Senin, 17 September 2012

Tak Khawatir Apa Pun


Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? - Matius 6:25
 

Bacalah kembali ucapan Yesus tentang kekhawatiran ini (Matius 6:24-35) dan catat alasan yang ia berikan agar kita tidak khawatir dan mengapa tidak perlu khawatir.

            Kekhawatiran menghancurkan kepekaan tentang proporsi. Ketika kita khawatir tentang makanan dan pakaian, kita tidak dapat menghargainya sebagai pemberian agung Allah yaitu hidup ini.

            Kekhawatiran menghancurkan persepsi rohani. Ketika kita diserap olehnya, kita tidak bisa peka akan nilai yang Allah berikan kepada kita. Jika Ia memerhatikan burung, tidak dapatkah kita menaruh percaya pada Bapa surgawi kita untuk menyediakan kebutuhan kita?

            Berikutnya pertimbangan akal sehat. Anda tak dapat mengubah situasi (Siapa dapat memperpanjang usia sejengkal saja dengan berkhawatir?) (27); jadi apa gunanya khawatir?

            Akhirnya – dan ini jepitannya – selain tak mencapai apa pun, khawatir pun tidak perlu. Allah yang sama yang memakaikan bunga dan rumput dengan keindahan pasti akan juga memberi pakaian, makanan dan minuman yang diperlukan oleh anak-anak-Nya.

            Yesus menyebut para murid “orang yang beriman kecil,” ini menunjukkan bahwa khawatir keluar dari kurang / tidak percaya. Jika kita sungguh percaya janji Allah dan relasi-Nya kepada kita sebagai Bapa yang mengasihi, murah hati, perhatian, kita tidak mungkin penuh dengan kekhawatiran. Sebaliknya kita akan mencari dulu Kerajaan-Nya (hidup keselamatan, ketaatan, dan persekutuan) dan kebenaran-Nya (kehendak-Nya dalam keseharian kita). Dengan begitu kita akan menjalani realitas hidup dalam kesukaan iman akan pemeliharaan-Nya yang sempurna dan mencakup seisi dunia ini.

 
Apa yang Anda khawatirkan kini?

Serahkan tiap kekhawatiran kepada Allah dengan menyebutnya atau dengan tindakan simbolik lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar