Rabu, 21 Desember 2011

Allah yang Berotoritas

Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.
Hakim-hakim 13:3-4


Malaikat Tuhan memberitahu istri Manoah bahwa ia akan mendapat seorang putra yang akan hidup sebagai seorang nazir. Ia akan dibaktikan khusus untuk Allah dan menjalani berbagai aturan yang menjadi tanda fakta itu: menjauhi minuman keras dan tidak boleh cukur. Selain itu, istri Manoah pun harus menjauhi minuman keras dan makanan yang tidak halal. Hanya sekali itu dalam Alkitab seorang calon ibu diberi petunjuk sejelas itu. Istri Manoah bisa saja bertanya mengapa ia diberi larangan itu. Jika ia lakukan itu, jawabnya adalah, “Karena Aku berkata demikian.”

            Allah membuat aturan. Ia tidak harus menjelaskan alasannya. Tugas kita adalah menaati. Allah tidak memberitahu istri Manoah mengapa Ia memberi petunjuk tertentu seperti juga Ia tidak menjelaskan kepada Gideon mengapa ia harus mengurangi pasukannya sampai hanya sekelompok kecil. Kita bisa menduga-duga, tetapi akhirnya kita hanya berpegang pada prinsip bahwa Allah anugerah berhak membuat aturan.

            Andai kita berkata, “Tetapi Allah, masakan Engkau ingin aku melakukan itu – tidak beralasan,” kita mungkin tidak akan menerima jawaban kecuali gema perkataan Allah dalam hati nurani kita. Seringkali kesombongan membuat kita menanyakan alasan dan membuat kita enggan. Adam dan Hawa mempertanyakan alasan perintah Allah dan akhirnya tidak taat. Iblis yang mencobai mereka, akan mencobai kita juga dengan cara yang sama. Istri Manoah tidak menanyakan penjelasan, ia taat saja, dan ia menerima berkat yang telah Allah rencanakan bagi mereka.


Andai aku yang diminta Maria (Yoh. 2:5), apa reaksiku?

Tuhan, tolongku memercayai kasih-Mu bahkan ketika Engkau tidak memberiku alasan apa pun.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu karangan Dr. James I Packer

Selasa, 20 Desember 2011

Allah yang Konsisten

Berkatalah Manoah kepada isterinya: "Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah."
Tetapi jawab isterinya kepadanya: "Seandainya TUHAN hendak membunuh kita, maka tidaklah Ia menerima korban bakaran dan korban sajian dari tangan kita dan tidaklah Ia memperlihatkan semuanya itu kepada kita dan tidaklah Ia memperdengarkan hal-hal yang demikian kepada kita pada waktu sekarang ini."
Hakim-hakim 13:22-23


Dalam reaksi panik Manoah terkesan ada hikmat. Ia tahu Allah Israel kudus adanya dan manusia berdosa yang menatap Dia tidak dapat bertahan hidup. Ingat bagaimana Yesaya ketika melihat Allah di Bait (Yes. 6)? Hanya penyelamatan dari Allah sendiri dapat meredakan ketakutan ini. Kepanikan itu membuktikan bahwa meski Manoah teliti, ia tidak kenal benar agamanya. Ia belum menyadari bahwa Allah dapat diandalkan. Istrinya tahu hal ini. Ia tahu Allah tidak menarik kembali rencana-Nya; jika Ia meninggikan orang, Ia tidak menolak mereka; jika Ia mengikat diri dengan janji-janji-Nya Ia akan memegang perkataan-Nya. Ia memberitahu suaminya bahwa Allah pasti tidak akan melenyapkan mereka sesudah menerima kurban bakaran mereka dan memberitahu tentang kelahiran anak mereka serta rencana ilahi untuknya. Singkat kata ia berkata kepada Manoah: Allah tidak berubah-ubah – Ia konsisten! Tenanglah! Bersukacitalah!

            Ada banyak situasi yang kita rasa Allah sedang menghancurkan pengharapan yang Ia berikan kepada kita. Itulah yang dirasakan oleh dua murid yang menuju Emaus. Kita percaya bahwa Yesus penebus Israel, ujar mereka. Tetapi kini lihat apa yang terjadi. Ia mati. Yusuf mungkin juga memiliki perasaan yang sama sewaktu dipenjara di Mesir. Bagaimana dengan semua visi kebesaran yang Allah berikan kepadanya sewaktu ia remaja? Tetapi kita tahu bagaimana akhir kedua kisah itu. Pengharapan yang telah Allah berikan sungguh digenapi, meski tidak seperti yang diharapkan semula.

            Reaksi panik pada saat stres dan trauma membawa kita ke kesimpulan salah.

“Allah telah melupakan kita.” “Allah membinasakan kita.” Bagaimana menjawabnya?

Tuhan, kasih-Mu di masa lalu melarang kami berpikir Engkau akan meninggalkan kami tenggelam dalam masalah! Terima kasih atas kesetiaan-Mu kepada maksud-Mu.

Dikutip dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu - karangan Dr. James I. Packer

Senin, 19 Desember 2011

Perjumpaan dengan Allah


Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah.
Hakim-hakim 13:20


Manoah tipe pria yang rewel, sombong, sangat religius dan teliti. Istrinya menceritakan yang terjadi, tetapi ia merasa perlu memeriksa sendiri. Mungkin ia menyesali “manusia Allah” datang kepada istrinya dan bukan kepadanya. Pokoknya, ia meminta agar Allah mengutus lagi manusia Allah itu kepada mereka. Doanya dijawab, tetapi lagi-lagi utusan Allah itu menemui istrinya dulu! Istrinya memanggilnya dan ia datang lalu berkata, “engkaukah yang telah berbicara kepada perempuan ini?” (11). (Bukan “istriku” tetapi “perempuan ini” – perhatikan nuansa itu!) ketika malaikat Tuhan mengiakan, dengan kesopanan timur ia lanjut, “apabila terjadi yang Kaukatakan itu, bagaimanakah nanti cara hidup anak itu dan tingkah lakunya?" (12). Utusah ilahi itu (sebab malaikat Tuhan itu sesungguhnya adalah suatu teofani) menjawab: Apa yang kukatakan ini kepadamu, sesungguhnya telah kukatakan lebih dulu kepada istrimu; mengapa kamu ingin aku mengatakannya kembali?

            Percakapan itu berlanjut dan kemudian Manoah, atas usul utusan itu, memberikan kurban bakaran untuk Tuhan. Ketika api dan bersamanya pelawat ilahi itu naik ke surga, Manoah menyadari bahwa ia telah berjumpa langsung dengan Allah sendiri dan itu membuatnya panik. Sekali lagi istrinya bicara tepat!

            Jika Anda pria yang telah menikah, bolehkah saya bertanya apakah Anda sedia mendengar nasihat istri Anda? Jika tidak, Anda sungguh bodoh!


Apakah aku bersedia belajar dari siapa saja yang dapat menolongku mengenal diri atau Allah lebih baik? Hati-hati dengan anggapan, “Tidak ada yang dapat ia ajarkan kepadaku.”

Tuhan, tolongku rendah hati untuk belajar dari orang lain. Ampuni sikapku merasa diri lebih dari…
Dari Buku Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I Packer

Minggu, 18 Desember 2011

Allah yang Memulihkan

Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang… kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib.
Yoel 2:25-26


Jika ketika mengemudi saya masuk ke dalam rawa, seharusnya saya tahu bahwa saya telah keluar dari jalan. Tetapi pengetahuan itu tidak memberikan penghiburan jika saya harus berdiri tak berdaya memandang ke mobil saya yang tenggelam lenyap ditelan rawa. Samakah yang terjadi ketika seorang Kristen sadar bahwa ia telah kehilangan pimpinan Allah dan mengambil jalan salah? Apakah kerusakan yang terjadi tidak mungkin lagi diperbaiki? Apakah kini ia harus dikeluarkan dari perjalanan hidup?

            Puji Allah, tidak. Allah kita tidak saja Allah yang memulihkan, tetapi mengambil kesalahan dan kebodohan kita ke dalam rencana-Nya untuk kita dan mengubahnya menjadi kebaikan. Itulah bagian dari keajaiban kedaulatan anugerah-Nya. Yesus yang memulihkan Petrus sesudah penyangkalannya, dan lebih dari sekali mengoreksinya sesudah itu, adalah Juruselamat kita kini dan Ia tidak berubah. Allah tidak saja mengubah kemarahan manusia menjadi kepujian-Nya tetapi juga pengembaraan sesat orang Kristen.

            Allah tidak hanya membimbing kita dengan memperlihatkan jalan yang harus kita tempuh; Ia juga mau membimbing kita secara lebih mendasar dengan meyakinkan kita bahwa, apa pun yang terjadi, kesalahan apa pun yang kita buat, kita akan selamat tiba di rumah-Nya. Tergelincir dan tersesat, boleh jadi akan terjadi, tetapi lengan kekal menopang kita; kita akan tertangkap, diluputkan, dipulihkan.


Apakah Anda merasa terperangkap dalam “kebaikan kelas dua” dari Allah karena sebelumnya pernah menyimpang? Sadari perasaan itu tidak perlu dan tidak berdasar, sebab akan membuat Anda terus kalah.

Tuhan, bersihkanku dari kesalahan dan kuasa dosa… (apa pun itu). Aku menerima pengampunan-Mu dan memercayai-Mu untuk memulihkanku dan situasiku sepenuhnya, sehingga kini aku mengalami yang terbaik dari kehendak-Mu dalam hidupku.

Dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu karangan Dr. James I. Packer

Sabtu, 17 Desember 2011

Allah yang Memilih

Semua orang yang dipilih-Nya… mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. Roma 8:30


Semoga Anda tidak jadi takut memikirkan bahwa sebelum dunia diciptakan, Allah tahu apa yang akan terjadi: Ia melihat kejatuhan, Ia tahu kita akan menjadi pendosa; Ia memilih untuk menyelamatkan kita; Ia memilih untuk memuliakan kita kelak; Ia memilih agar kita bersama Dia, menjadi seperti Yesus dan menikmati surga selama-lamanya.

            Pemilihan (predestinasi) bukan ajaran untuk membuat orang takut; ia adalah rahasia keluarga Allah. Pemilihan tidak memintas undangan injil (Yoh. 3:16; Rm. 10:13). Tak seorang pun yang mendengar injil akan ditolak dari surga kecuali mereka yang menolak Kristus. Orang yang mendengar dan merespons kabar baik dari Kristus bagaikan orang yang diundang masuk melalui pintu. Di luar pintu tertera, “barangsiapa datang.” Sesudah di balik pintu, mereka menatap balik dan melihat tertulis, “Dipilih sebelum dunia dijadikan.”

            Begitu mereka menjadi bagian keluarga, mereka dapat diceritakan tentang rahasia keluarga – bahwa iman yang melaluinya mereka percaya akan Kristus itu sendiri adalah karunia Allah untuk mereka, seperti juga Anak Allah, juruselamat mereka adalah karunia Allah untuk mereka; dan Allah bersedia memberi karunia ini sejak kekekalan, dengan memilih mereka dalam Kristus sebelum dasar dunia dan menggenapi maksud pilihan itu dalam waktu. Bahkan, pembaruan hati mereka menyatakan hal ini sebelum semua hal itu diajarkan.

            Mengapa aku? Itulah nada takjub penuh sukacita yang kita utarakan terhadap pemilihan Allah atas kita.


Apakah kesan Anda tentang rahasia keluarga Allah ini?

Bapa, terima kasih Engkau telah memilihku karena kasih-Mu lebih dulu mengasihiku…

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr. James I. Packer

Jumat, 16 Desember 2011

Allah yang Mengadopsi


Allah mengutus Anak-Nya… untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.
Galatia 4:4-5

Pengangkatan anak, adalah suatu tindakan kebaikan yang bebas kepada orang yang diangkat menjadi anak. Jika Anda menjadi ayah dengan mengangkat seorang anak, Anda melakukan itu sebab Anda memilih bertindak demikian, bukan karena Anda wajib melakukannya. Sama seperti itu, Allah mengangkat karena Ia memilih demikian. Ia tidak wajib melakukannya. Ia tidak perlu melakukan apa pun tentang dosa-dosa kita kecuali menghukum kita sesuai yang layak kita terima. Tetapi Ia mengasihi kita, menebus kita, mengampuni kita, mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya, dan memberi diri-Nya menjadi Bapa kita.

            Anugerah-Nya tidak berhenti sesudah langkah awal itu. Penetapan status anak secara legal sebagai anggota keluarga hanya langkah awal. Tugas sejatinya tetap: menegakkan suatu relasi kasih. Inilah yang sesungguhnya Anda inginkan. Karena itu Anda menyatakan kasih Anda untuk memenangkan kasih anak angkat Anda. Anda berusaha menyalakan kasihnya dengan menyatakan kasih. Demikian juga dengan Allah. Sepanjang kehidupan kita di dunia ini sampai kekal sesudahnya, Ia akan terus menerus semakin menyatakan kasih-Nya kepada kita dengan berbagai cara, dan dengan cara itu terus menerus meningkatkan kasih kita kepada-Nya. Prospek bagi anak-anak angkat Allah adalah suatu kekekalan berisikan kasih.

Pengangkatan ke dalam keluarga Allah adalah hak istimewa tertinggi yang ditawarkan oleh injil. Setujukah Anda? Pikirkan tentang berkat-berkat yang mengikutinya.

Puji Allah untuk semua itu dan masuki hari ini sambil mengingat siapa Anda di mata Allah. Untuk kebanyakan kita itu berarti hidup dengan keyakinan bertambah kuat!

Dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Kamis, 15 Desember 2011

DISKON BESAR MENYAMBUT NATAL & TAHUN BARU

Kami mengundang Anda untuk menikmati diskon besar sekitar 35% dan bebas ongkos kirim untuk buku-buku berikut:
1. Perspektif Hidup Surgawi (edisi LUX) dari rp. 40,000.- menjadi rp. 26,000.-
2. Jalan Tuhan - karya N. T. Wright dari rp. 27,500.- menjadi rp. 18,000.-
3. Mengikut Yesus - karya N. T. Wright dari rp. 27,500.- menjadi rp. 18,000.-
4. Intervensi Adikodrati - sembilan kesaksian nyata jamahan mukjizat ilahi - dari rp. 35,000.- menjadi rp. 23,000.-
5. Selalu Ada Harapan - karya Dr. James I. Packer - dari rp. 35,000.- menjadi rp. 23,000.-
6. Dosa Ciri Diri - karya Dr. Michael Mangis - dari rp. 55,000.- menjadi rp. 36,000.-
7. Bapa Surgwi Mengasihimu - saat teduh setahun ttg. doktrin, spiritualitas, etis, dll. dari Dr. James I. Packer - dari rp. 55,000.- menjadi rp. 36,000.-

Diskon Khusus ini hanya berlaku s/d 13 Januari 2012 dan sesudah itu harga-harga kembali seperti info di margin kanan blog ini.

Transfer dana Anda ke: BCA KS Tubun a. n. Landas Waskita, 5260-333-706, dan sms ke 0812-270-24-870 atau email ke waskitapublishing@gmail.com .

MANFAATKAN KESEMPATAN INI UNTUK MENYEMARAKKAN ANDA / ORANG DEKAT ANDA DI MASA NATAL & PERGANTIAN TAHUN. TUHAN ALLAH MEMBERKATI.

Gereja dalam Perjanjian Baru

Kamulah… umat kepunyaan Allah sendiri.

1 Petrus 2:9



Ketika Kristus datang, konsep Perjanjian Lama tentang gereja tidak dihancurkan tetapi digenapi. Kristus, pengantara perjanjian, adalah penghubung antara dispensasi Musa dan Kristen. Perjanjian Baru melukiskan Dia sebagai Israel sejati, hamba Allah yang di dalam-Nya sejarah bangsa yang dipimpin Allah itu dirangkumkan dan disempurnakan, dan juga sebagai benih Abraham yang di dalamnya semua bangsa di bumi ini mendapatkan berkat. Melalui kematian-Nya yang menyelamatkan, yang menyingkirkan untuk selamanya pelayanan pemberian kurban-kurban, orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi di dalam Dia menjadi umat Allah. Baptisan, tanda inisiasi Perjanjian Baru yang setara dengan sunat, terutama menunjuk kepada kesatuan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya – satu-satunya jalan masuk ke dalam gereja.

            Jadi, gereja Perjanjian Baru memiliki Abraham sebagai bapanya, Yerusalem sebagai ibunya dan tempat menyembah, dan Perjanjian Lama sebagai Alkitabnya.

            Ide Perjanjian Baru tentang gereja dicapai dengan membangun di atas gagasan tentang umat perjanjian, yaitu pemikiran selanjutnya bahwa gereja adalah kumpulan orang-orang yang berbagian dalam pembaruan bersifat penebusan atas ciptaan yang dirusak dosa yang dimulai ketika Yesus bangkit dari kematian. Sebagaimana orang beriman perseorangan adalah ciptaan baru dalam Kristus, yang dibangkitkan bersama-Nya dari kematian ke dalam kehidupan, dimiliki dan dipimpin oleh Roh Kudus pemberi hidup, demikian pun gereja secara keseluruhan.



Jika seseorang menanyakan Anda dasar alkitabiah dari definisi tentang gereja, dapatkah Anda menunjukkan rujukan Alkitabnya? Akrabkanlah diri Anda dengan ayat-ayat itu.

Tuhan, apakah aku / gerejaku cukup ambil bagian dalam pembaruan penyelamatan atas ciptaan yang rusak oleh dosa?

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr. James I. Packer

Rabu, 14 Desember 2011

Gereja dalam Perjanjian Lama

Firman Allah: "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.
2 Korintus 6:16
 

Gereja bukan sekadar suatu fenomena  Perjanjian Baru. Gereja Perjanjian Baru adalah kelanjutan historis dari Israel Perjanjian Lama. Dasar kehidupan gereja dalam kedua Perjanjian adalah perjanjian yang Allah buat dengan Abraham. Ia membentangkan perjanjian ini dalam Kejadian 17.

            Allah mencanangkan relasi perjanjian ini sebagai suatu yang bersifat korporat, yang meluas ke keluarga Abraham dari generasi ke generasi. Jadi perjanjian itu menciptakan suatu komunitas yang permanen. Kedua, relasi itu adalah suatu kebaikan yang dijanjikan (kebaikan aktif) di pihak Allah. Allahlah yang ingin memberikan keturunan Abraham tanah Kanaan dan membebaskan mereka dari tawanan di Mesir (Kej. 15:13-21). Ketiga, sasaran relasi itu adalah persekutuan antara Allah dan umat-Nya. Keempat, perjanjian itu diteguhkan oleh pelembagaan suatu tanda – yaitu suatu upacara inisiasi dalam bentuk sunat.

            Kemudian, melalui Musa Allah memberikan umatNya hukum untuk hidup mereka dan bentuk penyembahan yang sah. Juga ia berulang kali bicara kepada mereka melalui para nabi-Nya tentang pengharapan mulia yang akan digenapi ketika Mesias datang.

            Dengan demikian muncullah gagasan alkitabiah tentang gereja sebagai umat perjanjian Allah – suatu keluarga tertebus, yang ditandai oleh tanda perjanjian yang telah mereka terima – yaitu secara aktif menyembah dan melayani Dia sesuai kehendak-Nya yang telah Ia nyatakan, menghidupi persekutuan dengan Dia dan dengan satu sama lain, berjalan dalam iman kepada janji-janji-Nya, dan menyongsong kedatangan kerajaan mesianis yang mulia itu.


Apakah yang dua gambaran utama alkitabiah tentang relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya ingin bukakan?

Engkaulah Allah kami (ku) dan kami (aku termasuk di dalamnya) adalah umat-Mu. Seberapa sering Anda menyebut ini kepada Allah?

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr James I Packer

Selasa, 13 Desember 2011

Gereja


Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila… Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.
Roma 16:3-5


Paulus tidak saja bicara tentang keseluruhan tubuh tetapi juga kelompok-kelompok lokal di suatu wilayah, bahkan tentang rumah tangga Kristen, sebagai gereja. Tidak ada gereja lokal yang disebut suatu gereja. Sebab Paulus tidak menganggap gereja universal sebagai penggabungan gereja-gereja lokal (apalagi penggabungan denominasi-denominasi!). pemikirannya adalah bahwa di mana saja orang percaya bertemu dalam Nama Kristus, mereka adalah gereja di tempat di mana mereka bertemu. “Dimana dua atau tiga orang bertemu dalam nama-Ku, di sana Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Setiap pertemuan Kristen, betapa pun kecilnya, adalah manifestasi lokal dari gereja universal, suatu pewujudan dan peragaan realitas-realitas spiritual dari kehidupan adikodrati gereja.

            Jadi Paulus dapat menerapkan metafora tubuh, dengan hanya sedikit perubahan. Baik kepada gereja lokal maupun kepada gereja universal, ia menekankan bahwa gereja lokal adalah tubuh dalam Kristus dan gereja universal adalah satu tubuh di bawah Kristus (Efs. 4).


Sudahkah kusadari bahwa dalam pertemuan kecil, semua yang berlaku kepada umat Allah secara umum juga berlaku kepada kelompok kecil itu? Apa dampak pengertian ini pada kelompok kecil yang ku ikuti?

Renungkan deskripsi Petrus tentang gereja dan fungsinya. “Kamu adalah umat terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perkara-perkara ajaib dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib” (1Ptr. 2:9).

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr. James I. Packer

Senin, 12 Desember 2011

Gereja Tampak & Tak Tampak

Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu… Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Matius 7:22-23


Manusia melihat gereja sebagai suatu masyarakat tertata dengan struktur yang tetap dan daftar keanggotaan. Tetapi gereja dalam arti demikian tidak selalu dapat disamakan dengan gereja yang kudus dan esa yang dibicarakan oleh Alkitab. Jatidiri antara keduanya paling banyak hanya berifat parsial, tidak langsung, dan senantiasa beragam dalam derajatnya.

            Gereja sebagaimana yang Allah lihat, selaku kumpulan orang beriman dalam persekutuan dengan Dia dan satu sama lain, pasti tidak terlihat kepada manusia sebab Kristus dan Roh Kudus serta iman, yaitu realitas yang membentuk gereja, pun tidak terlihat.

            Gereja menjadi kelihatan ketika para anggotanya berkumpul bersama dalam Nama Kristus untuk menyembah dan mendengar Firman Allah. Tetapi gereja yang tampak adalah suatu wujud yang bercampur. Sebagian di dalamnya, meski ortodoks, ternyata bukan orang percaya sejati – yaitu anggota sejati dari gereja sebagaimana yang dikenal oleh Allah – dan karena itu perlu diubahkan. Keanggotaan gereja yang tampak tidak menyelamatkan siapa pun terlepas dari iman dalam Kristus.

            Jika suatu organisasi yang kelihatan seperti itu dapat menjadi gereja Allah yang esa, maka satu-satunya jalan untuk menyatukan kembali Kekristenan yang terbagi adalah dengan mengusahakan suatu gereja super yang internasional. Tetapi faktanya ialah bahwa gereja yang tak tampak, yaitu yang sejati, sudah ada. Kesatuannya dikaruniakan kepadanya oleh Kristus. Tugas ekumenis yang tepat bukanlah menciptakan keesaan gereja melalui penggabungan aliran gereja tetapi dengan mengakui keesaan yang sudah ada dan memberinya ungkapan yang layak di tingkat lokal.

Dalam cara apakah gereja-gereja lokal di mana Anda tinggal saling berkata satu kepada lain dan kepada dunia, “Kami esa adanya”?

