Rabu, 11 Januari 2012

Kerendahhatian Yesus

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.
Matius 11:29


Dalam zaman Kristus, dua lembu yang menarik kereta dipasangi kuk melintang di atas leher mereka. Yesus meminta kita untuk memikul kuk bersama-Nya – dengan kata lain belajar untuk hidup sebagaimana Ia pernah hidup. Mengapa? “Sebab Aku… lembut hati.” Terkejutkah Anda bahwa seseorang, apalagi Juruselamat, mengklaim dirinya lembut (rendah hati)?

            Saya ingat saya tertawa lepas ketika seorang teman bercerita bahwa di akhir bicaranya, seorang wanita tua datang dan berkata, “Saya senang Anda bicara tentang kerendah-hatian. Anda tahu, itulah kekuatan saya!” Jelas sebagai manusia yang jatuh dalam dosa, mengklaim diri rendah hati adalah pembatalan atas klaim itu, meski kita bisa mengenali sifat itu pada orang lain. Jika kita jujur tentang diri kita, kita pasti menyadari kecenderungan pementingan diri, perhatian diri, kesombongan, sehingga kita merasa membusung karena mengerjakan kehendak Allah; dan sampai di situ kita tidak rendah hati, dan ketaatan kita tercemar.

            Ketika Yesus berkata Ia “lembut dan rendah hati” tidak ada kesombongan atau penonjolan diri. Anak Allah yang berinkarnasi yang tak berdosa itu sekadar menyatakan fakta: bahwa ia sepenuhnya manusia, tidak dibebani oleh citra diri rendah atau sesuatu yang seperti itu, sepenuhnya dan sesungguhnya komit kepada rencana, tempat, kehendak, dan jalan Allah untuk hidup-Nya. Perlu kita sadari bahwa kemanusiaan sejati berarti tidak berpura-pura tentang sesuatu atau bahwa Anda bukan apa adanya Anda, tetapi secara realistik menerima kehendak Allah, sama seperti Anda menerima karunia-Nya, dengan hati gembira dan kesadaran yang tak mementingkan diri yang mengalir dari berkonsentrasi kepada Dia yang dilayani.


Apa perbedaan antara rendah citra diri dari rendah hati sejati? Bagaimana media nonKristen dan Kristen menilai kerendah-hatian?

Tuhan, tolong aku bertumbuh dalam komitmen kepada kehendak-Mu dan mempersilakan Engkau menghasilkan kerendah-hatian dalam hidup dan sikapku.

Dikutip dari Bapa Surgawi Mengasihimu - oleh Dr. James I. Packer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar