mulut, tangan, kaki, bahkan senyum-Nya; melalui kita, umat-Nyalah, Ia berbicara dan bertindak, menjumpai, mengasihi, dan menyelamatkan di sini dan kini dalam dunia ini. Ini merupakan sebagian arti dari gambaran Paulus tentang gereja sebagai tubuh Kristus di mana semua orang Kristen adalah anggotanya – anggota tubuh atau organ yang bertindak menurut gerakan Kristus sang kepala tubuh.
 

Ucapan ini kiranya meluputkan kita dari kemalasan atau kekalutan: “Allah tidak memiliki tangan kecuali tangan kita” dan “…ribuan orang menuruti perintah-Nya melintas daratan dan lautan tanpa istirahat” (Milton).

Tuhan, aku serahkan diriku dan potensiku ke dalam tangan-Mu hari ini dengan segala kesempatan di dalamnya.

Selasa, 18 Desember 2012

Nama itu Ajaib


Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: "Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?" - Hakim-hakim 13:18
 

Jawab malaikat Tuhan tentang nama-Nya, dari satu sisi agak samar; dari sisi lain itu undangan untuk merenung, berpikir, dan menyembah. Manoah benar ketika berkata bahwa mereka telah melihat Allah (13;23), Allah sendiri bertindak seolah malaikat utusan-Nya.

            Ketika kita berpikir tentang Allah sebagai Allah yang melakukan hal-hal ajaib, kita ingat bagaimana Ia mencipta dunia dengan memanggilnya dari ketiadaan, dan Yesus mengubah air menjadi air anggur, memberi makan empat ribu dan lima ribu orang, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati. Pastilah, Allah adalah Allah atas mukjizat. Dalam Alkitab mukjizat-mukjizat mengitari saat-saat agung penyataan untuk menarik perhatian manusia tentang apa yang sedang terjadi.

            Dalam kisah Manoah, istrinya, dan malaikat Tuhan (Hkm. 13), keajaiban kasih Allah tampil dalam banyak cara. Israel telah berdosa, Allah dalam penghukuman-Nya membuang mereka ke dalam tawanan, dan kini Allah mengambil inisiatif dan mulai bertindak untuk keselamatan dan pemulihan mereka.

            Bagaimana Ia melakukan itu? Ia datang ke seorang perempuan mandul dan memberitahu bahwa ia akan mendapat seorang anak yang khusus yang akan membebaskan umat-Nya. Dan kemudian itu terjadi! Bayang-bayang Yesuskah? Ya – secara harfiah! Di sini kita tidak saja memiliki suatu keajaiban kuasa Allah, tetapi juga kemurahan, kesetiaan, dan kasih-Nya.

 
Penguatan: Semua hal yang telah Allah janjikan kepada Anda, akan ia lakukan.

Tuhan, aku percaya janji-Mu… dan menaruh percaya dalam kuasa, kasih, dan kesetiaan-Mu.

Senin, 17 Desember 2012

Allah yang Berotoritas


Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. - Hakim-hakim 13:3-4
 

Malaikat Tuhan memberitahu istri Manoah bahwa ia akan mendapat seorang putra yang akan hidup sebagai seorang nazir. Ia akan dibaktikan khusus untuk Allah dan menjalani berbagai aturan yang menjadi tanda fakta itu: menjauhi minuman keras dan tidak boleh cukur. Selain itu, istri Manoah pun harus menjauhi minuman keras dan makanan yang tidak halal. Hanya sekali itu dalam Alkitab seorang calon ibu diberi petunjuk sejelas itu. Istri Manoah bisa saja bertanya mengapa ia diberi larangan itu. Jika ia lakukan itu, jawabnya adalah, “Karena Aku berkata demikian.”

            Allah membuat aturan. Ia tidak harus menjelaskan alasannya. Tugas kita adalah menaati. Allah tidak memberitahu istri Manoah mengapa Ia memberi petunjuk tertentu seperti juga Ia tidak menjelaskan kepada Gideon mengapa ia harus mengurangi pasukannya sampai hanya sekelompok kecil. Kita bisa menduga-duga, tetapi akhirnya kita hanya berpegang pada prinsip bahwa Allah anugerah berhak membuat aturan.

            Andai kita berkata, “Tetapi Allah, masakan Engkau ingin aku melakukan itu – tidak beralasan,” kita mungkin tidak akan menerima jawaban kecuali gema perkataan Allah dalam hati nurani kita. Seringkali kesombongan membuat kita menanyakan alasan dan membuat kita enggan. Adam dan Hawa mempertanyakan alasan perintah Allah dan akhirnya tidak taat. Iblis yang mencobai mereka, akan mencobai kita juga dengan cara yang sama. Istri Manoah tidak menanyakan penjelasan, ia taat saja, dan ia menerima berkat yang telah Allah rencanakan bagi mereka.

 
Andai aku yang diminta Maria (Yoh. 2:5), apa reaksiku?

Tuhan, tolongku memercayai kasih-Mu bahkan ketika Engkau tidak memberiku alasan apa pun.

Sabtu, 15 Desember 2012

Allah yang Konsisten


Berkatalah Manoah kepada isterinya: "Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah."

Tetapi jawab isterinya kepadanya: "Seandainya TUHAN hendak membunuh kita, maka tidaklah Ia menerima korban bakaran dan korban sajian dari tangan kita dan tidaklah Ia memperlihatkan semuanya itu kepada kita dan tidaklah Ia memperdengarkan hal-hal yang demikian kepada kita pada waktu sekarang ini." - Hakim-hakim 13:22-23
 

Dalam reaksi panik Manoah terkesan ada hikmat. Ia tahu Allah Israel kudus adanya dan manusia berdosa yang menatap Dia tidak dapat bertahan hidup. Ingat bagaimana Yesaya ketika melihat Allah di Bait (Yes. 6)? Hanya penyelamatan dari Allah sendiri dapat meredakan ketakutan ini. Kepanikan itu membuktikan bahwa meski Manoah teliti, ia tidak kenal benar agamanya. Ia belum menyadari bahwa Allah dapat diandalkan. Istrinya tahu hal ini. Ia tahu Allah tidak menarik kembali rencana-Nya; jika Ia meninggikan orang, Ia tidak menolak mereka; jika Ia mengikat diri dengan janji-janji-Nya Ia akan memegang perkataan-Nya. Ia memberitahu suaminya bahwa Allah pasti tidak akan melenyapkan mereka sesudah menerima kurban bakaran mereka dan memberitahu tentang kelahiran anak mereka serta rencana ilahi untuknya. Singkat kata ia berkata kepada Manoah: Allah tidak berubah-ubah – Ia konsisten! Tenanglah! Bersukacitalah!

            Ada banyak situasi yang kita rasa Allah sedang menghancurkan pengharapan yang Ia berikan kepada kita. Itulah yang dirasakan oleh dua murid yang menuju Emaus. Kita percaya bahwa Yesus penebus Israel, ujar mereka. Tetapi kini lihat apa yang terjadi. Ia mati. Yusuf mungkin juga memiliki perasaan yang sama sewaktu dipenjara di Mesir. Bagaimana dengan semua visi kebesaran yang Allah berikan kepadanya sewaktu ia remaja? Tetapi kita tahu bagaimana akhir kedua kisah itu. Pengharapan yang telah Allah berikan sungguh digenapi, meski tidak seperti yang diharapkan semula.

            Reaksi panik pada saat stres dan trauma membawa kita ke kesimpulan salah.

“Allah telah melupakan kita.” “Allah membinasakan kita.” Bagaimana menjawabnya?

Tuhan, kasih-Mu di masa lalu melarang kami berpikir Engkau akan meninggalkan kami tenggelam dalam masalah! Terima kasih atas kesetiaan-Mu kepada maksud-Mu.

Jumat, 14 Desember 2012

Pertemuan dengan Allah

Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah. - Hakim-hakim 13:20
Manoah tipe pria yang rewel, sombong, sangat religius dan teliti. Istrinya menceritakan yang terjadi, tetapi ia merasa perlu memeriksa sendiri. Mungkin ia menyesali “manusia Allah” datang kepada istrinya dan bukan kepadanya. Pokoknya, ia meminta agar Allah mengutus lagi manusia Allah itu kepada mereka. Doanya dijawab, tetapi lagi-lagi utusan Allah itu menemui istrinya dulu! Istrinya memanggilnya dan ia datang lalu berkata, “engkaukah yang telah berbicara kepada perempuan ini?” (11). (Bukan “istriku” tetapi “perempuan ini” – perhatikan nuansa itu!) ketika malaikat Tuhan mengiakan, dengan kesopanan timur ia lanjut,“apabila terjadi yang Kaukatakan itu, bagaimanakah nanti cara hidup anak itu dan tingkah lakunya?" (12). Utusah ilahi itu (sebab malaikat Tuhan itu sesungguhnya adalah suatu teofani - penampakan ilahi) menjawab: Apa yang kukatakan ini kepadamu, sesungguhnya telah kukatakan lebih dulu kepada istrimu; mengapa kamu ingin aku mengatakannya kembali?
Percakapan itu berlanjut dan kemudian Manoah, atas usul utusan itu, memberikan kurban bakaran untuk Tuhan. Ketika api dan bersamanya pelawat ilahi itu naik ke surga, Manoah menyadari bahwa ia telah berjumpa langsung dengan Allah sendiri dan itu membuatnya panik. Sekali lagi istrinya bicara tepat!
Jika Anda pria yang telah menikah, bolehkah saya bertanya apakah Anda sedia mendengar nasihat istri Anda? Jika tidak, Anda sungguh bodoh!
Apakah aku bersedia belajar dari siapa saja yang dapat menolongku mengenal diri atau Allah lebih baik? Hati-hati dengan anggapan, “Tidak ada yang dapat ia ajarkan kepadaku.”
Tuhan, tolongku rendah hati untuk belajardari orang lain. Ampuni sikapku merasa diri lebih dari…

Kamis, 13 Desember 2012

Allah yang Memulihkan


Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang… kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib. - Yoel 2:25-26


Jika ketika mengemudi saya masuk ke dalam rawa, seharusnya saya tahu bahwa saya telah keluar dari jalan. Tetapi pengetahuan itu tidak memberikan penghiburan jika saya harus berdiri tak berdaya memandang ke mobil saya yang tenggelam lenyap ditelan rawa. Samakah yang terjadi ketika seorang Kristen sadar bahwa ia telah kehilangan pimpinan Allah dan mengambil jalan salah? Apakah kerusakan yang terjadi tidak mungkin lagi diperbaiki? Apakah kini ia harus dikeluarkan dari perjalanan hidup?

            Puji Allah, tidak. Allah kita tidak saja Allah yang memulihkan, tetapi mengambil kesalahan dan kebodohan kita ke dalam rencana-Nya untuk kita dan mengubahnya menjadi kebaikan. Itulah bagian dari keajaiban kedaulatan anugerah-Nya. Yesus yang memulihkan Petrus sesudah penyangkalannya, dan lebih dari sekali mengoreksinya sesudah itu, adalah Juruselamat kita kini dan Ia tidak berubah. Allah tidak saja mengubah kemarahan manusia menjadi kepujian-Nya tetapi juga pengembaraan sesat orang Kristen.

            Allah tidak hanya membimbing kita dengan memperlihatkan jalan yang harus kita tempuh; Ia juga mau membimbing kita secara lebih mendasar dengan meyakinkan kita bahwa, apa pun yang terjadi, kesalahan apa pun yang kita buat, kita akan selamat tiba di rumah-Nya. Tergelincir dan tersesat, boleh jadi akan terjadi, tetapi lengan kekal menopang kita; kita akan tertangkap, diluputkan, dipulihkan.

Apakah Anda merasa terperangkap dalam “kebaikan kelas dua” dari Allah karena sebelumnya pernah menyimpang? Sadari perasaan itu tidak perlu dan tidak berdasar, sebab akan membuat Anda terus kalah.

Tuhan, bersihkanku dari kesalahan dan kuasa dosa… (apa pun itu). Aku menerima pengampunan-Mu dan memercayai-Mu untuk memulihkanku dan situasiku sepenuhnya, sehingga kini aku mengalami yang terbaik dari kehendak-Mu dalam hidupku.

Rabu, 12 Desember 2012

GAGAL?

 
Andai malam sebelumnya Petrus cs berhasil menangkap ikan,
Perahu mereka pasti penuh tangkapan,
Pagi itu mereka akan meluap dengan kesukaan
Mengurusi ikan-ikan tangkapan yang akan dijual di pasar;
Maka tidak akan terjadi kesempatan perahu Petrus dipinjam Yesus,
Untuk dijadikan mimbar darurat tempat Ia berkhotbah ke orang banyak,
Dan tanpa kesempatan itu Petrus tidak akan sempat mendengar
KhotbahNya yang berkuasa yang mungkin sekali menjadi sebab
Mengapa ia mau juga mencoba menangkap ikan lagi,
Meski sebagai seorang nelayan kawakan ia tahu bahwa
Yang bicara bukan nelayan tetapi tukang kayu,
Dan saat itu sudah bukan saatnya untuk menangkap ikan.
Karena kesempatan mendengar itu - Petrus mencoba menuruti kata2Nya
Dan, perahunya hampir tenggelam karena sarat tangkapan
Lalu celiklah mata hatinya bahwa ia ada di Hadapan Yang Kuasa,
Maka sujudlah ia mengakui keberdosaannya,
Dan, dalam ajaib anugerahNya Petrus mendengar sebuah kalimat indah:
"Ikutlah Aku, engkau akan Kujadikan penjala orang."


Gagal --> Perahu Kosong --> Mimbar Darurat --> Dengar Khotbah --> Alami kuasaNya --> Sadar diri berdosa --> Terima PanggilanNya

 JADI BGM PASNYA KITA MENYIKAPI SUATU KEGAGALAN?

Jumat, 07 Desember 2012

Kemurnian Hati

Janganlah seperti orang munafik. - Matius 6:5

Kata asal untuk munafik (hipokrit) ialah pemain drama.dalam teater purba, jauh hari sebelum ada alat rias, para aktor memakai topeng yang menampilkan tokoh yang ia perankan. Semua yang menonton akan keliru bila menyangka bahwa mereka melihat manusia dengan sifat atau kehidupan nyata. Yang mereka lihat hanya orang-orang memainkan berbagai tokoh dan adegan, untuk menghibur, menimbulkan kesan dan dipuji.

            Maka Yeus memberitahu para murid-Nya untuk tidak hipokrit – dalam hal ini orang Farisi – dalam persembahan, doa, dan puasa (Mat. 6:1-18). Orang Farisi, menurut Yesus, hanya melakukan tindakan-tindakan supaya dilihat dan dianggap saleh oleh orang yang melihatnya. Tetapi Allah tidak suka dengan sikap itu. Allah akan melihat tetapi tidak bertepuk tangan, sebab Ia tahu bahwa tujuan tindakan itu bukan untuk-Nya tetapi untuk diri mereka sendiri.

            Yesus memegang prinsip jauh lebih tinggi seperti dalam ucapan bahagia keenam: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, sebab mereka akan melihat Allah”(Mat. 5:8). Murni hati berarti lebih dari sekadar memiliki hati dan pikiran yang bebas dari pikiran dan hasrat yang biasa disebut najis; melainkan hal itu adalah sikap yang menempatkan Allah sendiri sebagai tujuan dan menginginkan kesukaan, kehormatan, pengenalan, pemujaan, dan keakraban dengan-Nya lebih di atas segalanya.

            Paruh pertama Matius 6 seluruhnya adalah khotbah tentang kemurnian hati dengan tiga lukisan kegiatan hidup para murid – memberi, berdoa, dan berpuasa. Tidak boleh ada kemunafikan, kedangkalan, keanehan atau pameran dalam hal-hal ini atau lainnya dalam ibadah dan pelayanan Kristen.

 
Pikirkan tentang jenis situasi dan kejadian di mana saya merasa senang dengan diri sendiri. Apa yang hal tadi perlihatkan tentang siapa yang ingin saya sukakan dan peroleh perkenan darinya?

Tuhan, di mana ada motif yang tak murni dalamku, tolongku mengakuinya dan tidak berpura-pura itu tidak ada.

Kemuliaan Allah


Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. - 1 Korintus 10:31
 

Ketaatan Kristen harus memiliki motif dan tindakan yang benar. Kebanyakan motif adalah reaksi kepada situasi atau orang yang dikendalikan oleh faktor luar (takut atau syukur) atau sebaliknya adalah ketetapan dari dalam hati (mengejar kekayaan atau reputasi). Kasih adalah motif kompleks yang mengandung kedua unsur itu; ia bisa merupakan reaksi dengan maksud baik, yang dipicu dan diberdaya oleh penghargaan kepada orang yang dikasihi, sekaligus merupakan ketetapan untuk memberi manfaat dan kebahagiaan, tanpa mempertimbangkan kelayakan penerimanya atau biayanya.

            Motif tertinggi orang Kristen selalu harus untuk memuliakan Allah, dan sebagai ungkapan sejati dari kasih kepada-Nya. Tetapi kasih kepada sesama demi Tuhan harus memotivasi kita juga, dan hal ini telah menjadi topik perdebatan cukup lama. Bagaimana kasih dapat menentukan kelakuan saya kepada sesama saya?

            Kita perlu menolak ide situasional bahwa peraturan alkitabiah tentang perilaku hanya petunjuk dengan aplikasi yang luas, dan bahwa perhitungan yang sehat dapat membuat pelanggaran terhadap hukum menjadi baik dan benar. Pada saat sama penting disadari bahwa semakin kasih kepada sesama menjadi motif bagi tindakan, semakin usaha dan keahlian kita melakukan ungkapan kasih akan meningkat, di dalam batas yang Hukum Allah tetapkan, sehingga itu menjadi cara bertindak yang paling baik dan paling berhasil.
 

Renungkan: Melakukan yang baik untuk orang lain harus melibatkan diri kita dan bukan hanya tindakan kita.

Tuhan, dalam apa pun yang aku lakukan untuk orang lain hari ini, tolongku untuk memberi sesuatu dari diriku juga.

Kekudusan


Siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu. - 1 Petrus 1:13-15

 
Ayat-ayat ini memperingatkan kita terhadap tiga kejahatan yang dapat menghancurkan kehidupan Kristen kita. Pertama kelambanan – karena itu “siapkanlah akal budimu,” konsentrasilah! Yang kedua keteledoran, yang merupakan ciri orang mabuk – maka, “waspadalah,” disiplin dirimu, miliki tujuan hidup jelas dan waspadalah. Yang ketiga adalah pikiran bercabang, yaitu kejahatan yang diakibatkan karena terlalu memperhatikan daya tarik dunia ini dan tidak cukup memperhatikan prospek yang Allah janjikan bagi kita – maka “letakkanlah pengharapanmu seluruhnya” ke hari penyataan Yesus Kristus.

            Kehidupan kudus didorong oleh pengharapan kemuliaan dengan Kristus. Untuk orang Kristen seperti para pembaca Petrus dulu yang kini hidup di bawah rezim yang memusuhi Kristen, menghadapi kesukaran dan perlakuan buruk karena Kristus, pengharapan ini sungguh memberikan kestabilan dan penguatan.

            Pengharapan adalah motif yang berpengaruh besar untuk kehidupan kudus. Petrus lalu menambahkan dua hal lain. Pertama hak istimewa Kristen (18-21) yang memancar dari pengenalan akan tiga hal: pertama, nilai darah Kristus yang telah dicurahkan untuk mereka; kedua, kepedulian Allah atas penebusan mereka, yang telah menetapkan Anak-Nya untuk tugas itu sebelum mereka ada; ketiga, pengangkatan mereka menjadi putra-putri Allah melalui kelahiran baru. Motif kedua adalah rasa hormat mereka kepada Allah yang selain hakim yang adil juga berelasi dengan mereka sebagai bapa. Hormat anak-bapa inilah arti takut akan Allah (17).

 
Langkah apa harus ku ambil untuk membuat akal budiku siap? Apakah program gereja kita menjelaskan arti hal itu dan mendorong tindakan itu?

Tuhan, aku beranikan diriku dengan pemikiran tentang langit dan bumi baru yang akan datang.

Hukum Kristus


Penuhilah hukum Kristus. - Galatia 6:2
 

Memang tiap situasi unik dan hanya dengan mengenali kekhasan tiap situasi kita dapat menyimpulkan hal terbaik apa dapat kita tarik darinya. Juga benar bahwa kasih membuat orang selalu menginginkan yang terbaik bagi orang yang dikasihi dan yang dimaksud bukan sekadar perbuatan benar secara formal atau menghindari kesalahan melainkan keinginan untuk selalu berbuat hal yang lebih baik. Penekanan bahwa kasih sejati bersifat kreatif, penuh upaya, dan ketidaksediaan untuk puas dengan hal baik yang bukan terbaik dalam relasi adalah sikap yang terdapat dalam pandangan situasionisme.

            Tetapi sikap itu menyimpang dalam penolakan mereka bahwa ada tindakan yang dalam dirinya bersifat immoral, jahat, dan dilarang. Anggapan salah itu merusak.

            Perjanjian Baru menegaskan bahwa meski relasi kita dengan Allah tidak lagi ditentukan oleh hukum sebab Kristus telah membebaskan kita dari hukum sebagai sistem keselamatan, kita kini di bawah hukum Kristus sebagai standar pengudusan.

            Dengan menyangkali bahwa ada hal yang Allah larang secara universal, kita memerangkap kasih ke dalam kebingungan. Bagaimana saya harus mengasihi sesama saya? Dengan menyesuaikan diri dengan situasi, demikian kita dianjurkan. Tetapi bagaimana saya mendefinisi situasi? Semua definisi bisa lahir menurut kemauan siapa saja dan terbuka untuk ditantang. Dan sesudah didefinisi, bagaimana saya dapat meyakini apa hal terbaik untuk dikasihi? Kompas moral saya tidak selalu dapat diandalkan, dan saya terhambat oleh dosa dan ketidaktahuan. Saya butuh hukum Allah untuk membimbing; dan tidak ada benturan antara menjalani perintah Allah dan mengasihi sesama saya. Justru keduanya berjalan bersama (1Yoh. 5:2). Hukum adalah matanya kasih; kasih adalah hatinya hukum.

Berpikirlah lebih banyak tentang hukum dan orang Kristen (Untuk awal: Rm. 6:14; 7:1-6; 10:4; 1Kor. 6:21; Gal. 3:23-26).

Tuhan, tolongku untuk kreatif dan penuh usaha dalam mengasihi orang lain – dalam batas yang Engkau tetapkan.

Hari Kudus

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. - Keluaran 20:8

Orang Puritan memiliki cara arif untuk mengungkapkan hari Minggu. Untuk mereka hari Minggu adalah Sabat Kristen, dan mereka biasa menyebutnya “hari pasar jiwa.” Jadi untuk mereka hari Minggu bukan untuk bermalasan, tetapi hari untuk berhenti dari urusan panggilan bumiah agar boleh mengejar urusan panggilan surgawi kita. Juga, bukan untuk menjadi beban membosankan, tetapi merupakan hak istimewa menyukakan; bukan puasa tetapi pesta; bukan kerja tak berguna tetapi alat anugerah.

            Agar mendapat manfaat penuh dari hari Minggu, mereka menasihati kita untuk menyiapkan diri – membebaskan diri dari hal-hal yang menyimpangkan perhatian dan beban lalu meluangkan waktu untuk memeriksa diri, pengakuan dosa dan doa pada hari Sabtunya.

            Ibadah umum harus menjadi pusat hari Minggu, dan orang Puritan tidak simpati pada mereka yang mengeluh tentang lamanya waktu ibadah, meski Baxter menasihati para pengkhotbah agar “berkhotbah dengan keseriusan yang hidup dan membangunkan pendengar… dan dengan metode yang mudah serta beragam isi yang bermanfaat agar orang tidak bosan dengan Anda.”

            Orang Puritan menegaskan bahwa keluarga harus berfungsi sebagai unit kehidupan benar di hari Tuhan, dengan kaum pria dalam rumah melakukan tanggungjawabnya untuk memperhatikan jiwa-jiwa dalam isi keluarganya. Pastor Puritan berbeda dari sejawatnya di zaman modern, tidak mengatur agar anak dan wanita menjangkau kaum pria tetapi sebaliknya.

            Ia juga berusaha menghindari jebakan legalisme (hanya memperhatikan pada hal yang tidak boleh dilakukan di hari Tuhan) dan Farisiisme (kebiasaan mencela orang bila terjadi pelanggaran dalam hal ini).

 
Kaum Puritan merasa bahwa kesukaan harus menjadi kunci ibadah umum. Apakah kesukaan merupakan ciri utama ibadah gereja Anda? Jika tidak, mengapa?

Tuhan, apakah kami memanfaatkan penuh alat anugerah-Mu ini?

Kesalehan


Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik. - Mazmur 1:1


Mazmur 1 membuka nada dan menfokuskan pemandangan seluruh mazmur-mazmur. Mazmur ini berisi renungan tentang sosok seorang yang saleh, dengan membandingkannya dengan orang fasik. Ketika membaca mazmur-mazmur ingatlah hal ini dalam pikiran Anda.

            Orang yang saleh menjauhi pemikiran dan rencana, perhatian dan sikap mereka yang mengejek kesalehan dan menolak Allah. Sebaliknya mereka bersuka dalam hukum Allah. Mengapa? Sebab mereka bersuka akan Allah sendiri sumber dan isi kesaksian hukum. Inilah jalan orang benar, dalam kontras dengan jalan orang fasik.

            Buah dari kehidupan benar adalah Kesalehan dalam perilaku, pengaruh kebaikan, dan kontribusi positif kepada kesejahteraan orang lain. Dalam artian tadi orang fasik jelas-jelas tidak berbuah; dosa menjadi kekuatan pemecah, yang membuat para pelakunya membawa kesusahan baik bagi dirinya maupun bagi dunia ini. Buah orang saleh bersifat tetap dan teratur, seperti pohon yang berakar di tepi sungai dan disegarkan terus oleh air tanah. Gambaran itu menyatakan bahwa Allah menyediakan kekuatan untuk segala pekerjaan baik melalui perenungan Firman yang dilakukan orang saleh. Kemakmuran yang dialaminya bersifat batiniah; sebab ia berusaha untuk melakukan segala sesuatu untuk kepujian Allah, sesuai Firman-Nya, ia diperkaya oleh kepuasan batin dari hati nurani yang baik, bahkan ketika usahanya terkesan terhalang dan gagal.

            Kemantapannya berasal bukan saja dari keutuhan batinnya tetapi dari fakta bahwa Allah tahu jalannya, menerima, dan memperhatikannya. Kelak ia akan berdiri di pengadilan Allah – diteguhkan dalam perkenan Allah – sementara orang fasik yang jalannya tidak berkenan, akan jatuh. Alkitab secara teratur menilai jalan hidup dengan bagaimana kenyataan orang pada Hari Penghakiman.

Apakah Perjanjian Baru memengaruhi realitas rohani dalam mazmur ini?

Tuhan, jika kelakuan, pengaruh, kontribusiku tidak menyenangkan-Mu, nyatakan kepadaku…