Tuhan, ampuni kami untuk pesan yang kami kesankan kepada dunia melalui kegagalan kami untuk mengungkapkan dan mendemonstrasikan bahwa kami satu adanya.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu oleh Dr James I. Packer

Minggu, 11 Desember 2011

Gaya Hidup Gereja


Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa… supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
1 Korintus 12:24-25


Gereja lokal seumpama tunas dan contoh dari gereja universal, yang dicipta dalam Kristus oleh Roh Kudus dari Allah. Gereja lokal memiliki kehidupannya sendiri untuk dihidupi, suatu kehidupan yang terjadi karena prinsip berbeda dan tujuan berbeda dari kehidupan dunia sekitarnya. Kehidupan gereja, harus berintikan kasih – suatu kehidupan syukur kepada Allah yaitu dengan jalan berusaha meniru Juruselamat kita dengan mengasihi sesama, dan khususnya mereka yang adalah saudara-saudari seiman kita.

            Kehidupan kasih ini, khususnya adalah kehidupan persekutuan di mana kita berbagi hal baik dari Allah. Tidak ada orang Kristen yang boleh merasa cukup sendiri; kita semua saling membutuhkan sesama dan pemberian Allah kepada kita; kita harus belajar untuk mengungkapkan kasih kita dalam persekutuan Kristen yang saling memberi-dan-menerima. Dan persekutuan kasih ini harus dalam bentuk pelayanan (diakonia – Yunani: pelayanan). “Melalui kasih jadilah pelayan satu kepada lain” (Gal. 5:13). Dalam arti dasar itu, pelayanan gereja adalah panggilan yang kepadanya semua orang Kristen dipanggil.

            Untuk kehidupan pelayanan inilah, di mana setiap bagian tubuh dipanggil untuk berkontribusi (Efs. 4:16), Allah memberikan karunia-karunia. Karunia dan pelayanan saling berelasi: Allah memberikan karunia-Nya kepada masing-masing bukan terutama untuk diri orang itu tetapi untuk dipakai melayani demi kebaikan persekutuan kehidupan tubuh (1Kor. 12:7).
           

Apakah dalam persekutuan gereja kita terdapat sikap saling peduli?

Tuhan, tolongku tidak pernah lupa bahwa kami adalah suatu komunitas adikodrati dengan kehidupan adikodrati mengalir melalui kami dan mempersatukan kami.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu karangan Dr James I. Packer

Sabtu, 10 Desember 2011

ISTIRAHAT > Waktu Senggang


ISTIRAHAT MELAMPAUI WAKTU SENGGANG

 
William Wilberforce --seorang Kristen yang taat-- adalah anggota Parlemen Inggris pada awal abad sembilan belas. Sebagai seorang politikus ia dikenal karena kepemimpinannya yang gigih meyakinkan Parlemen untuk mengeluarkan keputusan historis, menjadikan perbudakan sebagai pelanggaran hukum dalam Kerajaan Inggris. Itu bukan prestasi kecil. Kenyataannya, itu mungkin adalah salah satu tindakan kenegarawanan terbesar dan terberani dalam sejarah demokrasi.

            Perlu dua puluh tahun untuk Wilberforce menyusun koalisi para pembuat hukum yang akhirnya mengeluarkan keputusan anti perbudakan. Hal itu memerlukan dokumentasi rinci tentang ketidakadilan dan kekejaman perbudakan, mendorong para pembuat hukum yang tidak ingin mengganggu para perusahaan besar, dan berdiri kokoh melawan sekelompok lawan politik yang ingin melihat Wilberforce jatuh.

            Kekuatan spiritual dan keberanian moral Wilberforce pasti luar biasa besar. Kita belajar sesuatu tentang sumber kekuatan dan keberanian itu dari insiden yang terjadi pada 1801, beberapa tahun sebelum hukum anti perbudakan dikeluarkan.

 
           Lord Addington telah memimpin partainya menjadi berkuasa, dan sebagai perdana menteri baru ia harus mulai membentuk kabinet barunya. Isu sentral Inggris masa itu adalah damai. Napoleon tengah menteror Eropa, dan keprihatinan saat itu ialah apakah Inggris harus terlibat perang atau tidak. Wilberforce dikabarkan sebagai kandidat bagi kedudukan dalam kabinet, dan karena polesi damai ia merasa dirinya sangat terdorong untuk memperoleh pengangkatan itu. Garth Lean, salah seorang penulis biografi Wilberforce di kemudian hari, menceritakan kisah itu.

  • Tidak perlu lama untuk Wilberforce menjadi terserap dengan kemungkinan pengangkatan itu. Berhari-hari hal itu menggenggam pikirannya, menyingkirkan segala hal lainnya. Dari pengakuannya sendiri, ia mengalami “bangkitnya ambisi,” dan itu melumpuhkan jiwanya.

             Namun dalam hidup Wilberforce terdapat disiplin cek dan balans, dan dalam situasi khusus itu kebiasaan rutin tersebut menjadi tidak terelakkan. Sebagaimana yang Lean katakan, “Hari minggu membawa pemulihan.” Sebab tiap minggu dalam dunia pribadi Wilberforce tiba saat teratur ia beristirahat.

            Jurnal politikus Kristen itu sendiri yang paling baik menceritakan hal ini. Di akhir minggu yang penuh fantasi liar dan pencobaan untuk mendapatkan posisi politik itu, ia menulis: “Terpujilah Allah untuk hari istirahat dan pekerjaan religius yang di dalamnya hal-hal bumiah mengambil ukuran sejatinya. Ambisi dikerdilkan” (cetak miring ditambahkan).

            Cek dan balans Wilberforce terhadap kesibukan hidup adalah Sabat; ia telah sampai kepada pengertian tentang istirahat sejati. Wilberforce telah menemukan bahwa orang yang membangun suatu bagian waktu untuk istirahat Sabat secara teratur, sangat mungkin akan membuat seluruh hidup ada dalam pespektif yang tepat dan bebas dari kelelahan dan keruntuhan mental.

Dikutip dari Buku Menata Dunia Pribadi Meniti Sukses Sejati  oleh Gordon MacDonald
Info: 0812-270-24-870; waskitapublishing@gmail.com
 


 

Jumat, 09 Desember 2011

Umat Damai Sejahtera


Kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Yohanes 20:21

Perkataan Yesus pertama kepada para murid-Nya sesudah kematian dan kebangkitan-Nya bukan kecaman, “Mengapa kamu lari? Mengapa kalian mengecewakan-Ku? Kalian memang payah!” Sebaliknya Ia mengucapkan perkataan kasih dan kemurahan, yang menguatkan: “Damai sejahtera bagi kalian!” lalu ia memperlihatkan tangan dan pinggang-Nya. Mengapa? Tentu untuk penunjukan jatidiri-Nya, sebab di tangan itu terdapat bekas lubang paku dan di pinggang terdapat luka karena tusukan lembing.

            Tetapi ada alasan lain mengapa Ia memperlihatkan bekas luka-Nya. Ia ingin mengingatkan mereka tentang salib dan apa yang telah Ia dapatkan untuk mereka di salib. Pertama adalah damai dengan Allah, tetapi dari situ mengalir banyak hal lainnya. Sekali orang mengenal bahwa Allah telah mengampuni dan menerima dia serta akan memeliharanya tetap benar sampai akhir hidupnya lalu menerimanya di surga untuk bersama Tuhan selamanya, ia akan menikmati damai dengan dirinya sendiri (jika Allah telah mengampuni Anda, Anda harus mengampuni diri Anda!), dan ia dapat berdamai juga dengan situasinya. Ini akan menuntun ke damai dengan sesama. Sebab terdalam ketegangan antar manusia ialah dirinya sendiri kekurangan damai. Kita menjelekkan dan merusak orang lain sebab kita merasa tidak aman dan tidak puas dengan diri sendiri. Ketika Yesus memberi damai di hati, sikap kita kepada orang lain berubah total.

            Ketika Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat. 8:9) maksudnya ialah: Berbahagialah orang yang berusaha untuk membawa damai Kristus ke dalam dunia yang pecah melalui perbuatan dan perkataannya pada setiap tingkatan kehidupannya. Yesus membawa damai dari Allah kepada kita supaya kita boleh berbagi damai itu dengan orang lain.

Ketika orang mengecewakanku, apakah perkataanku pertama kepada mereka adalah kecaman atau kasih? Apa reaksi yang akan dihasilkan oleh masing-masing kata itu?

Tuhan, apakah aku/gerejaku bersalah dalam mengatakan, “Damai, damai,” padahal tidak ada damai (Yer. 6:14)?

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Kamis, 08 Desember 2011

Umat dan Hadirat


http://en.wikipedia.org/wiki/The_Miracle_of_the_Holy_Fire_(painting)
Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Yohanes 20:26


Ada banyak kebenaran yang dalam dan mengasyikkan tentang gereja dalam Alkitab. Yang terbaik dari semua ialah gereja adalah umat dari hadirat; yaitu kumpulan orang-orang yang ketika mereka berkumpul, mereka mengalami Tuhan hadir di tengah mereka.

            Sesudah memimpin umat keluar dari Mesir ke Sinai dan memberi mereka sari Hukum, Allah berkata kepada Musa, “mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8). Tidak mudah membangun sebuah kemah sembahyang dan semua perlengkapan ibadah kurban di padang gurun, tetapi jelas Allah menjadikan hal itu prioritas yaitu bahwa umat mengenali hadirat-Nya bersama mereka dan melakukan petunjuk persekutuan dengan-Nya sesuai petunjuk yang Ia berikan.

            Musa menyadari betapa penting hadirat Allah bagi mereka. Sebab dalam doanya sesudah kejadian lembu emas ia berkata, “"Jika Engkau sendiri (hadirat-Mu) tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini” (Kel. 33:15). Tetapi hadirat Allah pergi bersama umat-Nya dan kemah sembahyang kemudian diganti dengan Bait Allah di Yerusalem. Dalam banyak mazmur, penyairnya mengungkapkan betapa mereka menyukai pergi ke Bait sebab di sana mereka mengalami hadirat Allah. Lalu datang “Yesus Immanuel kita,” Allah beserta kita dalam pribadi (Mat. 1:23). Yesus menjanjikan hadirat-Nya yang menetap di tengah-tengah mereka yang berkumpul dalam Nama-Nya (Mat. 18:20). Sesuai itu, Wahyu 1:12-16 melukiskan gereja sebagai tujuh kaki dian dengan Yesus di tengah-tengah mereka.


Jika 1 Korintus 14:24-25 sama sekali tidak terjadi dalam gereja, maka mungkin Kristus tidak ada di tengah mereka sebagaimana seharusnya.

Tuhan, buatlah gereja kami menjadi umat hadirat-Mu. Kiranya kami dan semua lainnya merasakan bahwa Engkau sungguh di tengah kami.

Dari: Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh James I. Packer

Rabu, 07 Desember 2011

Umat Allah

Kamu… dahulu bukan umat Allah, tetapi… sekarang telah menjadi umat-Nya.
1 Petrus 2:10

Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa dan manusia terasing baik dari Allah maupun dari sesama, Allah telah bertindak untuk menciptakan bagi diri-Nya suatu umat yang baru yang hidup dengan-Nya dan dengan sesamanya dalam suatu persekutuan perjanjian kasih dan kesetiaan.

            Pertama, Ia membuat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya – mengikat diri-Nya untuk memberkati mereka dan mengikat mereka untuk menyembah dan melayani Dia. Kemudian hari ketika Ia membawa keturunan Abraham keluar dari Mesir, Ia memperbarui perjanjian dan memberikan untuk mereka, Hukum yang memperlihatkan perilaku apa yang menyukakan dan tidak menyukakan Dia, juga suatu sistem yang berintikan kurban, yang melaluinya dosa dapat disingkirkan dan persekutuan dengan-Nya dimungkinkan,

            Ketika Israel jatuh ke dalam ketidaksetiaan, muncul lagi pola tindakan ilahi yang sama – hukuman atas semua, diikuti oleh pembebasan dan pembaruan untuk sisa yang setia.

            Ketika Kristus datang untuk menciptakan suatu relasi perjanjian yang baru dan lebih kaya melalui kurban imamat oleh diri-Nya sendiri, Israel menolak pelayanan-Nya. Waktu itu, Ia sendirilah Israel sejati, sisa yang setia. Dalam Dia Israel Allah terwujud dari para pemercaya, yaitu orang Yahudi dan asal kafir yang bersama menjadi warga kerajaan, para carang dari pokok zaitun yang sejati dan para saudara dalam satu keluarga. Dengan demikian pemulihan dengan Allah dan satu kepada lain mengganti keterasingan yang ada sebelumnya. Di surga gereja akan tetap sebagai satu kota, keluarga, kawanan bersama.


Pernahkah Anda berpikir tentang gereja Anda (sebagaimana dalam Efs. 3:10) sebagai peragaan hikmat Allah untuk ditonton oleh para malaikat?

Tuhan, janganlah kami surut dari dikenal dan diperlakukan sebagai umat-Mu.

Dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Senin, 05 Desember 2011

Letih? Stres? Terdorong?


Saya termasuk generasi yang melihat stres menjadi penyakit serius masa kini. Di masa kecil saya melihat orang bekerja keras, sangat keras bahkan. Tetapi umumnya mereka tahu kapan harus berhenti bekerja, kapan untuk duduk di serambi rumah sambil mengobrol, kapan untuk bepergian dan mengunjungi teman, dan kapan waktunya untuk tidur malam yang lelap. Kelelahan, pasti dialami juga pada waktu itu. Tetapi mereka tidak terus menerus mengeluh tentang kelelahan seperti yang sering kita dengar masa kini.

            Pernahkah Anda pikirkan berapa sering kita bicara tentang perasaan letih? Terkadang saya merasa jika saya tidak memberitahu kawan saya betapa letihnya saya, mereka akan meragukan saya telah melakukan hal yang berarti. Cobalah ceritakan kepada kawan Anda bahwa Anda merasa di puncak kehidupan, dan sepertinya tidak pernah lebih baik dari itu. Kemungkinan besar mereka akan curiga, Anda membuat mereka berpikir bahwa Anda kurang jujur.

            Bagaimanakah kita sampai ke hari di mana stres dan keletihan hampir merupakan lencana keberhasilan?

            Kita semua sadar bahwa ada jenis stres yang bermanfaat sebab ia mengeluarkan hal terbaik dalam diri para pencapai, atlit, atau eksekutif. Tetapi kebanyakan perhatian sekarang ini diberikan kepada hal yang berpusat pada jenis stres yang mengerdilkan ketimbang mengembangkan kapasitas manusia.

            Suatu studi mencengangkan tentang stres dilakukan oleh almarhum Dr. Thomas Holmes. Holmes dikenal karena mengembangkan Skala Peringkat Penyesuaian Sosial (Social Readjustment Rating Scale), atau yang kebanyakan kita kenal sebagai Tabel Stres Holmes (Holmes Stress Chart). Tabel Stres Holmes adalah suatu alat pengukur sederhana yang menunjukkan berapa banyak tekanan yang mungkin sedang dihadapi oleh seseorang dan seberapa dekat ia dari bahaya jasmani dan konsekuensi psikis.

            Sesudah penelitian yang memadai, berbagai peristiwa yang biasa kita alami diberikan jumlah poin oleh Holmes dan para rekannya. Setiap poin disebut sebagai “unit pengubah-hidup.” Menurut Holmes, jika jumlah poin lebih dari 200  dalam satu tahun, ini merupakan peringatan kemungkinan terjadinya serangan jantung, stres emosional, atau kesehatan orang tersebut memburuk. Kematian pasangan hidup, misalnya, menghasilkan unit pengubah hidup tertinggi, 100. Dipecat dari pekerjaan menghasilkan 47 poin, sedangkan penambahan anggota keluarga baru, 39. Tidak semua peristiwa yang menghasilkan stres digolongkan negatif oleh Holmes. Bahkan peristiwa positif dan bahagia seperti Natal (12 poin) dan liburan (13 poin) menghasilkan stres.

            Pernah juga saya bertemu dengan orang yang total poin stresnya melampaui 200.Seorang pastor yang berkunjung ke kantor saya menyampaikan bahwa total poinnya 324. Tekanan darahnya tinggi berbahaya; ia menderita sakit perut terus menerus, ia takut menderita radang pencernaan, dan tidak dapat tidur nyenyak malam hari. Suatu hari lainnya, saat makan pagi saya duduk bersebelahan dengan seorang eksekutif muda yang mengaku baru-baru ini ambisinya ialah mengumpulkan paling sedikit sejuta dollar sebelum berusia tiga puluh. Ketika ia mengukur situasinya dengan Tabel Stres Holmes, ia gentar menemukan poinnya berjumlah 412. Apakah persamaan kedua orang dari dunia bisnis dan religius ini?

            Mereka saya sebut orang-orang yang terdorong. Dan dorongan diri mereka membebani mereka dengan biaya yang mengerikan – jumlah poin tersebut hanya indikasi fakta itu. Saya memakai kata terdorong sebab, itu bukan saja memaparkan kondisi mereka dalam mengejar hidup, tetapi juga karena merupakan paparan dari cara kebanyakan kita yang tidak menghadapi realitas yang kita buat kepada diri sendiri. Barangkali kita terdorong ke arah tujuan dan sasaran tanpa mengerti mengapa. Atau kita mungkin tidak sadar tentang biaya nyata pada pikiran, tubuh, dan tentu saja hati kita. Yang saya maksud dengan hati ialah seperti yang ditulis dalam Amsal 4:23, yang darinya mengalir energi kehidupan.

Dikutip dari MENATA DUNIA PRIBADI MENITI SUKSES SEJATI
Info: 0812-270-24-870; email: waskitapublishing@gmail.com

Minggu, 04 Desember 2011

Hari Kudus

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
Keluaran 20:8


Orang Puritan memiliki cara arif untuk mengungkapkan hari Minggu. Untuk mereka hari Minggu adalah Sabat Kristen, dan mereka biasa menyebutnya “hari pasar jiwa.” Jadi untuk mereka hari Minggu bukan untuk bermalasan, tetapi hari untuk berhenti dari urusan panggilan bumiah agar boleh mengejar urusan panggilan surgawi kita. Juga, bukan untuk menjadi beban membosankan, tetapi merupakan hak istimewa menyukakan; bukan puasa tetapi pesta; bukan kerja tak berguna tetapi alat anugerah.

            Agar mendapat manfaat penuh dari hari Minggu, mereka menasihati kita untuk menyiapkan diri – membebaskan diri dari hal-hal yang menyimpangkan perhatian dan beban lalu meluangkan waktu untuk memeriksa diri, pengakuan dosa dan doa pada hari Sabtunya.

            Ibadah umum harus menjadi pusat hari Minggu, dan orang Puritan tidak simpati pada mereka yang mengeluh tentang lamanya waktu ibadah, meski Baxter menasihati para pengkhotbah agar “berkhotbah dengan keseriusan yang hidup dan membangunkan pendengar… dan dengan metode yang mudah serta beragam isi yang bermanfaat agar orang tidak bosan dengan Anda.”

            Orang Puritan menegaskan bahwa keluarga harus berfungsi sebagai unit kehidupan benar di hari Tuhan, dengan kaum pria dalam rumah melakukan tanggungjawabnya untuk memperhatikan jiwa-jiwa dalam isi keluarganya. Pastor Puritan berbeda dari sejawatnya di zaman modern, tidak mengatur agar anak dan wanita menjangkau kaum pria tetapi sebaliknya.

            Ia juga berusaha menghindari jebakan legalisme (hanya memperhatikan pada hal yang tidak boleh dilakukan di hari Tuhan) dan Farisiisme (kebiasaan mencela orang bila terjadi pelanggaran dalam hal ini).


Kaum Puritan merasa bahwa kesukaan harus menjadi kunci ibadah umum. Apakah kesukaan merupakan ciri utama ibadah gereja Anda? Jika tidak, mengapa?

Tuhan, apakah kami memanfaatkan penuh alat anugerah-Mu ini?

Dari buku Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I. Packer

Sabtu, 03 Desember 2011

Kemuliaan Allah


Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
1Korintus 10:31


Ketaatan Kristen harus memiliki motif dan tindakan yang benar. Kebanyakan motif adalah reaksi kepada situasi atau orang yang dikendalikan oleh faktor luar (takut atau syukur) atau sebaliknya adalah ketetapan dari dalam hati (mengejar kekayaan atau reputasi). Kasih adalah motif kompleks yang mengandung kedua unsur itu; ia bisa merupakan reaksi dengan maksud baik, yang dipicu dan diberdaya oleh penghargaan kepada orang yang dikasihi, sekaligus merupakan ketetapan untuk memberi manfaat dan kebahagiaan, tanpa mempertimbangkan kelayakan penerimanya atau biayanya.

            Motif tertinggi orang Kristen selalu harus untuk memuliakan Allah, dan sebagai ungkapan sejati dari kasih kepada-Nya. Tetapi kasih kepada sesama demi Tuhan harus memotivasi kita juga, dan hal ini telah menjadi topik perdebatan cukup lama. Bagaimana kasih dapat menentukan kelakuan saya kepada sesama saya?

            Kita perlu menolak ide situasional bahwa peraturan alkitabiah tentang perilaku hanya petunjuk dengan aplikasi yang luas, dan bahwa perhitungan yang sehat dapat membuat pelanggaran terhadap hukum menjadi baik dan benar. Pada saat sama penting disadari bahwa semakin kasih kepada sesama menjadi motif bagi tindakan, semakin usaha dan keahlian kita melakukan ungkapan kasih akan meningkat, di dalam batas yang Hukum Allah tetapkan, sehingga itu menjadi cara bertindak yang paling baik dan paling berhasil.


Renungkan: Melakukan yang baik untuk orang lain harus melibatkan diri kita dan bukan hanya tindakan kita.

Tuhan, dalam apa pun yang aku lakukan untuk orang lain hari ini, tolongku untuk memberi sesuatu dari diriku juga.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Kamis, 01 Desember 2011

Kekudusan

Siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu.
1 Petrus 1:13-15

Ayat-ayat ini memperingatkan kita terhadap tiga kejahatan yang dapat menghancurkan kehidupan Kristen kita. Pertama kelambanan – karena itu “siapkanlah akal budimu,” konsentrasilah! Yang kedua keteledoran, yang merupakan ciri orang mabuk – maka, “waspadalah,” disiplin dirimu, miliki tujuan hidup jelas dan waspadalah. Yang ketiga adalah pikiran bercabang, yaitu kejahatan yang diakibatkan karena terlalu memperhatikan daya tarik dunia ini dan tidak cukup memperhatikan prospek yang Allah janjikan bagi kita – maka “letakkanlah pengharapanmu seluruhnya” ke hari penyataan Yesus Kristus.

            Kehidupan kudus didorong oleh pengharapan kemuliaan dengan Kristus. Untuk orang Kristen seperti para pembaca Petrus dulu yang kini hidup di bawah rezim yang memusuhi Kristen, menghadapi kesukaran dan perlakuan buruk karena Kristus, pengharapan ini sungguh memberikan kestabilan dan penguatan.

            Pengharapan adalah motif yang berpengaruh besar untuk kehidupan kudus. Petrus lalu menambahkan dua hal lain. Pertama hak istimewa Kristen (18-21) yang memancar dari pengenalan akan tiga hal: pertama, nilai darah Kristus yang telah dicurahkan untuk mereka; kedua, kepedulian Allah atas penebusan mereka, yang telah menetapkan Anak-Nya untuk tugas itu sebelum mereka ada; ketiga, pengangkatan mereka menjadi putra-putri Allah melalui kelahiran baru. Motif kedua adalah rasa hormat mereka kepada Allah yang selain hakim yang adil juga berelasi dengan mereka sebagai bapa. Hormat anak-bapa inilah arti takut akan Allah (17).

Langkah apa harus ku ambil untuk membuat akal budiku siap? Apakah program gereja kita menjelaskan arti hal itu dan mendorong tindakan itu?

Tuhan, aku beranikan diriku dengan pemikiran tentang langit dan bumi baru yang akan datan.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr James I. Packer